Pohon dedalu buta dan putri tidur, haruki murakami
(Credit: Taylor N Pohlman)
dibaca normal 14 menit

KETIKA AKU MEMEJAMKAN MATA, bebauan di udara terbawa angin ke arahku. Angin bulan Mei membawa aroma buah yang terlalu masak, kulit yang kasar, daging berlendir, serta puluhan biji. Daging buah pecah di udara terbuka, melemparkan biji-bijinya yang seperti peluru ke kulit tanganku, dan meninggalkan sedikit bekas luka.

“Jam berapa sekarang?” tanya sepupuku. Kira-kira 20 senti lebih pendek diriku, dia harus mendongak ketika berbicara.

Kulirik jam tanganku. “Sepuluh dua puluh.”

“Apa jam itu tepat?”

“Ya, kurasa begitu.”

Dia menarik tanganku, memerhatikan jam tanganku. Kurus, meski jari-jarinya lembut, tarikannya begitu kuat. “Mahal?”

“Tidak, cukup murah,” aku menimpali, sambil melirik jam tanganku.

Tidak ada jawaban.

Sepupuku terlihat bingung. Gigi putih di sela-sela bibir yang terbuka terlihat seperti tulang yang tumbuh tak sempurna.

“Ini cukup murah,” kataku, sambil melihat ke arahnya mengulangi kata-kata tadi dengan hati-hati. “Cukup murah, tapi tetap menunjukkan waktu yang tepat.”

Dia cuma mengangguk, tak ada kata-kata terlontar.

***

Sepupuku tidak bisa mendengar dengan sempurna, telinga kanannya cacat. Ketika dia masih sekolah dasar, dia terkena pantulan bola bisbol dan mengacaukan pendengarannya. Muntahan bola itu membuatnya susah menjalani hidup. Dia masuk di sekolah umum, sama seperti anak-anak lainnya, menjalani kehidupan normal. Di kelas, dia selalu duduk di depan, di sisi kanan sehingga dia masih bisa mendengarkan guru dengan telinga kirinya. Nilainya tidak begitu buruk. Yang jadi soal, meski dia kadang bisa mendengar suara dengan cukup baik, ada waktu-waktu tertentu dia tak bisa mendengar sama sekali. Siklus ini naik turun, bergantian. Terkadang, mungkin dua kali dalam setahun dia hampir tidak bisa mendengarkan apa pun di kedua telinganya. Seperti keheningan di telinga kanannya menekan lebih dalam hingga menghancurkan segala suara yang masuk di telinga kiri. Ketika itu terjadi, kehidupan normalnya lenyap lewat jendela dan dia harus bolos sekolah. Para dokter sebenarnya bingung. Mereka tidak pernah menjumpai kasus seperti ini. Tak ada yang bisa mereka lakukan.

“Meski jam itu mahal, belum tentu akurat,” ujar sepupuku, berusaha meyakinkan dirinya. “Aku pernah punya jam tangan mahal, tapi selalu saja hilang. Aku punya saat masuk SMP, tapi hilang setahun kemudian. Sejak itu aku pergi tanpa jam tangan. Orang tuaku tidak mau lagi membelikan yang baru.”

“Pasti susah hidup tanpa jam tangan,” kataku.

“Apa?” tanyanya.

“Bukannya susah hidup tanpa jam tangan?” kuulangi sambil melihat ke arahnya.

“Enggak juga,” jawabnya, menggelengkan kepala. “Enggak seperti hidup sendirian di gunung atau sebagainya. Kalau ingin tahu, aku tinggal bertanya pada seseorang.”

“Iya, benar,” kataku.

Kami terdiam untuk sementara waktu.

Ya, aku tahu, seharusnya aku berbicara lebih banyak, mencoba ramah padanya, coba membuat dia rileks sedikit sampai kami tiba di rumah sakit. Namun, sudah lima tahun sejak aku bertemu dia terakhir kali. Sekarang, dia telah tumbuh dari 9 tahun ke 14 tahun dan aku sudah beranjak dari 20 tahun ke 25 tahun. Dan dalam rentan waktu selama itu, telah berdiri tembok kasat mata di antara kami yang susah dilewati. Setiap kali aku ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba kata-kata itu batal kuucapkan. Setiap kali aku ragu-ragu, aku menelan kembali kata-kata yang ingin kuucapkan. Sepupuku menatap wajahku. Kebingungan. Telinga kirinya dia condongkan sedikit ke arahku.

“Jam berapa sekarang?” tanyanya lagi.

“Sepuluh dua puluh sembilan,” jawabku.

Pukul 10.32, bis akhirnya terlihat mendekat.

