Jorge Luis Borges
dibaca normal 9 menit

PADA 1967, Richard Burgin yang saat itu belum lulus dari Brandeis University dan Mosca Flo Bildner, perempuan muda Brazil, mengunjungi apartemen Jorge Luis Borges, maestro fiksi asal Argentina. Kala itu, di Amerika, Borges memberi kuliah umum di Harvard University. Ia menetap di apartemen Concord Avenue bersama istrinya.

Tidak mudah kala itu berkesempatan mewawancarai langsung sang maestro. Tak banyak pula yang mendapatkan kesempatan itu. Borges hanya sedikit menerima wawancara.

Saat itu, 21 November 1967, dua hari sebelum Thanksgiving, hujan tipis turun saat mereka hendak pergi ke apartemen tempat Borges menginap, di Concord Avenue. Sebelum ke Concord, Burgin dan Flo mampir untuk membeli bingkisan untuk Borges. Mereka tetap membeli bingkisan, meski mereka tahu, Borges bukan orang yang menginginkan bingkisan bila ada tamu yang akan datang. Bagi Borges, bingkisan terbaik dari tamunya adalah kedatangan tamu itu sendiri.

Burgin dan Flo sempat salah alamat. Mereka salah mengetuk pintu. Perempuan yang membukakan pintu tak pernah mendengar siapa itu Borges. Setelah meminta maaf dan memohon diri, Burgin dan Flo tertawa lepas hingga bisa melonggarkan urat-urat tegang sebelum bertemu sang penulis besar Argentina.

Mereka pun berhasil menemukan alamat Borges dan mengetuk pintu Borges. Pengarang yang saat itu berusia 70-an tahun memegang tongkat dan mengenakan setelan baju abu-abu konservatif elegan. Borges dibantu seseorang lelaki, barangkali berumur 30-an tahun dan seorang fisikawan MIT yang membantunya mendalami Sastra Klasik Persia. Mereka mempersilakan Burgin dan Flo masuk.

Di apartemen kecil itu, Borges tinggal bersama istrinya. Kira-kira ada 10 atau 15 buku dalam rak bukunya, TV 12 inci di ruang tengah dan beberapa majalah di meja. Istrinya saat itu sedang pergi. Jadi, satu-satunya perempuan yang ada di ruangan itu hanya Flo.

Borges mempersilakan Burgin dan Flo duduk di mana pun. “Jangan sungkan-sungkan, silakan duduk di mana saja,” katanya kepada Burgin dan Flo, “aku tak bisa melihat apa pun.” Ia lantas menawarkan minuman untuk Burgin dan Flo. Burgin menolak, tapi Flo dengan inisiatifnya membawakan minuman untuk orang-orang yang ada di ruangan tersebut.

Mereka pun mulai berbincang-bincang tentang pengarang-pengarang besar: William Faulkner, Walt Whitman, Franz Kafka, Melville, Henry James, Dostoevsky, dan Schopenhauer. Tiap lima menit, maestro fiksi Amerika Latin ini menyela perbincangan. “Apakah aku membuat Anda bosan? Apakah aku mengecewakanmu?” ujarnya. Ia pun menambahkan kata-kata yang membuat Burgin terhenyak.

“Aku mendekati 70 dan aku bisa saja membuat diriku seolah-olah seperti anak muda. Tapi, aku tidak menjadi diri sendiri,” imbuhnya lagi.

Percakapan tersebut memberi kesan mendalam, baik bagi Burgin maupun Borges. Borges sendiri bilang, percakapannya dengan Burgin membantunya menemukan diri sendiri.

Lalu, apa saja yang mereka perbincangkan? Books and Groove berkesempatan menerjemahkan perbincangan tersebut. Berikut petikan wawancara antara Burgin dan Borges yang diambil dari buku Jorge Luis Borges: The Last Interview.

Ada saat-saat tertentu Anda tidak mencintai Sastra?

Tidak. Aku selalu berpikir dalam diriku sebagai seorang penulis, bahkan sebelum aku menulis buku. Bisa dibilang, ketika aku tidak menulis apa pun, aku tahu akan menulis sesuatu. Aku tidak berpikir bahwa aku adalah penulis bagus, tapi aku tahu tujuan hidupku atau takdirku ada di dunia sastra, bukan? Aku sama sekali tidak memikirkan diriku akan menjadi apa pun.

Anda tidak berpikir berkarier di bidang lain? Maksudku, ayah Anda adalah seorang pengacara.

Betul. Namun sebenarnya, ia mencoba menjadi seorang sastrawan dan gagal. Ia menulis beberapa soneta yang sangat bagus. Namun, ia berpikir aku yang harus meneruskan cita-citanya. Dan dia bilang padaku jangan terburu-buru diterbitkan.

