Orhan Pamuk
(Foto: Wikipedia)
dibaca normal 23 menit

Bila tidak ada yang terjadi di kepalanya, mungkin Orhan Pamuk sudah menjadi seorang pelukis. Tentu pelukis paruh waktu dengan pekerjaan utama sebagai arsitek. Kira-kira di umur 7 tahun, Pamuk sangat terobsesi dengan seni lukis. Ia ingin menjadi seorang pelukis dan keluarga besarnya tidak ada yang menolak.

Sebagai keluarga kelas menengah Turki, keputusan membolehkan Pamuk di jalur kesenian bisa masuk akal. Pasalnya, menjadi kelompok elite di Turki yang terpapar kebudayaan Barat, berarti harus punya setidaknya pengetahuan tentang kesenian. Namun, keluarga besar Pamuk yang sohor lantaran bisnis konstruksi rel kereta itu awalnya tak serta-merta memperbolehkannya terjun 100 persen di dunia kesenian. Ia tetap diharuskan masuk Istanbul Technical University.

“Lantaran aku merupakan satu-satunya seorang seniman di keluarga, mereka pun mengharapkan aku menjadi seorang arsitek. Itu jadi jalan tengah bagi semua orang,” ujar Pamuk kepada The Paris Review.

Nasib memang berkata lain. Di tengah-tengah studi arsitektur, salah satu “sekrup” di kepalanya terlepas. Ia tiba-tiba memutuskan berhenti melukis dan mulai menulis novel. Pamuk sendiri tak menjelaskan mengapa ia berpindah haluan. Ia hanya bilang, semua terjadi begitu saja dan seketika itu pula.

Lewat novel, kepopuleran pengarang Turki ini mulai terdengar. Pelan-pelan dengan penuh kesabaran, ia mulai menjejakkan kaki sebagai salah satu pengarang dunia yang diperhitungkan. Puncaknya, Akademi Nobel di Swedia memberikan Pamuk Hadiah Nobel Sastra pada 2006 karena dianggap berhasil menemukan simbol-simbol baru dalam benturan dan jalinan antar-kebudayaan. Utamanya saat ia mencari jiwa-jiwa melankolis di kota kelahirannya, Istanbul.

Dari novel pula, posisinya di peta politik Turki mulai diamati, terlebih setelah novel Salju diterbitkan. Pamuk, lewat novel itu, mengolok-olok kelompok-kelompok yang bersaing di Turki. Ia mengejek kelompok sekuler, nasionalis, sekaligus Islamis garis keras. Pamuk pun jadi sosok yang dipuja sekaligus dibenci. Ia dipuja karena membawa Turki di mata dunia. Ia dibenci karena dianggap membahayakan negara lantaran dunia rekaan yang ia ciptakan.

“Seorang novelis adalah pribadi yang tidak terikat pada satu masyarakat. Begitu ia punya kesadaran berbeda dengan masyarakatnya, ia adalah orang asing, penyendiri. Kekayaan karya itu akan muncul dari pengamatan sebagai orang asing,” ujar Pamuk.

Untuk lebih mengenal dengan kepengarangan Orhan Pamuk, booksandgroove.com menerjemahkan sesi wawancaranya dengan The Paris Review. Wawancara ini dilakukan dua kali di London, Inggris. Pertama, pada Mei 2004 dan April 2005. Dua sesi wawancara ini dilakukan sebelum Pamuk mendapatkan Nobel Sastra. Membaca wawancara ini, pembaca akan langsung paham, kenapa Pamuk layak diganjar Nobel Sastra.

Bagaimana perasaan Anda saat diwawancarai?

Kadang-kadang aku gugup karena aku memberi jawaban bodoh untuk pertanyaan-pertanyaan yang biasa-biasa saja. Itu terjadi dalam bahasa Turki maupun Inggris. Dalam bahasa Turki, aku kerap mengatakan kalimat-kalimat bodoh. Jadi, aku kerap diserang di Turki lantaran sesi wawancara ketimbang buku-bukuku. Kolumnis dan politikus di Turki tidak suka baca buku.

Buku-buku Anda mendapat sambutan positif di Eropa dan Amerika. Bagaimana di Turki?

Tahun-tahun yang menyenangkan telah usai. Ketika pertama kali bukuku terbit, generasi pengarang sebelumnya telah pergi. Jadi, aku diterima, sebab aku pengarang baru.

Soal “generasi sebelumnya”, bisa dijelaskan?

Para pengarang yang terjebak pada tanggung jawab sosial, para pengarang yang melayani moralitas dan politik. Mereka itu pengarang realis yang begitu-begitu saja, tidak eksperimental. Seperti pengarang-pengarang di negara-negara miskin. Aku tidak mau menjadi seperti mereka. Meski sejak kecil aku menyukai (William) Faulkner, Virginia Woolf, Proust, tidak pernah terpikirkan olehku akan mengikuti model macam (John) Steinbeck dan (Maxim) Gorky. Karya sastra yang terbit pada tahun 60-an dan 70-an sudah ketinggalan zaman. Jadi, aku sangat diterima sebagai pengarang generasi baru.

Setelah pertengahan 90-an, ketika buku-bukuku mulai laku dalam jumlah yang tak pernah dibayangkan oleh orang-orang Turki, bulan maduku dengan pers Turki dan cendekiawan Turki pun usai. Sejak saat itu, mereka banyak menyerang popularitas dan penjualan bukuku, ketimbang isi buku. Sekarang ini, aku justru lebih terkenal karena komentar-komentar soal politik—yang kebanyakan diambil dari wawancara dengan media asing dan dimanipulasi dengan sedemikian rupa oleh jurnalis nasionalis Turki hingga aku kelihatan lebih radikal dan bodoh dari diriku sebenarnya.

Jadi, mereka bereaksi dengan popularitas Anda?

Aku menciumnya sebagai hukuman lantaran popularitas dan komentar-komentarku soal politik. Tapi, aku tidak mau mengatakan ini terus-menerus karena aku seperti membela diri. Mungkin saja aku salah mengartikan.

Di mana Anda biasa menulis?

Aku selalu berpikir, tempat kita tidur atau tempat kita berbagi dengan pasangan seharusnya terpisah dengan tempat kita menulis. Ritual-ritual dan urusan rumah tangga kadang-kadang membunuh imajinasi. Mereka membunuh iblis di dalam diriku. Kehidupan rumah tangga membuat dunia lain—dunia yang dihidupkan oleh imajinasi—menghilang. Jadi, selama bertahun-tahun, aku selalu punya kantor atau lebih tepatnya tempat kecil di luar rumah untuk bekerja. Aku selalu punya flat berbeda.

Tapi, pernah sekali saat aku harus menghabiskan setengah semester di Amerika untuk menemani mantan istriku mengambil Ph.D. di Universitas Columbia. Kami tinggal di apartemen khusus mahasiswa yang sudah berkeluarga dan tidak mempunyai banyak ruang. Jadi, aku harus menulis dan tidur di tempat yang sama. Pengingat kehidupan keluarga ada di mana-mana. Ini membuatku kesal. Biasanya, di pagi hari, aku akan pamit ke istriku layaknya seseorang yang akan berangkat kerja. Aku meninggalkan rumah, berjalan beberapa blok, lalu kembali seperti orang yang sampai di kantor.

