Nobel Sastra
dibaca normal 7 menit

TIAP Oktober tiba, Royal Swedish Academy memberikan penghargaan Nobel di bidang fisika, kimia, kedokteran, perdamaian, ilmu ekonomi, dan sastra. Tahun ini sedikit berbeda dari tahun sebelumnya. Tak ada Nobel Sastra.

Sinyal ketiadaan Nobel Sastra 2018 sudah terendus cukup lama. Tepatnya, November 2017, gosip soal pelecehan seksual yang dilakukan oleh suami dari salah satu anggota akademi mulai menyebar.

Jean-Claude Arnault, seorang fotografer Prancis yang juga suami salah satu anggota Royal Akademi Swedia Katarina Frostenson, diduga telah melakukan pelecehan seksual dan juga pemerkosaan terhadap 18 perempuan. Peliknya, Arnault melakukan di properti milik Royal Akademi. Sebagian anggota tetap Royal Akademi diduga mengetahui perilaku Arnault, tapi lebih memilih diam.

Bau tak sedap itu pun menyebar. Gerakan #MeToo yang ramai di Amerika Serikat ikut membongkar aib Royal Akademi Swedia. Beberapa korban bersuara. Salah satunya Sara Danius, Sekretaris Royal Akademi.

Buntutnya, hampir separuh anggota Royal Akademi mengundurkan diri. Arnault pun diseret ke meja hijau dan dinyatakan bersalah oleh pengadilan Swedia.

Sebenarnya, skandal tersebut hanya satu dari beberapa alasan utama Royal Akademi meniadakan Nobel Sastra. Royal Akademi juga tertimpa isu miring korupsi, juga bocoran nama-nama pemenang peraih Nobel Sastra, serta bias gender dan bias Eropa.

Karena itulah, khusus edisi tahun ini, Nobel Sastra ditiadakan. Tahun depan, rencananya Royal Akademi akan memberikan dua Hadiah Nobel Sastra sekaligus, sembari mereka memperbaiki internal dan mengembalikan muruah Akademi.

“Kami menyadari bahwa kami butuh waktu untuk mengembalikan kepercayaan publik,” bunyi rilis pers dari pihak Royal Akademi, Mei lalu, menyikapi isu yang menerpa mereka.

Apakah Nobel Sastra Punya Arti bagi Sastra Dunia?

(Foto: Public Radio Internasional)

Selama bertahun-tahun, “politburo” di Swedia menjadi semacam kurator agung yang memperkenalkan nama-nama pengarang terbaik dunia.

Memang sejak lama, penilaian politburo tersebut kerap dipertanyakan dan diperdebatkan. Bahkan, tak sedikit pula pengarang yang menolak penghargaan yang disertai hadiah jumbo—sekitar 9 juta krona Swedia atau setara US$983.000 yang diterima Kazuo Ishiguro pada 2017. Salah satunya, Jean-Paul Sartre.

Di Amerika Serikat, beberapa media ternama mereka cenderung skeptis terhadap hadiah Nobel Sastra. Ini memang bukan tanpa alasan—meski mereka mengamini bahwa ada pula kinerja Akademi yang berhasil membawa sosok baru dan memperkaya khazanah sastra dunia, khususnya Amerika.

Alasan mereka skeptis, salah satunya, lantaran cukup sedikit pengarang Amerika yang mendapatkan Nobel. Ini masuk akal. Pengarang Amerika yang terakhir mendapatkan Nobel adalah Bob Dylan pada 2016. Itu setelah menunggu dua dekade lebih semenjak Toni Morrison pada 1993.

Nobel untuk Dylan kala itu juga menggemparkan dan bikin kontroversi. Dylan tak datang saat penganugerahan. Juga, banyak kalangan memperdebatkan apakah lirik-lirik Dylan bisa disebut “sastra”.

Parul Sehgal, salah satu penjaga kompartemen kritik buku di The New York Times, bilang bahwa penghargaan lain jauh lebih baik ketimbang Nobel. Ambil contoh The Man Booker International Prize.

“Long Lists The Man Booker International Prize tahun ini merupakan perpaduan gaya dan sensibilitas yang luar biasa. Nobel sedikit ketinggalan,” ujarnya.

Bukan hanya Sehgal, dari kompartemen yang sama, Jennifer Szalai bahkan terang menyebut bahwa dirinya adalah seorang yang skeptis dengan Nobel Sastra. Musababnya, tak ada ukuran tetap tiap tahun. Tahun ini bisa lantaran karya seorang pengarang, tahun berikutnya bisa lantaran pandangan politiknya.

“Inilah yang menyebabkan Nobel Sastra bisa dianggap lebih atau kurang berguna bagi perkembangan sastra,” jelasnya.

