Malam, kota
(Pixabay)
dibaca normal 7 menit

“Dana?” kata seorang laki-laki di depan kasir minimarket stasiun. Aku baru saja turun dari kereta. Mataku masih belum terang sekali, tapi perut yang lapar memaksa kakiku untuk mampir di minimarket.

Satu roti sobek dan air mineral. Pilihan realistis, pikirku dalam hati, karena aku tidak ingin buru-buru memenuhi perutku. Mengganjal perut sehabis perjalanan jauh naik kereta cukup penting.

Aku otomatis menyambar roti dan mengambil air mineral ukuran sedang, lalu berjalan ke kasir. Di situlah, laki-laki yang berada di depan mesin kasir memanggil namaku.

Aku sempat canggung sebentar sambil mengingat raut muka laki-laki itu. Maklum, bangun tidur dari kereta tidak menyenangkan. Apalagi, harus buru-buru turun dari kereta karena stasiun ini hanya stasiun singgah. Bukan stasiun akhir.

“Kamu Dana kan?” katanya mengulangi.

Aku terdiam beberapa saat. Melihat wajahku yang kebingungan, laki-laki itu langsung menyebut kata kunci yang bakal mengingatkanku tentang siapa dirinya sebenarnya.

“Curug Lawe…” ujarnya lagi.

“Curug Lawe?” aku mengulangi perkataannya sambil mengambil kembali ingatanku tentang kata kunci tersebut.

***

Aku cuma sekali ke Curug Lawe. Kalau tidak salah, masa liburan menjelang kelulusan SMA. Suatu kali kakakku mengajak jalan-jalan. Ia memintaku ikut karena ia tahu, bila tidak ada aku, izin tidak akan diberikan. Syaratnya satu, kami berdua harus bersama bila bepergian ke luar kota dan menginap. Bila tidak, izin takkan turun.

Ia ingin sekali pergi ke tempat itu, katanya padaku. Ia pun memohon-mohon agar aku mau ikut. Sebab, ini pertama kalinya ia pergi hiking. Menghirup udara segar pegunungan akan baik bagi kesehatan, katanya, ditambah air terjun. “Ini akan menyenangkan,” imbuh kakakku.

Itu juga pertama kalinya aku melakukan perjalanan ke pegunungan—dan bersamanya. Sebenarnya, aku tidak terlalu ingin jalan bersama kakakku. Kami berdua sangat bertolak belakang. Kami tidak pernah satu frekuensi. Ia mempunyai teman banyak. Semua orang di kotaku mengenal dia.

Dari TK hingga SMA, meski kami tidak pernah satu sekolah, tiap temannya maupun temanku di sekolah selalu membandingkan kami. Mereka tidak mengenaliku sebagai diriku. Mereka hanya melihatku sebagai adiknya Dini.

Misalnya saja, “Oh, dia adiknya Dini.”; “Beda ya.”; “Iya beda.”; atau “Dana, tiru kakakmu, masak gini aja enggak bisa”, dan lain sebagainya.

***

“Raga?” kataku lagi sambil mengingat-ingat.

Ia menganggukkan kepalanya. Sambil memindai barang yang kubeli, ia menanyakan apakah aku buru-buru. Aku jawab, tidak. Ia pun memintaku menunggu di depan minimarket.

Sebentar lagi jam kerjanya berakhir, katanya. Di sana memang ada kursi-kursi dan meja untuk konsumen minimarket.

Aku duduk-duduk, menikmati roti sobek, sembari menunggu Raga selesai berberes. Stasiun ini tidak banyak berubah, pikirku dalam hati.

Masih tidak banyak orang yang naik atau turun di stasiun ini. Seperti yang kubilang tadi. Stasiun ini bukan stasiun awal maupun akhir. Ini adalah stasiun singgah.

Hanya beberapa kereta saja yang singgah sebentar untuk menjemput penumpang atau menurunkan penumpang. Paling lama lima menit kereta berhenti, lalu berjalan kembali.

