Yesterday, Haruki Murakami
Woman photo created by wirestock - www.freepik.com
dibaca normal 13 menit

Sejauh yang kuingat, satu-satunya orang yang memasukkan lirik bahasa Jepang di lagu “Yesterday” milik The Beatles (dan juga anehnya menggunakan dialek Kansai totok), cuma seorang laki-laki bernama Kitaru. Dia biasanya menyanyikan versinya itu saat sedang mandi.

Yesterday

Is two days before tomorrow,

The day after two days ago.

Begitulah lagu itu dimulai, seingatku, tapi aku sudah lama sekali tak pernah mendengarkan dan aku tak begitu yakin bagaimana kelanjutannya. Meski begitu, dari awal sampai akhir, lirik Kitaru hampir semuanya tanpa arti, juga tak ada hubungan sama sekali dengan lirik aslinya.

Melodi indah dan melankolis yang akrab di telinga digabungkan dengan dialek Kansai yang ekspresif—yang mungkin kebalikan dari kesedihan—menjadi kombinasi yang aneh: penyangkalan keras dari apa pun yang telah terbentuk.

Setidaknya, itulah yang terdengar di telingaku. Saat itu, aku hanya mendengarkan dan menggelengkan kepala. Aku tertawa lepas, tapi juga merasakan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.

***

Di telingaku, Kitaru hampir memiliki aksen Kansai yang sempurna meski dia lahir dan besar di Denenchofu, Ota-ku, Tokyo. Sama sepertiku, meski aku lahir dan besar di Kansai, aku berbicara hampir sempurna dengan dialek standar Jepang yang tidak lain adalah dialek Tokyo. Kami berdua benar-benar menjadi kombinasi pertemanan yang aneh.

Pertama kali aku bertemu dengan Kitaru di kedai kopi dekat gerbang utama Universitas Waseda, tempat kami kerja paruh waktu: aku di dapur dan Kitaru sebagai pelayan. Kami sering berbincang ketika kedai kopi sedang sepi. Kami berdua sama-sama berumur 20, ulang tahun kami pun hanya berjarak seminggu.

“Kitaru—nama belakang yang enggak biasa,” kataku suatu hari.

“Ya, tentu,” jawab Kitaru dengan aksen Kansai kental.

“Tim bisbol Lotte juga punya pemain dengan nama sama.”

“Tentu saja kami enggak ada hubungan keluarga. Bukan nama yang umum dipakai, memang. Siapa tahu mungkin kami berhubungan di suatu tempat.”

Saat itu, aku mahasiswa tingkat dua di Waseda, di Departemen Literatur. Kitaru gagal di ujian masuk dan sedang mengikuti bimbel untuk ujian masuk berikutnya. Sebenarnya, dia telah gagal dua kali, tapi kamu takkan bisa menebak dari sikapnya.

Dia tidak terlihat sungguh-sungguh belajar. Ketika libur, dia banyak membaca, tapi sama sekali tak berhubungan dengan ujian. Misalnya saja biografi Jimi Hendrix, buku tentang teka-teki shogi, Where Did the Universe Come From?, dan sejenisnya. Dia bilang padaku bahwa dia harus pulang pergi dari rumah orang tua di Ota Ward, Tokyo, ke sekolahnya.

“Ota Ward?” tanyaku heran. “Tapi aku yakin kau berasal dari Kansai.”

“Bukan. Denenchofu, lahir dan besar.”

Ini mengejutkanku.

“Lalu, bagaimana kau bisa berbicara dengan dialek Kansai?” tanyaku.

“Aku mendapatkannya. Tiba-tiba muncul di kepala untuk mempelajari.”

“Mendapatkannya?”

“Ya, aku belajar keras. Kata kerja, kata benda, aksen—semuanya. Sama seperti belajar bahasa Inggris atau Prancis. Bahkan, pergi ke Kansai untuk berlatih.”

Aku tercengang. Ada juga orang belajar dialek Kansai seperti mempelajari bahasa asing? Itu hal baru bagiku. Itu juga membuatku sadar betapa besarnya Tokyo dan banyak hal yang belum aku ketahui. Itu juga mengingatkanku dengan novel Shanshiro—tipikal novel yang mengangkat cerita pemuda desa yang tersesat di kota besar.

