William Trevor, Nyonya Crasthorpe
dibaca normal 11 menit

SAAT BERJALAN dari halaman gereja menuju mobil, Nyonya Crasthorpe menyadari adanya penghinaan besar. Ia merupakan satu-satunya orang yang berkabung di pemakaman suaminya, dan ia rasakan segala penghinaan itu saat berada di sebuah gereja desa nan sederhana. Sang suami bersikeras bahwa inilah yang ia anggap sebagai upacara pemakaman. Seorang pendeta perempuan yang tak dikenal Nyonya Crasthorpe—dan telah mengadakan pelayanan “kelam”—menyampaikan sesuatu yang penting dalam aksen menakutkan, lalu bergegas pergi tanpa melirik ke arahnya sedikit pun.

Dua laki-laki terlihat menunggu, bersandar pada sekop di dekat makam. Dalam beberapa menit, mereka sudah menimbun tanah ke tempat yang sudah digali, membuat gundukan, lalu peti mati itu hilang selamanya. Dan, begitulah Arthur. Semua ini hanyalah ejekan. Nyonya Crasthorpe tahu, menyalahkan Arthur atas segala rencana yang telah ia siapkan sebelum pergi dari dunia merupakan suatu kesalahan. Namun, ia sudah sedemikian terbiasa menyalahkan sang suami, dan kali ini pun ia tak kuasa untuk tak melakukannya.

Nyonya Crasthorpe adalah perempuan berusia 59 tahun yang menganggap dirinya masih 45 tahun, sebab itulah yang ia rasakan. Ia menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua, dan laki-laki itu meninggal di usia ke-72. Ia memang bersedia menikah dengannya karena uang. Tetapi, meski mendapatkan segala kenyamanan dan kemudahan dari sang suami, ia merasa gagal berkembang dalam pernikahan itu. Ia diam-diam kerap memikirkan dirinya sendiri, dan dalam diri seorang Nyonya Crasthorpe, keleluasaan pribadi harus selalu ada. Ia takkan pernah memberi tahu siapa pun bahwa Arthur dimakamkan tanpa upacara yang layak—seperti ia tak pernah bilang bahwa ia adalah ibu dari seorang anak laki-laki, juga keberadaan Tommy Kildare dan Donald di tahun-tahun akhir pernikahannya.

“Aku harus menikmati hidupku sebagai seorang janda,” tegas Nyonya Crasthorpe dengan sungguh-sungguh di dalam mobil. “Aku harus melakukan sesuatu.”

Gerimis terlihat makin deras saat ia menyetir. Penyeka kaca depan mobil menyapu tempias, mengeluarkan suara yang ia benci. Pada kaca spion yang sesekali ia lihat sejak tadi, terpantul rambutnya yang pirang, matanya yang abu-abu kebiruan, juga bentuk bibirnya yang penuh dan membuatnya puas. Ia menyukai penampilannya sendiri, dan barangkali akan selalu menyukainya.

Ia menyalakan radio untuk meredam suara penyeka kaca yang ia benci, lalu berpikir mengapa Arthur memilih dimakamkan di tempat yang tidak jelas seperti itu, juga apakah ada hal yang tak ia dengar ketika sang suami memberi tahunya sesuatu. Samar-samar, di beberapa stasiun asing, lagu-lagu melintas dari nada ke nada. Semua terdengar familier bagi Nyonya Crasthorpe sebab itu adalah lagu-lagu yang populer saat ia muda.

ETHERIDGE MEMBIARKAN dirinya tidak melepaskan kunci gembok sampai ia menariknya, lalu diam-diam membuka pintu tanpa suara. Jika beruntung, Janet masih terlelap sampai saat ini. Sekarang, tidur adalah segalanya bagi Janet: teman paling baik, juga kekasih paling lembut. Janet tidak suka tidurnya dipaksakan, obat-obatan yang ditawarkan kepadanya selalu ia tolak.

Saat Etheridge memandangi wajah Janet yang tertidur, ia bisa merasakan kesakitannya semakin hari semakin berkurang. Untuk sesaat, dalam kepucatan wajah Janet, ia bisa melihat bayangan kelelahan seorang Juliet, kebijaksanaan seorang Portia, sekaligus keangkuhan seorang Estella.

“Aku pergi dulu.” Sang perawat terdengar berbisik dari balik pintu.

