Ferdinand Wiggers
dibaca normal 9 menit

“Biarlah engkau djadiken apa jang akoe tjoba diriken; engkau anak dari pada doewa bangsa, biarlah engkau perhoeboengkan kedoewa bangsa itoe. — Ferdinand Wiggers, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, (Toer, 1982: 87).

PADA 1898, Ferdinand Wiggers, melalui tokoh Soerapati, mengujarkan kata-kata yang penuh pengharapan terhadap kaum Indo atau peranakan Eropa sebagai penghubung dua bangsa di bumi kolonial. Ferdinand Wiggers merupakan seorang peranakan Eropa.

Hampir satu abad setelah Ferdinand Wiggers menuliskan itu, Pramoedya Ananta Toer, dalam roman Anak Semua Bangsa (1980), melakukan wawancara imajiner antara pribumi (Minke) dengan orang peranakan Eropa (Tuan Kommer) tentang pemakaian bahasa Melayu dalam penulisan pers di kalangan peranakan Eropa.

Meskipun peranakan Eropa tersebut bukanlah Ferdinand Wiggers, wawancara imajiner tersebut setidaknya mengilustrasikan alasan pemilihan bahasa Melayu Rendah sebagai media penyampai gagasan bagi kalangan peranakan Eropa pada penghujung abad ke-19. Bagi mereka, “Melayu dimengerti dan dibaca di setiap kota besar dan kecil di seluruh Hindia. Belanda tidak.” (Toer, 1980: 103).

Itulah sebabnya penulisan pers yang dikuasai oleh kaum peranakan Eropa maupun sastra pada akhir abad ke-19 menggunakan bahasa Melayu terutama Melayu Rendah. Pada masa itu pula, Ferdinand Wiggers juga merupakan salah satu bagian dari lingkaran intelektual di Hindia Belanda yang giat memproduksi tulisan dalam bahasa Melayu Rendah.

Tidak banyak catatan tentang Ferdinand Wiggers. Catatan yang serba-sedikit itu pun kini mulai hilang dalam peta kesejarahan sastra Indonesia. Apalagi, pola historiografi kesusastraan Indonesia masih terpengaruh wacana kolonial dengan menempatkan Balai Pustaka sebagai titik tolak kesusastraan modern Indonesia. Catatan yang cukup lengkap tentang Ferdinand Wiggers pernah ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer (1982), Ahmat Adam (1995), dan Jakob Sumardjo (2004).

Ferdinand Wiggers lahir dari keluarga yang cukup terpelajar. Ia lahir dari keluarga besar Wiggers pada 9 September 1862 dan menutup usia pada usia 50 tahun secara tiba-tiba. Kabar kematiannya diumumkan di berbagai surat kabar. Salah satunya De Preanger-Bode edisi 22 September 1912 yang mengabarkan bahwa redaktur Taman Sari, F. Wiggers meninggal pada 21 September 1912 lantaran penyakit kolera.

Pada pertengahan abad ke-19, ada dua Wiggers yang cukup dihormati. Pertama adalah Ernst Frederik Wiggers (1839-1895) yang tak lain adalah ayah Ferdinand Wiggers. Kedua, Herman Dirk Wiggers (1841-1917), adik kandung E.F. Wiggers dan paman Ferdinand Wiggers, yang pernah menjadi juru tulis pengadilan, sekretaris residen Timor, hingga controleur kelas 1.

Keduanya punya peran masing-masing. E.F. Wiggers menghabiskan separuh masa hidupnya di dunia jurnalistik. Sementara, H.D. Wiggers memilih jalur sebagai pegawai pemerintahan sampai saat pensiun ia begitu dihormati warga Timor. Ferdinand Wiggers sendiri, uniknya, merupakan kombinasi antara keduanya: bekerja di pemerintahan lalu banting setir ke dunia tulis-menulis.

E.F. Wiggers, dalam dunia pers, dikenal sebagai salah satu pendiri dua surat kabar berbahasa Melayu, Bintang Barat (1868) dan Bintang Betawi (1893). Bersama J. Kieffer yang merupakan seorang pensiunan pegawai pemerintahan, E.F. Wiggers mendirikan Bintang Barat pada 1868.