“Kehidupan rumah tangga membuat dunia lain—dunia yang dihidupkan oleh imajinasi—menghilang.

Sepuluh tahun lalu, aku menemukan flat yang langsung menghadap Bosphorus dengan pemandangan kota tua. Pemandangan ini mungkin yang terbaik di seluruh Istanbul. Tempat itu hanya 25 menit jalan kaki dari tempatku tinggal. Di sana penuh buku dan meja kerjaku langsung menghadap ke pemandangan itu. Tiap hari, rata-rata, aku menghabiskan waktu 10 jam di sana.

10 jam sehari?

Ya, aku seorang pekerja keras. Aku menikmatinya. Orang mungkin akan bilang aku ambisius dan mungkin saja itu benar. Tapi, aku kadung cinta dengan apa yang kukerjakan. Aku senang duduk di mejaku seperti anak-anak bermain dengan mainannya. Bekerja tapi rasanya menyenangkan dan seperti bermain-main pula.

Orhan, nama tokoh dan narator di novel Salju, digambarkan sebagai juru tulis yang duduk pada waktu yang sama tiap hari. Apa Anda punya kedisiplinan yang sama dalam menulis?

(Di novel itu), aku menekankan bahwa karakteristik seorang novelis berlawanan dengan penyair—yang punya tradisi bergengsi di Turki. Menjadi seorang penyair, berarti Anda menjadi seorang populer dan dihormati. Sebagian besar sultan Ottoman dan negarawan adalah penyair. Tapi, tidak seperti penyair yang kita pahami sekarang.

Selama beratus-ratus tahun, menjadi penyair merupakan jalan menjadi seorang cendekiawan yang dihormati. Sebagian besar dari mereka mengumpulkan puisi-puisi dalam manuskrip dan disebut diwan. Bahkan, puisi di Istana Ottoman disebut pula diwan. Setengah dari para bangsawan Ottoman membuat diwan. Diwan itu bentuk tulisan yang diciptakan orang bijaksana dan terpelajar dengan banyak aturan dan ritual. Sangat konvensional dan repetitif.

Setelah pengaruh Barat masuk ke Turki, warisan itu pun menyatu dengan gaya romantik dan modern para penyair yang mabuk untuk kebenaran. Itu akan menambah prestise seorang penyair. Di satu sisi, seorang novelis pada dasarnya adalah seorang yang berjalan dengan sabar, perlahan-lahan, seperti semut. Seorang novelis membuat kita terkesan bukan karena visi-visi romantis dan trans. Tapi, melalui kesabarannya.

Anda pernah menulis puisi?

Itu juga kerap aku tanyakan. Pernah saat aku masih 18 tahun. Aku memublikasikan beberapa puisi di Turki. Lalu aku berhenti. Alasanku, aku sadar bahwa seorang penyair adalah seseorang mendapatkan wahyu dari Tuhan. Anda harus kerasukan oleh puisi. Aku mencoba beberapa kali. Sayangnya, Tuhan tidak berbicara kepadaku. Aku pun kasihan dengan diriku.

“Seorang novelis adalah seorang yang berjalan dengan sabar, perlahan-lahan, seperti semut.”

Lalu aku membayangkan—jika Tuhan menitipkan wahyu kepadaku, apa yang bakal Ia katakan? Aku pun mulai menulis dengan hati-hati, perlahan-lahan, dan mencoba menggambarkannya. Itulah prosa, tulisan fiksi. Jadi, aku bekerja seperti seorang juru tulis. Bagi beberapa penulis lain, ungkapan ini mungkin penghinaan. Tapi, aku menerimanya, aku bekerja seperti seorang juru tulis.

Jadi, Anda bisa bilang menulis prosa jadi lebih mudah?

Tentu saja tidak. Kadang, aku merasa bahwa tokoh ciptaanku harus masuk ke sebuah kamar dan aku masih tidak tahu bagaimana memasukkannya. Mungkin saja aku terlalu percaya diri, yang kadang-kadang tak membantu karena Anda tidak bisa bereksperimen, Anda hanya menulis apa yang datang dari ujung pulpen Anda. Aku sudah menulis fiksi selama 30 tahun, jadi aku seharusnya berpikir bahwa aku sudah sedikit berkembang. Namun, aku kadang-kadang menemui jalan buntu ketika seharusnya aku tidak akan bertemu jalan buntu itu. Tokoh itu tidak bisa masuk ke dalam ruangan dan aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ya, hal itu masih terjadi setelah 30 tahun.

Pembagian beberapa bab dalam buku sangat membantuku dalam berpikir. Saat menulis novel, jika aku tahu keseluruhan alur cerita—dan ini selalu aku lakukan—aku akan membagi alur cerita itu ke dalam beberapa bab dan memikirkan detail cerita yang mungkin terjadi di tiap bab. Aku tidak harus memulai menulis dari bab pertama. Saat aku buntu, itu bukan kiamat bagiku, aku akan melanjutkan dengan apa pun yang aku suka. Aku bisa saja menulis dari bab pertama hingga bab kelima. Lalu, bila aku tidak menikmatinya, aku bisa saja meloncat ke bab 15 dan melanjutkan dari situ.

Berarti Anda memetakan seluruh isi buku di awal penulisan?

Semuanya. Namaku Merah, misalnya, memiliki banyak tokoh dan tiap tokoh kutulis dalam bab-bab tertentu. Ketika aku menulis, terkadang aku ingin melanjutkan “menjadi” salah satu tokoh. Misalnya saja, aku telah selesai menulis bab Shekure, mungkin bab 7, lalu aku langsung melanjutkan di bab 11 yang merupakan bagian Shekure lagi. Melompat-lompat dari satu karakter atau persona ke yang lain akan memusingkan.

Namun, di bab terakhir, aku selalu menyelesaikan hingga akhir. Itu sudah pasti. Aku suka menggoda diriku, bertanya pada diri sendiri, bagaimana seharusnya akhir cerita yang kutulis. Aku hanya bisa menulis akhir cerita sekali saja. Menjelang akhir, sebelum selesai, aku berhenti dan menulis ulang sebagian besar bab-bab awal.

Apa Anda punya pembaca saat menulis?

Aku selalu membacakan karya kepada orang-orang terdekatku. Aku sangat senang jika orang itu bilang, “tunjukkan lagi,” atau, “tunjukkan apa yang sudah kamu tulis hari ini.” Tidak hanya menimbulkan sedikit tekanan yang memang dibutuhkan, tetapi juga Anda seperti memiliki ibu dan ayah yang menepuk punggung Anda dan berkata, “Bagus sekali.” Kadang juga orang itu akan berkata, “Maaf, aku tidak suka.” Itu juga bagus. Aku suka ritual ini.

Aku selalu teringat dengan Thomas Mann, salah satu panutanku. Dia selalu bisa menyatukan seluruh keluarga, enam anaknya dan istrinya, serta selalu membacakan cerita kepada mereka. Aku suka itu: seorang ayah membacakan cerita.

Saat Anda muda, Anda ingin menjadi seorang pelukis. Kapan Anda berubah haluan?

Waktu aku berusia 22 tahun. Sejak umur 7 tahun, aku ingin sekali menjadi pelukis dan keluargaku menyetujuinya. Mereka semua berpikir aku akan menjadi pelukis terkenal. Namun, sesuatu terjadi di kepalaku—sepertinya ada satu sekrup yang terlepas—dan aku pun berhenti melukis. Kemudian, aku memulai menulis novel pertamaku.

