Panggilan Telepon
Gambar oleh Free Photos dari Pixabay
dibaca normal 15 menit

Telepon genggamnya terus berdering. Hardi tidak pernah mengharapkan telepon dari siapa pun sepagi ini. (Sebenarnya tidak tepat bila disebut pagi. Namun, pukul 10 bagi Hardi teramat pagi). Paling banter yang membuat teleponnya terus berteriak adalah alarm. Itu pun kalau dia punya janji harus datang pagi-pagi benar. Tapi, sekarang, dia tidak punya janji dengan siapa pun dan seharusnya ponselnya itu tidak bergetar dan berbunyi terus-menerus.

Hardi menggeser tubuhnya ke arah stop kontak. Dia buru-buru merengkuh ponsel dan melepas kabel pengisi daya. Muka Hardi masih sangat kepayahan. Dia sangat berusaha untuk mengumpulkan sisa kesadaran yang habis dimakan malam.

Jika dari telemarketing, Hardi akan memaki-maki orang di ujung telepon yang menghubunginya, pikirnya dalam hati.

Saat menggeser tombol untuk menerima panggilan, Hardi tak sempat melihat nomor atau nama kontak yang meneleponnya. Dia tak berpikir panjang. Hanya ingin bilang ke orang yang meneleponnya untuk menyudahi perbincangan—yang sebenarnya belum sama sekali dimulai.

Ya, sebab dia paham sekali siapa saja yang bakal meneleponnya. Pertama, telemarketing yang kerap menawari pinjaman mudah dengan bunga selangit. Hardi sudah paham sekali kata pertama dan nada dari si penelepon. Biasanya, dia akan menjawab dengan cepat dalam tiga kata: “Saya tidak butuh.” Lantas dia menekan ikon ganggang telepon berwarna merah di layar ponsel.

Kedua, Pak Wasis, editor yang kerap menekannya dalam menulis. Hardi juga sudah tahu bila Pak Wasis yang menelepon. Meski tak pernah mengeset nada dering tertentu, bunyi telepon dari Pak Wasis sangat bisa dirasakan Hardi. Suara nada dering dari Pak Wasis akan meledak-ledak, tak berjeda, dan seperti mengancam. Kalau dari Pak Wasis, Hardi juga akan bilang pendek-pendek: “Sudah mau beres”, “Sedikit lagi”, dan sebagainya.

Ketiga, bapaknya. Namun, bapaknya tak pernah menelepon pagi-pagi. Hardi juga sudah tahu jadwal bapaknya akan menelepon. Dan pagi seperti ini bukan jadwal bapaknya menelepon.

“Siapa ya?” Hardi mengangkat ponsel dengan nada malas-malasan. Matanya masih belum terbuka. Masih tertutup.

“Ini aku. Masak lupa?” jawab suara di ujung ponsel. Suara perempuan. Hardi tak pernah mendengar dan tak pernah kenal dengan intonasi maupun suara perempuan di ujung sana.

“Kamu pasti penipu yang minta pulsa. Sudahlah, aku enggak mudah ketipu,” jawab Hardi ketus, sambil menengok nomor ponsel yang tertera di layar telepon genggamnya.

Dia hampir saja menutup sambungan telepon itu. Tapi, suara perempuan di ujung sana tiba-tiba berteriak-teriak menahan Hardi. Dengan kesadaran yang belum sempurna benar, Hardi masih bisa paham bila nomor itu sangat asing. Awalan nomor si penelepon gila itu berbeda dengan nomor-nomor yang kerap meneleponnya.

Hardi tak ambil pusing. Dia pun mematikan dan meneruskan tidur yang tertunda. Selang berapa lama, nomor itu terus memanggil. Hardi menolak panggilan itu dan mematikan nada dering ponselnya.

Perempuan yang entah siapa namanya itu tak begitu saja menyerah. Dia terus mengganggu tidur Hardi. Saat diletakkan di meja, getaran ponsel Hardi bahkan terasa lebih keras di telinga Hardi ketimbang saat kali pertama berdering.

“Sudahlah, berhenti bermain-main,” jawab Hardi ketus.

“Aku tidak bermain-main. Kamu Hardi kan?” jawab perempuan itu.

“Kalau iya kenapa, kalau tidak kenapa?”

“Tidak salah, pasti ini Hardi.”

“Sudah ya, aku mau tidur.”

“Tunggu… Jangan ditutup dulu. Lima belas menit saja. Eh, 5 menit saja.”

“Aku belum tidur. Lagi pula, aku tidak mengenalmu. Apa untungnya buat aku? Sudahlah, jangan menelepon lagi.”

“Lima menit saja. Setelah itu aku tidak akan menelepon lagi. Janji,” kata perempuan itu memohon.

“Aku ngantuk.”

“Ini penting dan tidak bisa ditunda.”

“Loh? Kok jadi maksa.”

“Sebentar saja.”

“Kenapa aku? Kenapa enggak orang lain?”

“Ini akan terasa aneh kalau dibicarakan. Tapi, aku yakin kamu bisa menyelamatkanku.”

“Menyelamatkanmu? Aku saja tidak kenal kamu.”

