Yesterday, Haruki Murakami
(Credit: Pixabay)
dibaca normal 13 menit

Sambungan Yesterday – Haruki Murakami (Bagian 1).

Hari Sabtu, aku dan Erika bertemu di Shibuya dan menonton film Woody Allen yang berlatar New York. Entah kenapa, aku merasa ia mungkin menyukai film-film Woody Allen. Dan, aku sangat yakin Kitaru tak pernah mengajaknya untuk melihat salah satu filmnya. Untungnya, itu film bagus dan kami berdua merasa senang setelah meninggalkan bioskop.

Kami berjalan-jalan sebentar di sore hari, lalu pergi ke restoran kecil Italia di Sakuragaoka, memesan piza dan Chianti. Restoran kasual dengan harga standar. Lampu-lampunya tenang, ada lilin di atas meja. (Sebagian besar restoran Italia punya lilin di atas meja dan dilengkapi taplak meja.).

Kami berbincang banyak hal. Obrolan khas dua mahasiswa tingkat dua yang sedang kencan pertama kali (kamu asumsikan saja bahwa ini benar-benar kencan). Film yang barusan kami tonton, kehidupan kampus, hobi.

Kami menikmati perbincangan kami lebih dari yang kubayangkan dan ia bahkan tertawa keras beberapa kali. Aku tidak mau melebih-lebihkan, tapi sepertinya aku memang punya bakat membuat perempuan-perempuan tertawa.

“Kudengar dari Aki-kun, kamu baru saja putus dengan pacar SMA-mu belum lama ini?” tanya Erika.

“Yah,” jawabku. “Kami pacaran hampir tiga tahun, tapi tidak berhasil ternyata. Sayang sekali.”

“Aki-kun bilang, kamu putus gara-gara seks. Ia tidak bisa—bagaimana ya bilangnya—memberikan sesuatu yang kamu inginkan?”

“Itu salah satunya. Tapi tidak semuanya. Bila aku benar-benar mencintainya, aku pikir aku bisa lebih bersabar. Bila aku yakin aku mencintainya, maksudku. Tapi ternyata tidak.”

Erika Kuritani mengangguk.

“Bahkan, bila kami bisa melaluinya, rasanya akan berakhir di tempat yang sama,” kataku. “Semakin jelas ketika aku pindah ke Tokyo dan berjarak dengannya. Aku meminta maaf kepadanya karena hubungan kami kandas, tapi menurutku itu memang tidak bisa dihindari.”

“Berat bagimu?”

“Apa yang berat?”

“Tiba-tiba harus sendirian setelah berpacaran.”

“Kadang-kadang,” kataku jujur.

“Tapi, mungkin saja pengalaman pahit dan kesepian seperti itu diperlukan ketika kamu masih muda. Bagian dari tumbuh dewasa.”

“Kamu pikir begitu?”

“Cara bertahan di musim dingin yang beku membuat pohon tumbuh lebih kuat. Cincin pohon akan semakin rapat.”

Aku mencoba membayangkan lingkaran batang pohon yang tumbuh di dalam diriku. Namun, satu-satunya yang bisa kubayangkan hanya sisa potongan kue Baumkuchen yang seperti cincin pohon.

“Aku setuju. Orang butuh periode semacam itu,” kataku. “Bahkan akan lebih baik bila mereka tahu suatu saat akan berakhir.”

Ia tersenyum. “Jangan khawatir. Aku tahu suatu saat kamu akan bertemu seseorang yang lebih baik.”

“Kuharap begitu,” kataku lagi.

Erika Kuritani merenungkan sesuatu untuk beberapa saat. Aku menyantap piza saat ia sedang merenung.

“Tanimura-kun, boleh aku meminta saran tentang sesuatu?”

“Tentu,” kataku. Oh, aku berpikir, kenapa aku harus turut campur? Ini adalah masalah lainnya dalam diriku yang harus kuhadapi: orang yang baru beberapa kali kutemui menginginkan saranku tentang sesuatu yang penting. Dan, aku sangat yakin, Erika menginginkan saranku tentang sesuatu yang tidak menyenangkan.

“Aku bingung,” ia memulai.

Matanya bergerak tak tentu arah seperti mata kucing mencari sesuatu.