Tapi, Anda menerbitkan buku di usia yang sangat muda. Sekitar 20-an.

Ya, aku tahu, tapi ia bilang padaku, “Kamu jangan terburu-buru. Kamu menulis, nikmati tulisanmu, hancurkan, dan nikmati waktumu. Yang terpenting, ketika kamu menerbitkan sesuatu, itu harus menjadi karya yang sangat bagus atau setidaknya yang terbaik yang bisa kamu lakukan.”

Kapan Anda memulai menulis?

Saat masih kecil sekali. Aku menulis dengan bahasa Inggris sepanjang 10 halaman tentang mitologi Yunani, dengan bahasa Inggris yang buruk. Itulah saat pertama kali aku menulis.

Maksud Anda “mitologi asli” atau sebuah terjemahan?

Bukan, bukan, bukan, bukan, bukan. Bukan seperti itu yang kumaksud. Contohnya saja, hmm, “Hercules Menangkap 12 Monster” atau “Hercules membunuh Singa Nimean.”

Anda pasti sudah membaca buku-buku itu sejak kecil.

Ya, tentu saja, aku sangat suka dengan mitologi. Sebenarnya, tulisan pertamaku itu bukan apa-apa, itu hanya…, itu seharusnya sepanjang 15 halaman… dengan cerita “Bulu Domba Emas (The Golden Fleece)” dan “Hercules dan Labirin—dia adalah favoritku—dan lalu tentang kisah percintaan para dewa, dan cerita Troy. Ya, itulah kali pertama aku menulis. Aku ingat, itu ditulis dengan sangat pendek dan dengan tulisan cakar ayam karena aku sangat rabun. Itu saja yang bisa kuceritakan padamu.

Baca Juga:  Teka-teki Puisi - Jorge Luis Borges

Aku rasa, ibuku menyimpan salinan untuk beberapa lama, tapi ketika kami bepergian keliling dunia, salinan itu hilang. Memang semestinya begitu karena kami tidak mengharapkan apa pun dari tulisan itu, kecuali bahwa tulisan itu ditulis oleh seorang anak kecil. Lalu, aku membaca satu atau dua bab Don Quixote, dan itu menyelamatkanku dari percobaan serupa selama 15 tahun berikutnya. Karena aku sudah berusaha dan gagal dengan itu.

Anda banyak teringat dengan masa kecil Anda?

Kau tahu, aku sangat rabun, jadi ketika aku mengingat masa kecilku, yang kuingat hanya buku-buku dan gambar-gambar di buku. Aku rasa, aku bisa mengingat setiap gambar di Huckleberry Finn, Life on the Mississippi, Roughing It, dan sebagainya. Dan juga gambar di Seribu Satu Malam. Dan di buku-buku Dickens—gambar-gambar Cruikshank dan Fisk.

Tentu saja, aku juga ingat saat tinggal di desa, berkuda di peternakan sebelah Sungai Uruguay, di padang rumput Argentina. Aku ingat kedua orang tuaku dan rumah dengan beranda besar, dan lain-lain. Namun, yang bisa kuingat hanya sedikit dan sesaat pula. Sebab, hal-hal itulah yang bisa benar-benar kulihat. Gambar-gambar di ensiklopedia dan kamus, aku bisa mengingat dengan baik. Chambers Encyclopaedia atau edisi Amerika dari Encyclopaedia Britannica dengan ukiran-ukiran hewan dan piramida.

Jadi, Anda lebih bisa mengingat buku-buku masa kecil ketimbang orang-orang.

Ya, karena aku bisa melihat buku-buku.

Anda tidak banyak bertemu dengan orang-orang yang Anda kenal sejak kecil sekarang? Anda punya sahabat yang sudah lama bersama?

Ya, beberapa teman sekolah dari Buenos Aires dan, tentu saja, ibuku, ia 91 tahun sekarang, adik perempuanku yang tiga tahun, tiga atau empat tahun lebih muda diriku, dia seorang pelukis. Dan, sebagian dari teman-temanku, kebanyakan sudah meninggal.

Anda banyak membaca sebelum menulis atau Anda menulis sembari membaca secara bersamaan?