Sekrup terlepas?

Aku tidak bisa menjelaskan alasan-alasanku kenapa aku melakukannya. Aku baru saja menerbitkan buku berjudul Istanbul. Separuh isinya merupakan autobiografiku hingga masa itu dan separuhnya lagi merupakan esai tentang Istanbul. Lebih tepatnya, pandangan anak-anak tentang Istanbul. Kombinasi antara pemikiran tentang gambar-gambar dan lanskap, ikatan kuat terhadap kota, persepsi seorang anak-anak terhadap kota, serta autobiografi seorang anak-anak. Kalimat terakhir buku itu: “Aku tidak ingin menjadi seorang seniman. Aku akan menjadi seorang pengarang.” Dan, hal itu tak dijelaskan. Meski demikian, dengan membaca seluruh isi buku, mungkin saja bisa menjelaskan sesuatu.

Baca Juga:  "Aku Sangat Beruntung Bisa Bekerja Sambil Membaca Buku-Buku Bagus" - Laila Lalami

Keluarga Anda senang dengan keputusan itu?

Ibuku kecewa. Ayahku lebih sedikit memahami karena saat ia muda, ia juga ingin menjadi penyair dan pernah menerjemahkan Valery ke bahasa Turki, tapi menyerah karena ia diejek oleh lingkaran elite Turki.

Keluarga Anda setuju Anda menjadi pelukis tapi tidak untuk novelis?

Ya, karena mereka berpikir aku tidak akan sepenuhnya menjadi seorang pelukis. Tradisi keluargaku di bidang teknik sipil. Kakekku seorang insinyur teknik sipil yang banyak menghasilkan uang dari membangun rel kereta api. Paman-pamanku dan ayahku banyak menghabiskan uang kakek, tapi mereka semua masuk di universitas teknik sipil yang sama, Istanbul Technical University. Aku juga diharapkan kuliah di sana dan aku bilang, “Baiklah, aku akan kuliah di sana”. Namun, lantaran aku merupakan satu-satunya seorang seniman di keluarga, mereka pun mengharapkan aku menjadi seorang arsitek. Itu jadi jalan tengah bagi semua orang. Jadi, di tengah-tengah aku kuliah arsitektur, tiba-tiba saja aku berhenti melukis dan mulai menulis novel.

Anda sudah punya bayangan novel pertama Anda saat memutuskan keluar? Dan, apakah itu jadi alasan utama Anda?

Sejauh yang kuingat, aku ingin menjadi novelis sebelum aku tahu apa yang bakal aku tulis. Kau tahu, saat aku mulai menulis, aku melakukan dua atau tiga kesalahan saat memulai. Aku masih punya buku catatannya. Namun, kira-kira enam bulan berikutnya, aku mulai proyek novel pertamaku dan akhirnya diterbitkan dengan judul Cevdet Bey dan His Sons.

Novel itu belum diterjemahkan dalam bahasa Inggris?

Buku itu bercerita tentang drama keluarga, seperti Forsyte Saga atau Buddenbrooks karya Thomas Mann. Tidak lama setelah aku menyelesaikannya, aku mulai menyesali menulis dengan gaya jadul. Aku menyesal menulis novel itu karena, sekitar umur 25 atau 26, aku memaksa diriku untuk menjadi pengarang modern. Novel itu akhirnya diterbitkan, kira-kira saat aku berusia 30 tahun. Saat itu, tulisanku pun jauh lebih eksperimental.

Anda bilang ingin lebih modern dan eksperimental, apa Anda punya model panutan di kepala?

Saat itu, penulis besar bagiku bukan lagi Tolstoy, Dostoyevsky, Stendhal, atau Thomas Mann. Panutanku, Virginia Woolf dan Faulkner. Sekarang, aku akan menambahkan Proust dan Nabokov dalam daftar itu.

Pembukaan novel The New Life: “Suatu hari aku membaca buku dan seluruh hidupku berubah.” Adakah buku yang berefek seperti itu dalam diri Anda?

The Sound and the Fury (karya William Faulkner) sangat penting bagiku saat aku berusia 21 atau 22. Aku membeli edisi Penguin. Sangat sulit dipahami, apalagi bahasa Inggrisku buruk. Tapi, ada versi terjemahan bahasa Turki yang sangat bagus. Aku bisa menyandingkan keduanya di atas meja dan membaca paragraf demi paragraf dari satu edisi ke edisi satunya. Buku itu sangat membekas dalam diriku. Residunya terlihat dalam suara-suara yang kukembangkan. Aku mulai menulis dengan sudut pandang orang pertama. Aku lebih nyaman menyamar menjadi orang lain ketimbang menulis dengan sudut pandang orang ketiga.

Anda bilang butuh bertahun-tahun sebelum novel pertama Anda terbit?

Saat aku berusia dua puluhan, aku tidak punya teman di lingkaran sastra. Aku tidak bergabung dengan kelompok-kelompok sastra di Istanbul. Satu-satunya jalan buku pertamaku bisa diterbitkan melalui kompetisi sastra untuk naskah yang belum pernah diterbitkan di Turki. Aku ikut dan memenangkan hadiah—yakni novelku diterbitkan penerbit ternama. Mereka bilang, kami akan mengontrakmu, tapi mereka menunda menerbitkan novelku.

Apakah di novel kedua Anda jadi lebih mudah—lebih cepat?

Buku keduaku lebih politis, tapi bukan buku propaganda. Aku sudah menulisnya saat aku menunggu buku pertamaku terbit. Aku sudah memberikan buku itu kira-kira dua setengah tahun. Tiba-tiba, suatu malam, kudeta meletus. Terjadi pada 1980. Esoknya seharusnya buku pertamaku terbit. Cevdet Bey belum bisa diterbitkan, meski kami punya kontrak.

Aku menyadari saat itu, bila aku menyelesaikan buku keduaku—yang lebih politik—hari itu, aku takkan bisa menerbitkan buku itu untuk 5 atau 6 tahun karena militer takkan mengizinkan. Lalu, pikiran-pikiran buruk di kepalaku: di umur 22 aku pernah bilang aku akan menjadi novelis dan dalam 7 tahun buku pertamaku akan terbit di Turki … Kini, aku hampir 30 tahun dan sepertinya aku tidak akan menerbitkan apa pun. Aku masih punya 250-an halaman novel politik di laciku.

Segera setelah kudeta militer usai, aku mulai menulis novel ketigaku—buku yang Anda maksud—The Silent House. Itulah yang kukerjakan pada 1982 saat buku pertamaku akhirnya terbit. Cevdet diterima dengan baik. Lalu aku berpikir, aku bisa menerbitkan buku yang sedang aku tulis sebelumnya. Ya, buku ketiga yang kutulis merupakan yang kedua diterbitkan.

Apa yang membuat novel Anda tidak bisa diterbitkan saat rezim militer berkuasa?

Tokoh utamanya bangsawan muda Marxis. Ayah dan ibunya akan pergi ke resor musim panas. Mereka mempunyai rumah-rumah besar nan luas dan menikmati menjadi seorang Marxis. Mereka bertengkar dan saling iri. Serta, berencana meledakkan perdana menteri.

Lingkaran elite revolusioner?

