Merubah
dibaca normal 3 menit

PERSOALAN “merubah” dan “mengubah” sebenarnya merupakan kesalahan klasik yang sering berulang-ulang. Hingga Indonesia berumur 73 tahun, pemakaian bentuk “merubah” kerap ditemui, alih-alih menggunakan “mengubah”–bentuk baku dari proses pembentukan kata “meN+ubah”.

Tengok saja media daring di Indonesia. Mereka masih kerap alpa dengan tak mengubah “merubah” menjadi “mengubah”. Ini bisa dibuktikan dengan mencari kata “merubah” di mesin pencari untuk kanal berita. Hasilnya pasti mencengangkan. Padahal, media massa, baik daring maupun cetak, adalah panutan masyarakat dalam berbahasa. Jika media daring masih alpa, bagaimana dengan masyarakat?

Lalu, apa sih penyebabnya kok kesalahan yang serupa ini sering kali luput, padahal setiap pelajaran bahasa Indonesia selalu diingatkan perihal ini?

Mari kita lihat dalam sejarah perkembangan bahasa Indonesia. Sepengetahuan saya, semoga ini tidak salah, bahasa Indonesia itu dikembangkan dari bahasa Melayu Riau oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Kira-kira pada akhir abad ke-19, Pemerintah Kolonial sudah membuka sekolah dasar untuk mendidik pribumi agar bisa dipekerjakan sebagai pegawai pemerintahan kelas rendah.

Oleh karena itu, Pemerintah Kolonial ini mulai memikirkan bahasa apa yang akan diajarkan di sekolah bagi calon-calon pegawai ini. Pilihannya ada tiga: bahasa Belanda, bahasa Melayu, dan bahasa daerah masing-masing.

Pilihan ketiga jelas tidak mungkin. Untuk menyederhanakan urusan administratif dan sebagai bahasa pemerintahan di seantero wilayah Hindia Belanda, pengembangan bahasa daerah jelas akan merepotkan.

Pilihan pertama, jelas gengsi bangsa Belanda akan terlukai jika bahasa Belanda banyak dikuasai oleh pribumi, meski pada akhirnya banyak juga pribumi yang menguasai terutama kelompok bangsawan. Walhasil, dipilihlah bahasa Melayu sebagai bahasa yang akan dikembangkan Pemerintah Kolonial.

Nah, muncul persoalan kedua. Pada akhir abad ke-19, di Hindia Belanda sudah banyak beredar surat kabar berbahasa Melayu. Pemilik dan redaktur surat kabar ini utamanya adalah orang peranakan Eropa, Cina, dan pribumi (pada awal abad ke-20) yang berada di luar pemerintahan.

Baca Juga:  Joker atawa Kembalinya DC ke Jagat Kelam

Isi surat kabar itu pun beragam. Dari iklan, cerita roman, syair, berita kriminal, hingga kritikan terhadap Pemerintah Kolonial. Karena tujuannya untuk masyarakat umum, para redaktur surat kabar pada awal abad ini biasanya menggunakan bahasa Melayu sehari-hari yang bercampur dengan bahasa Cina Hokkien, daerah, dan lain-lain (Ahmat Adam, 2003).

Pemerintah kurang sreg dengan bahasa Melayu yang dipakai oleh para redaktur dalam surat kabar itu. Mereka menamai bahasa itu sebagai bahasa Melayu rendah.

Untuk menanggulangi merebaknya penggunaan bahasa Melayu rendah itu, Pemerintah pun mengusahakan pengembangan bahasa Melayu resmi. Pemerintah pun memilih bahasa Melayu Riau karena dianggap sebagai bahasa Melayu paling murni dan membentuk Balai Poestaka yang bertugas untuk mengeluarkan buku-buku resmi, seperti novel dan cerita rakyat, yang tentu saja menggunakan bahasa Melayu resmi.