Lain The New York Times, lain pula The Atlantic. Majalah Amerika tersebut terang menyebut bahwa pembaca Amerika takkan terpengaruh sama sekali dengan tiadanya Nobel Sastra. Adam Kirsch, salah satu kolumnis The Atlantic, bilang pilihan politburo di Swedia kerap gagal membuat penerbit dan pembaca Amerika tertarik.

Baca Juga:  Penghargaan Sastra Lain yang Tak Kalah Bergengsi dari Nobel Sastra

“Ini bukan lantaran pembaca Amerika resistan terhadap fiksi terjemahan,” tulis Kirsch.

Justru sebaliknya, selama dua dekade ini, banyak penulis asing yang sangat berpengaruh terhadap sastra Amerika. Sebut saja Roberto Bolano, W.G. Sebald, Elena Ferrante, Karl Ove Knausgaard, dan Haruki Murakami. Mereka diterima dengan baik di Amerika, meski tidak ada satu pun di antara mereka memenangi Nobel.

Bagi Kirsch, kegagalan politburo di Swedia dalam merefleksikan penilaian sebenarnya dalam sejarah sastra merupakan sumber utama. “Jika Anda menggambar diagram Venn tentang pemenang Nobel dan penulis yang berpengaruh di abad ke-20, irisan keduanya akan sangat kecil sekali,” imbuhnya lagi.

Nobel, tulis Kirsch, selalu melewatkan pengarang-pengarang penting. Di awali dengan Henrik Ibsen pada awal abad ke-20, lalu Marcel Proust, James Joyce, Virginia Woolf, Anna Akhmatova, Jorge Luis Borges, dan banyak lainnya.

Sastra Indonesia dan Sastra Nobel

(Dr. Rabindranath Tagore, penyair India yang Termasyur di India dan menjadi tamu bagi s.p.j.m.m Prins Mangku Negara VV di Surakarta, | Perpustakaan Nasional)

Lain Amerika, lain Indonesia. Bila di Amerika mereka dengan tegas skeptis, Indonesia terang berbeda. Sebagai negara bekas terjajah, tentu nama Indonesia samar-samar dipandang dunia internasional, termasuk karya sastranya.

Satu-satunya pengarang Indonesia yang disebut-sebut bakal menerima Nobel Sastra adalah Pramoedya Ananta Toer. Pada 1986, ia bahkan hanya kalah dari penyair Nigeria, Wole Soyinka. Setelah itu, belum ada lagi nama pengarang Indonesia diperbincangkan sebagai kandidat Nobel Sastra.

Lalu, bagaimana penerimaan sastra Nobel di Indonesia? Jauh sebelum nama Pram disebut-sebut sebagai kandidat Nobel Sastra, pembaca sastra Indonesia sudah lama berkenalan dengan sastra Nobel—dan ngomong-ngomong Pram juga ikut menerjemahkan karya pemenang Nobel seperti Mikhail Sholokov dan John Steinbeck, terjemahannya bahkan dilakukan jauh sebelum kedua nama tersebut memenangkan Nobel.

Maret hingga November 1939, Kwee Tek Hoay (KTH) menulis secara panjang lebar tentang peraih Nobel Sastra 1913, Rabrindranath Tagore, di majalah Moestika Dharma. KTH mengagumi syair-syair Tagore yang sanggup membangkitkan estetika Timur di kancah internasional.

Kekaguman KTH ini sangat beralasan. Tagore dianggap sebagai representasi kebangkitan bangsa Timur dalam percaturan global di era kolonial. Tagore yang pernah ke Indonesia pada 1925 juga menjadi semacam simbol untuk membangkitkan kepercayaan diri orang Timur, termasuk Indonesia.

KTH sendiri menyebut, keberhasilan Tagore meraih Nobel Sastra ini mengejutkan dunia. “Kerna iapoenja nama dan boekoe-boekoe di loear India ampir tidak dikenal,” tulis KTH di pengantar buku Rabindra Nath Tagore poenja riwajat penghidoepan, pakerdjaan, philosofie, kapandean, dan kaagoengan dalem ilmu sastra (1939).

Setelah mendapatkan Nobel, KTH menulis, kemasyhuran Tagore mulai dikenal dunia. Gitanyali, The Gardener, Sadhana, dan The Cescent Moon menjadi buruan pembaca.  “Oleh Radja Inggris, ia diangkat jadi Ridder (Knight) hingga boleh titel ‘Sir’ di depan namanja,” tulisnya lagi.

KTH juga ikut menerjemahkan karya monumental Tagore, Gitanyali. Tulisan-tulisan dalam majalah Mosetika Dharma dari KTH lalu dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit Moestika pada 1939.

Buku KTH ini boleh jadi merupakan kajian lengkap mendalam pertama tentang sastrawan penerima Nobel. Selain itu, pengarang yang sezaman dengan KTH pun juga terpengaruh dengan syair-syair Tagore.