“Sejak kecil, aku penggemar setia Hanshin Tigers,” tutur Kitaru. “Menonton di mana pun mereka bertanding di Tokyo. Tapi, ketika aku duduk di bangku pendukung Hanshin, memakai seragamnya, dan bicara dengan dialek Tokyo, tak ada yang ingin berbicara denganku. Tidak bisa menjadi bagian dari komunitas, kau pahamkan? Jadi, aku berpikir, aku akan belajar dialek Kansai dan melakukannya seperti seekor anjing.”

“Jadi, itu motivasimu?” Aku masih tidak habis pikir.

“Betul. Begitu besarnya Tigers berarti bagiku,” kata Kitaru. “Sekarang, aku bicara dengan dialek Kansai. Di sekolah, rumah, bahkan ketika melindur. Dialekku mendekati sempurna, iya kan”

“Betul. Aku sempat sangat yakin kau berasal dari Kansai,” kataku. “Tapi, dialekmu bukan dari Hanshinkan—daerah Kobe. Lebih terdengar dari daerah yang ekstrem, Osaka.”

“Kau tahu juga? Saat libur musim panas di SMA, aku menginap di homestay di Tenojiku, Osaka. Tempat yang bagus. Bisa jalan-jalan ke kebun binatang dan ke mana pun.”

Homestay?” Terdengar mengesankan.

“Jika aku belajar untuk ujian masuk sekeras yang aku lakukan selama belajar dialek Kansai, aku tidak akan gagal dua kali seperti sekarang.”

Dia benar. Bahkan, kekesalannya itu diungkapkan dengan cara Kansai.

“Kau dari daerah mana?”

“Kansai. Dekat Kobe,” jawabku.

“Dekat Kobe? Di mana?”

“Ashiya,” kataku lagi.

“Wow, tempat yang bagus. Kenapa kau tak bilang dari awal?”

Kujelaskan. Ketika orang-orang bertanya dari mana asalku dan aku jawab Ashiya, mereka selalu berpikir keluargaku kaya raya. Tapi, banyak jenis manusia di Ashiya.

Keluargaku, misalnya, tidak bisa dikatakan orang kaya. Ayahku bekerja di perusahaan farmasi dan ibuku seorang pustakawan. Rumah kami kecil dan mobil kami cuma Corolla warna krem. Jadi, ketika mereka bertanya seperti itu, aku selalu bilang “dekat Kobe”, dengan begitu mereka tidak berpikir macam-macam tentang diriku.

“Hei, sepertinya kau dan aku mirip,” kata Kitaru. “Alamatku di Denenchofu—tempat orang-orang kelas atas—tapi tempat tinggalku di bagian paling kumuh di kota. Rumah yang kumuh pula. Kau harus datang kapan-kapan. Kau akan tercengang, ‘Apa? Ini Denenchofu? Tidak mungkin!’ Tapi, memusingkan itu semua enggak penting kan? Itu hanya alamat. Kalau aku akan melakukan kebalikannya—bilang di depan mereka bahwa aku berasal dari Den-en-cho-fu. Seperti, ‘Bagaimana, kau suka kan’

Aku terkesan. Dan setelah itu kami berteman.

***

Ada beberapa alasan kenapa aku benar-benar menyerah berbicara dengan dialek Kansai saat datang ke Tokyo. Sampai aku lulus SMA, aku belum bisa—kenyataannya, aku memang belum pernah bicara dengan dialek standar Tokyo. Aku hanya butuh satu bulan tinggal di Tokyo untuk benar-benar menguasai versi terbaru bahasa Jepang.

Aku bahkan terkejut bisa cepat beradaptasi. Mungkin, aku adalah bunglon dan aku tidak menyadarinya. Atau, mungkin kemampuan berbahasaku lebih hebat dari kebanyakan orang. Bagaimanapun juga, tidak ada orang yang percaya kalau aku dari Kansai.

Alasan lainnya aku berhenti memakai dialek Kansai: aku ingin menjadi orang yang benar-benar berbeda.

Ketika aku pindah dari Kansai ke Tokyo untuk kuliah, aku menghabiskan waktuku di kereta supercepat dengan menengok kembali masa 18 tahun belakangan. Dan, aku sadar, semua yang terjadi padaku sangat-sangat memalukan.

Aku tidak berlebihan. Aku tidak ingin mengingat semua itu—sungguh sangat memalukan. Makin aku mengingat masa-masa itu, makin besar pula aku membenci diriku. Itu bukan berarti aku tak punya kenangan menyenangkan. Aku punya segudang kenangan bahagia. Tapi, bila kamu membandingkannya, kenangan menyakitkan dan memalukan jelas melebihi yang lain.

