Nyanyian Paus
(Gambar: Orca Whale Family by Jesse Hansonl Design & Illustration)
dibaca normal 6 menit

Kelanjutan dari Abimanyu


[dropcap]SEJAK[/dropcap] KECIL, aku merasa telah mengenal paus, walau hanya menemuinya di ensiklopedia tua yang kini entah di mana; barangkali tertimbun buku-buku pelajaran di lemari tua ayahku yang jarang kusentuh, atau jangan-jangan sudah berakhir di keranjang barang bekas. Dulu, aku senang sekali mengusap gambar paus besar, membaca fakta-fakta tentangnya, dan ruang kecil itu seketika menjelma samudra. Aku seolah telah hidup bersama paus lama sekali, sampai-sampai aku tahu bahwa paus bergigi masih satu kerabat dengan lumba-lumba, hafal makanan yang mereka gemari, juga musuh-musuh mereka. Beberapa orang bilang suara mereka indah, seperti nyanyian magis atau rapalan doa. Tapi, tak pernah sekali pun kudengar nyanyian mereka; walau ini kerap didengungkan di dongeng-dongeng yang kubaca. 

Saat aku kecil, belum ada internet yang membuat segalanya mudah. Aku hanya bisa membayangkan; kira-kira apakah nyanyian itu semerdu nyanyian Turdus merula yang sering kudengar di daerah berhutan tempatku tinggal semasa kecil. Atau, bisa jadi lebih merdu. Tapi merdu atau tidak, sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Lantas, impian kanak-kanakku menjadi antariksawan pun berubah menjadi mimpi yang lebih sederhana, mendengar nyanyian paus. Dan, ini sudah jadi rutinitas: sebelum berangkat ke sekolah, aku akan menarik ensiklopedia dari kumpulan buku-buku besar milik ayahku, membuka halaman yang memuat paus, mengamati gambar-gambarnya, menghirup dalam-dalam wangi kertas tua yang istimewa, lalu tersenyum puas. Aku tak akan tenang tanpa melakukannya, seakan halaman tentang paus akan membuatku mujur seharian. Tapi, tetap saja semua itu masih kurang. Aku harus menghadirkan suara paus.

Pernah sekali waktu, aku memejamkan mata, membayangkan tengah berada di samudra, perlahan mencoba menghadirkan suara yang kurekaberharap tiba-tiba diberi kemampuan telepati dengan paus-paustapi yang terdengar hanyalah suara tetesan air dari keran dan cecak berisik di dekat lampu. Ini membuatku murung seharian, dan berpikir bahwa sia-sia tahu segala hal tentang paus, namun tak sedetik pun kudengar nyanyiannya. Aku ingin protes kepada Tuhan, kenapa aku tak terlahir sebagai paus saja, atau kepada stasiun-stasiun televisi lokal yang tak pernah menayangkan dokumenter tentang paus. Untuk pertama kalinya, terlahir sebagai manusia membuatku begitu putus asa.

USIAKU SEKARANG hampir kepala tiga dan empat hari lagi aku akan merayakan ulang tahunku yang kedua puluh tujuh. Tentu tak akan ada perayaan dan macam-macam; aku akan melewatinya seperti hari-hari lain. Aku memang tak begitu menggemari segala bentuk selebrasi, tapi bukan berarti aku membencinya. Barangkali aku hanya tak nyaman terlalu lama berada di dalam keramaian, lalu harus berbasa-basi dalam situasi yang riuh dan bising, sebab energiku mudah sekali habis.

Ini Oktober dan seharusnya musim penghujan tiba, namun hujan belum turun juga di kotaku. Beberapa teman merasa sedih dan bosan harus terpapar teriknya sinar matahari setiap hari. Aku tahu ada alasan orang kerap menanti dan meromantisasi hujan; hujan memang membawa kesan sendu, dan hal-hal sendu barangkali lebih mudah menyentuh hati. Mungkin pula aku hanya sok tahu. Tapi, tentu saja tak ada yang mengalahkan kesenduan nyanyian paus, yang akhirnya bisa kudengar dari video di internet.