Saat kereta datang dari arah mana pun, kepala stasiun atau petugas stasiun yang sedang jaga akan menenteng lampu, lantas meniup peluit panjang. Kereta kemudian melanjutkan perjalanan.

Setelah keretaku, aku hanya melihat dua kereta berhenti di stasiun ini. Satu dari arah yang sama denganku dan satunya lagi dari arah berlawanan.

Aku tidak ingin mengingat apa pun tentang stasiun ini, tentang kota ini. Semakin aku menghirup udara di kota ini, ingatan itu semakin berdatangan.

Raga tiba-tiba membawaku ke masa kini. Ia duduk di depanku. Kemeja yang dikenakan tak lagi sama. Setelannya telah berganti dengan baju biasa.

“Maaf lama menunggu. Tadi harus membuat laporan sebentar,” katanya.

“Tidak apa-apa,” jawabku.

Baca Juga:  Syair 2: Duka Cinta

“Mau pindah tempat? Tidak buru-buru kan?”

“Boleh,” kataku. “Aku sedang tidak buru-buru.”

Kami pun berjalan keluar stasiun. Tidak ada yang mengecek tiket di pintu keluar. Kami lantas menuju parkiran motor. Kebetulan ia membawa dua helm. Jadi, kami tidak perlu melanggar peraturan.

“Aku selalu membawa dua helm,” katanya. “Jaga-jaga bila ada yang ingin pulang bareng. Ternyata, hari ini ketemu kamu. Kebetulan sekali ya.”

Aku tidak tahu ke mana Raga bakal membawaku pergi. Tidak ada kekhawatiran dalam diriku, meski kami sudah lama sekali tak bertemu. Aku ikut-ikut saja tanpa bertanya ke mana.

Beberapa menit berkendara, pertanyaannya memecah kebisuan kami. “Kamu tidak banyak berubah,” katanya sembari mengendarai motor.

“Hah?” ujarku. Suaranya tidak terdengar sepenuhnya di telingaku. Beberapa kata-katanya terbawa angin karena memang kami sedang berkendara. Beberapa kata lagi tertahan kaca helm.

“Kamu tidak banyak berubah,” ia mengeraskan suaranya agar tak ada lagi kata yang tertinggal.

“Ooh, ya.”

“Kita makan dulu ya. Masih lapar kan?”

“Iya”

“Kamu masih sama. Suka tiba-tiba.”

Aku terdiam.

Kami memasuki jalan utama kotaku, tepatnya kotaku dulu. Menyusuri hingga ke alun-alun kota. Kota ini kecil. Jadi, aku masih hafal benar.

Dua pohon beringin besar masih berdiri saling berhadapan. Alun-alun cukup ramai. Sepeda dengan lampu warna-warni, orang-orang yang sedang berjalan mengitari alun-alun, anak-anak yang bermain pesawat terbang di lapangan alun-alun.

Tidak jauh berbeda. Udara pun masih sama. Lembab.

Setelah mengitari alun-alun, Raga mengambil arah ke kiri dan mulai menjauhi alun-alun. Aku sedikit menutup mata. Merasakan terpaan angin dari kota ini.

***

Sekitar sepuluh atau lima belas menit berkendara, kami akhirnya sampai di sebuah tempat makan. Tempat itu sepertinya baru karena aku tidak mengenalinya. Aku tidak pernah ke sini sebelumnya. Kami turun dari motor dan memasuki tempat makan itu.

Raga memilih meja di sudut ruangan yang tak terlalu banyak orang. Dengan begitu, kami mungkin bisa mengobrol dan tak terganggu kebisingan.

Aku memesan ayam panggang, nasi setengah, dan es teh tawar. Raga memesan ayam geprek dan es teh manis.

“Di sini yang istimewa ayam gepreknya,” katanya. “Sambelnya luar biasa. Kamu harus coba.”

Aku tidak menghiraukan bujukannya. Aku tetap memesan ayam panggang bumbu kecap. Entah kenapa aku langsung memilih menu itu. Setelah menyampaikan pesanan dan pelayan beranjak kembali, Raga mulai mengekspresikan keheranan dan rasa penasaran.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu? Kamu tinggal di mana sekarang?”

