la florida laila lalami
dibaca normal 24 menit

SAAT itu tahun 934 Hijriah, tahun ke-30 masa hidupku, 5 tahun aku dalam perbudakan, dan aku berada di ujung dunia yang asing. Aku berada di belakang Senor Dorantes, di daerah yang subur. Ia dan beberapa orang Castilla seperti dirinya menyebut daerah itu La Florida. 

Aku tidak yakin, sebutan apa yang bakal dipakai oleh orang sebangsaku untuk tanah asing itu. Ketika aku meninggalkan Azemmur, berita tentang tanah ini tidak selalu membetot perhatian tukang teriak penyebar berita di kotaku. Mereka lebih suka meneriakkan berita kelaparan, gempa bumi terbaru, atau pemberontakan di selatan suku Barber. Tapi, aku bisa membayangkan, dengan konvensi sederhana penamaan suku-suku kami, orang sebangsaku akan menamainya Tanah Suku Indian. Suku Indian tentu saja punya nama sendiri untuk tanah itu, baik Senor Dorantes maupun orang-orang dalam ekspedisi itu tak mengetahuinya.

Senor Dorantes pernah mengatakan padaku, La Florida adalah pulau yang sangat besar, bahkan lebih besar dari Castilla, dan bisa saja seluas dari garis pantai tempat kita bersandar hingga ke ujung Samudra Kedamaian. Dari satu samudra ke samudra lain, ya, begitulah ia menggambarkannya. Semua tanah ini, ujarnya, akan dikuasai oleh Panfilo de Narvaez, komandan armada kapal ekspedisi ini. Menurutku ini janggal, atau setidaknya aneh, seorang Raja Spanyol akan mengizinkan salah satu penggawanya memerintah di tempat yang lebih luas dari tanah miliknya, tapi tentu saja aku akan menyimpan unek-unekku dalam hati.

Kami melanjutkan ekspedisi ke utara, menuju Kerajaan Apalache. Senor Narvaez mendengar kabar ini dari salah satu orang Indian yang ditangkap selepas kami sampai di garis pantai La Florida. Meski aku tidak menginginkan datang ke tanah ini, setidaknya aku lega sekarang. Akhirnya, aku bisa menginjakkan kaki di daratan. Karena selama perjalanan melintasi Samudra Kabut dan Kegelapan, aku harus berjibaku dengan penderitaan yang memang sudah diperkirakan: roti basi, air keruh, dan jamban busuk. Tempat yang sempit membuat penumpang dan awak kapal mudah marah dan hampir setiap hari perkelahian meletus. Tapi, yang terburuk adalah bau busuk yang bercampur aduk seperti bau busuk pengidap pes—bau badan orang yang tidak mandi berbulan-bulan bercampur dengan bau asap tungku dan bau busuk kotoran kuda serta ayam yang terus menempel di kandang meski sudah dibersihkan tiap hari—yang akan mengoyak jiwamu ketika kau turun di dek bawah kapal.

Aku pun penasaran dengan tanah ini karena aku pernah mendengar, menguping lebih tepatnya, banyak cerita dari majikanku dan teman-temannya soal Suku Indian. Suku Indian, kata mereka, berkulit merah dan tak punya kelopak mata. Mereka adalah kaum kafir yang membuat ritual pengorbanan manusia dan menyembah patung dewa-dewa seperti setan. Mereka minum ramuan misterius memabukkan yang bisa memberikan penampakan-penampakan “suci”. Mereka berjalan tanpa sehelai kain, bahkan para perempuan mereka juga—sebuah cerita yang tak bisa kupercayai dan membuat tanganku tak bergerak. Tapi, sekarang aku malah terpikat. Tanah ini tak hanya menjadi tujuanku, tapi tempat yang kugunakan untuk melengkapi dunia fantasiku, tempat yang hanya ada dalam imajinasi pendongeng keliling Suku Barber. Ya, inilah petualangan menembus Samudra Kabut dan Kegelapan yang akan menghipnotismu, meski kau tidak menginginkan untuk ambil bagian. Ambisi orang lain akan meracuni dirimu, perlahan, dan tak bisa ditarik kembali.

Pendaratan itu sendiri hanya terbatas untuk regu kecil perwira dan serdadu di tiap kapal. Sebagai kapten kapal Gracia de Dios, Senor Dorantes telah memilih 20 orang, di antara mereka adalah aku—pelayan Allah, Mustafa ibn Muhammad—untuk ikut ke dalam sekoci menuju pantai. Majikanku berdiri di ujung perahu dengan satu tangan berada di pinggul dan tangan lain memegang pedang—pose, yang menurutku, sempurna dan menunjukkan hasrat menguasai harta karun di dunia baru, seperti dia sedang berpose untuk seorang pematung yang tak terlihat.

Pagi yang begitu cerah di musim semi. Langit biru, tak biru-biru amat dan tak mendung, dan air laut yang jernih. Dari pantai, kami berjalan pelan-pelan ke kampung nelayan yang pernah dilihat oleh pelaut dari tiang layar dan berlokasi kira-kira dalam jangkauan panah dari garis pantai. Kesan pertamaku, keheningan menggema di sekitar kami. Bukan, keheningan bukan kata yang tepat. Ada suara ombak, dan setelah itu, angin sepoi-sepoi yang menggerakkan daun-daun pohon palem. Di sepanjang perjalanan, burung-burung camar yang penasaran sesekali melihat kami dan kembali terbang. Tapi, aku merasakan kesunyian yang begitu agung.

Di kampung itu, ada sekitar 12 gubuk, dibangun dari tiang-tiang kayu serta atapnya ditutupi daun palem. Jarak antar-rumah diatur dalam lingkaran yang lebar sehingga terdapat ruang cukup di antara rumah untuk memasak dan tempat menyimpan makanan. Tungku perapian yang berlubang-lubang dan berbentuk lingkaran itu berisi kayu bakar yang baru saja diambil dari hutan, dan di atasnya tergantung tiga kulit rusa. Darah rusa masih menetes membasahi tanah. Namun, kampung itu kosong. Gubernur memerintah untuk memeriksa secara teliti. Di dapur mereka terdapat alat untuk memasak dan membersihkan makanan. Selain kulit binatang dan bulu, juga terdapat ikan kering dan daging, biji bunga matahari yang berlimpah, kacang, dan buah-buahan. Para serdadu pun mengambil apa pun yang bisa mereka raih. Bahkan, di antara mereka timbul rasa iri dengan barang-barang yang mereka curi. Mereka pun saling bertukar barang-barang curian sesuai dengan keinginan mereka. Aku tidak mengambil apa pun dan aku tak menukar apa pun, namun aku merasa risih karena aku menyaksikan pencurian itu dan aku tak bisa menghentikannya, bahkan aku menjadi pembantu mereka dalam mencuri.

Saat aku berdiri dengan majikanku di luar gubuk, aku melihat tumpukan jaring ikan. Ketika aku mengangkat jaring aneh itu, aku menemukan batu kerikil yang janggal. Awalnya, jaring itu terlihat berat, tapi jaring-jaring itu memiliki pemberat batu yang halus—tidak seperti batu biasa—berwarna kuning dan kasar. Lalu, aku berpikir, mungkin ini mainan anak-anak karena memang mirip dengan kelereng atau bisa saja ini bagian dari mainan anak-anak. Mungkin saja batu itu tidak sengaja jatuh ke jaring ikan. Aku mengambilnya dan mengamati di luar agar jelas. Tapi, Senor Dorantes memergoki.

“Estebanico,” majikanku berteriak, “Apa yang kau temukan?”