Beberapa kali, aku menjadikan nyanyian paus sebagai teman meditasi, dan aku akan terbawa jauh ke alam lain. Benar kata orang-orang, suara mereka seperti mengandung sihir. Berkali-kali pula aku terlelap dalam suara yang sebenarnya lebih mirip rintihan atau tangisan, tapi tetap mengandung keindahan luhur—rasanya seperti mendengar opera saja. Walau begitu, aku belum pernah mendengar suara mereka secara langsung, dan ini, tentu saja, menjadi obsesi terbaruku.

Baca Juga:  Aku Tak Punya Kenangan

HARI INI, aku punya janji bertemu seorang kawan. Kami bersepakat untuk minum teh bersama di kedai langganan. Temanku itu sudah menikah dan sering menyarankan supaya aku jangan cepat-cepat menikah, sebab hidup akan semakin rumit saja, katanya. Biasanya, aku hanya tertawa dan bilang aku baru mau menikah saat sudah mendengar langsung suara paus. Dan, sudah bisa dipastikan, ia akan mencemooh imajinasi kekanakankuini sudah berlangsung sejak pertemuan pertama di kegiatan volunter bertahun lalu. Kami memang begitu cepat akrab.

Nama temanku Anyelir, dan ia selalu berbau manis seperti buah plum. Katanya, ia memang selalu memakai wewangian segar dengan tujuan meredakan migrain yang ia derita sejak kecil. Aku pernah sekali waktu bilang padanya bahwa memakai parfum hanya akan memperburuk itu, tapi ia tak peduli. Barangkali itu semacam efek placebo.

Anyelir kini berusia dua puluh sembilan, dan ia menikah pada usianya yang kedua puluh enam. Suaminya merupakan anggota militer, dan pernikahan mereka adalah hasil perjodohan orang tua. Sebetulnya, ia merupakan gadis yang berjiwa bebas dan gemar bertualang. Ia juga beruntung, sebab lebih dulu mendengar suara paus saat berlibur di Kepulauan Karibia. Walau begitu, ia merasa keberuntungan itu tak ada apa-apanya ketika ia terpaksa mengucap sumpah atas nama Tuhan untuk menjadi istri seseorang. Perlahan-lahan, ia berusaha menerima nasibnya, berusaha setia pada suami, dan mengubur mimpi kebebasan dalam-dalam, kendati ia sedikit melampiaskannya dengan mengeluh padaku.

AKU SAMPAI lebih dulu di kedai kecil itu. Desain interiornya didominasi oleh unsur kayu; di sana-sini tampak hiasan manis dari kayu gaharu. Jendela besar terlihat di beberapa sudut, dan ini yang paling aku suka dari sebuah kedai. Aku senang menikmati teh sambil memandangi orang dan kendaraan berlalu-lalang. Kadang, aku datang ke sini sendirian hanya untuk menyesap teh dan membaca buku.

Aku memesan teh darjeeling hangat, melepas sweter kuningku karena udara agak lembap, dan duduk di pojok dekat rak buku. Sudah dua bulan aku tak bertemu Anyelir, dan ini memang disengaja. Tipe pertemanan kami bukanlah yang harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama-sama setiap saat. Kami bertemu kalau kami sama-sama ada waktu saja, dan kebetulan kami juga benci sesuatu yang dipaksakanya, walau ironisnya ia menikah karena paksaan.

Tak lama, Anyelir datang. Ia kelihatan lebih dewasa dengan riasan yang lebih mencolok dari biasanya. Sambil tersenyum, ia memesan es kopi susu, duduk di hadapanku, kemudian menertawakan penampilanku hari ini: kaus agak kebesaran, jin, dan sepatu kets. Padahal, sudah ribuan kali ia melihatku begini.

“Perkembanganmu sepertinya terhenti di masa SMP. Sementara khayalanmu, di masa sekolah dasar. Oh tidak, itu masih lebih baik. Mungkin masa taman kanak-kanak,” ujarnya.