“Janet, sayangku,” bisik Etheridge pada dirinya sendiri, membayangkan bagaimana hari-hari yang dilalui Janet.

Saat Etheridge membuat teh, ia membawa nampan kembali ke sisi tempat tidur. Derak cangkir dan cawan yang beradu membangunkan istrinya, seperti yang terjadi setiap hari. Inilah yang Janet inginkan dan sukai: terbangun saat Etheridge ada di sini.

“Hai juga,” ujar Janet.

Etheridge membungkuk agar bisa memeluknya, kemudian mendekapnya sebentar. Lelaki itu lalu menumpukkan bantal ke atas dan merapikan sarung bantal yang kusut. Janet bilang ia merasa lebih baik saat Etheridge menanyakan kondisinya, namun ia tak memakan kue yang dibawakan sang suami atau biskuit-biskuit yang ada di situ, juga tidak terlihat sebaik pagi itu.

“Oh, tidak ada yang bisa ditulis tentang rumah,” Etheridge merespons pertanyaan Janet perihal hari-harinya. Janet bilang ia telah menyelesaikan A Fine Balance. Ia juga mendengar program silverware di radio. “Tidak, ah,” katanya. “Tidak menarik sama sekali.”

“Mau sup nanti, Sayang? Atau kue kering krim?”

“Sup sepertinya enak. Kue kering krim tidak usah.”

“Kita sudah menjatuhkan kontrak. Tadinya kupikir kita takkan melakukannya.”

“Aku tahu kau akan melakukannya.”

Janet adalah seorang aktris. Sementara itu, Etheridge sudah bertahun-tahun bekerja di Forrester and Bright, sebuah percetakan yang punya cakupan wilayah sendiri dengan cara mengambil tugas-tugas rumit yang tak bisa diganggu perusahaan lain. Usia mereka kini sudah empat puluhan, dan mereka sudah menikah sejak mereka sama-sama berusia 23 tahun.

“Ini hal yang buruk bagimu,” ujar Janet. Ia tampak muram, semuram saat ia baru bangun tidur.

“Tentu saja tidak.” Tanpa harus berusaha, penghiburan yang tak asing macam ini pun muncul lagi.

Mereka saling melempar senyum. Dalam lubuk hati terdalam, mereka berdua tahu, ini memang hal yang buruk.

University Challenge untuk malam ini,” kata Janet.

“KAU AKAN bertingkah seenaknya,” ujar sang sipir.

“Aku kan memang selalu seperti itu.”

“Ia di sini. Kau akan lihat sendiri, kau memang begitu.”

Derek berharap perempuan itu tidak datang. Keduanya sama-sama menganggap ini sebagai hal yang konyol. Walau begitu, perempuan itu tetap bersikeras datang. Ia ingin memberi tahu kabar terbaru lelaki tua itu, dan Derek berusaha tidak mendengarkannya. Sebenarnya, ia menceritakan itu karena tidak tahu apa lagi yang bisa diceritakan.

Perempuan itu lalu duduk di sana, lengkap dengan riasannya, kemudian merasa malu pada Derek—barangkali juga merasa malu atas rasa malu tersebut. Ia pernah menyebut riasan itu sebagai riasan “nakal”, senakal Derek. Namun, ia tak lagi menyebutnya apa pun sekarang.

Derek mendengar bunyi sepatu berhak tinggi. Bunyi yang sigap, berbeda dengan bunyi sepatu bot. Sang sipir menghormati perempuan itu, ia mengenalnya dari kunjungan-kunjungannya ke sini. Begitu pula dengan sang perempuan, ia menganggap sang sipir sebagai seseorang yang baik, dan ia selalu suka orang-orang yang baik.

Baca Juga:  Laut yang Kehilangan Waktu - Gabriel Garcia Marquez

“Sekarang, jagalah sikapmu, Nak.” Lagi-lagi sang sipir menegur Derek. Bercak putih di puncak topinya yang berkilauan adalah satu-satunya kekumuhan yang terlihat pada dirinya.

“Kau lihat itu?” Derek berkata ketika perempuan itu datang. “Seekor burung melakukan sesuatu daripada Tuan Fane.”

