teroris
dibaca normal 5 menit

AKU TAK MENGIRA, petang itu, kabar tentang dirinya hadir. Sudah sekira dua tahun aku tak mendengar kabarnya. Ibunya pun sudah tak mengetahui keberadaannya. “Sudah empat tahun, Din,” ujar ibunya saat aku datang ke rumahnya, Lebaran tahun kemarin. “Kalau Udin tahu, kasih tahu Ibu.”

Dua tahun lalu, ia tampak begitu kacau. Pakaiannya seperti tak pernah diganti selama berhari-hari. Jika kau berada dua meter darinya, kau pasti tau bau yang ditimbulkan dari pakaian dan juga tubuhnya.

Ia mondar-mandir di depan rumah indekosku. Tak tenang. Pemilik indekos bilang, ada laki-laki mencurigakan di depan rumah. Penasaran, aku pun mengintip dari jauh. Sepertinya aku kenal perawakannya, pikirku dalam hati. Ya, lelaki itu memang kawanku. Setelah memastikan, kubilang, dia kawanku. Agar pemilik indekos tidak terlalu curiga.

Pemilik indekos masih mengamati dari teras rumah. Tidak nyaman dengan lelaki itu. Kujelaskan lagi, dia adalah kawan masa kecilku di kampung. “Dulu sekali dia juga pernah ke sini,” kataku meyakinkan pemilik indekos.

Aku membuka pintu gerbang yang ukurannya hanya setinggi dada lelaki dewasa. Lalu, kupanggil namanya. “Dul,” sedikit teriak. Ia bergumam, tak jelas apa yang ia gumamkan. Matanya memandang ke sembarang arah.

Dari tempatku memanggil, aku sudah bisa mencium aroma bau badan yang tak pernah dibilas air berhari-hari. Campuran antara bau asam keringat, apek, bacin, dan juga aroma sengatan matahari. Betul, kulit mukanya semakin gelap. Aku sempat tidak yakin itu dia saat kulihat dari balik gerbang.

Ia memakai jaket kulit berwarna gelap. Rambutnya terpangkas pendek. Sayang, lantaran tak pernah terkena air, rambutnya jadi tak keruan. Celana jin yang dikenakan sudah tak berbentuk, kotoran kecokelatan ada di sana-sini. Sempat ia tak mendengar atau lebih tepatnya tak mengenaliku. Ia terus bergumam. Namun, ketika aku memanggil untuk ketiga kalinya, ia seperti baru keluar dari lamunan. Tersentak. “Din, boleh aku menginap di tempatmu?” tanyanya, suara kecil lirih. Hampir tak kedengaran.

DAN, jika sudah mengucapkan permintaan itu, aku tahu ia sedang dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Pertama kali ia meminta demikian ketika ia duduk di bangku kelas empat.

Aku dan dia masih sepantaran. Kami hanya berbeda enam bulan. Ia lebih tua. Kami selalu berada di sekolah yang sama hingga bangku SMP. Hanya ada beberapa sekolah di kampungku. Dan, karena otaknya begitu encer, saat SMA, ia diberi beasiswa untuk bersekolah di kota.

Situasinya hampir mirip-mirip seperti ini. Bedanya, permintaan terakhirnya itu, ia dalam kondisi yang sangat-sangat buruk sekali ketimbang saat pertama kali ia meminta menginap di tempatku. Meski sebenarnya, jika dipikir lagi, dua-duanya sama-sama buruk.

Kali pertama ia datang, sehabis hujan, tubuhnya kuyup. Badannya menggigil. Ada beberapa luka. Ia tidak bersuara, tapi sepertinya ia kehabisan suara dan air mata—air mata ini pun sudah tersamarkan oleh bekas air hujan, tapi aku tahu, ada bekas lelehan air mata di wajahnya.

Baca Juga:  Lintang Kemukus

Aku ke depan bersama ibuku. Permintaan itu pun meluncur dari mulutnya. Lirih dan berat. “Din, boleh aku menginap di tempatmu?”

Ibu langsung menggandeng tangannya. Memapah memasuki rumah. Jangan bayangkan rumahku besar. Rumahku sama seperti rumah kampung pada umumnya, kecil dan padat dengan perkakas. Tapi, untuk satu orang anak kecil, rumah ini masih punya ruang yang cukup. Disiapkan air hangat untuk mandi. Dan, Ibu menceplok dua telur mata sapi. Satu untukku dan satu untuknya.

Setelah Dul mandi, ibu meminjami bajuku. Beberapa luka pun diolesi obat. Ibu memintaku mengajak Dul makan bersama. Aku menuangkan nasi untuknya dan mengambilkan satu telur.

Kulihat raut mukanya. Kosong. Tak ada nafsu makan. Meski demikian, ia berusaha keras untuk memasukkan nasi demi nasi ke mulutnya. Aku memberinya air putih agar dia tak tersedak. Setelah itu, ia mulai pelan-pelan mengunyah nasi dan telur ceplok.

