Pelukis
dibaca normal 19 menit

ADA SEORANG PELUKIS yang hidupnya sangat miskin. Ia bahkan tak bisa membeli satu crayon, hanya kuas dan cat saja kepunyaannya. Ia coba menggambar di trotoar dengan batu bata, tetapi tukang kebersihan dan petugas keamanan tak bisa mengapresiasi seni. Dia bisa saja menggambar di pagar dan tembok, tapi setiap pagar dan tembok itu sudah jadi milik seseorang. Lagipula, batu bata tidak benar-bisa bisa digunakan untuk menggambar. Batu bata hanya menggores tak rata saja.

Setidaknya pelukis itu memiliki atap di atas kepalanya—ya, jika itu bisa disebut atap. Ia tinggal di tempat tukang kebersihan apartemen—dulu, ia pernah punya satu unit di tempat itu—di bawah tangga, tempat tukang kebersihan menyimpan sapu, ekrak, pakaian kerja, dan gudang darurat itu terpampang iklan apartemen, “Private Apartment for Rent—No Running Water.” Ya, di situlah pelukis kita tidur: di lantai, mantelnya dijadikan selimut, dan bahagia karena dia tidak tidur di jalanan.

Ceritanya panjang kenapa si pelukis bisa menyewa lemari itu. Kita hanya bisa bilang, dia adalah salah satu dari banyak orang yang mudah tertipu dengan janji-janji muluk untuk bisa mendapatkan banyak uang dari apartemen mungilnya, satu-satunya properti kepunyaannya. Lalu, keesokan paginya, mereka akan bangun di sebuah bangku taman, mencoba mengingat apa yang telah terjadi dan kenapa apartemen mereka tiba-tiba berganti kunci dan gorden.

Pelukis itu tinggal di bawah tangga, juga dengan mengutang. Tukang kebersihan berharap, suatu hari si pelukis menang dalam pengadilan melawan Adik, tukang tipu yang telah merampas apartemennya, dan kemudian membayar semua utang-utangnya. Semakin utang-utang si pelukis itu menumpuk, tukang kebersihan merasa lebih dan lebih jengkel ketika melihat tubuh rentan saat dia datang pagi-pagi benar untuk mengambil ekraknya atau sapunya. Adegan penuh teriakan pun dimulai. Tukang kebersihan itu berteriak, hanya satu orang baik hati yang bodoh pula di seluruh alam semesta ini yang rela memberikan rumah berharganya dan membiarkan tidak dibayar selama enam bulan. “Kau utang padaku berjuta-juta, kau dengar!” tukang kebersihan berteriak sambil mengacungkan sapu, sementara itu si pelukis menarik mantelnya untuk menyumbat telinganya.

“Bayar atau pergi! Kesabaran ada batasnya!”

Lalu, si tukang kebersihan itu berpikir, “Atau, aku bisa menyewakan tenagamu sebagai gantinya. Aku bisa pasang iklan: ‘Disewakan Budak untuk Tiga Tahun’. Tapi, tentu saja itu butuh biaya iklan dan waktu. Pergilah ke rumah sakit. Jual ginjalmu. Kau punya dua, satu terlalu banyak untuk seorang sepertimu.”

Petugas kebersihan berteriak seperti itu tiap pagi, seperti ayam jantan. Untungnya, dia tidak betulan seperti ayam jantan. Dia punya dua hari libur tiap minggu dan saat itu, si penunggak sewa bisa tidur nyenyak.

Di hari kerja, si pelukis itu merangkak keluar dari lubang persembunyiannya tepat pukul tujuh dan memulai ritual hariannya, berkeliling di jalanan kota. Dia juga berdiri di sekitar tempat sampah gedung, berharap Adik membuang kanvas tua miliknya, kuas, dan cat yang masih tersimpan di dalam apartemen. Lalu, dia bisa melukis dan menjual lukisan itu.

Namun, ketika semua berjalan buruk, mereka akan semakin mendapatkan nasib buruk. Suatu hari, ketika kembali ke “rumah”, si pelukis mendapati lima anjing, grand piano, perempuan muda, dan orang tuanya pindah ke apartemen tua miliknya. Salah satu anjing itu buta, tapi tetap bisa menggonggong bersama anjing lainnya. Sementara itu, tumpukan buku dan sheet music, rak buku, kursi, dan kandang dengan kucing di dalamnya dimasukkan melalui pintu depan.

Si pelukis malah jatuh cinta dengan keluarga aneh itu dan khususnya dengan anjing buta dan anak perempuannya yang terlihat sangat dewasa, meski dia hanya seorang remaja. Dan, dia pun menunduk dan pergi. Bahkan, dia tidak pernah bersaksi di pengadilan melawan orang-orang itu menuntut pengusiran mereka. Si tukang tipu, Adik, tahu betul apa yang ia lakukan, menjual apartemen si pelukis ke keluarga itu.

KEESOKAN HARINYA, pelukis yang murung itu mencoba menyelesaikan lukisannya. Ia mulai melukis, meski hanya dalam matanya saja. Seperti seorang komandan perang, ia mencari tempat yang cocok, lalu ia mempertimbangkan lanskap sebuah bangunan tua yang kokoh, gereja kecil dengan kubah perak, awan yang menyerupai bulu, tunas pohon, pembeli berbadan montok yang meninggalkan toko roti dengan baguette. Momen yang tetap, semuanya begitu indah! Di dalam lukisan imajinasinya, warna-warna bersinar dan berkilauan: langit berwarna biru kehijauan, roti yang masih hangat dan tembok gereja memancarkan warna keemasan, baju motif bunga pelanggan seperti semak berwarna ungu, dan sentuhan akhir lukisan itu adalah seorang penyihir perempuan mengenakan daster flanel jingga, dengan langkah berat menuju toko roti.

Ketika menyelesaikan masterpiece-nya, si pelukis itu menghirup napas dalam-dalam. Tangannya gemetar dan matanya berkaca-kaca dengan air mata kebahagiaan. Jika dunia bisa melihat lukisannya, mereka akan tertawa riang gembira, pikirnya. Lantas, ia menyeberangi jalanan, membayangkan berjalan menuju toko roti dan sebentaran menghirup aroma baguettes yang baru matang, kaya akan aroma adonan roti, dan aroma samar-samar roti gulung hangat. Tak pernah terpikir olehnya untuk mengemis atau mencari remah-remah di lantai toko roti. Ia hanya berdiri di sana sambil memejamkan mata, menikmati kehangatan.