Kala itu, surat kabar berbahasa Melayu masih bisa dihitung jari. Di Batavia periode 1860-an, selain Bintang Barat, ada surat kabar misionaris Biangla-La dan Mataharie yang bersifat komersial. Sementara, penguasa surat kabar periode itu adalah Selompret Melajoe (Semarang) dan Bintang Timor (Surabaya).

Kiprah E.F. Wiggers di dunia pers tak bisa dianggap remeh. Ia kerap mengkritik pemerintahan sampai-sampai harus menghadapi pengadilan. Di Bintang Barat ia juga kerap menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Melayu. Misalnya saja, Barang Rahasia dari Astana Konstatinopel, Hikajat 1001 malam ja-itoe tjeritera-tjeritera Arab, dan Lawah-Lawah Merah yang diterjemahkan bersama Lie Kim Hok, tokoh penting Sastra Melayu Tionghoa.

Bukan itu saja, E.F. Wiggers juga aktif menulis ulasan soal pertunjukan teater dari grup Komedie Stamboel milik A. Mahieu. Ia ikut memberikan ruang bagi pengarang Indo dan peranakan Tionghoa untuk menampilkan karya di Bintang Barat. Salah satu karya besar yang dimuat di Bintang Barat adalah roman Njai Dasima karangan Gijsbert Francis. Njai Dasima, sebelum terbit menjadi buku pada 1896, dimuat secara bersambung di Bintang Barat. Di zamannya, Njai Dasima menuai kesuksesan besar.

De Locomotief, koran berbahasa Belanda yang terbit di Semarang, bahkan mengapresiasi kiprah Wiggers senior selama 25 tahun di jurnalistik. Di edisi 30 Desember 1893, De Locomotief menyebut E.F. Wiggers sebagai redaktur berbahasa Melayu yang telah banyak menginspirasi pembaca.

Sebenarnya, pada Oktober 1893, Wiggers senior sempat mendirikan Bintang Betawie bersama J. Kieffer. Sayangnya, karena usia tua dan sakit-sakitan ia tak bisa maksimal dan memilih pensiun. Dua tahun berselang, ia meninggal lantaran rematik akut yang diderita bertahun-tahun.

Hidup di dalam bayang-bayang ayahnya, tidak lantas membuat Ferdinand Wiggers langsung terjun ke dalam dunia pers dan sastra. Ferdinand Wiggers baru terjun ke dunia pers pada 1898 ketika ia tercatat sebagai redaktur di Pembrita Betawi pada 1898. (Adam, 1995: 45). Dikutip dari Soerabaijasch Handelsblad edisi 5 Oktober 1898, Ferdinand diangkat menjadi redaktur Pembrita Betawi menggantikan redaktur sebelumnya, Bois d’Eughien. Ferdinand adalah redaktur ketujuh sepanjang koran tersebut berdiri sejak 1884.

Baca Juga:  Social Media Wellness: Berbahayakah Media Sosial bagi Perkembangan Anak?

Pegawai Negeri dan Tuduhan Korupsi

Sebelum menjadi wartawan dan penulis, Ferdinand Wiggers bekerja sebagai controleur pangreh praja Hindia Belanda (Toer, 1982: 30). Ferdinand yang merupakan lulusan sekolah Gymnasium Willem III ini mempunyai karier yang cepat di pemerintahan. Ia tak butuh lama untuk bisa menduduki jabatan controleur kelas 1. Hanya butuh 8 tahun, sementara pamannya, H.D. Wiggers, butuh waktu 28 tahun untuk menduduki jabatan yang sama.

Wiggers mulai bekerja di pemerintahan kolonial pada 1884. Saat itu, ia lulus ujian masuk ambtenaar atau pegawai negeri sipil pemerintahan kolonial. Ia mula-mula ditugaskan di Kediri, kemudian dipindah ke Pare, Sulawesi Selatan pada 1886. Setahun kemudian, menurut laporan surat kabar De Locomotief, pangkatnya dinaikkan menjadi Aspirant Controleur. Wiggers menggantikan Martens yang pulang ke Eropa lantaran sakit.