***

Bis model baru datang, tidak seperti yang sering aku tumpangi ke sekolah menengah. Kaca depannya jauh lebih besar. Bentuk bis itu seperti pesawat bomber tanpa sayap. Dan, bis ternyata lebih penuh dari yang kubayangkan. Tidak ada yang berdiri, tapi kami tak bisa duduk bersama. Kami tidak pergi terlalu jauh, jadi kami duduk di dekat pintu belakang. Kenapa bis begitu penuh pada jam-jam segini? Itu masih menjadi misteri. Rute bis dimulai dari stasiun kereta api swasta, lalu menuju daerah perumahan di perbukitan, dan memutar kembali ke stasiun. Tidak ada tempat wisata di sepanjang rute ini. Beberapa sekolah dilewati rute bis ini sehingga bis penuh ketika jam anak-anak berangkat sekolah. Namun, pada jam segini, bis seharusnya kosong.

Aku dan sepupuku berpegangan pada tali strap dan tiang. Bis itu model baru, langsung dari pabrik. Permukaan logamnya mengilat—kamu bisa lihat wajahmu terpantul di dalamnya. Semua permukaan kursinya halus, bahkan sekrup terkecil terlihat bagus. Ya, hanya bis tipe terbaru saja yang punya seperti itu.

Bis baru dan penuhnya penumpang yang tidak diduga-duga membuatku sedikit pangling. Barangkali rute bis itu berubah sejak terakhir kali aku naik. Aku melihat seksama di sekitar bis dan melirik keluar. Namun, masih sama seperti yang dulu, distrik perumahan yang tenang, yang masih kuingat dengan baik.

“Bis ini benarkan?” tanyanya khawatir. Sejak kami berangkat, wajahku pasti memperlihatkan kebingungan.

“Jangan khawatir,” jawabku, aku meyakinkan dirinya sekaligus pula diriku sendiri. “Cuma satu bis yang lewat rute ini, jadi pasti ini bis yang benar.”

“Kamu naik bis ini juga kalau berangkat sekolah?” tanyanya lagi.

“Iya, benar.”

“Kamu suka sekolah?”

“Enggak juga,” kataku. “Tapi, aku bisa bertemu teman-temanku di sana, dan ini bukan perjalanan yang jauh.”

Sepupuku meresapi kata-kata yang kuucapkan.

“Masih melihat mereka?”

“Enggak. Enggak untuk waktu yang lama,” jawabku, hati-hati memilih kata-kata.

“Kenapa tidak? Kenapa kamu tidak melihat mereka?”

“Karena kami tinggal berjauhan satu sama lain.” Itu bukanlah alasan, tapi aku tidak menemukan cara lain untuk menjelaskannya.

Tepat di sebelahku duduk sekelompok orang tua. Setidaknya ada 15 orang di antara mereka. Karena merekalah bis ini jadi penuh, aku akhirnya menyadari. Mereka semua terbakar sinar matahari, bahkan di leher bagian belakang mereka, gelap. Setiap dari mereka berbadan kurus. Kebanyakan laki-laki mengenakan setelan kaos gunung tebal, sedangkan perempuan lebih simpel, blus tanpa kerah. Mereka semua memangku tas ransel kecil—perlengkapan yang biasa digunakan untuk hiking pendek di perbukitan. Sungguh menakjubkan mereka terlihat. Seperti sebuah boks yang di dalamnya penuh benda-benda yang tertata rapi. Yang aneh, di sepanjang rute bis itu, tak ada jalur pendakian gunung. Jadi, di dunia mana sebenarnya mereka barusan pergi? Pikiran itu keluar saja ketika aku berdiri di dekat mereka, berpegangan pada tali strap, tapi tak ada penjelasan yang masuk akal di kepalaku.

***

“Apa pemeriksaannya menyakitkan?” sepupuku bertanya.

“Aku tidak tahu,” kataku, “aku tak pernah mendengar detailnya.”

“Pernah ke dokter THT?”

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak pernah sekalipun pergi ke dokter THT.

“Yang sebelumnya bagaimana? Sakit?” tanyaku.

“Enggak begitu,” sepupuku menjawab dengan muram. “Sebenarnya tidak begitu sakit, tentu, kadang-kadang sakit sedikit. Tapi, tidak mengerikan.”

“Mungkin sekarang akan sama. Ibumu bilang mereka tidak akan melakukan lebih dari yang biasanya.”

“Tapi, kalau mereka melakukan hal yang sama terus, apa bisa sembuh?”

“Ya, kita tidak akan pernah tahu. Kadang-kadang sesuatu yang di luar dugaan bisa terjadi.”

“Maksudmu seperti mengeluarkan penyumbat?” kata sepupuku. Aku melirik sekilas padanya, tak ada raut sarkasme.

“Rasanya akan lain saat kamu ditangani oleh dokter baru dan kadang-kadang hanya sedikit perubahan prosedur bisa membuat lebih baik. Kita tidak akan menyerah begitu saja,” kataku.

