Laut yang Kehilangan Waktu
Laut yang Kehilangan Waktu | Sloan
dibaca normal 18 menit

MENJELANG AKHIR JANUARI, lautan semakin kotor dan mulai membawa sampah-sampah besar ke kota. Beberapa minggu kemudian, semua telah terkontaminasi dan membuat suasana hati tak tertahankan. Sejak saat itu, dunia ini sudah tidak layak lagi untuk dihuni, setidaknya hingga Desember, sehingga tak ada seorang pun akan terjaga setelah pukul delapan malam. Namun, tahun ketika tuan Herbert datang, lautan tidak berubah sama sekali, sekalipun di bulan Februari. Sebaliknya, lautan semakin tenang dan lebih berpendar, serta selama malam pertama bulan Maret, lautan diselimuti wangi bunga mawar.

Tobias mencium wangi itu. Darahnya menarik perhatian kepiting dan dia pun menghabiskan separuh malam untuk menangkapi kepiting-kepiting itu dari kolong tempat tidurnya hingga wangi bunga mawar tercium kembali dan dia pun dapat tidur. Selama masa terjaganya, ia telah mempelajari bagaimana membedakan semua perubahan yang terjadi di udara. Jadi, ketika dia mencium wangi bunga mawar, dia tak lagi membuka pintu untuk mengetahui bahwa bau itu berasal dari laut.

Dia bangun terlambat. Clotilde sudah mulai membakar sampah di kebun belakang. Udara terasa dingin dan semua bintang berada di tempatnya. Namun, bintang-bintang itu sangat susah terhitung, bahkan bintang-bintang terlihat hingga di kaki langit. Ini lantaran cahaya bintang juga memendar di lautan. Setelah meminum kopinya, Tobias masih bisa merasakan sisa-sisa malam di langit-langit mulutnya

“Sesuatu yang sangat asing telah terjadi tadi malam,” dia mengingat-ingat kembali.

Clotilde, tentu saja, tidak menciumnya. Ia tertidur sangat pulas hingga ia pun tak mengingat kembali mimpinya.

“Wangi bunga mawar,” kata Tobias, “dan aku yakin aroma itu datang dari lautan.”

“Aku tidak tahu wangi bunga mawar itu seperti apa,” seru Clotilde.

Dia bisa saja benar. Kota telah lama kering, dengan kondisi tanah yang keras dan berkerut karena garam, serta terkadang seseorang membawa karangan bunga dari luar untuk dilarung ke laut tempat mereka membuang orang-orang yang telah meninggal.

“Bau ini adalah bau orang yang tenggelam dari Guacamayal,” kata Tobias.

“Yah,” Clotilde berkata sambil tersenyum, “Jika bau ini benar-benar bau wangi, seharusnya kamu yakin bau ini tidak datang dari laut.”

Lautan sungguh buruk sekali. Sekarang ini, jika jaring dilemparkan, yang didapat hanya sampah-sampah yang mengapung, jalanan kota ini masih dipenuhi bangkai ikan ketika laut pasang dan surut kembali. Dinamit hanya digunakan untuk mengangkat kapal tua yang karam ke atas permukaan.

BEBERAPA perempuan yang tersisa di kota, seperti Clotilde, telah terbiasa dengan kegetiran ini. Dan, seperti Clotilde, di sana tinggal pula istri Jakob tua, yang bangun lebih cepat dari pagi-pagi biasanya, membereskan rumah, dan duduk sarapan dengan pemandangan penuh kesengsaraan.

“Permintaan terakhirku,” bisiknya kepada suaminya, “adalah dikubur hidup-hidup.”

Ia berkata seperti itu seakan dia sedang berada dalam ranjang kematiannya, tapi sebenarnya ia sedang duduk di depan meja, di ruang makan dengan jendela terbuka, tempat cahaya matahari bulan Maret memendar dan memancar ke seluruh isi rumah. Di depannya, dengan menahan rasa lapar, adalah Jakob tua, lelaki yang sangat mencintainya dan untuk beberapa lama, dia tidak lagi bisa membayangkan semua penderitaan yang belum dimulai bersama istrinya.

“Aku ingin mati dengan jaminan, aku akan diletakkan di tanah seperti orang kebanyakan,” ia meneruskan. “Dan, satu-satunya cara untuk itu adalah dengan keluar meminta kemurahan hari orang-orang untuk menguburkanku hidup-hidup.”

“Kamu tidak perlu meminta ke siapa pun,” kata Jakob tua dengan suara yang tenang. “Aku akan menguburkanmu sendiri.”

“Lakukanlah sekarang,” serunya, “karena cepat atau lambat aku akan mati.”

Jakob tua menatap istrinya dengan seksama. Hanya matanya, satu-satunya yang masih muda. Tulang-tulangnya telah kering terikat di persendian dan tubuhnya tampak seperti tanah yang selesai dibajak.

“Kamu dalam kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya,” dia berseru pada istrinya.

“Tadi malam, aku mencium wangi mawar,” bisiknya.

“Jangan terlalu dipikirkan,” Jakob tua meyakinkan istrinya. “Hal seperti itu selalu terjadi pada orang miskin seperti kita.”

“Bukan seperti itu,” katanya. “Aku telah lama berdoa agar aku tahu kapan kematian itu akan datang sehingga aku bisa mati jauh dari laut ini. Bau wangi bunga mawar di kota ini adalah pesan dari Tuhan.”

Semua yang ada dalam benak Jakob tua hanyalah meminta sedikit waktu untuk mencerna satu per satu. Dia pernah mendengar bahwa seseorang tidak akan mati ketika mereka seharusnya mati, namun justru ketika mereka menginginkannya, dan dia sangat mengkhawatirkan pertanda istrinya itu. Dia masih bingung, ketika hal itu benar-benar terjadi, apakah dia benar-benar menguburkan istrinya hidup-hidup.