Derek menggodanya dengan tata bahasa yang buruk, membuat sang perempuan meringis walau ia berpura-pura tak peduli. Ia datang untuk memberi kabar terbaru: lelaki tua itu telah meninggal dan tak ada yang datang ke pemakamannya. Derek tak pernah mengenal lelaki itu—juga tak pernah punya alasan untuk mengenalnya—dan meski begitu, perempuan itu tetap memberi tahunya.

“Kau baik-baik saja?” tanya perempuan itu.

“Oh, baik,” jawab Derek.

DAN BEGITULAH; Nyonya Crasthorpe menerima bahwa pertemuan singkat mereka telah berakhir. “Caramu datang ke sini begitu baik,” ujar sang sipir ketika ia hendak pergi. Perempuan itu meninggalkan sewadah selai prem—yang memang merupakan kesukaan sang sipir.

Nyonya Crasthorpe menyetop taksi dan minta diantar ke Pasmore. Ia sudah menelepon tempat itu—seperti yang biasa ia lakukan—untuk memastikan apakah ada meja yang tersedia untuknya. Dan, itulah tempatnya, di sebuah sudut yang ia anggap sebagai miliknya. Orang-orang tidak pernah bicara berlebihan di Pasmore; kau bisa merasakan martabat mereka mencuat begitu tinggi. Mereka nyaris bicara setengah berbisik, tapi kau tetap bisa mendengar mereka, sebab itulah yang mereka inginkan. Di sanalah ia selalu meluangkan waktu untuk minum teh setelah mengunjungi Derek.

Saat hendak memesan pada pelayan yang langsung datang padanya, pikiran-pikiran yang biasa terlintas saat ia di Pasmore kembali muncul. Laki-laki itu tak bisa menolong dirinya sendiri; ia tak pernah mencobanya. Memang, ia bukan tipe orang yang suka mencoba. Seperti yang pernah ia katakan: ia suka menjadi pendosa yang keras kepala. Walau begitu, ini pasti tetap mengerikan baginya. Ya, itu semua sedemikian mengerikan sampai-sampai menghantui Nyonya Crasthorpe lagi di meja yang sama, yang kini ia geser jauh-jauh, lalu memandang sekilas pada wajah yang mungkin saja ia kenal di antara orang-orang yang sedang minum teh. Namun, seperti biasa, tak ada satu pun yang ia tahu.

“Huh, bagus sekali!” Ia tersenyum kesal saat sultana scones pesanannya datang dan teh telah dituangkan untuknya—hal yang mereka lakukan hanya pada satu orang di Pasmore.

SAAT JANET meninggal dunia dengan damai dalam tidurnya, Etheridge pindah dari flatnya di Barnes ke tempat yang lebih kecil di Jalan Weymouth. Alasan kepindahannya bukanlah karena hal-hal praktis atau kebutuhan ekonomi. Kini, Barnes penuh dengan bayangan kematian Janet dan semua tak lagi sama. Kelapangan di sana, juga jalanan-jalanan yang sunyi, menatap balik Etheridge dengan muram. Pub jaz tampak biasa saja, sungai pun tidak menarik. Bunga yang sama mekar lagi, terlihat begitu manis dari kotak-kotak jendela; ini seharusnya bisa jadi kenangan dan hiburan baginya, tapi kenyatannya tidak. Saat pindah ke Jalan Weymouth, Etheridge sempat berpikir untuk meninggalkan Forrester and Bright, bahkan meninggalkan London. Namun, setelah melewati beberapa minggu di sana, ia berpikir tempat ini pun cukup jauh. Jalan Weymouth tak punya masa lalu; tempat ini takkan menarik ingatan apa-apa. Ia telah merasa nyaman di sana.

 

NYONYA CRASTHORPE mulai membuat sesuatu yang spesial untuk masa jandanya lewat sebuah wasiat. Ia menghabiskan satu minggu di Eastbourne guna menjernihkan pikirannya, sebab kota itu memiliki kemewahan yang sederhana, kedamaian, juga efek menenangkan yang memang pernah ia rasakan sebelumnya. Tak ada yang berubah: pawai-pawai, Hotel Grand, orang-orang berpakaian apik berlalu-lalang di jalan, lautan yang kelihatan selalu berani. Sekali lagi, semua itu menarik perhatian Nyonya Crasthorpe dan berhasil membawanya kembali pada ingatan masa remaja. Di Eastbourne-lah ia pertama kali merasa beruntung telah hidup di dunia. Ia hanya bisa berpikir secara produktif di tengah-tengah udara yang asin, seolah-olah ia baru bisa melakukan apa pun dengan benar.