Ketika aku berpikir bagaimana selama ini aku hidup dan menjalani kehidupan, aku merasakan semua kehidupanku hambar. Benar-benar buruk sekali dan sia-sia. Sampah kelas menengah tanpa imajinasi dan aku ingin membuang semuanya di laci. Atau membakar semuanya hingga menjadi asap (meski, aku tidak tahu jenis asap seperti apa yang bakal terwujud).

Baca Juga:  Runtuhnya Sebuah Kerajaan - Haruki Murakami

Ya, aku ingin membuang semuanya dan memulai hidup baru di Tokyo sebagai orang yang benar-benar baru. Mencoba kemungkinan-kemungkinan baru dalam diriku-yang-baru.

Membuang dialek Kansai merupakan cara praktis (sekaligus simbolis) untuk mencapainya. Sebab, dalam analisis terakhirku, bahasa yang kita ucapkan membentuk siapa diri kita sebagai manusia. Setidaknya, itulah yang kulihat saat 18 tahun.

“Memalukan? Apa yang begitu memalukan?” tanya Kitaru.

“Kau bisa menebak.”

“Tidak akur dengan keluargamu?”

“Kami baik-baik saja,” kataku. “Tapi, itu masih terasa memalukan. Hanya bersama mereka aku merasa memalukan.”

“Kau aneh, iya kan?” kata Kitaru. “Apa yang memalukan bersama keluargamu? Aku bisa bersenang-senang dengan keluargaku.”

Aku tidak bisa menjelaskan. Apa yang jelek dengan memiliki Corolla krem? Aku tidak bisa menjawab. Jalan di depan rumah kami agak sempit, dan orangtuaku tidak mau mengeluarkan uang untuk memperbaiki, itu saja.

“Orangtuaku selalu mengoceh setiap saat karena aku tidak giat belajar. Aku benci, tapi mau apa lagi? Itu pekerjaan mereka. Kau harus melihat lebih jauh.”

“Kau orangnya sangat santai, ya,” kataku.

“Kau punya pacar?” tanya Kitaru.

“Enggak saat ini.”

“Tapi, sebelumnya kau punya?”

“Sampai beberapa waktu lalu.”

“Kalian putus?”

“Iya,” kataku.

“Kenapa putus?”

“Ceritanya panjang. Aku enggak ingin membahasnya.”

“Perempuan dari Ashiya?” tanya Kitaru.

“Bukan. Bukan dari Ashiya. Dia tinggal di Shukugawa. Dekat.”

“Dia mengizinkanmu melakukan itu?”

Aku menggelengkan kepala. “Tidak, tidak seperti itu.”

“Itu kenapa kalian putus?”

Aku berpikir sebentar. “Salah satunya.”

“Tapi, dia mengizinkan ke ‘base ketiga’?”

“Hampir.”

“Sejauh mana kalian bercumbu?”

“Aku tidak ingin membicarakan ini,” kataku

“Ini salah satu ‘hal memalukan’ tadi?”

“Yah,” kataku. Ada lainnya yang tak ingin aku ingat-ingat.

“Kawan, kau punya hidup yang rumit,” kata Kitaru.

***

Pertama kali aku mendengar Kitaru menyanyikan “Yesterday” dengan lirik aneh, dia sedang di kamar mandi di rumahnya, di Denenchofu (rumah yang—tak seperti deskripsinya—tidak kumuh di kompleks kumuh, tapi rumah biasa di kompleks biasa pula. Sebuah rumah tua, tapi lebih besar dari rumahku di Ashiya yang tidak menonjol dari segi mana pun. Dan, kebetulan mobil di garasinya, Golf berwarna hijau navy, mobil keluaran terbaru).

Kapan pun Kitaru pulang ke rumah, dia akan cepat-cepat membuka pakaian dan pergi ke kamar mandi. Dan, ketika dia berada di bak kamar mandi, dia akan berlama-lamaan di sana. Jadi, biasanya aku akan mengambil bangku bulat kecil ke kamar dan duduk di sana, berbicara dengannya melalui pintu geser yang terbuka beberapa inci.

Itu satu-satunya cara menghindari celotehan ibunya yang sebagian besar komplain terhadap sikap aneh anaknya dan juga soal agar dia butuh belajar lebih giat. Di situlah dia menyanyikan lagi dengan lirik absurd untukku (meski aku tidak yakin itu ditujukan untukku atau bukan).

“Liriknya sangat aneh sekali,” kataku padanya. “Seperti kau mengolok-ngolok lagu ‘Yesterday’.”