Estebanico adalah nama Castilla yang diberikan padaku ketika mereka membeliku dari pedagang Portugis—suara cengkok yang asing masih memekakkan telingaku. Ketika aku terjebak dalam perbudakan, aku tidak hanya kehilangan kebebasanku, tapi juga sebuah nama yang telah dipilih ibu dan ayahku. Sebuah nama yang berharga. Di dalamnya termaktub bahasa, sejarah, tradisi, dan cara memahami dunia. Kehilangan nama juga berarti kehilangan semua yang berkaitan dengan itu. Jadi, aku tidak pernah merasakan bahwa Estebanico adalah laki-laki yang dilahirkan dari orang Castilla, sangat berbeda dengan diriku sesungguhnya. Majikanku mengambil kerikil dari tanganku. “Apa ini?” tanyanya.

“Bukan apa-apa, Senor”

“Bukan apa-apa?”

“Hanya kerikil.”

“Coba kulihat.” Dia meraba-raba dengan jari-jarinya, menerka-nerka. Di balik lapisan kotor, warna kuning cerah pun muncul. Dia adalah orang yang gampang penasaran. Majikanku selalu menanyakan tentang apa pun. Barangkali, inilah yang mendorongnya meninggalkan kehidupan nyaman di Bejar del Castanar dan mempertaruhkan keberuntungannya di tanah asing. Aku tidak membenci rasa ingin tahunya soal “dunia baru”, tapi aku iri caranya berbicara tentang kampung halaman. Selalu diceritakan dengan harapan pulang penuh kehormatan.

“Bukan apa-apa,” kataku lagi.

“Aku tidak yakin.”

“Mungkin saja itu besi.”

“Tapi, ini mungkin saja emas.” Dia membolak-balik kerikil itu di antara jari-jarinya, tidak yakin dengan benda itu. Lalu, ia tiba-tiba berlari ke Senor Narvaez yang sedang berdiri di alun-alun desa, menunggu para serdadunya menyelesaikan pencarian.

“Don Panfilo,” majikanku memanggil. “Don Panfilo.”

“Ketika aku terjebak dalam perbudakan, aku tidak hanya kehilangan kebebasanku, tapi juga sebuah nama yang telah dipilih ibu dan ayahku. Sebuah nama yang berharga. Di dalamnya termaktub bahasa, sejarah, tradisi, dan cara memahami dunia.

Aku akan menggambarkan sedikit rupa Gubernur untuk Anda. Yang paling mencolok adalah tambalan hitam di sekitar mata kanannya. Itu membuat wajahnya sedikit garang, meski bagiku pipi cekungnya dan dagunya yang kecil justru mengurangi kegarangannya. Hampir tiap hari, bahkan saat-saat yang tidak dibutuhkan, dia selalu memakai helm besi dengan hiasan bulu burung unta. Di baju zirahnya, selendang biru menjuntai dari bahu hingga paha, dan terikat di bagian pinggul. Dia seperti seorang laki-laki yang cukup keras berusaha demi penampilannya, namun dia bisa juga menjadi seorang yang tak beradab seperti para serdadunya. Suatu kali, aku pernah melihatnya memasukkan satu jari ke lubang hidungnya, lalu ia membuang ingus ketika sedang membicarakan logistik kapal dengan salah satu kapten.

Dengan cekatan, Senor Narvaez pun mengambil kerikil-kerikil itu. Jari-jarinya yang serakah menelisik dengan seksama dan meraba-raba kerikil itu.

“Emas, ya, ini pasti emas,” katanya penuh keyakinan.

Kerikil itu digenggam di tangannya seakan-akan seperti sebuah persembahan untuknya. Suaranya parau ketika ia berbicara lagi.

“Kerja yang bagus, Kapten Dorantes, kerja yang bagus.”

Para perwira yang berada di sekeliling Gubernur bersorak-sorak. Seorang serdadu lari ke pantai dan berteriak mengabarkan soal emas itu. Aku berdiri di belakang Senor Dorantes, terhalangi bayangannya dan silauan sinar matahari. Meski aku tidak bisa melihat raut mukanya, aku yakin, dia sedang diliputi perasaan bangga. Sudah setahun sejak aku dijual kepadanya di Sevilla dan sejak itu aku sudah belajar banyak membaca perilakunya: mengetahui apakah dia senang atau hanya puas, marah atau agak kesal, khawatir atau hampir tidak peduli—perubahan sikap yang terlihat lewat tindakan dan hanya aku yang bisa menerjemahkan. Sekarang, misalnya, dia senang dengan hasil temuanku, tapi kesombongannya telah mencegahnya untuk mengatakan bahwa akulah yang menemukan emas itu. Aku harus tetap tutup mulut, pura-pura tidak memerhatikan beberapa saat, membiarkan dia bersenang-senang sendiri di dalam kebanggaan atas penemuan itu.

Beberapa saat kemudian, Gubernur memerintahkan sisa armada untuk turun. Butuh tiga hari untuk menurunkan semua orang, kuda, dan persediaan ke atas pantai pasir putih. Semakin banyak orang berdatangan. Entah bagaimana mereka bisa berjejalan satu sama lain dengan teman sekelompok mereka di dalam pos. Gubernur biasanya berdiri dengan para kaptennya, dengan baju besi dan helm berbulu; Deputi bercakap-cakap dengan empat biarawan. Semua mengenakan jubah cokelat yang sama; para penunggang kuda berkumpul dengan orang-orang bersenjata, setiap dari mereka membawa senjata—musket, arquebus, panah, pedang, tombak bermata baja, belati, atau bahkan pisau daging. Lalu ada pula penduduk biasa, seperti tukang kayu, pandai besi, tukang sepatu, tukang roti, petani, pedagang, dan banyak lagi orang dengan pekerjaan yang tidak pernah kuperhatikan atau mudah saja kulupakan. Ada juga sepuluh perempuan dan tiga belas anak-anak, berdiri di kerumunan di sebelah peti kayu mereka. Namun, 50 lebih budak—termasuk pelayan Tuhan ini, Mustafa ibn Muhammad—tersebar. Tiap budak berdiri di dekat majikannya, membawa barang-barang sang majikan atau sekadar mengawasi barang-barang itu.

Saat semua orang telah berkumpul di pantai, saat itu adalah hari ketiga dan sudah terlalu sore. Tak ada air pasang. Ombak laut kecil dan garis gelap di bibir pantai begitu terlihat jelas. Udara kian dingin; sekarang pasir pantai terasa dingin dan lembab di bawah kakiku. Awan tinggi telah berkumpul di langit, mengubah matahari seakan menjadi bola api redup di kejauhan. Kabut tebal berdatangan dari samudra, perlahan melunturkan warna dunia di sekitar kami, menyelimuti dunia kami dengan nuansa putih dan abu-abu. Benar-benar sunyi.

Notaris armada—pria gemuk dengan mata seperti burung hantu—bernama Jeronimo de Albaniz melangkah maju. Menghadap Senor Narvaez, dia membuka gulungan dan mulai membaca dengan suara tanpa nada. “Atas nama Raja dan Ratu”, dia berkata, “kami ingin menyampaikan bahwa tanah ini milik Tuhan kita, Tuhan Yang Hidup Abadi. Tuhan telah menunjuk seseorang yang bernama Santo Petrus menjadi pemimpin bagi seluruh manusia di dunia, di mana pun mereka tinggal, dan di bawah hukum, sekte, kepercayaan apa pun yang mereka anut. Penerus Santo Petrus yang dalam hal ini adalah Bapa Suci kita, sang Paus, yang telah menyerahkan bumi ini kepada Raja dan Ratu. Oleh karena itu, kami meminta dan mengharuskan Anda memercayai Gereja sebagai penguasa dunia ini dan pendeta yang kita panggil Paus, serta Raja dan Ratu sebagai penguasa wilayah ini.”

