Nobel Sastra
dibaca normal 3 menit

Tahun ini, Akademi Royal Swedia tak memberikan Hadiah Nobel di bidang sastra. Keputusan penundaan ini menyusul kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh Jean-Claude Arnault—suami Katarina Frostenson, salah satu anggota Akademi—terhadap 18 perempuan.

Imbas kasus tersebut, hampir separuh anggota Akademi untuk Nobel Sastra mengundurkan diri. Kepercayaan publik terhadap Akademi pun makin tercederai.

“Kami menyadari bahwa kami butuh waktu untuk mengembalikan kepercayaan publik,” bunyi rilis pers dari pihak Royal Akademi, Mei lalu, menyikapi isu yang menerpa mereka.

Akademi lantas memutuskan meniadakan Nobel Sastra 2018 sembari memperbaiki internal dan kepercayaan publik. Tahun depan, Nobel Sastra akan diberikan untuk dua orang sekaligus.

Dalam perjalanan penghargaan ini, Akademi kerap memberikan kejutan demi kejutan. Dari nama-nama pemenang hingga alasan kenapa nama tersebut dimenangkan. Kejutan-kejutan tersebut akhirnya didiskusikan, diperdebatkan, hingga dikritik habis-habisan.

Maklum saja bila ada perdebatan hingga kritikan tiap pemberian Nobel Sastra. Pasalnya, penghargaan setahun sekali dengan hadiah uang jumbo ini memang terkesan istimewa.

Kesan istimewa ini bukan tanpa alasan. Pertama, pengarang penerima Hadiah Nobel disejajarkan dengan penerima Nobel di bidang fisika, kimia, kedokteran, matematika, dan ekonomi. Artinya, kerja kreatif penulis tersebut setara dengan kerja ilmiah para ilmuwan.

Kedua, Akademi tidak memberi penghargaan untuk satu buku saja, tapi untuk keseluruhan kerja kreatif pengarang. Tak ayal, ditambah kesejarahan yang panjang, Nobel Sastra dianggap penghargaan terprestisius di dunia karang-mengarang.

Sebenarnya, masih ada penghargaan sastra lain yang tak kalah bergengsi dengan Nobel Sastra. Penghargaan lain, seperti The Man Booker Internasional dianggap lebih menawarkan sumbangsih dalam perkembangan sastra dunia ketimbang Nobel.

Nah, apa saja penghargaan-penghargaan itu, berikut ini ulasan singkatnya.

Neustadt Prize

Boleh jadi, Neustadt Prize ini paling mendekati Nobel Sastra. Sama halnya dengan Nobel Sastra, penghargaan ini diberikan bukan untuk satu karya, melainkan keseluruhan kerja pengarang.

Baca Juga:  Kesetiaan Sersan H. von de Wall pada Bahasa Melayu

Lantaran hal tersebut, Neustadt Prize bahkan kerap disebut sebagai Nobelnya Amerika. Penghargaan yang dimulai pertama kali pada 1969 ini kerap memunculkan nama-nama finalis dan pemenang yang juga mendapatkan Nobel Sastra. Bahkan, nama tersebut lebih dulu masuk radar Neustadt Prize sebelum Nobel.

Misalnya saja, Pablo Neruda, penyair Chile yang mendapatkan Nobel Sastra pada 1971, setahun sebelumnya merupakan finalis Neustadt Prize. Gabriel Garcia Marquez bahkan 10 tahun lebih awal mendapatkan Neustadt Prize ketimbang Nobel Sastra.

Total, sebanyak 32 pengarang yang lebih dulu terlibat di Neustadt Prize, baik sebagai finalis, juri, atau pemenang, sebelum mendapatkan Nobel Sastra. Hanya Jose Saramago saja yang lebih dulu mendapatkan Nobel Sastra pada 1998 sebelum masuk sebagai finalis Neustadt Prize pada 2004.

Perbedaan dengan Nobel, selain hadiahnya yang kalah jumbo (Nobel sekitar US$983.000 dan Neustadt Prize cuma US$50.000), Neustadt diselenggarakan dua tahun sekali. Selain itu, pemenang hadiah ini ditentukan melalui juri (biasanya pengarang terkenal) dan anggota tetap dari majalah World Literature Today, sedangkan Nobel Sastra ditentukan oleh anggota tetap dari Akademi Royal Swedia.

Pemenang terakhir Neustadt Prize adalah Dubravka Ugrešić pada 2016. Ada empat nama peraih Neustadt Prize yang juga meraih Nobel Sastra: Gabriel Garcia Marquez (Neustadt 1972/Nobel 1982), Czeslaw Milosz (1978/1980), Octavio Paz (1982/1990), dan Tomas Tranströmer (1990/2011).

