Mimpi Satu Hari
dibaca normal 4 menit

SIANG ITU, seperti biasa, ia mengajakku pergi melepas kepenatan di akhir pekan. Kali ini, kami pergi ke tempat yang jauh sekali. Agar energi buruk di tempat sebelumnya benar-benar hilang, katanya. Aku tidak tahu seburuk apa situasi di flat kecil tempatnya tinggal, tapi aku menurut saja karena sedang bosan. Kulihat cemara di kanan-kiri jalan dan jendela depan mobil memburam karena kabut. Oh, mulai masuk dataran tinggi rupanya.

Jendela di sisi kanan yang bertempias sisa gerimis tadi pagi terbuka sebagian. Tangan kanannya memegang sigaret yang sudah habis setengah. Aroma cengkih tersebar ke mana-mana, asapnya melayang ke luar terbawa angin, kemudian lenyap begitu saja di udara. Menyaksikan itu, rasanya aku ingin jadi asap saja. Betapa asap dengan mudahnya pergi, tak perlu memikirkan apakah sigaret akan merindukannya atau tidak—juga tak perlu gelisah hanya karena takut sigaret yang sudah mati jadi bersedih. Betapa asap hanya datang sebentar, kemudian benar-benar hilang tak berjejak, dan tanpa ucapan selamat tinggal, sigaret dan asap seolah sudah bersepakat bahwa mereka hanya bisa bersama sekian menit saja. Kupikir ini perpisahan yang elegan; aku ingin pergi dari dunia ini dengan cara seperti itu. Dan, omong-omong, ini pertama kali aku melihat lelaki itu merokok.

“Kupikir kau bukan perokok,” ujarku.

“Aku hanya kadang-kadang merokok. Kalau sedang sangat penat.” Matanya masih terfokus pada jalanan berkelok dengan satu dua mobil kecil di depan.

“Tidak, tidak. Ini bukan masalah untukku. Aku hanya penasaran sebab ini pertama kalinya aku melihatmu merokok.”

“Barangkali karena kau masih belum tahu siapa aku.”

Aku terdiam. Ia benar. Interaksi kami memang hanya sebatas ini. Kami sering bertemu, tapi jarang berbincang panjang-lebar. Pernah sekali waktu aku menemaninya pergi ke toko roti. Di sana, aku hanya memandanginya makan croissant cokelat—bahkan, aku tak tahu ini kesukannya atau bukan—dan minum kopi selama tiga puluh menit, lalu pulang begitu saja. Ya, tanpa obrolan tentang apa pun. Mungkin orang-orang akan menganggap hubungan kami aneh, tapi begitulah, kami memang tak butuh banyak berbincang. Setidaknya sampai hari ini.

“Kau lebih suka perjalanan atau tempat yang dituju?” Sebenarnya, ini hanya basa-basi supaya perjalanan jadi lebih mengasyikan—atau justru sebaliknya, aku tak begitu peduli. Kupikir pertanyaan ini akan membuatku lebih mengenalnya.

Ia mengisap rokoknya dalam-dalam. Matanya menatap ke titik yang jauh sekali, lebih jauh dari rumah-rumah kecil yang tampak seperti mainan di atas sana. Ia seolah punya jarak pandang yang mampu melampaui galaksi lain di angkasa.

Baca Juga:  Di Dalam Hatinya, Sebuah Lagu Tak Sengaja Berputar

“Aku suka perjalanan, Greta,” jawabnya, malas.

“Mengapa?”

Ia terdiam sejenak sembari mengisap rokoknya lagi. Isapan terakhir rupanya. Ia menaruh puntung dalam asbak mobil dan menghela napas sebelum menjawab pertanyaanku. Kulihat raut wajahnya tampak lebih santai atau barangkali itu hanya perasaanku saja, tapi aku mulai yakin aku memilih pertanyaan basa-basi yang tepat.

