Mbah Banyubiru
dibaca normal 4 menit

TAHUN ini sedikit spesial. Sebab, liburan sekolah anak-anak hampir bebarengan dengan libur Lebaran. Aku memilih menangguhkan cuti Lebaran dan kugunakan untuk menemani anak-anak saat liburan sekolah yang hanya berjarak dua minggu. Aku sudah berencana mengajak istri dan anak-anakku ke Banyubiru, Ambarawa, dan tahun ini aku merasa saat yang tepat mengajak mereka.

Arya dan Wisanggeni antusias. Mereka tambah senang saat aku bilang kami akan pergi dengan mobil Civic Estilo keluaran terbaru. Mobil itu baru saja kubeli dari seorang teman di kantor. Ia baru dua tahun membeli, tapi karena butuh uang cepat, Civic hatchback warna merah tua itu harus dilego. Aku bersedia membeli, dengan mencicil tentunya. Ia setuju.

Saat mobil kami memasuki Ambarawa, mata mereka tak pernah terpejam. Jendela kaca mobil terbuka sebagian di sisi sebelah kiri. Arya duduk di depan menemaniku menyetir. Aku bisa merasakan ekspresi kekaguman mbarepku pada Rawa Pening yang membentang di sisi kiri jalan. Geni, panggilan si ragil, tak kalah heboh dengan kakaknya. Di temani istriku, Geni menunjuk-nunjuk perahu nelayan dan eceng gondok.

Dari jendela mobil, semilir udara Ambarawa masuk seirama laju cepat mobil. Aku sengaja melambatkan kecepatan saat melintasi Rawa Pening agar udara yang masuk tidak lantas pergi.

“Dahulu, danau itu berasal dari lidi,” kataku sambil menyetir.

“Lidi?” tanya Arya.

“Iya, lidi. Seorang anak kecil mencabut lidi yang tertancap di lapangan. Lalu, air mulai menggenangi lapangan. Jadilah, Rawa Pening,” kataku lagi. “Kamu lihat gunung itu? Di sana dulu ada naga yang melingkari gunung.”

“Naga?” kali ini Geni yang penasaran.

“Terus, naganya sekarang masih ada?” tanya Arya.

“Nanti, kalau sudah sampai, kalian minta Mbah Banyubiru mendongeng soal danau. Mbah pasti senang.”

Arya dan Geni berbunga-bunga. Geni suka sekali dengan dinosaurus. Jadi, dia langsung mengaitkan naga yang barusan kukatakan dengan dinosaurus.

“Naganya mirip T-Rex, Yah?” tanya Geni.

Aku menggelengkan kepala. “Seperti ular. Ular yang besar sekali.”

“Anakonda?” Arya menimpali.

“Lebih besar lagi,” jawabku.

Mata mereka melongo. Mereka menantikan kata-kataku berikutnya. Tapi aku bilang, tunggu sampai di rumah Mbah Banyubiru.

***

Pakde Ngarso sedang duduk-duduk di ruang depan saat kami datang. Pakde adalah kakak tertua bapakku dan ia satu-satunya keluarga dari garis bapak yang masih hidup. Ia selama ini tinggal sendirian di Banyubiru. Anak-anaknya menyebar di berbagai kota: Salatiga, Ungaran, Solo, Semarang, dan Yogya. Sepupuku lainnya, anak-anak dari adik-adik bapakku, ada yang menetap di Banyubiru. Seperti lainnya juga, sebagian sepupuku juga memilih hidup di kota terdekat.

Baca Juga:  Akar Wangi

Keturunan kakek dari garis bapak sebagian memang tinggal di sana. Tanah kakek yang luas kemudian dibagi-bagi untuk anak-anaknya. Kemudian, pakde, paklek, dan bulek membagi-bagi tanah itu pada anak-anak mereka. Sejatinya, kakek berpesan untuk tidak menjual tanah warisan kepada orang di luar keluarga. Bila ada yang ingin menjual, harus kepada garis keturunan kakek. Namun, masa goro-goro membuat satu per satu tanah kakek dirampas dan mengecil hanya di sekitaran rumah Pakde Ngarso.

