Pemilu, Chinua Achebe
(Gambar: Curt Merlo | The Nation)
dibaca normal 7 menit

Rufus Okeke—atau kerap disapa Roof—sangat populer di desanya. Meski penduduk desa tidak menjelaskan secara rinci, popularitas Roof ini ternyata berkat sikapnya yang energik sebagai pemuda dan ia tidak seperti pemuda desa lainnya yang memilih merantau mencari pekerjaan apa pun ke kota. Roof bukan pula penduduk desa yang udik. Semua orang tahu ia telah menghabiskan dua tahun sebagai tukang reparasi sepeda di Port Harcourt dan ia juga mengorbankan masa depannya yang cerah demi membimbing penduduk desa di zaman serbasusah ini.

Bukan berarti Desa Umuofia butuh banyak bimbingan. Ya, desa itu sudah dikuasai oleh Partai Aliansi Rakyat (PAP) dan salah satu putra desa, Ketua Parlemen Marcus Ibe, merupakan Menteri Kebudayaan di pemerintahan saat ini (dan tentunya di pemerintahan berikutnya). Tidak ada yang meragukan bahwa Menteri Terhormat itu bakal dipilih kembali di desanya. Penentangnya bisa diibaratkan dengan peribahasa “lalat yang ingin memindahkan kotoran”. Akan aneh bila penantangnya, seperti saat ini, tidak berasal dari sosok yang tidak jelas juntrungannya.

Roof bekerja untuk Ketua Parlemen di pemilu berikutnya. Roof kini menjadi seorang yang benar-benar ahli dalam urusan kampanye pemilu di semua tingkatan—desa, pemerintah daerah, maupun skala nasional. Ia juga bisa membaca suasana hati dan emosi pemilih di waktu-waktu tertentu. Misalnya saja, ia sudah memperingatkan beberapa bulan yang lalu bahwa ada perubahan drastis di penduduk Umuofia sejak pemilu terakhir.

Penduduk desa punya waktu lima tahun untuk menilai seberapa cepat dan besar politik memberikan kekayaan, gelar kehormatan, gelar doktor, dan gelar kehormatan lainnya. Seperti pemilu terakhir, mereka harus dijelaskan sesederhana mungkin untuk diyakinkan. Sebab dalam pemikiran lugu penduduk desa, politik diharapkan menghasilkan seorang dokter yang bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Bagaimanapun juga, gelar kehormatan dan kekayaan datang begitu cepat kepada orang yang mereka berikan suara secara cuma-cuma lima tahun lalu. Kini mereka siap mencoba cara lain dalam memberikan suara.

Intinya, mereka melihat bahwa dulu Marcus Ibe bukanlah seorang guru misionaris yang sukses. Lalu, politik datang ke desanya dan dia memutuskan bergabung. Beberapa penduduk desa bahkan bilang langkah itu untuk menghindari pemecatan karena ia menghamili guru perempuan.

Sekarang, Marcus adalah Ketua Parlemen, punya dua mobil mewah, dan baru saja membangun rumah paling besar di desanya. Tapi, semua gosip sumber kesuksesan itu tidak pernah ada di benak Marcus, seperti pikiran penduduk desa. Marcus tetap mengabdikan diri untuk penduduk desa. Kapan pun juga, ia bisa meninggalkan kenyamanan ibu kota dan kembali ke desanya yang tidak memiliki air dan listrik, meski belakangan ia membangun pembangkit listrik pribadi untuk menyuplai listrik di rumah barunya.

Marcus tahu sumber kekayaannya, tidak seperti burung-burung kecil yang makan dan minum hanya untuk bertahan hidup. Marcus mengadakan selametan di rumah barunya “Umuofia Mansions” untuk memuliakan desanya dan ia juga telah memotong lima kerbau jantan dan kambing yang tak terhitung banyaknya untuk menghibur penduduk desa. Selametan itu sendiri dibuka oleh Uskup Agung.

Semua orang memuji dirinya. Seorang lelaki tua mengatakan, “Putra kita adalah pria yang baik; ia tidak seperti martir yang segera memunggungi tanah setelah makanan datang.” Namun, selepas pesta selesai, para penduduk desa bergunjing bahwa mereka sudah meremehkan kekuatan kertas suara di pemilu sebelumnya dan hal itu tidak boleh terulang lagi.