“Dalam perjalanan, aku bisa jadi apa saja. Aku pernah jadi diriku yang masih berusia sembilan tahun, main badminton dengan mendiang ayahku. Pernah juga jadi hippie dan hidup di pulau terpencil, tak perlu merisaukan kegilaan dunia, belajar meditasi dengan orang-orang yang menganggap hidup hanya main-main saja,” ujarnya.

Aku meliriknya sebentar. Ia memang terlihat lebih santai dibandingkan bermenit-menit lalu. Keningnya tak lagi berkerut, tangannya kelihatan lebih relaks. Dan oh, lihatlah senyum itu! Mengapa kau tak melakukannya lebih sering?

Tiba-tiba, aku ingin waktu berhenti detik ini juga. Aku lebih senang melihatnya begini. Dan sialnya, ide-ide gila pun bermunculan di benakku, nyaris sulit kukendalikan.

Seandainya saja ia tak punya kehidupan lain yang tak bisa aku sentuh. Seandainya saja kami bisa pergi jauh, entah ke mana, hingga ia bisa melupakan flat-nya yang berenergi negatif, pekerjaan yang tidak bisa ia sukai, atasan yang punya gangguan kepribadian narsistik, juga bising ibu kota yang menyebalkan. Seandainya, mobil ini terus melaju ke antah berantah, membawa kami ke kehidupan yang baru. Dan, kami pun mulai menjalani hidupentah sebagai hippie atau pertapa, atau justru petani teh di kaki gunungbersama, berdua saja.

Aku menggaruk lenganku yang tidak gatal. Ini memang kebiasaan saat aku grogi dan ini sudah kulakukan sejak aku kecil. Sial. Memangnya apa yang membuatku cemas? Bahkan, ketika aku harus tampil seorang diri untuk membacakan salah satu karya Baudelaire di atas panggung, aku tak segrogi ini.

“Hmm, memang ketika kau sampai di tempat yang kautuju, kau tidak bisa melakukannya?”

Aku bertanya lagi. Aku tak tahu mengapa perbincangan macam ini begitu menyenangkan, seolah ada yang hangat di dada dan itu membuat jiwaku hidup, meletup-letup. Aku benci obrolan-obrolan ringan—kemampuanku benar-benar buruk dalam hal itu. Hal inilah yang membuatku lebih sering diam saat berhadapan dengan situasi sosial tertentu.

“Bisa. Hanya saja, aku ingin benar-benar ‘hidup’ di tempat yang kutuju. Aku memberi larangan pada otakku untuk berimajinasi supaya aku bisa menikmati momen. Yah, kuakui, ini tak semenyenangkan saat-saat aku bisa jadi apa saja di samping jendela kereta atau pesawat.” Ia tertawa kecil.

Baca Juga:  Abimanyu

“Kalau begitu, sebenarnya kau lebih suka melarikan diri dari realitas?”

“Tidak juga. Aku hanya senang bermimpi. Mimpi menjadikan kita ada. Mimpi pula yang membuat segala hal di dunia ada. Kupikir, dulu Tuhan pun menciptakan kita dari mimpi-mimpi kecil-Nya. Dan sungguh, Greta, bermimpi itu menyenangkan sekali.”

Dari sini, ia kelihatan seperti anak-anak kecil yang kuamati di rumah sakit tempo hari, sewaktu mengantar sepupuku berobat. Mereka kelihatan ceria, tapi bukan tipe ceria yang memang sejak awal ceria. Dokter memberi mereka mainan warna-warni berbentuk hewan dan itu seolah menghapus mimpi buruk mereka selamanya. Yah, tipe ceria semacam itu.

“Sungguh, aku pun berpikir demikian,” ujarku sambil menggosok-gosok hidung, seakan-akan itu bisa menutupi kecanggunganku. Pada saat-saat seperti ini, menjadi seseorang yang introver dan canggung itu cukup menyebalkan.