Wiggers juga sempat menjadi anggota terhormat di salah satu sekolah di Bantaeng, Sulawesi Selatan, per tanggal 3 Februari 1888. Posisi ini dilepas Wiggers lima bulan kemudian, atau Juli 1888, lantaran ia mendapatkan tugas di daerah lain.

November 1888, jabatan Wiggers di aparatur sipil kolonial kembali naik. Ia dipromosikan menjadi controleur kelas 2. Ia rencananya akan dipindahtugaskan ke Lampung, Sumatera, dan mulai bekerja di sana pada 1 Desember 1888 (De Locomotief). Namun, perpindahan ini urung terjadi, Wiggers masih dibutuhkan di Sulawesi dengan jabatan controleur kelas 2.

Hampir 5 tahun ia menjadi controleur kelas 2 di Pulau Saleier (Selayar), dari 1888 hingga 1893, ia kemudian ditugaskan di Pulau Segeri, Pangkajene, masih di Sulawesi. Di Segeri ini, berdasarkan laporan De Locomotief, Wiggers menjadi anggota biasa Bataviaasch Genootshchap van Kunsten en Wetenschappen atau organisasi seni dan ilmu pengetahuan di Batavia.

Wiggers sempat hendak dipindahkan ke Manado. Namun lagi-lagi, ia harus menetap di Pulau Segeri Pangkajene lebih lama. Per Juni 1894, pangkatnya dinaikkan menjadi controleur kelas 1 di Segeri, Pangkajene.

Akhir 1894, peruntungannya di dunia ambtenaar pudar. Ia dituduh melakukan malaadministrasi yang merugikan pemerintahan saat menjadi controleur kelas I di Segari, Pangkajene. Ia dipecat secara tak hormat oleh pemerintahan kolonial dan kembali ke Batavia bersama keluarganya. Meski begitu, ia tidak tinggal diam. Ferdinand mengajukan perlawanan atas kasusnya itu.

Kasus Ferdinand ini pun menjadi perhatian publik. Koran berbahasa Belanda di Hindia melaporkan perjalanan kasus yang dimulai 1894 hingga 1897 ini. Mulai dari Java Bode, De Locomotief, Soerabaijasch Handelsblad, dan Bataviaasch Nieuwsblad merangkum perjalanan tersebut.

Bataviaasch Niewsblad edisi 25 Januari 1895 menulis, sosok F. Wiggers sebenarnya merupakan seorang ambtenaar yang cakap di pekerjaannya. Bahkan, Gubernur Celebes yang sangat tegas dan tanpa kompromi memuji kinerja Ferdinand saat menjadi bawahannya. Namun, kesalahan besar Wiggers sepertinya membuat para atasannya mengambil langkah pemecatan tak terhormat untuk Ferdinand. Ia dituduh melakukan pemalsuan dokumen terkait pelelangan saat bekerja di Saleier.

Berita tersebut ditulis selepas laporan pemecatan tanpa hormat terhadap Ferdinand Wiggers menyeruak akhir 1894. Wiggers pun melakukan perlawanan terhadap kasus yang menimpanya. De Locomotief edisi 12 Maret 1895 melaporkan, Wiggers mengajukan peninjauan kembali atas kasus pemalsuan dokumen menimpanya itu. Wiggers, seperti dikutip dari Soerabaijasch Handelsblad edisi 18 Maret 1895, menginginkan kebebasan berbicara di depan pengadilan.

De Locomotief edisi 19 Maret 1895 membuat tulisan agak panjang terkait kasus Wiggers. Koran bahasa Belanda yang terbit di Semarang ini menulis, kasus Wiggers bermula saat ia meminjam uang dari pejabat Eropa dan kepala daerah pribumi yang merupakan bawahannya. Wiggers tak bisa melunasi utang-utangnya tersebut.

Lantas, ia membuat catatan fiktif dalam dokumen uang keluar dengan mengatasnamakan orang lain dan tidak memasukkan jumlah tersebut di dalam buku kas. Selain itu, Wiggers juga dituduh menerima gratifikasi f1.500 dari Bupati Ternate. Uang itu pun dikembalikan dengan mencicil. Sayangnya, cicilannya tidak sampai lunas.