Ia tak bercerita apa pun. Ia hanya di kamarku. Meringkuk. Tubuhnya sesekali bergetar. Aku tak menanyakan apa yang sedang terjadi. Hening sekali. Hanya suara tik tok jam dan suara jangkrik. Sebelum tertidur, ia akhirnya mengecapkan beberapa patah kata. “Din, terima kasih,” ujarnya.

SETELAH ITU, hari-harinya di sekolah semakin murung. Ia selalu menyendiri. Berkali-kali dia dirisak oleh kawan-kawannya, ia tak pernah membalas. Ia biarkan teman sekolahnya—yang juga temanku tentunya—memanggilnya dengan bedul, pantat bedul (omong-omong, bedul adalah kata kasar untuk babi), atau panggilan kasar lainnya. Namun, ketika ibunya dihina, ia langsung bereaksi.

Pernah memukul salah seorang penghina ibunya hingga giginya lepas—maklum tubuhnya lumayan besar untuk anak kelas empat sekolah dasar, tidak seperti diriku yang masih kecil kurus. Orang tua anak itu marah-marah ke Dul, mengadu ke kepala sekolah. Orang tua Dul dipanggil ke sekolah. Dul diskors dua hari. Malamnya, Dul kembali tidur di tempatku dengan luka-luka yang hampir sama dan juga gigi yang tanggal, sama seperti anak yang ia pukul tadi.

Ia semakin pendiam, murung, dan penyendiri. Anehnya, meski kehidupannya semakin suram—aku baru tahu alasan kenapa dia menjadi seperti itu: ayahnya yang sangat kasar itu meninggalkan ibu, dia, dan adik perempuannya lalu menikah lagi dan lenyap begitu saja—nilainya seperti tak terpengaruh.

“Aku pengin pergi dari sini, Din,” bisiknya sebelum kami tidur. “Seperti Neraka.”

Harapannya terwujud. Ia dapat beasiswa di SMA. Menyelesaikan bangku SMA dalam dua tahun. Setelah itu, berlanjut di universitas terkemuka di Ibu Kota.

Tiga tahun berikutnya, aku baru bisa satu universitas dengan dirinya. Sebab, dia menjalani masa SMA setahun lebih cepat diriku dan aku harus mengikuti ujian masuk berkali-kali hingga dua tahun. Sementara, dia masuk tanpa sekalipun ikut ujian dan di jurusan terkemuka pula.

Entah bagaimana, dia bisa menemukan rumah indekosku. Aku berniat memberi tahu saat baru tinggal di Ibu Kota. Ya, lantaran aku tak tahu kontaknya, aku mengunjungi fakultasnya. Orang-orang yang kutemui di sana tak tahu persis tempat tinggalnya. Jika tidak salah, dia sudah tingkat akhirpikirku dalam hati, mungkin saja dia sudah tak berkeliaran di kampus. Esoknya, kuputuskan mengunjungi bagian akademik, menanyakan informasi tentang dirinya. Tak ada yang bisa kudapatkan. “Dia memang terdaftar, tapi sudah dua semester ini dia cuti,” kata pegawai akademik itu.

Baca Juga:  Malam Itu, Kota Ini Kembali Lagi seperti di Masa Lalu…

Ketika dia tiba-tiba berada di depan kamarku, aku terkejut dan keheranan. Bagaimana bisa ia menemukan tempatku tinggal, sementara saat kucari, keberadaannya entah kenapa tak bisa kutemukan. Seperti biasa, dia minta izin menginap di tempatku, namun kali ini dia lebih banyak bicara.

“Kau ada uang sejuta, Din?” Tidak biasanya ia meminjam uang. “Untuk apa, Dul?” tanyaku. “Kau tidak pulang? Ibumu rindu.”

Saat mendengar kata itu, ia terhenyak sebentaran. Meminta rokok, lalu menyalakan.

“Aku tidak akan pulang lagi,” jawabnya sehabis menyalakan rokok.

“Kenapa? Kau tidak rindu keluargamu?”

“Aku pernah bilang, rumah itu seperti neraka. Aku tidak bisa pulang. Aku sudah tak punya rumah lagi.”

Ada kepiluan dari nada bicaranya. “Aku pinjam dulu, nanti aku ganti.”

Aku bilang, aku tak punya uang sebanyak itu. Paling banter aku bisa meminjami barang 300 ribu. Ia mengangguk. “Tidak apa, segitu sudah cukup sekali.”

“Untuk apa?” kutanyakan sekali lagi.

“Ke Patani. Aku mau hijrah.” Cepat sekali rokoknya habis. Mengambil satu lagi, membakar, dan mengisap dalam-dalam.

