Jhumpa Lahiri
dibaca normal 9 menit

SETIAP Sabtu, satu keluarga baru akan datang menginap. Beberapa datang pagi-pagi benar dari tempat yang jauh dan siap untuk memulai liburan mereka. Lainnya, bahkan tidak terlihat hingga senja tiba. Yang ini biasanya datang dengan suasana hati yang buruk, barangkali saja mereka kesasar. Sangat mudah sekali kehilangan arah di bukit ini; jalanan di sini tidak punya rambu jalan yang baik.

Hari ini, setelah mereka memperkenalkan diri, aku mengantarkan mereka berkeliling. Biasanya, ibuku yang melakukan penyambutan ini. Namun, ia harus menghabiskan musim panas ini di kota terdekat, membantu lelaki tua yang juga sedang berlibur, jadilah aku yang melakukan pekerjaan itu. Seperti biasa, ada empat orang di keluarga itu: ibu, ayah, dan dua anak perempuan. Mereka mengikutiku, mata mereka terbuka lebar, senang lantaran bisa meregangkan kaki.

Kami berhenti sejenak di teras yang teduh dan menghadap halaman, di bawah atap jerami yang menghalangi sinar matahari. Ada dua kursi berlengan, sebuah sofa yang dibalut kain putih, kursi panjang untuk berjemur, dan meja kayu besar yang muat 10 orang.

Aku membuka pintu geser berkaca dan memperlihatkan isi ruangan: ruang tamu yang nyaman dengan dua sofa lembut di depan perapian, dapur yang lengkap, dan dua kamar tidur.

Ketika si ayah mengeluarkan barang-barang dari mobil dan kedua anak perempuan—kira-kira tujuh dan sembilan tahun—menghilang ke dalam kamar mereka dan menutup pintu, aku menyampaikan kepada si ibu di mana bisa menemukan handuk tambahan dan selimut wol, untuk jaga-jaga bila kedinginan di malam hari.

Aku juga memberi tahu tempat racun tikus disimpan. Mengusir lalat-lalat sebelum tidur, saranku, jika tidak, mereka akan berdengungan saat fajar dan itu sangat mengganggu. Aku juga memberi tahu jalan menuju supermarket, cara menggunakan mesin cuci di belakang rumah, dan tempat menjemur pakaian, tepat di sebelah kebun ayahku.

Tetamu bebas memetik selada dan tomat, aku menambahkan. Ada banyak sekali tomat tahun ini, tapi kebanyakan tomat itu membusuk di musim hujan bulan Juli.

AKU berpura-pura tidak mengamati mereka, untuk jaga-jaga saja. Aku melakukan pekerjaan rumah dan menyiram taman, tapi tetap saja aku tak bisa mengelak memerhatikan betapa bahagia dan senangnya mereka. Aku mendengar suara kedua anak perempuan saat berlarian di halaman, aku pun jadi tahu nama-nama mereka. Lantaran tetamu itu sering membiarkan pintu geser terbuka, aku jadi bisa mendengarkan kata-kata orang tua mereka kepada kedua anak itu saat mereka baru masuk di rumah, saat mereka mengeluarkan koper-koper mereka, dan menentukan menu makan siang.

Rumah tempat keluargaku tinggal tak jauh dari sana, di balik pagar tinggi yang berbentuk semacam sekat. Selama bertahun-tahun, rumah kami hanya terdiri dari satu ruangan: untuk dapur sekaligus kamar bagi kami bertiga. Lalu, dua tahun lalu, ketika aku memasuki 13 tahun, ibuku mulai bekerja untuk lelaki tua kaya raya dan setelah memiliki cukup tabungan, orang tuaku meminta lelaki yang memiliki rumah itu menambahkan kamar kecil untukku.

Ayahku merupakan seorang penjaga rumah. Dia mengurusi rumah besar itu, memotong kayu, serta merawat halaman dan kebun anggur. Dia juga merawat kuda-kuda kecintaan majikannya.

Pemilik rumah ini tinggal di luar negeri, namun dia bukan orang asing seperti kami. Dia datang kapan pun dia suka. Dia tak punya keluarga. Selama berada di sini, dia kerap pergi berkuda; malam hari, dia membaca di depan perapian. Lalu, dia pergi lagi.

Tidak banyak orang menyewa rumah ini selain musim panas. Musim dingin di sini sangat menusuk dan di musim panas terlalu sering hujan. Di pagi hari, sepanjang September hingga Juni, ayah mengantarkanku ke sekolah, tempat yang tak nyaman bagiku. Aku tidak mudah bergaul dengan lainnya; aku tidak seperti anak-anak lainnya.