Rumput-rumput pemakaman telah melewati hari-hari mereka yang sunyi, ritus-ritus khidmat telah mati dan menghilang. Di ruang makan Hotel Grand, ia tiba-tiba merasa telah dimaafkan karena air matanya yang menggenang namun tak bisa menetes, juga kepiluan yang tak bisa ia kendalikan. Arthur tak ingin tahu apa pun soal Tommy Kildare atau Donald di hari-hari terakhirnya. “Kita bak kapur dan keju,” ujarnya samar-samar. Ia pun lalu meninggalkan semuanya.

Nyonya Crasthorpe berjalan-jalan, pergi tak jelas ke mana, berharap ia akan bertemu sahabat karibnya. Dan, ketika ia tak bertemu siapa pun, ia berpikir memang semestinya demikian. Ia sebaiknya memikirkan bagaimana menjalani kehidupan ini sendirian saja dan tak seorang pun harus tahu. Tentu saja, ia tak mau melewatkan fantasinya. Dalam imajinasinya, sahabat-sahabatnya sedang mengadakan pesta—sebab mereka memang gemar berpesta. Mereka akan berdiri dan melihat sosok perempuan yang berbeda tampak dalam dirinya. Derek membawa hadiah, sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Tommy Kildare masih seperti dulu; ia mengatakan betapa mudanya perempuan itu, seperti masih tujuh belas tahun. Dan, Donald akan mencium jemarinya sembari mendeklarasikan diri sebagai orang terkaya di sana.

SAAT PERTAMA kali tinggal di Jalan Weymouth, Etheridge enggan menggantung Sunday Afternoon karya Seurat di dinding. Namun, pada akhirnya, ia pun melakukannya sebab akan sangat memalukan bila tidak. Sudah dibingkai dan terbungkus rapi, lukisan itu telah menunggunya sejak 12 September dan barangkali kini sudah tahun keempat. Sejumlah I.O.U.*—yang masing-masing tertanggal 4 April—belum cukup untuk membayar anting-anting Janet; mungkin bisa seandainya masih ada waktu setahun lagi. Kadang-kadang, kendati sudah tinggal di Jalan Weymouth, bayang-bayang kecil kembali muncul berkelebatan, lalu ia akan menganggap gangguan ini sebagai trik cahaya atau imajinasinya belaka. Kesibukan bekerja cukup membantunya, dan selama hampir enam bulan ia tinggal di jalan itu, ia pun akhirnya tak lagi tergeletak tanpa tidur di fajar yang sunyi. Potongan-potongan ingatan kian memudar; percakapan-percakapan yang masih ia ingat mulai lenyap; pakaian-pakaian terakhir mendiang sudah disumbangkan. Di kelas memasak, ia belajar membuat risotto dan eggs Benedict. Ia pun memainkan piano dengan lebih terampil, minum-minum setiap petang di Cock and Lion, membaca buku Mauriac dalam bahasa Prancis, juga berhasil dipromosikan di Forrester and Bright.

Baca Juga:  Yesterday - Haruki Murakami (Bagian 2, Selesai)

NYONYA CRASTHORPE sudah menyadari sejak awal jika ada seorang laki-laki datang ke arahnya di Jalan Beaumont. Warna dasinya tampak seperti seragam tentara atau sekolah umum. Tangannya kelihatan lembut. Pasti sangat halus, pikir Nyonya Crasthorpe. Kuku-kukunya apik dan terawat. Ia punya penampilan yang necis, pikir perempuan itu lagi. Ia memang memiliki pesona; Nyonya Crasthorpe menyukai caranya berpakaian. Perempuan itu senang melihat ekspresinya yang serius kala berjalan; bagaimana ia tampak begitu memikirkan hal-hal serius, semacam misteri-misteri yang bisa ia pecahkan. Ia kelihatan amat cerdas. Lelaki itu tidak terburu-buru; Nyonya Crasthorpe pun menyukai hal ini.

