Keluarga Gerilya, pramoedya
Keluarga Gerilya edisi 1962 | Books and Groove
dibaca normal 4 menit

KABAR baik datang dari jagat perfilman Indonesia. Setelah lama diisukan bakal difilmkan, Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer akhirnya digarap untuk layar lebar oleh Falcon Pictures. Hingga saat ini, penggarapan film tersebut sedang diproses.

Alasan Falcon melayarlebarkan Bumi Manusia tentu masuk akal. Pertama, Bumi Manusia sudah populer di kalangan pembaca—terlepas pilihan aktor dan baju tidak memuaskan sebagian pembaca Pramoedya—sehingga Falcon tidak akan merugi, malahan bakal untung. Kedua, cerita dalam Bumi Manusia cenderung “aman” untuk penonton Indonesia.

Ada kisah percintaan remaja, konflik hak asuh dan waris, juga ketimpangan di era kolonial. Belum lagi keberanian dan kekuatan tokoh Nyai Ontosoroh dan ditambah kecantikan Annelies Mellema yang bakal dinanti oleh penonton dan pecinta Pramoedya. Kepentingan produser, pembaca Pram, dan penonton Indonesia pun terjembatani.

Nah, masih ada satu novel dari Pramoedya yang sangat layak untuk dilayarlebarkan, selain tetralogi Pulau Buru itu. Novel tersebut adalah Keluarga Gerilya.

Keluarga Gerilya pertama kali terbit pada 1950 dan langsung mendapatkan sambutan positif dari majalah sastra kenamaan saat itu. Misalnya saja majalah Mimbar Indonesia edisi 4/11/1950 menulis bahwa Keluarga Gerilya “ditjeritakan dengan mengharukan hati, tapi menguatkan keyakinan dan tekad.” Majalah Siasat nomor 8/10/1950 menyebut bahwa novel Pramoedya ini patut dibaca, sekalipun punya kelemahan-kelemahan.

Novel ini ditulis selama Pramoedya menjalani masa tahanan di Penjara Duri pada 1949. Saat itu, ia yang tergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia ditangkap oleh militer Belanda pada 1947 lantaran berusaha menyusup ke Jakarta. Di Penjara Duri itulah ia mulai menulis Keluarga Gerilya hanya dalam 4 minggu. Perlu diketahui, saat memulai menulis, Pramoedya baru berusia 25 tahun.

Pramoedya dalam catatan pengantar Keluarga Gerilya edisi 1988 menulis, cerita dalam novel itu terinspirasi dari kisah wakil komandannya di Cikampek, yakni Wahab. Saat Pramoedya menyusup ke Jakarta bersama regunya, Wahab menjadi salah satu yang berhasil lolos dari sergapan militer Belanda. Sementara, Pram dan kawan-kawan lainnya tertangkap dan dijebloskan di penjara.

Nahas, Wahab akhirnya tertangkap dan dia dijatuhi hukuman berat, yakni hukuman mati. Pram sendiri mendengar kabar penangkapan dan hukuman mati yang menimpa Wahab di bulan-bulan akhir 1949—tepat sebelum Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia—di Penjara Bukit Duri.

Mendengar berita itu, Pram langsung mengurung diri usai menjalankan kewajiban kerja paksa sebagai tahanan. Selama 4 minggu, Pram menulis Keluarga Gerilya yang ia dedikasikan sebagai “monumen” untuk sang wakil komandan.

Baca Juga:  Nobel Sastra; Diperdebatkan Sekaligus Dinanti

Tokoh-Tokoh Penuh Isu Sindrom Pascatrauma

Kembali ke Keluarga Gerilya. Pramoedya dengan apik menggambarkan cerita di seputar perang kemerdekaan. Bukan sebagai cerita yang menampilkan adegan peperangan heroik, melainkan efek dari perang kemerdekaan di masa itu, yakni sindrom pascatrauma atau kondisi mental yang memicu depresi lantaran trauma pengalaman masa lalu.