Selanjutnya, ia mengunjungi tempat rahasia di bawah beranda rumah sebelah, tempat ia menyembunyikan batu kapur, batu bata, dan arang. Dari sana, ia mencari spot trotoar berpavling blok yang kosong. Biasanya ia bisa menemukannya di salah satu sudut terpencil di taman kota. Ia meringkuk dengan kaki dan lututnya sampai hari gelap, melukis: burung gereja abu-abu, kucing putih, goresan merah batu bata lamat-lamat mengisi paving blok trotoar.

Hari itu, si pelukis menggambar lima ekor anjing di samping kandang yang di dalamnya terdapat kucing, sebuah grand piano yang digambar dari atas, perempuan muda yang galak. Terkadang, pejalan kaki simpatik memberinya uang dan begitulah cara si pelukis hidup. Hari ini lukisannya menarik perhatian kerumunan kecil orang lewat: anak-anak dengan es krim, nenek mereka yang membawa baju ekstra dan makanan ringan, pensiunan yang mengenakan setelan rapi, dan beberapa orang dengan potongan rambut penuh kesedihan serta tak membawa apa-apa. Orang-orang itu tak pernah memberikan apa pun untuk lukisannya: lukisan perempuan setengah baya yang—dengan tatapan sepintas lalu bisa diketahui bahwa dia perempuan lajang—bisa membuatmu terenyuh, kurus, dan tidak cocok untuk lelaki mana pun.

Masyarakat umum tidak selamanya setuju dengan kreasi si pelukis. Beberapa di antaranya tidak puas lantaran ia hanya menggunakan tiga warna. “Ia bisa melakukan lebih baik dari itu,” kata mereka. Namun, anak-anak menyukai karyanya. Sebagian besar bahkan menginspirasi anak-anak untuk menciptakan kreasinya sendiri, meski mereka menggambar bukan di paving blok kosong, melainkan langsung di karya si pelukis. Beberapa anak kecil menaburi karyanya dengan pasir dan kotoran, lantas diguyur dengan air hujan. Hasilnya, lukisan itu dipenuhi jejak kaki kecil. Si pelukis tidak mengeluh. Ia tahu, itu juga bagian dari seni. Tapi, nenek mereka keberatan. Mereka melompat dari bangku, menarik cucu-cucu mereka, dan membawanya pergi. Mereka menyesali kaki-kaki basah cucunya karena bisa menyebabkan flu dan merusak celana. Anak-anak menghilang, meninggalkan si pelukis sendirian di sebidang kecil paving blok yang kotor. Pelukis itu berpikir, sebuah karya yang dilukis dengan tanah, air, dan jejak kaki kecil juga berhak masuk museum, baik museum geologi atau seni postmodern.

Hari ini, anak-anak mendekorasi anjingnya dengan kaca mata dan tanduk, membasahi Poppy hingga meleleh, lalu bernari dengan sepatu penuh lumpur di atas grand piano. Tak ada satu pun yang memberikan uang. Namun, nasib mujur datang padanya. Seorang pejalan kaki mendekatinya, betul-betul bulat gemuk, mengenakan jaket kulit, dan tangannya kotor. Dia mengunyah permen karet lalu meludahkan dengan presisi yang pas, tepat di atas lukisan anjing yang berjenggot dan berkaca mata.

“Kau punya kamar untuk malam ini?” tanyanya. “Aku akan membayarmu. Banyak.”

“Uang tunai di muka,” ujar pelukis yang kelaparan. Ia tahu bahwa ini hari Sabtu dan tukang kebersihan takkan datang pagi-pagi. Untuk satu malam, ia bisa atur semua. Laki-laki itu menyerahkan segepok uang dan minta diantarkan ke tempat tidurnya. Saat mendekati gudang di bawah tangga, laki-laki itu menerima kunci, menutup pintu, rebahan di lantai, lalu suasana senyap. Tiba-tiba, si pelukis mendengar suara siulan panjang, diikuti suara tersedak, lalu desahan napas yang menyedihkan. Si pelukis berpikir, penyewa kamarnya tercekik tanpa udara segar. Ia pun mencoba membuka paksa pintu, namun tubuh renta laki-laki itu memenuhi seluruh ruangan dan pintu tidak mau terbuka. Ia berpikir untuk melepaskan engsel pintu, tapi siulan, sedakan napas, dan rintihan berulang, lagi dan lagi. Si pelukis menyadari bahwa penyewa itu benar-benar tertidur.

Si pelukis meninggalkannya tertidur. Di toko roti, ia membeli sepotong roti murah, dua roti gulung, dan satu botol soda. Dengan perut kenyang, ia menjelajahi kota seharian dan malamnya ia pulang ke gudang. Ia mencoba membuka pintu, tapi gagal. Cekcok suara keras terdengar dari dalam dan orang yang bercekcok tidak menyadari ketukan pintu.

Malam hari, pintu terbuka sekali agar perempuan gendut dengan dua karung plastik besar bisa masuk. Si pelukis memaksa masuk setelah perempuan itu masuk, namun beberapa tangan dan kaki mendorongnya keluar. Ia merasa, di dalam gudang itu, setidaknya ada lima orang, saling bertumpukan di karung dan tas hingga ke langit-langit.

Si pelukis berbaring di luar pintu, menggigil kedinginan dan sengsara. Di dalam, dua orang mendengkur, dua orang lain berdebat, dan bayi menangis, bayi yang baru saja dilahirkan.

