(Sumber: Kansas Public Radio)
dibaca normal 3 menit

Perkembangan teknologi dan media sosial membuat anak dan remaja memiliki aktivitas baru yang berbeda dengan generasi pra-media sosial. Penulis buku Social Media Wellness sekaligus pakar generasi milenial, Ana Homayoun, memiliki perhatian yang besar pada hal ini. Melalui tulisannya, Homayoun memberikan wawasan pada orang tua tentang bagaimana mendidik anak di era media sosial. Sebagus apa buku ini? Simak ulasan saya mengenai buku yang memperoleh rating 4.3/5 di Goodreads ini.

Dalam bukunya, Homayoun menyatakan bahwa media sosial menjadi distraksi yang bisa memengaruhi relasi sosial serta produktivitas anak dan remaja. Keberadaan media sosial membuat waktu yang digunakan untuk melakukan refleksi diri dan beristirahat—yang penting untuk perkembangan identitas—jadi berkurang. Nah, itulah mengapa peran orang tua dalam hal ini jadi sangat krusial.

Namun, masalahnya, banyak orang tua yang enggan memahami “dunia baru” tersebut, sebab mereka sudah terlanjur memegang stereotip buruk terhadap teknologi dan media sosial. Apa dampaknya? Keengganan itu membuat mereka tak bisa peka terhadap berbagai macam masalah terkait teknologi dan media sosial. Padahal, masalah-masalah tersebut tidak bisa dianggap sepele, lho. Bagaimana tidak, media sosial kerap menjadi pemicu peningkatan depresi dan gangguan kecemasan di kalangan anak dan remaja!

(Sumber: anahomayoun.com)

Homayoun juga menekankan, masa kanak-kanak dan remaja merupakan masa pencarian identitas. Pada masa ini, mereka sedang mencari “wadah” untuk aktualisasi diri. Tak bisa kita mungkiri, keberadaan teknologi dan media sosial memang bisa memberi mereka fasilitas untuk mendapatkan pengakuan dari teman sebaya secara instan. Media sosial juga jadi ajang untuk menunjukkan citra diri yang bisa memunculkan pujian dan impresi dari orang banyak. Artinya, media sosial kini menjadi semacam “realitas virtual” bagi anak dan remaja.

Baca Juga:  Nobel Sastra; Diperdebatkan Sekaligus Dinanti

Namun, dampak dari penggunaan media sosial yang berlebihan pun cukup besar. Anak dan remaja rentan mengalami perundungan siber (cyber bullying) yang bisa mengancam kesehatan jiwa. Selain itu, mereka rentan mengalami adiksi internet yang bisa menghambat produktivitas.

Kita sepakat bahwa era media sosial membuat banyak pihak khawatir akan perkembangan jiwa anak, apalagi saat tahu dampaknya yang tak bisa dianggap enteng. Nah, bagi mereka yang ingin tahu bagaimana mengawasi penggunaan media sosial tanpa membatasi ruang gerak anak, buku ini bisa memberikan berbagai tips yang, menurut saya, amat praktis.

(Sumber: anahomayoun.com)

Mengapa buku ini penting dibaca para orang tua dan pengajar? Dalam buku ini, Homayoun membuat beberapa latihan yang bisa dilakukan oleh anak, orang tua, dan pengajar untuk mengatasi masalah-masalah yang disebabkan media sosial. Misalnya saja, cara mengelola stres; mendorong anak untuk hidup lebih sehat, baik di dunia nyata maupun di media sosial; membuat kebijakan atau kesepakatan dengan anak terkait penggunaan media sosial; mengatasi adiksi internet; memberikan panduan dan dukungan; serta menggunakan media sosial untuk hal-hal yang lebih positif. Latihan-latihan ini sangat mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, ia tak hanya menjelaskan dampak negatif penggunaan media sosial, tetapi juga solusi yang ia anggap efektif dan bisa langsung dipraktikkan, tanpa harus melarang anak untuk menggunakan media sosial. Panduan yang diberikan pun tak berupa narasi yang berbelit-belit, lebih mirip dengan tulisan how-to. Oh ya, walaupun saya belum jadi orang tua, saya bisa mempraktikkannya untuk diri saya sendiri. Itulah yang membuat buku ini makin terasa fruitful. 

Yang menarik lagi, ia juga memberikan contoh aplikasi yang bisa membantu anak agar lebih produktif. Beberapa aplikasi tersebut antara lain Forest, Freedom, Tomato Timer, dan Hocus Focus, yang membantu anak agar lebih fokus saat belajar. Ada pula Moment yang membantu mendeteksi seberapa sering anak menggunakan ponsel. Untuk membantu anak membuat jadwal belajar, ada aplikasi myHomework dan Research Product Calculator. Ingin anak berlatih meditasi? Gampang, pasang saja aplikasi ZenFriend.

Baca Juga:  Jika Difilmkan, Keluarga Gerilya Bisa Saja Meraih Oscar

Intinya, kita tak perlu membabi buta menyalahkan teknologi dan media sosial, sebab bagaimanapun ini sudah menjadi realitas baru yang tak bisa dihindari. Orang tua juga tak perlu kadung alergi dan skeptis dengan hal-hal terkait teknologi. Jika digunakan secara bijak, teknologi justru bisa membantu perkembangan jiwa anak. Menurut saya, ini poin paling esensial yang hendak disampaikan Homayoun lewat bukunya.

Kelebihan lain dari buku ini, penulis merupakan pakar generasi milenial yang sangat memahami dampak negatif penggunaan media sosial. Penjelasannya pun disertai dengan data-data yang reliabel. Selain itu, sekalipun ia lebih banyak memberikan contoh kasus yang terjadi di Amerika Serikat, saya pikir tulisannya tetap relevan dengan situasi di Indonesia, terutama setelah perkembangan teknologi yang amat pesat.

Sayangnya, buku ini kurang membahas tindak lanjut yang bisa dilakukan orang tua dan pengajar saat anak mengalami depresi yang dipicu masalah terkait media sosial—misalnya saja, berkonsultasi dengan psikolog, bergabung dengan grup dukungan (support group), dan lain sebagainya. Buku ini juga kurang membahas secara detail gejala anak atau remaja yang mengalami depresi. Padahal, ini bisa membantu orang tua dan pengajar untuk melakukan identifikasi awal, yang akan menentukan tindakan selanjutnya, semisal membawa anak ke terapis atau psikolog.

Homayoun memang sempat membicarakannya sedikit, tapi saya pikir akan lebih baik jika ia membahas ini lebih dalam. Bagaimanapun, orang tua atau pengajar adalah significant others yang semestinya peka dan lekas memberikan bantuan sesuai dengan kapasitas, sebelum akhirnya anak ditangani tenaga profesional.***

Judul : Social Media Wellness
Pengarang : Ana Homayoun
Penerbit : Corwin, 2018
Tebal : 240 halaman
Harga : US$25.60

 

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here