“Jangan sok tahu, Aku tidak mengolok-olok. Bahkan, bila aku seperti itu, kau harus ingat John suka sekali dengan kata-kata nonsense dan permainan kata. Iya kan?”

“Tapi, Paul-lah yang menulis dan menciptakan musik untuk ‘Yesterday’.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja,” kataku. “Paul menulis lagu dan merekamnya sendiri dengan gitar di studio. Kuartet biola kemudian ditambahkan, tapi tak ada Beatles lainnya yang terlibat. Mereka pikir menye-menye untuk lagu Beatles.”

“Sungguh? Aku belum pernah dengar cerita seperti itu.”

“Ini bukan cerita. Justru fakta yang sudah diketahui,” kataku.

“Bodo amat. Itu hanya detail semata,” suara Kitaru tenang dari balik kawanan uap. “Aku menyanyi di kamar mandi di rumahku sendiri. Tidak untuk direkam atau apa pun. Aku tidak melanggar hak cipta, atau mengacaukan jiwa. Kau enggak punya hak komplain.”

Dan dia mulai masuk ke reff, suaranya nyaring dan jelas, seperti orang-orang kebanyakan saat mereka di kamar mandi. Dia masuk ke not tinggi dengan bagus. “Tho’ she was here / till yesterday…” atau sesuatu yang menyerupai lirik itu.

Lalu, dia menyiram air bak mandi dengan ringan sebagai pengiring. Mungkin seharusnya aku turut bergabung, bernyanyi bersama untuk menambah semangat, tapi aku tidak bisa. Duduk di sini, berbicara melalui pintu kaca dan menemaninya saat dia berendam selama satu jam sungguh tidak menyenangkan.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa berendam lama-lama di kamar mandi?” tanyaku. “Bukannya badanmu bisa keriput?”

Aku tidak pernah lama-lama berendam di kamar mandi. Aku cepat bosan hanya duduk dan berendam. Kamu tidak bisa membaca buku atau mendengarkan musik, jadi aku akan buru-buru menyelesaikan.

“Saat aku berendam lama di kamar mandi, banyak inspirasi tiba-tiba datang padaku,” kata Kitaru.

“Maksudmu, seperti lirik ‘Yesterday’ itu?”

“Yaah, itu salah satunya,” jawabnya.

“Daripada kau menghabiskan waktu memikirkan ide-ide di kamar mandi, bukannya sebaiknya kau belajar untuk ujian masuk?” tanyaku lagi.

“Astaga, kau perusak suasana. Ibuku bilang hal yang sama seperti itu. Kau kayak enggak pernah muda aja?”

“Tapi, kau sudah membuang waktu 2 tahun. Apa enggak capek?”

“Tentu. Aku pingin juga cepat-cepat kuliah dan bersenang-senang. Dan, kencan beneran dengan pacarku.”

“Lalu, kenapa enggak giat belajar?”

“Yaaah…,” katanya sambil menghela napas. “Kalau aku bisa begitu, aku sudah melakukannya.”

“Kuliah itu enggak enak,” kataku menimpali. “Aku sangat kecewa setelah masuk. Tapi, enggak kuliah juga bisa bikin susah.”

“Setuju,” kata Kitaru. “Aku enggak bisa membantah.”

“Jadi, kenapa kamu enggak belajar?”

“Enggak ada semangat,” jawabnya.

“Semangat?” kataku. “Kencan sama pacar bukannya bisa jadi penyemangat yang kau butuhkan?”

“Mungkin,” kata Kitaru. “Dengar, obrolan kita bakal panjang kalau ngomongin ini. Rasanya kayak aku terbelah jadi dua bagian di diriku, paham kan?”

***

Ada perempuan yang Kitaru kenal sejak SD. Pacar masa kecil, kamu bisa menyebutnya begitu. Mereka selalu bersama sejak SD, tapi tidak seperti Kitaru, pacarnya diterima di Universitas Sophia langsung setelah lulus SMA.

Ia kuliah di jurusan Sastra Prancis dan bergabung dengan Klub Tenis. Kitaru memperlihatkan foto perempuan itu, dan perempuan itu memang memukau. Sosoknya cantik dan punya cahaya kehidupan.

Namun, mereka berdua belakangan ini tidak saling bertemu. Mereka sempat membicarakan kelanjutan hubungan dan akhirnya memutuskan tidak saling bertemu hingga Kitaru masuk di perguruan tinggi. Dengan begitu, Kitaru bisa fokus belajar. Kitaru justru yang menyarankan ide ini.