Kedua anak perempuan di keluarga ini mirip satu sama lain. Kamu bakal dengan mudah mengenali bahwa mereka bersaudara. Mereka sudah mengenakan baju renang yang sama untuk ke pantai. Pantai itu kira-kira 15 mil dari sini. Si ibu juga tampak seperti seorang gadis. Ia kecil dan kurus, rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Bahunya halus. Ia berjalan tanpa alas kaki di rerumputan, meski si ayah sudah mengingatkannya dan berkata (dan si ayah itu benar) di sana mungkin saja ada landak, lebah, dan ular.

HANYA beberapa jam saja mereka seakan-akan sudah lama tinggal di sini. Barang-barang yang mereka bawa untuk seminggu di desa ini sudah tersebar di mana-mana: buku-buku, majalah-majalah, laptop, boneka, jaket, pensil warna, buku catatan, sandal jepit, dan tabir surya. Saat makan siang, kudengar suara garpu bersentuhan dengan piring. Aku bisa merasakan setiap kali salah satu dari mereka meletakkan gelas di meja. Aku juga bisa merasakan nuansa tenang perbincangan mereka, suara dan aroma dari teko kopi, serta asap rokok.

Sehabis makan siang, si ayah meminta salah satu anak perempuannya untuk membawakan kacamata. Cukup lama dia mempelajari peta jalan. Dia mencatat kota-kota kecil terdekat dengan situs arkeologi yang berupa reruntuhan untuk dikunjungi. Si ibu tak tertarik. Ia bilang, dalam setahun, cuma minggu ini saja ia bisa terbebas dari rapat dan pekerjaan.

Baca Juga:  Kino - Haruki Murakami

Lalu, si ayah berangkat ke laut dengan kedua anak perempuannya. Dia bertanya padaku, sebelum mereka pergi, berapa lama dari sini dan pantai mana yang terbaik. Dia juga bertanya padaku tentang cuaca selama seminggu belakangan dan aku bilang padanya, ada gelombang panas datang.

Si ibu tetap di rumah. Ia mengenakan baju renang untuk berjemur. Ia berbaring di salah satu kursi santai. Kutebak, ia bakal rebahan, tapi ketika aku hendak menjemur cucian, kulihat ia menulis sesuatu. Ia menulis di buku catatan kecil yang diletakkan di pahanya.

Sesekali ia mendongak dan melihat seksama pemandangan di sekitar kami. Ia menatap hamparan hijau padang rumput, bukit-bukit, dan hutan di kejauhan. Kilauan langit biru dan jerami yang berwarna kuning. Pagar putih dan tembok dari batu rendah yang menandai batas-batas kepemilikan tanah. Ia mengamati semua yang kulihat tiap hari. Tapi, aku penasaran apa sebenarnya yang ia lihat.

SAAT matahari mulai terbenam, mereka mengenakan sweater dan celana panjang untuk melindungi diri dari nyamuk. Rambut si ayah dan kedua anak perempuannya masih basah sehabis mandi air panas setelah mereka bermain di pantai.

Kedua anak perempuan itu menceritakan perjalanannya kepada ibunya: pasir pantai yang panas, air laut keruh, dan ombak kecil yang mengecewakan. Lalu, seluruh keluarga pergi berjalan-jalan. Mereka melihat kuda, keledai, dan seekor babi hutan yang dikandangkan di belakang kandang kuda. Mereka juga melihat kawanan domba melintas di depan rumah setiap hari, setiap jam ini, menghalangi beberapa menit mobil-mobil di jalanan berdebu.

Si ayah terus-terusan mengambil foto dengan telepon genggamnya. Dia memperlihatkan kepada kedua anak perempuannya pohon plum kecil, pohon ara, dan zaitun. Dia bilang, buah yang dipetik langsung dari pohon rasanya berbeda karena aroma paparan sinar matahari dan juga aroma pedesaan. Ayah dan ibu membuka sebotol wine di teras. Mereka mencecap beberapa keju dan madu asli sana. Mereka mengagumi pemandangan senja hari dan takjub pada awan tebal bercahaya merah delima di bulan Oktober.

Malam pun tiba. Mereka mulai mendengar dengkuran kodok, jangkrik, dan gemerisik angin. Meski udara dingin, mereka memutuskan makan di luar, menikmati sisa-sisa cahaya matahari.

Aku dan ayahku makan di dalam rumah, dalam keheningan. Dia tidak melihat ke depan saat makan. Dengan tak ada ibuku, takkan ada obrolan saat makan malam. Hanya ibu satu-satunya yang bicara saat makan.

