Pelayaran Magellan menemukan rempah-rempah
Pelayaran Ferdinand Magellan | Wikimedia.
dibaca normal 24 menit

Abad ke-16, bangsa Portugis dan Spanyol berlomba-lomba menemukan jalur menuju Kepulauan Rempah-Rempah di timur jauh. Rempah-rempah punya nilai yang sangat tinggi. Saat itu, pedagang Venezia dan Islam memonopoli komoditas rempah-rempah Eropa. Namun, selepas Kesultanan Ottoman mengakuisisi Laut Tengah dan Merah, perdagangan rempah-rempah pun jadi buntu. Rempah-rempah semakin mahal.

Situasi geopolitik di Mediterania membuat bangsa Portugis dan Spanyol memutar otak untuk menemukan Kepulauan Surga di timur jauh ini. Akhirnya, lewat ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi pelayaran, mereka pun berjudi untuk memotong kompas perdagangan rempah-rempah dengan langsung mencari jalan menuju Maluku. Persaingan Portugis dan Spanyol pun dimulai. Untuk meredam persaingan tersebut, Paus di Vatikan membagi wilayah pelayaran antara Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas. Portugis dapat jatah ke timur, sedangkan Spanyol ke barat.

Apes bagi Spanyol, tapi beruntung bagi Portugis. Portugis lebih dulu menemukan Kepulauan Rempah-Rempah. Sementara, Spanyol hanya menemukan “dunia baru” yang lebih keras, yakni Amerika. Hampir satu dekade, Portugis merahasiakan hal tersebut dan mengeruk keuntungan yang berlimpah dari rempah-rempah Maluku.

Peruntungan Spanyol baru datang tatkala pesakitan Portugis bernama Ferdinand Magellan datang membawa misi pelayaran ke Maluku lewat jalur barat. Ia datang bersama budak dari Melayu, Henrique the Black, untuk meyakinkan misi ini. Cerita Henrique ini akhirnya meyakinkan Raja Charles. Ia pun menyetujui misi Magellan. Charles memberikan 5 kapal dilengkapi persenjataan, ramsum, dan barang dagangan untuk mencari cara lewat barat menuju Maluku. Juga, Raja Spanyol ini menyediakan 237 awak kapal untuk kesuksesan misi tersebut. Misi ini pun dimulai pada Agustus 1519.

Di antara mereka adalah Antonio Pigafetta, bangsawan Italia yang tertarik dengan ilmu pengetahuan. Pigafetta diberi misi oleh Kepausan Vatikan untuk mencatat segala yang terjadi dalam misi Magellan.  Dari catatan Pigafetta inilah, dunia mengetahui pelayaran paling dramatis, memilukan, dan juga paling dielu-elukan Spanyol lantaran berhasil menemukan Maluku melalui jalur barat dan berhasil membuktikan bahwa bumi itu bulat.

Nahas, sang kapten utama, Ferdinand Magellan tak bisa melanjutkan misi ini. Ia terbunuh oleh Lapu-Lapu di Filipina. Magellan meninggal sebelum menemukan Maluku.

Dari lima kapal, hanya satu kapal yang berhasil kembali ke Spanyol setelah 3 tahun berlayar. Dari 237 awak kapal, hanya 19 orang yang berhasil kembali. Itu pun dalam kondisi memprihatinkan. Meski hanya sekapal yang kembali, Spanyol masih dapat untung berlipat-lipat dari rempah-rempah yang mereka angkut. Bisa dibayangkan berapa mahalnya rempah-rempah ini.

Booksandgroove.com menerjemahkan satu episode penting dalam catatan Pigafetta tersebut, yakni ketika ia berhasil sampai di Maluku, khususnya di Kesultanan Tidore. Dari catatan ini pula, kita bisa mengetahui bagaimana inferiornya bangsa Spanyol terhadap Kesultanan Tidore. Selain itu pula, kita bisa melihat perdagangan, upacara, kehidupan, dan protokoler kesultanan di Nusantara pada awal abad ke-16.

Rabu, 6 November. Kami telah melalui dua pulau, Zoar dan Mean. Di depan kami menanti empat pulau yang menjulang tinggi pada jarak 14 league ke arah timur. “Di sanalah kepulauan Maluku,” kata juru mudi pada kami. Kami pun sontak bersorai dan bersyukur kepada Tuhan. Untuk merayakan itu, kami menembakkan seluruh artileri kami. Bukan hanya karena keindahan pulau itu kami merasa begitu senang, melainkan karena kami telah melakukan perjalanan selama 27 bulan kurang dua hari untuk mencari Kepulauan Maluku, dan kami telah menyimpang dari Maluku sampai ke pelbagai pulau.

Tapi, aku harus mengakui bahwa dari semua pulau yang telah kami lalui, setidaknya kami telah menemukan pulau-pulau yang luasnya lebih dari seribu depa, dan kami pun tidak melihat bahwa Portugis telah menguasai wilayah-wilayah itu. Menurut mereka, situasi kepulauan Maluku di samudra tidak dapat dilayari ketika kawanan ikan muncul, dan saat udara gelap serta berkabut.

Jumat, 8 November 1521, 3 jam sebelum matahari terbenam, kami memasuki Pelabuhan Tidore, dan merapat di dekat pantai. Kira-kira berjarak 20 depa, kami menurunkan jangkar dan menembakkan meriam kami. Keesokan hari, Raja Tidore datang ke kapal kami menggunakan perahu, dan mengelilingi kapal. Kami pergi untuk bertemu dengan beliau menggunakan sekoci untuk menunjukkan penghormatan kami. Dan, dia mengajak kami untuk naik di perahunya dan duduk di dekat dia. Raja duduk di bawah payung dari sutera yang melindunginya dari sinar matahari. Di depan Raja adalah pangeran kerajaan yang membawa tongkat kebesaran Tidore. Di perahu itu juga ada dua ajudan yang membawa cawan emas dan dua lainnya membawa kotak sirih.

Raja menyambut dengan tangan terbuka atas kedatangan kami, ia pun berkata sudah lama ia memimpikan kedatangan kapal-kapal dari negeri-negeri jauh ke Maluku, dan untuk meyakinkan itu kepada kami, ia berkata bahwa ia telah melihat tanda-tanda kedatangan kapal-kapal dari negeri jauh berdasarkan tanda-tanda bulan. Kapal-kapal itu tentu saja adalah kapal kami. Demikian ia meyakinkan pada kami. Setelah ia naik ke kapal kami, kami mencium tangannya: kami pun menunjukkan buritan kapal kami, namun ia menolak. Ia tidak ingin masuk kabin kecuali dengan upacara kebesaran.

Kami mempersilakan ia duduk di kursi berlapis kain beludru merah, dan memakaikan jubah Turki berbahan beludru kuning. Untuk menunjukkan penghormatan lebih kepada beliau, kami duduk di lantai sebelum ia duduk. Ketika ia sudah mendengar siapa kami sebenarnya dan apa tujuan kami dalam penjelajahan ini, ia berkata bahwa ia dan sekalian rakyatnya akan merasa senang menjadi “teman dekat” dan bagian Kerajaan Spanyol. Lalu, ia menerima kami layaknya anaknya sendiri.

“Anda sekalian dapat tinggal di pulau ini,” katanya, “seperti Anda tinggal di negeri Anda.” Dan ia pun menambahkan, “Suatu saat kerajaan ini tidak lagi bernama Tidore tetapi Castile (Spanyol)”.