Pukul sembilan pagi, dia membuka tempat yang seharusnya sebagai toko miliknya. Dia meletakkan dua kursi dan meja kecil dengan papan catur di atasnya, di depan pintu, dan dia menghabiskan waktu paginya untuk bermain catur dengan lawannya. Dari rumahnya, dia melihat kota yang kian rusak, kota yang berantakan dengan jejak-jejak warna yang memudar oleh sinar matahari dan gumpalan laut di ujung jalan.

Sebelum makan siang, seperti biasanya, dia bermain catur dengan Don Maximo Gomez. Jakob tua tidak bisa membayangkan lawan yang lebih ramah dari lelaki yang selamat dalam dua perang saudara dan telah mengorbankan satu matanya di perang ketiga. Setelah kalah dengan sengaja di gim pertama, dia melawannya lagi di gim berikutnya.

“Katakan padaku satu hal, Don Maximo,” dia memintanya. “Apakah kamu akan menguburkan istrimu hidup-hidup?”

“Tentu saja,” Don Maximo Gomez menjawab. “Kamu bisa percaya padaku saat aku berkata bahwa tanganku tidak lagi bergetar.”

Jakob tua tiba-tiba terhanyut dalam kesunyian. Kemudian, setelah membiarkan bidak terbaiknya terampas, dia menghela,

“Ya, seperti yang terlihat, Petra akan meninggal.”

Don Maximo Gomez tidak mengubah raut mukanya. “Dalam kasus itu,” ia berkata, “tidak ada alasan untuk menguburkan dia hidup-hidup.” Ia melahap dua bidak dan mendekati raja. Lalu, ia membuat lawannya berkaca-kaca dengan raut muka kesedihan.

“Apa yang dia dapat?”

“Tadi malam,” Jakob tua menjelaskan, “ia mencium wangi bunga mawar.”

“Lalu, setengah penduduk kota akan mati,” Don Maximo Gomez menimpali. “Semua itu yang dikatakan orang-orang sepanjang pagi ini.”

Sangat berat bagi Jakob tua untuk kalah lagi tanpa sekalipun menyerangnya. Ia merapikan meja dan kursi, menutup toko, dan pergi ke segala penjuru kota mencari seseorang yang juga mencium bau itu. Akhirnya, hanya Tobias saja. Lalu, ia meminta Tobias untuk membujuk istrinya berhenti, jika ada kesempatan, dan mengatakan kepada istrinya tentang bau itu.

TOBIAS melakukan seperti apa yang Jakob tua katakan. Pukul empat sore, dengan baju Minggu terbaiknya, dia muncul di beranda tempat sang istri Jakob tua menghabiskan siang memperbaiki pakaian kepunyaaan suaminya.

Dia datang begitu cepat hingga membuat sang perempuan terkejut.

“Salam,” serunya. “Kupikir tadi malaikat Jibril.”

“Yah, kamu bisa lihat sendiri, aku bukan Jibril,” kata Tobias. “Ini aku dan aku datang hendak membicarakan sesuatu padamu.”

Ia merapikan letak kacamatanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Aku tahu apa yang akan kamu katakan,” katanya.

“Aku berani bertaruh kamu tidak tahu,” sahut Tobias.

“Kamu mencium wangi bunga mawar tadi malam.”

“Bagaimana kamu bisa tahu?” Tobias bertanya dengan nada terkejut.

“Di umurku sekarang ini,” perempuan itu menyela, “aku telah banyak menghabiskan waktu untuk berpikir bahwa seseorang bisa saja menjadi seorang nabi.”

Jakob tua, yang menguping di balik dinding tokonya, menahan rasa malu.

“Lihatlah, perempuanku,” dia berteriak menembus dinding. Dia berputar dan muncul di beranda. “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan selama ini.”

“Anak muda ini telah berbohong,” timpalnya tanpa sedikit pun menoleh. “Dia tidak mencium bau apa pun.”

“Waktu itu sekitar pukul sebelas,” Tobias menyahut. “Aku sedang mengusir kepiting-kepiting.”

Perempuan itu selesai memperbaiki kerah baju.

“Bohong,” ia bersikeras. “Semua orang tau kamu itu penipu.” Dia menggigit benang dengan giginya dan menatap Tobias melalui kaca matanya.

“Aku justru tidak paham, kenapa kamu datang kemari dengan dandanan norak, rambut klimis, dan sepatu mengilap, hanya untuk mengolok-olokku.”

SETELAH itu semua, Tobias pun terpaku menatap lautan. Dia menggantungkan hammock di beranda dekat kebun dan menghabiskan malam, menunggu sesuatu keanehan yang terjadi di dunia saat orang-orang terlelap. Setelah beberapa malam, dia bisa mendengarkan suara putus asa dari kepiting-kepiting yang hendak memanjat dinding rumah hingga mereka kelelahan sendiri. Dia ingin mengetahui bagaimana Clotilde tidur. Lalu, dia mendapati bagaimana suara dengkurannya semakin lama semakin tinggi mengikuti tingginya hawa panas sampai mereka menjadi satu nada lesu pada bulan Juli yang bergerak lamban.

Saat pertama kali Tobias mengamati lautan, seperti kebanyakan orang-orang mengetahui dengan baik, pandangannya tertuju pada satu titik di ujung cakrawala. Dia melihat lautan berubah warna. Dia juga melihat lautan mengeluarkan cahaya dan lautan semakin berbusa dan kotor serta melontarkan muntahan penuh sampah ketika hujan badai memporaporandakan lautan. Sedikit demi sedikit, ia belajar cara mengamati lautan lebih baik dari siapa pun. Tidak hanya melihatnya saja, namun ia juga tidak bisa melupakan peristiwa itu sekalipun di dalam mimpi.