Sebenarnya, ibuku tak tahan dengan tempat ini. Sama seperti ayah, ia datang dari tempat yang sangat jauh dibanding orang-orang yang berlibur di sini. Ibu benci hidup di pedesaan, di tempat antah berantah ini. Ia bilang, orang-orang di sini tak ramah, mereka tertutup.

Aku tak merindukan keluhan-keluhannya. Aku tidak suka mendengarkannya, meski bisa saja ibu benar. Terkadang, ketika ia terlalu banyak mengeluh, ayahku memilih tidur di mobil daripada di kamar dengan ibu.

Setelah makan malam, kedua anak perempuan itu bermain di halaman, mengejar-ngejar kunang-kunang. Mereka bermain-main dengan senter. Orang tua mereka duduk-duduk di teras sambil menatap langit berbintang, sebuah kegelapan yang dalam.

Si ibu menyesap lemon panas, sedangkan si ayah menyesap sedikit grappa. Mereka bilang, berlibur di sinilah yang mereka butuhkan, sebab udara di sini berbeda, bersih. Betapa senangnya, ujar mereka, bersama-sama seperti ini, jauh dari keramaian.

PERTAMA-TAMA yang kulakukan di pagi hari, aku ke kandang ayam dan mengambil telur. Telur-telur itu pucat, hangat, dan kotor. Aku menaruh beberapa di mangkuk dan menyuguhkan ke tetamu untuk sarapan. Biasanya, belum ada orang di sana dan aku tinggal meletakkan di meja teras. Namun kulihat, dari pintu geser, kedua anak perempuan itu sudah bangun. Kulihat sekantong kue di sofa, remah-remah, dan kotak sereal tergeletak di meja kopi.

Mereka mencoba mengusir lalat-lalat yang berdengung di sekitar rumah pada pagi hari. Yang tua memegang pemukul lalat. Yang terkecil merengut, mengeluh menanti gilirannya. Ia bilang, ia juga ingin memukul lalat itu juga.

Kuletakkan telur dan kembali ke dalam rumah. Lalu, kuketuk pintu mereka dan meminjamkan pemukul lalat ke mereka. Itulah kenapa mereka berdua senang sekali. Aku tidak mengulangi saranku waktu itu bahwa lebih baik mengusir lalat-lalat sebelum tidur. Jelas sekali, mereka berdua asyik sendiri ketika kedua orang tua, meski ada dengungan lalat-lalat yang mengganggu dan entakan raket kedua anak perempuan, terus tidur.

SETELAH dua hari, rutinitas yang sudah bisa kutebak muncul juga. Pagi-pagi benar, si ayah pergi ke kafe di pusat kota, membeli susu dan kertas, serta menikmati kopi kedua. Dia datang ke supermarket jika membutuhkan sesuatu. Ketika pulang, dia berlari melewati perbukitan meski udara lembab. Suatu kali, dia pulang terengah-engah setelah melewati jalan setapak yang ada seekor anjing penjaga gembala, meski sebenarnya tidak ada yang terjadi.

Baca Juga:  Yesterday - Haruki Murakami (Bagian 1)

Si ibu melakukan pekerjaan yang sama seperti yang biasa kukerjakan: ia menyapu lantai, memasak, dan mencuci piring. Setidaknya, sehari sekali ia menjemur pakaian. Baju kami tergantung dan kering dalam satu tali jemuran yang sama. Lalu, ia bilang kepada suaminya, sambil mengepit keranjang cucian di tangannya, betapa senang dirinya. Lantaran mereka tinggal di kota, di apartemen yang sesak, si ibu tak bisa menjemur pakaian mereka di tempat terbuka seperti di sini.

Setelah makan siang, si ayah mengajak pergi kedua anak perempuan ke pantai dan si ibu tinggal di rumah sendirian. Ia meregangkan diri dan mengisap sebatang rokok, lalu menulis di buku catatan dengan serius.

Suatu hari, setelah kembali dari pantai, kedua anak perempuan berlarian selama beberapa jam, mencoba menangkap jangkrik yang berkeliaran di rumput. Mereka berhasil menangkap jangkrik itu dan meletakkan di botol dengan potongan kecil tomat yang dicuri dari salad milik orang tua mereka. Lalu, mereka memelihara jangkrik-jangkrik, bahkan menamai mereka. Hari berikutnya, jangkrik-jangkrik mati, kehabisan udara di botol, dan kedua anak perempuan itu menangis. Mereka mengubur jangkrik-jangkrik di bawah pohon plum dan menaruh beberapa bunga liar di atas kuburan itu.

