Haruki Murakami, Runtuhnya Sebuah Kerajaan, Kerajaan
Ilustrasi oleh Jordan Moss.
dibaca normal 4 menit

SEKIRA di belakang reruntuhan kerajaan mengalir sebuah sungai kecil yang indah. Sungai itu bersih, tenang, dan banyak ikan tinggal di sana. Rerumputan tumbuh pula di sana dan ikan-ikan memakan rerumputan itu. Tentu saja ikan-ikan tidak peduli apakah kerajaan itu runtuh atau tidak. Apakah itu sebuah kerajaan atau republik juga tidak ada bedanya bagi mereka. Mereka tidak ikut pemilu atau membayar pajak. Tak ada bedanya bagi kami, pikir mereka.

Aku mencuci kakiku di aliran sungai itu. Merendam sebentar di air dingin membuat kakiku merah-merah. Dari aliran sungai, kamu bisa melihat tembok dan menara istana kerajaan yang runtuh itu. Bendera dengan dua warna berkibar dari atas menara, seperti kebingungan tertiup angin. Orang-orang yang menyeberangi sungai akan melihat dan berkata, “Hei, lihat. Itu bendera kerajaan yang runtuh.”

***

Q dan aku adalah teman—atau istilah tepatnya, dulu kami berteman di bangku kuliah. Lebih dari 10 tahun kami melakukan hal-hal yang dilakukan dalam pertemanan. Ini alasan kenapa aku menggunakan kata “dulu”. Bagaimanapun, kami dulu berteman.

Kapan pun aku mencoba menceritakan tentang Q—untuk menjelaskan dia sebagai seseorang—aku selalu gagal. Aku bukan seorang yang jago menjelaskan apa saja, bahkan baru mau berniat menceritakan soal Q ke seseorang sudah sangat sulit bagiku. Lalu, ketika memberanikan mencoba, aku dipenuhi perasaan kosong.

Jadi, biarkan aku mencoba menceritakannya sesederhana yang kubisa.

Q dan aku sepantaran, tapi dia kira-kira 570 kali lebih ganteng. Dia juga punya kepribadian yang baik. Tidak sombong dan tidak pernah memaksa, serta dia tidak pernah marah bila seseorang bikin masalah dengannya.

“Oh, iya,” dia akan bilang demikian. “Aku juga begitu ke diriku.”

Namun kenyataannya, aku tidak pernah mendengar dia melakukan hal buruk ke orang lain.

Dia juga dibesarkan dengan baik. Bapaknya seorang dokter yang punya klinik sendiri di Pulau Shikoku. Artinya, Q tidak pernah kesulitan uang jajan, tapi dia justru tidak menginginkannya. Bukan karena dia seorang yang boros.

Dia selalu punya setelan menarik dan juga seorang atlet yang mengesankan. Pernah ikut kompetisi tenis antarsekolah di SMA. Dia menyukai renang dan pergi ke kolam renang dua kali seminggu.

Secara politik, dia liberal moderat. Kemampuan akademiknya, meski tidak terlalu menonjol, bisa dibilang bagus. Dia juga tidak pernah belajar sebelum ujian, tapi anehnya tak pernah gagal. Dia benar-benar memperhatikan pelajaran di kelas.

Baca Juga:  Nobel Sastra; Diperdebatkan Sekaligus Dinanti

Dia—secara mengejutkan—sangat berbakat bermain piano dan punya banyak koleksi rekaman Bill Evans dan Mozart. Pengarang favoritnya itu lebih ke Prancis—Balzac dan Maupassant. Kadang-kadang dia membaca novel karya Kenzaburo Oe atau penulis lain. Tulisan kritiknya selalu tepat sasaran.

Dia sangat populer di mata perempuan, secara alamiah bahkan. Tapi, dia bukan tipe laki-laki yang suka ganti-ganti pasangan. Dia cuma punya satu pacar, seorang mahasiswi tingkat dua di salah satu kampus khusus perempuan ternama. Mereka kerap jalan tiap hari Minggu.

Begitulah kira-kira Q yang kukenal di bangku kuliah. Pendeknya, dia adalah seseorang tanpa kekurangan.

***

Saat itu, Q tinggal di sebelah kamar apartemenku. Gara-gara kami sering meminta garam dan saus salad, kami jadi berteman. Dan lama-lama, kami pun saling main ke kamar masing-masing, mendengarkan musik, dan minum bir.

Suatu ketika, aku dan pacarku liburan ke Pantai Kamakura dengan Q dan pacarnya. Kami sangat nyaman bersama. Lalu, pada libur musim panas di tahun terakhir kuliah, aku pindah, dan ya pertemanan kami selesai begitu saja.

Terakhir kali aku bertemu Q kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Aku sedang membaca buku di tepi kolam renang hotel yang besar di dekat distrik Akasaka. Q sedang duduk di kursi santai di sebelahku dan di sampingnya ada perempuan cantik berkaki jenjang mengenakan bikini.

Aku langsung tahu bahwa dia adalah Q. Dia masih tampan seperti biasanya dan sekarang di umur tiga puluhan, dia menunjukkan pesonanya yang belum pernah dia miliki sebelumnya. Perempuan muda yang lewat pun langsung meliriknya.

***

Dia tidak menyadari bahwa aku duduk di sebelahnya. Aku memang laki-laki yang biasa-biasa saja dan waktu itu memakai kacamata hitam. Aku tidak yakin harus menyapanya atau tidak. Tapi akhirnya, aku memutuskan tidak.

Dia dan perempuan itu asyik mengobrol dan aku ragu-ragu menyela mereka. Selain itu, tidak banyak hal yang akan kami bicarakan.