“Oke,” kata perempuan itu, “jika itu yang kamu mau.”

Mereka sering berbicara lewat telepon dan bertemu paling banter sekali seminggu. Anehnya, pertemuan itu lebih tepat disebut wawancara ketimbang kencan biasa. Mereka minum teh dan membicarakan kegiatan masing-masing. Mereka berpegangan tangan dan bertukar kecupan singkat. Hanya sejauh itu. Sungguh jadul sekali.

Kitaru tidak bisa disebut ganteng, tapi dia cukup menyenangkan. Dia tidak tinggi, tapi kurus. Rambut dan pakaiannya simpel dan stylish. Sejauh dia tidak berbicara apa pun, kamu akan menebak dia orang kota yang sensitif dan dibesarkan dengan baik.

Baca Juga:  Kekalahan oleh Cinta - Rumi

Dia dan pacarnya terlihat sebagai pasangan sempurna. Satu-satunya cela di dirinya, mungkin, hanya di wajahnya yang terlalu ramping dan halus. Bentuk wajah itu bisa memberikan kesan bahwa dia kurang punya kepribadian dan plin-plan.

Namun, begitu dia membuka mulut, kesan positif itu runtuh seperti istana pasir yang diporak-porandakan anjing Labrador yang sedang semangat. Orang-orang bakal kecewa dengan logat Kansai-nya yang sangat sempurna dan lancar. Bahkan, dia punya suara yang menusuk dan bernada tinggi, persis seperti logat Kansai.

Ketidakcocokan dengan penampilannya sangat luar biasa. Bahkan, aku pun awalnya sangat terkejut dan tidak bisa mengira-ngira dia seperti itu.

“Hei, Tanimura, kau enggak kesepian tanpa pacar?” Kitaru bertanya padaku di hari berikutnya.

“Lumayan,” kataku padanya.

“Bagaimana kalau kau kencan sama pacarku?”

Aku tidak mengerti apa yang dia maksud.

“Maksudmu apa—kencan dengan pacarmu?”

“Dia perempuan hebat. Manis, baik, dan pintar. Tipe sempurna untuk dipacari. Kau enggak akan menyesal kencan sama dia. Aku jamin.”

“Tentu aku tidak akan melakukannya,” kataku. “Tapi, kenapa kau ingin aku kencan sama pacarmu? Sungguh enggak masuk akal.”

“Karena kau orang baik,” jawab Kitaru. “Kalau tidak, ya, aku enggak akan menyarankan.”

Kata-katanya tidak menjelaskan apa pun. Hubungannya apa antara aku seorang laki-laki baik (asumsi ini justru masalahnya) dan aku harus kencan sama pacarnya?

“Aku dan Erika hampir menghabiskan seluruh hidup kami bersama sejauh ini. Kami sudah bersama sejak SD. Kami memang ditakdirkan menjadi pasangan dan semua orang di sekitar kami menyetujui itu. Teman-teman kami, orangtua kami, guru kami. Pasangan kecil yang selalu lekat, selalu bersama.”

Kitaru menggenggam kedua tangannya untuk menggambarkan.

“Jika kami berdua langsung masuk kuliah, hidup kami akan biasa saja dan enggak jelas. Lalu, aku gagal ujian masuk dan seperti inilah hubungan kami. Aku tidak yakin kenapa, tapi keadaan terus memburuk. Aku tidak menyalahkan siapa pun—itu semua kesalahanku.”

Aku mendengarkan dengan seksama.

“Jadi, aku seperti membelah diriku menjadi dua,” kata Kitaru. Dia menarik genggaman tangannya sehingga terpisah.

Membelah diri menjadi dua? “Bagaimana?” aku bertanya.

Dia menatap telapak tangannya sejenak, lalu berbicara. “Maksudku, salah satu bagian diriku seperti khawatir, pahamkan? Maksudku, aku akan pergi ke bimbel yang membosankan, belajar untuk ujian masuk yang membosankan pula. Sementara, Erika bersenang-senang di kampus. Bermain tenis, atau melakukan apa pun. Ia punya teman-teman baru, mungkin juga pacaran dengan beberapa laki-laki baru. Ketika aku memikirkan itu semua, aku merasa kacau. Seperti pikiranku dipenuhi kabut. Kau paham yang kumaksud kan?”

“Aku paham,” kataku.