Istri Jakob tua meninggal di bulan Agustus. Ia meninggal saat tidur dan mereka mengangkutnya, seperti yang orang-orang lakukan sebelumnya, ke lautan tak berbunga. Tobias masih saja menunggu. Dia telah cukup lama menunggu bagaimana perubahan perempuan itu setelah meninggal. Suatu malam, ketika dia terkantuk dalam tempat tidurnya, dia menyadari bahwa udara berubah drastis. Angin berembus sebentar-sebentar, sama seperti ketika kapal Jepang membongkar kargo bawang busuk di ujung pelabuhan. Lalu, bau busuk mengental dan tidak berpindah sama sekali hingga subuh. Ketika Tobias merasakan itu semua, dia bersijingkat keluar dari tempat tidur gantungnya dan pergi ke kamar Clotilde. Ia membangunkannya beberapa kali.

Baca Juga:  Dedaunan Gugur - WB. Yeats

“Mereka muncul,” dia berkata padanya.

Clotilde menyeka bau itu seperti menyeka jaring laba-laba agar bisa bangun. Lalu, dia kembali meringsuk di selimut hangatnya.

“Tuhan telah mengutuk,” katanya.

Tobias melompati pintu, berlari ke tengah jalan, dan mulai berteriak. Dia berteriak sekuat tenaga, menarik napas dalam-dalam dan berteriak lagi, kemudian hening, dan ia kembali menarik napas dalam-dalam, dan bau itu masih saja muncul di lautan. Namun, tidak ada seorang pun menjawab. Kemudian, dia mengetuk pintu demi pintu, sekalipun rumah itu tidak berpenghuni, sampai kegaduhannya membangunkan anjing-anjing dan dia pun membangunkan semua orang.

Banyak dari mereka tidak bisa mencium bau itu. Namun beberapa lainnya, terutama orang-orang lanjut usia, pergi ke pantai, menikmati bau wangi itu. Aroma itu seperti parfum yang dapat menghapus bau badan apa pun. Beberapa orang, yang telah cukup banyak mencium aroma itu kembali ke rumah masing-masing. Beberapa di antaranya lagi memilih tidur dan menghabiskan malam di pantai. Menjelang subuh, aroma semakin memabukkan dan terasa sayang, bahkan untuk dihirup.

Tobias tidur sepanjang hari. Clotilde rebahan bersamanya saat tidur siang. Mereka menghabiskan waktu sepanjang siang, bermain-main di kasur dengan pintu terbuka menghadap kebun belakang. Mereka berdua bergeliat layaknya cacing tanah, lalu seperti kelinci, dan pada akhirnya seperti kura-kura, hingga dunia semakin sayu dan kembali gelap lagi. Masih ada sisa aroma mawar di udara. Terkadang suara-suara musik merembet hingga kamar mereka.

“Suara itu datang dari tempat Catarino,” sahut Clotilde. “Seseorang pasti telah datang ke kota ini.”

Tiga orang laki-laki dan seorang perempuan telah datang. Catarino berpikir mungkin serombongan lain akan datang nanti dan dia pun mencoba memperbaiki gramafonnya. Karena dia tak bisa memperbaiki sendiri, dia pun meminta Pancho Aparecido, yang selalu mengerjakan apa pun karena dia tidak pernah mempunyai apa pun. Selain itu, dia mempunyai alat perkakas dan tangan yang cukup terampil.

Tempat Catarino dibangun dari kayu dan menghadap ke lautan. Tempat itu memiliki ruangan yang luas dengan bangku-bangku dan meja kecil, serta beberapa kamar tidur di belakang. Ketika mereka melihat Pancho Aparecido memperbaiki gramofon, tiga lelaki dan seorang perempuan itu minum-minum di keheningan, duduk di bar dan sesekali menguap.

Gramofon pun bisa dimainkan setelah beberapa kali diuji coba. Ketika mereka mendengarkan musik, jauh namun berbeda, orang-orang berhenti bercakap-cakap. Mereka saling menatap satu sama lain dan sejenak diam tak berkata-kata. Kemudian mereka baru menyadari mereka sudah terlalu tua sejak terakhir kali mereka mendengarkan musik.

Tobias baru menyadari semua orang masih terjaga setelah pukul sembilan malam. Mereka duduk-duduk di depan pintu, keluar mendengarkan piringan hitam tua milik Catarino, dengan rona kekanak-kanakan yang terheran-heran seperti ketika melihat gerhana matahari. Setiap rekaman mengingatkan mereka pada seseorang yang telah lama meninggal, kelezatan makanan setelah lama terbujur sakit, atau sesuatu yang harus mereka selesaikan esok hari karena bertahun-tahun tidak pernah selesai hanya karena mereka kelupaan.

Gramofon berhenti sekitar pukul sebelas malam. Orang-orang pergi tidur, dan berpikir hari akan hujan karena mendung gelap telah menutupi lautan. Namun, awan mendung melayang-layang untuk sementara saja di atas permukaan laut, dan kemudian tenggelam ke lautan. Hanya bintang-bintang yang masih setia di langit-langit. Sesaat kemudian, udara mengalir sejuk dari kota dan kembali membawa aroma bunga mawar.

“Sudah kukatakan, Jakob,” Don Maximo Gomez berseru. “Aroma itu akan kembali lagi. Aku semakin yakin sekarang, aroma mawar akan menyelimuti udara kita sepanjang malam.”

“Duh Tuhan,” keluh Jakob tua. “Aroma ini adalah satu-satunya dalam hidupku yang datang terlambat.”

Mereka telah lama bermain catur di toko yang kosong tanpa memedulikan suara musik. Mereka terlalu tua untuk bisa mengingat kembali lantunan musik serta menggerakkan mereka kembali.

