dibaca normal 9 menit

SAAT AKU MEMBERESKAN tumpukan-tumpukan buku di gudang belakang rumah, tiba-tiba aku teringat dengan kawan lamaku. Ini karena aku tak sengaja menemukan buku yang ia berikan sebelum aku keluar dari pekerjaan pertamaku. Sudah cukup lama aku mencari buku ini. Bahkan, aku sempat berpikir bahwa buku ini mungkin saja menjadi satu dari sekian banyak buku yang pernah kupinjamkan dan tak pernah kembali.

Sudah sangat lusuh dan berdebu. Aku bisa mencium aroma debu dan mungkin sedikit bau lembab bercampur kertas tua. Ini bukan buku cetakan pertama, namun rasanya akan cukup sulit sekali untuk menemukan edisi cetakan buku ini. Yang terbaru banyak dijual, tapi yang lama, Kau harus menunggu keberuntungan untuk mendapatkannya.

Kusapu debu-debu yang menempel dengan tangan kananku. Bukan hanya debu, aroma ingatan menempel erat dalam buku itu. Tidak seperti sampul buku baru, tak ada cetak timbul maupun gambar menawan. Bagiku, ini lebih menawan, meski hanya ilustrasi sulur bunga yang tak lagi tampak dan tulisan judul buku yang makin kabur karena usia.

Di halaman judul, nama pemilik pertama tertulis beserta tanggal buku itu dibeli. Lalu, di sebelah nama pemilik pertama, kawanku menuliskan namanya, tanggal dan tempat ia membeli, serta sekalimat yang—dalam hematku—menunjukkan kenapa ia harus membeli buku itu.

Milik Hamzanama. (Terminal Senen, 28/2/2012).

“Kekasihku! Inikah bunga sejati yang tiadakan layu?” – A.H.

KAMI BEKERJA di salah satu perpustakaan di Ibu Kota. Letaknya tak jauh dari stasiun kereta listrik dan dalam satu kompleks taman kesenian Ibu Kota. Aku mendapatkan pekerjaan ini di tahun terakhirku menjalani perkuliahan.

Kata dosen pembimbingku, perpustakaan itu membutuhkan satu tenaga lepas. “Pekerjaan itu cocok untukmu,” katanya ketika kami sedang membicarakan tugas akhirku, “Tapi, jangan mengharapkan honor. Jika kau di sana, kau bisa dengan tenang menyelesaikan tugas akhir sembari bekerja.”

Aku menuruti sarannya. Ia memberiku nomor telepon pengurus perpustakaan itu kepadaku. Malamnya, dosenku mengirim pesan agar lusa datang pukul sembilan pagi di perpustakaan.

Lima menit sebelum pukul sembilan, aku sudah sampai di perpustakaan itu. Aku pernah mengunjungi tempat itu ketika masih berstatus mahasiswa baru. Jadi, aku tak terlalu asing dan juga tak harus tersesat menuju ke sana.

Perbincangan dengan kepala yayasan perpustakaan tidak terlalu lama. Ia menjelaskan tentang pekerjaan yang bakal kulakukan, pukul berapa harus datang, istirahat, dan pulang. Ia kembali meyakinkan diriku, sebab honor yang bakal kuterima di sini sangat kecil.

Aku tak memikirkan honor, kataku. Aku menerima pekerjaan itu. Lagi pula, ongkos transportasi dari tempatku tinggal hanya dua ribu. Pergi pulang hanya habis empat ribu. Yayasan pun telah menyediakan makan siang.

“Semenjak Pak Hans masih hidup, ia selalu mengajak kami—para pegawai—untuk makan bersama. Tradisi itu selalu kami jaga. Soal makan siang, kamu tidak perlu khawatir,” ujarnya.

Aku mengangguk. Ia memperkenalkan staf yang bekerja di sana. Hanya ada beberapa orang, tak genap sampai sepuluh. Rata-rata berumur paruh baya.

Di ruang tengah, tumpukan koran-koran lama menanti untuk dikliping dan disusun berdasarkan nama pengarang. Hanya dua sampai tiga orang yang mengerjakan. Umurnya kira-kira 50-an awal.

Sampai di meja koleksi, aku dikenalkan dengan kawanku itu. Barangkali, ia adalah pegawai termuda di sini. Lalu, ia menjelaskan sedikit cara kerja perpustakaan ini dan memberi tahu lokasi koleksi utama.