“Tapi, bagian lain dalam diriku, seperti…… lega. Bila kami terus bertahan seperti dulu, tanpa masalah atau apa pun, pasangan yang dengan mudah menjalani kehidupan, ini seperti menimbulkan pertanyaan—apa yang bakal terjadi dengan kami? Kami bisa saja seperti itu, pikirku. Kau paham?”

“Paham dan enggak paham,” kataku.

“Seperti, kami akan lulus kuliah, menikah, kami punya kehidupan pernikahan yang bahagia, semua orang senang, kami punya dua anak, menyekolahkan mereka di SD terbaik di Denenchofu, jalan-jalan di tepi Sungai Tama tiap hari Minggu, ‘Ob-la-di, ob-la-da’….. Aku enggak bilang hidup seperti itu buruk. Tapi, aku bertanya-tanya, paham kan, apakah hidup harus semudah itu, senyaman itu? Mungkin lebih baik kami berpisah sementara waktu dan bila kami benar-benar enggak bisa hidup tanpa satu sama lain, kami bisa kembali bersama.”

“Jadi, singkatnya, kau bilang hidup mulus dan nyaman itu jadi masalah. Begitu kan?”

“Yap, kira-kira begitu.”

Aku sebenarnya tidak begitu paham apa yang salah dengan hidup mulus dan nyaman. Tapi, memahami itu malah tambah rumit, jadi aku menyerah.

“Tapi, kenapa aku harus kencan dengan pacarmu?” tanyaku.

“Kupikir, bila dia akan berkencan dengan laki-laki lain, lebih baik laki-laki itu kau. Karena aku tahu siapa kau. Dan, kau bisa memberitahu kabar terbaru dan lainnya.”

Sungguh tidak masuk akal di benakku, meski aku akui aku juga tertarik dengan ide bertemu Erika. Aku ingin tahu kenapa gadis cantik seperti dia ingin pacaran dengan pria aneh seperti Kitaru. Biasanya aku gugup bila bertemu orang baru, tapi aku tidak pernah kekurangan rasa penasaran.

“Seberapa jauh kamu pacaran dengannya?” tanyaku lagi.

“Maksudmu seks?” kata Kitaru.

“Yah, apa kalian sudah melakukannya?”

Kitaru menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa. Aku kenal dia sejak kecil dan rasanya aneh, tahu kan, untuk melakukan itu. Melucuti pakainnya, membelainya, menyentuhnya, dan apa pun itu. Bila dengan perempuan lain, aku rasa tidak akan masalah. Tapi, meletakkan jari-jariku di balik celana dalamnya, bahkan cuma dalam pikiran saja—aku tidak tahu—itu terasa salah. Mengerti kan?”

Aku tidak paham.

“Aku menciumnya, tentu saja, dan menggenggam tangannya. Aku meraba payudaranya lewat pakaiannya. Tapi, rasanya kayak main-main saja, paham kan, main-main. Bahkan, ketika kami mulai terangsang, tidak pernah ada tanda-tanda bakal melangkah lebih jauh.”

“Daripada menunggu tanda atau apa pun, seharusnya kamu proaktif dan mengambil langkah selanjutnya.” Mungkin itu yang disebut orang-orang sebagai hasrat seksual.

“Enggak. Dalam kasus kami, hal-hal seperti tidak berjalan mulus. Aku enggak bisa menjelaskannya dengan baik,” ujar Kitaru. “Seperti, ketika kamu masturbasi, kamu pasti membayangkan perempuan nyata kan?”

“Pasti,” kataku.

“Tapi, aku enggak bisa membayangkan Erika. Seperti punya perasaan salah, ngerti kan? Jadi, ketika aku masturbasi, aku akan membayangkan perempuan lain. Seseorang yang tidak aku ketahui. Bagaimana menurutmu?”

Aku mencerna kata-katanya, tapi tidak bisa mengambil kesimpulan. Kebiasaan masturbasi orang lain di luar jangkauan pikiranku. Ada hal-hal dalam diriku yang tidak kupahami juga.

“Ngomong-ngomong, mending kita jalan bertiga,” kata Kitaru. “Jadi, kau bisa memikirkannya.”

***

Kami bertiga—aku, Kitaru, dan pacarnya yang mempunyai nama lengkap Erika Kuritani—bertemu di kedai kopi dekat Stasiun Denenchofu, Minggu siang. Erika hampir setinggi Kitaru, kulitnya kecokelatan, mengenakan blus putih lengan pendek yang disetrika rapi, dan rok mini biru tua—seperti seorang model yang sempurna dari kampus ternama di pusat kota.