“Bagiku, aku tidak pernah percaya dengan semua ini,” Don Maximo Gomez berkata. “Setelah sekian lama bergelut dengan debu, dengan begitu banyak perempuan yang sekadar ingin sepetak tanah hanya untuk ditanami bunga, hal itu tidak begitu aneh jika seseorang harus berakhir dengan mencium aroma seperti ini dan bahkan memikirkan semua itu benar.”

“Tapi, kita bisa menciumnya sendiri dengan lubang hidung kita,” ujar Jakob tua.

“Tidak masalah,” Don Maximo Gomez memotong. “Sejak perang, ketika revolusi telah kehilangan rohnya, kami semua begitu mengharapkan kehadiran seorang jenderal, kemudian kami pun melihat Duke of Marlborough muncul begitu nyata, darah, dan daging. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Jakob.”

Setelah tengah malam. Ketika dia sendirian, Jakob tua menutup tokonya dan membawa lampu ke kamar tidur. Lewat jendela kamarnya, sisi-sisi jendela yang membatasi cahaya lautan, dia melihat batu karang tempat mereka melemparkan orang-orang yang telah mati.

“Petra…,” dia memanggil dengan suara parau.

Petra tak bisa mendengar suaranya. Pada saat itu, ia melayang di sepanjang permukaan air di bawah ratapan cahaya matahari di teluk Bengal. Ia mendongak untuk melihat menerobos air, layaknya cahaya terang lampu pertunjukkan, di garis samudra luas. Namun, ia tetap tidak melihat suaminya, yang pada waktu itu, di dunia yang lain, mulai mendengar gramofon Catarino lagi.

“Coba pikir,” Jakob tua memulai. “Sekitar enam bulan lalu, mereka berpikir kamu gila dan sekarang mereka mulai mengadakan festival dari aroma yang membawamu pada kematian.”

Dia mematikan lampu dan pergi tidur. Perlahan, dia pun menangis tersedu-sedu seperti seorang tua yang kehilangan wibawa, namun perlahan dia tertidur.

“Aku akan segera pergi dari kota ini jika aku bisa,” ujarnya sambil tersedu-sedu. “Aku akan langsung pergi ke neraka atau ke mana pun juga jika saja aku punya dua puluh Peso.”

SEJAK malam itu dan sampai beberapa minggu, aroma itu masih saja tercium di lautan. Aroma itu meresap ke kayu-kayu rumah, ke makanan, dan ke air minum, bahkan tidak ada lagi tempat untuk menghindari dari aroma itu. Bahkan, banyak orang terkejut, mencium aroma itu di dalam bau kotorannya sendiri. Rombongan laki-laki dan perempuan yang datang di tempat Catarino telah pergi pada hari Jumat, tapi mereka kembali keesokannya lagi dengan begitu banyak orang. Pada hari Minggu, semakin banyak orang berdatangan. Mereka masuk dan keluar di mana pun seperti semut-semut mencari sesuatu untuk dimakan dan tempat untuk tidur, sampai-sampai sangat mustahil bisa berjalan di jalanan.

Orang-orang terus-menerus berdatangan. Seorang perempuan yang dulu pergi ketika kota mati, datang kembali ke tempat Catarino. Mereka gemuk dan memakai make-up yang tebal, dan juga mereka membawa piringan hitam terbaru yang tentu saja tidak akan mengingatkan orang-orang tentang apa pun. Beberapa penduduk yang dulu pernah tinggal kembali lagi ke kota. Mereka pergi untuk mendapatkan kekayaan yang melimpah di suatu kota dan mereka kembali lagi hanya untuk menceritakan kisah kesuksesan mereka, namun lucunya mereka menggunakan pakaian yang sama saat mereka meninggalkan kota ini dulu. Musik dan pertunjukan lain datang: judi rolet, pendongeng dan laki-laki bersenjata serta laki-laki dengan ular yang melingkari lehernya yang kesemuanya menjual kekebalan mereka. Mereka terus berdatangan selama beberapa minggu, bahkan saat hujan pertama datang, dan laut berubah menjadi buruk, serta bau aroma mawar menghilang.

Seorang pendeta datang di antara rombongan terakhir. Dia berjalan, memakan roti yang dicelupkan ke kopi, dan sedikit demi sedikit, dia melarang semua yang datang sebelumnya: permainan judi rolet, musik-musik kekinian dengan tariannya, dan bahkan kebiasaan tidur di pantai yang baru-baru ini merebak. Suatu malam, di rumah Melchor, dia berkhotbah tentang aroma yang muncul dari lautan.

“Berterimakasihlah kepada surga, anakku,” serunya, “atas semua rahmat aroma dari Tuhan ini.”

Seseorang memotongnya.

“Bagaimana bisa Anda bicara seperti itu, Bapa? Anda pun belum pernah menciumnya.”

“Kitab suci,” serunya, “telah menjelaskan secara nyata tentang aroma ini. Kita tinggal di desa yang dikaruniai.”

Tobias mondar-mandir di Festival itu seperti seorang yang berjalan dalam tidur. Dia mengajak Clotilde untuk melihat seperti apa bentuk uang itu. Mereka dimabukkan untuk menghabiskan banyak uang, bertaruh, di judi rolet, dan kemudian mereka merasa senang sekali dan merasa sangat kaya dengan uang-uang yang mereka dapatkan dari memenangkan judi itu. Namun, suatu malam tidak hanya mereka, seluruh orang yang datang ke kota, melihat banyak uang di satu tempat yang mereka tidak bisa bayangkan sebelumnya.

Malam itu Tuan Herbert datang. Dia muncul tiba-tiba, menata meja di tengah-tengah jalan, dan di tengah-tengah meja dia letakkan dua kopor besar penuh dengan cek dari bank. Ada begitu banyak uang yang sama sekali orang tidak menyangkanya pertama kali karena mereka tidak percaya tentang itu semua. Namun, ketika Tuan Herbert mulai membunyikan lonceng kecil, orang-orang tiba-tiba percaya, dan mereka mendengarkan kata-katanya.