“Kau ini, masih saja. Bagaimana kabarmu?”

“Ah, begini-begini saja. Mertuaku merajuk sepanjang hari, ingin diberi cucu. Tapi, yah kau tahu, aku masih belum ingin punya anak.”

“Kalau begitu, tak perlu punya. Apa sulitnya?”

Baca Juga:  Panggilan Telepon Pagi Hari

“Sera… Sera… terkadang aku iri dengan kepolosanmu. Hidup sepertinya lebih sederhana di kepalamu. Beruntunglah kau belum menikah.”

Pesanan pun datang dan kami langsung meraih cangkir-cangkir itu. Selebihnya, kami membicarakan betapa memuakkannya situasi politik akhir-akhir ini, ketegangan di mana-mana, dan nyaris tak ada lagi hiburan di koran-koran harian. Perbincangan semacam ini adalah tanda bahwa Anyelir sedang tidak berminat mengeluhkan pernikahannya. Dan, untuk pertama kalinya, aku bisa berbincang dengannya tanpa membicarakan nyanyian paus.

ANYELIR MENELEPONKU saat aku sedang merangkai bunga-bunga pesanan. Ia terisak-isak dan kedengaran bingung. Aku meminta izin pada atasanku, lalu pergi ke belakang toko. Jantungku berdebar kencang sebab ia tak pernah sekali pun menangis di depanku.

“Apa yang terjadi?”

“Aku jatuh cinta, Sera. Aku bingung, harus kuapakan rasa cintaku ini.”

“Tenangkan dirimu. Apakah di dekatmu ada air? Minumlah dulu.”

Isakan Anyelir terdengar makin samar. Kedengarannya ia benar-benar mengambil minum. “Aku… aku ingin bercerai saja. Tapi, bagaimana? Aku jatuh cinta pada teman sekantorku, yang juga sudah menikah. Aku tahu.. aku tahu.. ia pun punya perasaan yang sama. Tidak, ini tidak boleh,” lanjutnya.

Ah, inilah yang membuatku tak terlalu suka dengan kehidupan orang dewasa. Mengapa orang yang saling mencintai jarang bisa bersama? Pada momen ini, aku merasa beruntung karena obsesiku hanya sebatas pada nyanyian paus, bukan pada manusia yang gemar mematahkan ribuan hati. Tapi, aku juga tak tahu, apakah ini suatu keberuntungan atau malah kesialan.

“Ikuti kata hatimu,” ujarku, pada akhirnya. “Kata hati bukan hanya sekadar perasaan. Kau juga harus memikirkan pertimbangan logis. Kira-kira mana yang akan lebih menyakitimu.”

“Aku tak tahu. Aku benci sekali harus seperti ini. Rasanya aku kehilangan diriku. Entah ke mana diriku yang bebas itu. Oh, Sera, sungguh rasanya aku ingin mati saja.”

Bermenit-menit kemudian aku berusaha memberi Anyelir segala penghiburan. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk memendam perasaan pada teman sekantornya, dan memilih untuk tetap setia pada suami walau tanpa rasa cinta. Ia berpikir, pernikahan memang lebih banyak didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan logis; kebanyakan orang menikah dengan orang yang membuat mereka nyaman, juga satu visi dan misi. Soal cinta, lain perkara. Cinta lebih banyak membawa luka, membuat orang menemui titik terlemahnya, juga mempertanyakan segala hal. Maka banyak pula yang takut dengannya. Cinta membawa perasaan kalang kabut.

Aku tahu aku telah belajar banyak dari Anyelir.

