Teka-teki Puisi
dibaca normal 13 menit

SEBELUM memasuki perbincangan ini, saya akan memberi Anda sebuah peringatan tentang apa yang diharapkan—atau mungkin, apa yang tidak diharapkan—dari saya. Saya merasa agak tergelincir dalam judul karangan ini. Judul karangan ini—jika kita tidak salah memahami— “Teka-teki Puisi”, dan fokus karangan ini tentu pada kata pertama dalam judul ini yakni “teka-teki.”

Mungkin kita berpikir bahwa teka-teki selalu menjadi penting atau mungkin boleh jadi buruk. Anda mungkin berpikir saya berdelusi sampai percaya bahwa saya menemukan kebenaran dalam membaca teka-teki. Yang sebenarnya terjadi adalah saya tidak punya rahasia untuk menawarkan hal tersebut.

Saya telah menghabiskan hidup saya untuk membaca, menganalisis, menulis (atau mencoba tangan saya untuk menulis), dan menikmatinya. Saya menemukan sesuatu yang lebih penting dari segalanya di dalam puisi, yakni “mabuk” dalam puisi. Saya ingin masuk ke dalam kesimpulan akhir tentang hal tersebut.

Tentu saja, setiap saya berhadapan dengan kertas kosong, saya merasa bahwa saya telah menemukan kembali sastra untuk diri saya. Tetapi, masa lalu tidak begitu berfaedah apa pun untuk saya. Jadi, seperti yang saya katakan, saya hanya mempunyai kegamangan untuk saya tawarkan kepada Anda. Saya sekarang mendekati 70 tahun dan saya telah mengabdikan sebagian besar hidup saya untuk kesusastraan dan saya hanya dapat menawarkan kepada Anda sebuah keragu-raguan.

Penulis dan pemimpi besar Inggris, Thomas De Quincey, menulis—di beberapa ribu halaman dalam 14 bagian bukunya—bahwa menemukan sebuah masalah sama pentingnya dengan menemukan solusi. Tetapi, saya tidak bisa membahas tentang hal tersebut kepada Anda; saya dapat mengantarkan Anda hanya pada sebuah risalah tentang “kegamangan-waktu”. Dan sebelumnya, mengapa kita harus mengkhawatirkan tentang itu? Apakah yang dimaksud dengan sejarah filsafat, juga sejarah “kebingungan” Hindu, Tiongkok, Yunani, Bishop Berkeley, Hume, Schopenhauer, dan seterusnya dan seterusnya? Saya berusaha untuk membagikan “kebingungan” tersebut dengan Anda.

Kapan pun saya tenggelam dalam buku estetika, saya merasa berada dalam perasaan yang tidak nyaman. Saya merasa telah membaca buku yang ditulis oleh ahli astronomi yang tidak pernah melihat bintang. Yang saya maksud, mereka telah menulis tentang puisi dengan menempatkan puisi sebagai bahan tugas dan tidak sebagai puisi itu sendiri, yakni gairah dan sukacita.

Contohnya, saya telah membaca buku Benedetto Croce tentang estetika dan saya tidak menemukan definisi puisi dan bahasa sebagai sebuah “ekspresi”. Sekarang, jika kita berpikir tentang ekspresi dari sesuatu hal, dan kita kembali pada permasalahan lama tentang bentuk dan ukuran—dan jika kita berpikir tentang ekspresi pada khususnya—kita tidak mendapatkan apa pun. Jadi, kita dengan sangat menghormati menerima definisi tersebut dan kemudian kita bergerak ke sesuatu yang entah.

Kita pergi untuk puisi; kita pergi untuk hidup. Dan hidup ini adalah, saya sangat yakin, tersusun atas kepingan-kepingan puisi itu sendiri. Puisi bukanlah makhluk asing—seperti yang akan kita lihat—mengintai di sekitar ujung. Dan, puisi boleh jadi bisa muncul pada setiap peristiwa.

Sekarang, kita cenderung terjatuh ke dalam kebingungan umum. Kita sering berpikir bahwa, untuk sekadar contoh, jika kita belajar Homer, atau Divine Comedy, atau Fray Luis de Leon, atau Macbeth, kita sedang belajar puisi. Akan tetapi, buku hanyalah sebagian kecil keadaan untuk puisi.