“Sungguh, aku tidak bohong…”

Sebelum perempuan itu merampungkan kalimatnya, Hardi keburu memutus sambungan telepon. Dia tak ingin waktunya terbuang sia-sia lantaran telepon dari perempuan yang tak pernah dia kenal.

Kali ini Hardi mematikan ponselnya. Benar-benar menonaktifkan telepon genggamnya. Dia mencoba untuk kembali tidur. Dia merasa waktu berharganya telah dirampas dengan percuma.

Sialan, bisiknya dalam hati.

Entah kenapa Hardi malah tak bisa tidur. Dia sudah mencoba tidur sedari mematikan telepon. Barangkali, lima menit yang lalu, atau sepuluh menit. Hardi tidak bisa menghitung.

Dia mulai menebak-nebak perempuan di ujung sambungan itu. Dia menebak pula sambungan kalimat yang akan diucapkan perempuan itu.

Siapa dia? Dan kenapa aku yang dia telepon? Menyelamatkan? dia kembali membatin.

Tidak ada jawaban memuaskan. Semakin dia memikirkan, semakin terang kepalanya. Ini artinya waktu yang seharusnya buat tidur jadi benar-benar hilang. Hardi malah makin gelisah saat dia mengulangi kata-kata perempuan itu.

Hanya aku yang bisa menyelamatkannya….?

***

Hampir tengah hari dan Hardi masih belum tidur juga sekalipun matanya sudah sangat berat. Kondisi yang tidak mengenakan. Rasa ngantuk menjerat, tapi isi kepalanya terus berkelana. Suara perempuan di ujung sambungan telepon berjingkat ke sana kemari, berputar-putar di otaknya. Dia tak bisa tidur. Bahkan, sejenak untuk lari dari suara perempuan itu pun tak bisa.

Tiba-tiba Hardi merasa bersalah. Merasa tidak enak hati. Bagaimana bila benar hanya aku yang bisa menolongnya? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan perempuan itu? Bagaimana jika memang yang dia butuhkan hanya 5 menit didengar? Pikiran-pikiran itu makin meneror. Bahkan, menjadi-jadi.

Barangkali cuci muka akan menghilangkan kantuk dan membuat kepalanya lebih jernih, pikirnya lagi.

Di depan kaca wastafel, Hardi menatap lekat-lekat mukanya. Kerutan-kerutan di mukanya makin kelihatan. Kerutan yang lima tahun lalu mungkin tidak ada. Kantong matanya juga makin nyata. Sementara, matanya begitu merah. Hardi tak pernah melihat wajahnya selama itu. Dia juga tak pernah membayangkan wajahnya bisa berubah secepat itu.

Hardi mungkin melewatkan sesuatu. Lima tahun begitu cepat. Rasanya lima tahun yang lalu dia baru saja lulus kuliah, gumamnya. Lima tahun yang akan datang tentu akan sama cepatnya dengan lima tahun yang lalu ke sekarang. Bagaimana bisa aku melupakan kerutan-kerutan ini?

***

Hardi bukanlah seorang laki-laki yang mudah berkenalan dengan perempuan. Apalagi berbicara panjang lebar. Kemungkinan itu sangat kecil sekali.

Dia bukanlah seseorang yang bakal dilirik oleh perempuan. Mukanya sangat pas-pasan. Dibilang jelek juga tidak. Dibilang ganteng pun tidak. Tinggi badannya seperti lelaki kebanyakan di usianya. Potongan rambutnya, ya, seperti orang kebanyakan. Tak punya potongan eksentrik. Sejak SMA hingga sekarang, Hardi tak pernah mengubah potongan rambutnya. Juga cara dia berpakaian. Itulah kenapa keberadaannya selalu tak terlihat.

Jadi, ketika ada perempuan asing yang meneleponnya pagi-pagi benar, itu akan terasa aneh. Tambah aneh lagi bila perempuan itu bilang hanya Hardi-lah yang bisa menolong si perempuan itu.

Seingat Hardi, tak ada perempuan yang benar-benar dia kenal. Atau sebaliknya, tak ada perempuan yang benar-benar mengenal Hardi. Hubungannya dengan perempuan selama ini dia batasi. Ya, hanya sebagai kawan kerja saja atas dasar profesionalitas. Sisanya, dia tak ingin terlibat jauh.

Betul, dia adalah seorang penulis. Namun, pembacanya tak pernah tahu bahwa buku-buku yang mereka baca ditulis Hardi. Sejauh ini, yang mengetahui bahwa Hardi seorang penulis adalah Pak Wasis, sang editor. Hardi selalu menggunakan nama samaran dalam novel-novelnya. Pak Wasis-lah yang mengurus segalanya. Mulai dari menyunting naskah, mencari penerbit, hingga royalti.

Bahkan, bapaknya sendiri tak tahu bila Hardi adalah penulis, lebih tepatnya seorang novelis. Bapaknya cuma tahu Hardi adalah guru bimbel bahasa Indonesia di Jakarta. Bapaknya hanya tahu, dia tinggal di apartemen pinggiran Jakarta, tapi tak pernah mempertanyakan cara Hardi mencukupi kebutuhan sehari-hari plus membayar sewa apartemen. Ya, gaji sebagai guru bimbel takkan mencukupi untuk hidup di Ibu Kota, apalagi untuk menyewa apartemen tipe studio. Itu sangat mustahil.