AKHIR-AKHIR INI, aku sering mimpi bertemu paus. Aku rasa ini pertanda bahwa aku benar-benar harus melihat paus secara langsung, sekalipun hanya satu dua detik. Sementara, untuk melihatnya, aku perlu mengadakan perjalanan ke timur, yang amat jauh dari kotaku dan akan menghabiskan banyak uang. Penghasilanku sebagai florist tak seberapa, kendati cukup untuk kehidupan sehari-hari. Setahun yang lalu, aku sudah kursus menyelam, menggunakan sebagian tabunganku. Aku pikir, sudah saatnya keterampilan itu kugunakan untuk mewujudkan impian masa kecil.

Aku mulai merencanakan perjalanan ke timur. Andai ini terwujud, ini akan jadi kali pertama aku melangkahkan kaki dari kotaku. Aku bergidik membayangkan betapa menegangkannya perjalanan ini, namun aku tak mau terlalu pusing dengan hal-hal kecil yang sebenarnya harus kusiapkan. Pokoknya, aku hanya perlu biaya untuk tiket pesawat dan tempat menginap selama di sana. Demi impian itu, aku merelakan seperempat tabungan yang tadinya akan kugunakan untuk membeli sepeda, supaya mempermudah perjalanan ke toko.

Baca Juga:  Bulan Kuning di Stasiun

Saat melihat lukisan paus di dinding kamar, aku yakin aku takkan menyesali keputusanku.

AKU TERSESAT di tengah jalanan sepi, dan di kanan-kiri hanya ada perdu juga bukit-bukit. Dari sini, sabana tampak terhampar luas; harusnya sudah dekat dengan destinasi. Tapi aku tak kunjung menemukan tanda-tanda keberadaan laut, bahkan mencium baunya pun tidakaku percaya laut memiliki bau khas. Perjalanan ke timur tanpa perencanaan yang matang adalah bunuh diri. Dan kini, perutku sakit sebab harus menahan lapar, sementara persediaan makanan sudah habis.

Di tengah-tengah rasa putus asa, aku mencoba membunuh waktu sampai bertemu orang yang bisa dimintai tolong. Pemandangan di sini boleh dibilang tak buruk, malah tergolong indah, tapi di tengah-tengah rasa lelah dan kelaparan, siapa yang bisa menikmatinya? Embusan angin membuat telingaku geli, sebab ujung-ujung anak rambutku mencoba masuk ke dalamnya. Sempat terlintas dalam kepala bahwa aku akan berakhir di sini, mati kelaparan. Tidak, tidak boleh. Setidaknya, aku harus bertemu paus terlebih dulu. Ini bukan perjalanan yang mudah, dan aku harus mewujudkan impianku.

Tiba-tiba, seorang laki-laki muncul entah dari mana, dari kejauhan terlihat antusias melihatku. Rambutnya gondrong dan diikat. Kulitnya merah terbakar sinar matahari, juga penuh keringat. Ia membawa ransel gunung yang tingginya hampir setinggi anak kecil, menenteng botol minuman aluminium, dan melambaikan tangan ke arahku.

Ia menghampiriku dan berkata, “Hai! Apa kau tahu jalan menuju laut?”

Aku menggeleng. “Tidak, aku baru pertama kali ke sini.”

“Wah, kau juga? Harusnya ini sudah dekat laut, aneh sekali.”

“Sudah tiga jam setengah aku berputar-putar di sini, tapi yang kulihat hanyalah sabana yang tak habis-habis,” ujarku sambil mengangkat bahu.

“Kau sudah makan?”

Aku menggeleng lagi. Rasanya energiku sudah terkuras habis sampai-sampai menjawab pertanyaan sederhana pun terasa begitu berat.

Ia merogoh isi tasnya, kemudian mengeluarkan beberapa bungkus roti. “Aku punya banyak roti. Kalau kau mau. Ada rasa cokelat dan keju.”

“Favoritku yang cokelat.” Aku tersenyum lega. Laki-laki ini mungkin dikirim oleh malaikat. Tuhan tahu, aku tidak ingin mati sebelum bertemu paus.

“Oh ya, siapa namamu? Aku Sera.”

“Sera? Nama yang indah. Aku Abimanyu.”

Ditulis oleh Resna Anggria Putri, 2018

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here