Emerson pernah menulis tentang perpustakaan dengan analogi yang mencengangkan. Bagi dia, perpustakaan merupakan gua besar magis yang berisi puluhan orang mati. Dan orang mati tersebut dapat hidup kembali, dapat membawa kembali pada kehidupan ketika Anda membaca lembaran-lembaran halaman buku yang terdapat di dalamnya.

Berbicara mengenai Bishop Berkeley yang—mungkin akan mengingatkan Anda—ditahbiskan sebagai nabi besar Amerika, saya jadi teringat ia pernah menulis bahwa rasa dari apel bukan berasal dari apel itu sendiri. Apel tidak bisa merasakan dirinya sendiri, tetapi dirasakan di dalam mulut pemakan apel. Hal tersebut membutuhkan kontak antara Apel dan pemakan apel.

Keadaan sama juga terjadi di dalam buku atau koleksi buku atau perpustakaan. Untuk apakah buku itu sendiri? Sebuah buku hanyalah benda fisik di dalam semesta benda-benda fisik. Ia terdiri dari serangkaian simbol yang mati. Dan kemudian pembaca datang, dan kata-kata—atau sebuah puisi—kembali hidup dan kita telah menyadarkan kembali kata-kata.

Saya teringat sekarang ada sebuah puisi yang menyentak hati. Anda mungkin tahu, tetapi Anda mungkin tidak akan pernah menyadarinya, dan boleh jadi, hal tersebut karena bagaimana asingnya puisi itu. Puisi yang sempurna tidak akan terlihat asing, tetapi puisi akan terlihat tak terelakkan. Dan kita harus berterima kasih banyak kepada penulis untuk segala penderitaannya.

Saya teringat pada soneta “On First Looking into Chapman’s Homer” yang ditulis oleh John Keats— penyair muda yang mati karena penyakit paru-paru. Apa yang membuat soneta tersebut terasa asing—saya memikirkan hal ini 3 atau 4 hari lalu ketika saya merenungkan karangan ini—adalah kenyataan bahwa soneta tersebut bertutur tentang pengalaman poetik itu sendiri. Anda dapat mengetahuinya dari dalam hati. Namun sebelumnya, saya akan mengutipkan salah satu “gelora” dan “roh” di dalam stanza terakhir soneta tersebut.

Then felt I like some watcher of the skies 
When a new planet swims into his ken; 
Or like stout Cortez when with eagle eyes 
He stared at the Pacific—and all his men 
Look’d at each other with a wild surmise—
Silent, upon a peak in Darien. 

Di dalam stanza tersebut, kita dapat merasakan pengalaman poetik. Kita mengenal George Chapman, teman dan rival Shakespeare, yang meninggal dan mendadak hidup kembali ketika John Keats membaca karyanya Iliad atau karya lainnya Odyssey. Saya merasa itu adalah George Chapman (tapi, saya tidak terlalu yakin, saya bukanlah seorang ahli Shakespeare) yang dipikirkan oleh Shakespeare ketika Shakespeare menulis, “Was it proud full sail of his great verse/ Bound for the prize of all to precious you?”

Berikut ini adalah kata yang dalam benak saya begitu penting: “On First Looking into Chapman’s Homer.” Kata “first” mungkin, dalam hemat saya, akan membantu kita untuk memahami soneta tersebut.

Setiap saat saya memikirkan larik yang dituliskan Keats, saya berpikir mungkin saya hanya terlalu setia pada ingatan saya. Barangkali, yang menggetarkan saya adalah saya dapat pergi keluar sejenak dari larik-larik Keats dan larik-larik tersebut menarik saya kembali pada pengalaman saat saya kecil di Buenos Aires yakni ketika pertama kali saya mendengar suara ayah saya membacakan larik-larik Keats.

Kenyataan tersebut membuktikan bahwa puisi, bahasa, tidak hanya sebatas medium untuk berkomunikasi, tetapi dapat juga menjadi gairah dan kebahagiaan—ketika hal ini terjadi pada diri saya, saya tidak merasa bahwa saya memahami kata-kata tersebut, tapi saya merasa ada yang telah terjadi pada diri saya. Hal ini tidak hanya terasa pada inteligensi saya, tapi terjadi pada keseluruhan diri saya: daging dan darah saya.

Baca Juga:  Angin Daratan - Pablo Neruda

Kembali pada larik, “On First Looking into Chapman’s Homer,” saya pikir jika John Keats merasakan getaran setelah ia menyelam jauh ke pelbagai buku Iliad dan Odyssey. Saya rasa dalam pembacaan pertama sebuah puisi adalah kebenaran pertama, dan setelah itu, kita berdelusi ke dalam keyakinan—sensasi, impresi—yang selalu berulang-ulang.