Ketua Parlemen Marcus Ibe bukan tanpa persiapan. Ia sudah mengambil gaji selama lima bulan di muka dan menukarkan ratusan pounds menjadi berkeping-keping uang shilling (mata uang koin yang setara 100 sen). Ia juga membekali relawan tim kampanye dengan tas goni dan materi kampanye. Di hari Marcus berpidato, pendukungnya akan mulai kampanye dari mulut ke mulut. Roof merupakan sosok yang paling dipercaya soal kampanye ini.

Baca Juga:  Detik-Detik Kebahagiaan - Rumi

“Kita punya seorang menteri dari desa kita, salah satu dari putra kita,” katanya kepada para tetua di rumah Ogbuefi Ezenwa, pria dengan gelar tradisional tinggi. “Kehormatan besar apa lagi yang bakal dimiliki desa? Pernahkan Anda berhenti menanyakan kenapa kita harus punya kehormatan ini? Aku akan beritahu. Itu semua karena kita dimuliakan oleh pemimpin Partai Aliansi Rakyat. Meski kita memilih atau tidak memilih Marcus, PAP akan terus berkuasa. Pikirkan air bersih yang telah mereka janjikan kepada kita…”

Sebelah Roof dan asistennya, ada lima kamitua di dalam ruangan itu. Satu lampu badai yang retak dan kehitam-hitaman memantulkan cahaya kuning di tengah-tengah mereka. Para kamitua duduk di bangku yang sangat rendah. Di lantai, di hadapan masing-masing kamitua terdapat dua keping shilling. Di balik pintu yang tertutup rapat, bulan tetap saja datar.

“Kami percaya, setiap kata-katamu itu benar,” kata Ezenwa. “Kita harus, setiap dari kita, memberikan suara untuk Marcus. Siapa yang mau meninggalkan pesta ozo (upacara keagamaan) dan pergi ke pesta makanan yang lebih buruk? Katakan ke Marcus, dia akan dapat suara kami, dan suara istri kami. Tapi, kami hanya ingin bilang, dua koin shilling ini sungguh memalukan.”

Ezenwa mendekatkan lampau badai ke uang koin itu untuk memastikan nilai yang ia sebut tidak salah. “Ya, dua koin shilling ini sungguh memalukan. Jika Marcus orang miskin yang dikutuk nenek moyang kita, aku pasti menjadi orang pertama yang memberikan suara untuknya, seperti pemilu sebelumnya. Tapi sekarang, Marcus sudah jadi orang besar dan berkelakuan seperti bangsawan. Kami tidak meminta uang kemarin; kami tidak minta besok. Tapi, hari ini adalah hari kami. Hari ini, kami sudah memanjat pohon iroko (pohon keramat) dan bakal bodoh bila tidak mengambil semua kayu bakar yang kami butuhkan.”

Roof tak bisa mengelak. Dia juga akhir-akhir ini banyak menurunkan kayu bakarnya. Baru kemarin, dia meminta salah satu dari sekian jubah bagus milik Marcus—dan dia berhasil mendapatkannya. Hari Minggu kemarin, istri Marcus (guru yang hampir membuat Marcus celaka) keberatan (seperti perempuan pada umumnya) saat Roof mengeluarkan botol bir kelima dari kulkas. Saat itu juga, istrinya itu ditegur dengan keras oleh Marcus. Terakhir, Roof baru saja memenangkan kasus sengketa tanah. Salah satu di antaranya lantaran ia tak sengaja diantarkan oleh supir ke lokasi sengketa. Jadi, Roof paham benar maksud kamitua soal kayu bakar.

“Baiklah,” ujar Roof dalam bahasa Inggris dan kembali ke bahasa Ibo. “Sebaiknya kita jangan meributkan hal remeh-temeh.” Dia berdiri, membenarkan jubahnya dan merogoh tas. Lalu, dia membungkuk seperti seorang pendeta yang memberkati jemaah dan memberikan satu koin shilling untuk masing-masing orang. Hanya saja, Roof tidak memberikan koin itu ke tangan mereka, tetapi di lantai di depan mereka. Roof kembali berdiri dan memberikan masing-masing orang satu koin shilling lagi.