Gambaran tentang situasi riil perang kemerdekaan kerap diglorifikasi terlalu berlebihan. Misalnya saja, pejuang Indonesia yang gigih dalam melawan Belanda, Belanda yang selalu jahat, dan sebagainya. Kita bisa melihatnya dari premis film-film seputar perang kemerdekaan, seperti trilogi Merah Putih (2009-2011).

Namun, narasi kecil dari suara-suara penduduk yang terlibat langsung atau yang turut merasakan perang jarang sekali mengemuka. Di sinilah kekuatan Pramoedya dalam menangkap narasi kecil dari situasi perang kemerdekaan yang “super-chaos”.

Pramoedya juga terlibat dan turut merasakan situasi perang itu. Ia melihat dan merasakan sendiri bagaimana perang mencabik-cabik perasaan kemanusiaan dan menempatkannya di posisi antara kemerdekaan Tanah Air dan kemanusiaan. Untuk meluapkan keresahan itu, ia pun menulis novel Keluarga Gerilya selepas mendengar wakil komandannya akan dieksekusi oleh militer Belanda.

Ia dengan jeli mengangkat unsur terkecil dalam masyarakat yang hancur lantaran perang, yakni keluarga. Di Keluarga Gerilya, Pramoedya menceritakan satu keluarga yang terimbas langsung perang kemerdekaan, yakni keluarga Saaman—tokoh yang terinspirasi dari Wahab.

Saaman bukanlah kepala keluarga. Ia adalah anak tertua dari Amilah—bekas gadis pujaan tangsi. Saaman memiliki enam adik lainnya: Tjanimin, Kartiman, Salamah, Fatimah, Salami, dan Hasan.

Suami Amilah, Paidjan, memilih bergabung dengan tentara Belanda, KNIL. Sebab, memang dari dulu Paidjan merupakan serdadu KNIL. Sementara itu, tiga anak lelaki dalam keluarga tersebut memilih membela Republik. Dari sini saja, sudah terlihat konflik yang bakal timbul dalam satu keluarga tersebut.

Masing-masing tokoh dalam keluarga Saaman punya isu. Ambil contoh Amilah, sang Ibu. Amilah sangat menyayangi Saaman. Rasa sayang yang berlebihan ini bukan tanpa sebab. Saaman adalah buah cinta sejati Amilah sebelum bertemu Paidjan, suami resminya.

Saat masih muda, Amilah merupakan gadis pujaan tangsi. Di usia muda, ia berkenalan dengan Benni, tentara KNIL. Benni inilah yang menjadi cinta pertama (dan mungkin sejati) bagi Amilah. Benni pulalah ayah biologis sebenarnya Saaman. Maka tak heran, Amilah begitu menyayangi Saaman dibandingkan anak-anaknya yang lain.

Baca Juga:  E.F. Wiggers dan Perjudian Membangun Bintang Barat

Benni meninggal saat bertugas di Perang Aceh. Selepas Benni tiada, datanglah sosok Paidjan—prajurit KNIL juga—yang menjadi “penyelamat” Amilah.

Kehidupan dengan Paidjan tak mulus-mulus amat. Amilah terus menjalani kehidupan sebagai “gadis tangsi”. Ia berganti-ganti pasangan. Tak heran, anak-anaknya mempunyai perawakan berbeda. Saaman berperawakan Manado, Salamah agak Indo, dan Kartiman Ambon.

Pengalaman masa lalu Amilah ini memengaruhi sikap Amilah terhadap anak-anaknya. Sikap cinta berlebihan terhadap Saaman lantaran ia putra dari Benni. Rasa sayang berlebihan ini juga menyebabkan Amilah sangat terpukul hingga depresi ketika Saaman diciduk oleh Militer Belanda.

Sementara itu, tanpa alasan yang jelas, Amilah sangat membenci putri pertamanya, Salamah. Kebencian ini sebenarnya juga bukan tanpa alasan. Di alam bawah sadar, Amilah membenci Salamah lantaran Salamah buah “perkosaan” Letnan Gedergeder—militer Belanda. Selain itu, kecantikan Salamah mengingatkan dirinya waktu muda. Ada rasa keirian dalam diri Amilah.