Akan tetapi, seperti yang saya katakan, hal ini mungkin kesetiaan belaka, tipuan ingatan belaka, kekacauan antara gairah kita dan gairah sepintas lalu—yang kita rasakan belaka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa puisi adalah pengalaman baru yang terjadi setiap saat. Tiap kali saya membaca puisi, pengalaman tersebut terus terjadi berulang kali. Dan itulah puisi.

Suatu kali saya membaca tulisan tentang pelukis Amerika, Whistler. Ketika itu, Whistler sedang di sebuah kafe di Paris dan beberapa orang di sekitarnya sedang berdiskusi tentang cara turun-temurun, lingkungan, politik, dan lain-lain yang memengaruhi seniman. Whistler pun berujar, “Art happens.” Ia seperti mengatakan bahwa ada sesuatu yang misterius tentang seni. Saya ingin mengutip kata-kata Whistler dengan “rasa” baru. Saya akan mengatakan: Art happens every time we read a poem.

Sekarang, ini mungkin akan terlihat terlalu menggamblangkan gagasan klasik itu, idea dari buku yang kekal, buku yang boleh jadi selalu ditemukan keindahannya. Akan tetapi, semoga saya salah dalam hal ini, saya akan memberikan sedikit tinjauan singkat tentang sejarah beberapa buku. Sejauh saya ingat, Yunani tidak mempunyai pengguna buku yang hebat. Hal tersebut nyata bahwa guru yang paling besar bagi umat manusia bukanlah seorang penulis melainkan pengkhotbah. Contohnya adalah Pythagoras, Kristus, Socrates, Budha, dan banyak lagi.

Saya akan membicarakan sedikit tentang Plato. Saya teringat Bernard Shaw pernah berkata bahwa Plato adalah seorang pengarang yang menceritakan Socrates, sama halnya dengan empat penginjil yang juga pengarang yang menceritakan Jesus. Mungkin ini akan terasa terlampau jauh, tetapi itulah kebenaran di dalamnya.

Di dalam salah satu dialog Plato, ia berbicara tentang buku dengan cara agak mengolok-olok, “What is a book? A book seems, like a picture, to be living being; and yet if we ask it something, it does not answer. Then we see that it is dead.” Dalam membuat pemahaman buku ke dalam suatu benda kehidupan, ia terpengaruh—kabar baik bagi kita— dialog Platonic yang mencegah keraguan dan pertanyaan pembaca.

Tetapi, kita mungkin juga mengatakan bahwa Plato merasakan kesedihan perihal Socrates. Setelah Socrates meninggal, ia seakan berkata dalam hati, “Sekarang, apa yang akan dikatakan Socrates tentang keraguan dalam diri saya?” Kemudian, ia akan mendengarkan suara guru yang dicintainya dan dia menuliskan dialog itu.

Di beberapa dialog, Socrates memberikan pendirian untuk kebenaran. Di lain hal, Plato telah mendramatisasi banyak perasaannya. Dan beberapa dialog tersebut tidak memberikan kesimpulan apa pun karena Plato telah memikirkan serupa ia menuliskannya; ia tidak tahu halaman terakhir ketika ia menulis huruf pertama. Ia membiarkan pikirannya mengembara dan ia telah mendramatisasi pikirannya ke banyak orang. Saya berandai bahwa isi kepalanya penuh dengan ilusi, meskipun kenyataannya bahwa Socrates telah meminum racun, Socrates tetap bersamanya.

Saya pun juga merasakan hal serupa yang dialami oleh Plato karena saya juga mempunyai banyak guru dalam kehidupan saya. Saya bangga menjadi seorang murid—murid yang baik, mungkin. Dan ketika saya berpikir tentang ayah saya, ketika saya berpikir tentang Rafael Cansinos-Assens—pengarang besar Yahudi-Spanyol, ketika saya berpikir Macedinio Fernandez, saya juga akan mendengarkan suara-suara mereka. Dan terkadang saya melatih suara saya, meniru suara-suara mereka, dalam hal ini, saya mungkin berpikiran serupa dengan gagasan mereka. Mereka selalu terserak-serak di sekeliling saya.