Gubernur Jenderal, tulis De Locomotief, memutuskan bahwa pejabat dengan kesalahan seperti itu tidak bisa lagi berada di pemerintahan. Ambtenaar seharusnya mewakili otoritas dan nama baik Gubernemen. Keduanya akan rusak bila pegawai pemerintahan tidak berperilaku baik.

Pasca-pemecatan F. Wiggers, banyak fakta kemudian terungkap. Misalkan saja soal dokumen-dokumen kapal hingga penguasaan tanah. Ia sebenarnya tahu dan mencoba mencicil utangnya. Itulah yang menyebabkan gaji Wiggers banyak dipotong untuk membayar utang-utang.

Baca Juga:  Jalan Spiritual lewat Sikap Bodo Amat

“Setelah penyelidikan akurat dan diperoleh bukti yang cukup, tindakan hukum terhadap Wiggers pun dilakukan,” tulis De Locomotief. “Setelah penjelasan ini pula, klaim bahwa pemerintahan terlalu keras terhadap Wiggers terbantahkan.”

Wiggers harus bolak-balik Batavia-Makassar untuk menjalani persidangan. Selain tuduhan korupsi, Wiggers juga harus menghadapi kasus malaadministrasi.

Pada 23 Oktober 1895, pengadilan Makassar memutuskan kasus Wiggers soal malaadministrasi. Wiggers dianggap lalai lantaran salah administrasi. Dalam prosedur, seharusnya peristiwa tertentu dicatat paling lama 3 hari setelah kejadian. Namun, ia malah mencatat 13 hari setelah peristiwa. Meski demikian, dalam persidangan, Wiggers dianggap tidak melakukan tindakan pidana. Biaya pengadilan pun dibebankan kepada pemerintah kolonial.

Pada 29 Maret, jaksa melakukan banding. Lagi-lagi pengadilan memenangkan Wiggers. Pada 30 Oktober 1896, Mahkamah Agung Pemerintahan Kolonial memutuskan Wiggers bersalah dan menggugurkan putusan hukum sebelumnya. Meski demikian, Wiggers tidak dihukum, hanya diminta membayar biaya pengadilan.

Sementara itu, untuk kasus korupsi, Jaksa Penuntut Umum menuntut Wiggers hukuman 2 tahun. Sidang tuntutan ini berlangsung pada 16 Februari 1897 (De Locomotief, 16 Feb 1897). Seminggu berselang, pengadilan memutuskan bahwa Wiggers bersalah atas kasus korupsi di Salaier. Hukuman yang dijatuhkan untuk Wiggers adalah satu tahun penjara dan denda f50 yang dibayar sembilan kali. (Java Bode, 23 Februari 1897).

Upaya banding yang dilakukan Wiggers justru memperberat hukumannya. Pengadilan yang lebih tinggi memutuskan Wiggers bersalah dan menambah hukuman dari setahun penjara menjadi 1,5 tahun penjara. Denda pun diperberat, dari f50 dibayar 9 kali, menjadi f50 dibayar 11 kali. (Algemeen Handelsblad, 29 Juni 1897).

Putusan tersebut mengakhiri proses hukum Wiggers atas kasusnya dan juga karier di dunia pemerintahan. Selepas menghabiskan masa hukuman, Wiggers tergerak untuk menerjemahkan aturan-aturan hukum pemerintah kolonial ke dalam bahasa Melayu. Total sekitar 15 buku lebih tentang administrasi, hukum dan perundang-undangan di Hindia Belanda sudah ia tulis. Umumnya berkaitan dengan hukum dagang, hukum pidana, dan hukum bagi para bupati.

Lembaran Baru di Dunia Pers

Masa hukuman mengajarkan banyak hal bagi F. Wiggers. Ia akhirnya terjun ke dunia pers selepas menghabiskan masa tahanan. Lewat pers, ia bisa mengkritik pemerintahan serta memberi pengetahuan tentang hukum bagi masyarakat Hindia Belanda.

Wiggers bergabung di koran Pembrita Betawi, salah satu koran Melayu penting di Batavia pada penghujung abad ke-19. Dikutip dari Soerabaijasch Handelsblad edisi 5 Oktober 1898, Ferdinand menjadi redaktur Pembrita Betawi menggantikan redaktur sebelumnya, Bois d’Eughien.