“Tugasmu hanya menerima permintaan pengunjung. Ia akan menyebut nama seorang pengarang, setelah itu kamu mencari di ruang koleksi. Urutan koleksi sudah ditata berdasarkan abjad nama pengarang. Tidak seperti perpustakaan lain yang menggunakan nomor panggil,” ujar ibu kepala yayasan.

Umurnya mungkin baru menginjak 50 tahun. Ketebak, mereka yang ada di sini dari awal memang sudah lama bekerja di sini.

“Oh ya, selain petugas, pengunjung tidak boleh masuk. Ada saja pengunjung yang ingin melihat langsung. Biasanya, mereka itu baru pertama kali ke sini. Jadi, jelaskan bagaimana cara mereka mengakses koleksi. Satu lagi, koleksi di sini tak boleh dipinjam. Setelah mereka selesai, mereka harus mengembalikan ke meja ini. Lalu, kamu tata kembali ke rak semula,” jelasnya. “Mengerti kan?”

Aku mengangguk.

“Oh ya, kata Mas Wahyu—dia adalah nama dosen pembimbingku—kamu sedang menyelesaikan tugas akhir? Kamu boleh sambil mengerjakan di sini. Di sini juga banyak koleksi yang berkenaan dengan tugas akhirmu.”

Aku kembali mengangguk.

“Kamu bisa mulai bekerja Senin depan,” ujarnya, “Mau di sini dulu atau pulang?”

Kukatakan pada ibu kepala yayasan bahwa aku ada acara siang nanti di kampus. Aku memohon diri dan berpamitan. Ia bilang titip salam ke Mas Wahyu.

Baca Juga:  Di Dalam Hatinya, Sebuah Lagu Tak Sengaja Berputar

TAK BUTUH lama aku mengenalnya. Selain karena kami berada dalam meja yang sama, ia juga tipe seseorang yang mudah berbicara.

Hamzanama, begitulah ia menyebut namanya.

“Kau bisa memanggilku Hamza,” ujarnya.

Bagiku, di era sekarang, nama Hamzanama sangat asing dan aneh. Bahkan, saat itu aku baru kali pertama mendengar “Hamzanama”.

Pertanyaan tentang namanya kusimpan hingga satu bulan lebih aku bekerja di perpustakaan itu. Hingga kami sudah lumayan akrab, aku pun berani menanyakan perihal nama asing itu.

Sebab, menurutku, dari perawakannya, nama Hamzanama tak cocok. Lagi pula, nama itu seperti datang dari negeri asing. Jauh. Sangat jauh sekali. Seperti sebuah negeri dongeng. Sedangkan, perawakannya sangat Indonesia, sangat Sumatera bahkan.

“Ham-za-na-ma. Jarang sekali orang Indonesia bernama itu,” kataku suatu kali sambil memancing perbincangan.

Ia sedikit terkekeh. “Bagaimana kau ini? Kau kan anak sastra, tingkat akhir pula, masak kau tak pernah mendengar Hamzanama.” ujarnya menimpali.

Aku menggelengkan kepala. “Tapi, aku benar-benar tak tahu. Nama itu asing,” kataku lagi. “Nama sebenarnya?”

“Apa pentingnya itu nama sebenarnya atau nama samaran.” Ia mengambil sebatang rokok.

Saat itu, setelah kami selesai makan siang bersama pegawai lainnya, kami memang biasa menyesap sebatang rokok di halaman belakang.

“Kau tahu Hikayat Amir Hamzah? Jangan-jangan kau tidak tahu juga?” Ia mulai menyalakan rokoknya.

“Aku pernah dengar. Tapi, aku tak pernah membaca. Ya, aku memang ambil jurusan sastra, tapi aku tak meminati sastra klasik. Jadi, aku tak mendalaminya. Aku tahu sedikit, itu pun cuma rangkuman.”

“Kau anak sastra yang payah. Kalah dengan lulusan SMA.”

“Tapi, kau sudah lama bekerja di sini. Wajarlah kau lebih tahu,” timpalku.

“Bisa saja berkelit.” Ia kembali mengembuskan asap rokoknya. Memain-mainkan batang rokoknya di jari-jarinya.

“Waktu kecil, ibuku selalu mendongengkan Hikayat Amir Hamzah sebelum tidur. Tentu dengan bahasa sekarang. Kadang juga diselingi dengan cerita Seribu Satu Malam. Tepatnya, ibu selalu menceritakan kepada kami berdua sebelum kami tidur.”