“Ya begini. Seperti yang kamu lihat sekarang.”

“Terakhir bertemu, di Curug Lawe. Sudah lama ya.”

“Iya. Sudah lama.”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku?”

“Oh iya. Aku tinggal di Jakarta. Tapi, lebih sering ke luar kota.”

“Wah. Hebat,” jawabnya.

Aku merasa dia cuma basa-basi karena ingin mencairkan suasana kikuk. Memang kami sudah lama sekali, setelah perjalanan ke Curug Lawe. Mungkin 10 tahun atau lebih kami tidak pernah bertemu.

“Kamu beruntung bisa keluar dari kota ini. Seumur hidupku aku bakal menetap di sini. Mungkin sampai kakek-kakek. Sudah menikah?”

“Tidak. Maksudku belum.”

“Sudah bisa kutebak. Dibandingkan Dini, kamu lebih berpikiran bebas.”

“Tebak?”

“Aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi, aku sangat yakin, saat kita berlibur ke Curug Lawe, kamu benar-benar ingin bebas.”

“Bebas?”

“Ya, bebas.”

Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi di air terjun Gunung Ungaran itu. Aku tidak ingin mengambil kepingan-kepingan itu. Sudah terlalu lama dan aku tidak tahu di mana aku menyimpannya.

Namun, kehadiran Raga yang tiba-tiba makin memaksaku untuk menemukan kotak-kotak penuh gambar bergerak—yang seharusnya tak ingin lagi kubongkar.

“Rasanya aneh sekali,” kata Raga.

“Aneh?”

“Enggak sengaja bertemu denganmu dan kita ngobrol. Setelah 10 tahun. Bukannya ini sesuatu yang aneh?”

Baca Juga:  Kekasih Bayangan

“Hmm. Kalau dipikir-pikir memang aneh sih.”

“Ajaib.”

“Betul,” kataku menimpali. “Ajaib.”

“Mengerjakan apa di Jakarta?”

“Aku menulis.”

“Novel?”

“Enggak. Menulis untuk majalah.”

“Wah hebat dong. Ke sini dalam rangka tugas kantor?”

“Cuma mampir. Besok aku melanjutkan ke Lasem.”

“Meliput batik?”

“Salah satunya. Tapi, akan banyak ke masalah kultur masyarakat Lasem.”

“Wow…” katanya kaget.

Aku merasa matanya tidak pernah lepas memandangku. Raut mukanya, cahaya matanya masih sama.

Minuman kami datang lebih dulu. Aku bisa membasahi tenggorokan karena pertanyaan-pertanyaan Raga membuat tenggorokan makin kering. Kedatangan minuman membuat kami istirahat sebentar.

Aku tidak biasa menjawab pertanyaan. Ya, karena perkerjaanku ini, aku lebih banyak bertanya. Bertanya, mendengarkan, mencatat, bertanya, mendengarkan, dan mencatat. Itu yang kulakukan selama ini.

Ya, aku ingat. Saat kami sedang menyusuri jalanan hutan menuju air terjun, Raga yang pertama kali mengajakku berbicara saat orang lain terpaku pada kakakku.

Sebentar lagi kita akan sampai, kata Raga saat itu. Raga seperti bisa membaca keluhan yang kukatakan dalam hati.

Ya, aku ingat. Di dalam ruang gelap dan dingin, aku seperti bisa membuka kotak yang selama ini kusembunyikan.

“Hebat,” kata Raga memecahkan lamunanku. “Dalam 10 tahun, kamu sudah bisa seperti itu. Keren,” katanya lagi sambil mengambil rokok. “Aku merokok tidak masalah?” katanya meminta izin.

“Tidak masalah.”

Ia menyalakan rokok. Makanan cukup lama datang. Sembari menunggu ia membakar rokoknya yang pertama

“Aku tidak menyangka saja kamu sekarang jadi suka berkeliling. Seorang Dana yang dulu hampir pingsan masuk hutan kini menjadi orang yang suka bertualang. Hehehe. Waktu begitu cepat berlalu ya,” katanya.

