Joker
Arthur Fleck saat memutuskan menjadi Joker.
dibaca normal 5 menit

Joker. Film itu kini menjadi tren perbincangan di mana-mana. Di media sosial, di kantor, kampus, media massa, dan lain sebagainya. Apa yang menjadikan film ini begitu spesial—dan kontroversial?

Pertanyaan itu membetot kepalaku. Sebelum memutuskan untuk menonton—butuh dua hari untuk memutuskan. Aku terlebih dahulu menonton kembali The Dark Knight. Aku mencoba mengamati skena demi skena Joker di film itu lebih detail. Bagaimana ia muncul, bagaimana ia tertawa, berjalan, beraksi, berpikir, berbicara, dan tentu saja bagaimana ia mengacaukan seluruh tatanan kota di Gotham City—baik struktur yang tampak dan tak tampak. Setelah itu, barulah aku pun memutuskan menonton Joker di pusat perbelanjaan yang punya masa lalu kelam—ini cuma dramatisasiku saja sih.

Joker Heath Ledger
Joker yang diperankan Heath Ledger di The Dark Knight.

Mendiang Heath Ledger memang kadung luar biasa dalam memerankan Joker di film The Dark Knight. Dan, pantas pula bayangan Joker di film yang dirilis 11 tahun silam terus melekat di hati penonton, baik penggemar serial komik Batman maupun yang bukan. Misalkan saja teks-teks percakapan yang sampai saat ini masih begitu melekat, seperti “Why so serious?”, You complete me”, “Madness, as you know, is like gravity, all it takes is a little push”, dan lain-lain. Bahkan, Jared Leto—tanpa mengecilkan usahanya—yang memerankan Joker di film Suicide Squad (2016) masih dianggap belum bisa mengalahkan soul Joker seperti yang dikeluarkan mendiang Ledger.

Aku bukan penggemar komik Amerika—baik DC maupun Marvel. Saat menonton trilogi Batman besutan Cristopher Nolan, aku berpikir seharusnya begitulah film komik superhero harus ditampilkan. Nolan berhasil dengan apik menerjemahkan kisah superhero dengan segala kelemahan dan kelebihan sebagai manusia dan masalah-masalah sosial yang menghinggapi komunitasnya.

Citra ini—kalau boleh dibilang—tidak muncul di film-film superhero Marvel lewat MCU yang akhirnya membentuk semesta film hingga 23 judul film. Marvel lebih menitikberatkan pada kemampuan super yang tidak manusiawi dan terlepas dari masalah komunitasnya, teknologi supercanggih, monster luar angkasa, plus dibalut dengan CGI yang luar biasa pula serta aktor dan aktris yang tak kalah mentereng. Film superhero Marvel memang ditujukan untuk “memanjakan” para penonton—aku pun ikut termanjakan. Dengan begitu, penonton akan dibuat ketagihan dan meminta “lagi dan lagi”. Dengan begitu pula, pundi-pundi dolar terus mengalir ke kantong MCU dan juga Disney sebagai perusahaan induk.

DC dan Warner Bros.—selepas semesta Batman bikinan Nolan—sepertinya ingin mengikuti langkah-langkah yang diambil saingannya tersebut. Mereka membuat semesta film yang saling berkaitan dan lebih memanjakan penonton. Mulai dari Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), Suicide Squad (2016), Wonder Woman (2017), Justice League (2017), Aquaman (2018), dan Shazam! (2019). Beberapa berhasil, beberapa gagal total. Oleh karena itu, Warner Bros. dan DC harus memutar otak untuk bisa mengalahkan Marvel.

Baca Juga:  Penulis vs Penerbit: Siapa yang Harus Mengalah?

Muncullah ide film solo tokoh Joker yang tidak terkait sama sekali dengan semesta film DC sebelumnya. Ide ini muncul selepas Warner Bros. dan DC mereset strategi mereka usai gagal total dengan Justice League. Dikutip dari Hollywood Reporter, awal 2018, DC mencopot Jon Berg sebagai bos film DC di Warner Bros. dan digantikan Walter Hamada. Hasil reshuffle ini memang terasa dari keberhasilan Aquaman dan Shazam! di level penghasilan.