Kepada anak-anak lainnya, Amilah tidak terlalu menghiraukan. Ia cenderung membiarkan dan tak memedulikan nasib mereka. Bisa dibayangkan bagaimana hidup anak-anak tersebut dengan seorang ibu seperti itu dan di masa perang pula?

Itu baru sisi psikologis Amilah, sang ibu. Masih ada isu dalam tokoh-tokoh lain. Misalnya saja sikap Saaman, Tjanimin, dan Kartiman yang harus berhadapan dengan Paidjan yang membela Belanda. Ketiga anak lelaki itu harus mengambil sikap terhadap ayahnya sesegera mungkin.

Sikap yang diambil ketiga anak laki-laki Amilah juga turut memengaruhi psikologis mereka. Terutama Kartiman. Ia terus dihantui perasaan bersalah terhadap ayahnya.

Tjanimin pun sama pula. Ia terpengaruh jiwanya akibat perang. Perang telah merenggut wajahnya dan itu sangat memengaruhi rasa percaya dirinya. Lantaran cacat di wajah, ia gagal naik pangkat. Lantaran cacat itu pula, ia gagal berumah tangga.

Bagaimana dengan Saaman? Tak berbeda jauh. Saaman juga punya isu. Setelah ayahnya tiada, ia menjadi tulang punggung keluarga sekaligus pasukan “bawah tanah” Republik.

Ia sebetulnya pernah menjadi pegawai menengah di pemerintahan. Namun, saat perang kemerdekaan berkecamuk, ia memilih keluar dan menjadi tukang becak. Keputusan ini membuat ia gagal menikah dengan perempuan yang ia cintai. Keputusannya bergabung sebagai pasukan “bawah tanah” juga turut membahayakan nasib keluarganya. Di satu sisi, keluarganya akan terbengkalai bila ia tertangkap, di sisi lain, kemerdekaan Republik harus segera direbut.

Baca Juga:  Buku Membantuku Mengatasi Depresi

Salamah pun turut mengalami sindrom pascatrauma. Bahkan, Salamah mengalami dua kali kejadian yang membuatnya trauma. Pertama, hidup dalam kebencian tak beralasan dari ibunya dan perkosaan militer Belanda. Kedua hal tersebut membuatnya depresi.

Masih ada beberapa lagi yang menarik di Keluarga Gerilya. Di antaranya, percakapan Saaman dengan tahanan lain di penjara, percakapan Saaman dengan direktur penjara, deskripsi situasi serbakalut dari peperangan, dan juga sosok Mas Darsono—tunangan Salamah—yang menjadi caregiver bagi keluarga Saaman.

Potensi Menjadi Film Besar

Keluarga Gerilya sebenarnya punya potensi besar untuk menjadi film besar pula. Keluarga Gerilya akan menjadi film perang yang tak melulu menjual ledakan dan dentuman senjata. Bahkan lebih dari itu, Keluarga Gerilya bakal menyisir sisi paling dalam soal perang, yakni kemanusiaan.

Unsur efek trauma psikologis akibat perang akan menjadi unsur terkuat bila Keluarga Gerilya difilmkan. Apalagi, sineas Indonesia jarang mengambil sudut ini dalam mengangkat film kemerdekaan.

Terakhir kali kita punya film perang adalah trilogi Merah Putih: Merah Putih, Darah Garuda, dan Hati Merdeka (2009-2011). Kesemuanya menjual heroisme layaknya film perang lainnya.

Kehadiran Keluarga Gerilya sebagai film tentu akan lebih memberi warna di jagat perfilman yang lagi gandrung film biopik dan drama komedi. Aku membayangkan, Keluarga Gerilya akan seperti Grave of the Fireflies yang sangat pilu, melodramatis, dan menyentuh. Bakal lebih berasa sebagai film drama dengan latar perang pada 1949 ketimbang film perang yang mengandalkan aksi.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here