Pemuda-pemuda kelas atas dengan kebiasaan orang superkaya yang mencoba menjadi ultraradikal. Tapi, aku tidak mencoba membuat penghakiman moral. Sebaliknya, justru aku sedang meromantisasi masa mudaku. Ide melemparkan bom ke perdana menteri sudah cukup untuk melarang buku itu.

Jadi, aku tidak menyelesaikannya. Kau akan berubah saat kau menulis beberapa buku. Kau tidak bisa menganggap dirimu sebagai seseorang yang sama lagi. Kau tidak akan bisa melanjutkan seperti sebelumnya. Setiap buku yang ditulis pengarang menggambarkan perkembangannya. Novel bisa dilihat sebagai perkembangan jiwa pengarangnya. Jadi, kau tidak bisa mundur. Setelah kelenturan fiksi mati, kau tidak bisa memindahkannya lagi.

Saat Anda mulai bereksperimen dengan ide-ide, bagaimana Anda memilih bentuk novel Anda? Apa Anda memulai dengan gambar, dengan sebuah kalimat pembuka?

Tak ada formula tetap. Tapi, bagiku, aku tidak akan menulis dua novel dengan gaya yang sama. Aku mencoba mengubah segalanya. Itulah mengapa sebagian besar pembacaku bilang, “Aku suka novel-novel Anda”, atau, “Aku tidak bisa menikmati novel-novel Anda hingga Anda menulis novel ini”—aku mendengar itu, khususnya tentang The Black Book. Sebenarnya, aku membenci mendengarnya. Sangat menyenangkan dan menantang saat bereksperimen dalam bentuk dan gaya; bahasa, suasana, dan persona; serta memikirkan tiap buku secara berbeda.

Ide cerita bisa datang padaku dari berbagai cara. Di Namaku Merah, misalnya, aku ingin menulis tentang ambisiku menjadi seorang pelukis. Aku agak keliru memulai novel itu. Aku memulai dengan menulis sebuah monografi yang berfokus pada satu pelukis. Kemudian, aku mengubah yang tadinya satu pelukis menjadi beragam pelukis yang bekerja bersama di satu studio seni.

Sudut pandang berubah, sebab ada pelukis lain yang berbicara. Awalnya, aku mau menulis tentang pelukis kontemporer, tapi pelukis Turki itu tidak terlalu organik, terlalu terpengaruh Barat. Jadi, aku menarik jauh dan akhirnya menulis tentang miniaturis. Ya, begitulah aku menemukan ide.

Beberapa ide juga memerlukan inovasi-inovasi formal tertentu atau beberapa strategi bercerita. Kadang-kadang, misalnya saja, kau baru saja melihat sesuatu, atau membaca sesuatu, atau menonton film, atau membaca berita di koran, lalu kau kepikiran, “Aku akan membuat kentang berbicara, atau anjing atau pohon.” Sekali kau dapat ide, kau akan mulai memikirkan keselarasan dan kesinambungan dalam novel. Lalu kau akan berpikir, “Luar biasa, belum ada yang melakukan ini sebelumnya.”

Akhirnya, aku memikirkan banyak hal selama bertahun-tahun. Aku mungkin saja mendapatkan beragam ide, lalu aku menceritakan ke teman-teman terdekatku. Aku menyimpan banyak sekali buku catatan yang mungkin saja menjadi novel-novel yang bakal kutulis. Kadang-kadang, aku tidak menulisnya, tapi ketika aku buka lagi buku catatan dan mulai membaca catatan itu, rasanya seperti aku akan menulis sebuah novel. Jadi, ketika aku menyelesaikan satu novel, perasaanku mungkin tertuju pada salah satu catatan-catatan itu. Dan, dua bulan setelah menyelesaikan, aku akan memulai menulis lainnya.

Banyak novelis tidak akan mendiskusikan karya yang sedang dikerjakan. Apa Anda juga merahasiakan?

Aku tidak pernah mendiskusikan cerita. Di acara-acara resmi, ketika seseorang bertanya apa yang sedang kutulis, aku jawab dalam satu kalimat: novel yang berlatar di Turki kontemporer. Aku cuma terbuka pada beberapa orang dan hanya ketika aku tahu mereka tidak akan menyakitiku. Aku akan membuat gimmicks, misalnya aku nyletuk tiba-tiba soal ide di kepalaku. Aku suka melihat orang-orang bereaksi dengan gimmick itu. Memang agak kekanak-kanakan. Aku banyak membuat gimmicks saat mengerjakan Istanbul. Pikiranku seperti seorang anak-anak yang gemar bermain dan mencoba menunjukkan kepintaranku ke ayah.

Bukannya gimmick punya konotasi jelek?

Kau memang memulai dengan gimmick, tapi bila kau percaya di dalam itu ada muatan sastra dan moral yang serius, pada akhirnya, gimmick itu jadi penemuan sastra. Lalu, benar-benar menjadi karya sastra.

Kritikus selalu menempatkan novel-novel Anda sebagai novel pascamodern. Tapi, saya merasa Anda menggunakan strategi naratif dengan mengambil sumber-sumber tradisional. Misalnya saja, Anda mengambil dari Seribu Satu Malam atau tradisi sastra Timur lainnya.

Itu dimulai dari The Black Book, meski aku juga sudah lama membaca Borges dan Calvino. Aku ke Amerika Serikat pada 1985. Lalu, di sana aku pertama kali menemukan kelebihan dan keunggulan kebudayaan Amerika. Sebagai seorang Turki dari Timur Tengah dan sedang membangun diri sebagai seorang pengarang, aku jadi merasa terintimidasi. Jadi, aku memilih mundur dan kembali ke “akarku”. Aku sadar, pengarang generasiku harus menciptakan model sastra modern nasional.

Borges dan Calvino membebaskanku. Sastra Islam tradisional punya konotasi buruk, terlalu reaksioner, politis, dan digunakan kelompok konservatif dengan cara kuno dan serampangan. Aku tidak akan menghasilkan apa pun dengan bahan itu. Namun, aku jadi tersadar, aku bisa kembali ke bahan-bahan itu dengan kerangka berpikir Calvinosian dan Borgesian. Aku harus mulai membedakan makna literatur Islam antara agama dan kesastraannya. Dengan begitu, aku bisa dengan mudah memanfaatkan kekayaan intrik, gimmick, dan parabel. Turki juga punya tradisi sastra yang adiluhung dan halus. Namun kemudian, pengarang yang punya kecenderungan memandang sastra sebagai tanggung jawab sosial malah mengosongkan sastra dari inovasi.

Ada banyak sekali alegori yang diulang dalam tradisi lisan—Tiongkok, India, Persia. Aku memutuskan menggunakan itu dan meletakkan dalam konteks Istanbul kontemporer. Ini adalah eksperimen—meletakkan semuanya dalam satu kesatuan, seperti kolase aliran Dadais. The Black Book punya kualitas tersebut. Terkadang semua sumber bisa melebur dan bentuk baru pun muncul. Jadi, aku tulis ulang semua itu dengan latar Istanbul, ditambahi plot detektif, dan jadilah The Black Book. Namun, itu semua bisa terjadi lantaran kebudayaan Amerika dan keinginanku untuk menjadi pengarang eksperimental. Aku tidak bisa menulis kritik sosial tentang permasalahan Turki—aku malah terintimidasi dengan itu. Jadi, aku harus mencoba sesuatu yang lain.

