Namaku Merah
(Shopee)
dibaca normal 3 menit

BILA Anda menemukan novel yang berisi intrik sejarah, percintaan, misteri, detektif, ditambah ensiklopedia tentang kesenian Islam abad pertengahan, bagaimana perasaan Anda? Bagi yang suka tipe cerita tersebut, tentu saja senang. Begitulah perasaan saya ketika bertemu dan tuntas membaca novel Namaku Merah karya Orhan Pamuk.

Saya tidak mengharapkan Namaku Merah bisa sebegitu misterius. Ditambah lagi, sisipan tentang perkembangan kesenian Islam dan juga gesekan antara kebudayaan “Barat” dan “Timur” yang begitu terasa semakin membuat novel ini spesial.

Premis novel Orhan ini, katakanlah, sederhana. Ia mengangkat misteri pembunuhan seorang empu miniaturis Kesultanan Ottoman. Yang membuat novel ini jadi tak sederhana adalah cara Pamuk menuntaskan misteri itu.

Pamuk tak menggunakan pendekatan konvensional dalam menyajikan cerita di Namaku Merah. Ia tak menggunakan gaya bercerita orang pertama tunggal maupun orang ketiga.

Cerita disajikan melalui sudut pandang orang pertama per tokoh. Satu per satu tokoh menceritakan apa yang ia rasakan, lihat, dan pikirkan tentang peristiwa dan disajikan dalam tiap bagian. Dengan begitu, pembaca seperti dituntun untuk merangkai satu per satu kepingan puzzle.

Nah, menariknya lagi, kepingan yang “dipaksa” Pamuk untuk kita rangkai adalah misteri pembunuhan dua miniaturis istana Ottoman. Di tiap halaman, pembaca akan dipaksa menebak siapa sebenarnya pembunuh dua miniaturis itu.

[Baca Juga: By the River Piedra I Sat Down and Wept – Paulo Coelho]

Di awal cerita, pembaca langsung terteror dengan “pengakuan” sesosok mayat yang baru empat hari dibunuh oleh seseorang. Mayat itu merupakan Elok Effendi, empu miniaturis istana Ottoman.

Ia tidak hanya menceritakan bagaimana ia terbunuh. Lebih dari itu, ia menceritakan sedikit tentang kehidupan setelah mati—sebuah teka-teki yang memang kerap diperdebatkan oleh pemikir Islam abad pertengahan.

Baca Juga:  Orhan Pamuk: Turki Seharusnya Tidak Perlu Khawatir Punya Dua Jiwa

Elok Effendi juga menceritakan perihal pekerjaannya sebagai seorang miniaturis istana. Sebagai seorang empu, ia ditugasi miniaturis kepala untuk menghias buku-buku yang bakal dipersembahkan kepada Sultan. Pekerjaan ini pula yang membuat dirinya terbunuh.

Namun, dalam “pengakuannya” itu, ia hanya sedikit memberi petunjuk. Ia malah memberikan teka-teki yang harus dipecahkan oleh tokoh-tokoh di dalamnya—dan juga pembaca.

Namaku Merah
Namaku Merah – Orhan Pamuk

Selepas pengakuan Elok Effendi, alur cerita akan melambat. Pamuk tak buru-buru membuat pembaca terpaku pada permasalahan utama di dalam bukunya. Pengarang asal Turki ini memberi jeda agar pembaca bisa mengikuti apa yang sebenarnya melatari misteri pembunuhan Elok.

Pamuk memperkenalkan satu per satu tokoh yang bakal terlibat dalam permasalahan tersebut. Mulai dari Hitam Effendi, “Pembunuh”, Anjing yang menceritakan gesekan antara tokoh Islam fundamental dan yang sekuler, Enishte Effendi yang merupakan paman Hitam sekaligus penggagas pembuatan buku untuk Sultan, Shekure yang merupakan anak perempuan Enishete dan cinta pertama Hitam.

Lalu, Eshter—perempuan Yahudi penghubung Shekure dan Hitam, para miniaturis istana: Bangau, Zaitun, dan Kupu-kupu, Tuan Osman—seorang miniaturis kepala istana, Hasan—adik ipar Shekure yang jatuh cinta pada Shekure, dan juga “Merah”.

[Baca Juga: Yang Ajaib dan Dikdaktis dari Cerpen Religius Hamsad (Bagian 1)]

Lewat tangan Pamuk, tokoh sebanyak itu tidak mubazir. Pamuk menempatkan tokoh-tokoh itu secara tepat sesuai peran masing-masing. Hubungan antartokoh memberikan ketegangan, misalnya hubungan cinta segitiga antara Hitam-Shekure-Hasan.

Ketegangan juga muncul ketika alur hampir menuju klimaks, yakni ketika salah satu tokoh tersebut menjadi korban kedua—saya tidak akan menyebut nama tokoh yang menjadi korban kedua untuk menghindari spoiler yang berlebihan. Ketika itu pula, hubungan antartokoh yang tadinya tak terlalu rekat menjadi lebih tampak kerekatannya.

Baca Juga:  Yang Ajaib dan Didaktis dari Cerpen Religius Hamsad

Saat korban kedua muncul, salah satu tokoh ditugaskan oleh Sultan untuk menemukan pelaku pembunuhan hanya dalam waktu tiga hari. Dari sini, cerita menjadi lebih menegangkan dan makin penuh teka-teki.

Nah, kecanggihan dan kejelian Pamuk akan terasa di bagian ini. Saat si tokoh itu mencari bukti petunjuk yang mengarah ke sosok pembunuh, Pamuk membeberkan ensiklopedia kesenian Islam abad pertengahan.

Caranya pun tak sekadar membeberkan begitu saja. Namun, lewat perbincangan tentang buku-buku legendaris yang disimpan di gudang istana Ottoman sambil mencari bukti petunjuk di dalam buku-buku itu.

Lewat perbincangan itu pula, kita akan bertemu dengan kisah percintaan klasik yang beredar di dunia Islam abad pertengahan, yakni kisah Husrev dan Shirin karya Nizami. Kita juga akan bertemu dengan cerita tentang miniaturis legendaris macam Bihzad dan gayanya yang khas dalam membuat ilustrasi di buku. Corak-corak kesenian Islam di Persia, Turki, Mughal, dan juga pengaruh-pengaruh di luar dunia Islam terhadap kesenian Islam.

Kembali ke alur utama, lalu siapa sebenarnya pembunuh Elok Effendi dan salah satu tokoh lagi? Dan, apa pula motifnya?

Sebaiknya, Anda harus segera ke toko buku terdekat, atau mengambil ponsel Anda untuk membeli buku itu. Sebab, saya berani jamin, Anda akan terkejut—dan juga katarsis. Pesan saya, jangan sekali-kali masuk ke laman Wikipedia soal novel ini untuk mengetahui akhir cerita sebelum Anda membaca tuntas Namaku Merah.***

Data buku
Judul              : Namaku Merah
Pengarang     : Orhan Pamuk
Penerjemah   : Atta Verin dan Anton Kurnia
Penyunting    : Anton Kurnia
Penerbit         : Serambi, 2015
Tebal               : xii+750 halaman
Harga             : Rp99.000

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here