“Aku tidak menyerah,” katanya menimpali.

“Tapi, kamu sepertinya sudah lelah.”

“Ya,” katanya. Menghela napas. “Ketakutan memang sesuatu yang terburuk. Rasa sakit yang kubayangkan lebih buruk dari rasa sakit sebenarnya. Kamu paham maksudku?”

“Ya, aku paham.”

***

Banyak hal yang terjadi di musim semi ini. Suasana di tempat kerja telah berubah dan aku memutuskan berhenti bekerja di sana, di perusahaan periklanan kecil di Tokyo. Sudah dua tahun aku bekerja di sana. Saat yang sama, aku juga putus dengan pacarku, kami bersama sejak di kampus. Sebulan berikutnya, nenekku meninggal karena kanker usus. Dan ini pertama kalinya sejak lima tahun aku kembali ke kota ini, dengan kopor kecil di tangan. Kamar lamaku masih sama seperti sebelum aku meninggalkannya. Buku-buku yang sudah kubaca masih di dalam rak, kasurku masih di tempat sama, mejaku, dan semua kaset yang pernah kudengarkan juga. Tapi, semua yang ada di ruangan telah hambar, kehilangan warna, dan bau. Hanya waktu saja yang masih berdiri.

Baca Juga:  Duniazat - Salman Rushdie

Setelah pemakaman nenek, aku berencana kembali ke Tokyo, mencari pekerjaan baru. Aku juga berencana pindah apartemen. Aku butuh suasana baru. Hari demi hari berlalu, sungguh, seperti banyak masalah yang membuat diriku ingin kabur dan pergi secepatnya dari rumah ini. Bahkan, hanya untuk bangun dan melakukan sesuatu, aku tidak bisa. Kuhabiskan waktuku bersembunyi di kamar lamaku, mendengarkan kaset-kaset, membaca ulang buku-buku, kadang-kadang mencabuti rumput di taman. Aku tidak bertemu siapa pun dan seseorang yang kuajak bicara hanya keluargaku saja.

Suatu hari, bibiku datang dan memintaku untuk mengantarkan sepupuku ke rumah sakit yang baru. Ia seharusnya mengantarkannya sendiri, katanya, tapi ia punya rencana mendadak di waktu sama dengan jadwal ke dokter dan ia tidak bisa. Lokasi rumah sakit cukup dekat dengan sekolah lamaku, jadi aku tahu, dan karena aku tidak melakukan apa pun, aku tidak bisa menolak. Bibiku memberi amplop berisi uang untuk makan siang.

Karena tak ada perubahan sama sekali, sepupuku dipindahkan ke rumah sakit baru. Sejujurnya, dia punya lebih banyak masalah dari sebelumnya. Ketika bibiku mengeluh pada dokter yang bertugas, dokter bilang, masalah sebenarnya ada di lingkungan rumah dan keluarga dibandingkan persoalan medis. Mereka berdua tidak sependapat. Tidak seorang pun benar-benar yakin perubahan rumah sakit akan mempercepat kesembuhan pendengarannya. Tak ada yang berkata sejauh itu, tapi mereka agak menyerah jika kondisi sepupuku akan membaik.

Sepupuku tinggal di dekat rumahku, tapi karena aku hampir satu dekade lebih tua darinya, kami tidak pernah benar-benar dekat. Ketika ada pertemuan keluarga, aku mungkin akan pergi bersamanya ke suatu tempat atau bermain dengannya, tapi hanya sebatas itu. Lama-kelamaan semua orang menganggap kami berdua dekat, berpikir dia melekat padaku, dan dia adalah saudara kesayanganku. Untuk waktu yang lama, aku tidak tahu kenapa. Sekarang, sungguh, melihat dia memiringkan kepalanya, mendekatkan telinga kirinya padaku, aku merasakan sesuatu keanehan yang menyentuh. Seperti suara hujan yang terdengar bertahun-tahun lalu. Kekikukannya begitu familier denganku, seperti aku pernah merasakannya. Dan, aku baru menangkap sekilas kenapa keluarga kami menginginkan kami bersama.

***

Bis telah melewati 7 atau 8 halte ketika sepupuku cemas menatapku kembali.

“Masih jauh?”

“Ya, masih lumayan. Rumah sakitnya besar, kita tidak akan kelewatan.”

Aku sambil lalu mengamati angin yang berembus dari jendela terbuka dengan lembut mengenai topi orang tua dan syal yang melingkar di lehernya. Siapa orang-orang ini? Dan ke mana kemungkinan mereka akan pergi?

“Hei, kamu akan bekerja di perusahaan ayahku?” tiba-tiba sepupuku memecah lamunanku.