Nah, di sinilah mula-mula persoalan “merubah” dan “mengubah” itu muncul. Dalam bahasa Melayu, kata “mengubah” sudah muncul dalam teks-teks berbahasa Melayu Klasik. Bahkan, sudah muncul di Hikayat Pandawa Lima yang ditulis sekitar abad ke-15, menurut Brakel, dan abad ke-18 menurut Braginsky. Bisa dicek tautan ini http://mcp.anu.edu.au/Q/searches.html. Cukup tua bukan.

Persoalan Mengubah dan Merubah

Kata “mengubah” sendiri berasal dari kata dasar “ubah” yang diberi imbuhan “meN-“. Arti kata ini adalah “menjadikan lain dari semula (menurut KBBI)” atau sederhananya “membuat sesuatu berubah”. Ini sudah pasti benar menurut kaidah dari bahasa Melayu Klasik hingga dianut bahasa Indonesia yang sekarang.

Sementara itu, kata “merubah” atau “meroebah” atau “merobah” dalam ejaan lama memang baru muncul pada pertengahan abad ke-19 hingga merebaknya pada awal abad ke-20. Kemunculan tersebut efek dari semakin banyaknya surat kabar berbahasa Melayu sehari-hari (vernacular).

Baca Juga:  Ferdinand Wiggers; Pengarang Legendaris yang Hilang dari Sejarah Sastra Indonesia

Secara sosiolinguistik, karena para redaktur ini adalah para peranakan Eropa, peranakan Cina, dan kelompok pribumi yang bukan berbahasa ibu Melayu Riau, mereka akan memakai bahasa yang sering digunakan oleh orang kebanyakan.

Boleh jadi, kemunculan kata “merubah/meroebah/merobah” ini adalah efek dari kata “berubah/beroebah/berobah”. Efek yang dimaksud adalah kesamaan pembentukan konsonan berdasarkan artikulasi dari fonem /m/ dalam “merubah” dan fonem /b/ dalam “berubah”. Keduanya adalah konsonan bilabial.

Mengapa kok redaktur ini memilih bahasa Melayu sehari-hari? Jelas, tujuan utama waktu itu agar pembaca surat kabar ini banyak sehingga surat kabar itu laku. Ingat pula, pada waktu itu jurusan bahasa dan sastra tidak banyak. Bahkan, di Hindia pada akhir abad ke-19 hingga abad ke-20 belum ada universitas. Sekolah pun masih belum banyak. Jadi, pembetulan-pembetulan kesalahan dalam berbahasa belum banyak dilakukan.

Dalam perkembangannya, kata “meroebah/merobah” ini terus-menerus dipakai oleh orang Indonesia. Sebut saja Bung Karno. Dalam beberapa kesempatan, Bung Karno kerap memakai “meroebah/merobah”. Simak kutipan ini.

“Tuhan tidak merobah nasibnya suatu bangsa, sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (Bung Karno – Pidato HUT Proklamasi, 1964).

Kita bisa juga cek di teks yang lebih tua. Misalkan dalam kutipan di bawah ini.

“maka vakcentraale Persatoean Perkoempoelan Kaoem Boeroeh berikhtiar mendapatkan kekoeasaan boeat meroebah peri penghidoepan itoe dengan melaloei djalan kodratnja sendiri.” (Soerjopranoto dalam kongres CSI IV di Surabaya Oktober-November 1919).

Hingga kini, kata “merubah” muncul karena peninggalan zaman dulu dan terus-menerus digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Lantaran sering digunakan, secara alam bawah sadar kita menganggap “merubah” itu benar. Padahal, sekarang sudah banyak sekolah-sekolah yang mengajarkan dalam bahasa Indonesia bahwa “merubah” adalah bentuk salah atau tidak baku dari kata “mengubah”.

Baca Juga:  Jika Difilmkan, Keluarga Gerilya Bisa Saja Meraih Oscar

Tidak mungkin kan kita terus-menerus “menjadi rubah” (arti sebenarnya “merubah” secara pembentukan kata meN+rubah). Mari kita perbaiki penggunaan bahasa Indonesia dari hal-hal kecil, seperti tidak lagi menggunakan “merubah” dan diganti “mengubah”.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here