von de Wall
dibaca normal 4 menit

JIKA ditanya siapa tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan bahasa Melayu pada abad ke-19, boleh jadi jawaban yang tepat adalah Raja Ali Haji. Ia adalah bangsawan Melayu-Bugis yang tinggal di Riau dan cukup disegani. Buku-bukunya ditempatkan sebagai tonggak permulaan kesastraan modern Melayu. Gurindam Dua Belas dan Syair Abdul Muluk menjadi bukti kesahihan Raja Ali Haji. Dua kitab yang sama-sama ditulis atau diterbitkan pada 1847 ini kerap dijadikan rujukan dalam menilai kepengarangan Raja Ali Haji.

Raja Ali Haji juga pernah menulis kitab tentang pelajaran bahasa Melayu. Sayang, pengerjaan buku ini tidak pernah selesai. Memang, dalam pengerjaan atau penulisannya, Raja Ali Haji masih menggunakan aksara Arab/Jawi. Namun, sastrawan ini tetap layak sebagai peletak dasar kesastraan modern berbahasa Melayu.

Bukan tanpa sebab Raja Ali Haji didapuk sebagai tokoh awal mula kesastraan modern Melayu. Pertama, kitab-kitab hasil karangannya sudah diterbitkan dan disebarkan melalui mekanisme kebudayaan cetak modern. Kedua, Raja Ali Haji sudah membubuhkan namanya sebagai nama pengarang. Artinya, ia punya kesadaran tentang otentifikasi karya. Ini berbeda dengan naskah Melayu sebelum dia yang masih bersifat anonim.

Nah, ada satu tokoh lagi yang sepak terjangnya bisa dibilang setara dengan Raja Ali Haji. Tokoh ini sedikit istimewa, sebab ia bukanlah seorang sastrawan seperti Raja Ali Haji. Ia seorang pegawai kolonial sekaligus peneliti bahasa. Menariknya lagi, Raja Ali Haji dan tokoh ini berteman dekat dan saling berkirim surat. Kumpulan korespondensi antara Raja Ali Haji dan tokoh ini sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia.

Lalu, siapakah tokoh ini? Ia adalah Hermann Theodor Friedrich Karl Emil Wilhelm August Casimir von de Wall atau biasa disebut H. von de Wall. Pria kelahiran Jerman, 30 Maret 1807 ini pertama kali datang ke Hindia Belanda pada 25 Februari 1829. Pertama datang, ia adalah seorang sersan kavaleri pasukan Belanda.

Ia juga pernah menjadi pemimpin Jayang Sekar (pasukan bumiputra) di Cirebon pada 1831. Setelah itu, dia ditugaskan di Sukadana, Kalimantan, pada 1835. Di Kalimantan ini, kemasyurannya sebagai pegawai kolonial makin nyaring terdengar oleh pusat di Batavia. Ia punya hubungan baik dengan penguasa-penguasa suku Dayak di pedalaman. Di Pontianak, ia juga berhasil memecahkan persoalan orang-orang Tionghoa.

Baca Juga:  Soal ‘Rasa’ di Buku Cetak yang Tak Pernah Ada di Buku Digital

Selama menetap di Kalimantan ini, ketertarikan von de Wall terhadap bahasa mulai tumbuh. Ia sempat menyusun daftar kosakata bahasa Dayak beserta artinya dalam bahasa Belanda. Ia juga mengirimkan anaknya, Adolf Friedrich von Dewall, belajar Alquran di salah satu pesantren di Sukadana.

Kecakapan von de Wall dalam lapangan bahasa didengar oleh Gubernemen di Batavia. Ini berkat laporan-laporan perjalanannya di pedalaman Kalimantan yang disertai catatan-catatan kosakata asli. Mantan sersan ini pun ditarik kembali ke Jawa.

Meski menjabat Asisten Residen kelas satu, tugas utamanya di Jawa bukanlah sebagai pegawai pemerintahan. Pada 1855, de Wall diberi tugas yang berat dan mendesak: menyusun kamus bahasa Melayu-Belanda dan Belanda-MelayuTugas ini pernah diemban oleh Lenting dan Schaap (1830-an) serta Roorda van Eysinga (1840-an), tetapi mereka gagak menyelesaikannya.

Pemerintah kolonial pun memberikan gaji yang tinggi bagi de Wall. Awalnya, ia hanya digaji f 600 sebulan. Gajinya dinaikkan f 200 secara berkala hingga f 1.200. Ia juga diberi tambahan uang untuk mencari naskah dan menyalin naskah sebesar f 200. Bagi penyalin naskah dari masyarakat lokal, Dewall kembali diberi tambahan uang f 150. Berkat naskah-naskah salinan dan koleksi de Wall ini pula, beberapa naskah seperti Hikayat Muhamad Hanafiah dan Hikayat Nakhoda Muda masih tersimpan di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Kamus Belanda-Melayu

Selama periode-periode awal pembuatan kamus, de Wall berkenalan dengan CF. Winter senior dan AB. Cohen Stuart. Pertemuan ini dilakukan tatala ia sedang mencari naskah-naskah Melayu yang bakal digunakan sebagai rujukan pembuatan kamus. Bersama Winter dan Cohen, pria Jerman ini berdiskusi soal metodologi penyusunan kamus.