Jadi, Hardi hanya berkomunikasi dengan perempuan saat dia mengajar di bimbel saja. Karena jadwal mengajarnya paling banter dua kali dalam seminggu, bisa dibilang, Hardi memang tidak pernah berkomunikasi dengan perempuan secara intens.

Baca Juga:  Rute Perjalanan

Lalu, siapa perempuan yang tadi menelepon, gumam Hardi.

***

Saat Hardi memasak mi instan—ini lantaran dia tidak bisa tidur lagi—Hardi memikirkan semua kemungkinan identitas perempuan itu. Mulai dari murid-murid dan guru di bimbelnya, teman sekolah dari SD sampai kuliah, hingga pembaca novel-novelnya.

Hardi mengingat-ingat intonasi dan nada suara di telepon. Dia mencocokkan dengan suara-suara perempuan yang dia pernah dengar.

Dimulai dari murid bimbel. Lantaran dia mengajar bahasa Indonesia—dan ngomong-ngomong, bahasa Indonesia kerap dianggap kurang penting—hanya sedikit murid yang mengambil les itu. Tak ada satu pun murid perempuan di bimbel dengan suara semirip perempuan di telepon. Dia mencoret kemungkinan murid bimbel.

Rekan seguru bimbel? Sepertinya guru bimbel di tempatnya bekerja tidak ada yang punya suara seperti perempuan itu. Dia juga jarang berkomunikasi dengan teman-teman kerjanya. Koordinasi maupun rapat kerap dilakukan lewat grup WhatsApp.

Hardi pun tidak pernah berlama-lama berada di bimbel. Selesai mengajar, dia cuma mampir sebentar ke bagian administrasi untuk menyetor daftar hadir murid-muridnya. Lalu, dia akan cabut kembali ke apartemen—kembali menulis.

Hardi juga mencoret kemungkinan perempuan itu berasal dari pembaca novel-novelnya. Sebab, dia tahu betul, Pak Wasis takkan pernah membocorkan identitas Hardi kepada pembaca maupun penerbit.

Hardi mendapatkan keuntungan dari Pak Wasis. Pun sebaliknya, Pak Wasis beruntung mendapatkan penulis seperti Hardi. Sebagai seorang editor, Pak Wasis sangat keras, kaku, dan juga profesional.

Pak Wasis sangat memperhatikan detail, kesempurnaan, dan kepatutan tenggat. Intuisinya pun sempurna. Dia bisa mengendus penulis mana saja yang bisa menghasilkan uang besar untuknya. Penulis yang tidak mencari ketenaran semata dan yang benar-benar menulis untuk meluapkan “hasrat”.

Di dunia buku, orang-orang lebih mengenal Pak Wasis sebagai agen penulis ketimbang editor. Pak Wasis sudah 20 tahun berkecimpung di dunia buku. Mula-mula dia adalah editor di sebuah penerbit besar di Ibu Kota. Selama 10 tahun dia berpindah-pindah penerbit. Dia kerap kesal dan berbeda haluan dengan para bos-bos penerbit. Itulah alasan dia suka keluar-masuk penerbit.

Sering penerbit hanya mementingkan karya yang sekadar hanya laku dan meledak di pasaran. Ukuran buku bagus bukan dinilai dari kualitas, melainkan omzet. Omzet adalah kunci. Buku jelek dianggap bagus oleh penerbit bila omzetnya oke.

Itu dari urusan penerbit. Nah, ada satu lagi yang bikin kesal Pak Wasis—dan ini selalu disemprotkan ke muka Hardi bila mereka berbincang mengenai novel Hardi. Penulis-penulis di Indonesia kerap merasa jago, arogan, dan menganggap para editor di penerbit hanya tukang dempul tulisan. Modal nama beken, mereka jadi antikritik. Pak Wasis tak ingin bekerja dengan penulis-penulis arogan seperti itu.

Dia pun memutuskan tidak lagi bekerja sebagai editor di penerbit. Dia memilih menjadi agen penulis sekaligus editor lepas. Pak Wasis hanya punya tiga klien penulis yang dia ampu. Salah satunya Hardi.

Lantaran Pak Wasis dan Hardi punya kemiripan satu sama lain, terutama soal etos kerja dan pandangan di dunia perbukuan, keduanya pun betah lama-lama menjalin kerja sama. Pak Wasis butuh penulis yang tak arogan dan manut. Sementara, Hardi membutuhkan editor sekaligus agen yang tak banyak mencampuri urusan pribadinya.

Ketika Hardi ingin merahasiakan identitasnya sebagai penulis, Pak Wasis malah senang. Selama lima tahun bekerja sama, Pak Wasis tak pernah membocorkan identitas Hardi. Pak Wasis betul-betul bisa menjaga rahasia. Urusan royalti maupun honor menulis benar-benar diurus dengan profesional oleh Pak Wasis sebagai agen penulis. Ya, seperti yang dibilang tadi, keduanya bersimbiosis mutualisme—sama-sama saling untung.

