kekasih bayangan
Dok. Freepik.com
dibaca normal 7 menit

KIRA-KIRA enam bulan setelah menikah, lukisan Kekasih Bayangan berada di apartemen Andaru. Lukisan itu dipajang di samping meja makan dan diatur setinggi mata orang berdiri.

Andaru melihat dengan seksama saat meminum kopi sehabis pulang kerja. Ia masih mengenakan pakaian kerjanya dan memang begitu kebiasaannya tiap pulang kerja—ia akan meletakkan tas kerja di meja kecil di sebelah kasur dan menuju dapur hanya untuk memeluk sebentar istrinya dari belakang yang sedang memasak.

Istrinya biasanya sudah menyiapkan segelas kopi hitam tanpa gula. Andaru akan menyesap kopi sambil duduk di kursi meja makan, sementara istrinya sedang menyiapkan makan malam. Aroma kopi dan masakan istrinya selalu membuat Andaru ingin buru-buru pulang.

“Kamu baru membeli lukisan ya?” tanya Andaru kepada istrinya sambil menatap lukisan Kekasih Bayangan.

“Iya,” jawab istrinya dari dapur. “Saat belanja, aku tak sengaja melihat lukisan itu. Murah. Aku pikir akan bagus untuk menghiasi apartemen kecil kita. Kamu suka?”

“Aku tidak terlalu mengerti lukisan, tapi kelihatan bagus kok. Kamu beli di mana?”

“Di toko barang bekas. Cuma Rp50 ribu.”

“Wah murah ya.”

“Aku membeli frame baru dengan warna hitam untuk lukisan itu.”

“Iya, sangat cocok kok.”

Istrinya keluar dapur dengan membawa makan malam. Aroma kangkung dan ayam goreng makin membangkitkan selera makan Andaru. Ia meletakkan mug kopinya dan membantu membawakan salah satu piring.

Istrinya melepaskan celemek dan merapikannya di dekat dapur. Setelah itu, ia kembali ke meja makan bergabung dengan Andaru.

Makan malam selalu istimewa. Andaru akan memuji masakan istrinya, lalu mereka akan bertukar cerita. Setelah makan malam, giliran Andaru merapikan dan membersihkan semua piring serta alat masak kotor.

Anehnya, Andaru melakukannya dengan masih mengenakan baju kerja. Ia menggulung kemejanya hingga ke siku dan mulai membersihkan piring-piring kotor.

Istrinya pernah mengomel dengan kebiasaan Andaru yang tak ganti baju selepas pulang kerja. Bagi Andaru, ganti baju selepas pulang kerja itu tidak efisien. Sebab, setelah ia menyelesaikan mencuci piring, ia akan mandi. “Lebih baik ganti setelah mandi, toh bajunya besok enggak kupakai. Kalau ganti setelah pulang, sia-sia enggak sih?”

Istrinya pun lama-lama menyerah. Ia membiarkan kebiasaan Andaru.

***

Selama beberapa hari, Kekasih Bayangan menarik minat Andaru. Ia bukan seorang yang suka lukisan. Ia tak punya keahlian dalam melukis atau menilai lukisan. Selama ini, ia hanya menganggap bahwa dunia seni rupa itu sekadar ada. Ia tahu beberapa nama pelukis hanya karena mereka memang sering disebut-sebut. Misalnya, Van Gogh atau Picasso. Hanya sebatas itu saja.

Namun, Kekasih Bayangan seperti mengajaknya masuk ke dalam dunia baru yang tak pernah ia masuki sebelumnya. Kekasih Bayangan bukan lukisan ruwet dengan beragam bentuk dan makna. Bukan juga lukisan realis dengan kesempurnaan bentuk dan lekuk.

Kekasih Bayangan hanya terdiri dua warna paling dasar, hitam dan putih. Tidak ada warna lainnya. Semacam Yin Yang, tetapi dengan bentuk berbeda. Hanya lukisan hitam putih sepasang kekasih yang sedang berpelukan. Bayangan hitam laki-laki yang tampak dari belakang dengan lekuk jari dari kedua tangan perempuan dengan warna putih memeluk bayangan hitam. Tak ada lekuk tubuh perempuan dalam lukisan selain jari-jari yang memeluk erat bayangan hitam laki-laki. Kekasih bayangan, begitu Andaru tiba-tiba menamai lukisan yang sebenarnya tak bernama.

“Menurutmu, siapa yang melukis gambar itu ya?” tanya Andaru kepada istrinya sebelum mereka tidur.

“Kamu tertarik?”

“Aku tidak pernah mengerti dunia seni. Tapi, lukisan itu, hmmm, seperti Yin Yang dalam bentuk lain.”