“Aku yakin kamu sudah tahu. Ini tahun kedua, Aki-kun ikut tes masuk, tapi dia hampir tidak belajar. Dia juga kerap tidak masuk bimbel. Jadi, aku sangat yakin dia bakal gagal lagi tahun ini. Jika saja dia mengincar kampus yang biasa-biasa saja, dia bisa saja masuk. Tapi, dia cuma ingin Waseda atau tidak sama sekali. Aku rasa itu cara berpikir yang enggak ada gunanya. Dia sama sekali enggak mendengarkanku atau orangtuanya. Baginya, itu seperti obsesi… tapi, bila dia memang berpikiran seperti itu, seharusnya dia belajar lebih keras sehingga bisa lulus ujian masuk Waseda. Dia malah tidak melakukannya.”

“Kenapa dia enggak belajar lebih giat?”

“Dia sangat percaya bakal bisa masuk bila keberuntungan berpihak kepadanya,” kata Erika. “Belajar cuma buang-buang waktu dan enggak guna untuk hidup. Aku merasa pikirannya itu aneh.”

Itu cuma salah satu sudut pandang saja, pikirku, tapi aku tidak mengatakannya.

“Di sekolah dasar, dia suka belajar. Selalu mendapat peringkat tinggi di kelas. Tapi, saat dia masuk SMP, nilainya makin menurun. Dia seperti anak ajaib—kepribadiannya tidak cocok dengan rutinitas belajar sehari-hari. Dia lebih memilih pergi dan melakukan hal-hal gila sendiri. Aku justru kebalikannya. Aku enggak begitu pintar, tapi aku selalu bekerja keras dan menyelesaikan dengan baik.”

Aku juga tidak giat belajar dan langsung keterima saat pertama kali mengikuti ujian. Mungkin, aku sedang beruntung.

“Aku sangat menyukai Aki-kun,” ia meneruskan. “Dia punya banyak kemampuan yang luar biasa. Tetapi, kadang-kadang aku sulit mengikuti cara berpikirnya yang ekstrem. Seperti, belajar logat Kansai. Mengapa orang yang lahir di Tokyo harus repot-repot belajar logat Kansai dan menggunakannya sepanjang hari? Aku tidak paham, benar-benar tidak paham. Pertama kali, aku pikir itu cuma iseng, tapi ternyata enggak. Dia beneran serius.”

“Kurasa dia ingin punya kepribadian yang berbeda, menjadi seseorang yang berbeda dari biasanya,” kataku.

“Itu kenapa dia bicara dengan logat Kansai?”

“Aku setuju denganmu, itu cara paling ekstrem.”

Erika mengambil satu potong piza dan menggigit piza itu hanya seukuran perangko. Ia serius mengunyah sebelum mulai berbicara lagi.

“Tanimura-kun, aku bertanya soal ini karena aku enggak punya orang lain untuk dimintai saran. Kamu enggak keberatan?”

“Tentu saja tidak,” kataku. Apa lagi yang harus kukatakan?

“Biasanya,” ujar Erika, “laki-laki dan perempuan yang sudah pacaran dan saling mengenal lama, laki-laki itu pasti punya ketertarikan fisik dengan perempuan itu kan?”

“Umumnya sih begitu, bisa dibilang iya.”

“Jika mereka berciuman, si laki-laki ingin lebih jauh kan?”

“Normalnya begitu, tentu.”

“Kamu berpikiran begitu juga kan?”

“Tentu,” kataku.

“Tapi, Aki-kun tidak. Ketika kami berduaan, dia tidak mau melangkah lebih jauh.”

Butuh beberapa detik bagiku untuk memilih kata-kata yang tepat.

“Orang punya cara berbeda-beda untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tergantung orangnya. Kitaru sangat mencintaimu—itu sudah pasti—tapi, hubungan kalian yang sangat dekat dan nyaman membuat dia tidak ingin melangkah lebih jauh seperti orang-orang lain lakukan.”

“Kamu juga begitu?”

Aku menggelengkan kepala. “Sebenarnya, aku juga enggak begitu paham. Aku belum pernah melakukannya. Aku cuma bilang, itu bisa jadi salah satu kemungkinan.”

“Kadang-kadang terasa seperti dia enggak punya hasrat seksual denganku.”

“Aku yakin dia punya. Tapi, mungkin terasa memalukan baginya untuk mengakui itu.”

“Tapi kami sekarang 20-an, sudah dewasa. Cukup dewasa untuk tidak merasa malu.”

“Umur bukan jadi patokan, tergantung orangnya,” kataku.

Erika memikirkan kata-kataku. Ia sepertinya tipe orang yang suka menangani masalah secara langsung.