Apakah Anda pernah tertarik menulis kritik sosial melalui sastra?

Tidak. Aku justru berkebalikan dengan pengarang generasi tua, terutama generasi 80-an. Dengan penuh penghormatan, aku bisa bilang pokok bahasan mereka terlalu sempit dan terbatas.

Mari mundur sebentar sebelum The Black Book. Apa yang menginspirasi Anda menulis The White Castle? Buku itu, kalau tidak salah, merupakan kali pertama Anda menggunakan tema yang nantinya Anda gunakan terus-menerus di novel-novel Anda, yakni impersonasi. Kenapa Anda sangat suka dengan ide itu dan selalu muncul di karya Anda?

Baca Juga:  Jorge Luis Borges: Ada Kemujuran Menjadi Seseorang yang Tidak Bisa Melihat

Itu sangat personal. Aku punya kakak yang sangat kompetitif. Ia lebih tua 18 bulan diriku. Di satu sisi dia itu ayahku—bisa dikatakan ayah Freudian. Dia merupakan alter egoku dan representasi otoritas. Selain itu, kami juga punya ikatan kakak-adik yang kompetitif. Hubungan yang cukup rumit. Aku kerap menulis tentang itu di Istanbul.

Aku merupakan pemuda Turki kebanyakan, cukup bagus bermain sepak bola dan sangat senang dengan segala macam pertandingan maupun kompetisi. Dia sangat berhasil di sekolah, jauh lebih baik dari aku. Aku iri dengannya dan dia iri denganku. Dia tipe orang yang rasional dan bertanggung jawab. Ketika aku tertarik dengan jalannya pertandingan, dia justru tertarik dengan aturan-aturan pertandingan. Kami selalu berkompetisi.

Aku pun membayangkan menjadi dirinya. Semacam menjadikannya model. Rasa iri, cemburu—itu adalah tema yang kerap muncul dalam diriku. Aku selalu khawatir seberapa besar kekuatannya atau kesuksesannya bakal memengaruhi diriku. Inilah bagian terpenting dalam diriku.

Aku sadar tentang perasaan itu. Aku pun memberikan jarak antara diriku dan perasaan itu. Aku tahu mereka buruk, jadi aku punya semangat seseorang yang sudah tercerahkan untuk melawan perasaan itu semua. Aku tidak bilang aku merupakan korban dari rasa iri. Tapi, hal inilah yang kerap kulawan sepanjang waktu. Dan, tentu saja, akhirnya hal tersebut menjadi tema dalam semua karya-karyaku. Di The White Castle, misalnya, hubungan sadomasokis antara dua tokoh utama itu berdasarkan hubunganku dengan kakakku.

“Kecemburuan ini—kecemasan lantaran terpengaruh seseorang—menyerupai posisi Turki saat melihat Barat.”

Di satu sisi, tema impersonasi ini merupakan refleksi dari kerapuhan Turki saat berhadapan dengan kebudayaan Barat. Setelah menulis The White Castle, aku menyadari, kecemburuan ini—kecemasan lantaran terpengaruh seseorang—menyerupai posisi Turki saat melihat Barat. Kau tahu, ingin menjadi Barat dan lalu dituduh kehilangan akar. Mencoba meraih semangat Eropa dan merasa bersalah karena meniru. Pasang surut perasaan ini mirip sekali dengan hubungan kompetitif antar-saudara kandung.

Anda percaya perselisihan antara Turki Barat dan Timur akan bisa selesai secara damai?

Aku seorang optimis. Turki seharusnya tidak perlu khawatir punya dua semangat, punya dua kebudayaan berbeda, dan punya dua jiwa. Skizofrenia membuat kau cerdas. Kau mungkin saja kehilangan hubungan dengan realitas—aku seorang pengarang fiksi, jadi aku tidak berpikir hal itu buruk—tapi seharusnya tidak perlu khawatir dengan skizofreniamu. Bila kau terlalu khawatir dengan salah satu bagian, yang satu itu akan membunuh yang lain. Lalu, kau akan hidup dengan satu semangat. Itu lebih buruk dari mengidap penyakit. Ya, itu teoriku. Aku mencoba menyebarkan pandangan ini dalam politik Turki, kepada para politikus Turki yang meminta agar negeri ini punya satu jiwa utuh—yang seharusnya menjadi milik Timur, Barat, atau kelompok nasionalis. Aku sangat kritis dengan pemikiran monistik.

Bagaimana pemikiran itu bisa berterima di Turki?

Semakin ide demokratis liberal di Turki terbentuk, semakin besar kemungkinan pemikiranku diterima. Turki bisa bergabung dengan Uni Eropa hanya dengan visi itu. Cara itu merupakan cara untuk melawan nasionalisme berlebihan dan memerangi retorika “Kita melawan Mereka”.

Namun, di Istanbul, cara Anda meromantisasi kota, Anda terlihat sangat kehilangan dengan runtuhnya Kekaisaran Ottoman.

Aku tidak berduka dengan runtuhnya Ottoman. Aku orang yang sudah menyerap kebudayaan Barat. Aku senang dengan proses pembaratan. Aku hanya mengkritisi cara berpikir sempit dari elite penguasa—birokrat dan orang kaya baru—dalam memandang pembaratan.

Mereka tidak cukup percaya diri dalam menciptakan kebudayaan nasional yang kaya akan simbol dan ritualnya sendiri. Mereka tidak berusaha menciptakan kebudayaan Istanbul yang bisa saja menjadi kombinasi alami antara Timur dan Barat. Mereka cuma meletakkan Timur dan Barat secara bersamaan.

Tentu saja ada kebudayaan Ottoman setempat yang kuat, namun lama-lama kebudayaan itu pudar. Yang mereka bisa lakukan—dan tidak mungkin bisa dilakukan—adalah menciptakan budaya lokal yang kuat dan merupakan kombinasi—bukan imitasi—dari kebudayaan masa lalu Timur dan masa kini Barat.

Aku mencoba hal yang sama dalam buku-bukuku. Barangkali, generasi berikutnya akan melakukannya dan bergabung dengan Uni Eropa tidak akan menghancurkan identitas Turki, tapi malah memperkaya dan memberikan kita kebebasan dan kepercayaan diri dalam menciptakan kebudayaan baru Turki. Meniru mentah-mentah budaya Barat dan budaya lama Ottoman yang sudah mati bukanlah solusi. Kau harus melakukan sesuatu dengan hal itu dan tidak perlu khawatir bila punya terlalu banyak dari salah satu kebudayaan.

Di Istanbul, bagaimanapun, Anda seperti melihat Istanbul dengan kacamata Barat atau tatapan asing.

Tapi, aku juga menjelaskan kenapa seorang intelektual Turki yang kebarat-baratan bisa mengidentifikasi dengan cara pandang Barat. Identitas Istanbul adalah proses identifikasi terus-menerus dengan Barat. Selalu ada dikotomi ini dan kau juga bisa dengan mudah mengindentifikasi dengan kemarahan Timur pula.

Setiap orang kadang bisa menjadi Barat dan terkadang pula Timur—sebenarnya, sebuah kombinasi antara keduanya. Aku suka gagasan Edward Said tentang orientalisme, namun lantaran Turki tidak pernah menjadi negeri jajahan, romantisasi Turki tidak pernah menjadi masalah bagi orang-orang Turki. Orang Barat tidak pernah menghina orang Turki seperti mereka menghina orang-orang Arab dan India.