Keesokan pagi, tiga perempuan bersaudara penuh dengan karung masuk ke dalam. Mereka hanya melangkahi pelukis miskin dan menghilang di dalam. Seketika itu, ruang depan penuh dengan aroma roti dan bawang putih bologna. Si pelukis mengetuk pintu dan meminta uang lebih, namun yang ia terima adalah sebuah pukulan telak. Tinjuan membabi buta bersarang di tubuhnya dan akhirnya si pelukis dirundung keputusasaan. Pesan itu kembali diperkuat dengan kedatangan tamu baru yang memenuhi seluruh lobi dengan karung dan matras. Anak-anak dengan lemah lembut menggeledah dompet si pelukis. Seseorang menarik mantelnya. Si penyewa gudang yang sebenarnya nyaris bisa membebaskan diri dan lari.

Baca Juga:  Ketika Aku Tiada - Maulana Jalaluddin Rumi

DEMIKIAN KEHIDUPAN si pelukis. Kegiatan hariannya masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Pertama, mengkhayal melukis, lalu mengkhayal sarapan pagi, dan sebagainya dan sebagainya. Kehidupan bahagia orang miskin, kecuali orang miskin satu ini yang kelelahan dan putus asa setelah semalaman tak bisa tidur, tidak bisa merasakan kebahagiaan dan memaki-maki diri sendiri lantaran jatuh di lubang yang sama, kehilangan segalanya untuk kedua kali.

Gerimis tipis menyelubungi kota dalam kabut ungu dan menyulap warna-warna ke dalam pelangi kecil. Objek-objek terjauh pun terlihat misterius dan magis. Ia dulu suka sekali melukis lanskap kota seperti itu. Pemandangan kota seperti itu sudah cukup membuat selembar kertas penuh dengan genangan cat air. Lalu, dengan satu goresan lebar, ia bisa membuat langit jingga menutupi pemandangan abu-abu. Ia tambahkan kubus-kubus rumah warna-warni dan di latar depan, sebuah mobil berwarna hijau zamrud yang tidak ada di alam. Lalu, pantulan warna-warna murni dalam percikan cat air melengkapi lukisannya itu. Namun, rasa lapar, basah, dan tak punya tempat tinggal kembali menyeret dirinya ke jalanan kota, mengabaikan udara berkabut dan dinding lembab berwarna-warni. Tanpa tempat berlindung, ia tak bisa menghibur diri dengan mimpi-mimpi indah yang biasa digunakan untuk mendukungnya. Ia tak bisa membayangkan memenangkan kasus melawan Adik atau menjual lukisannya ke museum-museum di dunia…. Ia tak lagi bisa berpura-pura bahwa hidupnya kini gagal total dan kosong, kecuali kesenian yang menjadi perhatiannya.

Ia tersandung—ketika hendak beristirahat sejenak di depan pintu dan menyelinap ke toko untuk menghangatkan diri—dan akhirnya, ketika kekuatannya sudah habis, ketika ia siap berbaring dan mati, instingnya justru menyuruhnya untuk kembali ke apartemen tuanya. Ia berbaring di depan pintu bekas apartemennya dan tertidur. Ia bangun pagi-pagi benar ketika anjing mulai menggonggong dari dalam apartemen dan bau lezat kopi panas mulai memenuhi lorong. Seseorang sedang memainkan piano dengan indah. Dengan mata yang masih agak berat, ia lihat di sampingnya secangkir kopi panas dan kantong kertas penuh kentang goreng, hot dog, garpu plastik, dan sepotong roti.

Oh, betapa senangnya pria miskin ini menikmati pemberian-pemberian ini! Bagaimana ia menangisi—sambil jongkok di dinding—lantaran hidupnya telah hancur! Bagaimana ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan mengatasi segalanya dan bertemu dengan keluarga yang luar biasa ini lalu memberikan lukisannya, yang telah ia gambar di paving blok, yang ia kerjakan bersama anak-anak di taman!

Setelah pahlawan tunawisma kita menyelesaikan sarapan, kunci pintu apartemen berderit. Si pelukis itu buru-buru mengambil tas dan menuruni tangga untuk menghindari bertemu dengan penyewa yang baik hati itu. Ia merasa malu dengan pemberian mereka.

MALAM HARINYA, setelah kelayapan di jalanan sepanjang hari, pelukis miskin yang kedinginan itu berteduh di bawah tenda. Hari masih hujan dan tak ada tempat yang dituju. Ia takkan kembali ke pintu tuanya, yang kini anjing-anjing selalu menggonggong dari dalam dan piano terus berdenting. Dan, ia pun tak mungkin kembali ke gudang karena penyewa baru akan merampas mantelnya: satu-satunya harta miliknya.

Ia duduk sambil memejamkan mata, berharap seseorang menendangnya ke luar tenda; karena memang semua atap kini telah menjadi milik seseorang. Akhirnya, seseorang menepuk pundaknya. Pelukis miskin itu membuka mata dan melihat pria asing, gendut, dan penuh keriangan. Dia memperkenalkan dirinya sebagai kawan lama dari kampus seni yang kini menyerah melukis karena sudah menjadi orang kaya. Si pelukis tak mengenalinya, tapi laki-laki itu mengenali namanya.

“Igor!” ujarnya. “Kau ingin peralatan lamaku? Aku sudah lupa cara melukis dan aku tidak ingin mengotori baju baruku. Kau terlihat membutuhkan bantuan.”

“Peralatan? Cat dan kuas?”

“Tentu, Igor. Dan yang lainnya juga.”

“Kanvas juga?”

“Tentu saja.  Dan masih banyak lagi. Sekarang ikut denganku.”

Si pelukis senang karena ada seseorang mengundangnya ke suatu tempat. Siapa tahu, tempatnya hangat dan kering. Dan, mungkin saja teman sekelas yang ia lupa namanya menawarkan sesuatu untuk dimakan dan bahkan menawarkan tempat untuk bermalam. Apa yang bisa dia ambil diriku? Pelukis itu bergumam dalam hati dengan perasaan sedih. Lalu, tiba-tiba ia merasa malu untuk pergi bersama orang asing yang memintanya itu. Dan, ia menjawab ragu-ragu, “Aku sungguh tidak tahu. Aku sedang buru-buru.”

“Buru-buru? Memang mau ke mana?” tanya kawan lama dengan nada agak marah. Bahkan, bahasa tubuhnya menunjukkan kemarahan. “Kau tidak punya tempat untuk dituju! Kau tidak ingat denganku? Aku Izvosia! Aku sering menodong uang makan siangmu di sekolah!” Seketika, si pelukis ingat Izvosia, si brengsek yang suka mengambil uang, penghapus, dan krayon miliknya.