The Man Booker International

Sejak perubahan format penghargaan pada 2016, The Man Booker International kini makin memberikan tawaran menarik soal nama-nama pengarang dan buku yang masuk nominasi penghargaan.

Pada 2005-2015, format The Man Booker International hampir mirip dengan Neustadt Prize, yakni memberikan penghargaan untuk satu pengarang yang berkontribusi dalam karya-karyanya. Penghargaan ini pun sebelumnya dilakukan dua tahun sekali dengan total hadiah uang mencapai £60.000.

Pengarang yang mendapatkan The Man Booker International sebelum berganti format adalah Ismail Kadare (2005), Chinua Achebe (2007), Alice Munro (2009), Philip Roth (2011), Lydia Davis (2013), dan Laszlo Krasznahorkai (2015).

Baca Juga:  Joker atawa Kembalinya DC ke Jagat Kelam

Pada 2016, Yayasan Booker Prize memutuskan untuk memasukkan kategori Independent Foreign Fiction Prize ke dalam The Man Booker International Prize. Format The Man Booker International Prize lantas direvisi, dari dua tahun sekali menjadi setahun sekali, dari kerja keseluruhan pengarang menjadi satu karya per tahun.

Menariknya lagi, penerjemah juga kebagian penghargaan bersama pengarangnya. Hadiah uang yang didapatkan dibagi sama rata antara pengarang dan penerjemah.

Terobosan lainnya. Yayasan Booker Prize memilih puluhan karya pada Maret sebagai Long Lists, lalu dirampingkan menjadi 6 karya sebagai Short Lists sebelum dipilih satu pemenang.

Meski total hadiah ciut dari £60.000 menjadi £50.000 dan harus dibagi dua dengan penerjemah, The Man Booker International justru kini ditunggu-tunggu. Dengan format Long Lists, pecinta buku jadi tahu judul-judul buku apa yang dianggap terbaik oleh Yayasan selama setahun. Oh ya, sebagai tambahan, karya yang masuk Short Lists, Yayasan memberikan £1.000 untuk pengarang dan penerjemah.

Pengarang Indonesia, Eka Kurniawan, pernah masuk Long Lists pada 2016. Novel Man Tiger (Lelaki Harimau) berhasil sejajar dengan karya pengarang dunia, seperti Orhan Pamuk dan Han Kang—yang akhirnya memenangkan penghargaan lewat novel The Vegetarian.

Untuk masuk radar Yayasan, karya pengarang kudu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan juga masuk pasar Britania Raya.

Pulitzer

Satu lagi penghargaan sastra yang ditunggu tiap tahun adalah Pulitzer for Arts. Sebenarnya, Pulitzer for Arts ini merupakan salah satu kategori dari penghargaan Pulitzer yang dimulai sejak 1917. Selain sastra, Yayasan Pulitzer juga memberikan penghargaan untuk kerja jurnalistik, fotografi, dan lain sebagainya.

Untuk sastra, Yayasan memberikan tiga penghargaan untuk kategori fiksi, drama, dan puisi. Total, tiap tahun yayasan memberikan US$15.000 untuk pemenang per kategori. Jika ditotal bersama kategori jurnalistik, ada 20 kategori yang diberikan penghargaan.

Baca Juga:  Menyusun Kepingan Namaku Merah

Penghargaan ini sebenarnya cukup terbatas untuk pengarang Amerika saja. Juga, isi karya yang dipilih cenderung mengisahkan kehidupan Amerika. Meski begitu, penghargaan ini cukup disegani. Lantaran, karya-karya yang dipilih memang punya bobot.

Format penghargaan ini hampir mirip dengan The Man Booker yang memilih satu karya terbaik per tahun. Bedanya, Pulitzer tidak memiliki Longs Lists maupun Short Lists. Tiga finalis disodorkan juri untuk dipilih menjadi yang terbaik.

Nama-nama seperti Ernest Hemingway, William Faulkner, John Steinbeck, Harper Lee, Jhumpa Lahiri, Philip Roth, John Updike, Toni Morisson, dan lain sebagainya pernah mendapatkan penghargaan ini.

Masih ada beberapa penghargaan lainnya, seperti Kafka Prize, National Book Prize, dan yang teranyar New Academy Prize—penghargaan alternatif yang muncul lantaran kisruh Akademi Swedia. Maryse Conde, pengarang Guadeloupe, mendapatkan penghargaan Academy Prize mengalahkan Neil Gaiman dan Kim Thuy. Sementara, Haruki Murakami yang sebelumnya masuk nominasi memilih mengundurkan diri karena fokus mengerjakan novel terbaiknya.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here