Kecantikannya seperti yang terlihat di foto, tapi ketika aku menatapnya secara langsung, cahaya kehidupannya benar-benar terpancar secara alamiah. Ia kebalikan dari Kitaru yang selalu tampak pucat.

Kitaru memperkenalkan kami. “Aku sangat senang Aki-kun punya teman,” kata Erika Kuritani. Nama depan Kitaru adalah Akiyoshi. Ia satu-satunya manusia di dunia yang memanggilnya Aki-kun.

“Jangan berlebihan. Aku punya banyak teman,” ujar Kitaru.

“Enggak, kamu enggak punya,” Erika menimpali. “Orang seperti kamu susah punya banyak teman. Kamu lahir di Tokyo, tapi malah berbicara dengan logat Kansai. Tiap kali kamu bicara, yang keluar hanya Hanshin Tigers atau permainan Shogi. Enggak mungkin orang seperti kamu bisa nyambung dengan orang normal.”

“Yaah, kalau kamu melihatnya begitu, orang ini juga cukup aneh,” kata Kitaru sambil menunjuk ke arahku. “Dia dari Ashiya, tapi hanya bisa bicara logat Tokyo.”

Baca Juga:  Kepulauan Rempah-Rempah - Antonio Pigafetta (1521)

“Itu sih lebih umum,” kata Erika. “Setidaknya lebih biasa daripada sebaliknya.”

“Tunggu-tunggu. Itu namanya diskriminasi budaya,” kata Kitaru menyanggah. “Semua budaya itu sama. Logat Tokyo enggak lebih baik dari Kansai.”

“Mungkin memang sama,” kata Erika bertahan, “tapi, sejak Restorasi Meiji, cara bicara orang Tokyo sudah jadi standar di seluruh Jepang. Maksudku, apakah ada terjemahan Franny and Zooey dalam logat Kansai?”

“Jika ada, pasti aku sudah membelinya,” balas Kitaru.

Aku juga mungkin membeli, pikirku, tapi tak kuucapkan. Lebih baik menyimpannya untuk diriku sendiri.

“Pokoknya, itu sudah jadi pengetahuan umum sekarang,” kata Erika. “Kamu berpikiran sempit, Aki-kun, dan bias.”

“Apa maksudmu, berpikiran sempit dan bias? Bagiku, diskriminasi budaya justru pemikiran bias yang jauh lebih berbahaya.”

Dengan bijak, alih-alih terseret ke diskusi yang lebih dalam, Erika Kuritani mengalihkan topik pembicaraan.

“Ngomong-ngomong, ada seorang perempuan di klub tenisku yang juga dari Ashiya,” katanya sembari menoleh ke arahku. “Eriko Sakurai. Apa kamu kenal dia?”

“Ya,” kataku. Eiko Sakurai, perempuan kurus tinggi yang orang tuanya memiliki lapangan golf besar. Perempuan angkuh, tak punya dada, dengan hidung tampak lucu, dan kepribadian yang enggak begitu bagus. Tenis merupakan satu-satunya yang ia kuasai. Sungguh, aku tidak ingin bertemu perempuan seperti itu.

“Dia pria yang baik dan belum punya pacar sekarang,” kata Kitaru ke Erika. Dia yang dimaksud berarti aku.

“Penampilannya biasa saja, dia punya sopan santun, dan dia tahu banyak hal, baca buku-buku berat. Dia rapi dan bersih, seperti yang kamu lihat, dan enggak punya penyakit berat. Laki-laki muda yang menjanjikan, menurutku.”

“Baiklah,” kata Erika. “Ada beberapa perempuan manis yang menjadi anggota baru di klub kami. Dengan senang hati aku akan mengenalkannya.”

“Nah, bukan itu maksudku,” kata Kitaru. “Bisakah kamu kencan sama dia? Aku belum kuliah dan aku enggak bisa kencan seperti yang aku inginkan. Daripada denganku, kamu bisa pergi dengan dia. Dan, aku tidak perlu khawatir.”

“Apa? Apa maksud kamu enggak perlu khawatir?” tanya Erika.

“Maksudku, seperti, aku tahu kalian berdua dan aku akan merasa lebih baik bila kamu kencan dengan dia daripada dengan orang lain yang belum pernah kutemui.”

Erika menatap Kitaru seolah ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Akhirnya, ia mulai berbicara. “Jadi, kamu mau katakan aku tidak apa-apa pacaran dengan lain-lain asalkan Tanimura-kun? Karena dia laki-laki yang baik, kamu beneran ingin kami berdua pacaran, kencan begitu?”