Baca Juga:  Cerpen-Cerpen Dunia di BOOKSANDGROOVE.com yang Bisa Dibaca Selama Physical Distancing

“Aku adalah orang terkaya di dunia,” serunya. “Aku punya uang yang begitu banyak sampai-sampai aku tidak punya ruangan untuk menyimpannya lagi. Dan selain itu, jiwaku begitu lapang sampai dadaku tak cukup ruang. Aku memutuskan berkeliling dunia untuk memecahkan masalah manusia.”

Badannya tinggi dan kemerah-merahan. Dia berbicara dengan suara keras tanpa jeda dan sekaligus dia melambai-lambaikan ‘sepasang tangan suam-suam kuku’, tangan yang tak bertenaga yang selalu kelihatan seperti sudah dipotong kukunya. Dia berbicara sepanjang lima belas menit. Kemudian dia membunyikan lonceng kecil dan mulai berbicara lagi. Di tengah-tengah pidatonya, seseorang di tengah kerumunan melambaikan topi dan memotong pidatonya.

“Ayolah Tuan, jangan bicara terlalu lama dan mulailah bagi-bagikan uang.”

“Tidak secepat itu,” jawab Tuan Herbert. “Membagi-bagikan uang tanpa ritme dan alasan tertentu, selain menjadi cara yang tak adil dalam melakukan sesuatu, juga tidak masuk akal sama sekali.”

Dengan matanya, dia menatap laki-laki yang memotongnya dan memanggilnya maju ke depan. Kerumunan orang membiarkan dia melaju.

“Di sisi lain,” Tuan Herbert melanjutkan, “teman kita yang sabar ini akan memberi kesempatan kepada kita untuk menjelaskan sistem yang paling adil dalam pemerataan kesejahteraan.” Dia mengulurkan tangan dan membantunya naik.”

“Siapa namamu?”

“Patricio.”

“Baiklah Patricio,” Tuan Herbert berkata. “Seperti orang-orang lainnya, kamu pasti punya masalah yang selama ini belum bisa kamu selesaikan.”

Patricio melepaskan topinya dan mengiyakan dengan anggukan kepala.

“Apa itu?”

“Yah, masalahku adalah,” Patricio berkata pelan. “aku tidak punya uang sepeser pun.”

“Berapa banyak yang kamu butuhkan?”

“48 Peso.”

Tuan Harbert memberi secercah harapan. “48 Peso,” dia mengulang. Kerumunan itu kemudian bertepuk tangan.

“Bagus sekali, Patricio,” Tuan Herbert melanjutkan. “Sekarang, katakan padaku, apa yang bisa kamu lakukan?”

“Banyak.”

“Pilih salah satu,” seru Tuan Herbert. “Salah satu yang terbaik.”

“Yah,” sahut Patricio, “aku bisa menjadi burung.”

Tepuk tangan riuh datang untuk kedua kalinya, Tuan Herbert menatap kerumunan.

“Baiklah, hadirin puan dan tuan semua, teman kita Patricio, seorang yang ahli dalam meniru burung, akan menirukan empat puluh delapan burung yang berbeda, dan dengan demikian dia akan memecahkan masalah terbesar dalam hidupnya selama ini.”

Kerumunan pun terkejut dalam keheningan, lalu Patricio mulai meniru burung, kadang bersiul, kadang dengan tenggorokannya. Dia menirukan semua burung dan mengakhiri dengan burung yang sama sekali tidak bisa dikenali orang-orang. Ketika dia telah sampai batasnya, Tuan Herbert memanggil dan memberi tepuk tangan, dan ia pun memberinya 48 Peso.

“Dan sekarang,” serunya, “kemarilah satu demi satu. Aku akan tinggal di sini hingga esok hari untuk memecahkan masalah-masalah kalian semua.”

Jakob tua mendengar keributan dari komentar-komentar orang-orang yang berjalan melewati rumahnya. Berita itu membuat hatinya semakin membesar dan membesar sampai ia merasa akan meledak.

“Bagaimana menurutmu gringo ini?” tanyanya.

Don Maximo Gomez mengangkat bahunya. “Dia pasti seorang filantropis.”

“Jika aku bisa melakukan satu hal,” Jakob tua berkata, “Aku bisa memecahkan masalahku sekarang. Tidak terlalu banyak. Dua puluh Peso.”

“Kamu bagus dalam permainan catur,” Don Maximo Gomez menimpali.

Jakob tua tampaknya tidak memedulikannya, namun ketika dia sendirian, dia mulai merapikan papan caturnya dan membungkusnya dengan koran lalu pergi untuk menantang Tuan Herbert. Dia menunggu hingga tengah malam untuk mendapatkan giliran. Akhirnya, Tuan Herbert merapikan koper-kopernya dan mengucapkan selamat tinggal, sampai jumpa lagi besok pagi.

Tuan Herbert tidak juga pergi tidur. Dia muncul ke tempat Catarino dengan laki-laki yang membawakan kopor-kopornya. Kerumunan orang mengikutinya beserta masalah-masalah yang dibawanya. Sedikit demi sedikit, dia membereskan masalah-masalah mereka, dan dia telah membereskan masalah begitu banyak. Akhirnya, di dalam toko, tersisa satu lagi, perempuan dan beberapa laki-laki yang telah diselesaikan masalahnya. Dan di belakang ruangan, seorang perempuan sendirian mengipas-ngipasi perlahan dirinya dengan brosur iklan.

“Bagaimana denganmu?” Tuan Herbert menyeletuk pada perempuan itu. “Apa masalahmu?”

Perempuan itu berhenti mengipasi dirinya.