Baca Juga:  Hari yang Sempurna untuk Kanguru - Haruki Murakami

Senor Albaniz tiba-tiba berhenti dan, tanpa meminta permisi atau meminta maaf, dia minum dari tempat air yang tergantung di bahunya.

Aku melirik wajah Gubernur. Dia terlihat kesal dengan gangguan itu, namun dia menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun. Sebab, itu akan mengganggu jalannya prosesi. Atau mungkin dia tidak ingin membuat marah notaris. Toh, tanpa notaris dan juru tulis, tetap tidak akan ada yang tahu apa yang dilakukan Gubernur. Kesabaran dan penghormatan, meski kecil, sungguh dibutuhkan.

Tanpa terburu-buru, Senor Albaniz menyeka mulutnya dengan punggung tangannya dan melanjutkan berbicara. “Jika Anda melakukan apa yang kami katakan, Anda melakukan perbuatan yang baik dan kami akan menerima Anda dalam cinta dan kasih. Tapi, jika Anda menolak mematuhi atau dengan jahat menghambat, kami sampaikan kepada Anda, kami akan memerangi Anda dengan segala cara yang kami bisa dan kami akan mengambil istri dan anak Anda, menjadikan mereka budak-budak, dan kami akan mengambil barang-barang Anda dan membuat huru-hara dan kerusakan sebisa kami. Dan jika semua itu harus terjadi, kami menyatakan bahwa segala kematian dan kehilangan akan menjadi kesalahan Anda dan bukan kesalahan Yang Mulia atau para kavaleri yang hadir sekarang. Sekarang, kami akan katakan pada Anda, kami akan meminta juru tulis untuk menuliskan kesaksiannya dan orang-orang yang hadir di sini menjadi saksi atas rekuisisi ini.”

Hingga Senor Albaniz sampai pada janji-janji dan ancaman-ancaman, aku tidak tahu jika pidato itu ditujukan untuk suku Indian. Aku juga tidak paham mengapa hal itu harus dibacakan di sini, di pantai ini, jika para penerimanya sudah meninggalkan kampung. Sungguh aneh. Aku pernah berpikir betapa anehnya cara pandang orang-orang Castilla ini—hanya dengan memaklumatkan tentang sesuatu, lalu mereka pun memercayai sesuatu itu sebuah kebenaran. Aku paham sekarang bahwa para penakluk ini, sama seperti kebanyakan orang-orang sebelum mereka dan tanpa diragukan lagi sama pula dengan orang-orang setelah mereka, berbicara bukan untuk menyampaikan kebenaran, melainkan membuat kebenaran.

Akhirnya, Senor Albaniz pun diam. Dia menyerahkan gulungan dan menunggu, membungkukkan diri ketika Senor Narvaez menandatangani gulungan dalam prosesi rekuisisi. Di depan kerumunan, Gubernur mengumumkan bahwa kampung ini akan dikenal sebagai Portillo. Para kapten menundukkan kepala dan seorang serdadu memancangkan panji-panji kerajaan, kain hijau dengan perisai merah di tengah-tengahnya. Tetiba, aku teringat dengan peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika bendera Kerajaan Portugis dikibarkan di atas menara benteng, di Azemmur. Aku masih sangat muda saat itu, namun aku masih terbayang-bayang penghinaan hari itu karena hari itu telah mengubah nasib keluargaku, mengoyak-koyak kehidupan kami, dan membuat diriku terusir dari rumahku. Sekarang, di belahan bumi lain, adegan peristiwa itu terulang kembali di panggung yang berbeda, dengan orang yang berbeda. Jadi, aku tidak bisa menahan ketakutanku tentang apa yang akan terjadi berikutnya.

PAGI-PAGI sekali, ketakutanku pun terbukti juga ketika kami mendengar keributan di belakang gudang kampung. Senor Dorantes memintaku untuk mencukur rambutnya dan aku baru saja memulai mencukur bagian pinggir rambutnya yang tebal dan berwarna gandum. Jenggotnya juga tumbuh lebat, tapi dia tidak ingin mencukurnya. Mungkin saja dia merasa tak perlu mengkhawatirkan penampilannya karena dia sedang berada di ujung kerajaan. Atau, dia membiarkan jenggotnya tumbuh karena dia bisa, sedangkan orang-orang Indian, rumornya, tidak punya jenggot. Aku sendiri tidak bertanya padanya; justru aku lega karena pekerjaan jadi tidak banyak. Namun, ketika kami mendengar teriakan para serdadu, Senor Dorantes sekonyong-konyong berdiri dan berlari, bahkan kain linen putih masih dia kenakan, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Aku mengikutinya dari belakang dengan gunting Sevilla masih di tangan. Para serdadu ternyata sudah menemukan orang-orang Indian. Mereka bersembunyi di semak-semak, empat dari mereka berhasil ditangkap.

Keempatnya adalah laki-laki dan keempatnya telanjang. Aku sudah pernah melihat orang-orang Indian sebelumnya di Kepulauan Kuba dan La Espanola ketika kapal berhenti untuk membeli persediaan, tapi aku tak pernah melihat begitu dekat. Aku tidak terbiasa mengamati lelaki berjalan dalam keadaan alamiah, tanpa malu-malu dengan ketelanjangan mereka, jadi aku pun terdorong untuk mengamati. Mereka bertubuh tinggi dan besar dengan warna kulit seperti warna tanah yang terkena hujan. Rambut mereka mengilap dan panjang, serta di tangan kanan dan kaki kiri mereka terdapat tato dengan bentuk yang tak kukenali. Salah satu di antara mereka bermata sayu, seperti mata pamanku, Omar, dan dia mengedipkan mata agar bisa fokus melihat para penculiknya. Sementara yang lainnya mengamati kampung, melihat segala perubahan sejak kedatangan kami: salib didirikan di dekat bangunan suci; panji-panji Gubernur menancap di lapangan; dan kuda-kuda dipancang di tiang yang baru dibangun di sekeliling lapangan. Dari kisah-kisah yang kudengar tentang orang-orang Indian, aku pun mengharapkan sesuatu yang luar biasa, misalnya semburan api layaknya jin dari mulut mereka, namun sepertinya mereka tidak berbahaya bagiku—terutama bagi serdadu Castilla di sebelahnya. Meski begitu, mereka tetap diikat dan dibawa ke Senor Narvaez.

Dari sakunya, Gubernur mengambil kerikil emas yang kutemukan. Sambil memainkan di jemarinya, dia bertanya tentang emas itu. “Dari mana kau dapatkan emas ini?”

Tawanan-tawanan itu menatap Gubernur dengan seksama dan dua di antara mereka berbicara dengan bahasa ibu mereka. Aku belum bisa mendengar intonasi suara yang keluar dari bibir mereka—misalnya di mana kata pertama berakhir dan kata lainnya dimulai. Pengalamanku di kota perdagangan seperti Azemuur membuatku jatuh cinta dengan bahasa dan, maaf atas kelancanganku, itu sedikit memudahkanku mengamati bahasa mereka. Jadi, aku penasaran dengan bahasa orang Indian, meski aku tidak bisa mendapatkan petunjuk untuk mempelajari idiom-idiom baru, misalnya suara yang familier, kata-kata umum, atau kesamaan intonasi. Namun, aku agak terkejut, Gubernur mengangguk pelan, seakan-akan dia tahu dengan tepat dan bahkan setuju dengan mereka.

Meski demikian, dia tetap mengulangi pertanyaannya. “Di mana kau temukan emas ini?”