Jadi, Hardi berpikir perempuan yang meneleponnya tadi bukan rekan Pak Wasis maupun pembaca buku-bukunya. Sebab, Pak Wasis tak pernah turut campur urusan pribadi Hardi, apalagi membocorkan identitas Hardi. Hardi pun mencoret sosok perempuan penelepon yang berasal dari lingkaran Pak Wasis maupun dunia buku.

***

Setelah dia menyantap mi instan yang lembek karena kebanyakan memikirkan segala kemungkinan, Hardi lantas menyalakan ponselnya. Dia takut terjadi sesuatu dengan perempuan itu. Hardi sebenarnya tak ingin terlibat terlalu jauh. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya harus menyalakan teleponnya. Sekarang, justru Hardi-lah yang ingin berbicara.

Beberapa saat selepas ponselnya menyala, sekejap pula ponselnya dibombardir oleh pesan instan dari Pak Wasis. Sayangnya, tidak ada pesan yang ditinggalkan oleh perempuan itu. Perempuan yang tadi pagi meneleponnya seperti lenyap. Di catatan panggilan hanya tertera waktu perempuan itu menelepon, sementara nomor teleponnya tiba-tiba saja hilang.

“Hapemu kok mati,” bunyi pesan dari Pak Wasis—Hardi akhirnya membuka jubelan pesan instan Pak Wasis.

“Sore ini ketemu di Stasiun Manggarai.”

“Penting.”

“Soal novel barumu.”

“Ada penerbit yang tertarik.”

“Pukul 16.00 tepat. Jangan telat.”

Hardi hanya membalas “ok”.

Masih ada sekitar 2 jam lagi. Hardi memilih datang lebih awal.

***

Di usianya yang mendekati 30 tahun, Hardi hampir lupa 5/6 masa hidupnya. Selepas lulus dari perguruan tinggi, Hardi benar-benar melepaskan diri dari beban masa lalu.

Dia meninggalkan bapaknya—meski dia tahu dia takkan bisa menolak jika bapaknya menelepon. Dia meninggalkan kota kelahiran. Dia juga meninggalkan semua yang telah melekat dalam dirinya—yang sebenarnya tak pernah dia pilih.

Seumur hidup Hardi, baru di usia ke-25, dia benar-benar bisa memilih kehidupan yang ingin dia jalani. Meski, pilihan itu punya konsekuensi logis. Satu-satunya yang memberatkan Hardi adalah bapaknya. Dia tidak tega harus meninggalkan lelaki tua itu sendirian di rumah.

Dan, ketika perasaan bersalah mulai timbul karena keputusan itu, Hardi buru-buru menekan dengan rasionalitasnya. Hardi tak ingin perasaan kasihan dan bersalah menghalangi keputusan untuk hidup sesuai keinginannya. Hardi tak ingin wajah lelaki tua yang mengurusinya selama 25 tahun menghambat keputusan untuk lepas dari beban masa lalu.

Dia buru-buru menyelesaikan makan. Mencuci piring dan membereskan dapur. Hardi memang suka seperti itu. Saat dia mulai keingat bapaknya, dia bakal buru-buru mengalihkan dengan melakukan kegiatan lain. Jadi, dia tak harus kerepotan merasa bersalah terus.

Pukul 1 siang, Hardi mulai meninggalkan kamar apartemennya. Dia berjalan menuju stasiun yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya tinggal.

Kereta listrik tidak pernah penuh saat siang hari. Baik dari arah Bogor maupun Jakarta, masih ada beberapa bangku kosong yang masih bisa diduduki. Hardi memilih berdiri di pintu kereta yang tidak menghadap stasiun. Pintu itu tidak akan terbuka dan dia bisa aman bersandar sembari melihat pemandangan pinggir rel yang sebenarnya biasa saja. Tidak ada yang istimewa.

Jelas, pikirannya tidak pernah fokus saat di perjalanan. Dia masih mencari siapa sebenarnya perempuan yang meneleponnya pagi tadi. Semakin keras berpikir, semakin susah pula Hardi mengambil nama dalam kepalanya.

Mana mungkin si ini menelepon. Bukan si ini. Aggghhr… tidak ada. Tidak ada, dia bergumam sendiri. Masa bodoh deh, pikirnya lagi.

***

Hanya 25 atau 30 menit, dia sudah sampai di Stasiun Manggarai. Seperti biasa, dia langsung menuju Starbucks—bila Pak Wasis minta ketemuan di Stasiun Manggarai, sudah pasti di sanalah tempatnya, tidak ada tempat lain lagi.

Hardi sempat merasa heran kenapa Pak Wasis sering memintanya ketemuan di Stasiun Manggarai. Stasiun ini sangat ramai. Tidak pernah sepi, kecuali tengah malam. Dan juga, sangat berisik. Bukan cuma suara orang. Suara lokomotif, suara petugas yang mengumumkan kedatangan kereta melalui toa yang melengking, atau suara peluit yang tak kalah melengking. Janggal saja, bagaimana bisa mengobrol bila banyak kebisingan.