Aku menatapnya, terkejut. Ayahnya, pamanku, menjalankan perusahaan percetakan besar di Kobe. Tak pernah terlintas di kepalaku, dan tak seorang pun memberi klue.

“Tak ada seorang pun yang berkata tentang itu,” jawabku, “Kenapa kamu menanyakan itu?”

Sepupuku tersipu. “Aku hanya berpikiran kamu mungkin bisa,” katanya. “Tapi, kenapa enggak? Kamu tidak harus pergi. Tentu semua orang akan senang.”

Suara dalam mesin rekaman mengumumkan pemberhentian berikutnya. Tak ada yang menekan tombol untuk turun. Tak ada orang yang menunggu untuk naik bis di halte.

“Tapi, ada sesuatu yang harus kukerjakan, jadi aku harus kembali ke Tokyo,” kataku. Sepupuku menunduk, tak berkata-kata.

Sebenarnya, tak ada satu hal pun yang harus kukerjakan. Tapi, aku tidak bisa bahagia tinggal di sini.

Jumlah rumah semakin sedikit ketika bis mulai menanjak di lereng gunung. Cabang-cabang pohon mulai melemparkan bayangan gelap di sepanjang jalan. Kami melewati rumah-rumah yang tampak asing, dicat, dan dengan pagar rendah di halaman depan. Udara dingin terasa menyenangkan. Tiap kali bis melewati tikungan, cekungan laut di bawah terlihat, kemudian menghilang. Bis berhenti di depan rumah sakit, aku dan sepupuku berdiri di sana, melihat pemandangan berlalu.

“Pemeriksaan akan cukup lama. Aku bisa sendiri,” katanya, “jadi kamu bisa pergi dan menungguku di suatu tempat.” Setelah menyapa dokter, aku keluar dari ruang periksa dan pergi ke kafetaria. Aku hampir tidak sarapan dan sekarang merasa lapar. Sayangnya, tidak ada menu yang membangkitkan selera makanku. Akhirnya, aku cuma memesan secangkir kopi.

Pagi di hari kerja, aku dan keluarga kecil di sebelahku seperti punya tempat khusus bagi diri kami masing-masing. Sang ayah, sekitar 45 tahunan, mengenakan piyama bergaris berwarna biru tua, dan sandal plastik. Sang ibu dan dua gadis kembar datang. Si kembar memakai baju putih yang sama persis dan meringkuk di atas meja, terlihat serius di mukanya. Mereka minum segelas jus jeruk. Cedera atau penyakit sang ayah tidak tampak serius. Kedua orang tua dan anak-anak tampak bosan.

Di luar jendela terdapat halaman rerumputan. Penyiram rumput otomatis berputar di permukaan halaman, menyirami rerumputan dengan gerimis buatan keperakan. Sepasang burung berekor panjang berkicau tepat di atas mesin penyiram rerumputan itu, kemudian hilang dari pandangan. Di balik lapangan tenis, pohon zelkova berjajar dan di antara ranting-rantingnya, kamu bisa melihat samar-samar lautan.

Aku merasa déjà vu dengan pemandangan ini beberapa tahun yang lalu: halaman rerumputan yang luas, gadis kembar menyeruput jus jeruk, burung ekor panjang yang terbang entah ke mana, lapangan tenis yang tak bernet, dan lautan di cakrawala nun jauh… Namun, itu hanya ilusi. Sayangnya, gambar-gambar itu sangat jelas sekali, perasaan yang sungguh-sungguh nyata. Tetap saja ilusi. Aku tak pernah berada di rumah sakit sepanjang hidupku.

Kurenggangkan kakiku hingga ke kursi di depan, menarik napas dalam-dalam, dan menutup mataku. Di dalam kegelapan aku bisa melihat bongkahan putih. Pelan-pelan meluas, lalu berkontraksi, seperti mikrob di dalam mikroskop. Berubah bentuk, menyebar, membelah diri, dan terbentuk ulang.

Sekitar delapan tahun lalu, aku berada di rumah sakit lain, rumah sakit kecil yang berada di dekat laut. Semua yang bisa kamu lihat di luar jendela adalah bunga-bunga oleander. Ya, rumah sakit, rumah sakit yang memiliki aroma air hujan. Di sana, pacar temanku dirawat dan akan dioperasi. Musim panas pertama di sekolah menengah, ia dirawat. Bukan merupakan operasi besar, sungguh, hanya membenarkan posisi salah satu tulang rusuknya yang melengkung sedikit ke dalam. Bukan prosedur darurat, hanya sesuatu yang memang harus dibetulkan, lalu ia berpikir kenapa tidak diurus sekarang saja. Operasinya sendiri lebih cepat. Namun, dokter menginginkan ia istirahat untuk memulihkan diri pascaoperasi. Jadi, ia harus tinggal lebih lama di rumah sakit selama sepuluh hari. Aku dan temanku berangkat ke rumah sakit berboncengan mengendarai motor Yamaha 125cc. Dia mengendarai saat jalan ke sana, dan aku mengendarai saat pulang. Pacarnya memintaku untuk datang.