“Ya, benar, memang tidak ada tempat kan? Aku pergi ke tempatmu, mencarimu. Adik telah menipumu, iya kan? Dan di bawah tangga, di gudangmu, di sana sudah sesak.” Sungguh dingin, malam yang basah, namun ia merasakan gelombang panas dari mulut Izvosia.

“Maaf, aku sedang buru-buru,” bisik si pelukis.

Wajah Izvosia seakan meleleh dalam kabut. Sekarang saatnya pergi, pikir si pelukis. Aku pasti sudah kehilangan akal sehatku karena kelaparan.

“Tentu, tinggallah di sini,” teriak Izvosia, seolah-olah dari jarak yang jauh. “Semua orang menggali kuburnya sendiri!” Dan dia pun menghilang dalam kegelapan senja.

Aku pasti sudah kehilangan akal sehat, si pelukis menegaskan dalam hati. Ia berdiri dan menatap gedung di belakangnya. Jendela dan pintu telah hilang. Di lobi, pohon kecil tumbuh di antara celah lantai yang rusak. Pelukis miskin itu menemukan sofa lusuh di sudut, dan ia pun rebah di atas sofa. Untuk pertama kalinya ia tertidur di tempat yang empuk.

DI PAGI HARI, tidurnya terganggu oleh suara bising yang luar biasa. Suara mesin buldoser menderu-deru dari luar: siap menghancurkan bangunan. Atap bangunan mulai rontok dan seketika si pelukis pun lari keluar pintu. Ia menggigil karena pagi begitu dingin dan mulai pergi. Tapi, salah satu operator buldoser menghentikannya, dan buru-buru menanyakan sesuatu padanya.

“Permisi, apakah ini punya Anda?” tanya si petugas sambil menunjukkan kanvas kosong. “Ini dari dalam gedung, dari kamar Anda.” Si pelukis mengangkat bahu dan menjawab jujur, “Bukan, itu bukan punyaku, dan kamar ini juga bukan punyaku.” Ia pun terus berjalan. Namun, ia tak bisa menahan diri. Ia berbalik. Ia lihat kanvas putih yang kesepian dan sebuah easel yang terlipat bersandar di dinding beton yang hendak dirobohkan. Sebelum ia kehilangan keberanian, ia pun berlari dan mengambil harta karun itu. Ia ingat, ia harus menahan lapar seharian di sekolah karena si brengsek Izvosia dan bersumpah tak akan mengambil barang orang lain, namun dalam kasus ini, ia menyelamatkan barang dari kehancuran. Ia pun menyeret easel dan menggamit kanvas di lengannya, ia memutuskan mencari benda-benda yang telah ditinggalkan pemiliknya.

Namun, sebelum ia pergi, seorang nenek-nenek yang berparas ceria berpapasan dengannya. Si pelukis pun menanyakan padanya, apakah dia tahu siapa yang dulu tinggal di rumah yang akan dibongkar itu.

“Seorang pelukis,” jawab nenek-nenek itu. “Dia sudah terikat kontrak untuk melukis wajah teman sekelasnya, namun sayangnya, sebelum lukisannya selesai, ia keburu meninggal. Tak ada ahli waris. Oh, nasib malang mengikutinya. Gangster menyusup masuk, menyogok penjaga, dan menjarah semuanya. Orang-orang miskin tidak mendapatkan apa-apa, seperti biasanya.”

“Ambillah ini,” si pelukis menawarkan temuannya.

“Nah,” nenek-nenek itu menjawab dengan nada mengejek. “Aku sudah mengambil sampah-sampah di sana: kuas, cat, dan dua gulungan kanvas. Di pasar, tak ada yang memberi satu sen pun dari barang-barang itu. Lalu, aku membuang barang-barang itu. Pelukis-pelukis sudah tak menggunakan kuas. Mereka menggunakan cat semprot atau sejenisnya. Dan, kudengar, mereka menggunakan tabung yang berisi cat dan lalu mereka tinggal menyemprotkan langsung ke kanvas. Kau percaya dengan itu?”

Nenek-nenek aneh itu pun pergi, seperti menari dengan gerakan cepat dan menghilang di sekitar sudut.

Si pelukis segera berlari menuju tempat favoritnya, di toko roti. Baguettes keemasan bergelayutan di tangan orang-orang dan tas belanjaan. Hujan sudah berhenti dan langit hijau kelabu kini sudah cerah, gedung berwarna merah muda dan kuning kini telah dipenuhi orang-orang, di sekitar gereja kecil di jalanan sempit, dan seorang penyihir perempuan mengenakan daster oranye terpincang-pincang menuju toko roti.

Si pelukis segera menyiapkan easel dan mulai melukis dengan cepat sehingga goresannya terlihat kabur. Kuas menari di tangannya, dan seketika itu pula, kanvas mulai bersinar dan bergemerlapan. Pejalan kaki yang lewat berhenti, takjub, lalu berkomentar ramah: “Langitnya salah”, “Rotinya salah”, dan lain sebagainya. Si pelukis sudah pernah mendengar komentar itu sebelumnya dan ia mengabaikan mereka. Adik si tukang tipu, secara mengejutkan, bertingkah laku lain, berbeda ketika mereka bertemu pertama kali. Dia mendekati si pelukis dan memuji berlebihan sketsa yang baru saja ia mulai. Tentu saja, si pelukis merasa tersanjung, akhirnya ada juga yang memuji bakatnya. Ia pun mengundang Adik ke rumahnya untuk melihat lukisan lain. Dengan penuh pujian, Adik pun menawarkan bantuan kepada pelukis berbakat untuk menjual apartemennya dan mencarikan yang lebih murah. Pada hari yang sama, si pelukis memberikan kuasa penuh atas semua hartanya. Nah, kita tahu bagaimana ini akan berakhir.