Istanbul hanya diserang selama dua tahun dan kapal-kapal tunggal langgang seketika seperti mereka tiba. Jadi, itu tidak menimbulkan luka yang dalam. Justru, luka dalam itu masih terasa ketika kehilangan Ottoman. Jadi, aku pun tidak punya kebimbangan yang membuat orang-orang Barat memandang rendah diriku. Meski, setelah pendirian Republik, ada intimidasi karena orang-orang Turki ingin westernisasi tapi tidak bisa total. Ini meninggalkan inferioritas kebudayaan yang harus kami atasi—dan mungkin aku juga terkadang memiliki perasaan itu.

Luka ini tidak sedalam seperti bangsa-bangsa lain yang harus terjajah selama dua ratus tahun. Bangsa Turki tidak pernah ditindas oleh kekuatan Barat. Penindasan yang dialami bangsa Turki lantaran ulah mereka sendiri. Kami menghapus sejarah kami karena itu sudah dilakukan turun-temurun. Di penindasan itu, muncullah kerapuhan. Sayangnya, pembaratan yang dipaksakan justru membuat Turki terisolasi. Bangsa India melihat para penjajah mereka langsung berhadapan muka. Sementara, bangsa Turki anehnya justru terisolasi dari dunia Barat yang mereka tiru. Pada 1950-an dan bahkan hingga 1960-an, ketika orang asing menginap di Istanbul Hilton, dia akan diberitakan semua surat kabar nasional.

Apa Anda percaya adanya sebuah kanon atau semacam hal itu harus ada? Kami mendengar ada kanon di kebudayaan Barat, tapi bagaimana dengan kanon kebudayaan non-Barat?

Ya, tentu saja ada kanon lainnya. Itu harus ditemukan, kembangkan, bagikan, kritik, dan diterima. Sekarang, kanon di dunia Timur mungkin saja sudah hancur. Karya-karya agung ada di sekitar kami, tapi tidak ada yang ingin menyatukan. Dari karya klasik Persia hingga semua teks India, Tiongkok, dan Jepang. Semua itu harus ditempatkan secara kritis. Seperti saat ini, kanon ada di tangan para sarjana Barat. Merekalah pusat distribusi dan komunikasi.

Novel merupakan bentuk kebudayaan yang sangat Barat. Apakah bisa diterima di tradisi Timur?

Novel modern, yang berbeda dengan bentuk epik, tentu saja produk non-Oriental. Sebab, seorang novelis adalah pribadi yang tidak terikat pada satu masyarakat, tidak berbagi naluri alamiah masyarakat, serta tidak pula berpikir dan menghakimi kebudayaan lain yang berbeda dengan kebudayaannya. Begitu ia punya kesadaran berbeda dengan masyarakatnya, ia adalah orang asing, penyendiri. Kekayaan karya itu akan muncul dari pengamatan sebagai orang asing.

Sekali kau mengembangkan kebiasaan memandang dunia seperti itu dan menulis dengan cara itu pula, kau sudah punya keinginan untuk melepaskan diri dari masyarakatmu. Cara ini aku lakukan saat menulis Salju.

“Seorang novelis adalah pribadi yang tidak terikat pada satu masyarakat, tidak berbagi naluri alamiah masyarakat, serta tidak pula berpikir dan menghakimi kebudayaan lain yang berbeda dengan kebudayaannya.”

Salju adalah novel Anda yang paling politis dan baru saja diterbitkan. Bagaimana Anda memikirkan cerita itu?

Saat aku mulai dikenal di Turki, kira-kira pada pertengahan 1990-an—saat itu terjadi perang melawan gerilyawan Kurdi, para pengarang kiri dan liberal modern baru meminta bantuanku agar ikut menandatangani petisi. Mereka mulai memintaku untuk melakukan hal-hal berbau politik yang tidak berkaitan dengan buku-bukuku.

Seketika itu pula ada serangan balik dengan cara-cara pembunuhan karakter. Mereka mulai menyebut-nyebut namaku. Aku sangat marah. Lalu, aku pun berpikir, bagaimana kalau aku menulis novel politik yang berdasarkan dilema spiritual yang kualami sendiri—datang dari keluarga menengah ke atas dan merasa turut bertanggung jawab kepada mereka yang tidak terwakili?

Aku percaya dengan novel. Rasanya aneh hal tersebut membuat dirimu menjadi orang asing. Aku bicara pada diri sendiri, aku akan menulis novel politik. Aku langsung memulai usai merampungkan Namaku Merah.

Mengapa Anda mengambil latar di kota kecil, Kars?

Kars terkenal sebagai kota terdingin di Turki. Juga termiskin. Di awal 1980-an, seluruh headline surat kabar Turki memberitakan kemiskinan Kars. Bahkan, seseorang mengalkulasi seluruh Kota Kars bisa dibeli dengan US$1 juta. Situasi politik sangat sulit saat aku hendak pergi ke sana. Di sekitar kota, sebagian besar dihuni oleh suku Kurdi, namun di pusat kota, kebanyakan dihuni suku Kurdi, Azerbaijan, Turki, dan lain sebagainya. Ada pula orang-orang Rusia dan Jerman. Ada perbedaan aliran, Syiah dan Sunni.

Perang antara pemerintah Turki dan gerilyawan Kurdi begitu sengit sehingga sangat mustahil ke sana sebagai seorang turis. Aku tahu, aku takkan bisa ke sana sebagai seorang pengarang. Lalu, aku bertanya kepada editor surat kabar yang kukenal untuk meminta kartu pers agar bisa masuk ke Kars. Dia seorang yang berpengaruh dan dia memanggil wali kota dan kepala kepolisian hanya untuk memberitahu bahwa aku akan datang.

Segera selepas aku sampai, aku mengunjungi wali kota dan berjabat tangan dengan kepala kepolisian sehingga aku tidak akan ditangkap di tengah jalan. Sayangnya, beberapa polisi—yang tidak tahu aku sudah izin ke wali kota dan kepala polisi—menangkapku di jalan dan mungkin saja bermaksud menyiksaku. Aku pun segera menyebut nama—aku kenal wali kota, aku kenal kepala polisi… Ya, di sana aku sosok yang mencurigakan. Meskipun secara teori Turki adalah negara bebas, setiap orang asing akan dicurigai hingga kira-kira tahun 1999. Semoga sekarang, kondisinya jauh lebih mudah.

Sebagian besar tokoh dan tempat di dalam buku berdasarkan kenyataan faktual. Misalnya saja, surat kabar lokal yang hanya menjual 252 eksemplar itu memang benar-benar ada. Aku pergi ke Kars dengan kamera dan handycam. Aku merekam semua dan kembali ke Istanbul lalu kutunjukkan kepada teman-temanku.

Semua orang menganggapku gila. Ada hal lain yang benar-benar terjadi. Seperti percakapan editor surat kabar kecil yang aku gambarkan di novel. Dia—editor itu—menceritakan apa yang dilakukan Ka kemarin dan Ka menanyakan bagaimana dia tahu, lalu editor itu menceritakan bahwa dia mendengarkan walke-talkie polisi. Polisi di Kars mengikuti Ka sepanjang hari. Hal itu nyata. Dan mereka juga mengikutiku.