Ini menunjukkan kecintaannya kepada Raja kami. Kami pun mempersembahkan kursi yang ia duduki dan jubah yang telah kami kenakan padanya, jubah yang terbuat dari kain linen, baju warna merah tua sepanjang empat elo[1], jubah dari kain brokat, baju berwarna kuning dari kain damask (sutera), kain Cambay berwarna putih bersih, dua topi, enam gunting, enam rangkai manik-manik, dua belas pisau, tiga cermin besar, enam sisir, beberapa berlian yang mengilat, dan lain sebagainya.

Kepada pangeran, kami mempersembahkan pakaian India dari benang emas dan sutera, sebuah cermin besar, topi, dan dua pisau. Untuk 9 pejabat kerajaan yang mendampingi mereka, kami memberikan masing-masing kain sutera, topi, dan dua pisau. Dan, untuk yang lainnya yang menemani, kami memberikan pisau, sampai Raja menyuruh kami untuk tidak memberikan barang-barang lagi.

Ia pun berkata, “Aku tidak bisa mempersembahkan apa pun kepada Raja Spanyol, kecuali jika Raja Spanyol menginginkanku ke negerinya, aku akan siap.” Sekarang, ia mempertimbangkan dirinya sebagai bagian dari Raja kami. Ia mengundang kami untuk mengunjungi kotanya, dan jika ada siapa pun mencoba untuk mendekati kapal kami pada malam hari, ia mempersilakan untuk menembaknya dengan senapan kami.

Ia keluar dari kabin melalui jalan yang sama ketika ia masuk tanpa sekalipun menundukkan kepala. Untuk menghormati keberangkatannya, kami menembakkan seluruh meriam kami.

Raja Tidore merupakan seorang Moor[2] yang berumur kira-kira 45 tahun, cukup bagus dan tampan untuk seumurannya. Pakaiannya terbuat dari kain putih yang bahannya cukup bagus dan di ujung lengannya disulam dengan emas, serta selendang menjuntai dari pinggang hingga ke lantai. Ia tak beralas kaki, ia mengenakan (tudung) dari sutera, dan berkalung bunga. Ia bernama Raja Sultan Manzor.

Minggu, 10 November, kami kembali berbincang-bincang dengan Raja. Raja ingin tahu berapa lama kami telah meninggalkan Spanyol, dan berapa kami dibayar serta perbekalan apa yang diberikan oleh Raja kami. Kami pun menjawab semua pertanyaan itu. Ia meminta tanda tangan Raja kami dan protokol kerajaan karena ia berkeinginan dua Pulau Tidore dan juga Ternate (yang ingin sekali ia kuasai dengan mendudukkan kemenakan laki-lakinya yang bernama Calanogapi sebagai Raja di sana) menjadi bagian dari Kerajaan Spanyol. Demi kehormatan itu, ia siap bertarung sampai mati. Dan jika itu benar-benar terjadi dan ia harus pergi dari kerajaannya, ia akan meminta perlindungan ke Spanyol beserta seluruh keluarganya dengan menggunakan jung yang sedang ia buat dan ia akan membawa tanda tangan Raja.

Ia meminta kepada kami beberapa orang kami untuk tinggal bersamanya dan ia akan selalu menjamin kehidupan orang kami itu. Hal itu untuk mengingatkan kami dan Raja kami. Sepertinya ia akan merasa lebih dihargai jika ada orang kami tinggal bersamanya daripada persembahan kami yang bagi dia tidak akan bertahan lama. Melihat keinginan keras kami untuk mengambil cengkih ke kapal, ia berkata bahwa untuk keperluan itu, ia harus pergi ke pulau yang bernama Bachian. Barangkali ia bisa mendapatkan banyak cengkih seperti yang kami inginkan karena di pulaunya sedang tidak ada cukup cengkih kering untuk diangkut ke kedua kapal kami. Pada hari itu, tidak ada keramaian di kota karena hari Minggu. Hari libur (besar) orang-orang sini adalah Jumat.

Dengan mengagungkan kebesaran-Mu, kami akan memberikan beberapa deskripsi tentang kepulauan ini, tempat cengkih tumbuh melimpah ruah. Kepulauan Maluku terdiri dari lima pulau—Ternate, Tidore, Mutir, Machian, dan Bachian. Ternate adalah pulau utama di Kepulauan Maluku. Rajanya, ketika masih hidup, hampir menguasai keempat pulau lainnya. Tidore, pulau tempat kami sedang berada sekarang, mempunyai raja sendiri. Pulau Mutir dan Machian tidak mempunyai raja, namun di sana diatur oleh orang-orang lokal; dan ketika Tidore dan Ternate sedang berperang, mereka menyediakan pejuang-pejuang untuk berperang. Yang terakhir adalah Bachian. Di sana terdapat raja yang memerintah. Semua provinsi itu, tempat cengkih tumbuh subur, dinamakan Maluku.

Ketika kami tiba di sini, delapan bulan yang lalu, seorang Portugis, Fransisco Serrano, meninggal di Ternate. Ia adalah Kapten-General Kerajaan Ternate ketika berperang melawan Tidore; dan dia berkeberatan ketika Raja Tidore memaksakan anak perempuannya untuk menikah dengan Raja Ternate, yang juga menyandera hampir semua anak laki-laki dari pemimpin Tidore. Perjanjian perdamain kemudian dibuat, dan dari anak perempuan itu lahirnya kemenakan Calanopagi. Yang telah aku bicarakan sebelumnya.

Raja Tidore tidak pernah benar-benar memaafkan Serrano. Ketika Serrano pergi ke Tidore untuk berdagang cengkih, Raja Tidore meracuni Serrano dengan daun sirih, Serrano hanya bertahan selama 4 hari, kemudian meninggal. Raja Ternate meminta untuk menguburkan Serrano dengan upacara yang biasa ia lakukan, namun tiga pelayan Kristiani yang Serrano bawa tidak menyetujui. Serrano meninggalkan satu anak laki-laki, satu anak perempuan yang masih kecil-kecil dan perempuan cantik yang ia bawa dari Jawa Mayor, serta dua ratus bahar cengkih.

Fransico Serrano adalah teman dekat kapten kami, dan ia lah yang membujuk agar Magellan mengambil misi penjelajahan ini. Ketika Magellan berada di Malaka, Magellan sering berkirim surat dengan Serrano. Dari situlah Magellan tahu bahwa Serrano telah sampai di Maluku. Kemudian, ketika D Manuel, Raja Portugal, menolak permohonan Magellan untuk menaikkan dana pensiunannya sebesar setengah dukat per bulan—karena ia merasa sudah bekerja dengan baik—Magellan memutuskan untuk pergi ke Spanyol dan membuat proposal kepada Raja Spanyol untuk datang ke sini (Maluku) lewat jalur barat, dan Raja pun mengabulkan permohonannya.

Sepuluh hari setelah kematian Serrano, Raja Ternate yang bernama Raja Abuleis keluar istana untuk menemui Raja Bachian, yang juga merupakan menantu Raja Ternate. Raja Bachian mengunjungi Ternate untuk menyepakati perjanjian damai. Dan, Raja Bachian meracuni mertuanya. Raja Abuleis pun hanya mampu bertahan dua hari kemudian meninggal. Raja Ternate meninggalkan 9 anak yakni; Chechili-Momuli, Jadore Vunghi, Chechilideroix, Cilimanzur, Cilipagi, Chialinchechilin. Cataravajecu, Serich, dan Calanopagi.

Senin, 11 November, Chechilideroix, salah satu anak Raja Ternate yang disebutkan di atas, berada di dekat kapal kami dengan dua perahu. Ia mengenakan beludru merah. Kami memperkirakan bahwa di sebelah pangeran itu adalah janda Serrano dan anak-anaknya. Ketika kami tahu dia sebagai musuh Raja Tidore, kami pun meminta kepada rombongan pangeran Ternate untuk masuk ke kapal kami, yang mungkin jika kami berada di wilayah Ternate, mereka tidak akan melakukan hal yang sama. Raja telah memerintahkan kepada kami melakukan apa saja yang kami yakini jika berada di kapal kami. Namun, pada waktu itu Chechilideroix, melihat dengan ragu-ragu kepada kami, curiga, dan bergerak menjauhi kapal kami.

