Hamsad Rangkuti
dibaca normal 3 menit

SETIAP Ramadan tiba, saya selalu teringat dengan cerita-cerita Hamsad Rangkuti. Cerita dari pria kelahiran Titikuning, 75 tahun silam ini punya gaya menarik. Tokoh-tokohnya tak pernah jauh dari orang kebanyakan.

Kadang tokohnya tak ada yang istimewa. Justru peristiwa yang dibangun oleh sang penulis membuat cerita itu istimewa. Kadang ajaib dan membuat kita merenung berkali-kali. Ya, pemilik nama asli Hasyim Rangkuti ini bisa dikatakan seorang juru dongeng yang lancar bercerita.

Kembali ke soal Ramadan. Keluasan pandangan Hamsad ini juga akhirnya bersinggungan dengan cerita-cerita bernapaskan Islam. Maklum, ia dibesarkan di keluarga yang punya tradisi Islam kuat. Ayahnya adalah seorang guru mengaji dan ia kerap menemani ayahnya saat mengajar.

Baca Juga: Kesetiaan Sersan H. von de Wall pada Bahasa Melayu

Beruntung, cerita-cerita Hamsad yang bertema Islam ini telah dikumpulkan dalam satu buku berjudul Panggilan Rasul. Buku ini terbit pertama kali pada 2010 (KPG) dan diterbitkan ulang oleh Diva Press pada 2017. Meski tidak semua, buku tersebut setidaknya merangkum cerita-cerita religius Hamsad.

Secara sederhana, cerita Hamsad dalam Panggilan Rasul bisa dibagi menjadi dua kategori. Pertama, tema Islam secara general. Cerita ini bisa kita temukan di “Ayahku Seorang Guru Mengaji”, “Panggilan Rasul”, dan “4 Buku 40 Hari”.

Kedua, yang kerap digarap empu penerima KLA 2003 ini adalah soal Ramadan dan Idulfitri. Tema ini bisa kita temui di cerpen “Malam Takbir”, “Reuni”, “Lailatul Qadar”, “Santan Durian”, “Antena”, “Malam Seribu Bulan”, “Salam Lebaran”, dan “Hujan dan Gema Takbir”.

Dua kategori ini hanya dibedakan berdasarkan ada dan tiadanya latar waktu Ramadan. Ini lantaran latar waktu tersebut menentukan unsur dramatik yang dibangun Hamsad dalam ceritanya. Misalnya, dalam cerpen yang kental dengan latar Ramadan, Hamsad akan “bermain-main” dengan “keistimewaan” bulan suci umat muslim tersebut.

Baca Juga:  Cara Mudah Membeli Buku Digital di PlayStore atau PlayBook

Ayahku Seorang Guru Mengaji

Di antara cerpen non-Ramadan, “Ayahku Seorang Guru Mengaji” menempati urutan pertama terbaik di buku Panggilan Rasul. Sang empu mampu mengeksplorasi perubahan zaman, praktik keagamaan, tradisi, dan disparitas ekonomi.

Tokoh aku memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai guru mengaji sekaligus pengrajin kasur. Perubahan zaman dan perkembangan teknologi akhirnya menggerus dua profesi ayahnya.

Konflik muncul tatkala sang ayah mulai kehilangan mata pencaharian—lantaran perubahan zaman. Sementara, kebutuhan ekonomi terus mencekik dan kehidupan harus terus berjalan. Desakan dari istri dan anaknya—tokoh aku—untuk mengubah dan mengikuti perkembangan zaman menyebabkan sang ayah goyah: apakah ia harus terus berpegang pada tradisi lama, mengajar anak-anak kampung mengaji atau ia menjual suara tadarus di makam-makam atau direkam dalam bentuk kaset dan diperdagangkan.

Dengan berat hati, sang ayah mengikuti saran istrinya. Ia menjajakan suara tadarus untuk mendoakan orang yang sudah meninggal di makam, seperti koleganya yang lebih dulu melakukan hal demikian. Meski begitu, ia tetap berat hati dan sebenarnya tak ingin melakukan hal tersebut.