“Enford Crescent,” ujar Nyonya Crasthorpe pada dirinya sendiri, membayangkan sudah berapa lama kisah tentang Enford Crescent “tersingkirkan” entah oleh Tups atau Primmie—ia lupa yang mana. Kau menanyakan di mana Enford Crescent saat laki-laki yang kausuka datang. Laki-laki itu tidak akan tahu, ia tak bisa tahu: tidak ada yang namanya Enford Crescent. Selama satu jam, Primmie dan laki-laki tak bernama itu berjalan gontai, mencari sesuatu yang tidak ada. Mereka pun saling jatuh cinta, ujar Primmie. Lalu, Tups juga berusaha mencarinya pada waktu yang berbeda, kendati ia berakhir di Palm Grove dan membeli Peach Surprise. 

“SEPERTINYA CUKUP dekat,” ujar Etheridge ketika seseorang bertanya soal daerah yang rasa-rasanya pernah ia lihat di suatu penunjuk jalan. “Permisi.” Ia memanggil pasangan yang sedang membawa seekor anjing. “Nyonya ini sedang mencari jalan ke Enford Crescent.”

Pasangan itu sedang terlibat dalam percakapan argumentatif—yang kemudian berhenti seketika. Mereka sama-sama paruh baya. Raut wajah mereka tampak lelah, nada ketidaksabaran terdengar dari intonasi mereka. Anjing mereka merupakan jenis fox terrier berwarna hitam putih dan berbulu halus, tampak rongseng sebab tak suka dengan talinya.

“Enford?” tanya lelaki tua yang menahan anjing. “Kupikir bukan di sekitar sini.” Pasangannya mengangguk, tanda setuju.

Perempuan yang menanyakan arah itu pasti hanya bisa tersenyum pasrah sekarang, pikir Etheridge. “Tak apa-apa,” ujar perempuan itu.

Pasangan dan anjingnya sudah pergi. “Kau baik sekali,” kata perempuan itu.

“Hmm, tidak seperti itu.”

“Oh, ya. Kupikir kau memang baik.”

“Maaf, aku malah menyesatkanmu.”

“Tidak, tidak.”

“Nanti juga ada yang tahu kalau kautanyakan lagi.”

“Tentu saja!”

NYONYA CRASTHORPE memperhatikan laki-laki yang baru saja berbincang dengannya perlahan menjauh. Dan, ketika sosok laki-laki itu mulai menghilang, ia merindukannya seolah-olah sudah lama sekali mengenal sang laki-laki. Laki-laki itu memiliki budi bahasa yang baik, sopan, juga tak dingin seperti es. Ia memang selalu suka laki-laki berambut pirang.

Sambil memandang dengan tatapan kosong, Nyonya Crasthorpe merasakan usianya yang sudah “berat”. Sekali waktu, ia kerap bersikap impulsif dan terburu-buru, tapi ia tak peduli pada itu semua. Tups pernah berkata ia adalah perempuan yang tak berpikir panjang. Primmie juga. Mereka berdua menyukai impulsivitas dalam dirinya; begitu juga dengan Nyonya Crasthorpe sendiri. Laki-laki itu akan melakukannya—laki-laki berambut pirang itu—ia tahu, laki-laki itu akan melakukannya. Laki-laki itu akan mendengarkannya, lalu memahami semua. Ia pun mengetahui hal ini, namun tetap saja ia biarkan laki-laki itu pergi.

TANPA ALASAN tertentu, ketika Janet sedang sakit, Etheridge mulai mengisi halaman-halaman yang tersisa di buku besar yang sudah digunakan setengah dengan semacam catatan autobiografi. Ia tak bermaksud menjadikannya buku catatan harian, hanya diisi kenangan-kenangan masa kecilnya dan Janet, juga memori-memori terbaru yang ia kumpulkan. Buku itu telah mencatat waktu-waktu dan tempat, apa saja yang telah dibagikan di sana (dan apa saja yang tidak), pernikahan, orang-orang yang mereka kenal, dan rumah-rumah yang sudah pernah mereka singgahi. Ketika Etheridge merindukan rumah saat berada di sekolah boarding Gloucesteshire, Janet belajar di rumah bersama Nona Francis, sebab sekolah terlalu berisiko untuk anak yang berhati lembut seperti Janet.

Pertunjukan teatrikal pertama Janet tidak memiliki nama—juga tidak terlalu disadari orang-orang—yakni paduan suara pantomim Jack and the Beanstalk. Mengenakan rok pendek dan tampak begitu memikat, Janet baru berusia tujuh belas tahun saat itu, sementara Etheridge yang pada saat itu belum mengenal Janet, sedang menanti pekerjaan datang. Mereka bertemu pada saat Janet datang ke London.