Ada kalimat lain, dari salah satu Pastur besar. Ia mengatakan bahwa akan berbahaya jika menaruh buku ke dalam tangan orang yang bebal. Hal tersebut sama halnya dengan memberi pedang kepada anak-anak. Jadi, buku—bagi masyarakat kuno—menjadi benda pelengkap sementara belaka. Dalam salah satu suratnya, Seneca menulis untuk melawan perpustakaan besar. Dan jauh sesudah itu, Schopenhauer menulis tentang banyak orang yang salah mengira bahwa membeli buku untuk membeli isi buku.

Terkadang, melihat banyak buku yang saya punya di rumah, saya merasa saya akan mati sebelum saya mengakhiri semua buku tersebut. Belum lagi saya tidak bisa menahan godaan untuk membeli buku baru. Kapan pun saya jalan-jalan ke toko buku dan saya menemukan salah satu buku kesukaan saya—contohnya, puisi Inggris kuno—saya akan mengatakan pada diri saya, “Sayang sekali, saya tidak bisa membeli buku, untuk buku yang saya sudah punya salinan di rumah.”

Setelah masa kuno, dari Timur muncul idea yang berbeda tentang buku. Buku yang muncul berdasarkan “Holy Writ”, buku yang ditulis oleh “Holy Ghost”; muncullah Alquran, Injil, dan lain-lain. Berdasarkan contoh Spengler dalam Untergang des Abendlandes atau The Decline of the West—saya akan mengambil Quran sebagai contoh—jika saya tidak salah, Teolog Muslim berpikiran bahwa Quran sebagai dasar dalam penciptaan kata/dunia. Quran tertulis dalam bahasa Arab, namun kaum Muslim menganggap bahasa Quran jauh sebelum bahasa Arab tersebut. Sungguh, saya telah membaca bahwa mereka berpikir bahwa Quran tidak sebagai karya Tuhan, tetapi sebagai lambang Tuhan, sama halnya dengan Keadilan- Nya, Kemurahan hati-Nya, dan seluruh Kearifan-Nya.

Hal tersebut juga masuk ke dalam Eropa. Idea “Holy Writ”—sebuah idea yang tidak sepenuhnya salah. Bernard Shaw pernah mendapatkan pertanyaan, apakah dia benar- benar berpikiran bahwa Injil merupakan karya Sang Kudus. Dan dia menjawab, “Saya rasa, Sang Kudus tidak hanya menulis Injil, tapi semua buku.” Tentu saja hal ini cukup susah dimengerti—tetapi, dalam pengertian itu, saya rasa untuk semua buku yang bermanfaat dibaca. Hal tersebut, saya pikir, serupa apa yang dimaksud oleh Homer ketika ia berbicara tentang sebuah renungan. Dan ini juga seperti apa yang orang Yahudi dan Milton maksud ketika mereka berbicara kepada Sang Kudus, merekalah yang mempunyai hati lurus dan suci. Dan di dalam sedikit mitologi indah kita, kita berbicara dari “Tubuh yang Agung”, dari “lubuk hati.” Tentu saja, kata-kata ini cukup kasar ketika kita membandingkannya untuk perenungan atau untuk Sang Kudus. Juga, kita dapat menaruh bersama mitologi di zaman yang kita miliki. Hal tersebut itu berarti hal yang sama secara esensi.

Baca Juga:  Kesepian yang Kuminta - Pablo Neruda

Kita sekarang sampai pada gagasan dari masa “klasik”. Saya harus mengakui bahwa saya pikir buku bukanlah benda yang abadi untuk diambil dan diimani, tetapi buku setidaknya memberikan pengalaman keindahan. Dan inilah kenyataannya bahwa bahasa selalu berubah sepanjang masa. Saya sangat menyukai etimologi dan saya akan mengingatkan kembali untuk Anda (dan saya yakin Anda lebih tahu banyak dibandingkan saya) beberapa etimologi yang membuat penasaran.

Sebagai contoh, kita tahu kata kerja dalam bahasa Inggris “to tease”—sebuah kata yang cukup nakal. Kata tersebut merujuk pada salah satu candaan. Jauh sebelum itu, di dalam bahasa Inggris kuno, kata ‘tesan’ berarti “melukai dengan pedang,” sama halnya dalam bahasa Prancis, kata ‘navrer’ berarti “menusukkan pedang ke seseorang.” Kemudian, kita ambil kata lain dalam bahasa Inggris kuno, ‘preat’, Anda mungkin bisa menemukan kata tersebut dalam bait-bait pertama puisi Beowulf yang berarti “sekumpulan orang marah”—yang boleh jadi disebabkan oleh “ancaman.” Dengan demikian, kita mungkin tidak akan menemukan ujung, setiap ungkapan akan diproduksi terus-menerus, meski bahasa berubah setiap saat.