Ia segera menyelesaikan lukisannya. Tiba-tiba, ia berpikir untuk memeriksa bersama pengacaranya gugatan melawan Adik. Ia pun segera bergegas sambil membawa lukisannya dan setelah beberapa langkah, ia berbalik dan mengucapkan selamat tinggal pada spot favoritnya. Namun, entah kenapa, tempat itu menghilang. Kabut tebal turun ke persimpangan jalan dan membuat tempat itu tak terlihat. Lucu, cuaca berubah begitu cepat, pikir si pelukis dalam lamunan, dan terus berjalan.

Baca Juga:  Gabriel Garcia Marquez: “Selama Tidak Ada Revolusi, Aku Akan Terus-Menerus Hidup dalam Ketakutan”

Yang mengejutkan, pengacara yang sedang berada di meja kerja dan menyambutnya memberi kabar yang tak masuk akal. “Anda menang. Dan, Adik si tukang tipu akan diusir dari apartemen hari ini. Anda berutang 10% dari nilai rumah itu. Pergilah sekarang. Segeralah. Setiap hari, utang Anda akan bertambah.”

Si pelukis mulai berjalan menuju apartemennya, lalu berhenti di tengah jalan. Bukan Adik yang akan diusir dari tempat itu, melainkan keluarga itu, perempuan dan orang tuanya, lima anjingnya dan kucing. Si pelukis pun kembali ke kantor pengacaranya, namun si pengacara sudah pergi. Jam kerja sudah habis.

Keributan yang ia temui di gedung itu sungguh memilukan. Di lantai atas, anjing-anjing menggonggong, pintu apartemen terbuka lebar dan ia bisa lihat si penyewa sedang mengepak barang. Si pelukis melihat gadis itu memasukkan kucing ke dalam kandang. “Dengar,” kata si pelukis, “kau tak harus pergi. Kau bisa tinggal!”

“Apa sebenarnya maksudmu?”

“Maksudku, aku adalah pemilik sebenarnya apartemen ini, tapi kau bisa terus tinggal di sini.”

“Oh ya, ya,” jawab gadis itu acuh tak acuh. “Jadi kau, orang yang merampok Adikku yang malang? Mengambil semua hartanya, dan mengirimkannya ke penjara, lalu merasa kasihan padanya dan memberinya lagi apartemennya? Itu kau?”

“Adik itu penipu!” seru si pelukis yang kebingungan.

“Adik bukan penjahat,” seru gadis itu, dingin, dan akhirnya kucing itu bisa masuk di kandang. “Adik adalah suamiku.” Dia menjawab tanpa kepedihan atau kebanggaan, tapi dengan kekuatan tertentu, seolah-olah pernikahannya sedang diganggu. Gadis itu meletakkan kandang kucing di luar dan makin jelas bahwa dia pincang.

“Biarkan aku membantumu,” kata si pelukis. “Kakimu sakit.”

“Kakiku tidak sakit lagi.”

“Ya, aku bisa melihatnya,” kata si pelukis, benar-benar marah sekarang.

“Tidak, ini tidak sakit!” dan dia berusaha jalan seperti orang normal. Gadis itu membawa kandang kucing ke lantai bawah.

Sementara itu, para kuli, dengan tali, menyeret keluar grand piano. Si pelukis memutuskan untuk membantu mengepak barang-barang keluarga itu. Ia mengikat buku-buku ketika ayah gadis itu mengatakan sesuatu kepada para kuli. Mereka segera meninggalkan grand piano, rak buku, dan meja di tengah ruangan.

Di luar, truk sewa untuk pindahan pergi. Melalui jendela, si pelukis bisa melihat seluruh keluarga duduk di atas koper mereka. Kandang kucing berada di pangkuan si gadis, anjing-anjing mengelilingi si gadis layaknya seorang penggemar. Keluarga itu mungkin saja sedang menunggu Adik, yang barangkali tidak akan datang. Pelukis melihat si gadis membongkar mangkuk dan menuangkan makanan kucing, lalu membiarkan kucing keluar dari kandangnya.

Musim semi tahun ini sungguh mengerikan. Hujan sering datang dan sekarang kota diselimuti awan mendung gelap yang siap meledak kapan saja. Si pelukis takut ke bawah untuk menawarkan bantuan. Bahkan, ia takut menunjukkan wajahnya di jendela. Ia merasa bersalah, namun tangannya telah terikat. Adik pasti telah dirampok dan lalu dia meninggalkan istrinya. Dia mungkin menjual apartemen istrinya dengan janji akan menemukan yang lebih baik dan, saat ini, mereka dipindahkan ke tempat kecil milik si pelukis. Namun, istri Adik yang menyedihkan itu tidak ingin mendengar sepatah kata yang menentang lelaki yang ia cintai itu. Si pelukis merendahkan nada bicaranya ketika ia tiba-tiba mendengar suara Adik di belakangnya.

“Aku ambil kuncinya,” kata Adik, “karena aku sudah mengajukan banding dan untuk sementara, tempat ini masih jadi milikku. Aku punya dokumen yang membuktikan bahwa kau berutang padaku dengan jumlah besar. Dan, apartemen ini adalah agunannya. Aku masih punya kekuatan hukum. Dan, jika kau tidak keluar, aku bisa saja memanggil tukang pukul. Hanya dengan dua pukulan, kau akan terbaring kaku di peti mati. Tapi kau, kau tidak akan dikubur. Kau akan menjadi makanan anjing atau ikan di kolam. Mengerti?”

“Istrimu bilang, kau telah jual apartemennya?”

“Istri yang mana?”

“Yang sedang bersama anjing. Yang kakinya sakit.”

“Maksudmu si Pincang Vera?” Adik tertawa.

“Aku punya banyak istri seperti dia. Enyahlah dari sini. Aku sudah jual apartemen ini ke beberapa orang Rusia.”

Di luar, dari tangga, si pelukis bisa mendengar suara yang familier. Meringkik, berkelahi, dan tangisan seorang anak.

“Tunggu sebentar. Orang-orang Rusia ini, apakah mereka yang membayarmu?”

“Apa pedulimu?”