Sebut saja Amir Hamzah. Ia juga pernah menerjemahkan Gitanyali. Puisi-puisi Amir Hamzah pun dianggap terpengaruh dengan syair-syair Tagore. Sejalan dengan Amir, adiknya Amal Hamzah pun juga demikian. Amal juga ikut menerjemahkan Gitanyali.

Chairil Anwar dan Andre Gide

(Sumber: Blog Bandung Mawardi)

Setelah generasi KTH dan Poedjangga Baroe yang diwakili Amir Hamzah berkiblat ke keindahan Timur, penggiat sastra di Indonesia berikutnya mulai “terobsesi” dengan capaian sastra Barat. Barisan pengarang generasi ’45 yang diwakili Chairil Anwar mencoba mengadopsi capaian tersebut dengan menerjemahkan karya-karya Barat.

Baca Juga:  Penulis vs Penerbit: Siapa yang Harus Mengalah?

Nah, Chairil Anwar juga ikut memasukkan sastra Nobel ke dalam khazanah sastra Indonesia. Ia menerjemahkan karya Andre Gide. Le Retour de I’enfant Prodigue milik Gide diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Pulanglah Dia Si Anak Hilang.

Andre Gide mendapatkan Nobel Sastra pada 1947. Sementara, penerbitan terjemahan Chairil atas novel tersebut pada 1948 oleh Pustaka Rakjat. Penerbitan dilakukan setahun selepas Gide mendapatkan Nobel Sastra.

Nama Gide waktu itu masih asing di pembaca Indonesia. Penerbit Pustaka Rakjat dalam pengantar terjemahan Chairil tersebut mengamini bahwa Gide dan karyanya belum dikenal di Indonesia.

“Maka itu, kami sadjikan suatu terdjemahan sebuah karangan Gide jang sudah terkenal sekali: Le Retour de l’enfant Prodigue,” tulis Pustaka Rakjat di pengantar Pulanglah Dia Si Anak Hilang, seperti dikutip dari blog pribadi Bandung Mawardi.

Chairil, besar kemungkinan, menerjemahkan karya Andre Gide ini sebelum pengarang Prancis tersebut didapuk sebagai pemenang Nobel. Seperti kala ia menerjemahkan The Raid karya John Steinbeck dengan judul Kena Gempur (Balai Pustaka, 1951). Namun, pilihan waktu Pustaka Rakjat menerbitkan terjemahan tersebut bisa dianggap lantaran efek Gide meraih Nobel.

Bandung Mawardi, dalam blog pribadinya, memberikan catatan menarik perihal penerjemahan ini. Bandung menulis, Chairil tak cuma pujangga moncer. Ia punya semacam obsesi terhadap kemodernan dari sastra-sastra Eropa. Obsesi ini membuat Chairil menikmati sastra asing dan beberapa kali menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, termasuk mengalihbahasakan novel Andre Gide.

“Chairil Anwar memang memberi goncangan, membuat arah sastra bergerak ke ‘obsesi’ kemodernan,” tulis Bandung.

Chairil sendiri mendapatkan buku Gide saat berkunjung ke rumah pelukis Sudjojono. Saat itu, ia ingin dilukis oleh Sudjojono. Di rumah kawannya itu, Chairil menemukan versi bahasa Belanda Le Retour de I’enfant Prodigue yang versi terjemahan Belanda berjudul De Nieuwe Spijzen (1937) milik Mia Bustam—istri Sudjojono.

Chairil lantas memuji cita rasa bacaan Mia. Meski begitu, Mia—dalam memoarnya, Aku dan Sudjojono—menulis, buku itu sebenarnya biasa-biasa saja.

“Aku tertawa saja mendengar pujian Chairil yang berlebihan. Buat aku biasa-biasa saja. Aku melihat dan aku tertarik membacanya. Maka, aku membelinya. Titik. Mana yang istimewa di sini? Aku tahu, Chairil memang pemuja Andre Gide,” tulis Mia Bustam dalam Aku dan Sudjojono.

Lewat obsesi Chairil tersebut, pembaca di Indonesia menjelang 1950 jadi mengenal karya Andre Gide. Tepatnya setahun setelah mendapatkan Nobel Sastra.

Usaha-Usaha Mengenalkan Sastra Nobel

(Buku terjemahan Sastra Nobel di Indonesia | Halaman_Terakhir)

Pasca-goncangan politik 1965, pengenalan sastra Nobel di Indonesia kian gencar. Salah satunya adalah penerbit Pustaka Jaya. Selain karya Indonesia, Pustaka Jaya banyak menerbitkan karya asing ke dalam bahasa Indonesia.