Seorang pembawa berita stasiun TV lokal memberitakan diriku di TV dengan menyebut penulis terkenal kita sedang menulis artikel untuk koran nasional—Itu jadi berita penting sekali di Kars. Saat itu, pemilihan wali kota akan diadakan sehingga penduduk Kars dengan senang hati membukakan pintunya untukku. Mereka semua ingin menyampaikan sesuatu di koran nasional agar pemerintah pusat tahu bagaimana miskinnya mereka. Mereka tidak tahu aku akan menuliskan semua itu ke dalam novel. Mereka pikir aku akan memasukkan itu semua menjadi artikel berita. Aku harus akui, ini membuatku sangat terhina dan terlihat kejam, meski aku juga berpikir akan membuat satu artikel.

Empat tahun berlalu. Aku kerap bolak-balik ke sana. Ada sebuah kedai kopi kecil, tempat biasa aku menulis dan membuat beberapa catatan. Salah satu temanku—seorang fotografer yang kuundang untuk menemani karena Kars sangat indah saat musim dingin—tak sengaja mendengar percakapan di kedai kopi itu. Orang-orang berbisik-bisik di antara mereka ketika aku menulis beberapa catatan. “Artikel apa yang dia tulis?” “Sudah tiga tahun di sini, waktu yang cukup untuk menulis sebuah novel.” Lalu mereka melirik ke arahku.

Baca Juga:  Menyusun Kepingan Namaku Merah

Lalu apa reaksi terhadap buku itu?

Di Turki, baik kubu konservatif—atau para Islamis—dan sekularis sangat marah. Tapi, mereka tidak sampai melarang buku atau mencelakaiku. Tapi, mereka sangat marah dan menuliskannya di harian surat kabar nasional.

Para sekularis marah karena aku menulis bahwa dampak menjadi seorang sekularis radikal di Turki adalah kau akan lupa bahwa kau juga harus menjadi seorang demokrat. Kekuasaan orang-orang sekularis berasal dari kelompok militer. Hal ini menghancurkan demokrasi Turki dan kebudayaan toleran.

Sekali kau banyak melibatkan militer dalam dunia politik, orang-orang kehilangan kepercayaan diri dan mengandalkan tentara dalam menyelesaikan semua masalahnya. Orang-orang biasanya bilang, “Negara dan ekonomi sedang buruk, panggil tentara untuk membersihkannya.” Namun, saat mereka membersihkannya, mereka juga menghancurkan budaya toleran. Banyak orang yang dicurigai disiksa, ratusan orang dipenjara.

Lalu, ini membuka jalan kudeta militer baru. Selalu ada kudeta tiap 10 tahun sekali. Jadi, aku mengkritik kaum sekularis terhadap ini. Mereka juga tidak suka aku menggambarkan kelompok Islamis sebagai manusia.

Kelompok Islamis juga marah karena aku menulis seorang Islamis yang suka berhubungan seksual di luar pernikahan. Itu contoh-contoh sederhana. Para Islamis selalu mencurigaiku sebab aku tidak berasal dari kebudayaan mereka dan karena aku punya bahasa, kebiasaan, bahkan gestur yang sangat kebarat-baratan dan semacam orang penting. Mereka punya masalah tersendiri, terutama soal representasi diri mereka. Lalu mereka bertanya, “bagaimana bisa dia menulis tentang kita dengan cara begitu?” Mereka tidak mengerti. Hal ini juga saya masukkan ke dalam novel.

Tapi, aku tidak ingin melebihi-lebihkan. Aku selamat. Mereka semua membaca buku. Mereka mungkin akan marah, tapi ini merupakan tanda-tanda munculnya pemikiran liberal bahwa mereka menerimaku dan bukuku seperti halnya mereka. Reaksi penduduk Kars juga terbelah. Beberapa bilang, “Ya, begitulah kehidupan di sini.” Beberapa lainnya bilang, biasanya nasionalis Turki, gelisah karena kau menyebut-nyebut orang-orang Armenia. Misalnya saja penyiar TV meletakkan bukuku di plastik hitam dan mengirimkan ke alamatku. Lalu dia bilang di konferensi pers bahwa aku melakukan propaganda Armenia—yang tentu saja tidak masuk akal. Kami ternyata masih punya pandangan nasionalis yang sempit.

Apa buku itu menjadi terkenal seperti buku (Salman) Rushdie?

Tidak, tidak sama sekali.

Buku itu sangat suram dan pesimistis. Satu-satunya tokoh dalam keseluruhan novel yang bisa mendengarkan kedua sisi—Ka—pada akhirnya dibenci semua orang.

Aku mungkin saja mendramatisasi posisiku sebagai pengarang di Turki. Meski, dia (Ka) tahu dia dihina, dia senang bisa terus berbicara dengan semua orang. Dia juga punya insting bertahan hidup yang sangat kuat. Ka dihina karena mereka melihatnya sebagai mata-mata Barat—dan ini juga mereka katakan berkali-kali tentang diriku.

Soal kesuraman, aku setuju. Tapi, humor adalah jalan keluar. Ketika orang bilang buku itu suram, aku akan bilang, bukankah itu lucu? Aku pikir ada banyak humor di buku itu. Setidaknya, aku bermaksud demikian.

Komitmen Anda dalam dunia fiksi menempatkan Anda pada masalah. Kemungkinan akan membawa Anda pada masalah lebih besar. Itu artinya, ada hubungan sosial yang terputus. Hal itu jadi harga mahal yang harus dibayar.

Ya, tapi ini merupakan hal yang luar biasa. Ketika aku bepergian, dan tidak sendirian di meja kerjaku, setelah beberapa saat, aku mengalami depresi. Aku lebih suka ketika aku sendirian di kamar dan berkarya. Lebih dari sebuah komitmen untuk kesenian atau kerajinan yang aku curahkan. Ini seperti sebuah komitmen untuk sendirian di dalam kamar.

Aku terus melakukan ritual ini, percaya apa yang aku lakukan suatu hari akan diterbitkan dan melegitimasi setiap lamunanku. Aku butuh waktu sendirian di meja dengan kertas dan pulpen, seperti orang-orang yang membutuhkan obat untuk kesehatannya. Aku senang dengan kebiasaan ini.

Untuk siapa Anda menulis?

Ketika kehidupanmu semakin pendek, kau akan sering bertanya pada diri sendiri. Aku telah menulis tujuh novel. Aku ingin menulis tujuh novel lagi sebelum aku meninggal. Tapi, hidup ini singkat bukan, kenapa tidak menikmatinya saja? Kadang-kadang aku memaksa diriku. Apa yang kulakukan? Apa sebenarnya makna di balik semua ini?

Pertama, seperti kataku tadi, ini adalah insting untuk sendirian di dalam kamar. Kedua, ada jiwa kompetitif anak-anak dalam diriku agar terus menulis buku bagus lagi. Aku tidak terlalu percaya pada keabadian pengarang. Kita membaca sangat sedikit buku dari 200 tahun yang lalu. Semuanya berubah terlalu cepat. Buku-buku hari ini mungkin akan segera dilupakan seratus tahun lagi. Sangat sedikit yang bakal dibaca. Dua ratus tahun lagi, mungkin hanya lima buku yang masih bisa dibaca.