“Aku akan memberitahumu, uang mereka palsu, paham? Segera setelah kau menggunakannya, kau akan ditangkap.” Si pelukis menundukkan kepalanya. “Dengar, Adik, aku telah menyewakan kamarku pada mereka, dan mereka membayar di muka, tunai. Ketika aku pergi membeli roti dengan uang itu, kasir tiba-tiba berteriak. Aku hampir saja tidak lolos.”

Adik melirik saku bajunya, yang menonjol seperti balkon rumah. “Aku paham,” katanya. “Kau tetap di sini, oke? Jangan biarkan mereka masuk. Tahan mereka. Aku tidak di sini, kau mengerti?”

“Sini kuncinya, aku akan mengunci pintu.” Dia pun memberikan kunci itu.

Adik, pucat dan berkeringat, mendengarkan suara gedoran pintu dan teriakan. Dia pun berbisik, ketakutan. “Apa yang harus kulakukan?”

“Aku akan menjaga apartemen, tapi kau harus segera memindahkan Vera dan keluarganya atau mereka akan segera menemukanmu lewat Vera.”

“Tapi, bagaimana aku keluar?”

“Ada tangga darurat di atas. Dari sana kamu bisa ke atap gedung.”

Adik memanjat keluar jendela. Saat dia keluar, dia berkata, “Aku sudah memasang gerendel di jendela. Kuncilah setelah aku pergi. Atau mereka akan memanjat jendela itu.”

Pintu digedor-gedor oleh orang Rusia itu, namun Adik juga sudah memasang gembok seri bernomor.

Si pelukis mengunci jendela dan menghalangi jendela itu dengan easel yang ia bawa ke apartemen. Karena ia tidak memiliki kanvas lain, ia pun mulai melukis, menimpali gambar yang ia bikin di toko roti. Segera, ia menggambar sketsa gadis, anjing-anjingnya, dan kedua orang tuanya, lalu ia membuka jendela dan memeriksa kondisi di luar. Trotoar di depan gedung itu kosong.

Si pelukis tetap bertahan di apartemen. Ia makan oatmeal dan buckwheat yang ada di dapur dan menguping keriuhan di tangga. Keluarga migran dengan jumlah yang banyak tampaknya berkemah di luar, menduduki setiap langkah kaki. Ia mendengar nyanyian, hentakan kaki-kaki kecil yang seperti sekumpulan kuda, suara ribut dari penyewa di bawah yang komplain. Dari suara pekikan, tandu tampaknya hanya digunakan oleh si kepala keluarga. Sementara yang lain, terus mengarahkan kerumunan ke arah tertentu: “Roma di elevator! Di bantal itu! Bicara padanya!” Si pelukis bisa membayangkan dengan gamblang para penyewa berada di tangga, duduk dan tidur di tangga, seperti layaknya di teater, Roma yang mengenakan jaket kulit duduk di atas bantal seperti seorang solois di sebuah panggung.

Namun, tak ada yang mengganggu si pelukis. Dia disibukkan dengan lukisannya. Dia juga merasa bahwa keluarga Vera seperti keluarganya sendiri. Sepanjang hari, dia mengutak-atik gambar potret. Dia mengubah ekspresi si gadis. Terkadang, gadis dalam lukisannya menatapnya dengan lembut, kadang pula dengan tatapan ironis. Dia memberikan anjing buta satu mata, kandang kucing menjadi lebih luas, dan seterusnya.

Akhirnya, pagi pun tiba ketika dia memasak sekepal beras terakhir dan membuka makanan kucing terakhir, yang samar-samar tercium bau daging. Lalu, di jendela, di balik jeruji besi, muka Adik muncul. Dia menunggu dengan sabar di pintu darurat, mengetuk-ngetuk gelas seperti merpati. Si pelukis mendekati jendela dan menggelengkan kepalanya.

“Tolong, biarkan saya masuk!”

“Jangan tanya.”

“Lihat sendiri kondisimu,” Adik memohon.

“Kau seharusnya menikahi Vera.”

“Apa kau sudah kehilangan akal, teman?”

“Lihat, aku punya cukup makanan untuk tiga tahun. Aku punya air, gas, dan mesin pemanas, serta apartemen yang memang punyaku,” ujar si pelukis dengan suara meyakinkan.

“Jika aku menikahinya, apa kau mau memberikan padaku?” tanya Adik.

“Tentu.”

“Baiklah, aku akan menikahinya besok. Di mana gadis pincang itu?”

“Syaratnya, tempat ini akan menjadi miliknya dan miliknya seorang. Kau tidak berhak menjualnya lagi.”

Adik pun menghilang sekejap dari tangga darurat.

Dari percakapan itu, si pelukis cemas jika Vera dan orang tuanya tidak tinggal bersama Adik dan mereka akan hilang dalam tujuan yang tak tentu.

Melupakan semuanya, dia pun bergegas keluar pintu untuk mencari mereka, namun sebelum ia mengunci pintu, para penghuni tangga melewati si pelukis dan masuk ke apartemen seperti air bah yang menjebol bendungan. Mereka memenuhi lorong hanya dalam satu semburan lalu pecah menjadi sungai-sungai kecil yang memenuhi ruangan. Ada karung, tas, kasur, anak-anak, samovar, bantal. Para penyerbu tidak seperti sedang merayakan sesuatu, justru lebih tepatnya mereka ribut, adu mulut, dan bertengkar memperebutkan ruangan. Di ruang belakang, grand piano seakan meledak: seseorang pasti melompat ke dalam piano itu dan seseorang lain menekan-nekan tuts sembarangan. Roma yang bongsor, yang mengenakan celana jin, sepatu Nike putih, dan jaket kulit, memeluk bantal dengan bulu menempel di pipinya, menutup barisan. Dia melihat ke sana kemari dan akhirnya berjalan ke kamar mandi yang entah mengapa masih kosong.

Hanya satu menit sebelumnya, tempat itu cuma hunian kosong dan penuh rasa lapar. Sekarang, banyak orang tidur di mana-mana, anak-anak memanjat perabotan yang ringkih, para perempuan adu mulut di dapur, piring-piring dan panci berdentangan….

“Kau lapar?” tanya perempuan yang berbalut berlapis-lapis selendang dengan suara canggung kepada si pelukis miskin.