“Kurasa, Kitaru benar-benar ingin mencari sesuatu,” aku meneruskan. “Dengan caranya sendiri, dengan langkahnya sendiri, sangat khas dia dan langsung. Cuma, kurasa dia belum menemukannya. Jadi, terkesan dia tidak ada kemajuan. Dan, itu berlaku untuk semua hal juga. Bila kamu tidak tahu apa yang kamu cari, tentu akan sulit mencarinya.”

Baca Juga:  Yesterday - Haruki Murakami (Bagian 1)

Erika mengangkat kepalanya dan menatap tepat di mataku. Api lilin terpantul tepat di bola matanya yang hitam, titik cahaya kecil dan terang. Sangat indah sehingga aku harus memalingkan wajah.

“Tentu saja, kamu lebih memahami dia daripada aku,” aku mengelak.

Ia menghela napas lagi.

“Sebenarnya, aku bertemu laki-laki lain selain Aki-kun,” katanya. “Kakak kelas di klub tenisku, setahun di atasku.”

Kini giliranku yang terdiam.

“Aku sangat mencintai Aki-kun dan aku merasa aku tidak akan bisa merasakan hal sama dari orang lain. Tiap aku jauh darinya, aku merasakan sakit yang mengerikan di dada, selalu di tempat yang sama. Itu beneran. Tempat di hatiku hanya untuk dia. Tapi, di saat yang sama, aku punya dorongan kuat dalam diriku untuk mencoba hal lain, berhubungan dengan beragam orang. Sebut saja itu rasa penasaran dan haus untuk ingin tahu lebih banyak. Lebih banyak kemungkinan. Semacam emosi alami dan aku tidak bisa menekannya, tidak peduli seberapa keras aku berusaha.”

Aku membayangkan tanaman yang tumbuh sehat melebihi potnya.

“Itulah kebingungan yang kumaksud,” kata Erika Kuritani.

“Kamu harus memberi tahu Kitaru bagaimana perasaanmu,” kataku. “Bila kamu menyembunyikan kalau kamu pacaran dengan orang lain dan dia tak sengaja tahu, itu akan sangat menyakitkan. Kamu tidak ingin seperti itu kan?”

“Tapi, apakah dia akan menerima? Kenyataan kalau aku pacaran dengan orang lain?”

“Dalam bayanganku, dia akan paham apa yang kamu rasakan,” kataku.

“Menurutmu begitu?”

“Ya.”

Aku pikir Kitaru akan mengerti kebimbangan Erika karena dia juga merasakan hal sama. Mereka benar-benar berada dalam satu frekuensi yang sama.

Tapi, aku tidak sepenuhnya yakin dia bakal tenang menerima kenyataan kalau Erika telah selingkuh (atau sedang selingkuh). Di mataku, dia tidak terlihat seperti laki-laki kuat. Tapi, juga akan terasa lebih berat baginya bila Erika menyembunyikan rahasia atau membohonginya.

Erika Kuritani menatap diam-diam nyala lilin yang bergerak-gerak tertiup angin AC.

“Aku kerap mendapatkan mimpi yang sama,” katanya. “Aku-kun dan aku berada di kapal. Perjalanan jauh dengan kapal besar. Kami bersama di kabin kecil, saat itu larut malam, dan melalui jendela kapal, kami bisa melihat bulan purnama. Tapi, bulan itu terbuat dari es yang transparan dan murni. ‘Lihat, itu seperti bulan,’ kata Aki-kun kepadaku. ‘tapi terbuat dari es dan hanya setebal 8 inci. Jadi, saat matahari muncul di pagi hari, benda itu akan mencair seluruhnya. Lebih baik menikmatinya sekarang selagi ada kesempatan.’ Aku mendapatkan mimpi ini berkali-kali. Mimpi yang indah. Selalu dengan bulan yang sama. Selalu dengan ketebalan 8 inci. Setengah bagiannya tenggelam di lautan. Aku bersandar di Aki-kun, bulan bersinar sangat indah, hanya kami berdua, ombak di luar berderak lembut. Tapi, setiap kali aku terbangun, aku merasa sangat sedih. Bulan yang terbuat dari es itu tak bisa ditemukan di mana pun juga.”

Erika Kuritani terdiam beberapa saat. Lalu berbicara lagi.

“Aku merasa, betapa indahnya bila aku dan Aki-kun melanjutkan perjalanan itu selamanya. Tiap malam, kami meringkuk dan memandangi bulan-yang-terbuat-dari-es dari jendela.