“Kami berdua? Kau punya saudara?”

“Iya. Aku punya seorang kakak dan seorang adik. Dengan kakak perempuanku jaraknya jauh. Lima tahun. Jadi, waktu kecil, kakakku sudah punya kamar sendiri. Sementara, aku dan adikku hanya berjarak satu menit.”

“Satu menit?” kataku mengulangi dua kata terakhirnya.

“Aku tidak tahu persisnya. Namun, aku selalu bilang ke adikku bahwa aku adalah kakaknya, walau satu menit.” Ia mengembuskan asap rokok. “Kami saudara kembar. Identik. Sayangnya, sikap dan sifat kami tak seidentik muka kami. Kata saudara-saudaraku, sikap dan sifat adikku mirip ayahku. Aku mirip ibuku. Itu dikatakan saat aku masih kecil. Tapi kupikir itu tidak benar. Aku merasa lebih mirip ayahku.”

Ia mematikan rokoknya. Melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Lalu, ia mengajakku kembali bekerja, sebab sudah ada pengunjung yang menunggu.

Hari itu, pengunjung perpustakaan lumayan ramai dari biasanya. Mereka datang berkelompok-kelompok. Ada enam orang siswa sekolah menengah. Tiga orang dalam satu kelompok sedang diberi tugas tentang sastra angkatan 45. Satu kelompok lagi, dengan jumlah yang sama—kutebak mereka dari sekolah yang sama—sedang meneliti sastra angkatan 66.

Masing-masing dari mereka telah mempunyai laptop. Mereka memilah-milah kliping-kliping tentang topik-topik itu dan beberapa buku yang memang susah didapatkan.

Ngomong-ngomong, perpustakaan ini memang sangat lengkap untuk koleksi sastra. Semua lantaran Pak Hans rajin mendokumentasikan tulisan-tulisan pengarang, baik di buku maupun surat kabar, yang tersebar.

Semua yang ada di perpustakaan itu hampir 90 persennya merupakan koleksi Pak Hans. Sayangnya, lantaran dikelola swadaya oleh yayasan, nasib perpustakaan ini setengah miris. Hanya pengabdian yang membuat mereka bertahan di sini.

Selain siswa sekolah menengah, beberapa di antaranya adalah mahasiswa dan peneliti lepas. Kadang, penulis-penulis tua mengunjungi perpustakaan itu.

Ya, tempat itu memang menjadi museum karya penulis tua sekaligus tempat mereka bernostalgia. Belum tentu, penulis tua itu punya dokumentasi karya mereka. Bila mereka ingin bernostalgia, mereka akan berkunjung. Tempat itu juga kadang menjadi ajang reuni para penulis tua.

Kadang pula, perpustakaan ini menjadi tempat peluncuran buku atau bedah buku. Dari situlah, perpustakaan ini mendapatkan dana operasional, selain juga dari biaya fotokopi yang harus dibayarkan pengunjung bila mereka ingin memiliki bahan-bahan untuk tugas kuliah atau sekolah.

SELEPAS KERJA, kadang aku mampir ke tempat tinggal Hamza, sembari menunggu kereta sedikit lega. Kadang juga aku menginap di tempatnya. Kemalaman karena asyik berdiskusi.

Ia tinggal di kampung di belakang kompleks taman kesenian. Untuk sampai di rumah kosnya, kau harus melewati jalan sempit berkelok-kelok. Aku sempat bertanya, kenapa ia memilih tinggal di tempat itu. Hidup di Ibu Kota kau harus kreatif, jawabnya. Salah satunya kreatif memilih tempat tinggal murah.

Baca Juga:  Kawanku Seorang Teroris

Kamar kosnya hanya seukuran 3 x 3 meter. Kamar mandi berada di luar. Perkakas yang ia miliki hanya ada satu boks lima susun kecil tempat bajunya, meja kecil, kasur yang cukup untuk satu orang, tikar, dan kipas angin kecil yang sebenarnya cuma berfungsi untuk memutar udara di dalam ruangan. Bisa dibayangkan bila tak ada kipas kecil itu, udara bakal sumpek, apalagi bila asap rokok sudah mengepul.

Untuk ukuran lulusan sekolah menengah, koleksi bukunya lumayan banyak. Dan aneh-aneh. Mungkin karena ia sudah lama bekerja di perpustakaan, ia jadi tahu banyak tentang buku-buku.