Apakah aku yakin aku menjadi salah satu dari lima itu? Tapi, apakah itu makna sebenarnya menulis? Mengapa aku harus khawatir karyaku tidak dibaca dua ratus tahun lagi? Haruskah aku khawatir untuk hidup lebih lama lagi? Apa aku butuh semacam penghiburan dengan bilang karyaku akan dibaca di masa depan?

Aku memikirkan semuanya dan aku terus menulis. Aku tidak tahu alasannya. Tapi aku tidak menyerah. Keyakinan buku-bukumu akan dibaca dan berpengaruh di masa depan merupakan satu-satunya hiburan yang kamu miliki dalam hidup ini.

Anda adalah pengarang laris di Turki, tapi buku-buku Anda yang terjual di Turki justru kalah dengan di luar negeri. Karya Anda sudah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa. Lalu, apakah Anda sekarang memikirkan pembaca dalam skala global saat menulis? Singkatnya, apakah Anda sekarang menulis untuk pembaca yang berbeda?

Aku sadar, pembacaku saat ini bukan terbatas pembaca nasional semata. Namun, bahkan, saat aku mulai menulis, aku mungkin sudah menjangkau kelompok pembaca yang lebih luas. Ayahku sering bilang di belakang teman-teman penulis Turki-nya bahwa mereka menulis hanya untuk pembaca Turki.

Ada masalah ketika mengetahui jumlah pembaca, apakah nasional atau internasional. Aku tidak bisa menghindari masalah ini sekarang. Dua buku terakhirku rata-rata dibaca lebih dari setengah juta pembaca di seluruh dunia. Aku tidak bisa menyangkal keberadaan mereka. Di satu sisi, aku menulis bukan untuk menyenangkan mereka.

Aku juga percaya bahwa para pembacaku akan yakin dengan apa yang kukerjakan. Aku menjadikan ini masalah pribadiku, dari awal. Ketika aku merasakan ekspektasi pembaca, aku akan melarikan diri. Bahkan, dalam komposisi kalimat-kalimatku—aku menyiapkan sesuatu untuk pembaca dan kemudian aku akan mengejutkannya. Mungkin, itu yang membuatku senang dengan kalimat-kalimat panjang.

Untuk sebagian besar pembaca non-Turki, keunikan karya Anda ada pada latar Turki yang kerap Anda gunakan. Lalu, bagaimana Anda membedakan karya Anda dalam konteks Turki?

Ada sebuah permasalahan yang dalam istilah Harold Bloom disebut “kegelisahan kepengaruhan”. Seperti semua pengarang, aku juga mengalaminya saat aku muda. Di awal usia 30-an, aku selalu berpikir mungkin aku akan banyak terpengaruh Tolstoy atau Thomas Mann—aku terobsesi dengan prosa lembut dan aristokratik di novel pertamaku. Itu terjadi begitu saja dalam diriku, meski aku mungkin saja mempunyai teknik yang tidak asli. Kenyataannya, aku hidup di bagian dunia ini, jauh dari Eropa—atau setidaknya itu terlihat seperti itu saat ini—mencoba menarik perhatian pembaca lain dari kebudayaan dan kesejarahan lain pula. Hal itu secara tidak langsung menciptakan orisinalitas dalam karyaku, meski diperoleh dengan murah. Itu pekerjaan yang sulit, sebab teknik seperti itu tidak bisa diterjemahkan atau berpindah dengan mudah.

Formula orisinalitas itu sangat sederhana—letakkan bersama dua hal yang tidak bersama sebelumnya. Lihat Istanbul, sebuah esai tentang kota dan bagaimana penulis-penulis asing tertentu—Flaubert, Nerval, Gautier—memandang kota itu dan bagaimana pandangan mereka memengaruhi kelompok penulis Turki tertentu. Lalu, kombinasikan esai ini dengan penemuan lanskap romantis Istanbul, jadilah sebuah autobiografi. Tidak ada orang yang melakukannya sebelumnya. Ambil risiko dan kau akan menemukan sesuatu yang baru. Aku mencoba itu di buku Istanbul untuk membuat sebuah karya orisinal. Aku tidak tahu apakah itu akan sukses. The Black Book hampir mirip juga—kombinasi dunia Proustian yang penuh nostalgia serta alegori, cerita, dan trik Islamik, lalu semua itu dimasukkan dalam latar Istanbul dan lihat apa yang terjadi.

Di Istanbul, sangat terasa sekali bahwa Anda merupakan sosok yang sangat kesepian. Anda tentu saja sendirian sebagai pengarang modern Turki hari ini. Anda tumbuh dan terus hidup di dunia yang Anda sendiri ingin lepaskan.

Meskipun aku dibesarkan di keluarga yang penuh sesak dan diajarkan untuk menghargai masyarakat, aku kemudian terdorong untuk melepaskan diri. Ada sisi diriku yang senang menghancurkan diri sendiri, dan dalam kegeraman serta saat-saat sedang marah, aku bisa saja melakukan sesuatu yang membuatku terlepas dari kelompok masyarakat yang nyaman ini. Saat aku kecil, aku sadar kelompok masyarakat itu membunuh imajinaku. Aku butuh rasa sakit dari kesepian untuk bisa membangkitkan imajinasiku lagi. Lalu, aku bisa kembali bahagia.

Namun, menjadi seorang Turki, setelah beberapa saat, aku masih membutuhkan kelembutan dan penghiburan dari masyarakat, yang mungkin saja sudah aku hancurkan. Istanbul menghancurkan hubunganku dengan ibuku—kami tidak pernah saling bertemu lagi. Dan tentu saja, aku jarang sekali bertemu kakakku. Hubunganku dengan masyarakat Turki, lantaran beberapa komentar terbaruku, juga makin susah.

Seberapa Turki-kah Diri Anda?

Pertama, aku dilahirkan sebagai bangsa Turki. Aku bahagia dengan itu. Di mata internasional, aku dianggap lebih Turki dari yang kurasakan sendiri. Aku dikenal sebagai penulis Turki. Ketika Proust menulis tentang cinta, dia dilihat sebagai seseorang yang sedang membicarakan cinta universal. Di awal kepenulisannku, ketika aku menulis cinta, orang-orang akan bilang aku menulis tentang cinta menurut orang Turki.

Ketika karyaku mulai diterjemahkan, orang-orang Turki bangga. Mereka mengklaim aku bagian dari mereka. Aku menjadi lebih Turki dari mereka. Ketika kau dikenal dunia internasional, ke-Turki-anmu juga turut dikenal secara internasional, lalu ke-Turki-anmu juga akhirnya dikenal oleh orang-orang Turki itu sendiri yang mengklaim ulang dirimu. Identitas nasional diri kita merupakan ciptaan orang lain.

Sekarang, mereka bahkan lebih khawatir tentang representasi Turki di mata dunia ketimbang karya-karyaku. Ya, ini menyebabkan makin banyak masalah di negeriku. Melalui surat kabar populer yang mereka baca, banyak orang yang tidak pernah tahu buku-bukuku mulai khawatir tentang apa yang aku katakan ke dunia luar tentang Turki. Sastra dibuat dari kombinasi baik dan buruk, iblis dan malaikat, dan lain sebagainya. Mereka hanya khawatir tentang iblis yang kuciptakan.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here