“Pagi tiba, bulan akan mencair. Dan, pada malam hari akan muncul lagi. Tapi, mungkin bukan itu masalahnya. Barangkali, suatu malam bulan tidak akan ada lagi di sana. Itu membuatku ketakutan. Aku bertanya-tanya, mimpi apa yang bakal datang di malam berikutnya dan membuatku sangat ketakutan sehingga aku benar-benar bisa merasakan tubuhku mengecil.”

***

Saat aku bertemu Kitaru di kedai kopi keesokan hari, dia bertanya bagaimana jalannya kencan kami.

“Kau menciumnya?”

“Tentu tidak,” kataku.

“Jangan khawatir—aku tidak akan merasa aneh jika kau melakukannya,” katanya.

“Aku tidak melakukan sesuatu seperti itu.”

“Kau menggandeng tangannya?”

“Enggak, aku tidak menggandeng tangannya.”

“Terus, apa yang kau lakukan?”

“Kami nonton film, jalan-jalan, makan malam, dan ngobrol,” kataku.

“Itu saja?”

“Biasanya, kau enggak boleh melangkah terlalu cepat di kencan pertama.”

“Begitu?” kata Kitaru. “Aku enggak pernah kencan ‘normal’, jadi aku enggak tahu.”

“Tapi, aku senang bersamanya. Jika dia pacarku, aku tidak akan membiarkannya terlepas dari pandanganku.”

Kitaru memikirkan kata-kataku ini. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. “Jadi kalian makan apa?” akhirnya dia bertanya.

Aku menceritakan kepadanya tentang piza dan Chianti.

“Piza dan Chianti?” dia terkejut. “Aku tidak pernah tahu kalau dia suka piza. Kami biasanya pergi ke warung mi dan makan malam murah. Wine? Aku bahkan tidak tahu kalau dia bisa minum.”

Kitaru juga tidak pernah menyentuh minuman keras.

“Mungkin ada beberapa hal yang enggak kamu ketahui tentang dia,” kataku.

Aku menjawab semua pertanyaannya tentang kencan kami. Tentang film Woody Allen (karena dia mendesak, aku pun menceritakan semua plot cerita), makanan (habis berapa duit, bayar sendiri-sendiri atau tidak), apa yang Erika kenakan (gaun katun putih dengan rambut digulung), seperti apa pakaian dalam yang Erika pakai (bagaimana bisa aku tahu?), apa yang kami bicarakan.

Aku tidak mengatakan apa pun soal hubungan Erika dengan laki-laki lain. Aku juga tidak menyinggung soal mimpi Erika tentang bulan yang terbuat dari es.

“Kalian berdua memutuskan bakal kencan lagi?”

“Enggak, kami tidak melakukannya.”

“Kenapa enggak? Kamu suka dia, iya kan?”

“Dia hebat. Tapi, kami tidak bisa. Maksudku, dia pacarmu kan? Kau bilang enggak masalah menciumnya, tapi aku tidak bisa melakukannya.”

Kitaru makin merenung. “Kau tahu,” dia akhirnya bicara. “Aku sudah ikut terapi sejak akhir SMP. Orangtuaku dan guruku, mereka ingin aku ke sana. Karena aku sering melakukan banyak hal di sekolah dari waktu ke waktu. Ngerti kan—hal-hal yang enggak dilakukan anak normal.

“Tapi, sejauh yang kulihat, ikut terapi tidak membantu banyak. Secara teori terkesan bagus, tapi sebenarnya para terapis tidak peduli. Mereka melihatmu seperti mereka tahu apa yang sedang terjadi, lalu membuatmu berbicara ini itu dan hanya mendengarkan. Kalau hanya itu, aku bisa melakukannya.”

“Kau masih datang terapi?”

“Yaah, dua kali sebulan. Seperti buang-buang duit, bila kau ingin tahu. Erika enggak menyinggung soal itu?”

Aku menggelengkan kepala.

“Jujur, aku tidak tahu apa yang aneh dengan caraku berpikir. Bagiku, ini seperti melakukan hal biasa dengan cara biasa pula. Tapi, orang-orang bilang hampir semua yang kulakukan aneh.”

“Yaah, sebenarnya ada beberapa hal di dirimu yang pastinya enggak normal,” kataku.

“Seperti?”

“Seperti logat Kansai-mu. Buat seseorang dari Tokyo yang menguasainya dengan belajar, itu sungguh terlalu sempurna.”