“Tidak, terima kasih,” jawab si pelukis itu lalu berjalan kembali ke tempat easelnya. Anak-anak nakal sudah mengerubungi easel itu. Salah satu dari mereka juga sudah tahu cara membuka cat dan menuangkan isinya ke seluruh kanvas. Lukisannya ditimpa dengan cat merah tua tebal, seperti darah.

Lukisan potret keluarga Vera yang berharga telah dihancurkan.

Si pelukis menghela napas dan mulai melukis kembali di atas lukisannya yang telah dirusak. Di balik latar merah yang memekakkan mata itu terdapat hidup anak-anak yang penuh dengan rasa ingin tahu, orang-orang tua yang kusam dan setengah tertutup, perempuan besar dan licik. Lalu, si pelukis kembali menggambar: sebuah karung, kasur bulu, rok motif bunga dan syal, poci dan panci, samovar merah, teh yang sudah panas di dalam cangkir porselen Cina berwarna merah delima, taplak meja berwarna putih yang menutupi lantai, roti bagel berwarna emas, sepiring permen raspberry, irisan roti hitam, dan teko teh berukuran besar.

Baca Juga:  Kepulauan Rempah-Rempah - Antonio Pigafetta (1521)

Entah bagaimana, sebuah kanvas kecil cukup menggambarkan seluruh kehidupan sederhana keluarga nomaden itu. “Aku juga! Aku juga!” anak-anak berteriak dan si pelukis dengan senang hati melukis mereka, satu per satu. Dia hampir lupa dengan waktu. Ketika lukisannya hampir rampung, dia mendengar suara isakan lembut. Dia melihat sekitar dan menemukan ruangan hampir kosong: sendiri di pojokan duduk gadis kecil menggendong bayi. Si pelukis seakan mengerti gadis itu ingin ikut serta dalam lukisannya dan si pelukis menemukan spot menarik untuk si gadis. Dia mulai menggambar roknya, rosarionya, tangisannya, lengan kecil yang memeluk bayu, lalu pipi merah muda bayi dan bulu matanya yang berwarna hitam, serta kesuraman di balik kepalanya yang seperti boneka itu.

Ketika si pelukis mulai menggoreskan potret keduanya di kanvas, apartemennya seakan-akan hening. Dia menggoreskan kuasnya dan melihat sekeliling. Gadis kecil dan bayi tiba-tiba menghilang. Dia memerhatikan sebuah samovar yang terbungkus syal, dia pun terdorong untuk menambahkan samovar itu ke dalam lukisannya.

Sekarang, dia bisa menghela napas. Dia alihkan pandangan matanya dari lukisan itu dan samovar itu pun juga menghilang. Keluarga itu pasti mengambilnya lagi. Mengapa mereka pergi? Mengapa mereka takut dilukis? Si pelukis lalu mengunci pintu, untuk jaga-jaga, dan mendengar suara dengkuran dari kamar mandi. Roma yang agung tertidur di bak mandi, di atas tumpukan kasur. “Bagaimana aku bisa lupa dengan gajah di toko Cina!” si pelukis bergumam sendiri dan ia pun buru-buru memasukkan Roma ke dalam lukisan keluarga itu. Dia menggambarkannya berada di atas semua karung yang ditumpuk di atas grand piano. Lukisan itu dikerjakan begitu cepat: hanya sepuluh goresan dan Roma sudah melayang di atas anggota keluarganya. Si pelukis menengok kamar mandi untuk mengecek kemiripan lukisannya. Singgasana Roma kosong. Pintu masih terkunci. Tak ada seorang pun meninggalkan apartemen. Jendela-jendela pun masih tertutup rapat.

Si pelukis roboh di lantai, benar-benar ketakutan. Apakah semua anggota geng itu masuk ke lukisan? Dan, jika benar, bagaimana dengan orang-orang lainnya—pembeli di toko roti, perempuan penyihir dengan daster oranye? Bagaimana dengan keluarga dan anjingnya?

Kanvas dan cat-cat itu, apakah kesemuanya milik Izvosia, teman sekelasnya dulu? Objek yang sederhana bisa saja menjadi alat penghancur jika digunakan oleh iblis, namun ketika Anda berurusan dengan sesuatu yang sekompleks seni… Seniman, pencipta, bisa saja mati seperti anjing liar, dalam kemiskinan dan kehinaan serta sakit jiwa, dan sekalipun dia bisa menghentikan waktu.

Tiba-tiba, dia menatap lukisannya dan kembali menatap keluarga migran, yang mungkin saja dia bunuh.

Mengambil kanvas, easel, dan lukisan, si pelukis itu bergegas menuju ke persimpangan favoritnya, toko roti.

Sebuah konstruksi bangunan yang besar telah menggantikan toko itu. Sebuah lubang fondasi yang besar, penuh dengan tanah dan eskavator, telah menelan gang abad ke-19. Gemetaran melihat kuburan toko favoritnya, si pelukis menyadari apa sebenarnya pemberian Izvosia. Yang pernah terlukis dalam kanvas tak akan pernah kembali. Dunia akan segera berakhir. Siapa yang tahu jumlah kanvas yang sudah dibagi-bagikan kawan lamanya itu ke toko seni dan pinggir jalan?

Si pelukis ingin menemui Izvosia, bikin perjanjian dengannya, membujuknya untuk mengambil seluruh “perlengkapan” dan melepas semua orang yang terperangkap di dalam lukisan. Dia ingin menawarkan apartemennya ke Ivzosia. Tapi, dia takkan bisa membayar pengacara. Atau, Izvosia bisa mengambil nyawa si pelukis—apa yang dia inginkan lagi jika Vera dan seluruh keluarganya sudah meninggal?

Akhirnya, si pelukis sudah sampai di tempat terkutuk. (Ingatannya sungguh sempurna.) Di sanalah jalan itu berujung, di sana pula gedung kosong dan dinding beton berdiri.

Sekarang, bangunan itu sudah tergantikan dengan mansion baru berwarna merah mawar, berlantai lima, dengan kubah, susunan balkon, beratap merah, dan dikelilingi dinding tebal berkawat duri. Si pelukis menekan bel yang menempel di dinding, tapi satu-satunya yang menjawab bel itu adalah gonggongan anjing dari dalam yang menyedihkan, seakan-akan mereka disiksa dengan setruman.  tetap sunyi.