Pakde Ngarso agak terkejut dengan kedatangan kami. Ia pangling saat kami mengetuk pintu rumahnya. Semua rambut Pakde sudah memutih. Kerut-kerut sudah memenuhi wajah Pakde. Ia menatap lamat-lamat wajahku, lalu wajah istriku, dan anak-anak kami. Pakde Ngarso bergegas bangkit. Ia mengambil tongkat yang terletak di sampingnya. Aku masih merasakan kewibawaan seorang guru dalam dirinya.

Aku langsung mencium tangannya. Istriku dan anak-anakku mengikuti. Pakde Ngarso masih mencoba mengambil nama yang mungkin saja ia kenal setelah melihat wajahku dari dekat.

“Broto?” katanya saat melihat wajahku hadir di depan pintu rumahnya.

Mboten. Ini Bimo. Putra Pak Broto, adik Pakde Ngarso. Bimo yang tinggal di Jakarta,” kataku menjelaskan.

“Oh, ya, ya. Bimo,” katanya. Pakde Ngarso sempat memegangi wajahku. Ia seperti tidak percaya dengan keberadaanku. “Bi-mo, Bi-mo..,” katanya mengulangi mengeja namaku. “Masuk-masuk.”

“Sudah lama ya, le. Kowe mirip sekali dengan bapakmu waktu muda. Pangling aku,” katanya lagi. “Ini cucu-cucu ya?”

“Iya Pakde.” Aku memperkenalkan dua buntutku. Yang besar bernama Arya Bratasena dan yang kecil bernama Wisanggeni Atmabrata.

Pakde Ngarso sempat kembali terdiam. Seperti, ia sedang menjumput sesuatu yang ada dalam ingatannya. Jauh di masa lalu. “Bimo-Bimo junior,” kata Pakde bercanda. “Mirip sekali dengan kowe waktu kecil.”

Kami tertawa menimpali candaan Pakde Ngarso. “Ini Mbah Banyubiru. Yang kerap Bapak ceritain,” kataku pada anak-anak. “Mbah Banyubiru itu dulunya guru. Beliau suka sekali cerita Baru Klinting,” kataku lagi.

“Baru Klinting?” kara si mbarep, Arya.

“Banyak yang tidak tahu Baru Klinting sekarang, hehehe. Apalagi anak kutho, kayak cucu-cucuku ini,” kata Pakde. “Anak-anak sini juga sudah lupa.”

“Dulu ayah lama tinggal di rumah Mbah Banyubiru,” kataku. “Sepanjang malam, Mbah suka nembang dan bacain dongeng. Ya, salah satunya Baru Klinting itu,” kataku.

***

Broto adalah bapakku. Tapi, aku tidak pernah benar-benar mengenal bapak. Aku bahkan tidak mengingat wajahnya. Sejak bayi, aku sudah dititipkan di rumah Pakde. Kata Pakde, saat aku masih kecil, bapak dan ibuku pergi berdinas. Hingga umur 6 tahun, aku masih percaya bahwa kedua orang tuaku itu memang sedang bekerja.

Baca Juga:  Kisah Pengemis Tua

Kata Pakde Ngarso, aku mirip sekali dengan bapakku. Dari situ, aku kerap bercermin, hanya untuk melihat sosok bapak dalam diriku. Aku mulai melihat lekuk-lekuk wajahku. Bagian mana saja yang mirip dengan bapak untuk merasakan kehadirannya. Lalu, orang-orang bilang aku lelaki kemayu hanya karena aku kerap bercermin. Aku merasa itu penilaian aneh. Bagaimana mereka bisa menyebut aku kemayu, padahal mereka tidak tahu diriku, tak mengenal aku.

Hidup di Banyubiru saat itu sungguh tidak menyenangkan, terutama saat aku mulai menginjak bangku sekolah dasar atau kira-kira umur 6 tahunan. Setiap mata orang-orang desa menatap dengan kebencian. Amarah dan rasa jijik terpancar dari mata mereka.