“Mungkin saja kau benar,” Kitaru mengakui. “Itu sedikit di luar kebiasaan.”

“Itu mungkin membuat orang-orang merinding.”

“Hmmm. Bisa jadi.”

“Orang normal enggak akan repot-repot seperti itu.”

“Yaah, kau mungkin benar.”

“Tapi, sejauh yang kutahu, sekalipun yang kau lakukan tidak normal, itu tidak mengganggu siapa pun.”

“Enggak sekarang.”

“Lalu, apa yang salah dengan itu?” kataku. Aku mungkin sedikit kesal (entah dengan apa atau siapa). Aku bisa merasakan nada bicaraku makin kasar. “Siapa yang bilang kalau seperti itu salah? Jika kau tidak mengganggu orang lain, lalu kenapa? Lagi pula, siapa juga yang tahu sesuatu di luar sana? Kau ingin berbicara dengan logat Kansai, ya lakukan saja. Silakan. Kau enggak ingin belajar untuk ujian masuk? Ya, jangan lakukan. Tidak ingin meraba ke dalam celana Erika Kuritani? Lalu, siapa bilang kau harus melakukan seperti itu? Ini hidupmu. Kau harus melakukan apa yang kau inginkan dan lupakan apa yang dipikirkan orang lain.”

Baca Juga:  Hari yang Sempurna untuk Kanguru - Haruki Murakami

Kitaru, mulutnya sedikit terbuka, menatapku dengan takjub. “Kau tahu, Tanimura? Kau laki-laki yang baik. Meski kadang agak terlalu normal, ngerti kan?

“Apa yang akan kau lakukan?” kataku. “Kau tidak bisa ganti kepribadian.”

“Tepat sekali. Kau tidak bisa ganti kepribadian. Itu yang ingin kukatakan.”

“Tapi, Erika Kuritani adalah perempuan hebat,” kataku. “Dia benar-benar peduli denganmu. Apa pun yang kau lakukan, jangan biarkan dia pergi. Kau tidak akan menemukan perempuan sehebat dia lagi.”

“Aku tahu. Kau enggak perlu memberi tahu,” kata Kitaru. “Tapi, hanya mengetahui tidak akan membantu banyak.”

“Bagaimana kalau memberi kesempatan ke orang lain untuk menunjukkan itu?”

***

Sekitar dua minggu berselang, Kitaru berhenti bekerja di kedai kopi. Aku sebut berhenti, tapi sebenarnya dia tiba-tiba saja tidak muncul. Dia tidak menghubungi, tidak menyebut apa pun tentang berhenti bekerja. Dan, itu terjadi ketika kedai kopi sedang ramai-ramainya, jadi pemilik sangat kesal. Kitaru “benar-benar tidak bertanggung jawab,” begitulah kata-kata si pemilik.

Kitaru masih punya gaji seminggu, tapi dia tidak datang mengambil. Si pemilik bertanya kepadaku jika aku tahu alamatnya, tapi aku bilang kepadanya aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu nomor telepon atau alamatnya. Semua yang kutahu hanya jalan menuju rumahnya dan nomor telepon rumah Erika Kuritani.

Kitaru tidak bilang sepatah kata pun soal keputusan berhenti bekerja dan tidak pernah menghubungi lagi. Dia menghilang begitu saja. Aku bisa bilang ingin menyakitkan bagiku. Aku pikir kami teman baik dan sangat berat menerima pertemanan kami terputus begitu saja. Aku tidak punya teman lain di Tokyo.

Satu hal yang menarik perhatianku, dua hari sebelum menghilang, Kitaru benar-benar bisa begitu sangat tenang. Dia tidak banyak bicara ketika kami ngobrol. Lalu, dia pergi dan lenyap.

Aku bisa saja menelepon Erika Kuritani untuk menanyakan keberadaannya, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Aku pikir apa yang terjadi di antara mereka berdua merupakan urusan mereka. Dan tidak sehat bagiku bila terlibat terlalu dalam. Bagaimanapun, aku harus bertahan di dunia kecil nan sempit milikku sendiri.

Setelah semua ini terjadi, entah kenapa aku terus memikirkan mantan pacarku. Mungkin aku merasakan sesuatu ketika melihat Kitaru dan Erika bersama. Aku menulis surat panjang kepadanya untuk meminta maaf atas sikapku. Aku bisa saja berbuat lebih baik kepadanya. Tapi, aku tidak pernah mendapat balasan.