Setelah tiga puluh tahun berlalu, Etheridge belum bisa memaafkan kematian Janet dan berpikir ia takkan pernah bisa. Ia menganggap perasaannya tak masuk akal dan berniat untuk mengenyahkannya, sebab ia begitu membenci hal yang ia anggap sebagai egosentrisme tersebut. Walau begitu, amarah yang luar biasa tetap ada dalam benaknya. Mengapa Janet tidak memiliki apa yang dimiliki kebanyakan orang? Kenapa sekarang ia hanya tinggal debu?

Musim gugur yang telah datang rasa-rasanya seperti musim panas di India, dan setiap akhir pekan, Sabtu atau Minggu, Etheridge berjalan-jalan di Taman Regent. Ia mempelajari nama-nama bunga yang tidak dikenalnya dari sebuah buku; ia juga memberi makan burung-burung. Tapi, kala waktu berlalu lebih lambat dari biasanya, ia biasa menyaksikan orang-orang hilir dan mudik dari sebuah meja kafe. Ia iri pada mereka, ia iri pada dirinya sendiri—dirinya sebelum ini.

BERTAHUN-TAHUN lalu dan dalam separuh perjalanan pernikahannya, Nyonya Crasthorpe menemukan sisi London yang sama, dan ia langsung menyukainya. Ia telah berkunjung ke sana untuk melihat-lihat dan mengambil perhiasan perempuan tua—perempuan yang sempat kaya dan kini sudah tidak kaya lagi. Nyonya Crasthorpe pernah membeli tiga buah cincin dan sebuah gelang, lalu sebulan setelahnya, iklan yang sama kembali muncul hingga ia pun membujuk suaminya untuk menjual rumah mereka dan membeli salah satu yang ia lihat di Coppice Mews. Ia menyukai deretan kandang-kandang kuda, juga jalan-jalan di sana, begitu pula dengan suaminya—walau pada awalnya sang suami belum menyukainya, namun ia selalu membujuk sang suami agar bisa suka. Pada akhirnya, suaminya meninggal di Coppice Mews, lalu meminta maaf karena harus meninggalkannya sendirian dan ingin dimakamkan di halaman sebuah gereja desa kecil yang dianggap tidak sesuai dengan laki-laki urban sepertinya. Walau begitu, Nyonya Crasthorpe bisa menghormati keputusan suaminya dan sudah terlanjur akrab dengan orang-orang toko di sana. Selain itu, ia juga mengecat kandang-kandang kuda dengan warna yang ia inginkan sejak dulu. Semua ini, bagi Nyonya Crasthorpe, adalah cara untuk menikmati masa janda.

Baca Juga:  Pemilu – Chinua Achebe

WAJAH YANG sedikit familier disadari oleh Etheridge, sekalipun ia tidak tahu kapan dan di mana ia melihat wajah tersebut. Lalu, ia pun tiba-tiba teringat dan mengangguk pada perempuan yang sedang membalik halaman koran di meja sebelah.

Perempuan tersebut sontak menatap saat Etheridge sedang memandanginya, seolah-olah mereka memiliki pikiran yang sama. “Ya Tuhan!” seru perempuan itu beberapa saat kemudian. Wangi perempuan itu masih menyengat seperti saat ia sedang menanyakan arah jalan, namun pakaiannya amat berbeda. Ia mengulurkan tangan ke arah yang bisa diraih Etheridge. “Aku lebih suka jika kita pernah bertemu sebelumnya,” ujarnya.

“Wah, tentu saja. Kita pernah bertemu sebelumnya.”

“Cuacanya bagus, ya!”

“Menyenangkan.”

“Sepertinya hari yang baik untuk pacuan!”

Perempuan itu berkata dulu ia sering ikut pacuan. The Oaks, Derby, Cheltenham, Wimbledon untuk main tenis, Henley. “Oh, banyak sekali,” katanya. Tapi, sekarang semua terasa lebih sepi. Ini merupakan hal yang tak bisa dihindari, memang, setelah bertahun-tahun berlalu.

