Solilokui
Art work by Moonassi
dibaca normal 1 menit

Solilokui di Waktu Senja

Barangkali sekarang juga
kita sesungguhnya kesepian,
aku berniat mengajukan beberapa pertanyaan—
kita akan bicara berhadap-hadapan

Bersamamu, bersama segenap yang-telah-lalu,
bersama segala yang lahir kemarin,
bersama segala yang juga mati,
serta bersama mereka yang bakal hidup di hari depan,
Aku ingin berkata tanpa ketidaksengajaan pendengaran,
tanpa mereka yang selalu berbisik-bisik,
tanpa hal-hal yang berubah-ubah
dari telinga ke telinga lain.

Seperti, dari mana, akan ke mana?
Keputusan apa yang menjadikan kauterlahir?
Tahukah kau bahwa dunia ini sempit,
nyaris seukuran buah apel,
seperti sebongkah batu kecil,
sementara dua saudara saling bunuh
demi segumpal debu?

Demi kematian yang mencukupi tanah kelahiran!

Kausadar sekarang, atau bila pun nanti,
waktulah yang menentukan segala dalam sehari
dan pada hari itulah semuanya ditentukan?

Kau ingin jadi apa, seperti apa sebelumnya?
Sosialita, banyak cakap, pendiam?
Apakah kau akan berjarak
dengan mereka yang telah lahir bersamamu?
Atau akankah kautodong sepucuk pistol
lekat-lekat ke ginjal mereka?

Apa yang akan kauperbuat dengan hari-harimu
yang telah berlalu, atau lebih dari itu,
dengan segala hari-hari yang kaurindu?

Tahukah kau bahwa tidak ada seorang pun di jalanan
dan tidak ada seorang pun di dalam rumah?

Hanya ada mata yang melongong pada kisi-kisi jendela.

Jika kau tak punya tempat untuk tidur,
ketuklah sebuah pintu dan ia akan terbuka,
bukalah sedikit dan perlahan
maka yang kaulihat adalah suasana dingin di dalam,
dan ternyata rumah itu kosong belaka
rumah yang tidak memintamu untuk berbuat apa;
sebab ceritamu tidak akan berguna,
sedangkan jika kau tetap memaksa kehendak,
anjing dan kucing akan menggigitmu.

Sampai kemudian, kau pun melupakanku—

Aku berkemas, sejak tidak tersisa lagi waktu
untuk bertanya kepada angin.

Aku sanggup bersikeras melangkah,
Akulah orang yang terburu-buru.
Di suatu tempat mereka menunggu
untuk menuduhku atas sesuatu
dan aku mesti mempertahankan diriku;
tidak seorang pun yang mengerti apa arti semua ini
kecuali sebagai keadaan genting,
dan apabila aku tidak pergi, semua akan tamat,
dan bagaimana aku dapat mempertahankan diriku
apabila kuketuk pintu namun tak seorang membukanya?

Sampai kemudian, kita akan bicarakan sebelum itu terjadi.
Atau setelahnya, aku tidak ingat,
atau barangkali kita tidak akan pernah bertemu
atau tidak dapat bertegur sapa.
Aku punya kebiasaan gilaku—
Aku bicara, dan tak seorang bahkan diriku tak mendengar,
Aku bertanya kepada diriku dan tidak menemukan jawab satu pun.

Penerjemah: Hamzah Muhammad

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here