Mark Manson, Sikap Bodo Amat, Sebuah Seni untuk Besikap Bodo Amat
dibaca normal 4 menit

BAGI yang belum terbiasa melihat buku pengembangan diri (self-help) dengan judul sekasar itu mungkin akan kaget. Pasalnya, buku-buku self-help yang kerap kita lihat di rak toko buku biasanya menawarkan hal-hal “positif”―misalnya saja, cara untuk menjadi bahagia, kaya raya, sukses, jadi miliuner, dan seterusnya. Lha, ini kok pembaca malah diminta untuk bodo amat? Mana self-help-nya? Nanti kita akan bahas ini. Namun, sebelum itu, saya ingin membahas sedikit soal tren buku self-help dengan judul yang “kasar”, tapi sebetulnya membawa insight supaya manusia lebih realistis.

Saya pikir, sebagian dari kita sudah kehilangan animo untuk membeli buku-buku motivasi yang kelewat dibuat manis, sementara kita menyadari hidup tak semudah itu. Saya sendiri sejujurnya cukup jengah, dan merasa buku-buku demikian hanya menjual delusi saja. Betapa tidak, kita seakan “dipaksa” untuk selalu ceria, bahagia, positif, berbunga-bunga, kaya raya, sukses lahir batin. Kalau tidak, apakah kita telah gagal sebagai manusia?

Ya, ndak juga. Buku semacam itu justru bisa jadi pedang bermata dua; alih-alih membuat pembaca termotivasi, bisa saja pesan di dalamnya membuat mereka frustrasi. Merasa tidak puas dengan kondisinya. Merasa tidak bisa nrimo. Kalau ada yang merasa lebih baik dan berkembang dengan buku-buku itu bagaimana? Ya, bagus juga, dong. Pandangan saya kan tidak menegasikan dampak positif tersebut. Kembali lagi, ini soal preferensi saja.

Barangkali, ada manusia-manusia seperti saya, yang sudah tak mempan diberi kata-kata manis. Nah, ini. Ini kenapa ada buku semacam Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Sebenarnya, selain buku ini, ada beberapa buku lain yang bernada serupa. Semisal, F*ck Feelings karya duo ayah dan anak, Michael Bennet dan Sarah Bennet, yang mengajarkan kita untuk mengenyahkan keinginan-keinginan tak realistis dan menerima dunia apa adanya. Melalui buku itu, mereka ingin berpesan agar kita bisa menghadapi dunia yang keras dan sulit, tanpa perlu meromantisasinya.

Ada pula F*ck! I’m in My Twenties karya Emma Koenig. Buku ini merupakan kompilasi tulisan-tulisan yang ada di blog penulis. Isinya? Seperti yang tercermin dari judulnya, buku ini ditujukan untuk orang-orang berusia dua puluhan, yang memang mengalami fase peralihan menuju masa dewasa. Buku ini mengajak pembaca untuk siap menghadapi masa dewasa yang tidak semulus itu. Realistis? Ya.

Baca Juga:  Ferdinand Wiggers; Pengarang Legendaris yang Hilang dari Sejarah Sastra Indonesia

Bagi saya, judul yang terkesan “ofensif” ini bukan sekadar strategi marketing belaka. Melalui judulnya saja, buku-buku ini sudah mengajak kita agar lebih realistis. Kadang-kadang, hidup memang membuat kita ingin mengumpat, dan itu tak jadi masalah. Judul-judul tersebut secara tidak langsung membuat kita terbiasa dengan hal “negatif”, dalam makna yang baik.

Acap kali, kita ingin mengenyahkan hal-hal yang kita anggap negatif sesegera mungkin, seperti emosi negatif, penderitaan, kesialan, dan lain-lain. Kita begitu terbiasa dengan itu, hingga banyak yang mengglorifikasi kebahagiaan dan membenci penderitaan. Apa dampaknya? Kita jadi lebih mudah frustrasi saat kita tak kunjung bahagia. Kita merasa jadi orang paling menderita di dunia ini. Kenyataannya, semua orang, tak peduli ia siapa, pasti menderita―dan memang kehidupan seperti itu.

(Sumber: Harian Nasional)

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat adalah buku self-help pertama yang membuat saya tercenung cukup lama. Saya seolah ditampar oleh kenyataan demi kenyataan. Setiap kalimat di dalamnya membuat saya berpikir dan langsung introspeksi. Beberapa narasi membuat saya bertanya-tanya, bagaimana bisa orang ini tahu saya dan kehidupan saya secara mendetail? Apakah Mark Manson seorang cenayang?

Saya memang begitu, saya terus membatin. Setiap halaman mampu menyadarkan saya akan sesuatu yang penting dalam hidup: bersikap bodo amat.