Di belakangnya, para serdadu menyimak dan menunggu. Di atas pohon, burung-burung sedang bernyanyi, suaranya melengking meski panas begitu menyiksa. Suara ombak datang dari bibir pantai dan aku bisa mencium asap di udara—seseorang sedang menyalakan api untuk menyiapkan almuerzo. Lagi, orang-orang Indian itu menjawab dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Setidaknya, aku beranggapan mereka telah menjawab pertanyaan itu. Itu seperti mereka sedang menanyakan sesuatu kepada Gubernur, atau menantangnya bertarung, atau mengancam akan membunuhnya jika dia tidak melepaskan mereka.

Gubernur mendengarkan dengan sopan jawaban mereka lalu dia kembali ke tempatnya. “Kunci mereka di gudang,” katanya, “dan bawakan aku cambuk.”

Senor Dorantes kembali ke kursinya dan lagi-lagi aku harus mengikutinya. Tak ada kata-kata di antara kami. Aku telah selesai memotong rambutnya, memberikan cermin padanya, dan memegangi satu cermin lagi di belakang. Aku melihat kedua bayangan kami di kedua cermin yang saling berlawanan itu. Majikanku tampak senang dengan potongan rambutnya. Ia mengangguk senang ketika berbalik badan seperti ini dan itu. Janggutnya sudah hampir menutupi bekas luka di pipinya. Pernah sekali aku dengar dia bercerita dengan bangga kepada salah satu tamu makan malamnya. Dia pernah tinggal di Castilla beberapa tahun ketika dia membantu memadamkan pemberontakan melawan Raja. Perbudakan telah mengajariku untuk tetap menjaga raut muka yang tenang. Namun, di cermin, aku sadar mataku justru memperlihatkan kegelisahaku. Kuyakinkan diriku bahwa aku hanya penasaran dengan jenis jala yang digunakan orang Indian. Aku tidak tertarik dengan emas. Namun, gara-gara kerikil yang kutemukan itu, empat orang ini yang tidak pernah menyakitiku dicambuk. Aku harus pura-pura, seperti majikanku, tidak mendengar tangisan dari dalam gudang. Dalam beberapa saat, tangisannya menjadi lolongan, begitu lama dan penuh kegetiran sehingga aku sendiri bisa merasakan kepedihan itu di dalam hatiku. Dan, setelah cambukan berkali-kali dan mengerikan itu berhenti, suasana terasa sunyi.

Lalu, ketika aku sedang membantu Senor Dorantes memakaikan sepatunya, aku mendengar adik laki-lakinya, Diego, seorang pemuda yang cukup tenang, barangkali 16 atau 17 tahun, menanyakan soal pertemuan Gubernur dan orang-orang Indian. Diego sungguh berbeda dengan Senor Dorantes. Sampai-sampai aku sendiri heran kalau mereka adalah saudara kandung. Ya, satunya pemalu dan tak punya perasaan, satunya lagi tegas dan licik. Yang satu selektif dalam berteman, satunya lagi gampang suka dan cepat membenci pula. Tapi, Diego berusaha keras meniru kakaknya. Dia mengenakan doublet tak berkancing dan ia mengenakan helm layaknya seorang serdadu terlatih. Dia mencoba menumbuhkan janggutnya, tapi hanya satu dua rambut saja yang tumbuh. “Hermano,” kata Diego. “Kapan Don Panfilo belajar bahasa mereka? Apakah dia pernah ke La Florida sebelumnya?”

Senor Dorantes menatap Diego dengan pandangan geli, tapi dia pasti merasa pertanyaan itu tidak begitu berbahaya. Dia pun langsung menjawab. “Tidak, ini pertama kali dia ke sini, sama seperti kita. Tapi, dia punya banyak pengalaman dengan orang-orang liar ini. Dia bisa membuat dirinya dimengerti oleh orang-orang itu, dan dia jarang gagal mengorek informasi yang dia cari.”

Sungguh tidak masuk akal bagiku, namun aku tetap diam, sebab aku tahu, majikanku tidak akan sembrono bilang soal kemampuan Gubernur memahami bahasa orang Indian. Nenek moyangku mengajarkan: anjing yang masih hidup lebih baik daripada singa yang telah mati.

“Tapi, kenapa mereka harus dicambuk?” Diego menimpali.

“Karena mereka terkenal pembohong,” jawab Senor Dorantes. “Lihat mereka berempat. Mereka seperti mata-mata, mereka dikirim ke sini untuk melihat gerak-gerik kita dan melaporkan pergerakan kita,” pelan, hampir tak kentara, nada bicara majikanku berubah dari geli menjadi sedikit marah. Dia berdiri dan meraba-raba di sekitaran sepatunya, memastikan celananya terpakai dengan benar. “Untuk mendapatkan informasi yang benar,” katanya, “perlu mencambuk mereka.”

GUBERNUR mencambuki keempat tahanan itu hingga dia puas dengan kebenaran informasi yang dia dapat. Dengan bekal informasi itu, Gubernur memanggil semua perwira untuk berkumpul pada malam hari. Mereka berkumpul di loji besar di kampung, seperti sebuah kuil yang bisa memuat ratusan orang. Meski begitu, hanya 12 perwira tinggi yang diundang ke sana: komisaris, bendahara, pemeriksa pajak, notaris, dan para kapten—di antara mereka adalah Senor Dorantes. Patung kayu harimau dengan mata dicat kuning dan tangannya memegangi senjata perang telah dipindahkan beberapa hari yang lalu bersama dengan tifa. Dalam imajinasiku, benda-benda ini digunakan untuk upacara kaum kafir. Sekarang, kuil itu kosong. Namun, atap-atapnya membetot perhatianku. Atap-atap itu dihiasi kulit kerang terbalik yang memantulkan cahaya ke tanah.

Satu per satu, perwira tinggi Spanyol duduk di kursi Indian yang sudah diatur melingkar. Tempat Gubernur terdiri dari bangku panjang dan meja yang telah ditutupi kain putih. Di tiap ujung diletakkan candelabras. Lalu, hidangan makan malam pun disajikan: ikan bakar, nasi, daging babi asap, dan buah-buahan segar yang diambil dari gudang persediaan kampung. Ketika aku melihat makanan-makanan itu, rasa lapar luar biasa menghujani perutku bahkan dibandingkan hari sebelumnya. Rasa lapar ini lebih hebat. Namun, aku harus menunggu hingga makan malam itu selesai, dan aku bisa memakan perbekalanku.

Berdiri di hadapan para perwira, Senor Narvaez mengumumkan bahwa kerikil emas itu berasal dari kerajaan kaya raya, yakni Alpalache. Kerajaan itu berjarak dua minggu dengan berjalan kaki ke utara dari kampung ini. Dan, pusat kerajaannya dipenuhi dengan emas, perak, tembaga, dan logam mulia lainnya. Ada pula ladang luas yang telah ditanami jagung dan kacang-kacangan di sekitar kota, dan banyak orang merawat ladang itu, serta di dekat situ ada sungai yang penuh dengan ikan. Pengakuan orang-orang Indian, yang dicatat Senor Albaniz atas perintah Gubernur, telah meyakinkan Gubernur bahwa Kerajaan Apalache adalah kerajaan kaya, seperti Moctezuma.