Namun, Hardi tak pernah memprotes. Dia hanya sekali iseng bertanya. Jawaban Pak Wasis sangat sederhana. “Sekalian pulang. Enggak perlu bayar tiket dua kali. Enakkan? Hemat dan enggak ribet”. Kalau sudah begini, Hardi enggak bisa memprotes. Dari apartemennya pun cuma 25-30 menit. Mau apa lagi.

Baca Juga:  Beberapa Detik Lalu

Sejauh yang dia tahu, Pak Wasis tinggal di Bekasi. Dia hidup bersama istri dan dua anak perempuannya. Hanya itu saja. Selebihnya, Hardi tidak tahu kehidupan pribadi Pak Wasis. Selain Pak Wasis tidak pernah bercerita, Hardi juga tidak ingin tahu banyak soal kehidupan pribadi bosnya itu. Hubungan mereka, ya itu tadi, murni simbiosis mutualisme. Sama-sama saling menguntungkan dan harus tidak ada yang dirugikan. Menceritakan kehidupan pribadi ke orang lain, bagi Hardi, merupakan salah satu kerugian di dunia pekerjaan. Dan, anehnya, Pak Wasis juga berpikiran sama—setidaknya itu yang dirasakan Hardi.

Setelah memesan manual brewed ukuran sedang, Hardi mencari tempat kosong. Kebetulan pula, setiap mereka janjian di Starbucks, Stasiun Manggarai, kursi yang biasa mereka duduki selalu kosong. Sungguh kebetulan yang aneh.

Baru saja dia meletakkan gelas kopi di meja dan belum sempat duduk, ponselnya bergetar berkali-kali.

***

“Halo???? Mau apa lagi sih?” kata Hardi. Sebenarnya, dia mengharapkan perempuan itu meneleponnya lagi. Tapi, dia sengaja pura-pura berkata pedas biar tidak kelihatan berharap.

“Kenapa hapemu mati?”

“Habis berisik. Aku belum tidur. Dan, aku juga tidak kenal kamu.”

“Tapi ini penting.”

“Sepenting apa sih? Kok sampai harus aku?”

“Kamu lagi di Starbucks Stasiun Manggarai kan?”

“Loh kok kamu tahu?”

“Itu enggak penting,” kata perempuan itu.

“Pentinglah.. Berarti kamu ngikutin aku terus dong?” Hardi masih berdiri di depan mejanya. Dia melihat di sekitaran Starbucks. Tidak ada perempuan yang sedang menelepon. Hardi keluar sebentar dan mengecek orang-orang yang ada di peron Stasiun Manggarai.

“Kamu enggak perlu mencari aku di mana. Percuma, karena aku juga tidak di sekitar Stasiun Manggarai.”

“Kok kamu juga tahu aku lagi cari perempuan aneh yang sedang menelepon?”

“Ya tahulah. Dari suara langkah kaki dan napasmu sudah ketahuan kalau kamu sedang clingak-clinguk. Lagi pula, itu tidak penting kan?”

“Lalu, apa yang penting? Dan kenapa kamu seharian meneror?”

“Aku enggak meneror. Aku cuma ingin kamu bantu aku.”

“Kenapa harus aku?”

“Kamu tidak akan percaya kalau aku cerita. Waktu kita terbatas.”

“Terbatas?”

“Iya. Aku enggak bisa lama-lama meneleponmu. Sekarang, dengar baik-baik, kamu kembali ke rumah. Tapi, saat kamu kembali, jatuhkan hape kamu di jalan….”

“Gilak kamu….” kata Hardi menyelak.

“Dengar dulu….”

“Gimana aku bisa percaya sama kamu? Aku enggak kenal kamu dan kamu meminta aneh-aneh.”

“Dengar dulu….” kata perempuan di balik sambungan telepon. “Aku tidak punya waktu lama. Cuma kamu yang bisa membantuku.”

“Sudahlah. Pasti kamu tukang tipu. Setelah aku buang, pasti gerombolanmu akan memungut hapeku. Trik murahan….”

“Dengar dulu….”

Hardi mematikan ponselnya. Air mukanya sangat kesal sekali. Sudah tahu bakal nipu, kenapa kulayani, katanya dalam hati. Dia kembali masuk Starbucks. Tak terasa, kopinya sudah mulai anyep.

***

Pukul 4 lebih 5 menit. Tidak biasanya Pak Wasis terlambat. Pak Wasis selalu muncul tepat waktu. Seringnya malah dia datang lebih dulu. Namun sekarang, Pak Wasis belum juga sampai di tempat biasa mereka bertemu.

Dia orang yang sangat presisi dan efisien. Semua harus sesuai dengan rencana. Tidak boleh ada cacat. Perfeksionis. Makanya, ketika terlambat 5 menit, rasanya terasa janggal.

Beberapa kali Hardi mencoba menelepon Pak Wasis. Namun, ponselnya justru tidak bisa dihubungi. Kini, Pak Wasis sudah terlambat lebih dari setengah jam. Kopi di depan Hardi pun sudah habis.