Tetapi sekarang, marilah kita menyimak beberapa puisi yang penting. Saya akan mengambil contoh puisi Inggris, semenjak saya jatuh cinta pada kesusastraan Inggris—meski pengetahuan saya tentang kesusastraan Inggris sungguh terbatas. Beberapa kasus puisi mampu menciptakan keunikan tersendiri. Untuk contoh, saya tidak yakin bahwa kata “quietus” dan “bodkin” adalah kata yang indah; tentu saja, saya akan katakan bahwa dua kata tersebut agak kasar. Akan tetapi, jika kita memikirkan kata tersebut di dalam “When he himself might his quietus make/With a bare bodkin,” kita akan teringat pidato-pidato menakjubkan dari Hamlet. Dan demikian, kontekslah yang menciptakan puisi terutama dua kata tersebut—kata-kata yang tidak setiap orang berani menggunakan pada era sekarang karena hanya akan menjadi kutipan belaka.

Ada beberapa contoh lain, dan mungkin lebih sederhana. Marilah kita mengambil contoh dari buku yang begitu terkenal di dunia, Historia del ingenioso hidalgo Don Quijote de la Mancha. Kata “hidalgo” sekarang telah menjadi kata yang istimewa, sebelum Cervantes menulis itu. “Hidalgo” berarti “seorang pria negarawan.” Dan kata “Quixote” menjadi kata yang agak menggelikan, seperti banyak nama-nama yang diciptakan oleh Dickens: Pickwick, Swiveller, Chuzzlewit, Twist, Squears, Quilp, dan lain sebagainya. Dan “de la Mancha” sekarang bagi kita akan terasa sebagai kota yang merujuk pada tempat yang terhormat, tetapi ketika Cervantes menulis itu, ia bermaksud untuk menyuarakan kemungkinan seperti jika ia menuliskan seperti ini, “Don Quixote of Kansas City”.

Anda dapat merasakan kata-kata tersebut berubah menjadi tidak begitu istimewa. Anda akan melihat kenyataan yang ganjil: bahwa tersebab pensiuan tentara, Miguel de Cervantes merasakan kesenangan di La Mancha. Sekarang berkat dia, “La Mancha” menjadi salah satu kata yang kekal di dalam kesusastraan.

Marilah kita mengambil contoh lain puisi yang telah mengalami perubahan pemaknaan. Saya teringat dengan soneta yang ditulis oleh Rossetti, soneta yang menempatkan buruh di bawah nama yang tak begitu indah “Inclusivisnes.” Soneta tersebut dimulai dengan:

What man has bent o’er his son’s sleep brood,
How that face chall watch his when cold it lies?—
Or thought, as his own mother kissed his eyes,
Of what her kiss was, when his father wooed?

Saya kira stanza tersebut mungkin lebih hidup sekarang dibanding ketika soneta tersebut ditulis, mungkin 80 tahun yang lalu, karena gedung bioskop masa kini telah mengajarkan kita untuk mengikuti secara cepat sekuen-sekuen citraan imaji. Di baris pertama, “What man has bent o’er his son’s sleep to brood,” kita mendapatkan seorang ayah merapikan wajah anaknya ketika tidur. Dan di baris kedua, seperti di dalam film yang baik, kita mendapatkan imaji yang kebalikan: kita melihat sang anak merapikan wajah jenazah ayahnya. Pada baris berikutnya, kita dibuat begitu sensitif melalui ungkapan yang begitu padat: “Or thought, as his own mother kissed his eyes,/ Of what her kiss was, when his father wooed.” Dalam stanza tersebut, kita dapati keindahan vokal bahasa Inggris dalam kata “brood”, “wooed.” Dan keindahan lainnya, dalam kata “wooed”—penyair tidak memilih kata “wooed her” tapi dengan kata “wooed.” Kata-kata dalam stanza itu pun menjadi bunyi yang nyaring.

