Penulis vs Penerbit: Siapa yang Harus Mengalah?
(Sumber Foto: pixabay)
dibaca normal 2 menit

Katakanlah Anda suka menulis. Anda yakin tulisan Anda akan laku di pasar, lalu berniat menerbitkannya. Anda sudah berkali-kali mempercantik bahasa di dalamnya, memoles kontennya sedemikian rupa, membacanya berulang-ulang, sebelum akhirnya mengirimnya ke penerbit. Anda yakin tulisan Anda tak perlu perbaikan sebab Anda yakin Anda adalah penulis nan mahir. Setelah naskah tersebut sampai ke penerbit dan berhasil diterima, tiba-tiba Anda merasa kecewa karena naskah Anda harus dirombak habis-habisan. Lho, bagaimana, sih? Katanya diterima? Tapi, kok malah dirombak?

Tenang, kekecewaan Anda masuk akal. Siapa pula yang tidak kecewa saat naskah yang sudah susah payah Anda buat—dan Anda yakini sebagai mahakarya—harus dirombak habis-habisan. Belum lagi kalau ternyata Anda diminta untuk menambah konten, yang mau tak mau membuat Anda menulis lagi. Padahal, Anda sudah meluangkan waktu berbulan-bulan untuk merampungkan naskah Anda. Barangkali Anda ingin marah atau malah kehilangan semangat.

Namun, Anda harus mulai realistis. Ketika Anda memutuskan untuk membukukan tulisan Anda melalui penerbit (terutama penerbit mayor), Anda berarti bekerja dengan beberapa pihak. Artinya, proyek ini bukan hanya milik Anda saja. Di sinilah, kemampuan Anda bernegosiasi dengan editor—selaku jembatan antara Anda dan penerbit—amat dibutuhkan.

“Sebagai penulis, Anda memiliki keinginan-keinginan yang tentu harus didengar oleh pihak penerbit. Akan tetapi, tak selamanya keinginan Anda sejalan dengan kebutuhan penerbit.”

Sebagai penulis, Anda memiliki keinginan-keinginan yang tentu harus didengar oleh pihak penerbit. Akan tetapi, tak selamanya keinginan Anda sejalan dengan kebutuhan penerbit. Bisa jadi, keinginan Anda bertabrakan dengan nilai-nilai, aturan, atau bahkan gaya selingkung yang digunakan di sana. Kalau sudah begini, lalu bagaimana?

Sebetulnya, hal demikian lumrah terjadi dalam penerbitan sebuah buku dan proyek kerja sama lainnya. Asalkan negosiasi berjalan lancar dan mencapai titik temu, tak ada yang perlu Anda khawatirkan. Maka, di sinilah peran editor dibutuhkan. Editor berperan sebagai perantara yang harus bersedia mendengarkan keinginan-keinginan penulis dan penerbit. Pada beberapa kasus, editor pun harus bisa bernegosiasi dengan ilustrator dan desainer, yang kadang kala memiliki keinginan yang berbeda pula. Artinya, selain menyunting naskah dan memberi masukan supaya tulisan Anda berpotensi laku di pasar, editor harus menjadi “diplomat” yang—bersama dengan penulis, penerbit, dan pihak-pihak terkait—mencari titik temu yang bisa disepakati semua pihak.

Baca Juga:  Soal ‘Rasa’ di Buku Cetak yang Tak Pernah Ada di Buku Digital

Selaku penulis, Anda membutuhkan penerbit agar naskah Anda bisa dipublikasikan. Jika buku Anda jadi terbit, Anda akan memperoleh dua keuntungan, yaitu keuntungan material (dari hasil beli putus atau royalti) juga keuntungan sosial (Anda akan makin populer dan punya portepel). Sementara itu, tanpa penulis, penerbit pun tak bisa menerbitkan buku. Dalam penerbitan, keduanya merupakan pihak yang saling membutuhkan dan tak bisa berdiri sendiri. Jadi, sudah semestinya editor berkenan mendengar kebutuhan dan keinginan keduanya.

Seperti perusahaan pada umumnya, suatu penerbit memiliki kebutuhan, idealisme, dan nilai-nilai yang sangat mungkin berbeda dengan penerbit lainnya. Bisa jadi, di penerbit A, Anda dituntut agar membuat konten yang bisa laku (bahkan jadi best seller) di pasar mayor, sementara di penerbit B, Anda diminta agar menulis buku untuk pasar yang lebih tersegmentasi. Maka dari itu, Anda pun harus bisa fleksibel; menghargai nilai-nilai tersebut dan tidak terburu-buru kecewa jika Anda dituntut ini dan itu. Namun, seandainya idealisme Anda benar-benar bertentangan dengan nilai-nilai di penerbit mayor, Anda bisa mencoba jalan lain, seperti self-publishing atau menerbitkan naskah Anda di penerbit indie.

Jadi, selain menyiapkan naskah, sudahkah Anda menyiapkan mental agar bisa menjadi penulis andal? Jika belum, segeralah siapkan diri Anda—hitung-hitung, melatih diri agar nanti siap menerima kritik dari pembaca.

Tetap semangat menulis dan jangan berhenti mencoba, ya. Sebab, semesta menyukai orang-orang yang keras kepala dalam mengejar mimpi. Semoga beruntung!

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here