Aku selalu menganggap diriku sebagai pembaca yang baik ketimbang seorang penulis. Tapi, tentu saja, aku kehilangan penglihatanku pada 1954, dan sejak saat itu aku membaca dengan bantuan. Ya, ketika seseorang tidak bisa melihat, pikiran orang itu akan bekerja dengan cara berbeda. Sejujurnya, bisa dikatakan ada kemujuran menjadi seseorang yang tidak bisa melihat, sebab kau akan berpikir bahwa waktu berputar dengan cara berbeda. Ketika aku masih bisa melihat, bila aku, katakanlah, satu jam setengah tidak melakukan apa pun, aku akan gelisah. Sebab, aku harus membaca. Namun sekarang, aku bisa sendirian cukup lama, aku tidak khawatir bila harus melakukan perjalanan panjang dengan kereta api, aku tidak khawatir sendirian di hotel atau berjalan sendirian. Aku tidak akan bilang aku terus berpikir sepanjang waktu, sebab itu menyombongkan diri.

Aku rasa aku bisa hidup tanpa melakukan apa pun. Aku tidak harus berbicara dengan orang atau melakukan sesuatu. Jika seseorang pergi keluar, dan aku menemukan rumah kosong, aku sudah senang dengan hanya duduk dan membiarkan dua atau tiga jam berlalu dan keluar untuk sekadar jalan-jalan. Aku tidak akan merasa tidak senang atau sendirian. Itu terjadi bagi semua orang yang mengalami kebutaan.

Apa yang Anda pikirkan saat itu—sebuah masalah atau…

Aku bisa atau mungkin tidak berpikir apa pun, aku hanya duduk-duduk saja. Biarkan waktu mengalir atau mungkin melihat ke belakang, mengenang, atau berjalan melintasi jembatan dan mengingat-ingat ayat-ayat favorit. Namun, aku bisa saja tidak berbuat apa-apa, hanya menjalani hidup saja. Aku tidak paham kenapa orang-orang bilang mereka bosan karena tidak bisa melakukan apa pun. Karena kadang aku tidak tahu harus melakukan sesuatu dan aku tidak merasa bosan. Karena aku tidak melakukan sesuatu sepanjang waktu, aku masih bisa senang.

Anda tidak pernah merasa bosan?

Tidak juga. Tentu ketika aku harus tiduran selama sepuluh hari setelah operasi, aku menderita, tapi bukan sesuatu yang membosankan.

Anda adalah seorang penulis metafisik dan tidak semua penulis, misalnya Jane Austen atau Fitzgerald atau Sinclair Lewis, memiliki perasaan metafisik.

Ketika kau berbicara Fitzgerald, yang kau maksud Edward Fitzgerald kan? Atau Scott Fitzgerald?

Ya, yang terakhir.

Ah ya.

Saya menyebut nama-nama pengarang yang terlintas di pikiran saya, yang saya rasa tak mempunyai dimensi metafisik.

Dia (Scott Fitzgerald) selalu (menceritakan) hal-hal di permukaan, bukan? Lagi pula, apa salahnya?

Betul, kebanyakan orang hidup dan meninggal tanpa, kelihatannya, benar-benar memikirkan tentang problematika waktu atau ruang atau kekekalan.

Baca Juga:  Gabriel Garcia Marquez: “Selama Tidak Ada Revolusi, Aku Akan Terus-Menerus Hidup dalam Ketakutan”

Ya, karena mereka menerima begitu saja alam semesta ini. Mereka menerima begitu saja semua benda-benda. Mereka menerima begitu saja diri mereka. Itu benar. Mereka tidak pernah mempertanyakan apa pun, kan? Mereka tidak berpikir keanehan kenapa mereka harus hidup.

Aku ingat kali pertama aku merasakan (hal-hal metafisik) ketika ayahku bilang padaku, “Apa yang aneh,” katanya, “dari kehidupan yang—seperti kata mereka—harus aku jalani di balik mataku, di dalam kepalaku, aku bertanya-tanya apakah itu masuk akal?” Dan itu pertama kali aku merasakan dan tiba-tiba aku tertusuk dengan kata-kata itu karena aku tahu maksud yang ia katakan. Namun, kebanyakan orang susah memahaminya. Dan, mereka berkata, “Ya, di mana lagi kamu bisa hidup?”

Apa menurut Anda ada sesuatu di pikiran orang-orang yang menghalangi kemampuan mereka merasakan keajaiban, sesuatu yang mungkin menetap di kebanyakan manusia dan tidak mengizinkan mereka untuk memikirkan hal demikian? Sebab, bila mereka menghabiskan waktu untuk memikirkan keajaiban alam semesta, mereka tidak akan membangun peradaban hanya karena itu dan mungkin saja takkan ada yang selesai.

Tapi, aku rasa sekarang terlalu banyak hal yang sudah diselesaikan.

Betul, tentu saja.