Kembali ke Joker. Warner Bros. dan DC menggandeng Todd Phillips sebagai sutradara dan Scot Silver sebagai penulis naskah. Martin Scorsese—sutradara kenamaan dengan segudang prestasi—juga diajak bergabung sebagai co-producer—meski akhirnya cabut karena sedang menggarap film The Irishman. Joaquin Phoenix terpilih menjadi pemeran Joker. Sebelumnya, Warner Bros. mendorong agar Joker diperankan oleh Leonardo DiCaprio dengan menggunakan koneksi dari Scorsese. Robert De Niro juga turut bergabung.

Kembali ‘Gelap’ dan ‘Kelam’

(Mulai dari bagian ini berisi spoiler)

Phillips dan Silver mengembangkan cerita Joker dari komik Batman: Killing Joke (1988). Phillips sendiri mengatakan, ia ingin mengembangkan cerita superhero yang membumi. Dan dari komik itulah, Phillips dan Silver menemukan ide bagaimana Joker—musuh nomor satu Batman—bisa menjadi seberingas dan sejahat itu, seperti yang kita saksikan dalam The Dark Knight.

Phillips dan Silver mengeksplorasi latar belakang kenapa tokoh Joker bisa menjadi sosok yang menakutkan. Ini yang menjadi titik sentral film Joker. Di film itu, kita juga jadi tahu nama sebenarnya Jokerwalau ini masih diperdebatkan karena ini hanya interpretasi Phillips dan Silveryakni Arthur Fleck (Joaquin Phoenix).

Selain itu, Phillips juga terinspirasi dari film Scorsese, seperti Taxi Driver, Raging Bull, dan The King of Comedy. Masuk akal, memang awalnya Scorsese tergabung dalam proses produksi film Joker.

Arthur Fleck saat menjadi badut.

Arthur merupakan satu dari ribuan manusia miskin yang hidup di Gotham City pada 1981. Gotham City saat itu merupakan kota metropolitan yang sedang dirundung masalah. Disparitas antara yang kaya dan miskin sangat lebar, banyak pengangguran, kriminalitas meningkat, gelandangan, dan pejabat korup. Tambah nyesek, pemerintah kota Gotham City memotong anggaran untuk kepentingan sosial, seperti anggaran sosial bagi kesehatan mental.

Arthur hidup bersama ibunya, Penny (Frances Conroy), di apartemen reot nan kumuh. Arthur sendiri punya masalah kejiwaan dan sedang dalam terapi petugas sosial serta terapi medikasi dengan tujuh pil penenang. Ia tak bisa mengontrol tertawa sampai-sampai ia dibekali kartu yang bertuliskan “Forgive my laughter”.

Baca Juga:  Buku Membantuku Mengatasi Depresi

Kondisi ini juga diperunyam lantaran ia seorang penyendiri dan mempunyai segudang pikiran negatif. Ia pun menyebut kehidupannya sebagai “tragedi” dan tak pernah merasakan kebahagiaan barang satu menit berkat kelemahan secara fisik—digambarkan dengan fisik kurus kerontang—dan mental.

Aksi komedi tunggal Arthur Fleck dalam film Joker.

Namun, Arthur saat itu punya mimpi. Ia ingin menjadi seorang komedian tunggal ternama dan suatu saat ia akan “dilihat” oleh penduduk Gotham. Mimpi ini berkat tayangan televisi, Murray Franklin Show, yang kerap ia tonton bersama ibunya. Arthur sangat mengidolakan Murray Franklin (Robert De Niro). Arthur pun berimajinasi bahwa sosok Murray merupakan sosok “bapak” yang selama ini hilang dari dunianya.

Sayang, impian ini—yang sebelumnya menjadi tenaga untuk keluar dari pikiran negatif—kandas lantaran beragam kejadian pelik. Ia dirisak, dijebak teman kantor dengan kepemilikan pistol, dipecat dari pekerjaan karena tak sengaja menjatuhkan pistol saat menghibur anak-anak sakit di rumah sakit, mengetahui kenyataan pahit masa lalu ibunya dan dirinya, “diusir” oleh perempuan yang ia sukai, dan penampilan komedi tunggalnya diejek oleh tokoh idolanya, yakni Murray.