Perempuan itu kelihatan cakap dengan tubuh berisi, pikir Etheridge. Ia tampak sangat berhati-hati juga berpengalaman. Kau tak akan pernah menganggapnya kotor, dan ada sesuatu dengan senyumnya yang indah, mewah, dan tampak lembut. Gigi-giginya amat putih. Dadanya kencang, lututnya terawat. Ia memain-mainkan bros yang ia kenakan—lingkaran batu-batu kecil dengan beberapa buah safir dan batu mirah delima yang sudah berkali-kali di cuci—satu-satunya dekorasi pada terusan krem pucat itu. Kadang kala, tampilan lesu terlihat dari raut-raut wajahnya, dan untuk sesaat, ia kelihatan tenang.

“Kamboja itu negara yang merepotkan, ya,” ujarnya dengan santai seraya melipat koran. “Kau akan berpikir seharusnya mereka bisa lebih masuk akal.”

Perempuan itu berkata ia paling sulit mengingat nama, menyiratkan bahwa ia menganggap Etheridge sudah pernah memberi tahu namanya, walau kenyatannya belum. Kopi Etheridge datang dan terlalu panas untuk diminum dalam beberapa kali sesapan, memungkinkannya untuk bisa terus berbincang dengan sang perempuan.

MERUPAKAN HAL yang luar biasa bagi Nyonya Crasthorpe jika laki-laki itu berada di sini; laki-laki asing yang terus melayang-layang dalam pikirannya dan membuatnya merasakan sedikit cinta. Ia merenungkan sudah berapa lama ia bertahan dan melindungi dirinya dari kepahitan hidup yang melebihi pengkhianatan Tommy Kildare atau pengakuan Donald bahwa dirinya merupakan seorang homoseksual; melebihi tahun-tahun yang suram bersama Arthur; melebihi segala kelelahan dan kebosanan ini. Ia juga merenungkan betapa menyenangkannya hari-hari biasa, dengan kesengsaraan yang tidak terlalu berat, juga kebahagiaan-kebahagiaan yang sederhana. “Apa yang tengah kaupikirkan?” tanyanya.

Kali ini, Etheridge tidak bisa bohong seperti biasanya. Ia hanya bergumam, nyaris tak bisa dimengerti. Ia bertanya-tanya apakah perempuan cerewet ini sedang mabuk, namun informasi demi informasi tentang dirinya bisa terucap secara teratur, menunjukkan bahwa perempuan ini tidak sedang mabuk.

“Namamu menarik juga,” ujarnya. “Crasthorpe kedengaran menjijikkan, ya? Bagaimana menurutmu?”

Perempuan itu berkata bahwa ia pernah menjadi Georgina Gilmour. Ya, Gilmour yang sama dengan Gilmour yang telah membawa nama tersebut ke seluruh penjuru dunia berbahasa Inggris. Orang bernama Crasthorpe, tentu saja, tidak pernah terkait dengannya.

“Betapa aku menikmati perbincangan dengan orang asing,” ungkapnya sepintas.

Ia bercerita tentang beberapa hal terkait Gilmour, semisal tempat penembakan mereka di Skotlandia, salah satu anak mereka yang merupakan seseorang yang genius dalam bermusik, Nanny Fortescue yang dibaktikan oleh tiga generasi, juga si tua Wyse Gilmour yang ikut pacuan di Silverstone dan berusia 102 tahun.

“Yah begitulah,” katanya. Ia mencoret-coret ujung koran dan menyerahkan secarik kertas yang ia sobek: ia menuliskan alamatnya.

“Kita jelas-jelas bukan burung yang bisa bebas,” tutupnya sambil termenung. “Tetapi, jika kaupikir kita seharusnya bisa lebih saling mengenal, aku hampir selalu ada di rumah setiap sore.”

Etheridge mengangguk tidak jelas. Sikap sang perempuan yang terkesan tiba-tiba dan dogmatis mungkin tampak tidak sopan, tapi ia bisa membuatnya seolah itu hanya tindakan di luar kesadaran.

“Istrimu,” ujarnya. “Kau sempat menyebut istrimu.”

Etheridge menggelengkan kepalanya.

“Kupikir kau tadi sempat menyebut istrimu.”

“Tidak.”

“Kurasa…”

“Istriku sudah meninggal.”

 

(Bersambung ke Nyonya Crashtorpe – William Trevor Bagian 2)


*I.O.U: singkatan dari “I owe you“, merupakan surat pengakuan utang yang bersifat informal.

Sumber naskah: Mrs. Crasthorpe – William Trevor dari newyorker 

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here