Hari yang aneh, pikir Hardi. Sejak perempuan yang tidak dikenal meneleponnya pagi-pagi, harinya berubah drastis. Pak Wasis terlambat dan tidak bisa dihubungi. Sekarang pun, dia harus menunggu di tengah ketidakpastian.

Pulang juga bakal percuma. Stasiun Manggarai sudah makin ramai. Pulang sekarang berarti membiarkan dirinya berdesak-desakan. Syukur-syukur bisa keangkut. Jam pulang kantor merupakan jam-jam survival. Sebagian besar orang memikirkan diri sendiri. Saling sikut untuk mendapatkan tempat berpijak biar bisa pulang lebih awal. Wajar sih, pulang lebih awal berarti mereka bisa menghabiskan waktu lebih lama di rumah. Bisa beristirahat, bisa berkumpul dengan keluarga, dan lain sebagainya.

Hardi yang tidak harus tiap hari berada di situasi jam survival merasa lebih beruntung. Tapi, apakah dirinya benar-benar beruntung? Atau jangan-jangan justru nasibnya malang? Kadang dia berpikir menjadi pekerja kantoran akan lebih menyenangkan. Lebih punya jam biologis dan sosial teratur. Dan yang tak kalah penting, penghasilan teratur. Tapi, dia sadar, baik dirinya maupun orang-orang yang berebut tempat di kereta di jam-jam survival punya tujuan sama: mencari uang untuk diri sendiri maupun keluarga.

Lalu-lalang orang tidak pernah berhenti. Semakin dia melihat ke kerumunan, semakin jauh dia berpikir tentang perasaannya dan perasaan orang-orang di Stasiun.

Teleponnya kembali berdering. Kali ini, Hardi mengenali ritme getaran yang ditimbulkan si penelepon.

***

“Hardi….”

“Iya Pak Wasis.”

“Kok ponsel kamu dari tadi enggak bisa dihubungi?”

“Loh? Harusnya itu yang saya tanyakan Pak? Ponsel Pak Wasis juga enggak bisa saya hubungi dari tadi. Ada masalah, Pak?”

“Kok bisa ya. Tapi sudahlah. Gini Di. Saya mendadak enggak bisa ke sana. Tiba-tiba ada keperluan. Saya harus buru-buru pulang. Tidak masalah kan?”

“Oh iya. Tidak apa-apa.”

“Soal naskahmu, nanti kita obrolin lagi. Soalnya ini genting. Jadi, saya harus buru-buru.”

“Genting?”

“Iya. Ya sudah. Nanti tunggu kabar dari saya lagi.”

Sambungan telepon terputus.

Karena sudah tidak ada yang ditunggu, dia pun ingin segera keluar. Namun, dia masih belum memutuskan ke mana dia akan pergi. Pulang ke rumah atau kelayapan sebentar sambil menunggu jam-jam survival mereda, dua-duanya sama-sama tidak menyenangkan.

***

Saat dia keluar dari Starbucks, jajaran manusia sudah memadati tepian peron ke arah Bogor dan Bekasi. Bila pulang, dia harus berdesak-desakan, saling sikut, dan berebut tempat. Belum lagi di dalam kereta suasana tidak akan nyaman. Mendengarkan musik pun juga tidak akan membuat lebih nyaman.

Keluar stasiun? Dia juga tidak punya tujuan jelas. Meskipun sudah 5 tahun tinggal di Ibu Kota, dia tidak kunjung hafal lekuk-lekuk Jakarta. Jakarta bagi Hardi hanya sebatas jalur kereta listrik yang menghubungkan Bogor-Jakarta-Bekasi-Serpong-Tangerang. Sisanya, Hardi tak mengenal wajah Jakarta. Jadi, kelayapan pun juga percuma. Toh, dia juga tak punya teman yang bisa dihubungi untuk diajak nongkrong atau menunjukkan sudut Jakarta yang menarik untuk menghabiskan malam.

Saat sedang gamang, justru perempuan aneh itu kembali menelepon. Kali ini, suara perempuan itu tampak payah sekali. Seperti habis lari maraton 10 km dan belum sama sekali minum. Suaranya kering dan tersengal-sengal.

“Halo…,” kata perempuan itu.

“Kenapa lagi??” jawab Hardi keki.

“Tolong, waktuku enggak banyak dan hanya kamu yang bisa menolong?”

“Jangan pura-pura memelas, aku enggak mudah tertipu.”

“Beneran.”

“Bagaimana bisa aku percaya sama kamu?”

“Jangan dulu naik kereta. Percuma.”

“Percuma?”

“Sekarang kamu keluar Stasiun dan jatuhkan hapemu di pintu keluar….”

“Kamu ini memang tukang maksa ya.”

“Sudah enggak ada waktu lagi.”

“Buktikan kalau omonganmu bisa kupercaya.”

Mereka saling diam beberapa detik. Perempuan itu memikirkan cara tercepat untuk meyakinkan Hardi. Tapi, dia tidak boleh memberi tahu siapa sebenarnya dirinya dan membeberkan kenapa hanya Hardi yang bisa menolongnya.