“Yin Yang?”

“Iya, cuma terdiri dari dua warna hitam dan putih,” kata Andaru. “Ada yang menarik diriku ke dalam lukisan itu. Aku tidak tahu. Tapi, tarikannya sangat kuat. Bagaimana menurutmu?”

Baca Juga:  Hari yang Sempurna untuk Kanguru - Haruki Murakami

“Akhirnya, sense seni kamu keluar,” istrinya menjawab dengan bercanda.

“Aku serius.”

“Yuk tidur. Besok kamu kerja. Nanti kesiangan.”

“Aku tidak bisa tidur.”

“Karena lukisan itu?”

“Iya.”

Istrinya memeluk Andaru erat. Andaru membalas dengan ciuman di kening istrinya. Mereka berpelukan, tapi pikiran Andaru masih tak bisa lepas dari Kekasih Bayangan.

***

Ketika pertama bertemu, mereka tidak pernah berpikir akan hidup bersama, dalam satu atap, berbagi apa pun di dalam ruangan yang sama. Andaru bukan tipe orang yang gampang tertarik dengan perempuan. Bertemu dengan seseorang yang mau dengan dirinya sudah menjadi hal luar biasa. Istrinya, anehnya, juga setipe. Mereka juga bukan jenis manusia yang bakal mudah bicara dengan orang asing.

Mereka tiba-tiba bertemu di satu waktu yang tak direncanakan. Tengah malam. Ya, tengah malam. Baik Andaru dan istrinya berlari dari pintu stasiun menuju peron kereta. Sebenarnya jaraknya tak terlalu jauh, sekitar 500-700 meter. Tapi, karena buru-buru, segalanya seperti kehilangan kendali. Mereka ketinggalan kereta saat baru saja mencapai ujung terdekat peron. Kereta baru saja berjalan beberapa meter.

Napas keduanya tersengal-sengal. Andaru memegang lutut. Jantungnya tidak karuan. Ia bukan tipe orang yang suka berlari. Hanya beberapa meter saja, keringat sudah bercucuran dan jantung sudah tak terkendali. Andaru tidak sendirian. Beberapa orang juga turut ketinggalan. Salah satunya yang bakal menjadi istrinya.

Sekitar tujuh tahun yang lalu—tidak seperti sekarang—transportasi paling efektif untuk menuju Jakarta dari Bogor adalah kereta listrik. Dan, jika ketinggalan, tak akan ada pilihan  transportasi yang menyenangkan. Tidak ada bus yang beroperasi selepas pukul 9 malam. Menggunakan taksi akan menghabiskan uang terlalu banyak. Naik angkot pun akan merepotkan. Satu-satunya jalan terbaik hanya menunggu kereta pertama berangkat dari Bogor. Kereta itu baru ada empat jam dari waktu mereka ketinggalan kereta terakhir.

Achggrrr…” kata Andaru. Perempuan yang nantinya jadi istrinya juga mengeluh, tapi dalam hati. Mereka berdua duduk di kursi peron yang sama. Masing-masing berada di salah satu ujung terjauh. Keduanya mengeluarkan ponsel, mencoba mencari alternatif untuk bisa ke Jakarta. Tapi, apa yang kamu harapkan. Jakarta masih berjarak 40-an km.

Beberapa orang yang ketinggalan memilih menginap di stasiun. Beberapa lainnya memilih menggunakan angkot yang tentu saja harus menyambung berkali-kali untuk sampai. Juga, keamanan tidak terjamin.

Saat mereka mengingat-ingat pertemuan mereka pertama kali—dan kebanyakan saat mereka akan tidur maupun saat menyesap minuman hangat bersama di meja makan—baik Andaru maupun istrinya saling menerka siapa sebenarnya yang membuka pembicaraan. Istrinya bilang, Andaru yang memulai. Tapi, seingat Andaru istrinyalah yang berinisiatif.

“Sepertinya kamu duluan,” kata Andaru. Lampu kamar mereka telah padam. Cahaya remang dari luar jendela apartemen menembus celah jendela, juga menerabas kain gorden. Gelap, tapi tidak terlalu gelap. Mereka suka bercerita sebelum tidur.

“Tidak. Kamu,” sela istrinya.

“Apa iya ya.”

“Kamu suka melupakan detail.”

Andaru akan nyengir begitu saja. Dan istrinya akan sedikit menggerutu karena Andaru selalu melupakan detail-detail kecil dalam kehidupan mereka. Ini bukan pertama kali Andaru selalu lupa. Ia pernah lupa menaruh ponsel, kunci rumah, karcis parkir, dan sebagainya.

