kanguru
dibaca normal 4 menit

ADA EMPAT KANGURU di dalam kandang—satu pejantan, dua betina, dan satu bayi kanguru yang baru saja dilahirkan. Aku dan pacarku berdiri di depan kandang. Kebun binatang ini tidak begitu terkenal, dan karena ini hari Senin pula, jumlah binatang di kebun binatang jadi lebih banyak dibanding para pengunjung. Ini tidak berlebihan. Sungguh memilukan.

Tujuan kami adalah melihat bayi kanguru. Maksudku, apalagi yang akan kami lakukan saat berkunjung ke kebun binatang?

Sebulan sebelumnya, di rubrik surat kabar lokal, kami membaca berita pengumuman kelahiran bayi kanguru dan sejak saat itu, kami menunggu dengan sabar waktu yang tepat untuk berkunjung. Bagaimanapun juga, hari yang tepat itu tak kunjung tiba. Kadang, pagi hari hujan dan tentu saja, hujan bertambah parah keesokan hari. Dan tentu saja pula, jalanan sudah pasti berlumpur dan angin bertiup begitu gila dalam dua hari berturut-turut. Suatu pagi, pacarku sakit gigi dan pagi berikutnya, aku harus disibukkan dengan urusan yang harus kutangani di pusat kota. Aku tidak berusaha bijaksana, tapi aku berani bilang: begitulah kehidupan.

Bagaimanapun juga, sebulan berlalu begitu saja.

Satu bulan bisa berjalan begitu cepat. Bahkan, aku tidak bisa mengingat apa saja yang sudah kulakukan selama sebulan. Terkadang, aku merasa sudah melakukan banyak hal. Terkadang pula, aku tidak menyelesaikan apa pun. Dan, ketika tukang loper koran datang menagih biaya langganan bulanan, aku baru tersadar masa satu bulan sudah berlalu begitu saja.

Ya, begitulah kehidupan.

Akhirnya, pagi hari yang dinantikan bagi  kami untuk mengunjungi bayi kanguru tiba juga. Kami bangun pukul enam, membuka tirai jendela, dan bersemangat karena hari itu adalah hari sempurna untuk mengunjungi bayi kanguru. Kami pun bergegas mandi, lalu sarapan, memberi makan kucing, mencuci pakaian, mengenakan topi agar terlindung dari terik matahari, dan berangkat.

“Menurutmu, apakah bayi kanguru masih hidup?” tanya pacarku di kereta.

“Ya, tentu saja. Tak ada berita yang mengabarkannya sakit. Jika bayi kanguru mati, aku yakin kita sudah membacanya di berita.”

“Mungkin saja tidak meninggal, tapi sakit dan sekarang dirawat di rumah sakit.”

Baca Juga:  Nyonya Crasthorpe - William Trevor (Bagian 1)

“Ya, menurutku, jika itu terjadi, pasti sudah diberitakan juga.”

“Tapi, bagaimana kalau tiba-tiba dia depresi dan bersembunyi di pojokan kandang?”

“Bayi depresi?”

“Bukan bayinya. Induknya! Mungkin saja dia trauma dan bersembunyi dengan bayinya di ruang gelap.”

Perempuan sungguh memikirkan semua kemungkinan yang mungkin terjadi, pikirku. Trauma? Trauma seperti apa yang bisa menimpa kanguru?

“Kalau aku tidak bisa melihat bayi kanguru hari ini, kupikir aku tidak akan mendapatkan kesempatan lain. Tidak akan pernah,” ujarnya.

“Kurasa tidak.”

“Maksudku, kamu pernah melihat sebelumnya?”

“Belum, tidak maksudku,” jawabku.

“Kamu yakin bakal dapat kesempatan lain?”

“Aku tidak tahu.”

“Itu yang kukhawatirkan.”

“Ya, tapi lihat,” aku menenangkan, “aku tidak pernah melihat jerapah melahirkan atau paus berenang, jadi kenapa terlalu memikirkan bayi kanguru?”

“Karena itu bayi kanguru,” selanya. “Itu sebabnya.”

Aku menyerah dan mulai membalik halaman surat kabar. Aku tidak pernah sekalipun menang berargumen dengan perempuan.

KANGURU itu, tentu saja, masih hidup dan sehat. Dan, pejantan (atau mungkin saja betina) terlihat lebih besar dibandingkan foto di koran, bahkan ketika ia melompat, ia bisa melampaui pagar kandang kanguru. Kanguru itu tidak terlihat seperti bayi, lebih tepatnya kanguru kecil. Pacarku kecewa. “Dia tidak bayi lagi,” katanya kecewa.

“Tentu saja dia masih bayi,” jawabku menghiburnya.

Kurangkul pinggangnya dan dengan lembut membelainya. Ia menggelengkan kepala. Aku ingin menghiburnya, namun apa pun yang akan kukatakan takkan mengubah kenyataan bahwa bayi kanguru sudah tumbuh besar. Jadi, aku tetap diam.

Aku pergi ke stan makanan dan membeli dua es krim cokelat dan ketika aku kembali, ia masih berdiri di depan kandang, menatap kanguru.

“Sudah tidak bayi lagi,” katanya mengulangi.

“Kamu yakin?” tanyaku, sambil menyodorkan satu es krim.