Kata-kata ini memiliki efek layaknya tembakan meriam. Kulihat, semua yang hadir di malam itu takjub, dan aku pun ikut tersentak, kaget, lantaran di Sevilla, aku telah banyak mendengar cerita tentang kerajaan kaya raya yang istananya diselubungi emas dan perak. Kegembiraan para kapten menjalar hingga aku menyadari diriku terbawa dalam lamunan. Bagaimana jika, gumamku, orang-orang Castilla ini menaklukkan kerajaan itu? Bagaimana jika Senor Dorantes menjadi salah satu orang terkaya di kerajaan ini? Harapan sembrono ini meluncur di kepalaku. Dia mungkin saja—dengan kebaikannya dan rasa syukur atau bahkan lantaran sebagai imbas kemenangan atas emas-emas dan kemenangannya—membebaskan budak yang telah lama menemani perjalanannya.

Baca Juga:  Ketiadaan - Pablo Neruda

Begitu mudahnya aku terlena dengan fantasi ini! Aku bisa meninggalkan La Florida dengan kapal yang akan berlayar ke Sevilla, dan dari sana aku akan kembali ke Azemmur, kota yang berada di ujung benua lama. Aku bisa kembali ke rumah, bertemu keluargaku, berpelukan dengan mereka, menjulurkan jari-jariku ke tembok yang tak rata di desa, mendengar suara Umm er-Rbi’ ketika angin musim semi berembus, duduk di atap rumah kami di hangatnya musim panas malam hari dan ketika udara dipenuhi aroma buah ara yang masak. Aku sekali lagi akan berbicara dengan bahasa nenek moyangku dan menemukan kembali tradisi yang sudah lama kutinggalkan. Aku akan menjalani sisa hidupku bersama dengan orang-orang sekaumku. Kenyataannya, tidak semua impianku ini telah dijanjikan atau disarankan untuk mengurangi kerinduanku. Dan, di sela-sela keserakahanku ini, aku lupa harga sebuah mimpiku bagi orang lain.

Para perwira bersulang untuk Gubernur, berterima kasih atas kabar baik yang dia berikan, dan para budak, termasuk pelayan Tuhan ini, Mustafa ibn Muhammad, mengisi ulang gelas itu dengan anggur. (Pembaca yang budiman, tidak mudah bagiku untuk mengakui bahwa aku ikut menyajikan minuman haram itu, tapi aku telah memutuskan untuk menceritakan apa pun yang terjadi padaku, jadi aku tidak bisa meninggalkan detail-detail kecil, bahkan kejadian seperti itu.)

“Namun,” kata Gubernur sambil mengangkat tangan untuk menenangkan hadirin, “ada satu halangan. Armada ini terlalu besar: empat kapal dan satu brigantine, 600 orang dan 80 kuda, 50.000 arroba persediaan dan senjata. Ini sungguh tidak cocok untuk misi ini.”

Dia pun memutuskan membagi dua regu, masing-masing berukuran sama. Regu pertama adalah regu yang akan mengarungi laut, terdiri dari pelaut, perempuan dan anak-anak, serta orang-orang yang menderita lantaran kedinginan atau demam, atau yang terlalu lemah untuk melanjutkan perjalanan. Kelompok ini akan berlayar menyusuri pantai La Florida menuju kota terdekat di Ispanya Baru, yang terdapat Pelabuhan Panuco, di ujung Rio de las Palmas. Di sana, mereka akan menurunkan jangkar dan menunggu.

Regu kedua, kalau boleh dikatakan begitu, terdiri dari orang-orang yang masih bisa berjalan, menunggang kuda, membawa makanan dan air, serta persenjataan dan amunisi. Mereka akan berjalan menuju ke pedalaman Apalache, merebutnya, dan mengirimkan kelompok yang lebih kecil untuk ikut berpesta di pantai. Gubernur mengundang para kapten untuk memilih orang-orang terbaik yang ikut melakukan perjalanan dengan kapal-kapal mereka.

Keheningan tiba-tiba menyeruak di majelis. Lalu, seketika itu pula, beberapa kapten keberatan dengan rencana itu, salah satunya pemuda yang juga teman dekat majikanku. Senor Castillo namanya dan dia sangat berhasrat ikut ekspedisi ini setelah mendengar di perjamuan di Sevilla. Suaranya sengau seperti suara anak-anak dan memang dia adalah remaja berumur belasan tahun. Aku ingat dia berdiri dari tempat duduknya dan bertanya, “Apakah tidak terlalu berbahaya jika mengirim semua kapal dan persediaan ketika kami menjalankan misi di pedalaman?”

“Kami tak memiliki peta,” ujarnya. “Tak ada cara lain untuk memasok persediaan kepada kami jika misi ini membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Dan, para nakhoda juga belum tahu seberapa jauh Panuco.” Senor Castillo berbicara tanpa tedeng aling-aling dan tanpa nada permusuhan. Sementara, para kapten lain yang juga mengajukan keberatan terdiam, membiarkannya berbicara untuk mereka.

“Kita memang tidak mempunyai peta,” Senor Narvaez menjawab dengan santun, “tapi, kita memiliki empat orang Indian. Para pendeta akan mengajarkan bahasa kita, jadi mereka bisa menjadi pemandu dan penerjemah. Soal lamanya misi ini, kau bisa lihat sendiri dengan mata kepalamu, betapa buruknya persenjataan mereka. Takkan butuh waktu lama untuk menaklukkan mereka.” Gubernur tidak mengenakan baju zirahnya malam itu. Dia mengenakan doublet hitam yang lengan bajunya tertahan dan diluruskan secara berkala. “Sekarang,” ujarnya, “mari kita bahas bagaimana kita membagi orang-orang kita.”

Senor Castillo menggaruk-garuk rambut cokelatnya—sebuah kebiasaan yang menandakan ia gugup. “Maafkan saya, Don Panfilo,” katanya. “Tapi, aku masih belum yakin kita harus mengirim semua kapal ketika tiga nakhoda kita belum yakin seberapa jauh kita dari Ispanya Baru.”

“Kita tidak begitu jauh dari Pelabuhan Panuco,” jawab Gubernur. “Kepala nakhoda bilang hanya 20 liga dari sini. Nakhoda lain berpendapat mungkin 25 liga. Aku tidak melihat itu sebagai sebuah tidak kesepakatan.”

“Tentu, Anda tidak akan menyarankan mengirim semua kapal kita begitu saja, bukan?”

Dari matanya yang bagus, Gubernur menatap Senor Castillo dengan tajam. Setidaknya, seperti itulah yang kurasakan.

“Bagaimana jika kapal-kapal itu hilang ketika berlayar ke pelabuhan? Beberapa dari kita sudah banyak menanamkan uangnya di kapal-kapal ini. Kita tidak bisa kehilangan mereka.”

“Aku tidak akan panjang lebar bicara soal biaya kapal-kapal ini, Castillo. Aku juga menanamkan banyak uangku di perjalanan ini.” Gubernur melihat sekelilingnya, meyakinkan para perwira yang hadir untuk menyetujui pendapatnya. “Senor, rencanaku cukup sederhana. Kita berjalan menuju Kerajaan Apalache, dan kapal-kapal kita menunggu di pelabuhan yang aman sehingga para kru bisa menyuplai persediaan yang mungkin kita butuhkan. Aku pernah memakai strategi ini di Kuba, lima belas tahun yang lalu.” Sekarang, Gubernur tersenyum mengenang kejayaan dan kemenangannya lalu, menatap Senor Castillo, dia menambahkan, “Barangkali, ketika kau masih bayi.” Senor Castillo duduk. Wajahnya memerah.