Ya. Bodo amat. Terkesan egois, bukan? Tidak sama sekali kalau kita tahu esensi dari sikap bodo amat ini. Sebenarnya, pesan yang diangkat Mark Manson dalam buku tersebut amat spiritual. Saya bisa menerima pesan yang sama dalam buku Bukan Siapa-Siapa karya Ajahn Brahm: “Kita tak bisa mengontrol hal-hal yang berada di luar kendali kita.” Itu poinnya. Dan, pesan itu dilengkapi secara apik oleh Mark Manson: “Maka bodo amat dengan itu semua.”

Baca Juga:  Mengenalkan Gandhi lewat Komik

Bodo amat yang dimaksud Mark Manson adalah bodo amat pada hal-hal yang tidak penting dalam hidup dan mulailah peduli hanya pada hal yang esensial. Apakah dengan peduli pada setiap hal dan semua orang kita akan jadi orang yang baik? Tidak juga. Sebab, tak ada kebaikan yang datang dari memedulikan banyak hal, namun lupa peduli pada diri sendiri.

Menurut Mark Manson, banyak dari kita yang terkena sindrom merasa spesial. Yang menarik, ia menekankan kespesialan ini bukan hanya dari aspek yang baik-baik saja, seperti merasa paling pintar, paling menarik, paling kaya, paling heroik, atau yang lainnya. Baginya, merasa paling sedih dan menderita pun merupakan cerminan merasa spesial. Dan, ini racun bagi kita. Kita jadi terbiasa dimanjakan dengan perasaan-perasaan sendiri.

Saat kecewa atau sedih, kita cenderung menyalahkan situasi, dan enggan mengambil tanggung jawab untuk mengatasinya. Padahal, semua orang memiliki penderitaan masing-masing, dan tak ada yang spesial dari itu. Ini kenyataan. Kenyataan memang pahit, maka banyak yang berlari darinya. Perasaan-perasaan kita terkadang menipu kita dari kenyataan ini.

Lantas, apakah kita tak boleh memiliki perasaan? Tentu, bukan ini yang ia maksud. Saya pikir, ia justru menyiratkan pesan supaya kita menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang wajar. Ya, wajar: hal-hal yang pasti akan terjadi dan tak bisa kita hindari. Bukan sesuatu yang spesial, aneh, atau khusus. Semua orang mengalaminya. Muaranya? Kita akan lebih realistis menghadapi kehidupan. Terkesan keras? Iya. Terasa seperti Buddhisme? (Juga) iya.

Saat membaca buku ini, kita dibuat seakan-akan sedang tidak membaca buku self-help. Saya pribadi merasa sedang mendengarkan ocehan seorang teman yang blunt, apa adanya, tapi membuat saya berpikir keras. Pesan di dalamnya disisipkan dengan bahasa yang lugas dan santai, jadi cocok untuk orang-orang yang malas mendengar hal yang bertele-tele. Cocok dibaca saat ingin reality check.

Walau begitu, buku ini juga tak lepas dari kekurangan. Menurut saya, Mark Manson terlalu bias dalam mendefinisikan hal-hal yang ia anggap penting (dan tak penting) dalam kehidupan. Misalnya, ia menganggap aktivisme sebagai hal yang tidak penting, berlebihan, dan merupakan upaya yang sia-sia, sebab kita hanya mengendalikan hal-hal di luar kuasa kita.

Baca Juga:  Penghargaan Sastra Lain yang Tak Kalah Bergengsi dari Nobel Sastra

Tentu tidak selamanya begitu. Aktivisme tetap dibutuhkan di dunia, supaya terjadi keseimbangan. Kalau tidak ada orang yang peduli dengan hal-hal lain di luar dirinya, tidak akan ada Bunda Teresa, Nelson Mandela, atau Malala Yousafzai, yang memang membuat dunia jadi lebih baik.

Saya berkesimpulan, Mark Manson sudah mencapai fase tertentu, yang belum tentu sudah dicapai oleh orang-orang lainnya, dan ini memengaruhi pandangannya. Tentu saja, tak ada solusi one-size-fits-all untuk kehidupan manusia yang kompleks. Maka, pesan saya, ambillah hal-hal yang kita rasa baik dan sesuai untuk diri kita.

Saat pakar-pakar spiritual bilang, hinaan orang lain berada di luar kendali saya, Mark Manson dengan “kurang ajar”-nya bilang, gue, sih… bodo amat!


Judul Versi Indonesia : Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
Pengarang : Mark Manson
Penerbit : Grasindo, 2018
Tebal : 256 halaman
Harga :Rp67.000

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here