Ejaan Bahasa Indonesia
(Ilustrasi: Harvard Business Review)
dibaca normal 3 menit

Halo, teman-teman. Kali ini, aku ingin berbagi informasi terkait ejaan bahasa Indonesia. Barangkali, banyak dari kita yang senang menulis. Namun, tulisan kita akan lebih baik apabila kita punya pengetahuan tentang ejaan bahasa yang mumpuni dan sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), terutama jika kita berniat untuk membukukan tulisan kita. Mengapa? Sebab, pertimbangan pertama seorang editor dalam memilih naskah adalah struktur bahasa yang baik. Kendati begitu, aku tetap senang mengetahui bahwa banyak orang yang punya antusiasme dalam menulis, terlepas dari tulisan mereka sesuai atau tidak dengan PUEBI.

Nah, untuk membantu teman-teman yang suka menulis (dan barangkali malas membuka PUEBI), tulisanku kali ini akan membahas kesalahan ejaan bahasa yang kerap kita lakukan. Mungkin, kesalahan ini sering kita anggap remeh, tetapi kita perlu mengetahuinya supaya tulisan kita makin bagus. Siapa tahu, tulisanmu nanti dilirik penerbit karena struktur bahasa yang baik, hehehe. Mari kita simak bersama.

Kesalahan Pertama: Penggunaan Kata Hubung Tetapi dan Namun

Kita sering menggunakan kata hubung tetapi dan namun untuk menjelaskan suatu pertentangan. Namun, tahukah kamu bahwa penggunaan keduanya berbeda?

Kata hubung tetapi digunakan untuk pertentangan yang terdapat dalam satu kalimat.

  • Contoh: Istana itu luas, tetapi halamannya sempit.

Sementara itu, kata hubung namun digunakan untuk pertentangan yang terdapat dalam dua kalimat.

  • Contoh: Saat kecil, Irma adalah anak yang rajin. Namun, setelah dewasa, ia menjadi pemalas.

Wah, wah! Aku juga kadang salah, nih. Semoga setelah ini, kita tak melakukan kesalahan ini lagi, ya.

Kesalahan Kedua: Penggunaan Pasangan Adverbia untuk Pengingkaran

Hayo, siapa yang tidak pernah menggunakan melainkan dan tetapi? Keduanya memang sering kita pakai untuk menunjukkan pengingkaran. Namun, tahukah kamu bahwa keduanya punya pasangan (dan kita sering tak sengaja menukar pasangan mereka)?

Baca Juga:  Kukira

Nah, mulai sekarang, yuk kita ingat-ingat.

Pasangan bukan adalah melainkan. Pasangan ini digunakan untuk mengawali kata benda.

  • Contoh: Saya bukan guru, melainkan karyawan.

Jadi, jangan gunakan pasangan ini untuk kata kerja, ya.

Sementara itu, pasangan tidak adalah tetapi. Pasangan ini digunakan untuk mengawali jenis kata lain, termasuk kata kerja.

  • Contoh: Saya tidak melihat, tetapi merasakan.

Jangan dibolak-balik, ya. Nanti mereka sedih, hehehe (lho).

Kesalahan Ketiga: Penggunaan Kata yang Boros

Kesalahan ini cukup sering kutemui. Misalnya saja, banyak buku-buku. Kalau kita sudah menggunakan kata banyak, kita tak perlu lagi menggunakan kata ulang yang punya makna berjumlah banyak. Contoh lainnya adalah gadis muda. Makna gadis adalah perempuan muda, jadi kita tak perlu lagi menggunakan kata muda.

Kesalahan Keempat: Penggunaan Kata Tidak Baku

Sebenarnya, terdapat beberapa kata tidak baku yang kerap berseliweran dalam tulisan-tulisan. Kendati kita menganggapnya sebagai hal yang lazim, kita harus tahu bahwa kata-kata itu sebenarnya tidak baku. Jadi, saat kita membuat tulisan formal, kita bisa menggunakan kata yang baku.

Kata-kata tidak baku yang sering kutemui adalah familiar, nafas, ekstrim, elit, frustasi, fikiranpondasi, merubah, mengkonsumsi, jaman, apotik, ijasah, diagnosa, analisa, hipotesa, teoritiswalikotaibukotasendalcicakkaos, lembab, dan resiko.

Lho, bukankah kata-kata itu sering kita gunakan? Masa tidak baku, sih? Lantas, apa bentuk yang baku?

Yup, karena kata-kata itu begitu lazim kita gunakan, kita sampai tak tahu bahwa mereka tidak baku. Nah, agar kita tidak salah lagi, mari kita simak bentuk baku dari kata-kata tak baku tadi.

  • Bentuk baku dari familiar adalah familier.
  • Bentuk baku dari nafas adalah napas.
  • Bentuk baku dari ekstrim adalah ekstrem.
  • Bentuk baku dari elit adalah elite.
  • Bentuk baku dari frustasi adalah frustrasi.
  • Bentuk baku dari fikiran adalah pikiran.
  • Bentuk baku dari pondasi adalah fondasi.
  • Bentuk baku dari merubah adalah mengubah.
  • Bentuk baku dari mengkonsumsi adalah mengonsumsi.
  • Bentuk baku dari jaman adalah zaman.
  • Bentuk baku dari apotik adalah apotek.
  • Bentuk baku dari ijasah adalah ijazah.
  • Bentuk baku dari diagnosa adalah diagnosis.
  • Bentuk baku dari analisa adalah analisis.
  • Bentuk baku dari hipotesa adalah hipotesis.
  • Bentuk baku dari teoritis adalah teoretis.
  • Bentuk baku dari walikota adalah wali kota.
  • Bentuk baku dari ibukota adalah ibu kota.
  • Bentuk baku dari sendal adalah sandal.
  • Bentuk baku dari cicak adalah cecak.
  • Bentuk baku dari kaos adalah kaus.
  • Bentuk baku dari lembab adalah lembap.
  • Bentuk baku dari resiko adalah risiko.

Oh iya, selain itu, kita juga harus memperhatikan penggunaan pukul dan jam, ya. Kadang, kita menggunakan jam untuk menyatakan waktu tertentu. Padahal, jam adalah alat untuk mengukur waktu dan juga merupakan satuan waktu. Jadi, untuk menyatakan waktu tertentu, kita seharusnya menggunakan pukul.

Contoh penggunaan jam yang tepat:

  • Kita membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai ke Bandung.
Baca Juga:  Cerpen-Cerpen Dunia di BOOKSANDGROOVE.com yang Bisa Dibaca Selama Physical Distancing

Contoh penggunaan pukul yang tepat:

  • Aku berangkat ke kantor pukul enam pagi.

Bagaimana? Apakah kamu termasuk salah satu orang yang melakukan kesalahan-kesalahan itu? Jika ya, tidak perlu berkecil hati. Kita masih punya banyak waktu untuk belajar. Kuncinya adalah rajin mencari tahu, terus membaca, dan punya tekad kuat untuk terus menulis. Jadi, tetap semangat menulis, ya!

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here