“Tapi, akhirnya kita memutuskan berjalan mencari tempat makan yang 24 jam.”

“Iya. Akhirnya kita melipir ke KFC.”

“Ya-ya… kita berbicara banyak hal.”

“Dan hujan pun turun.”

“Enggak sih..” kata istrinya.

“Tidak ada hujan?” Andaru mencoba bangkit dan duduk di kasur. Ia akan mencoba mengingat-ingat detail pertama kali mereka bertemu.

Baca Juga:  Mbah Banyubiru

“Kenyataannya tidak ada hujan. Tapi kita memang bicara banyak hal.”

“Film?”

“Ya.”

“Dunia yang absurd?”

“Ya.”

“Saat itu kamu sudah menyukaikukan?”

“Enggak. Kamu aneh. Bagaimana aku bisa menyukai orang aneh yang baru saja kutemui?”

“Aneh?”

“Kamu tidak tahu betapa anehnya dirimu?”

“Enggak.”

“Kamu berbicara seakan-akan mengenalku.”

“Oh ya… Emang begitu aneh?”

“Kita minum teh panas. Ngobrol ngalur-ngidul, meski tidak saling kenal, dan akhirnya empat jam berlalu begitu saja. Apa itu tidak aneh?”

“Iya juga sih.”

“Kita jalan ke stasiun, bertukar nomor, menunggu kereta pertama di peron, bercerita lagi. Lalu kereta datang. Kita naik, duduk di kursi, cerita lagi, dan sejenak tertidur. Aku turun duluan. Lalu kita tidak pernah berbincang atau bertemu.”

“Dan kita bertemu lagi. Lalu, kita memutuskan menikah.”

“Ya. Tujuh bulan lalu setelah hampir tujuh tahun tak bertemu dan kita memutuskan menikah. Aneh kan?”

“Iya juga sih. Seperti di film.”

“Hu-um. Kamu tidak mengantuk?”

“Ngomong-ngomong, kenapa saat itu kamu tidak menghubungiku?”

“Kamu juga. Kenapa enggak?”

“Hmmm. Mungkin aku tidak terlalu berani.”

“Aku juga.”

“Tapi kita bertemu lagi.”

“Iya. Dan menikah.”

“Aneh ya.”

“Iya.”

***

“Aku mungkin sangat melukainya,” kata Andaru kepada seseorang di depannya. Kini, setelah 2 tahun pernikahannya—setidaknya itu yang masih diingat Andaru—istrinya meninggalkannya. Ia tak ingat apa pun. “Seperti ada yang memblokade ingatanku,” katanya lagi,

“Apa yang kamu ingat sejauh ini?” tanya orang yang duduk di depan Andaru.

“Kami pertama kali bertemu di stasiun—cerita ini sering kami ulangi sebelum tidur—ketinggalan kereta, berbincang-bincang untuk menunggu kereta pertama, dan selesai. Lalu, kami bertemu lagi dan menikah.”

“Lalu?”

“Kami bertemu lagi dan menikah sebulan kemudian. Kami pindah ke apartemen baru. Hidup layaknya pasangan suami istri baru. Dan istriku tiba-tiba membeli sebuah lukisan.”

“Lukisan?” tanya orang itu. Ia mencoba menggali tentang lukisan itu. Barangkali dengan lukisan itu, Andaru bisa membuka blokade yang memutus ingatannya. “Lukisan seperti apa?”

“Aku menyebutnya, Kekasih Bayangan, lukisan hitam putih. Seingatku, aku tak pernah bilang ke dia kalau aku menyebut lukisan itu Kekasih Bayangan.”

“Kenapa?”

“Entah kenapa aku tertarik dengan lukisan hitam putih itu. Hanya ada hitam dalam putih dan putih dalam hitam.”

“Semacam Yin Yang?”

“Betul, semacam Yin Yang,” jawab Andaru. Ia memandang ke arah jauh sebelum menyambung kembali. “Tapi bukan lingkaran. Hanya bayangan lelaki hitam dan ada tangan perempuan dengan warna putih melingkar di bayangan itu. Wujud perempuan itu tak terlihat kecuali tangannya.”

“Kamu bisa mengingatnya dengan detail?”

“Aku tidak tahu. Aku masih ingat, ketika istriku membawa lukisan itu, aku tiba-tiba tertarik. Aku tidak tahu soal lukisan, tapi Kekasih Bayangan menarikku ke dalamnya.”

“Dan sejak saat itu, kau lupa apa yang terjadi. Lalu istrimu menghilang atau meninggalkanmu?”

“Ya. Ia hilang. Tak ada barang-barangnya. Semua lenyap.”

“Tak tersisa?”