Kemudian, kami mengirim sekoci, dan memberikan persembahan kami padanya berupa pakaian India dari emas dan sutera, beberapa gelas, pedang, gunting, serta lainnya: semua itu ia terima, namun dengan nada penghinaan, dan secepatnya mereka pergi. Ia bersama orang India (mungkin Melayu?) yang telah memeluk Kristen, bernama Manuel, pelayan Pedro Alfonzo de Lorosa—seorang Portugis yang setelah kematian Serrano datang dari Bandan ke Ternate.

Baca Juga:  Tempat Tinggal – Margaret Atwood

Manuel bisa berbahasa Portugis. Ia naik ke sekoci kami dan berkata kepada kami, meskipun anak dari Raja Ternate adalah musuh Raja Tidore, ia belum menentukan untuk bersahabat dengan Spanyol. Kemudian kami mengirimi surat kepada de Lorosa agar datang ke kapal kami tanpa kecurigaan apa pun dan rasa takut.

Peta Kepulauan Maluku.

Raja-raja di Maluku memiliki banyak selir sebanyak mereka mau, namun mereka hanya mempunyai satu permaisuri. Raja Tidore memiliki rumah yang luas di luar kota. Di tempat itu terdapat dua ratus perempuan, dan dia akan merasa senang, ketika semakin banyak perempuan yang melayaninya. Raja hanya makan sendiri, atau dengan permaisurinya, di tempat yang ditinggikan (semacam singgasana). Dari tempat itu ia dapat melihat orang-orang yang duduk melingkarinya, dan dia memilih salah satu orang yang ia suka untuk datang padanya.

Ketika Raja selesai makan malam, semua perempuan makan bersama jika diizinkan, atau salah satu di antara mereka makan di kamar Raja. Tidak ada seseorang tanpa izin khusus dari Raja dapat melihat perempuan-perempuan itu, dan jika ada orang, baik siang maupun malam tertangkap basah mendekati dan mengintip rumahnya, dengan segera Raja akan membunuhnya. Setiap keluarga dalam kekuasannya harus memberikan setidaknya satu atau dua anak perempuan kepada Raja. Raja Sultan Manzour mempunyai dua puluh enam anak, delapan laki-laki, dan delapan belas perempuan. Di Pulau Tidore terdapat pemuka agama, seseorang yang ketika kami di sana mempunyai empat puluh perempuan dan anak banyak sekali.

Selasa, 12 November, Raja telah membangun rumah untuk segala barang dagangan kami, dan rumah itu dibangun hanya dalam waktu sehari. Kami menempatkan segala barang kami untuk dibarter dan menempatkan 3 orang kami untuk menjaga. Kami sesegera berdagang. Barang-barang pun kami tawarkan. Untuk baju merah berukuran 10 elo dengan kualitas bagus, mereka menghargai dengan sebahar cengkih. Satu bahar sama dengan empat kuintal lebih enam pons. Untuk pakaian dengan kualitas sedang sepanjang 15 elo, dihargai sebahar (cengkih), untuk 15 kapak sama dengan sebahar, untuk 35 gelas seharga sebahar.

Raja dalam jual beli ini telah mendapatkan hampir semua cawan kami; untuk tujuh belas cathils kayu manis dihargai sebahar; sama juga dengan air raksa yang banyak. Untuk kain linen kualitas biasa sepanjang dua puluh enam elo dihargai sebahar, dan sama harganya untuk dua puluh enam elo kain linen kualitas bagus; untuk 115 pedang dihargai sebahar, untuk lima puluh gunting dihargai sebahar, empat puluh juga senilai sebahar; untuk baju asal Gujarat dihargai sebahar; untuk simbal buatan mereka dihargai dua bahar; untuk satu kuintal perunggu dihargai sebahar. Hampir semua cermin kami pecah dan Raja masih menginginkan beberapa di antaranya.

Kebanyakan barang yang kami sebutkan itu, kami dapatkan dari penangkapan jung-jung yang telah kami ceritakan sebelumnya; dan karena kami tergesa-gesa untuk kembali ke Spanyol, kami menjual barang kami dengan harga murah dibandingkan saat kami tidak dalam keadaan yang tergesa-gesa.

Setiap hari, sekoci-sekoci kami penuh muatan dengan kambing, unggas, sayuran, kelapa, dan makanan-makanan lainnya dan memuatnya ke kapal kami—hal itu cukup mengagumkan. Kami menyuplai air bersih dari sumber mata air panas, namun jika berada di udara terbuka selama satu jam, air itu akan menjadi sangat dingin. Mereka (penduduk setempat) berkata bahwa air itu muncul dari gunung-gunung penghasil cengkih. Ini mungkin membuktikan mitos bahwa air segar di bawa ke Maluku dari negeri yang jauh.

Keesokan harinya, Raja memerintahkan anaknya yang bernama Mossahap pergi ke Pulau Mutir untuk mendapatkan cengkih dan akan dimuat ke kapal kami. Kami kemudian berkata kepada Raja bahwa hari itu kami telah menangkap beberapa Indians (orang lokal?) dan ia memerintahkan kepada kami untuk menyerahkan mereka dan membebaskan orang-orang itu. Alasannya agar mereka dapat kembali ke tempat asalnya ditemani lima prajurit Tidore dan akan menyanjung Raja Spanyol serta membuat nama baik bagi bangsa Spanyol.

Kami memberikan tiga perempuan kepada Raja yang seharusnya kami persembahkan kepada ratu dan semua orang orang tawanan kami kecuali orang Brunei. Raja sangat mengapresiasi pemberian kami.

Raja meminta persembahan lain yakni kami harus membunuh semua babi yang ada di kapal dan Raja akan menggantinya sebagai kompensasi dengan unggas dan kambing. Kami setuju dengan itu, memotong leher babi dan menggantungkannya di bawah dek kapal, sehingga orang Moor tidak sempat melihat babi, dan saat proses penyembelihan babi, mereka menutup muka agar tidak melihat babi atau menciumnya.

Pada malam hari, di hari yang sama, Pedro Alfonso[3], orang Portugis, mengunjungi kapal kami dengan perahu, namun sebelum ia datang, Raja memanggilnya untuk menghadap, dan berkata kepadanya, meskipun dia (de Lorosa) bersekutu dengan Ternate, dia harus bersikap baik dan menjawab dengan benar segala pertanyaan yang ingin kami ajukan.

Dia benar-benar—setelah di kapal kami—mengatakan kepada kami bahwa dia sampai di kepulauan Hindia enam belas tahun yang lalu, dan tahun ini dia sudah sepuluh tahun tinggal di Maluku; dan ini berarti sudah sejak lama Portugis menemukan lokasi Maluku, dan mereka menyembunyikan dari kami (Spanyol). Kemudian dia menambahkan, kira-kira 11 bulan yang lalu, kapal berukuran besar Portugis datang dari Malaka ke Maluku, dan telah mengangkut kargo penuh dengan cengkih. Namun, karena cuaca sangat buruk, mereka memutuskan untuk tinggal lebih lama beberapa bulan di Bandam[4].

“Tristan de Meneses, seorang Portugis, adalah kapten kapal itu,” imbuhnya, “dan dari dia lah aku mendengar kabar bahwa satu armada Spanyol yang terdiri dari 5 kapal berangkat dari Sevilla ke Maluku atas nama Kerajaan Spanyol, dan dipimpin oleh Ferdinand Magellan, seorang Portugis.”