Fase berikutnya (1860-an), de Wall banyak menghabiskan waktu di Riau dan Semenanjung Melayu. Di sana, ia juga sempat terlibat dalam intrik politik istana Riau dalam menjatuhkan Sultan Mahmud Muzaffarsyah. Ia juga dilibatkan dalam pembuatan kontrak politik baru bagi penguasa Riau.

Di fase inilah, de Wall bertemu dengan Raja Ali Haji. Lewat Residen Nieuwenhuyzen, de Wall diperkenalkan kepada Raja Ali Haji. Mereka berdua kemudian bekerja sama dalam menyusun kamus. Ali Haji menjadi narasumber utama kamus de Wall. Selain Ali Haji, ia juga bekerja sama dengan Haji Ibrahim, Muhammad bin Haji Sulung, dan Syarif Hasan yang merupakan kawan lamanya di Kalimantan.

Baca Juga:  Penghargaan Sastra Lain yang Tak Kalah Bergengsi dari Nobel Sastra

Di Riau juga, de Wall bertemu dengan HC. Klinkert, ahli bahasa yang ditugaskan untuk mempelajari bahasa Melayu di Riau. Klinkert ini seperti de Wall, ia juga mengumpulkan naskah Melayu. Tugas Klinkert ini untuk memperbaiki terjemahan Injil dengan menggunakan bahasa Melayu Riau—bahasa kanon Melayu.

Di akhir periode 1860-an, de Wall sudah mulai sakit-sakitan. Namun, ia masih terus tekun menyusun kamus, buku pelajaran bahasa Melayu, dan memeriksa pencetakan buku-bukunya. Edisi pertama kamus Melayu-Belanda, de Wall mengusulkan untuk dicetak di Kerajaan Belanda. Ini lantaran teknologi mesin percetakan pemerintah Hindia Belanda sudah ketinggalan zaman. Sementara, bila dicetak di Belanda, biaya bisa lebih murah, cepat, dan hasilnya pun lebih bagus.

Sayangnya, Gubernemen tak mengizinkan permintaan de Wall itu. Kamus Melayu-Belanda tetap dicetak di percetakan negara. Kurang lebih 3.050 eksemplar, sangat banyak untuk ukuran buku pada zaman itu.

Pada 1873, kesehatan de Wall semakin memburuk. Pada 2 Mei 1873, kematian akhirnya menghentikan kerja kerasnya menyusun kamus. Sejatinya, kamus yang diterbitkan dengan pengawasannya langsung cuma sebagian kecil hasil kerja kerasnya selama hampir 20 tahun. Naskah kamus peninggalan de Wall versi lengkap akhirnya diterbitkan pada 1877. Kamus ini disunting oleh HN. Van der Tuuk, yang juga seorang ahli bahasa terkemuka di abad ke-19.

Karya H. von de Wall

H. von de Wall selain meninggalkan kamus Melayu-Belanda dan Belanda Melayu juga menghasilkan beberapa karya penting. Setidaknya ada 13 buku yang terdiri dari buku bahasa dan sastra, catatan selama di Kalimantan, serta buku peraturan.

Buku bahasa dan sastra karangan von de Wall adalah De vormveranderingen der Maleische taal (Perubahan bahasa Melayu, 1864), Ontwerp van een Maleisch woordenboek en Maleische spraakkunst (desain kamus Melayu-Belanda), Transcriptie van een Maleistalig handschrift getiteld Sijarah Melayu geschreven door Tengku Said, in opdracht van H. von de Wall, assistent-resident Sukadana; met aantekeningen van Roolvink (Transkripsi Sejarah Melayu yang ditulis Tengku Said atas perintah H. von de Wall, Asisten Residen Sukadana, dan diberi catatan oleh Roolvink), Pantoen-pantoen Melajoe (1877) yang ditulis bersama Ibrahim Hadji, Nog iets over de zoogenaamde Angka Imālah en de woorden Nẹtijasa en Arakijan (Tentang angka dan kata-kata arkais, 1865), Hikajat Poetri Djohar Manikam (pengerjaannya dilanjutkan oleh anaknya AF. Von Dewall, 1909-1911), dan Hikajat Soekarna dan Soekarni diatoerkan dengan menoeroet Hikajat Serangga Bajoe jang bernama djoega Hikajat Ahmad dan Mohammad (diteruskan anaknya, 1908).

Baca Juga:  Ferdinand Wiggers; Pesakitan Ambtenaar yang Jadi Redaktur Ternama

Buku selama bertugas di Kalimantan: Derde reis van den Gezaghebber der Oostkust van Borneo 24 Mei 1848 – 2 Augustus 1849 (catatan perjalanan menyusuri pedalaman Kalimantan), Ruw ontwerp eener organisatie der Ooster-Afdeeling van Borneo (gambaran kasar struktur masyarakat pedalaman Kalimantan, 1850), Borneo, Westkust : Sambas, Pontianakh, Mampauwa, Landakh (gambaran pantai barat Kalimantan: Sambas, Pontianak, Mampawa, dan Landak, 1850-1857). Ada juga Opstand der Chinezen van Menteradoe, Westkust Borneo 1853-1854 (pergolakan masyarakat Tionghoa di Menteradoe, Kalimantan Barat), dan Inlichtingen omtrent de politieke toestand van Landakh : ingewonnen op mondelinge last van de waarnemend Resident in de Westerafdeeling van Borneo (Situasi politik di Landak, Kalimantan, 1854).

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here