Hari lainnya, si ayah menyadari salah satu sandal jepit yang dia taruh di luar hilang. Aku bilang padanya, rubah barangkali mencurinya; ada satu yang berkeliaran di sekitar sini. Kutanyakan pada ayahku, siapa yang tahu tempat tinggal dan persembunyian hewan-hewan di sekitar sini, dan dia pun berhasil menemukan sepatu, juga bola dan tas belanjaan yang dibuang keluarga sebelumnya.

Aku menyadari, betapa senangnya tetamu dengan desa ini, dengan pemandangan yang tak pernah berubah dan betapa sukanya mereka dengan tiap detail yang bisa membantu mereka tenang berpikir, beristirahat, dan bermimpi. Ketika kedua anak perempuan itu memetik berri hitam dan mengotori baju mereka, si ibu tidak marah sama sekali. Malah, si ibu terbahak-bakak. Ia meminta suaminya mengambil foto, dan meletakkan baju itu ke tempat cucian.

Saat bersamaan, aku penasaran apakah mereka benar-benar tahu tentang kesunyian di sini. Malam-malam ketika angin bertiup sangat kencang hingga rasanya seperti gempa bumi atau suara hujan yang terus membuatku terjaga atau berbulan-bulan tinggal di antara perbukitan, kuda, serangga, burung-burung yang melewati perkebunan? Apakah mereka paham dengan hari-hari yang selalu sama di vila yang reyot ini? Apakah mereka bakal suka dengan ketenangan mencekam yang terus hadir di sepanjang musim dingin?

DI MALAM terakhir, semakin banyak mobil berdatangan. Kawan-kawan dari keluarga itu berdatangan bersama anak-anak mereka yang berlarian di halaman. Beberapa orang bercerita betapa lancar lalu lintas dari kota menuju tempat ini. Orang-orang dewasa berkeliling melihat-lihat isi rumah dan berjalan-jalan di kebun saat senja. Meja di teras sudah tertata rapi.

Aku bisa mendengar semua saat mereka makan. Gelak tawa dan obrolan begitu nyaring malam itu. Keluarga itu menceritakan semua kemalangan yang terjadi di desa ini: jangkrik pemakan tomat, kuburan jangkrik di bawah pohon plum, anjing gembala, dan rubah yang mencuri satu sandal jepit.

Tiba-tiba, kue dibawa keluar dengan lilin dan ternyata hari itu, aku baru menyadari, adalah ulang tahun si ayah. Dia telah memasuki 45 tahun. Semua orang bernyanyi dan mereka memotong kue.

Aku dan ayahku baru saja menghabiskan beberapa anggur yang terlalu masak. Ketika aku hampir selesai membersihkan meja, kudengar suara ketukan di pintu. Aku bertemu dengan kedua anak perempuan dari keluarga itu. Mereka sedikit ragu-ragu dan seperti kehabisan napas. Mereka memberiku dua potongan kue: satu untukku dan satu untuk ayahku. Tiba-tiba, mereka langsung lari sebelum aku mengucapkan terima kasih.

Salah satu dari mereka bertanya kepada si ibu, di mana mereka mendapatkan kue ini. Dari toko roti di sekitar rumah mereka, kata si ibu, dan salah satu dari tamu yang datang itu membawakan ke sini. Si ibu menyebutkan nama toko roti dan piazza, tempat persis toko roti itu berada. Ayahku meletakkan garpu dan menundukkan kepala. Matanya gelisah saat melihatku. Dia tiba-tiba berdiri dan keluar lalu mengisap sebatang rokok, menghilang.

DULU, kami juga pernah tinggal di kota. Ayahku menjual bunga di piazza itu. Ibuku juga membantu di sana. Mereka menghabiskan hari demi hari di stan kecil tapi nyaman, menata beberapa buket bunga yang dibeli orang untuk menghias meja dan teras mereka. Karena baru berada di negeri ini, mereka belajar beberapa nama bunga: mawar, bunga matahari, anyelir, dan daisy. Mereka merawat bunga-bunga itu, memotong batang, dan memasukkan ke dalam buket-buket bunga.

Suatu malam, tiga orang lelaki datang. Ayahku sendirian; ibuku yang waktu itu mengandungku sedang di rumah, sebab dia tak mau ibuku bekerja sampai malam. Saat itu memang begitu larut. Toko lain di piazza itu sudah tutup dan ayahku sebenarnya hendak menutup toko.

Baca Juga:  Diam yang Sempurna - Yiyun Li

Salah satu dari mereka meminta ayahku membuka lagi dan bilang bahwa dia ingin bertemu pacarnya. Dia ingin membeli satu buket bunga yang cantik. Ayahku setuju-setuju saja dan merangkaikan satu, meski orang-orang itu kasar dan agak mabuk.

