Syair, Syahrazad
(Mozartcultur.com)
dibaca normal 3 menit

Syair 3: Syahrazad

/1/
Untuk kekasih, syair ini dikarang
Demi hibur hati yang sedang gundah
Jangan bersedih berlama-lama
Karena akhir bisa menjadi awal

Syair ini digubah dari dongeng Parsi
Dari Seribu Satu Malam yang melegenda
Kisah tentang putri pemberani,
Syahrazad, putri Wazir Samarkan

/2/
Dahulu kala, Raja Samarkan gila perempuan
Seribu perawan dirudapaksa
lalu esok pagi dipancung juga
Semua kerna ratu tinggalkan raja

Raja sakit hati membalas dendam
Semua perempuan perawan diminta
Demi puaskan nafsu berahi
Sebab ratu bikin hati raja perih

Seribu malam raja jadi gila
Hingga sisa dua perawan
Putri Wazir Kerajaan Samarkan
Syahrazad dan Duniazad namanya

Syahrazad memohon izin ayanda
Agar bertemu dengan sang raja
Putri Wazir ingin menghentikan
Laku gila Sang Raja Samarkan

Syahrazad sudah punya cara
Agar Sang Raja berubah adat
Sang Wazir tetap bersedih hati
Bila gagal, dua putri segera mati

/3/
Datang ke Istana tanpa pendamping
Langkah Syahrazad tegas dan pasti
Keanggunan tak hilang barang secuil
Mata sang raja tak berkedip sama sekali

Melihat kecantikan surgawi di hadapannya
Sang raja pun bertanya-tanya
“Siapa bidadari ini di hadapanku?”
“Hamba Syahrazad putri Wazir, tuanku.”

“Bagaimana bisa Wazir Agung tak memberitahuku?”
Syahrazad terdiam menunduk teguh
Ia tahu akan mati bila disunting raja
Ia tahu adiknya bakal gugur bila ia diam saja

“Tuanku, hamba menyerahkan diri di hadapan raja
“Gunakan tubuhku seperti perawan-perawan”
Raja Samarkan mendekat ke Syahrazad
Menyambut tangan sang putri ke peraduan

Raja tersenyum, otak terbakar
Kecantikan Syahrazad membuta mata
Sang putri wazir tetap diam mengakar
Seribu cara dipikirkan tanpa kata

Sebelum bercinta, Syahrazad punya permintaan
Sang raja mempersilakan putri berbicara
“Silakan putri cantikku, aku akan mendengarkan.”
“Hamba ingin bercerita sebelum naik peraduan.”

Baca Juga:  Bulan Kuning di Stasiun

“Hanya itukah permintaan putri wazir?”
“Betul tuanku, tak ada yang lain.”
Raja memejam mata tafakur berpikir
Satu cerita mungkin seperti angin

Cepat berlalu tak ada bekas
Begitu pikir sang raja lekas
Raja tak tahu ini siasat semata
Syahrazad sudah siapkan ribuan kata

/4/
Malam itu purnama terang
Istana Samarkan teramat tenang
Tak ada bujang berani datang
Sebab raja hendak beradu jantan

Syahrazad mulai dengan cerita
Kisah saudagar kaya dan jin ifrit
Sang raja dengar dengan seksama
Mata terbuka bicara irit

/5/
Syahdan, Saudagar melakukan perjalanan
Menembus padang pasir nan panas
Ia dan kuda sama-sama jalan pelan
Sebab lelah menyusuri gurun ganas

Di tengah jalan, oase terlihat
Saudagar menepi hendak istirahat
Kuda dilepas agar menghapus dahaga
Saudagar pun turut minum air telaga

Habis haus kini tinggal makan
Saudagar mengambil kurma di pelana
Lalu duduk di batu bersandaran
Kurma kini tinggal biji lalu dilemparkan

Ke arah batu besar di ujung sana
Tiba-tiba jin ifrit mengemuka
Membawa pedang di tangan kanan
Jin penguasa menuntut dendam

“Berdirilah, aku hendak membunuhmu”
Saudagar kaget melihat jin tinggi besar
Menetak pedang ke arah saudagar
“Aku menuntut balas kerna kau bunuh anakku.”

Saudagar bangkit berdiri lemas
Hampir tak ada kata terlepas
Keringat dingin berhamburan
Nyawa saudagar hampir bertebaran

“Membunuh anakmu?” tanya saudagar
Dengar kata itu, amarah Jin ifrit menggelegar
“Anakku mati terkena kurma di dada
Kau harus mati agar dendam mereda”

Saudagar kaget putra ifrit mati
Sebab, ia bukan orang sakti
Jin ifrit kepalang sakit hati
Minta nyawa saudagar sebagai ganti

Malang nasib tak bisa ditebak
Saudagar sudah pasrah saja
Aroma Kamboja sudah semerbak
Mungkin ini kematian yang sahaja

Baca Juga:  Malam

Saudagar ingin mengikat janji
Sebelum mati ingin bertemu famili
Lalu, Ifrit bisa ambil nyawa dengan keji
Mendengar itu, Ifrit senang sekali

Pulang ke kampung mata menangis
Sanak famili jadi teramat bingung
Saudagar bercerita, hati famili teriris
Isak tangis pun berdengung-dengung

Saudagar pamit minta doa
Agar bisa masuk surga
Sanak famili tak kuasa jua
Seluruh keluarga menangis juga

Dengan baju putih saudagar pergi
Menuju kematiannya di pagi-pagi
Sampai kembali di batu besar
Menanti Ifrit yang penuh kasar

Saudagar duduk diam bersila
Doa dirapal berulang-ulang
Syaikh berjanggut datang menyela
Bertanya pada saudagar malang

Saudagar menceritakan seluruh kisah
Hati Syaikh berjanggut ikut resah
Kejujuran saudagar mengetuk hati
Syaikh cari cara agar saudagar tak mati

Angin mendesir menyapu debu
Jin Ifrit datang menggebu-gebu
Pedang di tangan mencari darah
Saudagar kini berserah pasrah

Saudagar menangis dan meratap
Jantung terus berdegap-degap
Syeikh berjanggut tak ingin diam
Ia mendekati Ifrit si pendendam

“Hei jin raksasa sakti perkasa
Aku punya cerita luar biasa
Jika hikayatku bikin kau bergetar
Mau kau beri tiga permintaan untuk saudagar?”

“Jika hikayatmu bikin aku gemetar
Dan aku merasa sangat senang
Tentu aku berikan tiga permintaan ke saudagar”
Syaikh pun mulai bercerita, Ifrit lalu tenang

/8/
Putri Syahrazad berhenti bercerita
Sebab fajar sudah mulai tiba
Lalu, dilihatnya mata Sang Nata
Putri sudah pasrah saja

Raja Samarkan punya adat jahat
Tiap pagi, perempuan digantung
Syahrazad sudah tau itu gelagat
Kini, ia rela dan mematung

Namun, Sang Nata justru suka
Pada cerita-cerita Syahrazad
Dengar hikayat, Raja lupa pada luka
Raja mau kelanjutan cerita Ifrit yang jahat

Baca Juga:  Cassini (2)

Syahrazad bilang akan menyambung
Tapi bukan di pagi hari
Sebab, mata sang putri sudah menggantung
“Bila berkenan, hamba sambung malam hari”

Raja bungah Syahrazad mau berhikayat
Sang Nata setuju cerita disambung malam
Pagi itu, raja mulai ubah sedikit adat
Ini berkat siasat cerita Syahrazad

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here