Makaroni Panggang
Macaroni and Cheese with Pink Tablecloth. (ashleynorwoodcooper.com)
dibaca normal 6 menit

NEHAN mengangkat telepon saat ia sedang menyiapkan makan malam. Panggilan telepon dari orang tak dikenal seketika mematikan musik yang ia putar dari ponsel. Ia selalu memutar musik ketika sedang memasak. Setidaknya untuk memecah keheningan, pikirnya. Dan, panggilan telepon orang tak dikenal itu memang benar-benar memecah keheningan—juga memecah konsentrasinya.

Ia bukan orang yang sering ditelepon. Semenjak berhenti bekerja, ponsel baginya semacam perangkat hiburan. Mendengarkan musik atau membaca buku. Ia juga jarang menggunakan ponselnya untuk sekadar membaca berita.

Sejak ia memutuskan berhenti bekerja, Nehan memilih menikmati waktunya. Ia menata ulang kehidupannya. Pertama-tama, ia mengelompokkan daftar kontak di ponsel sesuai grup, dari yang lingkaran terdekat hingga terjauh. Nehan mengeset nada dering yang berbeda tiap grup-grup kontak yang ia buat. Dengan begitu, ia tahu siapa—atau lebih tepatnya dari lingkaran mana—yang menghubunginya. Anehnya, setelah ia mengelompokkan, ia baru menyadari lingkaran terdekatnya tidak begitu banyak.

Nehan juga mematikan semua notifikasi grup-grup WhatsApp. Ia juga membuang media sosial—Instagram, Twitter, Facebook—dari ponselnya. Beberapa aplikasi yang tidak pernah dipakai juga dibuang. Kini, ponselnya takkan mengganggu seluruh kehidupannya. Ia takkan terganggu dengan percakapan di grup WhatsApp atau tergoda untuk membuka Instagram, Twitter, dan Facebook.

Selama tak bekerja, Nehan mereset ulang seluruh waktunya. Ia akan bangun pagi-pagi sekali. Kira-kira pukul 05.00. Sekitar 15-30 menit ia akan joging keliling kompleks rumah. Sesampai di rumah, ia akan membangunkan istrinya dengan kecupan paling hangat sedunia. Ia menyiapkan sarapan, mengantarkan istrinya hingga gerbang rumah, menutup gerbang, mencuci alat makan dan masak, menyapu, mencuci baju, dan menjemur.

Baru sekitar pukul 10 siang, ia mulai menyeduh kopi. Duduk-duduk di bangku halaman belakang sambil merokok atau membaca buku. Ia akan menulis tepat pukul 11 siang. Bisa satu jam menulis, tergantung bagaimana ia menemukan kata pertama. Kebanyakan, ia hanya menulis dua sampai lima paragraf. Pukul 12 siang, ia akan meninggalkan laptop, lalu menyiapkan makan siang. Pukul 1 siang, ia akan meneruskan menulis sampai pukul tiga sore. Setelah itu, ia akan membereskan jemuran, melipat, dan menaruh di kamar kedua—tiap tiga hari sekali, ia akan menyetrika pakaian-pakaian di kamar itu.

Pukul 4.30 sore, Nehan mulai menyiapkan makan malam untuk istrinya. Dan, sejak ia berhenti bekerja, Nehan memilih sendiri bahan-bahan belanjaan tiap bulan. Dengan begitu, ia bisa mengatur makan malam dan sarapan. Semenjak itu pula, kulkas di rumahnya penuh dengan bahan makanan. Tidak hanya berisi minuman.

Saat telepon genggamnya terus berdering, Nehan sedang menyiapkan makaroni panggang untuk makan malam. Ia sudah membaca dengan cermat urutan memasak makaroni panggang—meski ini baru pertama kali, ia tak ingin masakannya tidak terlihat enak. Misalkan, makaroninya terlalu lembek atau masih keras. Ia benar-benar mengikuti arahan resep masak yang ia baca di majalah—ngomong-ngomong, Nehan kini lebih sering mengumpulkan majalah atau buku makanan. Takaran bumbu tak boleh ada yang kelebihan atau kekurangan. Semua harus sesuai. Hingga besaran apinya pun harus disamakan dengan saran yang tertera di resep masakan.