Ada juga jenis keindahan yang berbeda selain yang telah saya contohkan sebelumnya. Mari kita ambil contoh kata sifat yang mungkin sudah terasa biasa-biasa saja. Saya akan mengambil satu puisi Yunani, tapi saya tidak mempunyai contoh dalam bahasa Yunani, tetapi saya rasa judul dalam bahasa Yunani adalah Oinopa Pontos, dan terjemahan dalam bahasa Inggrisnya adalah “the wine-dark sea.” Saya kira kata “dark” merupakan kata yang cukup mudah dimengerti bagi pembaca. Mungkin judul itu dapat juga menjadi “the winy sea,” atau apa pun yang sejenis.

Saya yakin ketika Homer (atau penyair Yunani lainnya yang mengikuti Homer) menulis itu, mereka telah memikirkan tentang laut; sifat yang begitu terang-terangan. Akan tetapi, sekarang, jika saya atau Anda—setelah mencoba membayangkan sifat itu—menulis puisi “the wine-dark sea,” ini berarti tidak semata-mata hanya pengulangan apa yang telah dituliskan oleh orang Yunani, tetapi ini juga berarti kembali kepada tradisi. Ketika kita berbicara tentang “the wine-dark,” pikiran kita merujuk kepada Homer dan jarak waktu 30 abad antara kita dan dia. Jadi, meskipun kata-kata memiliki banyak kesamaan, ketika kita menulis “the wine-dark sea”, kita benar-benar menulis sesuatu yang berbeda dengan yang dituliskan oleh Homer.

Demikianlah, bahasa berubah dan pembaca pun ikut berubah. Inilah yang membawa kita pada metafora kuno dari Yunani—metafora atau agak mendekati kebenaran; “no man stepping twice into the same river.” Dan di situ, saya tidak merasa, dapat ditemukan unsur kekhawatiran. Saat pertama kali, kita mungkin berpikiran serupa dengan aliran sungai. Kita berpikir, “tentu, sungai terus mengalir dan air selalu berubah.” Kemudian, dengan perasaan yang tecengang terpesona, kita merasakan bahwa kita terlalu berubah—bahwa kita berubah dan serupa metafora sungai itu.

Bagaimanapun, kita tidak perlu terlalu khawatir pada keklasikan karena keindahan selalu bersama dengan kita. Saya akan mengutip puisi lain, puisi yang ditulis oleh Browning, penyair yang mungkin terlupakan sekarang. Dia menulis:

Just when we’re safest, there’s a sunset- touch,
A fancy from a flower-bell, some one’s death,
A chorus-ending from Euripides.

Cukup baris pertama saja: “Just when we’re safest…” hal itu seperti mengatakan pada kita, keindahan itu bersembunyi di sekitar kita. Keindahan mungkin datang pada kita melalui judul film; mungkin melalui lirik lagu populer; mungkin juga datang pada kita dalam halaman-halaman penulis besar atau terkenal.

Baca Juga:  Kino - Haruki Murakami

Sebelumnya saya pernah menyinggung sedikit tentang Rafael Cansinos-Assens, salah satu guru saya. Saya ingat Cansinos-Assens (mungkin Anda baru mendengar namanya dua kali; saya tidak tahu mengapa ia begitu dilupakan), pernah menulis puisi prosa yang berisikan permohonannya kepada Tuhan untuk menahannya dan menyelamatkan dirinya dari keindahan karena “terlalu banyak keindahan di dunia ini,” katanya. Ia mengajarkan kepada saya bahwa keindahan telah membanjiri dunia. Meskipun, saya tidak tahu jika saya benar-benar bahagia di usia ke-67, saya masih merasa bahwa keindahan ada di sekitar kita.

Apa pun puisi yang ditulis oleh penyair besar atau bukan, puisi tersebut hanya dinilai penting oleh sejarawan sastra. Mari kita berandai, hanya untuk sebuah argumentasi, misalkan saya menulis puisi yang indah; marilah kita ambil ini sebagai hipotesis. Ketika saya menulis puisi dan saya tidak menganggapnya bagus, karena—seperti yang telah saya katakan, baris yang datang pada saya berasal dari Roh Kudus, jiwa yang agung, atau mungkin dari penyair lain—saya selalu menemukan diri saya hanya mengutip sesuatu yang telah saya baca sebelumnya, dan kemudian hal tersebut seperti menemukan kembali. Mungkin, seharusnya, penyair lebih baik tak bernama.

Saya telah menyinggung “the wine-dark sea” dan sejak saya menyukai puisi Inggris kuno (saya takut jika Anda punya keteguhan dan kesabaran untuk kembali ke beberapa bagian karangan ini, Anda akan banyak mendapati puisi Inggris kuno dalam karangan ini), saya akan memberikan beberapa contoh puisi Inggris lama yang menurut saya bagus.