“Baiklah. Sekarang, kamu lihat ke peron arah Bogor,” kata perempuan itu memecah kebisuan. “Di ujung utara dekat jalur penyeberangan.”

“Iya aku sudah melihat. Memang ada apa?”

Tempat itu tidak jauh dari lokasi Hardi berdiri. Dia bisa melihat jelas ke arah yang ditunjuk si perempuan aneh di sambungan telepon.

“Kamu bisa melihat ibu-ibu dan anak kecil?”

“Iya.”

“Sebentar lagi ibu itu akan mengangkat telepon.”

“Lalu?”

“Tolong jangan potong dulu, lihat baik-baik..”

Hardi mengamati dengan seksama ibu dan anak di seberang tempat dia berdiri. Hanya beberapa saat setelah perempuan itu memberi tahu, si ibu mengangkat telepon. Si ibu itu asyik menelepon sampai tidak memperhatikan anaknya. Saat dia merogoh ponsel, saat itu pula pegangan tangan anaknya terlepas.

Baca Juga:  Cassini

Dari arah Jakarta, kereta diesel hendak melintas Stasiun Manggarai. Semua orang yang berada di dekat si ibu sudah berteriak ketika melihat lokomotif berwarna putih mendekat. Klakson dari masinis pun berbunyi berkali-kali. Si ibu baru menyadari anaknya tidak dalam gandengannya setelah suara klakson melengking berkali-kali. Tapi, terlambat…. Si ibu takkan sampai tepat waktu. Hardi menutup mata.

Saat dia kembali membuka mata, semua orang mendekat di jalan perlintasan. Si ibu menangis dan dikerumuni orang-orang. Anak itu pasti tidak selamat, pikir Hardi.

Anak itu selamat. Beruntung sekali. Dari tempat Hardi berdiri, seharusnya anak itu tidak selamat. Namun, di waktu yang tepat, petugas keamanan stasiun berhasil menarik anak itu dan menjauhi rel kereta api.

Jantungnya hampir copot melihat adegan itu. Hardi tak bisa berbicara beberapa detik.

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Susah menjelaskannya. Sekarang kamu percaya?”

Hardi mengangguk sembari mengangkat telepon.

“Yang kamu lakukan nanti seperti petugas menyelamatkan anak itu. Dan cuma kamu yang bisa menyelamatkan aku. Waktuku tidak banyak. Jadi, kumohon, ikuti petunjukku.”

Hardi kembali mengangguk.

“Sekarang, kamu keluar Stasiun Manggarai. Jatuhkan hape kamu seakan-akan tak disengaja di dekat pintu keluar. Lalu, kamu pulang naik TransJakarta ke arah Depok. Jangan mampir ke mana-mana. Langsung menuju apartemen dan tetaplah di apartemen. Kamu pasti sudah belanja bulanan kan? Cukup masak di rumah dan menulis novel seperti biasa.”

“Kenapa tidak boleh keluar?”

“Aku tidak bisa menjelaskan.”

“Baiklah,” jawab Hardi. Sebenarnya, dia tidak bisa berpikir jernih setelah kejadian di depan matanya itu. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti saran si perempuan aneh di sambungan telepon. “Itu saja?”

“Iya, itu saja. Aku sangat minta tolong, jadilah seperti petugas stasiun di seberang. Cuma kamu yang bisa menolongku. Waktuku tidak banyak. Dan, waktumu menjatuhkan ponsel di dekat pintu keluar hanya 4 menit dari sekarang,” kata perempuan itu.

“Kenapa baru bilang sekarang kalau waktunya tinggal 4 menit lagi,” Hardi kesal.

“Terima kasih banyak.” Sambungan telepon terputus.

Hardi melihat jam tangannya. Empat menit, apa-apaan ini. Dia pun berlari ke arah pintu keluar Stasiun Manggarai. Sembari berlari, dia menghapus semua aplikasi mobile banking, e-wallet, dan media sosial. Tapi, saat itu stasiun sangat ramai sekali. Pintu masuk dan keluar sama ramainya. Jadi, lari pun rasanya percuma.

Tepat satu menit sebelum waktunya habis, Hardi berhasil menjatuhkan ponselnya di sekitar pintu keluar. Sayangnya, beberapa aplikasi belum sempat dia hapus. Dia berharap perempuan itu bisa selamat seperti anak tadi selamat. Hardi tidak lagi peduli dengan ponsel dan memori yang tersimpan di dalamnya.

***

Sudah 8 tahun sejak telepon aneh itu berdering mengganggu tidur Hardi. Sebenarnya, Hardi sudah hampir lupa dengan kejadian teraneh dalam hidupnya. Kalau bukan perempuan itu meneleponnya lagi pagi-pagi buta—kali ini benar-benar pagi-pagi buta, tidak pukul 10 pagi lagi—Hardi pasti sudah lupa. Dia juga pasti sudah melupakan suara perempuan—dan anehnya perempuan itu merupakan perempuan pertama yang berbicara dengan Hardi selama berjam-jam sebelum dia bertemu dengan istrinya.