Menurut catatan Henk Maier (2004), Wiggers terjun pertama kali di dunia pers pada 1897. Saat itu, ia bekerja di surat kabar Warna Sari—surat kabar berbahasa Jawa. Di sana, masih menurut Maier, Wiggers bekerja sama dengan Tirto Adhi Soeryo. Tirto kemudian diajak oleh Wiggers untuk bergabung ke Pembrita Betawi pada 1902 saat ia menjadi redakturnya.

Pada tahun yang sama pula, 1898, menurut catatan Ahmat Adam (2003), ia juga tercatat sebagai editor Hoekoem Hindia yang pada 1903 berganti nama menjadi Taman Sari. Pada 1901, Ferdinand Wiggers mengundurkan diri dari Pembrita Betawi. Setelah keluar, ia bekerja sebagai editor di Warna Sari, Bendera Wolanda, dan Pengadilan (Adam, 1995: 45).

Wiggers juga menjadi redaktur di surat kabar militer Soerat Chabar Soldadoe pada 1900 (De Locomotief, 23 April 1900). Di koran tersebut, Wiggers berkolaborasi dengan J.E. Tehupoery. Koran tersebut akhirnya dimerger dengan Pewarta Wolanda menjadi Bendera Wolanda pada 1901 dengan redakturnya tetap diisi F. Wiggers.

Hanya empat tahun di dunia pers Melayu, nama F. Wiggers langsung dianggap sebagai sosok yang cakap untuk memimpin organisasi kaum Indo. Dari laporan Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 26 April 1902, Wiggers memberanikan diri maju di pemilihan ketua organisasi Indo di Hindia Belanda, Indische Bond yang merupakan cikal bakal Indische Partij.

Dalam pemilihan, F. Wiggers mengantongi 26 suara. Ia kalah dari Van Sorgen yang mendapatkan 34 suara, Brussel Asse 32, Loth 29, Ritter 27. Wiggers unggul dari Rogensburg yang mendapatkan 22 suara, Andiesse 17, Dobbier 18, dan Samson 15. (Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 28 April 1902).

Ketokohan Ferdinand Wiggers di dunia pers juga makin kuat. Ia merupakan salah satu penggagas organisasi pers pertama, Malaische Journalisten Bond, di Hindia Belanda. Malaische Journalisten Bond sendiri didirikan pada 6 Januari 1906 sebagai perlawanan atas sensor terhadap pers.

Di dalam organisasi tersebut, bukan hanya jurnalis saja yang turut serta melainkan perusahaan percetakan dan penerbitan juga. Orang-orang yang terlibat di dalam organisasi tersebut adalah Clockener Brousson sebagai ketua, Ferdinand Wiggers sebagai wakil ketua, F.D.J. Pangemanann (pengarang Tjerita Rossina) sebagai sekretaris, dan Phoa Tjoen Hoat sebagai bendahara (Toer, 1982: 30; Sumardjo, 2004: 100).

Baca Juga:  Joker atawa Kembalinya DC ke Jagat Kelam

Selepas Brousson pensiun dari dunia pers, Wiggers naik menjadi ketua organisasi pers berbahasa Melayu tersebut. Pemilihan ketua ini dilangsungkan pada 16 April 1906 di Bandung (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 17 April 1906). Sementara itu, wakilnya adalah J. Hendriks, redaktur Pembrita Betawi; sekjen FDJ. Pangemanann, redaktur Kabar Perniagaan; serta komisioner P. Salomonz (redaktur Bintang Batavia) dan Phoa Tjoen Hoat (redaktur Sinar Betawi). Wiggers sendiri dalam acara tersebut tidak bisa hadir lantaran sakit.

Dekat dengan Pribumi dan Tionghoa

Salah satu yang menarik dalam kehidupan Ferdinand Wiggers adalah kedekatannya dengan kaum peranakan Tionghoa dan pribumi. Pada konteks abad ke-19 hingga awal abad ke-20, kehidupan kota-kota besar seperti Batavia cenderung rasial. Pengelompokan status sosial pada waktu itu berdasarkan pada ras atau warna kulit yaitu kaum Eropa, Timur Jauh (Arab, Cina, India) dan Pribumi (Maier, 1993: 39). Pengelompokan tersebut diatur dalam peraturan kolonial yang disahkan pada tanggal 31 Desember 1906.