“Hmmm. Ya.. begitulah. Tapi, kota ini tidak banyak berubah.”

“Tidak pernah berubah. Betul,” katanya sambil melepaskan asap yang ia isap dalam-dalam.

***

Setelah berlibur di air terjun Curug Lawe, aku memutuskan pergi ke Jakarta. Kuliah. Aku tidak ingin mengikuti permintaan orangtuaku lagi. Aku tidak ingin selalu menjadi bayangan Dini.

Tentu mereka kecewa karena aku tidak membicarakan ini sebelumnya. Aku sengaja mendadak memberi tahu. Ayahku paling geram dengan keputusanku.

Keputusanku sudah bulat. Mungkin aku egois, tapi aku ingin hidup dengan caraku.

Aku tidak masalah bila tidak mendapatkan uang saku lagi. Aku sudah menabung untuk rencana ini. Dan, aku bisa bekerja sambilan sembari mencari beasiswa. Mungkin tidak mudah, tapi harus kulakukan.

Aku tidak sempat berpamitan dengan Dini. Ia masih tertidur. Dan bila Dini tertidur, ia tidak bisa diganggu oleh siapa pun. Ia akan tertidur hingga ia bangun sendiri.

Aku memasuki kamarnya, mendekati tempat tidurnya. Di raut muka Dini, aku seperti melihat diriku yang tak berdaya. Seseorang yang tidak bisa melakukan kehendaknya sendiri. Kugenggam tangan Dini.

Aku meninggalkannya, meninggalkan orangtuaku, dan kotaku.

***

Makanan datang. Kami pun menyantap. Tidak banyak percakapan saat kami menghabiskan makanan kami masing-masing.

Muka Raga seperti kebakaran karena kepedasan. Ia beberapa kali menyeka keringat yang membasahi dahi. Bibirnya merah dan tampak lebih tebal.

Berkali-kali ia meminum es teh manis demi meredakan pedas, mengambil tisu dan menyeka kembali dahinya.

“Huuf. Pedas,” katanya. Matanya seperti ingin menangis.

Kami pun menghabiskan makanan dengan cepat. Perutku kosong selepas perjalanan panjang dan mungkin Raga kelaparan karena bekerja seharian. Entah kenapa menghabiskan makanan selalu lebih cepat dari menunggu makanan datang.

Rasanya adegan ini pernah kualami. Déjà vu. Barangkali.

Ia kembali mengambil sebatang rokok dan mengisap tanpa banyak bicara. Mungkin bibirnya masih terlalu panas. Sesekali ia menyesap es teh manis.

Aku mengamati laki-laki itu. Caranya bergerak-gerik. Aku ingin merekamnya kembali. Barangkali kata kembali tidak tepat. Aku ingin merekam ulang gerak-gerik laki-laki di depanku.

“Kamu menginap di mana malam ini?” tanyanya.

Baca Juga:  Controleur Wiggers

“Di daerah Gajah Mada,” jawabku.

Ia melirik jam tangannya. “Masih bisa,” katanya. “Nanti kuantar ya.”

Aku mengangguk.

***

Dari tempat kami makan ke penginapanku tidak terlalu jauh. Hanya butuh 15 menit mengendarai motor.

Aku menikmati jalanan kota yang sudah lama kutinggalkan. Lampu-lampu kota, pohon-pohon akasia yang berjajar di pinggiran jalan, semua merapuh, meluruh.

Selama 15 menit, aku mencoba merekam ulang. Membiarkan potongan-potongan yang lama hilang berguguran. Mataku meleleh. Raga mungkin tak menyadari. Dan mungkin takkan menyadari sama sekali.

***

Tentu aku mencintai Dini. Aku menyayanginya sebagai kakakku, sekalipun kami berbeda frekuensi. Karena aku mencintainya, aku memutuskan meninggalkan kota ini.