Sarmiento pernah menulis, suatu kali ia bertemu seorang gaucho (koboi khas Amerika Latin) dan gaucho tersebut bilang padanya, “Desa ini terlalu indah sehingga aku tidak mau memikirkan penyebab keindahannya.” Ini sangat aneh, kan? Ini sangat tidak logis, kan? Karena dia seharusnya mulai memikirkan apa penyebab keindahan itu. tapi, aku duga, yang dia maksud adalah dia menenggak semua keindahan dan dia merasa sangat bahagia tentang itu semua dan dia merasa tak perlu memikirkan. Tapi, umumnya, aku pikir lelaki cenderung memikirkan hal-hal metafisik ketimbang perempuan. Aku pikir perempuan menerima begitu saja dunia, benda-benda, dan diri mereka juga, iya kan? Dan juga keadaan. Aku rasa paling utama keadaan.

Mereka menghadapi setiap kejadian sebagai entitas yang terpisah tanpa berpikir tentang semua keadaan yang menyebabkan itu semua.

Bukan, karena mereka berpikir bahwa ….

Mereka mengambil benda-benda dalam sekali waktu?

Betul, mereka mengambil semuanya dalam sekali waktu dan mereka takut terlihat sebagai sosok buruk atau mereka berpikir bahwa mereka adalah seorang aktris. Seluruh dunia melihat mereka, tentu saja, mengagumi mereka.

Mereka terlihat lebih punya kesadaran pada diri sendiri dibandingkan laki-laki secara keseluruhan.

Aku kenal perempuan yang sangat pintar, tapi lemah dalam filsafat. Salah satu perempuan terpintar yang kukenal. Dia salah satu muridku. Dia belajar (Sastra) Inggris Klasik denganku. Dia sangat haus dengan buku dan penyair. Lalu, aku bilang padanya agar membaca dialog Berkeley, tiga dialog, dan dia tidak bisa menyerap apa-apa. Lalu, aku beri buku William James, beberapa permasalahan filsafat. Dia memang perempuan yang sangat pintar, tapi dia tak bisa mendalami buku-buku itu.

Buku-buku itu bikin dia bosan?

Tidak. Dia tidak melihat kenapa orang harus mempelajari sesuatu yang terlihat sangat sederhana baginya. Jadi, aku bilang, “Betul, tapi apa kau yakin waktu itu sederhana? Apa kau yakin ruang itu sederhana? Kau yakin kesadaran itu sederhana?” “Iya,” jawabnya. “Baiklah, tapi apa kau bisa mendefinisikannya?” Dia jawab, “Tidak, aku rasa aku tidak bisa, tapi aku tidak penasaran dengan itu.” Lalu aku berpikir, secara umum perempuan akan berpikir demikian, kan? Dan dia adalah perempuan yang sangat pintar.

Tapi, tentu saja ada sesuatu di pikiran Anda yang tidak menghalangi rasa ingin tahu Anda.

Tidak.

Nyatanya, inti dari karya Anda: keheranan tentang alam semesta.

Itulah mengapa aku tidak bisa memahami penulis semisal Scott Fitzgerald atau Sinclair Lewis. Tapi, Sinclair Lewis lebih manusiawi, bukan? Di luar dari simpatiknya terhadap (tokoh) korbannya. Ketika kau membaca Babbitt, mungkin aku merasa di akhir, dia menjadi satu dengan Babbitt.

Bagi seorang penulis novel panjang, novel yang sangat panjang dengan satu tokoh, satu-satunya cara menjaga novel dan pahlawan hidup adalah dengan mengenalinya. Sebab, bila kau menulis novel panjang dengan tokoh yang tidak kau sukai atau tokoh yang sedikit kau ketahui, buku itu jadi berantakan. Jadi, aku rasa, itulah yang terjadi dengan Cervantes. Ketika dia memulai Don Quixote, dia hanya sedikit tahu tentang tokohnya (Don Quixote) dan sambil berjalan, dia pun mengenali atau memahami dirinya dengan Don Quixote. Dia harus merasakannya, maksudku, jika ia berjarak dengan tokoh utamanya dan dia selalu mengolok-ngolok tokoh itu dan melihat tokoh itu sebagai sosok yang menyenangkan, buku itu jadi buruk. Jadi, akhirnya, dia (Cervantes) menjadi Don Quixote. Dia bersimpati dengannya saat berhadapan dengan makhluk asing, dengan pelayan penginapan dan bangsawan, serta tukang cukur, serta pendeta, dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Orhan Pamuk: Turki Seharusnya Tidak Perlu Khawatir Punya Dua Jiwa

Jadi, Anda merasa bahwa ucapan ayah Anda merupakan awal mula pikiran metafisik Anda?

Ya, Betul.

Berapa usia Anda saat itu?