Dia pun menambahkan bahwa karena hal itu, Raja Portugal begitu marah sekali kepada Magellan. Ia pun mengirimkan beberapa kapal untuk menghadang armada Magellan di Tanjung Harapan[5], dan yang lainnya di Cape St. Maria[6], tempat para kanibal tinggal, namun mereka tidak dapat menemukan armada Magellan. Belakangan, Raja Portugal baru mengetahui bahwa armada Magellan ternyata menggunakan rute lain untuk perjalanannya ke Maluku, yakni rute barat. Ia pun menyurati Capten Mayor Portugis Indies yang bernama Diogo Lopez de Sequeira agar mengirim enam kapal ke Maluku dan menyerang Armada Spanyol. Namun, kapten mayor, di saat yang sama menerima informasi bahwa Turki Ottoman berencana membuat ekspedisi untuk menyerang Malaka, menyarankan agar Raja mengirimkan enam puluh pelayaran ke Selat Mekkah, di Kota Jeddah.

Di sana kapten mayor menemukan beberapa galangan kapal yang dibangun di dekat Aden, kota yang cantik dan kokoh, dan kapten mayor menembaki dan membakar kota itu. Penyerangan itu, kata de Lorosa, telah menghambat Kapten Mayor dalam mengirim ekspedisi untuk menyerang Magellan; namun kemudian ia mengirim armada yang dikepalai oleh Francisco Faria, seorang Portugis, ke Maluku.

Armada itu cukup besar dengan dua sisi kapal dilengkapi deretan meriam. Akan tetapi, sebelum mereka sampai dan bersauh, angin malah berlawanan arah. Karena itu mereka tidak pernah sampai dan memutuskan kembali ke Malaka.

Ia, de Lorosa, juga bercerita bahwa beberapa hari sebelumnya, sebuah karavel dengan dua jung[7] datang ke sini untuk mendapatkan informasi tentang kedatangan kami. Jung itu berlayar menuju Bachian untuk mengangkut cengkih dengan delapan awak kapal Portugis. Orang-orang itu, lantaran tidak menghormati para istri dari penduduk lokal dan tidak mengindahkan peringatan Raja, telah terbunuh semua. Orang dalam karavel mendengar kabar tersebut kemudian bergegas untuk pergi ke Malaka, dan meninggalkan jung yang berisi 4oo bahar cengkih dan beberapa barang dagangan senilai seratus bahar cengkih.

De Lorosa menambahkan lagi bahwa setiap tahun, banyak sekali jung diberangkatkan dari Malaka ke Bandam untuk membeli bunga pala (mace) dan pala (nutmeg), dan ke Maluku untuk membeli cengkih. Perjalanan dari Bandam ke Maluku, mereka tempuh selama tiga hari, dan mempekerjakan 15 orang untuk dalam perjalanan Maluku ke Malaka. Yang terakhir, de Lorosa berkata bahwa sejak 10 tahun belakangan ini, Raja Portugal telah memperoleh keuntungan yang sangat besar dari kepulauan ini, dan ia merahasiakan ini semua dari orang Spanyol.

De Lorosa telah memberikan informasi yang hampir sama. Setelah beberapa jam berbincang dengan kami, kami pun merasa cukup dan kami menawarkan gaji yang cukup besar padanya agar ia mau bergabung dengan kami untuk pergi ke Spanyol.

Jumat, 15 November, Raja Tidore berkata kepada kami bahwa ia akan pergi sendiri ke Bachian untuk mendapatkan cengkih yang ditinggalkan Portugis, dan meminta kami untuk memberikan persembahan atas nama Raja Spanyol kepada dua pejabat Mutir. Ketika di sela-sela persiapannya ke Bachian, Raja Tidore yang waktu itu berada di kapal kami, ingin mencoba beberapa senjata kami seperti cross-bow guns dan swivel guns, yang lebih besar dari Arquebuse. Dia mencoba menembakkan cross-bow dengan tangannya sendiri sebanyak tiga kali, namun ia tidak tertarik untuk mencoba muskets[8].

Di balik Pulau Tidore terdapat pulau lain yang sangat besar. Pulau itu bernama Giailolo[9], karena besarnya, perahu dengan susah payah dapat mengelilingi pulau itu selama empat bulan. Penduduk pulau itu adalah orang Moor dan kafir. Orang Moor memiliki dua raja, salah satu di antara mereka—berdasarkan perkataan Raja Tidore—memiliki 600 anak dan satu yang lain memiliki 525 anak. Orang-orang kafir tidak memiliki banyak perempuan seperti orang-orang Moor dan lebih percaya tahayul. Yang pertama kali mereka temui pada pagi hari ketika mereka keluar rumah adalah patung tempat pemujaan. Raja bagi orang-orang kafir bernama Raja Papua. Ia sangat kaya dan berlimpahan emas, dan ia tinggal di pedalaman pulau. Di sana tumbuh banyak batu bambu (rocks bamboos) yang sama kerasnya dengan tulang kaki laki-laki, penuh dengan air yang bagus untuk diminum. Kami membeli banyak dari mereka.

Pada hari Sabtu, Raja Moor Giailolo datang ke kapal kami menggunakan banyak perahu, dan kami pun memberikan persembahan kepadanya jubah damask berwarna hijau, dua elo kain merah, beberapa gelas, gunting, pedang, sisir, dan dua cawan, yang kesemuanya membuat sang raja senang. Kemudian ia berkata, seperti kami berkawan dengan Raja Tidore, kami juga temannya karena dia mencintai Raja Tidore seperti anaknya sendiri. Ia mengundang kami ke negaranya, berjanji akan menyambut dengan terhormat. Raja tersebut sangat kuat, dan kekuasaanya meliputi seluruh pulau. Ia sangat tua, dan ia bernama Raja Jussu.

Minggu pagi, Raja Jussu datang ke kapal kami dan ingin melihat cara kami berperang dan menembakkan meriam, serta ia bercerita bahwa dulu masa mudanya adalah seorang prajurit yang gagah besar.

Pada hari yang sama aku pergi ke pantai untuk melihat cara tanaman cengkih tumbuh, dan inilah yang telah aku amati. Pohon cengkih cukup tinggi ukurannya, dan batangnya lebih besar atau kecil dari tubuh manusia, tergantung usianya. Cabang pohon itu muncul di tengah-tengah ukuran tinggi, dan di dekat pucuk pohon cengkih berbentuk segitiga (piramida). Kulit kayunya berwarna olive, dan daun-daunnya hampir mirip dengan pohon salam. Kuncup-kuncup cengkih tumbuh di ujung dahan-dahannya, dan biasanya dalam satu dahan tumbuh sepuluh sampai dua puluh kuncup cengkih. Pohon ini selalu menghasilkan banyak buah dalam satu waktu di bandingkan waktu lainnya, tergantung musim. Cengkih berwarna putih saat baru muncul, saat matang cengkih berwarna merah, dan menghitam ketika kering. Mereka memanen cengkih dua kali dalam setahun. Yang pertama kira-kira pada natal dan yang satunya kira-kira saat hari St. John.

Pada waktu-waktu itu, udara di Maluku lebih dingin, dan akan semakin dingin ketika memasuki Desember. Ketika dalam setahun udara lebih panas, dan hanya sedikit turun hujan, mereka hanya dapat memanen 300-400 bahar cengkih. Pohon cengkih hanya dapat hidup di gunung, dan jika ditanam atau dipindahkan di dataran rendah, tanaman itu akan mati. Daun, kulit kayu, dan kayu pohon cengkih—selama masih hijau—mempunyai bau dan aroma yang sama dengan buahnya. Pada musim-musim tertentu, buah cengkih tidak bisa dipanen karena buahnya terlalu keras dan besar, hanya kulit buahnya saja yang dipanen. Kabut akan semakin membuat buah-buah cengkih yang dipanen berkualitas tinggi, dan seperti diketahui, kabut-kabut menyelubungi di gunung-gunung kepulauan ini.