Pertama, saya akan mengutipnya dalam bahasa Inggris sekarang dan kemudian. Saya akan memberikan puisi tersebut dalam bahasa Inggris kuno,

It snowed from the north; 
Rime bound the fields; 
Hail fell on earth,
The coldest of seeds.

Norþan sniwde 
Hrim hrusan bond 
Hægl feol on eorþan 
Corna caldast.

Puisi tersebut mengingatkan kita pada apa yang telah saya katakan tentang Homer: ketika penyair menulis baris-baris itu, ia hanya merekam peristiwa yang telah terjadi. Puisi tersebut tentu saja terasa aneh pada abad ke-19, ketika orang-orang ramai mempelajari mitologi, imaji kiasan, dan sebagainya. Dia hanya menceritakan sesuatu yang lumrah terjadi.

Akan tetapi, jika sekarang kita baca: It snowed from the north; The coldest of seeds, puisi tersebut seakan bertambah bobotnya. Puisi ditulis oleh seorang anglo-sakson di tepi pantai laut utara Inggris—di Northumberland. Saya rasa, baris-baris itu hadir kepada kita secara blakblakan, tanpa tedeng aling-aling, sangat datar untuk melampaui zaman. Jadi, dalam hal ini kita mendapatkan dua kenyataan: pertama (saya berusaha keras memahami ini) ketika “waktu” membuat puisi terasa biasa- biasa saja, ketika kata-kata kehilangan keindahannya. Kedua, ketika “waktu” memperkaya puisi itu sendiri.

Di awal karangan ini, saya telah menyinggung tentang definisi. Untuk mengakhiri karangan ini, saya akan mengatakan bahwa kita telah membuat kesalahan bersama ketika kita menjadi orang bodoh hanya karena kita tidak bisa mendefinisikan sesuatu. Jika kita berada dalam suasana hati “Chestertonian” (salah satu suasana hati yang terbaik, saya rasa), mungkin kita akan bicara bahwa kita dapat mendefinisikan sesuatu hanya ketika kita tidak mengetahui apa pun tentang sesuatu itu.

Sebagai contoh, jika saya harus mendefinisikan puisi—jika saya merasa canggung tentang puisi, dan saya tidak yakin tentang puisi—saya akan mengatakan: “Puisi adalah ekspresi keindahan melalui medium kata-kata.” Definisi itu mungkin akan baik untuk kamus atau buku ajar, tapi kita semua merasa definisi tersebut cukup lemah. Ada sesuatu yang jauh lebih penting—sesuatu yang mungkin membesarkan kita untuk tidak hanya mencoba menulis puisi, tetapi juga menikmatinya dan merasakan apa yang kita ketahui tentang itu.

Inilah yang kita ketahui tentang puisi. Kita sangat tahu puisi, tetapi kita tidak bisa mendefinisikan puisi ke dalam kata-kata. Sama halnya kita tidak bisa mendefinisikan rasa kopi, warna merah atau kuning, atau makna dari kemarahan, cinta, kebencian, makna dari fajar, senja, atau makna cinta kita pada negara kita. Semua hal tersebut terasa mendalam bagi kita, dan semua itu dapat kita ekspresikan hanya melalui simbol-simbol biasa yang kita bagikan. Jadi mengapa kita harus membutuhkan kata- kata lain?

Mungkin Anda tidak setuju dengan contoh yang saya pilih. Mungkin besok saya menemukan contoh yang lebih baik dan mungkin saya akan mengutip contoh puisi lainnya. Akan tetapi, Anda dapat mengambil dan memilih contoh Anda sendiri. Anda tidak butuh sangat memahami Homer, atau penyair Anglo-Saxon, atau Rossetti untuk menikmati puisi karena setiap orang tahu di mana menemukan puisi. Dan ketika puisi datang, kita akan merasa bersetubuh dengan puisi.

Saya akan menutup karangan ini dengan mengutip Santo Agustine yang mungkin sangat sesuai. “What is time? If people do not ask me what time is, I know. If they ask me what it is, then I do not know.” Saya merasakan hal sama tentang puisi.

Diterjemahkan dari Borges, Jose Luis. 2000. “The Riddle of Poetry” dalam This Craft of Verse [hal.1-19]. London: Harvard University Press.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here