“Bagaimana dengan kuliahmu?” tanyaku lagi. “Sebentar lagi kau luluskan?”

“Negeri ini sudah sama seperti rumahku. Neraka. Sudah tak ada cinta dan keadilan. Kenapa manusia bisa setega itu, Din?”

Aku tak bisa menjawab.

Ia mencecak rokoknya. Langsung tidur. “Terima kasih, Din.”

Besoknya, ia sudah pergi pagi-pagi benar. Aku tak mendengar kabarnya lagi.

HINGGA SUATU KALI, telepon genggamku berbunyi kencang dengan nomor yang tak kukenali. Si penelepon ternyata dari kantor imigrasi di Batam. Ia menanyakan apakah aku ada satu keluarga atau temannya Umar.

“Tidak,” jawabku, “Aku tidak kenal siapa itu Umar. Mungkin salah orang, Pak.”

“Umar alias Imron alias Abdulgani?” Si penelepon kembali meyakinkan.

“Abdulgani? Irsyad Abdulgani?” kutanyakan untuk memastikan.

Petugas di saluran telepon itu mengiyakan. Ia memberi tahu, pihak imigrasi Thailand mendeportasi Dul lantaran ia masuk tanpa dokumen resmi. Selain Dul, ada empat orang lain. Tapi, aku tak mengenali mereka semua.

Si petugas memintaku menjemput Dul minggu depan. Kutanyakan, kenapa tidak hari ini atau besok atau lusa. Kenapa selama itu.

Petugas itu tak memberikan alasan jelas. “Sudah prosedurnya begitu,” jawabnya singkat. Lalu, petugas itu pun memberitahu jam dan tempat penjemputan.

SAAT PERTAMA kutemui di imigrasi bandara, Dul sudah berubah drastis. Ia mengenakan gamis serbaputih dan berserban. Ia juga memelihara jenggot seperti ilustrasi para wali yang terpampang di rumah-rumah di kampungku.

Aku tak menanyakan apa yang terjadi. Ia cuma diam saja. Aku juga tak menanyakan siapa yang bersama dia dan apa yang terjadi selama satu minggu di kantor imigrasi. Petugas imigrasi bandara memberitahu informasi yang sama dengan petugas di saluran telepon minggu lalu: Dul masuk Thailand tanpa dokumen resmi, karena itu dia dideportasi. Lantaran hanya kontakku yang ia punya, petugas pun meneleponku.

Baca Juga:  Hamzanama

Kami naik bus dari bandara kemudian menyambung dengan kereta listrik. Semua mata meliriknya. Dengan pandangan aneh tentunya. Dan, sesekali mereka yang menatap itu bergerak pelan menjauhi kami. Barangkali bagi mereka, penampilan Dul sungguh asing dan mencurigakan.

Dul menginap semalam di kamarku. Tanpa bicara apa-apa. Seperti biasa, keesokan pagi, ia kembali pergi. Tanpa sesuatu yang ditinggalkan.

Masa-masa ia menghilang, sempat pula aku mendengar kabar dari seorang teman kampusnya. Katanya, Dul sempat ditangkap polisi di Yogya. “Cuma semalam, karena menusuk guru spiritualnya dari belakang. Dul bilang, gurunya itu telah menodai pacarnya. Ia geram, bawa pisau dapur, mengendap-endap, ketika gurunya sedang berdoa, ia menancapkan pisau. Anehnya, pisau itu bengkok dan gurunya tak luka sama sekali,” ujar temannya itu. “Ya, karena gurunya mencabut laporan dan ada yang menjaminnya, ia cuma menginap di penjara semalam,” tambahnya melengkapi. “Setelah itu, aku tak tahu dia di mana.”

Hanya itu saja yang kudengar. Lalu, ia kembali muncul lagi dua tahun lalu di depan rumah indekosku. Dengan tampilan yang sangat menyedihkan, seperti gelandangan yang tak tersentuh air dan sabun berhari-hari, hanya untuk pergi lagi, seperti yang sudah-sudah. Kali ini, ia meninggalkan catatan. Semacam bahasa sandi yang tak bisa kupahami. Banyak coretan sana-sini dan kata-kata yang baru kudengar.

YA, petang itu, setelah menghilang beberapa kali dan bertahun-tahun, kabar Irsyad Abdulgani alias Imron alias Umar sampai kepadaku. Bukan dari orang-orang dekatnya, bukan pula dari orang-orang dekatku.

Kabar itu disiarkan di seluruh negeri, bahkan dunia. “Irsyad Abdulgani alias Imron alias Umar diduga menjadi pelaku bom bunuh diri di Suriah, petang tadi. Kelompok teroris Negara Islam Irak Suriah mengaku bertanggung jawab atas aksi teror tersebut.” Demikian bunyi kabar itu dari televisi yang tak sengaja kutonton di warung kopi. Mataku mulai meleleh.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here