Ia punya buku Hikayat Amir Hamzah, Arus Balik karya Pramoedya, dan Trilogi Roro Mendut-nya Romo Mangun. Tiga buku tebal yang semuanya bertemakan sejarah. Lulusan SMA sudah tahu buku seperti ini, gumamku dalam hati. Sisanya macam-macam buku, dari buku puisi, cerpen, biografi, dan anehnya ada buku perguruan tinggi jurusan ilmu hukum.

Buku-buku sastra dan biografi berserakan tak keruan. Cuma buku hukum saja yang rapi di sudut ruangan di dalam kardus kecil. Tanda bahwa buku itu lama tak dibaca.

“Selera bukumu berat-berat juga,” kataku. “Bahkan, ada buku untuk mahasiswa hukum.”

Ia hanya terkekeh. “Ketahuan juga,” katanya. “Dulu. Dulu sekali, aku memang pernah kuliah di jurusan hukum,” ujarnya lagi. “Setahun. Setelah itu aku kabur.”

“Kabur?”

“Aku tidak suka. Jurusan itu dipilih oleh ayahku. Baru setahun berjalan, aku memutuskan untuk tidak lagi kuliah.”

Aku terdiam.

“Toh, aku merasa aku takkan bisa melakukan apa-apa dengan ilmu hukum bila nantinya aku lulus. Buat apa melanjutkan,” katanya. Ia membuat jeda. Mengambil satu buku. Seakan-akan membaca, namun tetap ingin berbincang.

“Aku lebih suka hidup seperti ini. Bekerja di perpustakaan. Dengan begitu aku bisa membantu mereka yang membutuhkan bacaan. Aku juga bisa membaca sesuka hati. Tak perlu memikirkan yang berat-berat. Hidup sudah terlalu berat,” imbuhnya.

“Tapi, bacaanmu berat,” kataku.

“Tidak juga. Itu karena aku sudah lama bekerja di perpustakaan. Apalagi, perpustakaan itu memang khusus mengoleksi buku sastra. Jadi, ya, ikut-ikutan baca.” Ia menutup buku yang ia ambil. Lalu menjelaskan kenapa menyukai buku itu.

“Nah, kalau buku ini beda,” ujarnya sambil menyodorkan buku Hikayat Amir Hamzah yang sangat tebal. “Buku itu selalu mengingatkan pada ibuku. Kebanyakan dongeng tidur yang ia ceritakan dari buku itu.”

Hamza mendekatkan asbak, mengambil rokok mild dan korek, lalu menyalakan. Ia mengisap pelan-pelan. Mengembuskan pelan-pelan. Asap membumbung dan menyebar.

“Kau tidak rindu ibumu?” tanyaku.

Hening. Kipas angin kecil segera menyapu asap-asap itu.

ADA SESUATU yang agak berat, yang terpendam dalam benak Hamza. Bagiku, apa yang ia ucapkan seperti lari dari sesuatu. Semacam masalah yang cukup berat dan karena itulah ia memilih meninggalkan segalanya. Termasuk dengan ikatan masa lalu.

Aku seperti bercermin dengan diriku.

Ruang-ruang masa lalu sempat menyeretku ke dalam lubang hitam yang menganga. Menyedot hingga tubuhku berasa tak bertulang, melar, dan terkadang menjadi cairan. Bahkan hingga saat ini, aku masih merasakan kengiluan.

Aku meninggalkan tugas akhirku. Hampir dua tahun. Aku menghilang. Meninggalkan semua yang menempel dalam diriku. Orang tua, perkuliahan, dan sebagainya dan sebagainya.

Yang ingin kulakukan hanya pergi sejauh mungkin dari masa lalu dan berharap bahwa hari itu tak pernah ada. Sayangnya, hari itu selalu ada dan tak pernah terhapus.

Dan bila aku mengingat masa itu, perasaan bersalah menghinggapi kepalaku. Suara-suara di kepalaku mulai menghakimi. Kenapa bisa begini, seandainya saja tidak begitu, ini semua karena kau tak becus, semua kesalahanmu, seharusnya kau yang berada di posisinya, dan lain-lain… Lalu, aku takkan bisa berbuat apa-apa, diam, dan mengutuk-ngutuki diri sendiri.

“TENTU SAJA aku rindu,” jawabnya. Ada perbedaan suara. Nadanya makin lirih.