“Bayinya pasti berada di dalam kantong ibunya.”

Aku mengangguk sambil menikmati es krim.

“Tapi, dia tidak berada di kantongnya.”

Kami mencoba mencari ibu kanguru. Si bapak dengan mudah bisa dikenali—dia lebih besar dan paling tenang dari mereka berempat. Dia hanya diam, menatap dedaunan di dalam wadah pakan seperti seorang komposer yang mulai kehilangan talenta. Kanguru lainnya adalah betina, serupa dalam bentuk, warna, dan ekspresi. Salah satu di antara mereka pasti ibu bayi kanguru.

Baca Juga:  Yesterday - Haruki Murakami (Bagian 2, Selesai)

“Salah satu di antara mereka pasti si ibu, dan lainnya bukan,” kataku berkomentar.

“Hmmm.”

“Jadi, mana di antara mereka yang bukan ibunya?”

“Pertanyaan yang sulit,” jawabnya.

Tanpa sadar, bayi kanguru melompat-lompat mengelilingi kandang, sesekali berhenti mengais-ngais kotoran tanpa alasan jelas. Dia atau ia pasti penasaran dengan banyak hal sehingga bersejingkat ke sana-kemari. Bayi kanguru melompat di dekat ayahnya berdiri, memakan sedikit daun, menggali kotoran, mengganggu para betina, berguling-guling di tanah, lalu berdiri dan melompat-lompat.

“Bagaimana bisa ya kanguru melompat begitu cepat?” tanya pacarku.

“Biar bisa lari dari musuhnya.”

“Musuh?”

“Manusia,” jawabku. “Manusia membunuh mereka dengan bumerang dan memakannya.”

“Kenapa bayi kanguru bersembunyi di kantong ibunya?”

“Biar mereka bisa lari cepat. Bayi kanguru tidak bisa lari cepat.”

“Jadi, mereka melindungi?”

“Ya,” jawabku. “Mereka melindungi anak-anak mereka.”

“Berapa lama mereka melindungi anak-anak seperti itu?”

Aku tahu, seharusnya aku membaca habis tentang kanguru di ensiklopedia sebelum kami melakukan perjalanan ini. Rentetan pertanyaan ini sebenarnya sudah bisa diprediksi.

“Sebulan atau dua bulan, kira-kira.”

“Ya, bayi itu baru berumur sebulan,” ujarnya, menunjuk bayi kanguru. “Jadi, seharusnya, dia masih berada di kantong induknya.”

“Hmmm,” gumamku. “Kurasa juga begitu.”

“Menurutmu, berada di kantong induk akan menyenangkan?”

“Ya, pasti begitu.”

Matahari sudah berada di titik tertinggi sekarang dan kami bisa mendengar teriakan anak-anak yang berenang di kolam renang di dekat sini. Awan putih musim panas melayang-layang di udara.

“Kamu ingin makan sesuatu?” tanyaku padanya.

Hot dog,” jawabnya, “dan Cola.”

Seorang mahasiswa sedang bekerja di stan hot dog, yang seperti minivan. Dia punya boom box dan Stevie Wonder dan Billy Joel mengalun merdu saat aku menunggu hot dog dimasak.

Ketika aku kembali ke kandang kanguru, ia berteriak, “Lihat!” dan menunjuk ke salah satu kanguru betina. “Kamu lihat? Dia berada di dalam kantong!”

Dan tentu saja, bayi kanguru itu bersembunyi di dalam kantong ibunyaanggap saja kanguru betina itu adalah ibunya. Kantong itu sudah terisi dan sepasang telinga kecil yang runcing serta ekor kecil menyembul keluar. Itu adalah pemandangan yang menakjubkan dan sungguh membuat perjalanan kami terbayar sempurna.

Baca Juga:  Pemilu – Chinua Achebe

“Pasti sangat berat dengan bayi di dalam,” ujarnya.

“Jangan khawatir, kanguru itu kuat.”

“Sungguh?”

“Tentu saja. Itulah mengapa mereka bisa bertahan hidup.”

Bahkan, dengan sinar matahari yang begitu menyengat, ibu kanguru itu tak berkeringat. Ia kelihatan seperti seseorang yang habis berbelanja sore di supermarket yang supersibuk di Aoyama dan beristirahat di kedai kopi terdekat.

“Ia melindungi bayinya kan?”

“Yap.”

“Aku penasaran, apakah bayi itu tidur.”

“Mungkin.”

KAMI MENYANTAP hot dog, minum Cola, dan meninggalkan kandang kanguru.

Ketika kami pergi, ayah kanguru masih berdiri di depan wadah pakan seperti mencari sesuatu catatan yang telah hilang. Ibu kanguru dan bayinya sudah menyatu, beristirahat dalam pusaran waktu, sementara kanguru betina lainnya melompat-lompat mengelilingi kandang seolah sedang mengejar ekornya sendiri.

Sepertinya, hari itu akan menjadi hari yang hangat, hari terhangat pertama yang kami lalui dalam beberapa waktu.

“Hei, kamu mau minum bir di suatu tempat?” tanyanya.

“Ide bagus,” jawabku.

Sumber naskah: “A Perfect Day for Kangaroo” dalam Blind Willow, Sleeping Woman.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here