“Tidak, Aku akan ke rumah sakit sendiri,” katanya.

Temanku berhenti di toko permen dekat stasiun dan membeli satu boks cokelat. Aku berpegangan pada ikat pinggangnya hanya dengan satu tangan, tangan lainnya memegang erat boks cokelat. Panas sekali waktu itu dan kemeja kami basah keringat, tapi angin kemudian mengeringkannya. Saat temanku mengendarai motor, dia menyanyikan sebuah lagu dengan suara mengerikan. Aku masih bisa mengingat bau keringatnya. Tidak lama setelah itu, dia meninggal.

Baca Juga:  Laut yang Kehilangan Waktu - Gabriel Garcia Marquez

***

Pacarnya mengenakan piyama biru dan semacam gaun tipis sepanjang lututnya. Kami bertiga duduk-duduk di kafetaria, merokok Short Hope, minum Cola, dan menikmati es krim. Ia sangat kelaparan. Ia sudah menghabiskan dua donat bertabur gula dan minum cokelat dengan berton-ton krim di dalamnya. Sepertinya itu masih belum cukup baginya.

“Saat kamu keluar, kamu akan jadi balon udara,” ujar temanku, sedikit jijik.

“Enggak apa-apa, soalnya aku sedang dalam masa penyembuhan,” ia menimpali, menyeka ujung jari-jarinya yang terkena minyak dari donat.

Saat mereka ngobrol, aku melihat sekilas ke luar jendela. Bunga-bunga oleander. Mereka sangat banyak sekali, hampir seperti sebuah hutan yang hanya berisi oleander. Aku juga bisa dengar deburan ombak lautan. Tangga di dekat jendela benar-benar berkarat karena terpapar angin laut tiap hari. Sebuah kipas angin antik cukup mengusir hawa panas. Kafetaria mempunyai bau rumah sakit. Bahkan, makanan dan minumannya pun juga. Di piyama pacarnya, ada dua saku yang tepat menutupi dadanya. Salah satunya berwarna keemasan karena terkena pena. Tiap kali dia membungkuk, aku bisa melihatnya, dada putih yang bersembunyi di balik kerah v-neck.

***

Kenangan berhenti di bagian itu. Kucoba untuk mengingat lagi. Aku minum Cola, menatap bunga-bunga oleander, menyelinap, mengintip dadanya…. Selanjutnya apa lagi? Aku bergeser, duduk di kursi plastik dan meringkuk, menyandarkan kepalaku di kedua tanganku. Kucoba menggali lebih dalam lapisan-lapisan ingatan, seperti mencungkil penyumbat dengan ujung pisau tipis. Aku beralih ke sisi lain, mencoba membayangkan dokter membedah, membelah dadanya, dan membenarkan tulang rusuknya dengan tangan terbungkus kaus tangan karet. Semua ini terasa surealistis, seperti sebuah alegori.

Ya, benar. Aku baru ingat, setelah itu kami berbicara tentang seks. Temanku yang memulainya. Tapi, apa yang dia katakan? Tentu saja sesuatu tentang diriku. Ya, kegagalanku melakukan dengan seorang perempuan. Memang tidak banyak yang dia ceritakan, tapi dengan caranya membesar-besarkan cerita—menambahi bumbu-bumbu yang tidak pada porsinya—membuat pacarnya terpingkal-pingkal dan tertawa. Membuatku tertawa juga. Dia memang seseorang yang tahu bagaimana bercerita.

“Tolong, jangan buat aku tertawa lagi,” katanya, sedikit kesakitan, “Dadaku sakit kalau tertawa terus.”

“Di mana sakitnya?”

Ia menekan, menunjukkan letak dadanya yang sakit di piyamanya: di jantungnya, sedikit sebelah kanan dada kirinya. Dia kembali membuat lelucon tentang itu, dan ia tertawa lagi.

***

Kulihat jam tanganku. Sebelas empat lima, tapi sepupuku belum juga kembali. Sudah dekat dengan jam makan siang dan kafetaria semakin penuh. Segala suara bercampur seperti asap menyelimuti ruangan. Aku sekali lagi kembali dalam ingatan-ingatanku. Dan pena emas kecil yang ada di saku piyamanya…..

…. Sekarang aku ingat. Ia menggunakan pena itu untuk menulis sesuatu di kertas tisu.

Ia menggambar sesuatu. Tisu terlalu tipis dan ujung pena selalu terjebak, menancap di kertas itu. Ia mencoba menggambar bukit. Dan rumah kecil di puncak bukit. Ada perempuan tertidur di dalam rumah itu. Rumah itu dikelilingi pohonan dedalu yang buta. Dedalu buta itulah yang membuat perempuan itu tertidur.