Setiap orang di sini memiliki beberapa pohon cengkih, setiap orang mengawasi kepunyaannya dan memanennya, namun sepertinya mereka belum mengusahakan untuk membuat perkebunan cengkih. Pohon cengkih tidak tumbuh kecuali di 5 gunung yang tersebar di kepulauan Maluku. Beberapa cengkih juga tumbuh di Giailolo dan pulau kecil di antara Tidore dan Mutir yang bernama Mare, tapi cengkih di sana tidak bagus.

Baca Juga:  Pohon Dedalu Buta dan Putri Tidur – Haruki Murakami

Di pulau Giailolo tumbuh tanaman pala. Tanaman ini serupa tanaman walnut di tempat kita (Eropa), dan daunnya pun hampir sama. Pala, ketika dipanen, seperti buah quince[10] baik bentuk maupun warna, dan bagian bawah yang melindunginya pun juga hampir sama, namun lebih kecil. Kulit buah pala sama kerasnya dengan kulit buah walnut kita yang berwarna hijau, di dalam kulitnya terdapat jaringan yang lebih lunak dan melindungin kacangnya. Kacang itulah yang dinamakan pala. Bungan pala berwarna merah terang.

Di Tidore juga tumbuh jahe, yang biasanya kita makan dengan roti jahe berwarna hijau. Jahe bukanlah tanaman melainkan semacam alang-alang atau semak belukar. Tunasnya menjuntai (mungkin semacam daun alang-alang?) panjang di atas tanah, seperti rotan, namun jahe lebih pendek. Tunas-tunas yang menjuntai itu tidak bisa digunakan atau tidak bernilai. Akarnyalah yang dapat dimanfaatkan, yang kemudian dikenal dengan jahe. Saat jahe berwarna hijau, rasanya tidak terlalu keras seperti saat kering. Untuk mengeringkannya, mereka menggunakan kapur. Jahe tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama.

Rumah penduduk di sini seperti yang telah dideskripsikan tadi, namun tidak terlalu tinggi dari tanah[11] dan dikelilingi oleh tanaman rotan sebagai pagar. Perempuan di sini buruk rupa, dan telanjang seperti lainnya, hanya mengenakan penutup di bagian kemaluan yang terbuat dari pelepah kayu. Penduduk pria juga telanjang. Meskipun perempuannya buruk rupa, para pria di sini sangat pencemburu. Misalnya, ketika kami turun ke pantai tanpa jubah, para pria di sini tidak senang hati karena mereka mengira hal itu dapat menggoda perempuannya. Baik perempuan dan pria bepergian tanpa menggunakan alas kaki.

Karena tadi aku sedikit menyinggung tentang pakaian penduduk lokal, aku akan sedikit menjelaskan cara mereka membuat pakaian. Mereka mengambil satu potong pelepah kayu dan pelepah itu direndam di air hingga cukup lembut. Kemudian mereka memukuli pelepah itu dengan kayu untuk memperpanjang maupun memperlebar, sesuai dengan yang mereka inginkan. Demikianlah, pakaian itu terlihat seperti tudung sutera kasar dengan filamen (kawat pijar) renda-renda, sehingga pakaian itu kelihatan seperti dipanasi.

Makanan mereka terbuat dari kayu sebuah pohon yang seperti pohon palem, dan cara mereka membuatnya sebagai berikut. Mereka mengambil beberapa kayu dari pohon itu, dan dibersihkan dari duri-duri panjang yang berwarna hitam. Ditumbuk, dan dibuat menjadi makanan yang dinamakan sagu. Makanan ini mereka bawa ke pantai ketika mereka akan berlaut.

Penduduk Ternate datang setiap hari ke kapal kami dengan perahu penuh dengan cengkih. Mereka menawarkan cengkih kepada kami, namun kami dijanjikan oleh raja Tidore cengkih dari Machian. Kami pun menolak membeli cengkih dari penduduk Ternate dan karena hal itu, penduduk Ternate sakit hati.

Pada hari Minggu, dua puluh empat November. Raja Tidore tiba, dan ketika memasuki Bandar, mereka membunyikan gong kemudian melewati kapal kami. Kami menembakkan meriam kami untuk member penghormatan. Dia berkata kepada kami bahwa dalam 4 hari, kami dapat terus-menerus mendapatkan suplai cengkih.

Oleh karena itu, Raja mengirim 791 chatils (mungkin bahars) rempah-rempah yang ditimbang tanpa mengurangi tara atau membeli dengan konsekuensi pengurangan berat dari yang sebenarnya ketika diangkut dalam keadaan segar. Ketika mengangkut pertama kali cengkih ke kapal, kami pun menembakkan muskets kami karena cengkihlah tujuan kami dalam melakukan penjelajahan ini.

Cengkih di sini dinamakan Gomode. Di Sarangani, kami mengambil dua pilots, mereka biasanya disebut Bonglawan, dan di Malaka disebut Chianche[12]

Selasa, dua puluh enam November, Raja datang kepada kami dan berkata dia telah melakukan apa yang tak pernah dilakukan Raja di sini yakni meninggalkan pulaunya. Namun, ia melakukan itu untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada Raja Spanyol. Karena kami telah mendapatkan isi kargo, kami bisa secepatnya kembali ke Spanyol, dan setelah itu kembali dengan kekuatan besar untuk membalaskan dendam atas kematian ayah Raja Tidore yang dibunuh di pulau yang bernama Buru, dan jenazahnya dibuang di dalam laut.

Setelah itu, Raja memperlihatkan cengkih pertama yang diangkut ke kapal atau jung. Dia mengadakan semacam pesta untuk para kru dan pedagang serta dia berdoa kepada Tuhan untuk diberikan keselamatan agar sampai ke pelabuhan masing-masing.

Dia melakukan hal yang sama kepada kami, dan pada saat yang sama pesta itu juga ditujukan kepada Raja Bachian yang telah datang bersama adiknya. Untuk menghormati kedatangannya, Raja Tidore telah membersihkan jalan-jalan.

Mendengar ini, beberapa dari kami merasa curiga. Kami telah belajar dari peristiwa Francisco Serrano yang telah dibunuh di tempat kami mendapatkan air oleh orang-orang di sini—pada waktu itu orang-orang itu bersembunyi di semak belukar. Juga, kami sering melihat mereka membisikkan sesuatu kepada orang Indians yang kami tawan. Oleh karena itu, meski sebagian dari kami cenderung menerima undangan itu, kami bersepakat untuk tidak pergi ke sana dengan pertimbangan bahwa di pulau Zubu, kami juga diundang untuk datang ke pesta, dan di sama kami kehilangan banyak orang kami. Kami pun memutuskan untuk sesegera mungkin berangkat.

Pada saat itu juga, kami mengirim pesan kepada raja dan berterima kasih kepadanya. Aku mengajak Raja untuk datang ke kapal kami untuk memberikan kepadanya empat laki-laki[13] yang telah kami janjikan, dan juga beberapa barang yang telah kami janjikan padanya. Setelah itu, Raja datang, dan ketika memasuki kapal, dia lebih dulu mengecek kapal kami dan kami menyetujuinya. Dia memasuki dengan percaya diri dan pengamanan yang ketat seperti masuk ke rumahnya sendiri.