“Tak tersisa.”

“Kecuali lukisan Kekasih Bayangan?”

“Kecuali lukisan Kekasih Bayangan, betul.”

“Dan kau merasa hilangnya istrimu berkaitan dengan itu?”

“Mungkin iya. Mungkin tidak. Tapi, aku yakin aku telah melukainya. Sangat dalam.”

“Dan itu kenapa dia pergi darimu?”

“Betul. Karena dia tidak akan pergi kecuali aku melukainya.”

“Masuk akal. Tapi, kamu tidak ingat apa pun?”

Andaru memejamkan mata. Bola matanya—meski ia menutup mata—terlihat bergerak ke kanan ke kiri. Orang di depannya melihat dengan cermat perubahan ekspresi Andaru. Raup, mimik, gerak-gerik bibir dan otot pipi, dan mata.

“Sepertinya, aku sedikit ingat sesuatu,” Andaru seperti telah menemukan puzzle terakhir untuk merangkai semua ingatannya.

Orang itu kembali menyimak. Andaru mengeluarkan segenap daya untuk melengkapi sisi rumpang dalam kepalanya. Ingatannya selalu terputus begitu saja. Selama ini, ia menganggap tak punya kenangan. Atau, mungkin saja selama ini ia tak menyadari telah kehilangan kenangan. Mata Andaru kembali terpejam.

Baca Juga:  Di Dalam Hatinya, Sebuah Lagu Tak Sengaja Berputar

“Istriku mengenakan kaus putih bergambar Rolling Stones yang kebesaran untuk tubuhnya tapi pas di mataku. Dia sedang memegangi mug yang berisi teh melati panas,” Andaru mengatakannya sambil memejamkan mata. “Dia berada di meja makan. Suara mobil dan motor sesekali muncul dari luar jendela. Jeda di antara suara-suara itu memunculkan keheningan sempurna.”

“Kamu juga berada di situ?”

“Ya, aku duduk di depannya dengan segelas kopi yang tinggal ampas dan dingin.”

“Kalian berbicara sesuatu saat itu?”

“Tidak. Atau mungkin aku tidak ingat.”

“Tapi kamu bisa mengingat baju yang dipakai istrimu dan kopi yang sudah hampir habis.”

“Hmmm…”

“Tidak perlu dipaksa.”

***

Saat Andaru pulang dari kerja, ia menemukan apartemennya lebih rapi dan bersih. Tak ada benda-beda yang berserakan. Semua tersusun rapi. Buku-buku, alat tulis, tempat tidur, dapur, dan sebagainya. Mungkin juga tidak ada debu di lantai.

Kekasih Bayangan masih menempel di sebelah meja makan. Andaru tidak mencium aroma masakan. Tidak mendengar suara minyak panas yang sedang menggoreng tempe atau tahu atau ayam atau apa pun. Dapurnya kosong, bersih, dan rapi. Ia menuju kamar mandi. Bersih. Tak ada siapa pun.

Ia meletakkan tas kerjanya di kamar. Menuju dapur dan menjerang air. Masih dengan baju kantor seperti hari-hari sebelumnya. Ia menuangkan kopi serbuk ke mug, menuangkan air panas ke mug, mengaduk, dan membawanya ke meja makan.

Cahaya matahari menembus gorden apartemennya. Cahaya sore yang mungkin sedang kelelahan di bulan Agustus. Andaru menyesap kopi, berdiri di depan meja, dan terus mengamati Kekasih Bayangan. Tak ada perubahan apa pun. Tak ada yang bergeser. Lukisan itu masih sama, gambarnya pun tidak berubah. Seorang laki-laki berwarna hitam berpelukan dengan perempuan berwarna putih. Hanya tangan perempuan itu saja tergambar di bayangan hitam si lelaki.

Ia duduk di kursi meja makan. Memutar-mutar mug, melihat jauh ke depan untuk sementara waktu. Suara mobil dan motor meraung karena jalanan di tepi apartemennya begitu ramai. Raungan hanya sama-samar terdengar di kursi tempat Andaru duduk.

Andaru mengambil ponselnya. Mencari nomor telepon istrinya dan menekan tombol hijau. “Maaf, nomor yang Anda tuju tidak terdaftar.” Ia mengulangi beberapa kali. Tak ada perubahan. Ia kembali duduk, menyesap kopi, cahaya matahari sore menetap di meja makannya.

***

“Aku tidak ingat apa pun,” kata Andaru. “Bahkan, nama istriku.”

“Tapi, lukisan Kekasih Bayangan itu masih ada di apartemenmu sampai sekarang?”

“Ya. Masih ada. Hanya itu saja yang tersisa.”

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here