“Aku memberimu garam, ingat?” lalu “Hei, iya ingat, dan aku memberi sebotol saus salad.” Lantas, kami akan cepat kehabisan topik obrolan. Jadi, aku membiarkan mulutku terkunci dan memilih membaca buku.

Tetap saja, aku tidak bisa menutup telingaku dan tak sengaja mendengarkan obrolan Q dan perempuan cantik yang menemaninya. Obrolannya soal masalah yang rumit. Aku pun menyerah membaca buku dan menguping perbincangan mereka.

“Tidak mungkin,” kata si perempuan. “Kamu pasti bercanda.”

Baca Juga:  Kisah tentang Seorang Pelukis - Ludmilla Petrushevskaya

“Aku tahu, aku tahu,” kata Q menimpali. “Aku tahu persis apa yang kamu bilang. Tapi, kamu juga harus melihat dari kacamataku. Aku enggak melakukan ini karena aku ingin. Aku cuma menyampaikan apa kata atasan. Jadi, jangan lihat aku seperti itu.”

“Ya, betul,” katanya lagi.

Q menghela napas.

Izinkan aku merangkum percakapan mereka yang panjang—tentu saja bakal ada tambahan imajinasi. Q tampaknya sudah jadi seorang sutradara di salah satu stasiun TV atau semacamnya dan perempuan itu penyanyi atau aktris yang cukup terkenal.

Perempuan itu diputus kontrak karena suatu masalah atau skandal yang melibatkannya atau cuma gara-gara kepopulerannya menurun.

Pekerjaan untuk menyampaikan keputusan itu diserahkan kepada Q, seseorang yang bertanggung jawab langsung dengan operasional program acara. Aku tidak begitu paham dengan industri hiburan sehingga aku tidak begitu yakin inti masalahnya. Tapi, aku pikir penjelasanku tidak jauh melenceng.

Dari yang kudengar, Q menjalankan tugasnya dengan baik dan tulus.

“Kita tidak akan bertahan tanpa sponsor,” katanya. “Aku enggak perlu jelasin banyak—kamu tahu sendiri bisnis ini.”

“Jadi, kamu bilang, kamu enggak punya tanggung jawab atau menjelaskan masalah ini?”

“Bukan. Aku enggak bilang seperti itu. Tapi, aku enggak bisa berbuat banyak.”

Obrolannya kembali menemui jalan buntu. Perempuan itu ingin tahu seberapa besar usaha Q memperjuangkannya. Q bersikeras bawa dia sudah melakukan segala yang dia bisa, tapi dia tidak punya cara untuk membuktikannya dan perempuan itu tidak percaya. Aku juga tidak memercayai kata-kata Q.

Semakin halus dia mencoba untuk menjelaskan, semakin lekat kabut kebohongan menutupi segalanya. Tapi, itu bukan salah Q. Itu juga bukan salah siapa-siapa. Karena itu pula, tidak ada jalan keluar atas masalah itu.

Tampaknya, perempuan itu sangat menyukai Q. Aku menduga hubungan mereka baik-baik saja sampai masalah itu mengemuka. Dan barangkali masalah itu menambah kemarahan si perempuan. Namun, pada akhirnya perempuan itu menyerah.

“Oke,” katanya. “Aku mengerti. Belikan aku Cola, ya?”

Ketika mendengar kata-kata itu, Q menghela napas lega dan pergi ke stan minuman.

Perempuan itu memakai kacamata hitam dan menatap lurus ke depan. Saat itu, aku telah membaca satu kalimat yang sama di buku beberapa ratus kali.

Segera Q kembali dengan dua gelas kertas besar. Sambil menyuguhkan ke perempuan, dia duduk ke kursinya. “Jangan terlalu dipikirkan,” katanya. “Tiap hari mulai sekarang kamu akan….”

Tapi, sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, perempuan itu menyiram seluruh isi Cola ke arah Q dan tepat mengenai mukanya. Kira-kira sepertiga isi Cola tak sengaja mengenai diriku.

Baca Juga:  Yesterday - Haruki Murakami (Bagian 1)

Tanpa sepatah kata, perempuan itu berdiri dan, sambil merapikan bikininya, melangkah pergi tanpa menengok ke belakang. Q dan aku hanya duduk terpana selama 15 detik. Orang-orang di sekitar menatap kami dengan kaget.

Q-lah yang pertama kali bisa mengembalikan ketenangannya. “Maaf,” katanya sembari menyodorkan handuk kepadaku.

“Tidak apa-apa,” jawabku. “Aku cuma butuh mandi saja.”

Tampak sedikit kesal, dia menarik kembali handuknya dan mengeringkan dirinya sendiri.

“Setidaknya, biar aku mengganti bukumu,” katanya.

Bukuku memang basah kuyup, tapi itu hanya buku murah dan tidak bagus-bagus amat isinya. Siapa pun orang yang melempar Cola ke buku itu dan mencegah aku membacanya berarti dia telah membantuku. Dia tampak mendingan setelah aku mengatakan itu. Dia masih memiliki senyum yang sama seperti dulu.

Q lantas beranjak saat itu juga, meminta maaf sekali lagi kepadaku saat dia berdiri untuk pergi. Dia tidak pernah menyadari itu aku.

***

Lalu, aku memutuskan memberi judul cerita ini “Runtuhnya Sebuah Kerajaan” karena kebetulan aku baru membaca artikel di koran sore pada hari itu tentang satu kerajaan di Afrika yang runtuh.

“Melihat kerajaan yang hebat memudar,” tulis artikel itu, “jauh lebih menyedihkan ketimbang melihat keruntuhan sebuah republik kelas semenjana.”

Diterjemahkan dari Cerpen Haruki Murakami berjudul “The Kingdom that Failed” yang dimuat di The New Yorker, Kamis (13/8/2020).

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here