Kami merasakan ketidaksenangannya lantaran keputusan kami untuk tergesa-gesa berangkat. Menurutnya, kapal setidaknya membutuhkan 30 hari untuk diisi dengan rempah-rempah. Dan jika dia telah melakukan perjalanan ke luar pulaunya itu, itu bukan untuk menjebak kami namun untuk membantu kami agar kami secepatnya mendapatkan cengkih yang kami butuhkan, dan beberapa lagi yang masih kami butuhkan.

Dia juga menambahkan bahwa sekarang bukanlah musim yang tepat untuk berlayar mengarungi samudra, seperti diketahui di dekat Bandan banyak sekali karang. Selain itu hal ini akan mengulangi kejadian yang menimpa kapal Portugis sebelumnya di dekat Bandan.

Ketika—dengan cukup kecewa dia berkata—dia melihat kami masih tetap ingin berangkat, dia berkata bahwa kami harus mengangkut semua persembahan yang telah kami berikan karena Raja dan rakyatnya tidak merasa layak diberikan banyak persembahan dari Raja Spanyol sedangkan ia sendiri tidak memberikan apa pun. Mungkin mereka akan menganggap bahwa Spanyol telah berangkat dengan tergesa-gesa karena takut adanya pengkhianatan. Dan mereka akan melabeli dia sebagai pengkhianat.

Lalu untuk meniadakan kecurigaan di pikiran kami, dia memerintahkan untuk mengambil Alquran. Dengan ketulusan hati, ia mencium Alquran dan meletakkan di kepalanya 4 atau 5 kali sambil mengucapkan kata-kata dan dengan sebuah ritus yang mereka namakan Zambehan[14]. Raja berkata di depan kami bahwa dia bersumpah atas nama Allah dan Alquran, yang ia bawa di tangannya, akan selamanya setia dan sekutu bagi Raja Spanyol. Dia mengatakan semua ini dengan mata berkaca-kaca dan dengan memperlihatkan ketulusan dan keramahtamahan.

Kami pun berjanji akan memperpanjang persinggahan kami di Tidore sekitar dua minggu. Kami kemudian memberikan kepadanya tanda tangan dan panji-panji kerajaan Spanyol.

Kami telah belajar dari kejadian sebelumnya, bahkan dengan yakin dan pasti, bahwa beberapa pemimpin di pulau tersebut memang diperintahkan untuk membunuh kami semua. Dengan demikian dia akan mendapatkan penghargaan dan bantuan yang cukup besar dari Kerajaan Portugis bagi dirinya untuk balas dendam kepada Raja Bachian. Namun, dia, dengan setia dan loyal kepada Raja Spanyol, telah bersumpah bahwa dia tidak akan pernah melakukan tindakan seperti itu dengan alasan apa pun.

Rabu, 27 November, Raja mengeluarkan maklumat bahwa siapa pun yang memiliki cengkih bisa dengan bebas menjualnya kepada kami. Sejak saat itu pula, kami memborong cengkih seperti orang gila[15].

Jumat, pada sore hari, gubernur Manchian datang diiringi beberapa perahu ke Tidore. Dia tidak mungkin berlabuh di pantai karena ayah dan saudara yang telah ia buang mengungsi di Tidore.

Keesokan harinya, Raja Tidore dan keponakannya, gubernur bernama Humai, pria 25 tahun datang ke kapal kami. Raja telah mendengar bahwa kami tidak memiliki pakaian yang cukup. Dia pun mengirimkan 6 els kain merah dari rumahnya untuk kami agar kami bersedia menambahkan beberapa barang-barang untuk dipersembahkan kepada keponakannya, Gubernur Humai. Kami pun memberikan persembahan kami. Dia pun mengucapkan banyak terima kasih dan mengatakan bahwa ia akan segera mengirimkan banyak cengkih. Ketika rombongan Raja Tidore dan gubernur meninggalkan kapal, kami menembakkan meriam kami.

Minggu, 1 Desember, Gubernur Humai berangkat meninggalkan Tidore, dan kami telah diberitahu bahwa Raja telah memberikan beberapa kain sutra dan drum kepada gubernur agar ia mengirimkan cengkih sesegera mungkin. Keesokan harinya, Raja Tidore meninggalkan pulau untuk mencari cengkih.

Rabu pagi, karena bertepatan dengan hari St. Barbera, karena satu dan lain hal, kami menembakkan semua artileri untuk menyambut kedatangan Raja Tidore. Raja datang ke pantai untuk melihat cara kami menembakkan senapan dan meriam untuk kesenangannya.

Kamis dan Jumat, kami membeli banyak cengkih baik di kota maupun di kapal dengan harga yang jauh lebih rendah karena jadwal keberangkatan kami semakin dekat. Untuk 4 els Riband[16], mereka member kami sebahar cengkih. Untuk dua rantai kecil kuningan, yang senilai dengan 1 marcello[17] mereka memberi 100 pons cengkih. Dan setidaknya, setiap orang berkeinginan memiliki bagiannya dari kargo. Karena sudah tidak ada barang untuk ditukarkan dengan cengkih, mereka menukarkan jubah, kain mantel, dan lain baju untuk mendapatkan cengkih.

Pada hari Sabtu, tiga putra dari Raja Ternate dengan istri-istri mereka—putri-putri Raja kami Tidore—dan Pedro Alfonso, seorang Portugis, datang ke kapal. Kami memberikan cawan kaca emas kepada masing-masing putra Raja Ternate, dan kepada istri mereka kami memberikan gunting dan benda lain. Ketika mereka pergi kami menembakkan meriam kami untuk menghormati mereka. Setelah itu, kami mengirimkan beberapa persembahan ke pantai untuk janda Raja Ternate, putri Raja Tidore, karena tidak berani datang ke kapal.

Minggu tanggal 8 Desember, kami menembakkan banyak meriam untuk merayakan hari Ratu Spanyol. Senin sore, Raja Tidore beserta tiga perempuan pembawa sirihnya datang ke kapal. Mereka datang untuk mengamati dan memastikan bahwa tidak ada perempuannya yang dibawa di kapal. Setelah itu Raja Giailolo datang untuk melihat lagi latihan menembak.

Beberapa hari kemudian, saat keberangkatan kami semakin dekat, Raja menunjukkan rasa kasih sayang yang tulus. Ia mengatakan, perasaan yang ia rasakan seorang ibu yang hendak ditinggal anaknya pergi. Ia sedih karena ia telah banyak berkenalan dengan kami dan menyukai beberapa hal tentang Kerajaan Spanyol. Dan Ia pun dengan tidak sungkan meminta kami untuk kembali lagi ke Tidore.

Sementara itu, Raja Tidore meminta kami untuk meninggalkan beberapa senjata dan meriam untuk pertahanan kerajaan Tidore. Dia juga menyarankan kami untuk menavigasikan kapal pada siang hari karena di perairan Tidore banyak terumbu karang. Kami menjawab, karena kebutuhan kami untuk sampai ke Spanyol secepat mungkin, kami harus menavigasikan kapal di malam hari. Ia kemudian tidak bisa berkata lain. Ia berkata, ia akan berdoa kepada Tuhan setiap hari agar kami pulang dengan aman.

Pada waktu yang bersamaan, Pedro Alfonso de Lorosa datang ke kapal kami dengan istri dan hartanya untuk kembali ke Eropa bersama kami. Dua hari setelah itu, Cechilideroix, putra Raja Ternate, datang dengan perahu beserta pasukannya mendekati kapal dan meminta de Lorosa untuk ikut ke perahunya. Akan tetapi, de Lorosa curiga dan ia pun menolak untuk ikut ke perahu. Ia telah memutuskan untuk pergi dengan kapal-kapal Spanyol. Karena kecurigaan yang sama, kami disarankan untuk tidak menerima de Lorosa di kapal kami. Kami pun menerima saran itu. Kemudian hari kami tahu bahwa Cechili adalah teman baik Kapten Portugis di Malaka sehingga ia meminta de Lorosa untuk kembali ke Ternate. Karena itu, de Lorosa tidak boleh meinggalkan Ternate tanpa seizinnya.

