Buku digital, buku fisik, buu cetak
(Foto: Ariel Zambelich/Wired)
dibaca normal 2 menit

Ketika perkembangan teknologi mendisrupsi berbagai sektor industri, dunia perbukuan tampaknya masih kukuh dengan format konvensional, yakni format cetak. Para pecinta buku masih bergeming, meski teknologi terbaru menawarkan format ringkas dalam membaca buku, yakni buku digital dan buku audio.

Hal ini berbeda dengan saudara sekandung dunia perbukuan, yakni dunia jurnalistik. Media massa cetak harus berjibaku menghadapi era disrupsi. Mereka harus berhadapan dengan melubernya media daring yang menawarkan kecepatan informasi dan gratis pula. Alhasil, media massa cetak pelan-pelan harus bertransformasi ke media digital. Beberapa perusahaan media terkemuka membuka lini media daring sembari tetap mempertahankan lini cetak yang dianggap memuat informasi lebih mendalam dan eksklusif.

Nah, di dunia perbukuan, perubahan dari budaya cetak ke digital tak sehebat di dunia jurnalistik. Buku cetak masih berjaya di tengah-tengah perkembangan teknologi informasi dan dunia digital.

Kami pun tertarik mengetahui fenomena tersebut lebih jauh. Kami mengadakan survei kecil-kecilan—yang tentu saja masih jauh dari prinsip saintifik—beberapa waktu lalu kepada beberapa responden lintas gender dan pekerjaan yang kebanyakan berada di rentang usia 17-30.

Dari total 37 responden, 71,4% pernah membaca buku digital. Sisanya, total 28,6% belum pernah membaca. Adapun, fail yang kerap dibaca adalah PDF yang berupa pindaian halaman buku cetak. Sementara, fail yang lebih user friendly bagi ponsel pintar seperti epub dan mobi justru sedikit diakses.

Perlu diketahui, fail jenis epub dan mobi ini banyak dipakai oleh penerbit luar negeri, sedangkan penerbit di Indonesia masih ketinggalan dengan hanya menjual buku digital berformat PDF. Tengok saja buku-buku digital dari penerbit Indonesia yang dijual di Google Play. Kebanyakan tidak punya fitur flow text yang merupakan keunggulan fail epub dan mobi. Fitur flow text ini memudahkan pembaca untuk mengubah jenis huruf (font) maupun besaran ukuran huruf di buku digital. Lantaran yang dijual ini kebanyakan berformat PDF, bila dibaca di ponsel pintar, hurufnya terkesan sangat kecil sekali dan mudah membuat lelah mata pembaca.

Baca Juga:  Nobel Sastra; Diperdebatkan Sekaligus Dinanti

Dari total 71,4% yang pernah membaca buku digital, kebanyakan dari mereka justru jarang membaca buku digital. Rinciannya, 23,5% sangat jarang membaca buku digital dan 35,3% jarang membaca. Yang sangat sering membaca buku digital hanya 14,7% dan yang sering membaca hanya 17,6%.

Menariknya, para responden kami ternyata jarang membeli buku digital. Total 27 responden mengaku mendapatkan fail buku digital dengan mengunduh dari internet dan 14 lainnya mengopi dari teman. Hanya 4 responden yang mengaku membeli secara legal dan 2 responden yang mengakses perpustakaan digital untuk membaca buku digital.

Saat ditanya soal keunggulan buku digital, kebanyakan responden kami menjawab empat hal: paperless, praktis, simpel, serta gratis. Meski demikian, 58,1% responden lebih menyukai buku cetak ketimbang buku digital.

Masalah Rasa

Bagi para responden, buku cetak mempunyai sesuatu yang tak dipunyai buku digital, yakni “rasa”. Ya, feel membaca buku fisik, seperti mencium aroma kertas, merasakan tekstur kertas, serta kepuasan mengoleksi buku tidak muncul di buku digital. “Feel yang didapatkan sangat berbeda. Segi kepemilikan lebih terasa buku cetak. Nyaman dibaca,” kata salah satu responden kami.

Responden lainnya bahkan menyebut bahwa buku cetak bersifat timeless dan punya prestise tersendiri. “Buku cetak bisa punya nilai tinggi, apalagi bila termasuk kategori lawas atau langka,” kata responden kami.

Persoalan rasa dalam membaca buku fisik ini pada akhirnya menyisihkan kemungkinan buku digital menggeser buku cetak di masa depan. Ya, rasa ini pula yang mempertahankan industri buku cetak belum akan pudar.

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pun mengamini bahwa tren buku digital di Indonesia sejauh ini takkan menggantikan buku cetak. Menurut riset IKAPI pada 2016, penjualan buku digital masih rendah. Rata-rata pembaca memilih mengeluarkan uang untuk buku cetak ketimbang digital.

Baca Juga:  Buku Membantuku Mengatasi Depresi

“Kalau harus membeli (buku), masyarakat masih memilih buku fisik,” kata Wakil Ketua Bidang Humas, Riset dan Informasi IKAPI Pusat Indra Laksana, dua tahun lalu.

Dua Arah Berbeda

Dari perilaku konsumen ini, penerbit di Indonesia masih dan bakal terus lebih fokus menggarap buku cetak. Mereka paham betul ceruk pasar buku fisik masih lebih besar ketimbang buku digital.

Penerbit di Indonesia tetap menggarap buku digital, tetapi “seadanya” saja. Bisa dikatakan, buku digital penerbit di Indonesia hanya pelengkap saja. Sebab, sejatinya penerbit di Indonesia menganggap buku digital merupakan bonus saat memproduksi buku fisik. Terjual syukur, enggak juga tidak rugi banyak.

Nah, buku digital di Indonesia sepertinya akan difokuskan ke sektor pendidikan dan perpustakaan. Buku-buku pelajaran versi digital dari tingkat SD hingga SMA sudah mulai diperkenalkan sejak 2016. Sementara itu, perpustakaan publik di Indonesia, seperti Perpustakaan Nasional dan perpustakaan milik pemda, sudah mengeluarkan platform e-library berbentuk aplikasi komputer maupun ponsel pintar. Lewat platform ini, pembaca bisa meminjam ribuan buku digital (yang lagi-lagi umumnya berbentuk PDF). ­

E-library tersebut digunakan sebagai jawaban untuk memperluas jangkauan buku dan mempermudah masyarakat mengakses buku. Sekaligus juga berharap minat baca masyarakat Indonesia terkerek karena mudah dan gratis mengakses buku lewat e-library itu.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here