“Pohon dedalu buta, apa itu?”

“Pohon yang seperti ini,” jawabnya sambil menunjuk gambar yang ia buat.

“Yah, aku tak pernah mendengarnya.”

“Iya, karena aku satu-satunya yang membuatnya,” katanya, tersenyum.

“Pohon dedalu buta punya banyak serbuk sari dan serangga kecil yang tertutupi sesuatu merayap ke dalam telinganya dan membuat perempuan itu tertidur.”

Ia mengambil tisu baru dan menggambar pohon dedalu buta. Dedalu buta dalam gambarnya seperti seukuran pohon azalea. Tanaman itu sedang berbunga, dan bunganya dikelilingi dedaunan hijau tua seperti ekor kadal yang terkumpul banyak. Dedalu buta itu tak mirip sama sekali dengan pohon dedalu kebanyakan.

“Kamu punya rokok?” tanya temanku. Kulemparkan sebungkus Hopes dan korek api di meja.

“Dedalu buta tampak kecil dari luar, tapi ia punya akar yang dalam,” ia menjelaskan. “Sebenarnya, pada titik tertentu, ia akan berhenti tumbuh, tapi akarnya akan terus-menerus menekan, merasuk ke dalam tanah. Seperti kegelapan adalah makanannya.”

“Dan serangga membawa serbuk sari ke dalam telinganya, ke lubang telinga, dan membuat ia tertidur,” temanku menambahkan, sambil berusaha menyalakan rokoknya dengan korek yang basah. “Apa yang terjadi dengan serangganya?”

“Mereka tetap di dalam tubuh perempuan dan makan dagingnya,” pacarnya menjawab.

“Memakan habis,” temanku menimpali.

***

Ya, aku ingat sekarang. Musim panas itu, ia menulis puisi panjang tentang dedalu buta dan menjelaskannya kepada kami. Itu satu-satunya PR yang ia kerjakan musim panas itu. Ia membuat cerita berdasarkan mimpinya suatu malam dan saat ia terbaring di kasur rumah sakit selama seminggu, ia menulis puisi panjang. Temanku bilang ingin membacanya, tapi ia masih mencoba memperbaikinya. Jadi, ia menolak. Malahan, ia menggambar skena-skena dalam mimpinya itu dan meringkas plotnya.

Seorang pemuda mendaki bukit untuk menyelamatkan sang putri dari serbuk sari dedalu buta yang membuatnya tertidur lama.

“Pasti itu aku,” temanku menyela.

Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, itu bukan kamu.”

“Kamu yakin?” tanyanya.

“Aku yakin,” katanya, wajahnya sangat serius. “Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tahu. Tapi aku yakin. Kamu tidak marah kan?”

“Ya, tentu saja,” temanku mengernyitkan dahi, setengah bercanda.

Menerobos pohon dedalu buta, pemuda itu pelan tapi pasti berjalan ke atas bukit. Dia adalah orang pertama yang berhasil sampai di puncak bukit setelah pohon dedalu buta itu mengambil alih bukit. Ia menurunkan topinya hingga di atas mata, satu tangannya mengusir serangga-serangga yang berdengung di sekitarnya. Pemuda itu terus berjalan untuk menyelamatkan putri yang tertidur, membangunkannya dari tidur panjang, tidur yang dalam.

“Tapi, ketika dia sampai di puncak bukit, tubuh perempuan itu seharusnya sudah dimakan serangga-serangga itu kan?” temanku memotong.

“Bisa jadi,” pacarnya menjawab.

“Bisa jadi sudah dimakan habis oleh serangga. Hmm, kok jadi cerita sedih ya?”

“Ya, kurasa,” ia menjawab. “Bagaimana menurutmu?” ia bertanya padaku.

“Sedih,” kujawab, “Aku merasa ceritanya sedih.”

***

Dua belas dua puluh, sepupuku kembali. Dia membawa tas kecil berisi obat-obatan dan mukanya terlihat tidak fokus. Setelah dia sampai di pintu masuk kafetaria, dia celingak-celinguk mencariku beberapa saat dan datang mendekat. Dia berjalan canggung seperti dia tak bisa menjaga keseimbangannya. Dia duduk di depanku dan dia, seperti lupa mengingat cara bernapas, menghirup napas dalam-dalam.

“Bagaimana pemeriksaannya?” aku bertanya.

“Mmmm,” katanya. Aku menunggu dia berbicara lebih banyak lagi, tapi dia tidak berbicara juga.

“Kamu lapar?”

Dia mengangguk pelan.

“Kamu mau makan di sini? Atau kamu mau langsung pulang ke kota naik bis dan makan di sana?”