 Ketika ayahku memberikan satu buket bunga, lelaki itu bilang terlalu kecil dan meminta ayahku untuk merangkai lebih besar. Ayahku menambahkan lebih banyak bunga, sungguh banyak sekali, hingga lelaki itu puas. Ayahku membungkus buket bunga itu dengan kertas, lalu mengikat dengan pita warna. Dia menyebutkan harga.

Lelaki itu mengeluarkan beberapa uang dari dompetnya. Sangat tidak cukup. Dan, ketika ayahku menolak memberikan buket bunga itu, lelaki itu bilang bahwa ayahku seorang idiot, tak bisa merangkai bunga yang cantik untuk seorang perempuan cantik. Lalu, bersama dengan dua orang lainnya, dia mulai memukuli ayahku sampai mulutnya penuh darah, sampai giginya tanggal.

Ayahku berteriak, tapi saat itu tak ada orang yang mendengar. Kembalilah di mana pun asalmu, teriak mereka. Mereka pun mengambil buket bunga dan meninggalkan ayahku tergeletak di tanah.

Laly, ayahku dibawa ke unit gawat darurat. Dia tak bisa makan makanan keras selama setahun. Setelah aku lahir, ketika dia melihatku pertama kali, dia tak bisa mengucapkan kata apa pun.

Sejak saat itu, ayahku kesusahan berbicara. Dia menyimpan kata-kata, seakan-akan dia seorang tua renta. Dia malu tersenyum, sebab beberapa giginya tanggal. Aku dan ibuku memahaminya, tapi orang lain tidak. Mereka pikir, karena ayahku orang asing, dia tak bisa bicara bahasa di sini. Terkadang, mereka pikir ayahku bisu.

Ketika buah pir dan apel merah yang tumbuh di kebun sudah matang, kami mengunduhnya dan mengiris tipis-tipis, bahkan hampir transparan, sehingga ayahku bisa menikmatinya.

Salah satu temannya bilang tentang pekerjaan ini, di tempat terpencil ini. Dia sebenarnya tak pernah hidup di pinggiran, dia selalu tinggal di kota.

Ayahku justru bisa tinggal dan bekerja tanpa membuka mulutnya. Dia tidak lagi takut diserang. Dia lebih senang tinggal bersama hewan dan merawat perkebunan. Dia pun terbiasa dengan alam liar yang anehnya justru melindunginya.

Ketika ayahku bicara denganku, saat dia mengantarkan ke sekolah, dia selalu bilang hal yang sama: bahwa dia tak bisa melakukan apa pun dalam hidupnya. Dia memintaku untuk serius belajar, lulus, kuliah, dan pergi jauh dari tempat ini.

KEESOKAN HARI, di pagi hari, si ayah mengeluarkan mobil. Kulihat empat orang dengan kulit terbakar matahari berpelukan erat. Mereka tidak ingin meninggalkan tempat ini. Saat sarapan, mereka bilang mereka ingin kembali tahun depan. Hampir semua tamu mengatakan hal sama ketika hendak pulang. Beberapa di antaranya memang kembali lagi, namun sebagian besar cukup sekali datang.

Sebelum pergi, si ibu menunjukkan padaku bahan-bahan makanan di kulkas yang tidak ingin mereka bawa pulang ke kota. Ia juga bilang, ia sangat menyukai rumah ini dan sudah merasa rindu. Mungkin, ketika ia stres atau tertekan karena pekerjaan, ia akan memikirkan tempat ini: udara bersih, perbukitan, dan arakan awan menyala ketika senja tiba.

Kuharap keluarga itu selamat dalam perjalanan dan kuucapkan selamat tinggal. Aku berdiri, menunggu hingga mobil itu hilang dari pandangan. Lalu, aku mulai membersihkan rumah untuk satu keluarga yang bakal datang besok. Kurapikan tempat tidur. Kubersihkan kamar kedua anak perempuan itu yang serba-jungkir balik. Kusapu lalat-lalat yang berhasil mereka pukul.

Rupanya mereka kelupaan, atau sengaja meninggalkan, beberapa barang yang tidak mereka butuhkan. Barang-barang itu sedang kupegang: gambar yang dibuat kedua anak perempuan, kerang yang diambil dari pantai, dan tetesan terakhir dari sambun cair. Daftar belanja yang sudah lusuh di sebuah kertas dan catatan kecil yang dibuat si ibu di kertas lainnya yang semuanya berisi tentang kami.

Diterjemahkan oleh Agung D.E.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here