Rencana Gubernur ini mungkin terlihat berani bagi seorang kapten muda, tapi aku tahu rencana itu memang pernah diuji. Sebelum menuju Tenochtitlan untuk mengeruk kekayaan Moctezuma, Hernan Cortes menenggelamkan kapalnya lebih dulu di Pelabuhan Veracruz. Dan, tujuh abad sebelumnya, Tariq bin Ziyad membakar kapal-kapalnya di tepi pantai Ispanya. Sebenarnya, rencana Senor Narvaez bisa dibilang lebih berhati-hati karena dia hanya mengirim satu kapal untuk menunggu kami di pelabuhan terdekat agar bisa mengisi ulang perbekalan kami. Jadi, aku tidak merasakan ketakutan yang dialami Senor Castillo, dan sebaliknya sebagian dari diriku justru membencinya karena menghambat perjalanan ke kerajaan emas dan tentu saja ini menunda impianku untuk bebas.

Namun, Senor Castillo meminta pendapat Senor Cabeza de Vaca yang duduk di seberangnya. “Apakah Anda setuju kita mengambil risiko yang tak perlu?” tanyanya.

Senor Cabeza de Vaca adalah bendahara dalam ekspedisi ini. Tugasnya mengumpulkan bagian Raja yang didapatkan di La Florida. Rumornya, dia sangat dekat dengan Gubernur, jadi sebagian besar orang-orang segan terhadapnya. Meski di belakang, mereka membuat lelucon dengan memanggilnya Cabeza de Mono lantaran kupingnya menonjol seperti monyet. Senor Cabeza de Vaca memainkan jari-jarinya yang putih, halus, dan berkuku bersih. Dia memiliki tangan selayaknya bangsawan.

“Memang ada risiko,” ujarnya. “Selalu ada risiko. Namun, orang-orang Indian di sini sudah tahu kehadiran kita sekarang. Kita harus mulai bergerak sekarang, sebelum Raja Apalache mengumpulkan pasukan besar untuk menyerang kita atau membentuk sekutu dengan kerajaan lain. Kita tidak bisa menunda-nunda kesempatan untuk menaklukkan Apalache demi Raja kita.” Senor Cabeza de Vaca berbicara dengan nada seperti seorang budak lugu, namun gagasan yang dibawanya sungguh cemerlang. Ide yang tidak terlalu mencemaskan soal persoalan kapal yang terlalu dangkal. Beberapa kapten mengangguk setuju karena bendahara adalah seorang bijaksana dan berpengalaman yang berpengaruh di antara mereka.

Anggota dewan lainnya pun terdiam. Senor Narvaez berdehem. “Aku butuh seseorang untuk memimpin kapal-kapal ketika kami berjalan menuju Apalache. Jadi, jika Castillo lebih memilih untuk tidak ikut ekspedisi ke pedalaman….

Penghinaan dalam tawaran Gubernur ini benar-benar tidak disembunyikan.

“Don Panfilo,” Senor Castillo berkata, sikapnya betul-betul berubah. Dia berdiri, siap mempertahankan kehormatannya. “Tidak,” katanya lagi.

“Dia akan pergi,” Senor Dorantes memotong sambil memegang bahu temannya untuk menghentikan perkataan apa pun yang bisa menghancurkan reputasi Senor Castillo.

Gubernur akhirnya mengirim kapal-kapal ke Pelabuhan Panuco. Dia pun memimpin perwira dan serdadu, biarawan dan warga biasa, para kuli, dan budak menyusuri pedalaman La Florida yang buas—sebuah prosesi panjang 300 jiwa mencari kerajaan emas.

SEKELILING kami adalah tanah datar dan keras. Di tempat yang sinar matahari mampu menembus atap tetumbuhan, tanahnya berwarna hijau pudar dan terkadang kuning pucat. Suara derap kuda terserap permukaan tanah yang lembut, tapi suara mars serdadu yang keras dan kasar, derakan baju zirah perwira, gremecak suara peralatan yang dibawa warga biasa di dalam tas menggemakan kedatangan kami di samudra hijau nan rimbun. Di balik pepohonan, rerawa yang senyap menunggu, dikelilingi akar-akar yang menjalar dan reranting yang bergelantungan. Tiap melewati itu, kaki dan jari-jari kakiku penuh dengan lumpur abu-abu. Hampir membuatku setengah gila karena harus terus menggaruk-garuk

Suatu kali, saat kami melintasi sebuah rawa yang besar, seorang budak yang bernama Agostinho—laki-laki sama seperti diriku, yang terbawa oleh keserakahan dari Ifqriya ke La Florida—meminta bantuan dengan karung goni berat yang dia bawa di atas kepalanya. Aku berjalan mendekatinya, melewati bunga-bunga berwarna putih yang aroma wanginya memabukkan. Rawa di sekitar kami mengeluarkan gelembung udara. Jika kami berjalan semakin dalam, seakan-akan menarik napas kami dalam-dalam. Tanganku hampir saja menggapai karung goni ketika monster hijau keluar dari dalam air dan menerkam Agostinho. Sungguh, suara patah tulang itu begitu terasa dan darah mulai melumer di permukaan rawa. Agostinho lamat-lamat tenggelam. Aku berlari sekuat tenaga, keluar dari rawa. Jantungku dikuasai rasa takut yang sama ketika aku masih kecil, saat ibuku menceritakan kisah menyeramkan pada malam-malam pertama musim dingin—cerita yang mengisahkan anak-anak masuk hutan dan dimakan oleh makhluk-makhluk menyeramkan. Sampai juga aku di tanah kering, lalu terkulai. Di saat yang sama, monster itu lenyap sambil menghempaskan ekornya di permukaan rawa.

Di dalam bahasa orang-orang Castilla, sama juga dalam bahasaku, belum ada kata yang tepat untuk menyebut monster ini. Mereka hanya bisa menyebut monster itu dengan “Binatang Air dengan Kulit Bersisik”, sebuah istilah yang tak praktis, yang bakalan dipakai orang Spanyol ketika mereka berhasil menguasai La Florida. Mereka memberi nama apa pun di sekitar mereka, seakan-akan mereka adalah Tuhan Yang Maha Tahu atas semua yang ada di Taman Firdaus.

Berjalan kembali di tepi rawa, Gubernur bertanya, budak siapa yang mati itu dan apa isi karung goni yang dia bawa. Seseorang menjawab, “Budak yang malang itu milik salah satu warga. Karung goni berisi cerek, piring, dan peralatan.” “Baiklah,” jawab Gubernur dengan suara yang jengkel. “Hewan ini,” dia mengumumkan, “akan dinamakan El Lagarto karena menyerupai kadal besar.” Sebuah nama yang tak butuh dicatat oleh juru tulis. Setiap orang akan selalu terngiang-ngiang akan kebuasan hewan itu.

Namun, Lagartos bukanlah satu-satunya penghalang dalam ekspedisi Gubernur. Ransum yang dia bagikan tidak banyak: tiap orang hanya kebagian dua pound biskuit dan setengah pound daging babi asap, serta setiap budak hanya kebagian setengahnya. Jadi, mereka akan selalu mencari cara untuk menambah perbekalan makanan, biasanya dengan daging kelinci atau rusa, namun Gubernur buru-buru melarang mereka menggunakan panah atau musket untuk berburu. Dia minta mereka menghemat amunisi untuk mengantisipasi jika orang-orang Indian Apalache melakukan perlawanan. Aku tidak punya senjata. Aku hanyalah hamba yang berjalan kaki. Dengan begitu, aku bisa mencari sarang burung dan memakan telur-telur yang ada sarang itu. Kadang-kadang, aku mengunduh buah pohon palem, yang lebih kecil dan tebal dibandingkan di kampung halamanku. Atau, aku mencari buah beri yang tidak pernah dijumpai sebelumnya, mencicipi barang satu dua lalu memakannya dalam jumlah banyak.