Dia melihat sekitar ruangan dengan bimbang. “Di sini tidak apa-apa,” ujarnya. Aku sudah membeli kupon makan siang dan memesan dua paket makan siang untuk kami berdua. Sebelum makanan dibawakan ke meja kami, sepupuku menatap khidmat pemandangan di luar jendela, pemandangan yang sama kulihat tadi: lautan, barisan pohon zelkova, dan mesin penyiram rumput.

Di sebelah meja kami, pasangan berusia 60-an yang berpakaian bagus sedang makan sandwiches dan berbincang tentang teman mereka yang mengidap kanker paru-paru. Dia, temannya itu, berhenti merokok 5 tahun lalu, tapi sudah terlalu terlambat. Dia muntah darah ketika bangun pagi. Si istri bertanya, si suami menjawab. Dalam perasaan tertentu, suaminya menjelaskan, kamu bisa melihat seluruh hidup seseorang dengan penyakit kanker.

Baca Juga:  Clara - Roberto Bolano

Menu makan siang kami: steak Salisbury dan whitefish goreng, salad, dan roti gulung. Selama kami makan, pasangan di sebelah kami masih saja berbicara tentang kanker, kenapa penderita kanker meningkat, kenapa tidak ada obat untuk menyembuhkan.

***

“Ke mana pun pergi akan tetap sama,” ujar sepupuku dengan nada datar, menatap tangannya. “Pertanyaan sama, pemeriksaan yang sama.”

Kami duduk-duduk di bangku depan rumah sakit, menunggu bis. Sesekali angin berembus menghamburkan daun-daun hijau di atas kami.

“Kadang, kamu tidak bisa mendengar apa pun?” tanyaku padanya.

“Iya, benar,” jawab sepupuku. “Aku tidak bisa mendengar sesuatu.”

“Bagaimana rasanya?”

Dia menoleh ke satu sisi dan berpikir. “Bayangkan, tiba-tiba saja kamu tidak bisa mendengarkan apa pun. Tapi, butuh beberapa waktu sebelum kamu menyadari apa yang terjadi. Lalu, kamu benar-benar tidak bisa mendengar apa pun. Rasanya seperti berada di dasar laut dan memakai penutup telinga. Itu berlangsung beberapa waktu. Sepanjang waktu, kamu tidak mendengar sesuatu, tapi masalahnya tidak hanya di telingamu. Tidak bisa mendengar apa pun hanya bagian kecil saja.”

“Apa itu mengganggumu?”

Dia menggelengkan kepala, pendek saja, tapi jelas dia menggeleng. “Aku tidak tahu kenapa, tapi tidak terlalu banyak menggangguku. Hanya tidak nyaman, sungguh. Tidak bisa mendengar apa pun itu tidak nyaman.”

Aku coba membayangkan, tapi gambaran-gambaran itu tak datang juga.

“Kamu pernah nonton filmnya John Ford, Fort Apache?” sepupuku bertanya.

“Dulu, dulu sekali,” jawabku.

“Baru saja ada di TV. Benar-benar film bagus.”

“Umm,” aku mengiyakannya.

“Di awal film, seorang kolonel-baru datang ke benteng barat. Kapten veteran menyambutnya dan bertemu dengannya ketika dia sampai. Kapten itu dimainkan John Wayne. Kolonel tidak tahu banyak tentang situasi di barat. Dan, ada pemberontakan suku Indian di sekitar benteng.”

Sepupuku mengambil sapu tangan putih yang terlipat rapi di sakunya dan menyeka mulutnya.

“Setelah ia sampai benteng, kolonel berbalik ke John Wayne dan berkata, ‘aku melihat beberapa Indian sedang menuju ke sini.’ Dan, John Wayne dengan raut muka dingin, menjawab, ‘Jangan khawatir. Jika Anda melihat beberapa Indian, artinya mereka tidak ada di sana.’ Aku tidak ingat kata-katanya, tapi kira-kira seperti itu. Kamu tahu maksudnya?”

Aku tidak bisa mengingat apa pun percakapan yang ada di film Fort Apache. Aku sadar aku cuma tahu sedikit tentang film itu.

“Kupikir artinya apa yang bisa dilihat seseorang tidak semuanya itu penting…. Kurasa begitu.”

Sepupuku mengerutkan dahi. “Aku tidak berpikiran begitu. Tapi, setiap seseorang bersimpati padaku karena telinga ini, kata-kata itu tiba-tiba muncul. ‘Jika Anda melihat beberapa Indian, artinya mereka tidak ada di sana’.”

Aku tertawa.

“Apa itu aneh?” tanya sepupuku.

“Yap,” dan dia tertawa. Sudah lama aku tidak melihatnya tertawa.

Setelah beberapa saat, sepupuku berkata, “Kamu mau melihat ke dalam telingaku untuku?”