Sekitar lima hingga enam kali telepon genggamnya terus berdering. Telepon itu menghentikan musik yang selalu ia putar selama memasak—dan juga konsentrasinya.

Baca Juga:  Lintang Kemukus

***

Keputusannya keluar dari pekerjaan tidak datang begitu saja dan bukan tanpa perhitungan. Nehan sudah berhitung kerugian dan keuntungan tak bekerja kantoran. Ia membuat matriks dan mendaftar seluruh efek positif dan negatif. Setelah dikalkulasi, ia pun memberanikan diri untuk keluar pekerjaan dan mulai membicarakan dengan istrinya.

Saat itu hari Minggu. Bagi Nehan dan istrinya, Sabtu dan Minggu adalah surga. Mereka biasanya akan bangun agak siang. Bisa pukul 10, 11, bahkan 12. Akhir pekan saat yang tepat untuk merenggangkan otot kepala setelah digunakan 8 jam x 5 hari. 2 x 24 jam di akhir pekan tak pernah sebanding dengan 8 jam x 5 hari. Meski, secara matematis, 48 jam di akhir pekan lebih banyak dibanding 40 jam kerja.

Nehan memutuskan bangun pagi-pagi di hari itu. Ia tak mengeset alarm. Sebab, istrinya akan menggerutu bila alarm di akhir pekan bunyi terlalu cepat. Nehan memasak sarapan untuk pertama kali. Mereka tak pernah sarapan dengan masakan yang sebenarnya—selama ini hanya sereal atau biskuit yang tak bisa disebut sebagai sarapan, meski punya kandungan energi lumayan.

Ia memasak masakan paling sederhana telur urak-arik—ia tak pernah bisa membuat telur mata sapi yang baik—dan nasi goreng dengan bumbu instan.

Aroma bumbu masakan itu ternyata sampai di kamar tidur. Istrinya terbangun dan langsung menuju dapur. Sebab, tidak biasanya ada bau masakan di pagi hari.

Istrinya belum bangun sempurna. Salah satu matanya masih tertutup sempurna, satu lagi terbuka sedikit—bahkan, bisa juga tidak terbuka. Rambutnya cukup berantakan dengan bau manusia yang baru bangun—kamu bisa membayangkannya sendiri. Tapi, tentu saja Nehan tidak pernah protes. Ia sendiri pasti punya bau yang sama dengan istrinya ketika baru bangun—dan tampaknya lebih parah karena gusinya suka tiba-tiba berdarah. Dan, ngomong-ngomong, setelah mereka menikah, mereka menyadari bau mereka sekarang hampir mirip.

Istrinya—dengan jalan malas-malasan—menuju dapur, membuka kulkas, mengambil air putih, duduk di kursi makan, menuangkan ke gelas, dan minum. Semua dilakukan dengan mata yang masih tertutup sebelah.

“Kamu masak apa?” kata istrinya. Ia mengenakan piyama bergambar pisang yang tersebar di seluruh piyama. Agak kebesaran untuk istrinya, tapi Nehan menyukainya.

“Nasi goreng,” jawab Nehan. “Dan telur urak-arik. Tiba-tiba aku ingin memasak.”

“Hmmm… pedas kan?” tanya istrinya sambil menguap.

“Tidak terlalu sih, karena pagi juga kan.”

Istrinya memainkan gelas yang sudah kosong dengan kedua tangannya. Sementara, matanya mencoba untuk membuka sempurna. Ia melihat Nehan mengurak-arik nasi yang sedang digoreng di wajan. Tangan suaminya itu masih kaku, belum luwes. Sangat kelihatan di mata istrinya, meski mata istrinya sedang malas-malasan.