Raja telah memberitahu kami bahwa Raja Bachian akan segera tiba dengan saudaranya yang akan menikahi salah satu putrinya. Raja Tidore meminta kami untuk menghormati Raja Bachian dengan menembakkan meriam pada saat kedatangannya.

Rombongan Raja Bachian datang pada Minggu sore, 15 Desember. Dan kami pun memberikan penghormatan seperti raja kami; kami tidak menembakkan meriam terbesar kami karena kapal kami sedang penuh. Raja Bachian dan saudaranya datang dengan perahu yang penuh dengan pendayung di setiap sisi perahu. Jumlahnya kurang lebih 120 orang. Perahu tersebut dihiasi dengan kain bulu putih, kuning dan merah nuri. Mereka membunyikan banyak simbal (semacam alat musik) dan suara itu untuk mengatur ritme para pendayung agar seirama. Di dua perahu lainnya dipenuhi dengan damsels yang akan dipersembahkan untuk pengantin wanita. Mereka memberikan penghormatan kepada kami dengan mengitari kapal dan pelabuhan.

Baca Juga:  Teka-teki Puisi - Jorge Luis Borges

Seperti dalam kebiasaan mereka bahwa tidak ada raja yang melanggar tanah raja lain, Raja Tidore datang mengunjungi Raja Bachian menggunakan perahu sendiri: yang satu melihat perahu yang lain datang. Mawar dari karpet yang ia duduki, dan ia berada di sisi lainnya untuk memberikan jalan bagi Raja; Tapi dia—Raja Tidore—keluar dari pakem upacara, tidak akan duduk di karpet, tapi duduk di sisi lain dan menyisakan karpet di antara mereka.

Kemudian Raja Bachian memberikan 500 patols sebagai pembayaran (mahar) untuk putri Tidore yang telah diberikan sebagai istri untuk adiknya. Patols adalah baju yang terbuat dari emas dan sutera Tiongkok, dan merupakan hadiah yang sangat mahal di kepulauan ini. Setiap satu pakaian tersebut setara dengan 3 bahar cengkih, berdasarkan seberapa kaya ia dengan emas dan kain border ini. Setiap orang penting meninggal, kerabatnya akan mengenakan pakaian ini untuk menghormati seseorang yang meninggal itu.

Senin, Raja Tidore mengirimkan makan malam untuk Raja Bachian, dibawa oleh 50 perempuan berpakaian sutra dari pinggang hingga lutut. Mereka berjalan berdua-dua dengan laki-laki berada di tengah-tengah. Setiap orang membawa hidangan besar dan hidangan kecil dengan bervariasi makanan. Sepuluh perempuan tertua membawa panji-panji protokol kerajaan. Mereka mengantarkan ke perahu dan mempersembahkan segalanya untuk Raja yang duduk di karpet di bawah kanopi merah dan kuning. Ketika mereka kembali, mereka mendapati beberapa orangh kami yang datang dengan penuh penasaran, dan kami pun memberi persembahan agar kami mendapatkan hidangan tersebut dengan gratis. Setelah itu, Raja Tidore mengirimkan makanan berupa, kambing, kelapa, anggur, dan lain-lain.

Hari ini kami memperbarui layar kapal kami. Sebelumnya hanya ada gambar salib St. James of Gallicia, kali ini kami menambahkan kata-kata, “Ini adalah keberuntungan kami.”

Hari Selasa kami mempersembahkan kepada Raja beberapa senjata artileri; beberapa senapan yang kami terima sebagai hadiah di Indies, dan beberapa meriam kecil kami dengan 4 barel mesiu. Kami mengambil 80 barel air untuk setiap kapal. Kami juga membawa kayu dari Pulau Mare, yang lima hari lalu Raja telah mengambil kayu tersebut dengan 100 orang.

Hari ini, Raja Bachian dengan persetujuan dari Raja Tidore, datang ke pantai dengan dikawal oleh empat orang dengan belati di tangan, untuk beraliansi dengan kami. Dia berkata di hadapan Raja Tidore dan pengikutnya bahwa ia akan menjaga atas namanya bahwa cengkih yang ada di pulaunya tidak akan jatuh ke tangan Portugis sampai Armada Spanyol datang, dan dia tidak akan menyerahkannya tanpa persetujuan dari dirinya. Dia kemudian memberikan persembahan untuk Raja Spanyol melalui kami dua bahar cengkih. Dia sebenarnya ingin memberi 10 bahar, namun kapal kami telah penuh sehingga kami tidak dapat menerimanya lagi.

Dia juga memberikan kami untuk Raja Spanyol, dua burung yang cantik yang telah diawetkan. Burung itu memiliki bentuk sebesar burung Punglor (kutilang), berkepala kecil, berparuh panjang, berkaki ramping seperti pena serta panjang. Burung itu tidak memiliki sayap, tapi dibagian samping terdapat bulu-bulu panjang dengan warna yang berbeda, ekor burung itu menyerupai burung punglor. Semua bulu berwarna gelap kecuali pada sayapnya. Burung itu tidak pernah terbang, kecuali ketika angin berhembus. Mereka mengatakan kepada kami bahwa burung tersebut datang dari Surga, dan mereka menyebutnya, “Bolon Dinata[18]”, Burung suci.

Raja Bachian adalah seorang laki-laki yang berusia sekitar 70 tahun. Tidak hanya Raja Bachian saja yang menganggap Raja Spanyol sebagai penguasa, tapi setiap raja di kepulauan Maluku menuliskan padanya bahwa mereka selalu menjadi kepercayaan Raja Spanyol.

Suatu hari, Raja Tidore mengirimkan pesan kepada kami bahwa kami harus hati-hati dan tidak keluar rumah pada malam hari karena muncul manusia—penduduk asli pulau yang melakukan upacara pengorbanan diri—berjalan setiap malam dengan bentuk seorang laki-laki tanpa kepala. Dan jika mereka bertemu dengan siapa pun yang mereka kehendaki untuk sakit, mereka akan menyentuh tangan orang tersebut dan mengolesi dengan balsam mereka. Orang tersebut akan jatuh sakit dan meninggal dalam 3-4 hari. Namun, jika mereka bertemu dengan 3 atau 4 orang, mereka tidak akan menyentuh orang-orang itu tapi mereka akan membuat pusing. Orang suruhan Raja Tidore itu pun menambahkan bahwa mereka akan mengawasi dan akan menemukan mereka, dan mereka juga telah berhasil mengeksekusi manusia-manusia tersebut.

Ketika mereka (penduduk Tidore) ingin membangun rumah baru, sebelum mereka meninggali, mereka akan membuat api yang mengelilingi tanah itu, dan membuat semacam perayaan di tempat itu. Kemudian mereka dengan cepat membangun atap rumah itu dengan segala sesuatu yang ditemukan di pulau untuk memberikan tanda bahwa dengan demikian orang lain tidak akan menginginkan untuk tinggal di rumah itu.

Rabu pagi, segala sesuatu telah disiapkan untuk keberangkatan kami dari Maluku. Raja Tidore, Giailolo, dan Bachian, serta anak dari Raja Ternate datang untuk mengantarkan keberangkatan kami ke Spanyol hingga Pulau Mare. Kapal Victoria telah siap berlayar dan menjorok sedikit menunggu kapal Trinity. Namun, Trinity mengalami kesulitan ketika mengangkat jangkar. Victoria pun menurunkan jangkar pada posisi yang sama. Mereka mulai memindahkan isi kargo kapal Trinity untuk melihat kerusakan yang telah terjadi. Kami pun mencoba untuk menghentikan air yang masuk ke lambung kapal, namun kami tidak pernah tahu sebenarnya yang menyebabkan kerusakan kapal kami. Setiap hari kami mencoba untuk mengeluarkan isi kargo.