“Melihat ke dalam telingamu?”

“Hanya melihat dari luar saja.”

“Oke, tapi kenapa kamu ingin aku melakukannya?”

“Aku tidak tahu,” sepupuku malu. “Aku hanya ingin kamu lihat seperti apa di dalamnya.”

“Oke,” kataku, “aku akan mencoba.”

Sepupuku duduk membelakangiku, memiringkan telinga kanannya ke arahku. Dia mempunyai bentuk telinga bagus. Bentuknya kecil, tapi daun telinganya membengkak seperti roti Madeleine yang baru saja dipanggang. Aku tidak pernah melihat telinga seseorang dengan seksama sebelumnya. Ketika kamu mulai mengobservasi secara dekat, telinga manusia—strukturnya—begitu misterius. Dengan semua keanehan simpulnya dan berlanjut ke tonjolan dan lekukan. Barangkali proses evolusi menyebabkan bentuk aneh ini untuk menangkap suara secara optimal atau melindungi yang ada di dalamnya. Dikelilingi dengan tembok asimetris, lubang telinga terbuka lebar seperti pintu masuk menuju kegelapan, gua rahasia.

Aku membayangkan pacar temanku, serangga kecil bersarang di telinganya. Serbuk sari menempel di kaki serangga itu, mereka masuk ke dalam lubang gelap yang hangat di telinganya, mengisap semua sari, menyarangkan telur kecilnya di dalam otaknya. Tapi, kamu tak bisa melihat mereka, atau bahkan hanya mendengar suara sayapnya.

“Cukup-cukup,” kata sepupuku.

Dia berbalik menghadapku, bergeser di sekitar bangku. “Jadi, lihat sesuatu yang tak biasa?”

“Tidak ada yang berbeda sejauh yang aku lihat. Dari luar setidaknya.”

“Apakah menurutmu telingaku baik-baik saja?”

“Telingamu terlihat normal bagiku.”

Sepupuku terlihat kecewa. Mungkin kata-kataku salah.

“Pemeriksaannya sakit?”

“Tidak, tidak sakit. Sama seperti biasanya. Mereka hanya mengecek di tempat yang sama. Rasanya seperti mereka akan kelelahan. Kadang-kadang tidak terasa seperti telingaku sendiri.”

***

“Itu bis nomor dua puluh delapan,” sahut sepupuku, sambil menengok ke arahku. “Itu bis kita kan?”

Aku baru saja kehilangan diriku. Melamun. Aku mendongak ketika dia berkata dan melihat bis pelan-pelan melintasi tikungan di lereng gunung. Itu bukanlah bis model baru yang kami tumpangi tadi, tapi salah satu bis model lama yang kuingat. Tanda nomor 28 tergantung di depan bis. Aku mencoba berdiri dari bangku, tapi aku tidak bisa. Seperti terjebak di tengah-tengah arus kuat, kakiku tak bisa digerakkan.

Aku teringat dengan boks cokelat yang kami bawa ketika kami pergi ke rumah sakit. Siang hari, pada musim panas yang lampau, sangat lampau. Perempuan itu senang sekali ketika membuka tutup boks cokelat dan menemukan puluhan cokelat telah meleleh, menempel pada kertas yang memisahkan masing-masing cokelat dan juga tutupnya. Saat kami berangkat ke rumah sakit, aku dan temanku memarkirkan motor di tepi pantai dan berbaring di pantai hanya untuk berbincang-bincang dan istirahat sebentar. Ya, saat itulah kami membiarkan boks cokelat itu meleleh karena panasnya matahari bulan Agustus. Kecerobohan dan keegoisan kamilah yang merusak isi cokelat dan menyebabkan kekacauan. Kami seharusnya menyadari apa yang terjadi. Salah satu dari kami—tidak penting siapa—seharusnya mengatakan sesuatu. Namun, sore itu, kami tidak menyadari apa pun, hanya bertukar lawakan dan mengucapkan selamat tinggal. Dan juga meninggalkan bukit yang masih ditumbuhi pohon dedalu buta.

Sepukuku menarik tangan kananku dengan erat-erat.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.

Kata-katanya membawaku kembali ke dunia nyata. Aku pun berdiri dari bangku. Sekarang, tidak ada yang menahanku lagi. Sekali lagi aku merasakan angin bulan Mei berembus di kulitku. Beberapa detik, aku berdiri di tempat asing, tempat yang redup. Yang terlihat justru tak bisa kulihat. Yang kasatmata justru terlihat jelas. Ya, akhirnya, nomor 28 sesungguhnya berhenti di depanku, pintu masuk belakang terbuka. Aku susah payah naik ke dalam bis dan mencari tempat kosong lain.

Aku menyandarkan tanganku di bahu sepupuku. Menghela napas. “Aku baik-baik saja,” kataku.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here