“Habis,” kata Roof dengan suara menantang tanpa dibuat-buat. Para kamitua juga tahu harus bersikap tanpa kehilangan harga diri. Jadi, ketika Roof menambahkan dengan “silakan berikan suara Anda ke musuh bila Anda suka!”, mereka cepat-cepat mendinginkan Roof dengan kata-kata sejuk. Saat kamitua terakhir berbicara, mereka—tanpa kehilangan kewibawaan—mengambil koin-koin yang ada di lantai….

Baca Juga:  Daerah Cahaya - Yuko Tsushima

***

Musuh yang dimaksud Roof adalah Partai Organisasi Progresif (POP) yang dibentuk suku-suku di pesisir pantai untuk mempertahankan diri—seperti yang pendiri partai itu proklamasikan—dari “penghancuran total politik, budaya, dan agama”. Meski sudah jelas terlihat partai itu takkan punya kesempatan menang melawan PAP, mereka tetap saja dengan bodoh menyediakan mobil dan pengeras suara ke beberapa penjahat dan bajingan untuk berkampanye dan membuat kebisingan. Tak ada yang tahu dengan pasti berapa banyak uang yang digelontorkan POP di Umuofia, tapi gosipnya sangat besar. Tak diragukan lagi, juru kampanye lokal mereka akan menjadi orang kaya raya.

Ya, hingga kemarin malam semua sudah berjalan sesuai rencana Roof. Lalu, Roof kedatangan tamu asing dari ketua tim kampanye POP. Meski mereka saling mengenal, dan bahkan bisa disebut teman, kunjungan orang itu cukup kaku dan seperti urusan bisnis. Tidak ada kata yang terbuang sia-sia.

Ia lalu meletakkan lima pound di lantai, tepat di depan Roof dan berkata, “Kami ingin suaramu.” Roof pun sontak bangkit dari kursinya, pergi ke pintu, menutup dengan hati-hati, dan kembali ke kursi. Hal tersebut memberinya sedikit waktu untuk menimbang tawaran tamunya.

Saat berbicara, matanya tak berpaling dari kertas merah di lantai. Roof tampak terpesona dengan gambar petani yang sedang memanen cokelat.

“Kau tahu, aku bekerja untuk Marcus,” ujarnya pelan. “Ini bakal jadi preseden buruk sekali..”

“Marcus tak akan ada di bilik suara saat Anda memasukkan kertas. Kami banyak kerjaan malam ini, Anda ambil atau tidak?”

“Tidak akan bocor?”

“Kami mencari suara bukan gosip.”

“Baiklah,” jawab Roof dalam bahasa Inggris.

Tamunya itu menyenggol temannya dan dia mengambil benda yang tertutup kain merah lalu membuka kain itu. Di dalamnya ada sesuatu yang menyeramkan dengan bulu-bulu yang menempel.

Iyi ini dari Mbanta. Anda pasti tahu maksudnya. Bersumpahlah Anda akan memilih Maduka. Jika Anda melanggar, iyi ini akan menagih.”

Roof hampir kehilangan jantung selepas melihat isi Iyi. Ya, Roof memang paham benar kemasyhuran Mbanta soal hal gaib. Tapi, Roof adalah pria yang cepat mengambil keputusan. Apakah satu suara Maduka ini bisa menggagalkan kemenangan Marcus? Tidak.

“Aku akan memberikan suaraku untuk Maduka. Jika melanggar, iyi ini akan membalas.”

“Selesai sudah,” kata laki-laki itu sambil berdiri bersama temannya yang kembali menutup benda itu lagi dan menaruh kembali ke mobil.

“Kau tahu, dia tak punya peluang mengalahkan Marcus,” kata Roof di depan pintu.

“Tidak masalah dia dapat suara sedikit sekarang. Berikutnya, dia akan mendapatkan lebih. Orang-orang bakal tahu dia memberi pound bukan shilling, dan mereka semua akan mendengar.”