Aku tidak ingin berpura-pura menjadi Dini saat penyakitnya kambuh, saat ia tak bisa bangun berhari-hari. Sudah cukup selama hampir 17 tahun aku berpura-pura menjadi dirinya.

Aku sudah lelah harus berperan menjadi Dini, menggantikan Dini ke sekolah, dan membohongi semua orang bahwa Dini baik-baik saja.

Tubuhku saat memerankan Dini memberontak. Hatiku remuk. Bukan karena aku tidak bisa menjadi diriku, lebih karena aku membayangkan bagaimana menjadi Dini saat ia terbaring, sementara aku—saudara kembarnya—menggantikan posisinya. Ini sungguh menyakitkan.

Cukup pula aku menuruti keinginan orangtuaku yang tak masuk akal. Aku ingin Dini menjadi dirinya. Aku ingin orangtuaku menerima Dini apa adanya dan aku ingin orangtuaku melihat diriku sebagai Dana.

Barangkali itu kenapa aku ingin melupakan kota ini. Ingin melupakan segala yang terkait dengan kota ini. Apalagi, setahun setelah kepergianku, Dini meninggal. Itu sangat menyakitkan.

Dan lebih menyakitkannya lagi, aku tidak sanggup menghadiri pemakamannya—karena aku tak sanggup ke luar kamar saat mendengar kabar itu.

***

Sebelum kami berpisah, aku memberanikan bertanya. Satu-satunya pertanyaan yang kutanyakan padanya malam itu.

“Kamu masih mencintai Dini?” tanyaku dengan ragu-ragu.

“Hah? Apa?”

“Lupakan.. lupakan…”

“Oh itu. Ya seperti yang pernah kukatakan ke kamu waktu di Curug Lawe. Saat itu aku sangat mencintainya. Sekarang, mungkin perasaan itu masih tersimpan di salah satu sisi dalam diriku. Bagaimanapun, dia pernah berarti. Tapi, saat ini aku sangat mencintai istriku,” jawabnya. “Kenapa kok tiba-tiba tanya?”

Sebenarnya, kita sudah sering bertemu sebelum di Curug Lawe, saat aku menggantikan Dini, jawabku. Tentu saja jawaban ini hanya kuucapkan di dalam hati. “Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, terima kasih untuk malam ini.”

“Iya. Aku juga berterima kasih,” katanya. “Rasanya seperti kembali ke masa lalu.”

“Iya. Salam untuk istrimu.”

“Oke. Nanti kusalamkan. Dia juga titip salam. Ingin bertemu juga denganmu. Kapan-kapan kalau kamu mampir ke kota ini lagi, kabari ya.”

“Oke,” jawabku.

“Dan jangan menghilang lagi.”

Kami berpisah juga. Malam itu, kota ini kembali lagi seperti di masa lalu. Dua atau tiga langkah sebelum memasuki kamar penginapan, mataku mulai berair. Aku tidak tahu apakah ini air bahagia atau kesedihan.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

1 KOMENTAR

  1. Akhirnya bisa baca sampai selesai.
    Hallo Books&Groove, mulai sekarang aku jadi pembaca setiamu dan akan mewarnai kolom komentarmu. Setelah sebelumnya komentar via penulisnya langsung, lol.

    Ending ceritanya ga ketebak ya. Baca diawal rada bingung, ini Dana cowok apa cewek sih? Baru kejawab waktu di tengah-tengah cerita kalo Dana itu kembaran Dini. Kenapa nggak ngasih nama Dina aja siii, hihi.

    Berarti aslinya Raga suka sama Dana kan? Bukan sama Dini karena Dana waktu itu gantiin Dini. Tapi eh tapi… kenapa Raga nyapa Dana waktu di Curug? Hmmm… Modus kali ya, hihi. Betewe, aku belum bisa nebak itu setting tempatnya di mana ya? Pastinya Jawa Tengah lah ya, ada Ungaran sama Lasem, tp kota tempat tinggal Dana Dini dan ortu ga bisa nebak 🙁

    Karya yg baguss. Kutunggu karya selanjutnya. Tapi, chat personal dulu buat info updatenya 😛

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here