Di luar kebiasaannya, si pelukis meraih easel, mengeset easel itu, menekan beberapa cat, meletakkan kanvas terkutuk itu, dan memulai melukis di atas lukisan sebelumnya.

Dia dengan gesit menggoreskan car mengikuti kontur mansion dan dinding, serta membubuhkan bayangan biru dan secercah kehangatan cahaya, membayangkan daun hijau pertama dan geraian tirai di jendela-jendela. Dia tak melewatkan apa pun kecuali gagak yang bertengger di atap mansion. Dia tak ingin membunuh burung tanpa dosa itu. Di salah satu jendela, sebuah tirai tergerai keluar jendela dan muka pucat dengan mulut sedikit terbuka tiba-tiba muncul sesaat. Si pelukis segera melukis lingkaran pucat dan koma hitam lalu wajah itu seketika menghilang. Di jendela lain, sesuatu berwarna biru dan mengkilat—barangkali pistol—namun si pelukis menggoreskan dengan tepat lalu bercak hitam itu lenyap.

Dia melukis dengan seksama dan mansion itu pelan-pelan menghilang sendiri, meleleh seperti gula pasir di dalam teh panas. Menara itu berubah transparan—dia bisa melihat jelas tiang-tiang penyangganya—dan burung gagak itu bergidik berada di atas atap yang mulai lenyap. Lalu, dinding yang dia lukis dengan hati-hati menghilang dan si pelukis sekilas melihat seseorang gemuk mengenakan mantel brokat, memegangi kedua anjingnya. Dua detik berikutnya, anjing-anjing itu menggerutu di dalam kanvas.

Tentu saja, si pelukis menghindari melukis langit, hutan di ujung horizon, rumah-rumah tetangga, atau semacam domba kecil di puncak bukit.

“Kau!” seru seseorang tanpa kepala yang masih mengenakan mantel brokat dan sepatu beludru. “Igor, temanku, mari kita bikin kesepakatan.”

“Tunggu sebentar.” Si pelukis dengan cepat menggambar seseorang tanpa kepala itu dan kini suara orang itu melolong, tanpa tubuh, dari ketiadaan.

“Apa sebenarnya tujuanmu? Tanpa tubuh, aku tidak bisa membantumu. Aku cuma bisa menghancurkanmu. Hapus diriku dalam lukisan itu, lalu aku bisa melakukan apa pun yang kamu mau.”

“Oke. Jika kau mengeluarkan semua orang, aku akan melepaskanmu. Dan aku ingin mereka hadir di sini, sekarang juga.”

“Mari kita berbicara,” kata suara tanpa tubuh itu. “Aku tahu kau adalah orang yang jujur. Kau selalu memberikan uang jajanmu tanpa mendumel. Sekarang, aku akan mengembalikan semuanya kepadamu. Ini yang harus kamu rapalkan, ‘ciao, ciao, bambino’ yang artinya ‘Selamat tinggal, sayang’. Seseorang yang kau lukis terakhir, akan muncul lebih dulu. Sisanya, kau akan menemukan di tempat terakhir kau meninggalkan mereka. Sungguh, aku berani bersumpah demi kehormatanku.”

Ciao, ciao, bambino,” si pelukis merapalkan mantra itu dengan cepat. Dan tiba-tiba, kanvas menjadi kosong. Pertama, mansion itu muncul kembali, lalu gerombolan orang yang ceria dan dekil yang dipimpin Roma, yang langsung bermunculan di dinding beton. Bersama mereka muncul pula samovar, kasur, dan anak-anak. Mereka clingak-clinguk di jendela, lalu di atap. Berteriak, “Aku akan bunuh bajingan-bajingan itu!” Pemilik mansion yang telah dibangkitkan itu, yang mengenakan mantel brokat merah, lari menuju gerbang untuk melepaskan anjing yang baru saja dihidupkan kembali, namun si pelukis dengan cepat memasukkan orang itu dan anjing-anjingnya ke dalam kanvas.

Di jendela mansion, sudah ada bantal dan seprai menggantung. Asap membumbung dari perapian, anak-anak menjerit-jerit di lapangan, merusak semak-semak ungu. Keluarga itu sudah kembali ke kehidupan normal.

Suara tanpa tubuh itu memohon dengan sedih, “Ayo, rapalkan sekali lagi! Katakan, ‘Ciao, ciao bambino,’ kalau tidak, aku akan berbicara padamu selamanya.”

“Lakukan saja! Aku akan membeli penyumbat telinga,” jawab si pelukis. Dia melemparkan peralatan lukis itu ke dinding dan pulang ke rumah, menuju ke tempat suara robekan kanvas dan teriakan kemenangan anak-anak melempar-lempar easel kayu.

Setengah jam kemudian, dia melihat pemandangan yang biasanya: di trotoar depan apartemennya, kucing dan anjing-anjing makan dari mangkuk, dan orang-orang masih duduk di koper mereka, menunggu. Si pelukis mendekati mereka, kunci di tangan. “Apartemen ini gratis,” katanya. “Kau bisa masuk kembali.” Dia mengambil sebundel buku-buku. Orang tua Vera mengambil koper, Vera menarik anjing-anjingnya masuk ke elevator dan semua orang pergi ke lantai atas.

Setelah itu, tampaknya, segala sesuatu berjalan lancar bagi si pelukis. Dia akhirnya menikahi Vera setelah ia berbicara padanya bahwa dia hanya melukis komposisi abstrak yang tidak akan menghasilkan banyak uang. Dia juga mengingatkan Vera jika dari waktu ke waktu dia akan mendengar suara umpatan yang menghujat dirinya. Jangan khawatir, itu hanya permainan kata-kata saja. “Itu karena kau orang lucu,” Vera berkata padanya. “Selalu seperti itu dan selamanya akan seperti itu.”

Pertama kali diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris oleh Anna Summers. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari cerpen Ludmilla Petrushevskaya “The Story of a Painter” oleh Agung DE.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here