Beragam peristiwa kelam dan pelik ini serta ketiadaan support system akhirnya menguatkan pikiran negatif dalam diri Arthur. Dari situlah, ia memutuskan menjadi Joker—sosok psikopat yang tak merasakan apa-apa saat membunuh orang. Musuh abadi Batman itu lahir di tengah-tengah situasi kaotis Gotham City.

Selama 2 jam lebih sedikit, sebenarnya kita disuguhi monolog Joaquin Phoenix dalam memerankan Joker. Phoenix dengan fasih menerjemahkan bagaimana rentannya sosok Arthur, baik secara fisik dan mental, yang digarap oleh Phillips. Sisi lemah akibat traumatis dalam Arthur diperankan hampir sempurna oleh Phoenix lewat gerak, mimik, bicara, dan interaksi dengan tokoh lainnya.

Praktis, selama dua jam lebih itu, tak ada lawan bermain penuh bagi Phoenix. Lawan bermain Phoenix bukan De Niro maupun Conroy. Sebab, keberadaan aktor dan aktris pendukung tersebut tidak penuh. Keduanya punya sumbangsing, tetapi tidak seperti Christian Bale dan mendiang Ledger dalam The Dark Knight. Dalam Joker, kendali film sepenuhnya berada di tangan Phoenix karena lawan bermain Phoenix sebenarnya adalah Phoenix sendiri.

Dan akhirnya pula, DC dan Warner Bros. mengembalikan “garis” film komik superheronya ke jalur yang—kalau boleh dibilang—semestinya: kembali ke gelap dan kelam, seperti suasana Gotham City yang selalu mendung. Joker—meski kerap disebut sebagai film solo dan tak terkait dengan semesta film DC lainnya—sepertinya bisa kita anggap sebagai prekuel tak langsung dari trilogi Batman garapan Nolan.

Sisi Kontroversial

Film ini juga tak lepas dari sisi kontroversi. Keluarga penyintas aksi penembakan di bioskop Aurora, Colorado, saat penayangan film The Dark Knight Rises sempat menolak Joker. Publik Amrik, pada umumnya, khawatir film Joker akan memantik aksi penembakan seperti yang terjadi pada 7 tahun silam. Bahkan, kepolisian lokal di beberapa daerah di Amrik sempat mengeluarkan peringatan dini ancaman penembakan. Otoritas keamanan juga melarang penonton film di bioskop mengecap wajah dan memakai topeng badut ala Joker.

Baca Juga:  Buku-Buku Favorit Mantan Presiden Barack Obama Sepanjang 2018

Kontroversi berikutnya, film Joker memakai lagu “Rock and Roll 2” karya Glitter atau Paul Gadd. Gadd sendiri punya catatan buruk sebagai pedofil. Ia terbukti melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak. Akibat kasus tersebut, lagu-lagu Glitter banyak dilarang diputar. Pemakaian “Rock and Roll 2” dianggap turut memperkaya Glitter yang merupakan pedofil. Beberapa orang pun berkampanye memboikot film tersebut.

Film dengan rating R (restricted) ini juga dianggap terlalu mengagungkan narasi Joker sebagai sosok penjahat psikopat dan “memahlawankan” Joker. Ini terlihat dari bumbu kekerasan realistis yang ditampilkan dalam film. Richard Lawson, kritikus film dari Vanity Fair, bahkan menuding bahwa Joker merupakan propaganda yang tak bertanggung jawab untuk orang-orang yang patologis.

Menanggapi kritikan pedas akan kontroversi ini, Warner Bros. dan sang sutradara menepis itu tudingan glorifikasi Joker. Warner Bros. menganggap film terbarunya tersebut tidak memahlawankan Joker. Phillips, sang sutradara, juga menampik tudingan propaganda dalam filmnya. Ia bilang, filmnya tersebut justru mengangkat trauma masa kecil, kurangnya rasa cinta, dan kurangnya penerimaan sosial. “Saya pikir, orang-orang bisa menangkap pesan tersebut,” ujar Phillips saat promo film, seperti dikutip dari BBC Indonesia.

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Bila Anda mengalami depresi yang akut, sudah mengganggu kehidupan sosial, dan sudah bertendensi untuk bunuh diri atau Anda melihat keluarga, teman, orang terdekat dengan kondisi demikian, Anda disarankan menghubungi psikolog maupun klinik kesehatan jiwa.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here