***

Hari pemilihan. Hari istimewa tiap lima tahun ketika orang-orang menunjukkan kekuatannya. Poster-poster yang menempel di dinding-dinding rumah, batang pohon, dan tiang telegraf telah termakan cuaca. Beberapa di antaranya masih bisa terbaca. “Pilih Partai Aliansi Rakyat!! Pilih PAP!! Pilih POP!! Poster-poster yang terkoyak sana-sini meneriakkan sebanyak mungkin pesan.

Seperti biasa, Kepala Parlemen Marcus Ibe melakukan segalanya dengan megah. Dia menyewa grup musik Highlife dari Umuru dan ditempatkan sedekat mungkin di dekat bilik suara yang tidak melanggar aturan. Banyak penduduk desa menari diiringi musik sambil mengangkat kertas suara tinggi-tinggi sebelum masuk ke bilik suara. Kepala Parlemen Marcus duduk di mobil besar miliknya dan tersenyum mengangguk. Seorang penduduk desa terpelajar mendekati mobil, menyalami lelaki terhormat itu dan berkata, “Congrats!” Sesegera pula gerakan itu ditirukan pendukung Marcus dan berkata, “Corngrass!”

Roof dan juru kampanye lain mondar-mandir, memengaruhi orang-orang untuk terakhir kali dan menyeka keringat.

Baca Juga:  Duniazat - Salman Rushdie

“Jangan lupa,” katanya kepada serombongan ibu-ibu buta huruf yang tampak antusias dan penuh keceriaan. Lalu, mereka menimpali, “Pilih gambar mobil…”

“Seperti yang sedang diduduki Marcus.”

“Terima kasih, Mama,” balas Roof. “Betul mobil yang sama. Kotak dengan gambar mobil. Jangan kotak dengan gambar kepala. Itu untuk orang dengan kepala miring.”

Kata-kata ini langsung disambut gelak tawa. Roof melirik ke arah Menteri dan menerima senyum penghargaan.

“Pilih gambar mobil,” teriaknya hingga otot lehernya kelihatan.

“Pilih gambar mobil dan kamu akan menaikinya.”

“Atau bila kita tidak, anak-anak kita akan menaikinya,” jawab ibu-ibu dengan tajam.

Grup musik itu menyanyikan lagu baru: “Kenapa berjalan kalau kita bisa naik…”

Meski kelihatan tenang dan percaya diri, Ketua Parlemen Marcus merupakan orang yang perfeksionis terkait detail. Dia tahu bakal menang. Kemenangan ini juga disebut koran-koran sebagai kemenangan telak. Namun, ia tak ingin membuang satu suara pun. Jadi, ketika penduduk desa selesai memberikan suara, dia lantas menyuruh tim kampanyenya memasukkan suara.

“Roof, kau yang pertama,” katanya.

Jantung Roof hampir copot. Namun, ia tak ingin orang-orang melihatnya. Sepanjang pagi, ia telah menutupi kecemasannya dengan teriakan yang tidak seperti biasanya.

Sekarang, ia berlari ke arah bilik suara dengan kaku. Seorang polisi memeriksa Roof agar tidak ada surat suara ilegal masuk. Lalu, petugas TPS menjelaskan dua kotak suara kepadanya. Saat itu, keringatnya sudah kering. Roof masuk ke dalam bilik dan berhadapan dengan kotak bergambar mobil dan kepala.

Ia mengeluarkan kertas suara dari saku dan menatapnya. Bagaimana bisa ia mengkhianati Marcus, meski tidak ketahuan. Ia memutuskan untuk kembali ke pria itu dan mengembalikan uang lima pound…. Lima pound!! Mustahil sekali. Ia sudah bersumpah di hadapan iyi. Kertas berwarna merah; petani cokelat yang sedang sibuk bekerja. Saat itu pula, ia mendengar suara polisi yang bertanya pada petugas TPS. “Abi na pickin im de born?”

Secepat kilat, ia mendapatkan ide di kepalanya. Dia melipat kertas suara dengan sama panjang lalu memotong. Ia masukkan masing-masing setengah kertas suara di kedua kotak. Dia masukkan kertas yang pertama ke kotak Maduka dan bergumam: “Aku telah memilih Maduka.”. Lalu, petugas TPS mencelupkan ibu jarinya ke tinta ungu yang tidak bisa terhapus agar ia tidak kembali memilih. Roof keluar dari bilik suara dengan girang seperti dia masuk.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here