***

Aku langsung bisa mengenali Erika Kuritani. Aku hanya dua kali bertemu dan 16 tahun berlalu sejak saat itu. Namun, tidak salah lagi, itu pasti dia. Dia masih cantik, dengan ekspresi kehidupan yang sama.

Dia mengenakan gaun renda hitam, memakai sepatu hak tinggi hitam dan dua untai kalung mutiara di lehernya yang ramping. Dia juga langsung mengingatku. Kami berada di sebuah pesta mencicipi anggur di sebuah hotel di Akasaka. Acara formal, aku pun mengenakan jas dan dasi hitam di sana.

Dia datang sebagai perwakilan perusahaan periklanan yang mengurusi acara tersebut dan dia melakukannya dengan baik. Butuh banyak waktu untuk menjelaskan kenapa aku bisa berada di sana.

“Tanimura-kun, bagaimana bisa kamu tidak menghubungi setelah kita kencan?” tanyanya. “Aku sebenarnya berharap kita bisa berbicara lagi.”

“Kamu terlalu cantik untukku,” kataku.

Dia tersenyum. “Terdengar manis, bahkan bila itu hanya untuk menyanjungku.”

“Aku tidak pernah menyanjung siapa pun dalam hidupku,” kataku lagi.

Senyumnya makin dalam. Tapi, yang kukatakan itu bukan bohongan atau sanjungan. Dia memang terlalu cantik bagiku untuk kuseriusi. Dari dulu, bahkan sampai sekarang. Ditambah lagi, senyumannya terlalu menakjubkan.

“Aku menelepon kedai kopi tempat kamu bekerja, tapi mereka bilang kamu sudah tidak bekerja di sana,” katanya.

Setelah Kitaru pergi, pekerjaan itu menjadi sangat membosankan dan aku keluar dua minggu berselang.

Aku dan Erika berbincang singkat tentang kehidupan kami setelah 16 tahun belakangan. Setelah lulus kuliah, aku diterima di penerbitan kecil, tapi keluar setelah tiga tahun dan memutuskan menjadi penulis. Aku menikah di usia 27, tapi tidak punya satu pun anak. Erika masih tetap melajang.

“Pekerjaan ini membuatku sibuk,” katanya bercanda, “jadi, aku tidak punya waktu untuk menikah.”

Aku menduga, dia punya banyak hubungan dengan laki-laki selama bertahun-tahun. Ada sesuatu di dalam dirinya, semacam aura yang memancar dari dirinya, yang membuatku yakin. Dialah yang pertama membuka obrolan tentang Kitaru.

“Aku-kun sekarang bekerja sebagai koki sushi di Denver,” katanya.

“Denver?”

“Denver, Colorado. Setidaknya, itu menurut kartu pos yang dia kirim beberapa bulan lalu.”

“Kenapa Denver?”

“Aku tidak tahu,” jawab Erika. “Kartu pos sebelum itu bahkan dari Seattle. Dia juga jadi koki sushi di sana. Kira-kira itu setahun yang lalu. Kartu pos darinya datang tidak tentu. Selalu kartu pos aneh dengan sepasang garis putus-putus. Kadang, dia tidak mencantumkan alamatnya.”

“Koki sushi,” aku mengulangi. “Jadi, dia tidak pernah kuliah?”

Erika menggelengkan kepala. “Akhir musim panas, sejauh yang kuingat, dia tiba-tiba memutuskan berhenti belajar untuk ujian masuk. Buang-buang waktu terus melakukan itu, katanya. Dan, dia mengikuti kursus memasak di Osaka. Katanya, dia sungguh-sungguh ingin belajar masakan Kansai dan pergi ke Stadion Konshien, stadion milik Hanshin Tigers. Tentu saja aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana bisa kamu memutuskan sesuatu yang penting tanpa bertanya denganku? Kamu anggap aku apa?’”

“Lalu, apa yang dia katakan?”

Dia tidak merespons. Dia hanya menahan bibirnya erat-erat. Erika ingin mengatakan sesuatu, tapi jika itu dikatakan, dia akan menangis.

Dia berhasil menahan air matanya, seperti tidak ingin riasan di matanya berantakan. Aku dengan cepat menggeser topik.

“Ketika kita di restoran di Shibuya, aku ingat kita minum wine murah, Chianti. Sekarang, lihat, kita mencicipi wine premium, Napa. Nasib memang aneh ya.”