Ia lalu mendekati Nehan dan memeluk dari belakang. Pelukan yang sudah jarang, mungkin. Dulu, sebelum mereka menikah, istrinya kerap memeluk Nehan dari belakang bila Nehan sedang mencuci piring. Baru sekarang Nehan merasakan pelukannya lagi. Meski sebentar, pelukan itu terasa istimewa. Nehan membalas pelukan itu dengan kecupan di kening istrinya. Lalu, istrinya kembali ke kursi makan dan menunggu makanan datang.

Kurang lebih 10 menit berselang, masakan yang dimasak dengan kaku itu jadi. Nehan membawa dua piring hasil masakannya ke meja makan. Ia juga membuat teh melati.

Baca Juga:  Malam Itu, Kota Ini Kembali Lagi seperti di Masa Lalu…

“Ini bukan mimpi kan?” tanya istrinya.

“Bukan…”

Nehan mengambil satu piring untuk istrinya dan mengambilkan nasi goreng dan telur. Ia juga memotong timun untuk istrinya. Ia menuangkan teh panas ke dua cangkir.

Saat mulai memakan, mata Nehan tak pernah lepas dari istrinya. Suapan pertama, suapan kedua, Nehan menunggu istrinya berkomentar. Dengan memejamkan mata, istrinya mengunyah pelan-pelan. “Hmmm… lumayan… agak kurang sedikit. Kurang gurih sedikit dan agak asin, tapi okelah,” kata istrinya sambil mengambil satu sendok lagi.

“Maaf ya, maklum, baru pertama,” kata Nehan. Ia sedari tadi belum memasukkan satu pun nasi goreng. Ia menunggu respons istrinya lebih dulu. Lalu, ia juga turut memakan. Memang masih terasa ada kekurangan. “Mulai sekarang, aku akan menyiapkan sarapanmu.”

“Setiap hari?”

“Iya, tiap hari.”

“Kamu tidak akan capek?”

“Hmmm, capek sih, makanya aku mau keluar kerja.”

Istrinya sedikit tersedak. Ia mulai mendapatkan kesadarannya kembali. “Keluar kerja?”

“Iya.”

“Kamu yakin?”

“Yakin kok,” jawab Nehan, “aku juga sudah menimbang banyak hal. Aku masih bisa mengambil kerja lepas dan kukerjakan di rumah. Bisa menulis dan mengedit.”

“Tapi itukan tidak akan datang setiap hari.”

“Iya, memang tidak setiap hari sih. Tapi, aku punya pesangon dari kantor nanti. Akan kugunakan untuk investasi, jadi tiap bulan tetap ada penghasilan tetap, meski tak sebanyak kalau aku bekerja.”

“Hmmm…”

“Kamu jangan khawatir. Aku masih punya simpanan dan penghasilan sedikit meski tak bekerja.”

“Bukan itu… Kamu tidak akan bosan di rumah sendirian?”

“Tidak. Aku masih bisa kirim pesan ke kamu bila bosan. Tenang.”

“Kesepian?”

“Hmmm, enggak kok, semua sudah kukalkulasi. Termasuk cicilan rumah kita.”

“Jika kamu sudah bulat, aku tidak masalah. Aku cuma khawatir kamu kesepian di rumah.”

“Enggak. Banyak yang bisa kukerjakan kok. Aku bisa menulis, membaca, dan melakukan pekerjaan rumah. Aku juga ingin waktu bertemu dan ngobrol kita lebih banyak.”

“Tapi, bulan ini mungkin aku akan sering pulang terlambat. Banyak deadline.

“Ya tidak apa-apa kok. Kabari saja kalau kamu pulang terlambat.”

“Oke.”

Nehan ke halaman belakang setelah selesai makan. Dari tempatnya berdiri, Nehan bisa melihat istrinya mengunyah makanan. Istrinya tak pernah makan buru-buru. Sambil merokok, ia menatap istrinya. Nehan senang, masakannya bisa termakan, meski tentu saja masih banyak kekurangan. Mulai hari itu, pagi hari akan selalu seperti itu.