Senor Dorantes, tentu saja, tidak punya banyak masalah. Sebab, dia menginvestasikan banyak uangnya di ekspedisi ini. Dia dan orang-orang seperti dirinya mendapat ransum dengan jumlah besar. Dia mengendarai dengan nyaman kudanya, Abejorro—kuda Andalusia abu-abu dengan mata tajam, berkaki gelap, dan kereta yang bagus—dan mencoba menghilangkan kebosanan dengan mengobrol bersama adiknya, Diego. Jika diamati seksama, bagaimanapun, dia lebih senang bersama Senor Castillo. Dia selalu menghentak kudanya agar selalu mengikuti kuda putih temannya itu. Sementara aku, seperti yang disuruh Senor Dorantes, selalu berjalan di belakangnya. Dia tidak merasa puas hanya berjalan di tanah menakjubkan ini dan sekadar mencari bagian dari kerajaan emas ini. Dia ingin menjadi saksi mata dari ambisinya. Dia merasa dirinya berada di pusat dari hal-hal baru dan luar biasa ini, jadi dia membutuhkan penonton, bahkan ketika dia hanya berjalan dalam barisan.

Baca Juga:  Sjair Java Bank Dirampok - Ferdinand Wiggers

Pagi yang cerah, kira-kira dua minggu setelah perjalanan dimulai, kami sampai di sebuah sungai yang lebar. Sinar matahari memantul dari permukaan sungai dan menyilaukan pandangan. Namun, jika kau berada di tepiannya, kau bisa merasakan arus sungai yang sangat deras dan bisa melihat dengan jelas hingga kau bisa menghitung kerikil hitam di dasar sungai. Gubernur mengumumkan bahwa sungai ini dinamakan Rio Oscuro lantaran begitu banyak bebatuan hitam di sungai itu. Namun, orang-orang bahkan tidak berhenti untuk mendengarkan. “Agua, por fin (Air, akhirnya),” kata mereka, “Gracias a Dios and Dejame pasar, hombre! (terima kasih Tuhan, biarkan aku menyeberangi, kawan!)”

Senor Dorantes turun dan aku menuntun Abejarro ke sungai. Aku juga membersihkan lumpur abu-abu di kakiku dan di sandal. Kukira kami akan beristirahat di tepi sungai untuk sementara waktu, tapi Gubernur memerintahkan para tukang kayu segera membuat rakit untuk mengangkut orang-orang yang tidak bisa berenang—bisa dikatakan, hampir semua orang tak bisa berenang—menyeberangi sungai. Saat itu adalah penghujung musim semi dan siang hari lebih lama dari biasanya. Namun, lembayung senja mulai kentara ketika rakit sudah siap dan regu pertama menyeberangi sungai.

Tepi sungai seberang lebih rata dan gersang, hanya beberapa rumput yang tumbuh di sana, tapi di ujung sana hamparan hijau sudah kentara, tanda alam liar akan kembali hadir. Angin sepoi-sepoi yang dingin berembus meriakkan ranting-ranting pinus di ujung horizon. Aku bisa merasakannya dari kemeja kasarku ketika meletakkan pelana kuda dan mengusap-usap lehernya. Para perwira dan serdadu—yang menyeberangi sungai pertama kali—meringkuk bersama. Gubernur sedang berbicara panjang lebar dengan komisaris, kepalanya dicondongkan ke arah biarawan pendek itu, seolah-olah dia hanya bisa mendengar dengan satu telinga. Senor Dorantes menunjukkan kepada Senor Castillo cara mengikat baju zirahnya agar tak melukai kulitnya. Dua orang berdebat tentang satu set pedal pelana kuda.

Lalu, sekelompok orang Indian muncul di balik semak-semak, diam-diam berkumpul di tanah lapang. Beberapa di antara mereka telanjang, tapi beberapa lagi menutupi bagian vitalnya dengan kulit binatang yang dicat motif biru dan merah. Mereka membawa senjata yang terbuat dari tulang binatang dan semacam senjata api yang terbuat dari kayu kering—tombak, panah, atau ketapel—tapi mereka tidak membahayakan kami. Kira-kira, mereka ada seratusan orang. Masing-masing pihak bersepandang penuh penasaran seperti anak pertama kali menatap bayangan di cermin. Lalu, tanpa tergesa-gesa, Gubernur menunggangi kuda dan para perwira juga melakukan hal sama. Para budak mendirikan tiang bendera yang sedari tadi tergeletak. Panji-panji Gubernur berkibar tertiup angin sepoi-sepoi.

“Albaniz,” Gubernur memanggil.

Sebagai notaris resmi ekspedisi ini, selain bertugas menyiapkan semua kontrak dan petisi, Senor Albaniz juga bertanggung jawab mencatat secara kronologis perkembangan selama beberapa bulan. Kehadirannya saat ini, saat pertama kali kami berjumpa dengan bangsa Indian, mengingatkanku pada ayahku yang memimpikan aku menjadi seperti dirinya, seorang notaris publik, saksi dan pencatat kejadian-kejadian dalam kehidupan orang lain. Aku merasa keinginan ayahku yang tak kugubris dan tak kupedulikan beberapa tahun lalu takkan pernah lenyap dari diriku akan selalu terngiang-ngiang ke mana pun aku pergi, bahkan di tanah asing ini. Namun, pada akhirnya, impian ayahku pun terwujud di sini, di tempat aku berdiri, untuk alasanku sendiri dan terhubung dengan ekspedisi Narvaez.

“Sampaikan pada orang-orang biadab itu,” ujar Gubernur, “antarkan aku ke Apalache.” Dia merasa tidak pantas berbicara langsung dengan orang-orang Indian. Dengan tampang seperti seorang pelayan yang terpilih menjalankan tugas yang membosankan, Senor Albaniz turun dan melangkah maju. “Itu,” dia menunjuk seseorang di belakangnya, “adalah Panfilo de Narvaez, Gubernur baru tanah ini berdasarkan titah Yang Mulia. Dia ingin pergi ke Kerajaan Apalache dan bertemu pemimpin di sana untuk membahas hal-hal sangat penting bagi negara kami. Dia ingin kau mengantarkan ke sana.”

Apakah orang-orang Indian tidak paham perintah notaris atau menolak menuruti, aku tak bisa menebak. Mereka tetap membisu. Aku mencari pemimpin mereka, namun aku tidak bisa memastikan apakah orang yang mengenakan penutup kepala dari bulu binatang atau yang memiliki banyak tato.

“Antarkan kami ke Kerajaan Apalache,” Senor Albaniz berkata. Sekarang nadanya lebih tinggi, tangannya mengatup di sekitar mulut sehingga suaranya terdengar hingga jauh. Salah satu orang Indian duduk, senang menjadi tontonan orang yang mengenakan baju zirah dan topi berbulu, merengek dan menggerakkan tangan di hadapannya.

“Kerajaan Apalache!!!” Senor Albaniz berteriak lagi.

Saat itu, rakit telah kembali membawa lebih banyak orang dari seberang: perwira, warga biasa, budak, dan tawanan. Mereka segera bergabung dengan kami, tanpa berbicara. Sekarang, jumlah kami melebihi orang-orang Indian.

“Sudah cukup, Albaniz,” kata Gubernur. Ia mencari sesuatu di belakangnya. “Bawa ke sini para tawanan.”