“Ya, aku ingat,” katanya menenangkan diri. “Kita menonton film Woody Allen. Judulnya apa?”

Aku katakan lagi judul film itu.

“Film yang bagus.”

Aku setuju. Itu pasti salah satu masterpiece Woody Allen.

“Hubunganmu dengan laki-laki di Klub Tenis berhasil?” tanyaku.

Dia menggelengkan kepala. “Tidak. Kami ternyata tidak nyambung. Kami pacaran enam bulan, lalu putus.”

“Boleh aku bertanya?” kataku. “Tapi, ini sangat pribadi.”

“Tentu. Kuharap aku bisa menjawab.”

“Tapi, aku tidak mau kamu tersinggung.”

“Iya.”

“Kamu tidur dengan laki-laki itu kan?”

Baca Juga:  Hikayat La Florida - Laila Lalami

Erika menatapku terkejut, pipinya memerah.

“Kenapa kamu menanyakan itu?”

“Pertanyaan bagus,” kataku. “Sudah lama ingin kutanyakan. Tapi itu pertanyaan aneh. Maaf.”

Erika sedikit menggelengkan kepala. “Tidak. Tidak apa-apa. Aku tidak tersinggung kok. Cuma aku tidak menyangka. Itu sudah lama sekali.”

Aku menengok sekeliling ruangan. Orang-orang dengan pakaian formal bertebaran. Gabus berserakan satu demi satu dari botol wine mahal. Perempuan pianis sedang memainkan lagu “Like Someone in Love”.

“Jawabannya, iya,” kata Erika Kuritani. “Aku berhubungan seks dengannya beberapa kali.”

“Rasa penasaran, haus ingin tahu lebih banyak.”

Dia memberiku sedikit senyuman. “Betul. Rasa penasaran. Haus ingin tahu lebih banyak.”

“Begitulah cara kita menumbuhkan cincin pohon kita.”

“Bisa dibilang begitu,” katanya.

“Dan dugaanku, kamu tidur dengannya setelah kita berkencan di Shibuya?”

Dia mencoba membalikkan halaman di ingatannya. “Kurasa begitu. Kira-kira seminggu setelah itu. Aku bisa mengingat itu dengan baik. Itu pertama kali aku merasakannya.”

“Dan Kitaru dengan cepat menyadarinya,” kataku, menatap matanya.

Dia melihat ke bawah sembari memegangi mutiara di kalungnya satu per satu, seolah-olah ingin memastikan mutiara-mutiara itu masih ada. Dia menghela napas kecil, mungkin teringat sesuatu. “Ya, kamu memang benar. Aki-kun punya intuisi kuat.”

“Tapi, ternyata tidak berhasil dengan laki-laki lain.”

Dia mengangguk. “Sayangnya, aku tidak sepintar itu. Aku perlu mengambil jalan jauh. Aku selalu mengambil jalan memutar.”

Itulah yang semua kita lakukan: Menempuh jalan panjang tanpa ujung. Aku ingin mengatakannya ke dia, tapi tidak jadi. Melontarkan kata-kata bijak seperti itu juga menjadi salah satu masalahku.

“Kitaru sudah menikah?”

“Sejauh yang kutahu, dia masih sendiri,” kata Erika. “Setidaknya, dia belum memberitahu kalau dia sudah menikah. Mungkin kami berdua merupakan tipe orang yang tidak akan menikah.”

“Atau mungkin kamu cuma mengambil jalan memutar untuk sampai ke sana.”

“Mungkin.”

“Mungkin tidak kalian berdua bisa bertemu lagi dan bersama?”

Dia tersenyum, menatap ke bawah, dan menggelengkan kepala. Aku tidak bisa menebak makna gestur itu. Mungkin itu bukan suatu kemungkinan. Atau, lebih tepatnya sesuatu yang sia-sia untuk dipikirkan.

“Kamu masih bermimpi tentang bulan yang terbuat dari es?” tanyaku.

Kepalanya tersentak dan dia menatapku. Sangat tenang, perlahan, dan senyum merekah di wajahnya. Senyum alami dan lebar.

“Kamu masih ingat mimpiku?” tanyanya.

“Untuk alasan tertentu, iya.”

“Meskipun itu mimpi orang lain?”

“Mimpi merupakan salah satu hal yang bisa—ketika kamu butuh—kamu pinjam dan pinjamkan,” kataku. Aku kadang-kadang memikirkan kata-kata ini.