Aku tidak tahu. Aku rasa saat itu aku sangat kecil sekali. Sebab, aku ingat dia pernah bilang padaku. “Sekarang lihat ini; ini akan menjadi sesuatu yang menarik untukmu.” Dia sangat suka dengan catur. Dia pemain catur yang bagus. Lalu, dia membawaku ke papan catur dan dia menjelaskan kontradiksi dari Zeno, Achilles, dan Tortoise. “Ingat-ingat, panah misalnya, pergerakannya sungguh tidak mungkin karena selalu ada titik yang berada di tengah-tengah, dan lain-lain.” Dan aku ingat dia berbicara segala tentang itu kepadaku dan aku sangat penasaran. Lalu, dia menjelaskannya dengan bantuan papan catur.

Dan, kata Anda, ayah Anda punya keinginan menjadi seorang penulis.

Betul, dia adalah seorang profesor psikologi dan seorang pengacara.

Dan seorang pengacara juga.

Bukan, dia seorang pengacara, tapi juga seorang profesor psikologi.

Dua disiplin yang berbeda.

Betul, tapi dia sangat tertarik dengan psikologi dan dia tidak menggunakan (psikologi) untuk bidang hukum. Suatu kali, dia bilang padaku bahwa dia adalah pengacara yang cukup bagus, tapi dia berpikir bahwa semuanya yang ada di hukum ternyata adalah sekantong trik. Dia pun mulai belajar Hukum Sipil selayaknya belajar bermain kartu atau poker. Maksudku, mereka punya konvensi-konvensi dan dia tahu cara memakainya, tapi dia tidak percaya dengan itu semua.

Aku ingat ayahku pernah bilang sesuatu padaku tentang kenangan. Kata-kata yang menurutku sangat menyedihkan. Dia bilang, “Kupikir aku bisa memanggil masa kecilku ketika kami pertama kali tiba di Buenos Aires, tapi aku tahu aku tak bisa.”

“Kenapa?” tanyaku.

Dia jawab, “Karena, menurutku, kenangan”—aku tidak tahu apakah ini teori miliknya, aku sangat terpesona dengan itu sehingga aku tidak menanyakan apakah dia yang menemukan atau dia sekadar mengembangkan—tapi dia bilang, “Aku merasa bila aku mencoba mengingat, misalnya, jika aku melihat kembali pagi ini lalu aku mendapatkan gambaran-gambaran pagi tadi, sebenarnya yang aku ingat bukanlah gambaran pertama pagi itu, tetapi gambar pertama di ingatan. Jadi saat malam, setiap kali aku mengingat sesuatu, aku tidak benar-benar mengingat, aku hanya mengingat hal terakhir yang kuingat. Aku mengingat kenangan terakhir tentang hal itu. Setiap saat aku mengingat sesuatu, aku sebenarnya tidak mengingat-ingat. Aku mengambil ingatan terakhir yang kuingat, aku mengingat kenangan terakhir tentang itu. Itulah yang sebenarnya,” kata ayahku.

“Aku tidak punya kenangan tentang apa pun, aku tak punya gambaran tentang apa pun, tentang masa kecilku, tentang masa mudaku,” imbuhnya.

Lalu, dia menggambarkan hal tersebut dengan tumpukan koin. Dia menumpuk satu koin di atas koin lainnya dan berkata, “Nah, koin pertama ini, koin yang berada di bawah, ini akan menjadi gambaran pertamaku, misalnya tentang rumah masa kecilku. Lalu, koin kedua ini akan menjadi kenangan yang kumiliki tentang rumah itu ketika aku berada di Buenos Aires. Kemudian, yang ketiga, ingatan lain dan seterusnya. Dan dalam tiap kenangan selalu ada sedikit distorsi. Aku tidak menduga bahwa ingatanku tentang hari ini akan terkait dengan ingatan pertamaku,” begitulah katanya. Lalu, ia melanjutkan, “Aku mencoba untuk tidak melihat masa lalu karena bila aku mencoba, aku akan memikirkan kenangan-kenangan dan bukan gambaran yang sebenarnya.”

Itu membuatku sedih dan berpikir bahwa barangkali kita memang tidak punya kenangan masa muda yang sesungguhnya.

Kesimpulannya, masa lalu sebenarnya diciptakan, fiktif?

Masa lalu bisa terdistorsi oleh pengulangan berkali-kali. Karena di setiap repetisi terdapat distorsi, akhirnya kau akan berada jauh sekali dari itu semua. Sebuah pemikiran yang mengharukan. Aku penasaran apakah itu benar, aku penasaran apa yang bakal diucapkan psikolog lain soal itu.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here