***

Telepon terus berdering. Nehan meraih telepon genggamnya yang selalu ia letakkan di meja makan bila sedang memasak. Ia mematikan api kompor saat ponselnya berdering sebanyak 10 kali—Nehan menghitung jumlah nada dering, inilah yang membuatnya kehilangan konsentrasi memasak.

“Halo,” kata suara di balik teleponnya. Suara seorang lelaki. Ia belum pernah mendengar suara itu.

“Ya,” jawab Nehan.

“Dengan Nehan?”

“Ya. Ini siapa?”

“Jani tidak akan pulang ke rumah.”

“Tidak pulang? Sedang lembur?” tanya Nehan.

“Bukan. Dia tidak akan pulang ke rumah selamanya. Dia tersiksa.”

Tersiksa?”

“Ya. Jika kamu mencintainya, biarkan Jani pergi. Itu saja. Terima kasih,” laki-laki di seberang telepon menutup sambungan.

Baca Juga:  Mimpi Satu Hari

Nehan terdiam beberapa saat. Ia duduk di kursi makan dan menatap halaman belakang rumahnya. Ia bangkit dari kursi dan menuju kamarnya. Ia mengecek barang-barang istrinya. Semuanya masih ada: pakaiannya masih ada, meja riasnya masih penuh dengan benda-bendanya. Seingat Nehan, Jani hanya membawa tas yang biasa ia bawa selama bekerja.

Ia kembali ke dapur. Perasaannya agak tidak enak. Karena semua barang-barang Jani masih ada, Nehan berpikir telepon tadi hanya orang iseng atau penipu. Ia kembali meneruskan memasak makaroni panggang.

Teleponnya kembali berdering. Nehan membiarkan, tapi telepon itu terus berdering.

“Halo, kamu siapa sih?” tanya Nehan.

“Tidak penting. Aku hanya mau bilang, Jani terluka selama ini. Ia tersiksa. Ini bukan bohongan.”

“Terluka?” tanya Nehan, “Maksudnya?”

“Kamu belum sadar ya? Jani tidak bahagia.”

“Tidak bahagia?”

“Ya. Jalan satu-satunya hanya melepaskannya.”

“Pasti penipu.”

“Tidak. Silakan telepon istrimu setelah ini.”

Betul juga, pikir Nehan dalam hati.

“Kamu harus melepas bila ingin Jani bahagia,” kata lelaki itu lagi. “Kalau kamu mencintainya, lepaskan dia… terima kasih,” laki-laki itu menutup teleponnya.

Nehan mematikan kompor untuk kedua kalinya. Ia kembali ke kamarnya untuk mengecek lagi. Semua pakaian istrinya masih tertata rapi di almari. Ia pun menelepon istrinya untuk memastikan. Tak ada nada sambung. Berkali-kali ia menelepon, tetap tidak ada nada sambung. Jantungnya mulai berdetak cepat.

Tidak berapa lama, Jani mengirim surel panjang. Mata Nehan mengikuti huruf demi huruf yang ditulis istrinya. Dari bahasanya, Nehan tahu, ini benar-benar tulisan Jani. Tidak salah lagi.

Aku akan mengurus perceraian kita dengan cepat. Kamu tinggal tanda tangan.” Nehan berhenti membaca. Kakinya kini berasa tak menapak ke tanah, seperti mengecil dan tak bertenaga. “Aku sangat mencintaimu, tapi ini juga sangat menyiksaku. Jangan cari aku lagi. Lepaskan aku.

***

Sepanjang malam Nehan terus menelepon Jani, tapi tetap tidak terhubung. Sepanjang malam Nehan membaca surel dari Jani. “Aku sangat mencintaimu, tapi ini juga sangat menyiksaku. Jangan cari aku lagi. Lepaskan aku.” Makaroni panggang dan segala peralatan masak sedari tadi tak tersentuh sama sekali.

Bersambung di “Di Dalam Hatinya, Sebuah Lagu Tak Sengaja Berputar”.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here