“Jangan coba-coba melibatkan aku dalam kesenanganmu, Tuan Gringo,” dia berteriak dari seberang ruangan. “Aku tidak punya masalah dan aku seorang pelacur karena hal itu keluar dari kemauanku.”

Tuan Herbert mengangkat bahunya. Dia meminum bir dingin di sebelah kopor-kopornya, menunggu masalah-masalah tak terselesaikan lainnya. Dia berkeringat. Sesaat kemudian, seorang perempuan memisahkan diri dari meja kelompoknya dan berbicara padanya dengan suara rendah. Dia mempunyai 500 Peso masalah.

“Bagaimana kamu membaginya?” Tuan Herbert meminta.

“Lima.”

“Coba banyangkan,” kata Tuan Herbert. “Itu seratus laki-laki.”

“Tidak masalah,” sahutnya. “Jika aku bisa mendapatkan semua uang itu, mereka akan menjadi 100 laki-laki terakhir dalam hidupku.”

Dia menatapnya seksama. Ia cukup muda, rapuh, namun matanya menyatakan keputusan yang lugu.

“Baiklah, kata Tuan Herbert. “Pergilah ke kamarmu, aku akan mengirim seorang laki-laki beserta lima Peso untukmu.”

Dia pergi ke pintu jalan dan membunyikan lonceng kecilnya.

Pukul tujuh pagi, Tobias melihat tempat Catarino terbuka. Semua lampu mati. Setengah mengantuk dan kembung dengan bir, Tuan Herbert mengecek laki-laki yang masuk ke dalam kamar gadis itu.

Tobias ikut pula. Gadis itu mengenalinya dan terkejut melihat dia dalam ruangannya.

“Kamu juga?”

“Mereka menyuruhku untuk masuk,” seru Tobias. “Mereka memberiku lima Peso dan mengatakan jangan lama-lama.”

Ia mengambil seprai basah yang menutupi kasur dan meminta Tobias untuk memegang ujung lainnya. Kain itu keras seperti kanvas. Mereka memerasnya, memutar di kedua ujungnya, sampai berat kain itu kembali seperti semula. Mereka membalikkan kasur agar sisi lembut di baliknya bisa digunakan. Tobias berusaha melakukan yang terbaik. Sebelum meninggalkan gadis itu, ia meletakkan lima Peso di kotak yang telah penuh di samping kasur.

“Kirim semua orang yang kamu bisa,” tuan Herbert menyarankan. “Kita lihat jika kita bisa menyelesaikan semua sebelum siang.”

Gadis itu membuka pintu dan minta bir dingin. Masih ada beberapa laki-laki lagi menunggu.

“Berapa lagi tersisa?” tanyanya.

“63,” Tuan Herbert menjawab.

Jakob tua mengikuti Tuan Herbert sepanjang hari dengan membawa papan catur. Gilirannya datang pada malam hari dan dia menceritakan masalahnya. Tuan Herbert pun setuju. Mereka meletakkan dua kursi dan meja kecil di atas meja besar di tengah jalan. Jakob tua memulai langkah pertama. Itu permainan terakhir yang bisa ia rencanakan sebelumnya. Dia kalah.

“40 Peso,” seru Tuan Herbert, “dan akan kuberi kamu kemudahan 2 langkah.”

Tuan Herbert menang lagi. Tangannya hampir tidak menyentuh bidak catur. Dia bermain dengan menutup mata, mereka-reka langkah lawannya, dan masih juga menang. Kerumunan orang kecapekan menonton. Ketika Jakob tua memutuskan menyerah, dia telah berhutang sekitar 5.742 Peso dan 23 sen.

Jakob tua sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Dia mencatat angka di selembar kertas yang ada di dompetnya. Lalu, ia melipat papan catur, dan memasukkan seluruh bidak-bidak ke dalam kotak, dan membungkus semuanya dengan kertas koran.

“Lakukan apa yang Anda inginkan dariku,” seru Jakob tua, “tapi biarkan aku memiliki ini. Aku berjanji, aku akan menghabiskan waktuku untuk mengumpulkan semua uang itu.”

Tuan Herbert melihat jam tangannya.

“Aku sangat menyesal,” serunya. “Waktumu akan habis dalam dua puluh menit.” Dia menunggu hingga yakin bahwa lawannya tidak menemukan solusi. “Kamu punya sesuatu yang bisa ditawarkan?”

“Harga diriku.”

“Maksudku,” Tuan Herbert menjelaskan, “sesuatu yang bisa berubah warna ketika kuas diolesi cat dan menimpa itu semua.”

“Rumahku,” kata Jakob tua seakan-akan ia telah memecahkan teka-teki. “Itu memang tidak begitu bernilai banyak, tapi itu rumah.”

Itulah cara Tuan Herbert menguasai rumah Jakob tua. Dia juga mengambil alih rumah-rumah lainnya dan properti dari orang-orang yang tidak bisa membayar utang-utang mereka. Tapi, ia mengadakan pertunjukan musik selama seminggu, kembang api, dan sirkus, serta dia mengambil alih perayaan bagi dirinya sendiri.

MINGGU itu adalah minggu yang mengesankan. Tuan Herbert menceritakan takdir ajaib kota dan dia bahkan membuat sketsa bagaimana kota itu di masa depan, bangunan-bangunan tinggi dari kaca dengan ruang dansa di lantai atas. Dia menunjukkan kepada kerumunan orang. Mereka tampak keheranan, mencoba menemukan diri mereka di antara pejalan kaki yang telah diwarnai dengan warna pilihan Tuan Herbert. Namun, mereka tampak bagus berpakaian seperti itu yang membuat mereka tidak bisa mengenali diri mereka sendiri. Ini terasa menyakitkan mereka karena dimanfaatkan oleh Tuan Herbert. Mereka menertawakan diri mereka saat mereka tahu harus menangis kembali di bulan Oktober dan mereka terus hidup di tengah-tengah harapan hingga Tuan Herbert membunyikan lonceng kecilnya dan berkata pesta telah usai. Kemudian dia bisa beristirahat.