Hardi mencoba mengingat kembali kejadian 8 tahun lalu di Stasiun Manggarai. Bukan-bukan, semua berawal dari telepon pukul 10 pagi dari perempuan aneh yang minta pertolongan.

Setelah dia menjatuhkan ponsel di pintu keluar Stasiun Manggarai, Hardi langsung pulang naik TransJakarta. Tidak seperti kereta listrik, bus TransJakarta lebih lama. Ini pertama kali Hardi pulang dengan bus. Dia terjebak kemacetan beberapa kali. Perjalanan yang biasanya ditempuh 30 menit harus ditempuh lebih lama: 1,5 jam.

Sesampai di kawasan apartemen, Hardi mampir sebentar ke toko ponsel. Dia membeli ponsel baru murah dan kartu sim baru. Dia mengabari bapaknya, bimbel, dan Pak Wasis nomor barunya. Dia bilang, ponselnya baru saja hilang saat pulang dari Stasiun Manggarai.

Hari yang panjang, aneh, dan melelahkan, setidaknya itu yang dipikirkan Hardi saat itu. Masuk kamar apartemen, dia langsung memutuskan mandi. Baru pertama kali Hardi mengalami kejadian janggal. Dan, baru pertama kali pula Hardi menyisipkan doa saat mandi. Semoga perempuan itu baik-baik saja, bisiknya. Tapi, jantungnya belum juga kembali normal.

Dia kembali melakukan aktivitas seperti biasa, menulis novel, cerpen, dan menyiapkan materi bimbel.

Dan, saat ini, telepon itu berdering lagi. Sejak 8 tahun lalu, Hardi tidak pernah mengganti ponsel. Meski ketinggalan zaman, ponsel itu masih bisa digunakan. Ya, itu adalah ponsel pengganti ponsel lama yang diminta dijatuhkan di stasiun Manggarai—meskipun ponsel lamanya dengan ajaib kembali sebulan kemudian.

Anehnya, perempuan yang mengembalikan ponsel lamanya itu kini menjadi istrinya sekarang. Makin ajaib lagi, saat perempuan yang saat ini menjadi istrinya mengembalikan ponsel, Jabodetabek baru mengumumkan darurat kesehatan gara-gara wabah virus mematikan. Semua penduduk pun tidak boleh keluar rumah. Transportasi dihentikan. Mau tidak mau, Hardi harus menerima perempuan itu tinggal bersamanya selama wabah menyerang. Beruntungnya, Hardi sudah menyiapkan keperluan rumah dan bahan makanan—seperti yang disarankan si perempuan yang menelepon pagi-pagi waktu itu.

Lantaran tinggal bersama, mereka pun makin akrab dan akhirnya memutuskan menikah satu tahun setelah perempuan aneh itu menelepon. Dua tahun kemudian, istrinya melahirkan anak perempuan.

Hardi dan keluarganya hidup nyaman dan berkecukupan. Setelah menikah, novel yang dia garap dan disunting Pak Wasis terbit. Penjualannya luar biasa. Cukup untuk membiayai keluarga kecil yang dia baru bangun. Saat ini, dia tetap menulis novel dan cerpen—serta masih mengajar bimbel bahasa Indonesia.

Ponselnya berdering. Berkali-kali seperti delapan tahun lalu. Dengan ritme getaran dan nada dering yang sama menyebalkannya. Hardi mengecek jam tangan di meja sebelah kasur. Masih pukul 4 pagi. Siapa juga yang menelepon pagi-pagi benar, gerutunya.

Istrinya masih tertidur pulas di sampingnya. Sama sekali tak terganggu dengan raungan nada dering menyebalkan itu.

Dia berjalan keluar kamar agar istrinya tidak terganggu dengan suara telepon.

“Halo. Siapa ya?” kata Hardi sembari mengecek kamar putrinya di sebelah. Dia pun membuka kulkas, mengambil air putih, dan duduk di meja makan.

“Ini aku? Masih ingat?” jawab perempuan di balik sambungan telepon.

Hardi belum sadar benar. Dia mengecek nomor ponsel yang meneleponnya. Private number.

“Ini siapa?”

“Terima kasih banyak, Kento,” kata perempuan itu. “Kamu sudah menyelamatkanku.”

Sambungan telepon terputus.

Hardi mencoba memanggil perempuan itu saat menyadari bahwa suara itu sama seperti suara perempuan yang meneleponnya 8 tahun lalu. Namun percuma, karena sambungan sudah terputus. Dia melihat kembali daftar log telepon. “Private Number, 04.00 AM, Incoming Call”.

Seingat Hardi, satu-satunya perempuan yang memanggilnya dengan nama Kento cuma istrinya. Dia mengecek kembali ke kamar. Istrinya masih tertidur dengan pulas. Hardi lantas mengecek kembali kamar putrinya dan putrinya juga masih tertidur pulas.

Saat menyadari kedua perempuan yang sangat dia cintai masih tertidur dengan nyaman, Hardi lantas menghabiskan sekaligus air putih yang dia ambil saat mengangkat telepon. Mengembalikan mug ke kulkas, kembali ke kamar, dan berbaring. Dia mencium kening istrinya dan memeluknya erat-erat.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here