“Kata-kata yang bagus,” katanya. Senyum masih menghiasi wajahnya.

Seseorang memanggil nama Erika dari arah belakangku. Sudah waktunya dia kembali bekerja.

“Aku sudah tidak punya mimpi itu lagi,” katanya sembari beranjak pergi. “Tapi, aku masih ingat tiap detail. Apa yang kulihat, kurasakan, aku tidak bisa melupakannya. Dan, mungkin tidak akan pernah bisa.”

Erika menatapku, melihat dari kejauhan, seolah mencari bulan yang terbuat dari es di langit malam. Tiba-tiba dia berbalik dan pergi. Di toilet perempuan, aku membayangkan menyeka maskaranya.

***

Saat aku menyetir dan lagu “Yesterday” the Beatles mengalun di radio, aku tidak bisa menolak untuk tidak mendengarkan lirik-lirik gila Kitaru yang bersenandung dari kamar mandi. Dan, aku menyesal tidak menulis lirik itu.

Liriknya sangat aneh hingga aku tiba-tiba bisa mengingat. Namun, lambat laut ingatan itu mulai memudar sampai aku hampir melupakannya. Yang kuingat sekarang hanya potongan-potongan dan aku bahkan tidak yakin apakah lirikku itu benar-benar yang dinyanyikan Kitaru. Seiring waktu berjalan, ingatan entah kenapa bisa membentuk kembali dirinya sendiri.

Ketika aku berumur sekitar 20 tahunan, aku mencoba beberapa kali menulis di buku harian, tapi ternyata aku tidak bisa. Banyak hal terjadi di sekitarku sehingga aku tidak bisa mengikuti, apalagi hanya berdiam diri sembari menuliskan semua itu di buku catatan. Dan, sebagian besar kejadian itu bukan jenis yang membuat aku berpikir, oh aku harus menuliskan ini. Yang bisa kulakukan hanya berusaha membuka mata kembali saat angin berembus keras, kembali mengatur napas, dan terus maju.

Tapi, anehnya, aku bisa mengingat Kitaru dengan baik. Kami berteman hanya beberapa bulan, tapi tiap kali aku mendengar “Yesterday”, adegan-adegan dan percakapan-percakapan dengannya tiba-tiba menyeruak. Kami berdua mengobrol saat dia sedang mandi di rumahnya, di Denenchofu. Membicarakan urutan pukulan Hanshin Tigers’, soal repotnya aspek-aspek tertentu dalam seks, soal betapa membosankan belajar untuk ujian masuk kuliah, sejarah SD Negeri Denenchofu, kekayaan emosi dalam dialek Kansa.

Dan, aku ingat kencan aneh dengan Erika Kuritani. Semua pengakuan Erika—di atas meja dengan cahaya lilin di restoran Italia. Rasanya, semua itu seolah-olah baru terjadi kemarin. Musik memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali ingatan. Kadang-kadang sangat intens sehingga terasa sakit.

Tapi, ketika aku melihat kembali diriku di usia 20 tahun, yang paling kuingat hanyalah kesendirian dan kesepian. Aku tidak punya pacar yang menghangatkan tubuh dan jiwaku, tidak punya teman berbagi cerita. Tidak tahu apa yang harus kulakukan tiap hari, tidak ada visi untuk masa depan.

Sebagian besar lainnya, tersimpan rapat, jauh, dan dalam di diriku.

Kadang, aku bisa seminggu tidak berbicara dengan orang lain. Kehidupan seperti itu berlangsung hingga setahun. Tahun yang sangat panjang. Aku tidak tahu apakah periode itu merupakan musim dingin berharga bagi pertumbuhan cincin pohon dalam diriku, aku tidak bisa mengatakannya.

Saat itu, aku juga merasa bila tiap malam aku juga menatap lewat jendela kapal mencari bulan yang terbuat dari es. Bulan transparan, dingin, dan setebal 8 inci. Tapi, tak ada orang lain di sekitarku. Aku menatap bulan itu sendirian, tak bisa berbagi keindahannya dengan orang lain.

Yesterday

Is two days before tomorrow,

The day after two days ago.

Aku berharap di Denver (atau kota jauh lainnya), Kitaru bisa bahagia. Jika terlalu berlebihan berharap dia bahagia, setidaknya kuharap hari ini dia sehat dan semua kebutuhannya terpenuhi. Sebab, tak ada yang tahu mimpi seperti apa yang akan terjadi besok.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here