“Kamu akan mati dari kehidupan yang kamu jalani,” ujar Jakob tua.

“Aku punya banyak uang, tak ada alasan bagiku untuk mati,” Tuan Herbert menimpali.

Dia merebahkan diri di kasurnya. Dia tidur selama berhari-hari, mendengkur seperti singa, dan begitu banyak hari berlalu hingga orang-orang kelelahan menunggunya. Mereka mencari kepiting untuk dimakan. Piringan hitam Catarino sudah terlalu tua hingga tiada orang yang dapat mendengarkannya lagi tanpa air mata, dan ia pun harus menutup tempatnya.

Baca Juga:  Kisah tentang Seorang Pelukis - Ludmilla Petrushevskaya

Waktu semakin lama berlalu setelah Tuan Herbert tertidur pulas, pendeta mengetuk pintu rumah Jakob tua. Rumah itu terkunci dari dalam. Seperti napas lelaki yang tertidur telah menyebar ke seluruh udara, beberapa orang telah kehilangan berat badan dan mulai menyebar ke sekitar kota.

“Aku ingin bicara dengannya,” ujar pendeta itu.

“Anda harus menunggu sebentar,” kata Jakob tua.

“Aku tidak punya banyak waktu.”

“Silakan duduk, Bapa, dan tunggu sebentar,” Jakob tua mengulangi lagi. “Dan tolong bicaralah padaku sebentar. Sudah lama sekali semenjak aku mengetahui apa yang terjadi di dunia ini.”

“Orang-orang telah tersebar semua,” kata pendeta itu. “Tidak akan lama lagi sebelum kota akan kembali sama seperti sebelumnya. Hanya itu hal yang baru.”

“Mereka akan kembali ketika aroma mawar dari lautan kembali lagi,” ujar Jakob tua.

“Tapi sementara ini, kita harus mempertahankan ilusi yang ada dalam diri orang-orang,” katanya. “Ini sangat penting, kita harus segera membangun gereja.”

“Oh, itu alasan Anda datang menemui Tuan Herbert,” kata Jakob tua.

“Betul sekali,” ujar pendeta itu. “Gringos itu sangat dermawan.”

“Tunggu sebentar, Bapa,” kata Jakob tua. “Dia mungkin saja baru bangun.”

Mereka bermain catur. Permainan catur berlangsung cukup lama dan ketat, serta sudah menghabiskan waktu berhari-hari, tapi Tuan Herbert tidak kunjung bangun juga.

Pendeta itu kebingunan dan putus asa. Ia pun pergi berkeliling dengan membawa cawan tembaga meminta sumbangan untuk membangun gereja, tapi hasilnya tidak begitu banyak. Dia semakin lama semakin lemah untuk mengemis, tulang-tulangnya mulai bergemretak, dan pada suatu hari Minggu, dia mengangkat kedua tangannya di atas tanah, tapi tidak ada yang menyadarinya. Lalu, dia mengemasi pakaiannya ke dalam kopor dan uang yang dia kumpulkan di tempat lain seraya mengucapkan perpisahan untuk selamanya.

“Aroma itu takkan kembali,” katanya kepada seseorang yang mencoba menahannya. “Kamu harus menerima kenyataan, bahwa kota telah jatuh ke dalam dosa besar.”

Ketika Tuan Herbert bangun, kota telah kembali ke keadaan sebelumnya. Hujan telah membusukkan sampah orang-orang yang tertinggal di jalanan dan tanah kini mengering dan keras seperti batu bata lagi.

“Aku tidur lama sekali,” kata Tuan Herbert, menguap.

“Seabad barangkali,” kata Jakob tua.

“Aku kelaparan hingga mau mati rasanya.”

“Semua orang juga,” ujar Jakob tua, “Tidak ada lagi yang bisa dikerjakan melainkan hanya pergi ke pantai dan mencari kepiting-kepiting.”

Tobias melihatnya sedang menggali pasir, mulutnya berbusa, dan dia terkejut melihat seorang kaya raya kelaparan seperti orang miskin kebanyakan. Tuan Herbert tidak mendapatkan cukup kepiting. Saat malam tiba, dia mengundang Tobias untuk mencari sesuatu yang bisa di makan di kedalaman lautan.

“Dengar,” Tobias mengingatkannya, “hanya orang mati yang tahu di kedalaman samudra.”

“Ilmuwan pun juga tahu,” kata Tuan Herbert. “Di kedalaman lautan, terdapat kura-kura dengan daging yang lezat. Lepas pakaianmu dan ayo lekas berangkat.”

Mereka pergi. Pertama-tama mereka berenang lurus dan kemudian mereka menyelam lebih dalam yang bahkan cahaya matahari tak dapat menembus dan digantikan cahaya dari laut itu sendiri. Segala sesuatu yang terlihat hanya cahaya mereka sendiri. Mereka melewati desa yang berada di bawah laut dengan laki-laki dan perempuan di atas punggung kuda dan memutar musik. Saat itu adalah hari yang luar biasa dan di sana terdapat bunga berwarna cerah di teras-teras.

“Hari minggu sudah terbenam sekitar pukul sebelas pagi,” kata Tuan Herbert. “Pasti ini sebuah bencana.”

Tobias menyerah mendekati desa itu, tapi Tuan Herbert menyuruhnya untuk tetap menyelam.

“Ada bunga mawar di sana,” seru Tobias. “Aku ingin Clotilde tahu mereka ada.”

“Kamu bisa kembali lain kali saat senggang,” serunya. “Sekarang, aku mati kelaparan.”