Mendengar hal itu, Raja Tidore datang menghampiri kami dan membantu kami untuk mencari kerusakan Trinity. Untuk itu, dia mengirim 5 orang pasukannya untuk menyelam dan mencari penyebab kerusakan itu. Selama setengah jam, mereka tidak dapat menemukannya. Air pun semakin naik di dalam lambung kapal. Raja yang merasa iba atas ketidakberuntungan kami pun mengirimkan 3 orang yang lebih ahli dalam menyelam untuk mencari.

Ia datang dengan penyelam itu sepagi mungkin. Para penyelam terjun ke laut dengan rambut terurai. Dengan demikian, mereka berpikir jika rambut tersebut terseret masuk ke dalam lambung kapal, mereka akan mengetahui kebocoran lambung kapal Trinity. Namun, sudah satu jam mereka di dalam air, tidak ditemukan pula kebocoran itu. Raja Tidore, melihat bahwa hal tersebut tidak bisa diulangi lagi, berkata dengan nada sedih, “Siapa yang akan pergi ke Spanyol untuk membawa kabarku kepada Raja junjungan kita?” Kami pun menjawabnya, “Victoria” akan pergi ke sana dan akan memanfaatkan angin timur yang sudah mulai berhembus. Kapal Trinity, sementara, akan diperbaiki dan sambil menunggu angin barat untuk pergi ke Darien, yang terletak di belahan laut lain, di negeri Diucatan[19].

Raja menyetujui rencana kami, dan berkata bahwa dia beserta 225 tukang kayu akan membantu perbaikan kapal dengan arahan orang-orang kami. Dan dia akan merawat orang-orang kami seperti anak-anaknya. Dia mengatakan ini dengan penuh emosional dan bercucuran air mata.

Kami, yang berada di kapal Victoria, khawatir kapal akan oleng karena muatan yang terlalu berat serta perjalanan panjang. Kami pun memindahkan 60 persen cengkih ke dalam rumah-rumah awak Trinity yang akan mereka diami selama perbaikan kapal. Beberapa dari kami memilih untuk bertahan di Maluku daripada pergi kembali bersama kami karena mereka takut kapal tidak akan bertahan dalam perjalanan jauh ataupun mengingat mereka telah lama menderita, mereka takut mati kelaparan di tengah samudra.

Sabtu, 21 Desember, bertepatan dengan hari St. Thomas, Raja Tidore berkunjung ke kapal kami dan mengenalkan kami kepada dua nakhoda yang telah dibayar, untuk menunjukkan jalan keluar kepulauan Maluku. Mereka menyampaikan bahwa cuaca sangat cukup bagus untuk berlayar kala itu, tapi karena menunggu surat dari kawan-kawan kami yang bertahan di sini, dan orang yang ingin menulis surat untuk Spanyol, kami pun belum bisa berlayar hingga tengah hari. Kemudian kapal berlayar dan meninggalkan yang lain dengan diiringi oleh letupan meriam. Orang-orang kami yang telah berlayar sejauh ini bersama kami akhirnya berpisah dengan isak tangis. Juan Carvalho bertahan di Tidore dengan 53 orang kami. Kami berlayar dengan 47 orang Eropa dan 12 orang Indian.

Menteri Kerajaan Tidore mengantarkan kami hingga Pulau Mare. Kami sampai di sana ketika 4 perahu penuh dengan kayu mendekat. Setelah itu dalam satu jam kami mengangkut kayu ke dalam kapal. Kami pun berlayar ke arah Barat Daya.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa di Kepulauan Maluku banyak ditemukan cengkih, jahe, sagu. Kue mereka terbuat dari kayu, beras, kelapa, pisang, almond yang lebih besar dari di tempat kami, delima manis dan pahit, kayu manis, minyak kelapa, wijen, melon, mentimun, labu, comilicai[20], buah segar seperti melon, buah lain seperti peach yang disebut guave, dan sayuran lain yang dapat dimakan. Mereka juga mempunyai kambing, ayam, madu lebah yang sebesar semut dan tinggal di kayu-kayu pohon.

Ada juga burung beo berbagai jenis, yang putih disebut Catara dan yang merah disebut Nori, yang sering terlihat sebelumnya, dan tidak begitu indah bulunya. Burung itu berbicara cukup jelas. Salah satu di antaranya dijual dengan nilai sebahar cengkih.

Semenjak 50 tahun lalu, bangsa Moors[21] menaklukkan Maluku dan tinggal di sana. Sebelum itu, penduduk asli Maluku adalah penduduk tribal yang tidak peduli dengan tanaman cengkih. Di sana masih terdapat keluarga mereka yang mengungsi di pegunungan tempat cengkih tumbuh.

Pulau Tidore terletak di 0 derajat 27 menit lintang utara dan 161 derajat garis bujur barat dari demakarsi[22]. Terletak 9 derajat 30 menit dari pulai pertama di kepulauan ini, yaitu pulau Zamal, menuju tenggara dan seperempat selatan. Pulau Ternate terletak di 0 derajat 40 menit lintang utara, Pulau Mutir tepat di garis equator. Pulau Machian terletak di 0 derajat 15 menit lintang selatan, dan Pulau Bachian terletak di 1 derajat lintang yang sama. Ternate, Tidore, Mutir, dan Machian terlihat seperti 4 gunung tinggi dan meruncing[23] yang ditumbuhi cengkih. Pulau Bachian tidak terlihat dari keempat pulau, tapi pulau tersebut merupakan pulau terbesar dari lainnya. Gunung di sana tidak sebesar dan selancip di pulau lainnya, namun tetap terlihat besar.

Catatan Kaki

[1] 1 elo=0,688 m

[2] Sebutan Eropa untuk orang muslim.

[3] Pedro Alfonso de Lorosa

[4] Sekarang bernama Banten

[5] Cape of Good Hope

[6] Tanjung paling utara di Rio de la Plata

[7] Sebutan orang Eropa untuk kapal-kapal Asia.

[8] Senapan Eropa pada abad xvii.

[9] Gilolo

[10] Buah walnut

[11] Hampir mirip dengan rumah panggung namun lebih pendek jarak antara tanah dengan lantainya.

[12] Singkeh.

[13] Mungkin yang dimaksud di sini adalah budah laki-laki.

[14] Subhanallah atau Maha Suci Allah

[15] “a furia”

[16] Frixeto

[17] Koin yang berlaku untuk pembayaran di Venesia dan dibuat ileh Doge Nicolo Marcelo pada tahun 1473 dari perak.

[18] Bolon dalam tulisan Pigafetta dapat diinterpretasikan dengan kata Burung. Kata Burung dalam telinga Pigafetta mungkin terdengar “Bolon.” Dalam Mitologi Melayu, burung tersebut dikenal sebagai “Burung Dewata” Beberapa ahli menyebut burung tersebut menyerupai burung cendrawasih, dan beberapa lagi menyebut seperti burung Delimukan Dewata, keduanya memang tersebar di kepulauan Maluku dan Papua.

[19] Yucatan

[20] Sejenis pisang.

[21] Muslim

[22] Garis lintang ini tentu saja salah seperti biasanya.

[23] Gunung berapi di Ternate dan Machian yang telah meletus di akhir abad, tidak mengeluarkan api ataupun asap saat Pigaffeta datang.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here