Arthur Fleck aka Joker.
Film Joker dianggap memperkuat stigma negatif hubungan orang dengan penyakit mental dan tindakan kriminal.
dibaca normal 3 menit

HAMPIR dua minggu Joker duduk di posisi teratas Box Office. Film dengan bujet rendah tersebut—hanya US$55 juta—kini sudah mengantongi penghasilan kotor sebesar US$306,9 juta. Luar biasa, tentu saja.

Di Indonesia, film ini mendapatkan sambutan luar biasa. Sebagian besar media daring di Indonesia memberi ulasan positif. Warganet pun “merayakannya” dengan membuat beragam meme yang diambil dari film ini. Bahkan, instansi pemerintah seperti BPJS Kesehatan juga menggunakan karakter Joker sebagai bahan komunikasi publik.

Unggahan BPJS Kesehatan terkait Joker yang diprotes warganet.

Dalam unggahannya, BPJS Kesehatan mengaitkan kesehatan jiwa dengan karakter Joker. Sontak unggahan tersebut menuai protes. BPJS Kesehatan pun menghapus unggahannya dan meminta maaf.

Contoh kecil salah tafsir BPJS Kesehatan tersebut merupakan efek buruk yang ditimbulkan film Joker. Semua orang “merayakan”, tetapi sejatinya ada virus kecil yang tak kasatmata menyelinap dalam film Joker.

Bahaya Joker: Menguatkan Stereotip Penyakit Mental dan Tindak Kriminal

Joker aka Arthur Fleck sebelum masuk ke studio The Murray Franklin Show.

Joker garapan Todd Phillips ini mengangkat peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi kenapa tokoh utama Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) menjadi penjahat yang paling menakutkan di jagat Batman, komik DC. Di dalam film, Arthur digambarkan sebagai seseorang dengan penyakit mental serius. Mulai dari depresi akut, tak bisa menahan tertawa, psikosis, dan sindrom pascatrauma. Arthur harus melakukan terapi medikasi dengan tujuh obat berbeda.

Dalam film, Arthur juga diceritakan pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Selepas perawatan, selain terapi obat, Arthur juga diwajibkan untuk bertatap muka dengan pekerja sosial untuk menceritakan apa yang sudah terjadi selama sepekan. Kondisi mental Arthur ini juga diperparah dengan perisakan yang ia terima, kemiskinan, dan kurangnya support system dari lingkungan masyarakat. Sampai di sini, sang sineas mengajak kita berempati dengan sosok Arthur dan berhasil.

Baca Juga:  Cara Mudah Membeli Buku Digital di PlayStore atau PlayBook

“Racun” dalam film baru muncul tatkala kekerasan yang dilakukan oleh Arthur secara eksplisit dikaitkan dengan penyakit mental yang ia alami. Contohnya ketika Arthur membunuh tiga pemuda karyawan kantoran di kereta. Keputusan Arthur membunuh karena tiga pemuda tersebut “mengolok-olok” penyakit mentalnya. Ia menghabisi tiga orang tersebut dengan pistol pemberian temannya. Pistol tersebut diberikan agar Arthur bisa melawan balik orang yang merisaknya.

Motivasi tindakan pembunuhan juga diungkapkan secara eksplisit sebelum Arthur—yang saat itu diperkenalkan sebagai Joker dalam The Murray Franklin Show—menembak Murray saat acara berlangsung. Sebelum menembak Murray, Arthur menceritakan alasan kenapa ia melakukan tindakan kekerasan.

“What do you get when you cross a mentally ill loner with a society that abandons him and treats him like trash? I’ll tell you what you get! You get what you fuckin’ deserve!” ujar Arthur aka Joker sebelum menembak tokoh yang ia idolai sejak kecil.

Perkataan Arthur tersebut menjadi semacam premis utama film Joker. Dan, tentu saja ini berbahaya. Pasalnya, secara kasatmata, Joker menguatkan mitos yang selama ini beredar kuat, yakni penyakit mental berkaitan dengan tindakan kriminal. Alih-alih meruntuhkan mitos, Joker justru memperkukuh mitos yang selama ini beredar.

Data Menyebut Orang dengan Penyakit Mental Justru Cenderung Melukai Diri Sendiri

Arthur Fleck.

Hubungan penyakit mental dan tindakan kriminal yang dikukuhkan dalam mitos-mitos kebudayaan populer justru berkebalikan dari kenyataan. Dilansir dari mentalhealth.gov, hanya 3-5% orang dengan penyakit mental serius yang melakukan tindakan kriminal. Angka tersebut sangat sedikit sekali dibandingkan orang normal melakukan tindakan kriminal.

Nah, faktanya, orang dengan penyakit mental justru menjadi korban kekerasan. Mentalhealth.gov juga menyebut, kekerasan yang diterima bahkan 10 kali lebih banyak dibandingkan penduduk normal.

Baca Juga:  Joker atawa Kembalinya DC ke Jagat Kelam

“Penelitian jelas menunjukkan bahwa individu dengan penyakit mental justru tidak melakukan tindak kekerasan dibandingkan penduduk lainnya,” kata Dr. Ziv Cohen, asisten profesor bidang kekerasan, perilaku predator, psychopathy, dan kelainan kepribadian lainnya di Universitas Cornel, seperti mengutip dari insider.com. “Individu dengan penyakit mental justru kebanyakan menjadi korban kriminalitas dibandingkan mereka melakukan tindak kriminalitas,” imbuhnya lagi.

Dilansir dari Time, orang dengan penyakit mental, selain menjadi korban kekerasan, juga cenderung melukai dirinya sendiri. Orang dengan bipolar, misalnya, saat dalam fase depresi akan punya tendensi untuk melukai diri sendiri bahkan bisa bunuh diri. Data dari US Centers for Disease, 2/3 kematian akibat pistol di AS justru akibat bunuh diri.

Faktor depresi juga menjadi faktor penyebab bunuh diri di Indonesia meningkat. Dalam satu tahun, tercatat 10 ribu kasus bunuh diri di Indonesia. “Setiap 40 menit, satu orang bunuh diri,” ujar Teddy Hidayat, anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, seperti dilansir dari Gatra.

Kondisi tersebut diperparah dengan stigma-stigma negatif dari masyarakat terhadap orang dengan penyakit mental. Alih-alih memberi dukungan, masyarakat justru melakukan diskriminasi terhadap orang dengan penyakit mental: menganggap terkena gangguan roh jahat, kutukan, guna-guna, bahkan dianggap kurang iman.

Keberadaan film Joker di satu sisi memberikan kesadaran tentang penyakit mental. Beberapa media daring Indonesia pun menggunakan contoh apa yang dialami Arthur untuk memberi informasi tentang penyakit mental.

Namun sayangnya, Joker juga mengukuhkan mitos negatif bahwa orang dengan penyakit mental kelak bisa melakukan tindakan kriminal. Mitos ini justru lebih menakutkan dan berbahaya.

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Bila Anda mengalami depresi yang akut, sudah mengganggu kehidupan sosial, dan sudah bertendensi untuk bunuh diri atau Anda melihat keluarga, teman, orang terdekat dengan kondisi demikian, Anda disarankan menghubungi psikolog maupun klinik kesehatan jiwa.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here