Dia menyelam seperti gurita, lambat, mengepak-ngekapan tangannya. Tobias, yang berusaha mati-matian untuk tidak kehilangan pandangan, berpikir bahwa harusnya ini menjadi cara orang kaya berenang. Pelan-pelan, mereka meninggalkan lautan biasa penuh bencana dan memasuki lautan kematian.

Mereka begitu banyak, sampai-sampai Tobias berpikir bahawa dia tidak pernah melihat orang sebanyak ini di bumi. Mereka melayang-layang tak bergerak, menentangkan wajah, dan pada tingkatan yang berbeda, mereka semua memiliki tampilan dengan jiwa-jiwa yang terlupakan.

“Mereka telah lama mati,” kata tuan Herbert. “Butuh berabad-abad untuk mencapai kedamaian seperti ini.”

Semakin ke dalam, lautan semakin berisi jiwa-jiwa yang baru mati, tuan Herbert berhenti. Tobias dan tuan Herbert sekejap melihat seorang perempuan yang sangat muda melintas di depannya. Ia melayang di sebelahnya, kedua matanya terbuka, diikuti oleh bunga-bunga.

Tuan Herbert mengigit jarinya hingga bunga-bunga yang terakhir lewat.

“Dia perempuan paling cantik yang pernah aku lihat dalam hidupku,” serunya.

“Perempuan itu adalah istri Jakob tua,” kata Tobias. “Ia kelihatan lima puluh tahun lebih muda, tapi aku sangat yakin sekali itu dia.”

“Ia telah selesai menempuh perjalanan jauh,” kata tuan Herbert. “Ia membawa bunga-bunga dari seluruh lautan di dunia.”

Mereka mencapai dasar laut. Tuan Herbert mengambil beberapa putaran dari dasar bumi dan melihat sesuatu seperti batu yang telah dihaluskan. Tobias mengikutinya. Karena sudah terbiasa dengan minimnya cahaya, dia seperti melihat kura-kura di bawah sana. Ada banyak sekali, mungkin ribuan, berkerumun di dasar laut, tak bergerak, mereka tampak ketakutan.”

“Mereka hidup,” kata tuan Herbert, “tapi mereka telah tertidur lebih dari jutaan tahun.”

Dia melewati salah satunya. Dengan sentuhan lembut, dia mendorong ke atas dan hewan yang tidur itu meninggalkan tangannya dan terus melayang ke atas. Tobias membiarkan hewan itu lewat. Lalu dia melihat ke permukaan dan dia melihat seluruh lautan terbalik.

“Ini seperti mimpi,” serunya.

“Untuk kebaikanmu,” Tuan Herbert berkata, “jangan katakan pada siapa pun. Bayangkan, dunia akan terganggu jika orang menemukan tempat ini.”

Hari mendekati tengah malam ketika mereka kembali ke desa. Mereka membangunkan Clotilde untuk memanaskan air. Tuan Herbert memotong kura-kura, tapi dibutuhkan tiga orang dari mereka semua untuk menangkap dan membunuh jantungnya pada kesempatan kedua karena kura-kura itu sempat melompat ke halaman ketika mereka hendak memotongnya. Mereka makan sampai-sampai mereka tidak bisa bernapas lagi.

“Yah, Tobias,” bisik tuan Herbert, “kita harus kembali ke kenyataan.”

“Tentu saja.”

“Dan kenyataan itu berkata,” Tuan Herbert melanjutkan, “bahwa aroma itu takkan pernah kembali lagi.”

“Aroma itu akan kembali.”

“Tidak akan kembali,” Clotilde menimpali, “di antara banyak alasan yang paling masuk akal karena memang aroma itu tak pernah datang. Semua karena ulahmu hingga orang-orang terpedaya.”

“Kamu menciumnya sendiri, kan?” Kata Tobias.

“Aku setengah sadar malam itu,” kata Clotilde. “Tapi sekarang, aku tidak begitu yakin tentang apa pun yang terjadi di lautan.”

“Jadi, aku akan pergi dengan jalanku sendiri,” kata tuan Herbert. “Dan,” dia menambahkan, berbicara kepada mereka berdua, “kamu juga harus meninggalkan ini semua. Masih banyak yang bisa dilakukan di dunia ini agar kamu tidak kelaparan di kota ini.”

Dia pergi. Tobias tetap bertahan di halaman dan mulai menghitung bintang-bintang hingga kaki langit dan dia menemukan tiga bintang lebih banyak sejak Desember. Clotilde memangilnya dari dalam kamar tidur, tapi dia tidak mengindahkan sama sekali.

“Kemarilah, tolol,” Clotilde memaksa. “Sudah hampir setahun sejak kita bermain kelinci-kelincian.”

Tobias lama sekali. Saat dia akhirnya masuk, Clotilde sudah tertidur. Dia coba membangunkannya, tapi Clotilde sangat kecapekan untuk melakukannya berdua dan mereka pun cuma bisa bercinta seperti cacing tanah.

“Kamu melakukan seperti orang bodoh saja,” Clotilde menggerutu. “Cobalah memikirkan sesuatu yang lain.”

“Ya, Aku memang memikirkan sesuatu yang lain.”

Ia ingin tahu apa yang Tobias pikirkan dan Tobias memutuskan untuk menceritakan semua kejadian dan meminta Clotilde untuk menjaga rahasia. Clotilde menyanggupi.

“Ada sebuah desa di dasar laut,” Tobias memulai, ‘dengan rumah-rumah kecil disertai jutaan bunga-bunga di teras.”

Clotilde mengusap-usap kepalanya sendiri.

“Oh, Tobias,” serunya. “Oh, Tobias, demi Tuhan, jangan kamu mulai dengan itu lagi.”

Tobias tidak berkata-kata lagi. Dia berguling resah di ujung ranjang dan mencoba untuk tertidur sejenak. Dia tidak bisa tidur hingga subuh, ketika angin laut berubah dan kepiting-kepiting meninggalkannya dalam kedamaian.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here