Orang-orang desa kerap mengumpati aku sebagai “anak tentara merah.” Ada lagi yang bilang aku anak pengkhianat negara, anak seorang ateis, dan sebagainya. Kebencian terhadap bapakku dilampiaskan kepadaku, ke anaknya yang bahkan tak pernah melihat wajah bapaknya sendiri. Kebencian itu lantas mereka turunkan ke anak-anak mereka. Di sekolah, kebencian itu berubah menjadi perundungan. Ya, begitulah lingkaran kebencian terbentuk. Aku tidak tahu apakah kebencian mereka berdasarkan fakta atau bualan.

Di saat-saat seperti itu, Pakde Ngarso selalu hadir. Aku selalu bertanya pada Pakde, kenapa bapak dan ibuku begitu dibenci. Kata Pakde, orang-orang itu tidak tahu apa-apa soal bapak-ibu. Jadi, aku tidak perlu merisaukan. Suatu kali, Pakde bilang, bapakku adalah gerilyawan yang turut angkat senjata di Ambarawa untuk mengusir Belanda, Jepang, dan Inggris. Mendengar penjelasannya, aku sedikit lega.

Tiap malam, Pakde pun kerap datang dan bercerita macam-macam. Soal wayang hingga Baru Klinting. Lalu, ia sering mengajakku untuk pergi ke Rawa Pening dan Gunung Telomoyo.

“Bimo adalah ksatria ceplas-ceplos. Meski begitu, dia selalu berada di depan bila kebenaran dicederai,” kata Pakde Ngarso menerangkan arti namaku.

Aku mendengarkan dengan mata sembab lantaran tiap hari dirisak oleh sesuatu yang aku sendiri tidak tahu. Saat itu, aku seperti berjalan dalam labirin kesunyian. Tapi, entah kenapa, dongeng Pakde berhasil membangkitkanku. Aku tidak merasa sendirian.

“Pakde percaya, Bimo yang ini bisa seperti Bimo dari Pandawa,” ucapnya sambil mengelus-elus kepalaku.

Saat aku menginjak usia 15 tahun, Pakde Ngarso mulai membuka siapa sebenarnya orang tuaku. Broto, bapakku, adalah desertir tentara, kira-kira begitu menurut versi pemerintah. Bapak dan ibu dituduh membelot dan mengkhianati negara karena condong ke orang-orang merah. Saat goro-goro, bapak dan ibu turut diculik bersama orang-orang yang dituduh sebagai orang-orang merah. Kata Pakde, bapak sempat dipenjara di Ambarawa. Bapak kemudian dipindahkan ke Semarang, ke Jakarta, dan Cilacap. Ada beberapa orang yang bilang, bapak ikut diangkut ke Pulau Buru. Sampai saat itu, Pakde tidak bisa memastikan.

Baca Juga:  Cara Menyeduh Angin

Mata Pakde berair saat menceritakan adiknya. Ia menahan. Lalu, ia kembali mengusap-usap kepalaku. “Bapakmu membela teman dekatnya yang dituding orang merah. Lalu, bapakmu jadi turut disangka desersi, membelot ke orang-orang merah,” katanya.

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk mencari jejak bapak dan ibuku. Pakde Ngarso tidak menahan. Ia hanya ingin aku menamatkan SMA sebelum berangkat.

***

Aku menahan air mata saat melihat Arya dan Geni duduk mengapit Pakde Ngarso. Pakde lantas mulai mendongeng. Matanya mungkin sudah agak lemah, tapi Mbah Banyubiru bisa menunjuk dengan pasti arah Gunung Telomoyo.

Tangan kanan Pakde Ngarso menggapai tongkat. Tenaganya barangkali sudah habis bersama waktu. Telinganya barangkali sedikit tak mendengar suara-suara dari dunia. Arya dan Geni mulai menyimak dengan khidmat.

“Dahulu kala,” kata Mbah Banyubiru, “ada seorang anak yang terus mencari tahu siapa sebenarnya bapaknya. Di gunung itu, anak itu bertirakat agar bisa bertemu bapaknya. Ia bukan anak biasa, sebab ia adalah naga raksasa. Baru Klinting, namanya.”

Dari tempatku duduk, waktu seakan berhenti.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here