“Itu bukan ide buruk kan? Atau jangan-jangan kamu sudah punya pacar lain?”

“Enggak. Enggak ada laki-laki lain,” jawab Erika dengan suara pelan.

“Lalu, kenapa kamu enggak mau kencan sama dia? Ini bisa menjadi semacam pertukaran budaya.”

“Pertukaran budaya,” Erika mengulangi. Ia menatapku.

Tak ada kata-kata yang bisa kuucapkan, jadi aku tetap diam. Aku memegangi sendok kopiku, mempelajari desain pegangannya, seperti seorang kurator museum yang meneliti artefak dari makam kuno Mesir.

“Pertukaran budaya? Aku enggak paham,” Erika bertanya ke Kitaru.

“Seperti memberi sudut pandang baru yang mungkin tidak terlalu buruk bagi kita…..”

“Itu yang kamu maksud dengan pertukaran budaya?”

“Yah, yang aku maksud adalah….”

“Baiklah,” kata Erika Kuritani dengan tegas. Jika ada pensil di situ, mungkin aku akan menyambarnya dan membelah jadi dua.

“Bila kamu pikir kami harus melakukannya, Aki-kun, ya sudah. Pertukaran budaya kan.”

Ia menyesap the, mengembalikan cangkir ke tatakan, menatapku, dan tersenyum.

“Karena Aki-kun ingin kita melakukannya, Tanimura-kun, yuk kita kencan. Sepertinya menyenangkan. Kapan kira-kira kamu kosong?”

Aku tidak bisa bicara. Tidak bisa menemukan kata-kata tepat di waktu krusial merupakan salah satu dari sekian banyak masalah yang kupunya. Masalah dasar yang tidak bisa dipecahkan dengan pindah tempat dan mengubah bahasa.

Erika mengambil buku catatan bersampul kulit warna merah dari tasnya, membuka, dan mengecek jadwalnya. “Bagaimana kalau Sabtu ini?” ia bertanya.

“Aku tidak punya rencana,” kataku.

“Oke, Sabtu kalau begitu. Ke mana kita akan pergi?”

“Dia suka film,” kata Kitaru ke Erika. “Mimpinya suatu saat bisa menulis skenario film. Dia sekarang sedang ikut workshop menulis skenario.”

“Kalau begitu, kita ke bioskop. Film apa yang kita tonton? Aku ingin kamu memilihnya, Tanimura-kun. Aku tidak suka film horor. Selain itu tidak masalah.”

“Ia benar-benar seperti kucing ketakutan,” kata Kitaru kepadaku. “Saat kami kecil dan pergi ke rumah hantu di Korakuen, ia selalu menggenggam tanganku dan…..”

“Setelah nonton, kita makan bareng ya,” kata Erika memotong omongan Kitaru.

Ia menulis nomor teleponnya di selembar kertas dari buku catatannya dan memberikan kepadaku. “Kalau kamu sudah menentukan waktu dan tempat, tolong kabari aku ya?”

Saat itu aku belum punya telepon (masa itu jauh sebelum ada ponsel, bahkan ponsel masih belum terpikirkan bakal muncul), jadi aku berikan nomor telepon kedai kopi tempat aku dan Kitaru bekerja. Aku melirik jam tanganku.

“Maaf, aku harus segera pergi,” kataku selembut yang kubisa.

“Tidak bisa ditunda sebentar?” tanya Kitaru. Kita baru saja sampai. Kenapa kamu enggak di sini dulu jadi kita bisa ngobrol banyak? Ada warung mi di ujung jalan.”

Erika tidak mengatakan apa pun. aku menaruh uang untuk kopi di atas meja dan berdiri. “Ini laporan penting,” kujelaskan, “jadi aku tidak bisa menunda-nunda.”

Sebenarnya, laporan itu tidak begitu penting.

“Aku akan meneleponmu besok atau lusa,” kata Erika kepadaku. “Aku akan menantikan kencan kita,” katanya sambil tersenyum. Senyum yang, setidaknya bagiku, terlalu bagus di dunia nyata.

Aku meninggalkan kedai kopi, dan sembari berjalan ke stasiun, aku bertanya-tanya apa yang barusan aku lakukan. Berpikir tentang segala sesuatu yang tiba-tiba berubah—setelah segala sesuatu sudah diputuskan—merupakan masalah kronis lain dalam diriku.

Bersambung ke Yesterday – Haruki Murakami (Bagian 2, Selesai)

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here