Singkat cerita, lantaran sering membacakan ayat di makam, sang ayah jadi berkenalan dengan orang kaya yang sering memintanya membacakan doa untuk keluarganya di makam. Sang Ayah diminta oleh orang kaya itu untuk mengajari anak-anaknya mengaji. Ia pun kembali menjadi guru mengaji. Bukan hanya mengajari keluarga si orang kaya itu, melainkan juga teman-temannya.

Dalam cerpen “Ayahku Seorang Guru Mengaji”, Hamsad dengan cerdas memainkan perubahan zaman, tradisi agama, dan disparitas ekonomi. Perubahan zaman menyebabkan perubahan perilaku masyarakat, baik dari kelas sosial menengah ke bawah maupun menengah ke atas.

Perubahan ini juga menyebabkan murid-muridnya tak lagi belajar mengaji karena gempuran tayangan televisi. Juga, perubahan selera masyarakat yang menyukai kasur pegas ketimbang kasur kapuk. Dua perubahan yang langsung membuat posisi tokoh “ayah” terjepit secara ekonomi.

Baca Juga:  Razia Buku Kiri; Pembodohan dan Warisan Ketakutan Orba

Di kelas menengah ke atas, perubahan zaman juga mengubah pola pengajaran agama. Dalam cerpennya itu, sang empu dari Sumatera Utara ini menggambarkan anak-anak dari kalangan menengah atas ini tak berbeda dengan yang kelompok menengah bawah. Mereka punya dampak sama saat terpapar perubahan zaman. Anak-anak ini sama-sama jauh dari pelajaran agama.

Bedanya, anak-anak di sekitar kampung tokoh ayah meninggalkan pondok tempat mengaji setelah adanya listrik dan televisi. Sementara, anak-anak kelompok menengah, dalam cerpen itu, boleh dikatakan tak tersentuh pengajaran agama sama sekali–karena memang oleh Hamsad tak dinarasikan.

Namun, menjelang penutup cerita, kelompok menengah atas ini—digambarkan Hamsad—memiliki kesadaran untuk kembali ke agama. Kesadaran ini dipicu oleh kematian seseorang dan tiadanya anak-anak mereka yang bisa mendoakan atau membaca Alquran. Dan secara “kebetulan” pula, sang ayah kembali menjadi guru mengaji, bukan untuk anak-anak kampung, melankain untuk kelompok menengah atas tersebut atas ajakan si orang kaya itu tadi. “Kebetulan” berikutnya, tokoh ayah ini bisa menunaikan ibadah haji berkat menjadi guru mengaji orang-orang kelas menengah atas tadi.

Cerpen “Ayahku Seorang Guru Mengaji” berawal dari premis cerita yang sederhana: perubahan zaman yang menggerus kehidupan beragama. Hamsad sekali lagi menunjukkan dirinya sebagai empu yang cukup awas dalam melihat persoalan ini.

Meski sifat ceritanya didaktis, penerima penghargaan SEA Write Award ini tetap menampilkan gesekan-gesekan konflik antartokoh serta dampak paparan perubahan teknologi dan zaman dengan gaya bahasa dan narasi yang apik. Tak terlalu menggurui, hanya menampilkan kekukuhan jiwa dari tokoh utama.

Sekali lagi, unsur “kebetulan” atau “keajaiban” yang merupakan ciri khas fiksi berbahasa Melayu/Indonesia terpancar dalam cerpen Hamsad itu. Meski demikian, hubungan kausalitas yang mengondisikan suatu kebetulan itu bisa terjadi masih bisa dipahami secara logis.

Baca Juga:  Kesetiaan Sersan H. von de Wall pada Bahasa Melayu

Ciri “keajaiban” atau “kebetulan” ini terpancar di cerpen-cerpen Hamsad yang bertemakan Islam. “Keajaiban” di tangan Hamsad digunakan untuk memperkuat unsur mistisisme dalam ceritanya. Ciri ini bakal lebih banyak terbaca di cerpen Islam Hamsad Rangkuti yang berlatar Ramadan.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here