Perintah itu meluncur dan perwira yang berjalan kaki membawa keempat tawanan. Lantaran aku selalu bersama majikanku berada di barisan depan iring-iringan, aku tidak melihat para tawanan semenjak berangkat dari Portillo, kampung nelayan. Mereka bergerak maju, tangannya terikat tali yang ditambatkan di sabuk serdadu itu. Goresan cambuk membekas di tubuh mereka dan perut mereka mengurus karena paling sedikit mendapat jatah makanan. Salah satu tawanan menunduk dengan cara yang menurutku tidak natural hingga aku sadar lubang hidungnya ternyata tidak berada pada tempat yang semestinya. Ingus dan darah mengeras di antara lubang hidung. Lalat mengerubungi tanpa henti. Dia tak bisa mengusir karena tangannya terikat. Aku mengalihkan dari pemandangan yang mengerikan itu, seolah-olah aku menyaksikan peristiwa yang seharusnya tidak kulihat.

Tawanan itu berdiri di samping Senor Albaniz, yang berbicara langsung dengan salah satu di antara mereka. “Pablo,” kata Senor Albaniz. “Beri tahu mereka untuk mengantarkan kami ke Apalache.”

Laki-laki yang dipanggil Pablo oleh Senor Albaniz— yang sebelumnya berambut abu-abu panjang kini telah dicukur habis dan punggungnya penuh dengan luka—mulai berbicara dengan bahasa ibunya, namun tiba-tiba tombak meluncur dari arah orang-orang Indian. Seketika, perwira yang memegang tawanan itu roboh, memegangi tenggorokannya. Anak panah menancap di lehernya, menembus. Perwira itu menganga, satu-satunya yang keluar dari mulutnya adalah raungan kesakitan dan darah yang melumer. Sekarang, orang-orang Indian mulai melonglong, longlongan yang membuatku ketakutan.

“Ya Tuhan,” desis Senor Albaniz, berbalik dan mencari kudanya.

“Andale!” teriak Gubernur.

Senor Dorantes mengentak kudanya dan aku merasakan kibasan ekor Abejorro di dadaku. Aku pun berbalik, mencari perlindungan, meski tidak ada tempat bersembunyi. Aku mencoba berlari menyeberangi sungai, namun kerumunan orang-orang Castilla mendorongku ke arah berlawanan. Tubuh mereka menahan diriku dengan penuh kekuatan. Aku pun tak punya pilihan selain berlutut. Udara di atas kepalaku penuh dengan suara letupan musket. Salah satu perwira di hadapanku, remaja kira-kira 15 atau 16 tahun, mengangkat senjata dan menembak, namun justru mengenai salah satu kawannya. Aku bisa mendengar orang Indian di belakangku merengsek maju. Longlongannya yang tak masuk akal tidak lagi membutuhkan terjemahan apa pun.

Entah bagaimana, aku bisa menemukan jalan menuju ke tumpukan perkakas, peti penuh peralatan tukang kayu, dan aku berlindung di belakang peti-peti itu. Aku akan aman di sini, pikirku. Lalu, aku mendengar suara tak wajar. Di balik semak belukar di sebelah kiriku, kira-kira sepuluh kaki dari tempatku, seorang warga biasa bertarung dengan orang Indian. Dia menggunakan sekop yang coba ia empaskan ke arah orang Indian. Dia meleset. Orang Indian itu tetap tenang. Dia ayunkan kapaknya dari bawah. Lengan warga itu terpenggal tepat di sikunya. Ayunan berikutnya tepat menyasar kepala dan warga itu tersungkur, kedua matanya masih terbuka.

Orang Indian berbalik arah, mencari musuh lain. Aku menunduk di balik tumpukan peti. Dia tampak terkejut ketika melihatku—orang hitam di antara orang kulit putih. Warna kulitku yang berbeda dengan yang lain membuatnya terhenti. Dan aku, seperti yang kukatakan, tidak mempunyai senjata. Dia terlihat tidak yakin, apakah membiarkan atau membunuhku, tapi dia memilih yang terakhir. Dia melangkah maju dengan mengacungkan kapak. Saat dia menebaskan kapak, aku berguling ke kiri dan dia terjatuh di atas tubuhku. Berat badannya tertumpu di pahaku, rambut panjangnya jatuh di mataku dan membutakanku. Aku bisa merasakan tubuhnya—keringatnya, napas yang penuh amarah, dan sabuk ular yang dikenakannya. Kami bergulat di tanah dan aku menjerat rahangnya dengan tanganku, meski telapak tanganku terpeleset dari wajahnya yang tak berambut. Dia memukulku. Aku memukul balik. Dia berhasil berdiri kembali dan mencabut kapaknya. Aku merasa waktuku akan tiba. Namun, Tuhan berkehendak lain, pelor musket melumpuhkannya. Dia tumbang dan kapaknya terjatuh di kakiku, meninggalkan sayatan kecil di tulang keringku. Aku meraung. Aku tidak ingat apa yang kukatakan. Aku tidak ingat apa pun. Hanya berteriak karena berhasil selamat. Lalu, aku mencabut senjata itu, mencoba mengatasi ketakutanku. Aku putuskan untuk membela diri.

Aku bangkit dan mengendap-endap di balik tumpukan peti, mengintip medan perang. Serdadu dengan baju zirah menembakkan panah dan musket, lalu orang Indian melawan balik menggunakan tombak dan panah. Beberapa orang Indian berhasil melumpuhkan perwira Castilla—seorang Castilla dengan helm berkarat terjatuh dari kuda, tangannya memegangi tombak yang tertancap di pahanya—namun, kebanyakan orang Indian itu cedera parah. Aku ingat salah satu di antara mereka memegangi ususnya yang menjurai. Satunya lagi berteriak ketika perwira menghempaskannya dan menghancurkan tubuhnya dengan gada.

Aku bukanlah orang yang akrab dengan senjata, tapi aku bisa lihat dengan jelas bahwa pertempuran itu berat sebelah. Orang-orang Indian tidak punya harapan menang. Segera aku mencari-cari majikanku di tanah lapang berdebu—lelaki tempat nasibku terikat. Di mana dia? Lalu aku menemukannya, di balik barisan pemanah, menunggangi kudanya. Dengan pedang, dia menebas orang Indian hingga darahnya bermuncratan. Lelaki itu tumbang dan Senor Dorantes menginjak-injak tubuh lelaki saat beranjak menuju musuh berikutnya. Penunggang kuda lain melakukan hal sama. Mereka menghancurkan orang-orang Indian di hadapannya dengan serangan yang kejam.

Lalu, suara terompet menggema dan orang-orang Indian mulai mundur. Matahari mulai terbenam dan sangat susah bagiku untuk melihat wajah-wajah yang tersungkur di tanah. Ketika aku berjalan, aku hanya bersandar pada suara perwira yang menghempaskan orang Indian, bau debu, dan asap dibandingkan penglihatanku sendiri. Ya, Tuhan, gumamku, apa yang telah kulakukan di tanah asing ini, di tengah-tengah pertempuran dua bangsa asing? Bagaimana bisa aku sampai di sini? Aku masih berdiri, tertegun, dan tak bergerak ketika obor dinyalakan dan orang-orang mulai memanggil. Warga dan biarawan mulai berhamburan dari tempat persembunyian—peti, pohon, atau bahkan mayat. Di belakang kami, Rio Oscura bergemuruh, mengalir deras ke samudra.

Laila Lalami lahir di Rabat Maroko pada 1968. Ia adalah pengarang Maroko-Amerika. Setelah lulus sekolah menengah, ia memutuskan pindah ke Inggris dan mendapatkan gelar Master di bidang Linguistik. Lalu, ia melanjutkan studi Linguistik hingga meraih gelar doktor. Novel terbarunya, The Moor’s Account (2014), mendapatkan sambutan baik dari kritikus sastra. Novel itu juga masuk finalis Pulitzer Prize pada 2014. “Hikayat La Florida” dalam buku ini merupakan bagian pertama dari novel The Moor’s Account.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here