Akan tetapi, jauh sebelum peraturan tersebut disahkan, kehidupan di Hindia Belanda memang cenderung rasial. Kaum Indo-Eropa (Eurasians) pada abad ke-19 membentuk kebudayaan mereka sendiri yaitu kebudayaan Indische. Kebudayaan Indische adalah percampuran kebudayaan antara Eropa dan Indonesia, serta menyisihkan pengaruh kebudayaan Peranakan Tionghoa (Milone, 1967: 408). Kebudayaan tersebut juga sering disebut sebagai kebudayaan Mestizos (van der Kroef, 1955: 449). Bagi kaum totok Belanda, kaum Indo-Eropa dianggap rendah karena mereka telah terpengaruh oleh kebudayaan lokal, sedangkan kaum Indo-Eropa sendiri menganggap lebih tinggi dibandingkan kaum pribumi maupun peranakan Tionghoa.

Ferdinand Wiggers adalah seorang Indo-Eropa yang hidup dalam kebudayaan Indische. Namun, kehidupan keluarga besarnya maupun dirinya cenderung dekat dengan peranakan Tionghoa maupun pribumi. Bukti kedekatan keluarga Wiggers dengan peranakan Tionghoa adalah kerja sama E.F. Wiggers dengan Lie Kim Hok dalam menerjemahkan karya asing. Ferdinand Wiggers pun masih menjalin hubungan baik dengan Lie Kim Hok dengan beberapa kali mengerjakan penerjemahan karya asing ke dalam bahasa Melayu, mengikuti jejak ayahnya.

Selain itu, Ferdinand Wiggers juga ikut membantu kaum peranakan Tionghoa yang pada waktu akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 terdesak pada arus Eropa. Ketika Ferdinand Wiggers memimpin surat kabar Pembrita Betawi (1898-1901), ia memberikan ruang bagi kaum peranakan Tionghoa untuk berpendapat. Kebijaksanaan tersebut juga mengakibatkan dirinya bentrok dengan J. Kieffer, pimpinan Bintang Betawi sekaligus teman ayahnya, dan mengakibatkan ia meninggalkan posisi sebagai pimpinan redaksi Pembrita Betawi (Toer, 1982: 31).

Keberpihakan Ferdinand Wiggers dengan kaum peranakan Tionghoa kembali ditunjukkan di surat kabar Taman Sari yang ia pimpin. Ia kembali memberikan ruang bagi peranakan Tionghoa, terutama Tiong Hoa Hwe Koan—organisasi kaum peranakan Tionghoa yang didirikan pada 1900 di Batavia dengan tujuan menyediakan sekolah bagi kaum peranakan Tionghoa. Di Taman Sari, Wiggers memberikan ruang bagi T.H.H.K. untuk mengabarkan kegiatan terbaru organisasi tersebut.

Sementara itu, kedekatan Ferdinand Wiggers dengan pribumi ditunjukkan melalui karyanya. Pilihan Ferdinand Wiggers dalam menerjemahkan Van Slaaf tot Vorst ke dalam bahasa Melayu, menurut Pramoedya Ananta Toer (1982) dan Doris Jedamski (2010), menunjukkan kecenderungannya dalam memihak kepada pribumi. Karya Ferdinand Wiggers lain yang menyorot keluarga pribumi tanpa kehadiran sosok tokoh Eropa adalah karya drama Lelakon Drama Raden Bei Soerio Retno.

Tjerita Njai Isah (1903) juga menunjukkan simpati Wiggers terhadap kelompok perempuan pribumi yang menjadi nyai—gundik orang Eropa. Dalam roman tersebut, Wiggers mengangkat harkat seorang nyai, dari seorang yang dianggap buruk menjadi perempuan pribumi yang kuat dan punya pendirian.

Bersambung di bagian 2: Ferdinand Wiggers; Pengarang Legendaris yang Hilang dari Sejarah Sastra Indonesia

Tulisan ini berutang banyak dari data keluarga besar Wiggers yang disusun oleh Eric Wiggers. 

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here