“Bagaimana denganmu, Greta? Apa kau juga lebih suka perjalanan?”

Aku terdiam. Ini pertanyaan yang sulit. Dan, sejujurnya aku hanya iseng bertanya saja, tak sampai berpikir bahwa aku pun tak sanggup menjawabnya. Ia menyodorkan sebungkus permen karet dengan tatapan masih fokus ke depan. Aku langsung tahu bahwa itu adalah isyarat minta tolong dibukakan. Aku buka kemasannya. Oh, sepertinya ia suka pepermin.

“Rambut barumu bagus,” katanya. Ia meraih permen, lalu melahapnya dan mulai mengunyah. Saat ini, jiwa kekanakannya entah kenapa terasa muncul lagi. Sungguh menyenangkan melihatnya seperti ini.

Sejurus kemudian, ia menekan beberapa tombol pemutar musik. Tak selang berapa lama, You and Me Song dari The Wannadies terpasang, membuatku semakin gugup dan gelisah. Bagaimana bisa ia tahu lagu kesukaanku? Berkali-kali, aku mencoba membenarkan posisi dudukku yang sebenarnya tidak salah sama sekali. Aku yakin aku kelihatan konyol saat ini.

“Greta? Kau masih di situ?”

Terus begini. Kumohon. Seperti yang pernah Coelho bilang, jangan bunuh kanak-kanak dalam diri kita. Sebab itulah yang membuat kita benar-benar hidup. Sebab itulah yang kita punya untuk bertahan di dunia yang gila. Sebab itulah yang membuat kita berani melakukan apa pun, melampaui mimpi-mimpi, dan membebaskan jiwa kita.

“Ya. Aku suka perjalanan. Perjalanan ini salah satunya.” Aku menatap ke depan, jauh sekali. Aku tak punya keberanian untuk melihat wajahnya.

Baca Juga:  Controleur Wiggers

“Aku juga suka perjalanan ini.” Ia berhenti sejenak, menghela napas, mungkin mencoba menyusun kata-kata yang sudah sedemikian lama terhimpun dan terpendam.

“Tapi, yah, kau tahu, perjalanan bagiku hanyalah tempat mimpi-mimpi berkumpul. Kenyataannya, aku punya hidup yang lain, bukan di sini,” lanjutnya.

“Greta, kau hanyalah mimpi bagiku. Dan, semua orang berhak untuk punya mimpi indah agar ketika bangun, setidaknya ia tak begitu sedih.”

Aku tertegun. Kata-kata ini memang membuatku sedih, tapi aku pun tak tahu apa yang kurasakan saat ini. Senang, sedih, kesal, seolah sudah tak ada bedanya. Mungkin ini saja sudah cukup bagiku. Mimpi, bagi lelaki ini, adalah sesuatu yang penting, sesuatu yang membuatnya bahagia, sesuatu yang menghidupkan jiwa kekanakannya. Dan, aku menjadi salah satunya.

“Ah, selamat bermimpi indah kalau begitu,” ujarku, sedikit menahan tangis.

IA MENGHENTIKAN mobil dan menepi di pinggir jalan. Kabut tersingkap sedikit, samar-samar dan lembut. Dari atas sini, lampu-lampu bangunan di bawah sana kelihatan seperti bintang. Aku tidak tahu bagaimana caranya agar tidak menangis. Ini semua memang mimpi dan aku butuh seseorang untuk membangunkanku dari tidur panjang.

“Greta, aku mencintaimu.”

Di atas bukit itu, kami berciuman lama sekali, sebab kami tahu kami akan terbangun esok hari dan kembali ke kehidupan semula. Ia dengan flat suramnya, aku dengan tumpukan naskah yang harus kusunting. Dan, seperti biasa, mimpi ini akan lekas dilupakan satu dua hari, tertimbun oleh mimpi di malam lain.

Ditulis oleh Resna Anggria Putri, 2017

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here