Ada cerita menarik di balik keberadaan Pustaka Jaya ini. Dikutip dari Radiobuku.com, Pustaka Jaya lahir dari perbincangan santai antara Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Ajip Rosidi, salah satu pengarang Indonesia, tentang kebiasaan membaca komik pemuda Indonesia pada 1970.

Ajip menilai, kebiasaan tersebut lantaran ketiadaan penerbit yang menyediakan buku seperti Balai Pustaka. “Kebanyakan penerbit, terutama mendahulukan mencari keuntungan, sehingga menerbitkan buku itu hanya yang nyata-nyata dicari oleh masyarakat,” ujar Ajip Rosidi kepada Gubernur DKI Ali Sadikin.

Lantaran kegelisahan tersebut, Gubernur DKI itu pun akhirnya mempertemukan Ajip dan Ir. Ciputra. Ciputra lewat Yayasan Jaya Raya memberikan pinjaman modal sebesar Rp20 juta untuk mendirikan penerbit. Jadilah, pada Mei 1971, penerbit yang diberi nama Pustaka Jaya oleh Ajip resmi berdiri.

Lewat kerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta, Pustaka Jaya menerbitkan alih bahasa beberapa karya sastra Nobel. Sebut saja karya Yasunari Kawabata (Nobel 1968), Ernest Hemingway (1954), John Steinbeck (1968), François Mauriac (1952), Aleksandr Solzhenitsyn (1970), dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Cara Mudah Membeli Buku Digital di PlayStore atau PlayBook

Tidak hanya Nobel saja, Pustaka Jaya juga ikut menerjemahkan karya klasik, seperti Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevski, Nikolai Gogol, Mark Twain, Gustave Flaubert, Emile Zola, dan lain sebagainya.

Kesuksesan Pustaka Jaya dalam menerjemahkan sastra dunia, termasuk Nobel, akhirnya memicu penerbit lain. Yayasan Obor, misalnya, menerbitkan Albert Camus (Nobel Sastra 1957), Gabriel Garcia Marquez (1982), John Steinbeck (1954), dan lain sebagainya.

Bentang Budaya/Pustaka pada periode 2000-an hingga sekarang juga kerap menerbitkan sastra Nobel. Bahkan, mereka pernah menerbitkan terjemahan puisi-puisi Nobel. Penerbit Serambi, Gramedia Pustaka Utama, dan Kepustakaan Populer Gramedia juga pernah ikut menerbitkan karya Nobel. Belum lagi penerbit-penerbit independen serta blog-blog yang ikut menerjemahkan sastra Nobel dan tak kalah banyak jumlahnya.

Usaha-usaha penerjemahan karya sastra dunia, termasuk sastra Nobel, merupakan salah satu upaya untuk memperkaya literasi Indonesia. Khusus sastra Nobel, pembaca sastra di Indonesia secara tak langsung tetap menempatkan karya-karya sastra Nobel sebagai tolok ukur karangan berkualitas dunia, terlepas dari polemik di dalamnya.

Anton Kurnia, penulis sekaligus penerjemah, mengakui bahwa hadiah Nobel Sastra bagaimanapun juga harus diakui wibawanya dalam peta sastra dunia. Anton melihat, di balik keberhasilan individu para peraih Nobel Sastra, terbentang tradisi sastra sebuah bangsa yang berakar dan tumbuh berabad-abad silam.

“Tradisi itu dalam wujud sederhana adalah semangat membaca, menulis, dan menerbitkan karya sastra, serta mewariskan pustaka sebagai pusaka yang terus dimaknai dan kemudian mewujud dalam karya-karya besar. Juga kesediaan untuk belajar dari karya-karya utama dalam khazanah sastra dunia,” tulis Anton, seperti dikutip dari Intersastra.com.

Senada dengan Anton, Faisal Kamandobat, penyair kelahiran Cilacap, menyebut bahwa sastra Nobel selama bertahun-tahun telah menghubungkan sastra dari berbagai bangsa, termasuk Indonesia. Keberadaan sastra Nobel ini pada akhirnya menimbulkan hubungan saling berbagi citarasa, tradisi, dan visi satu sama lain.

“Yang tak kalah penting, (sastra Nobel) ikut memicu diskusi sastra di berbagai wilayah dan tingkatan, serta menggerakkan sastra mulai dari hulu produksi hingga hilir, yakni di tangan pembaca,” jelas Faisal kepada Books and Groove.

Tiap Oktober, nama pengarang penerima Nobel Sastra dinanti untuk didiskusikan, diperdebatkan, dipelajari, bahkan tak hanya karyanya saja, tapi tradisi tempat pengarang tersebut tumbuh. Bagi Faisal, tiadanya Nobel Sastra tahun ini secara tidak langsung telah membuat jeda dan senyap sejenak di kalangan sastra dan pembaca sastra. “Kita merindukan saat-saat Nobel memberikan tambahan energi dan kejutan,” pungkasnya.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here