“Ada alasan tertentu kenapa aku harus meninggalkan masa laluku. Aku membenci ayahku. Dan, aku tahu konsekuensi keputusan itu.”

Asap kembali membumbung di ruangan 3 x 3. Kipas kembali menyapu asap-asap itu. Suara kipas angin sangat khas. Seperti lagu nina bobo yang mengantarkan siapa saja untuk tertidur.

SEBENARNYA, Hamza cukup mampu untuk menyewa kamar yang lebih baik dari kamarnya itu. Ia adalah anak seorang politikus dari partai yang sedang berkuasa di kampung halamannya. Kebetulan, ayahnya juga merupakan seorang bupati berkuasa.

Kakak perempuannya yang berjarak lima tahun sudah lulus dari universitas ternama. Kakaknya itu mengambil jurusan ekonomi dan lulus dengan predikat sempurna. Dua tahun setelah lulus, kakaknya menikah dengan anak seorang konglomerat di kotanya. Pernikahan politik, kata Hamza menceritakan padaku.

Baca Juga:  Nasi Goreng Instan dan Makaroni Panggang

Ia sempat menghadiri wisuda kakaknya. Namun, saat kakaknya menikah, Hamza sudah memutuskan menghilang sehingga ia pun tak menghadiri resepsi itu. Alasannya, ia tidak suka dengan perjodohan politik yang sedang dibangun ayahnya.

Ia juga menceritakan padaku bahwa berkali-kali ia mencoba membujuk kakaknya untuk menolak. Sayang, kakaknya tidak punya bakat memberontak. Bahkan, menyalahkan Hamza karena menghasut untuk melawan orang tua. “Bagi kakakku, semua yang dilakukan orang tuaku merupakan yang terbaik bagi anak-anaknya,” ceritanya suatu kali.

Tapi, Hamza mengetahui, lebih tepatnya merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang dilakukan ayahnya hanya demi ambisi politik. Tidak lebih. Sementara, kakaknya tidak bisa melihat dan merasakan. Ia rela dijodohkan dan meninggalkan pekerjaan di dunia ekonomi demi ambisi politik ayahnya.

Ia dan saudara kembarnya sebenarnya disiapkan sebagai penerus dinasti politik. Hamza dan adiknya diminta untuk masuk ke sekolah tinggi pamong praja. Tujuannya, agar mereka bisa lebih mudah masuk ke pemerintahan. Dengan begitu, keluarganya tetap bisa melanggengkan kekuasaan.

Hamza tau. Ia memilih tak mengikuti. Sementara, adiknya mengikuti dan lulus—Baru-baru ini, aku sempat mendengar bahwa adiknya telah menduduki jabatan penting sebagai sekretaris daerah.

Hamza lalu disekolahkan di jurusan hukum. Kata Hamza, ini juga demi kepentingan ayahnya. Sekolah hukum akan mengamankan keluarganya bila terjadi sesuatu di kemudian hari. Begitulah yang ia rasakan.

Ia sebenarnya enggan. Namun, ia berbalik. Ia mau menerima asal ia disekolahkan di Ibu Kota. Bukan di kampung halamannya. Ayahnya menyetujui. Hanya setahun Hamza bersekolah, lalu ia memutuskan untuk meninggalkan semua ikatannya.

Suatu kali aku sempat menanyakan mengapa ia begitu membenci ayahnya. Mendengar pertanyaanku, ia terdiam barang beberapa detik. Ia kembali mengambil buku Hikayat Amir Hamzah. Hanya dibuka-buka saja.

“Sejak kecil, aku mengetahui rahasia yang tak diketahui dua saudaraku. Ini rasanya menyakitkan,” ia berhenti sebentar. “Bahkan setelah itu, setiap malam, saat ibuku mendongengkan Hikayat Amir Hamzah, aku tak lagi terpukau dengan kisah petualangan. Aku pura-pura tidur agar ibuku menyelesaikan dongengannya. Aku tahu, ibuku sedang menangis dalam hati. Aku bisa merasakannya bahkan ketika ia hendak membuka dongengannya itu.”

ITULAH TERAKHIR kali kami berbicara panjang lebar. Hari berikutnya, ia tidak berangkat bekerja. Ibu kepala yayasan bilang, Hamza mengundurkan diri. Ia ingin kembali ke kampung halamannya. Tapi, aku tidak yakin. Aku mencoba menelepon, tapi nomor ponselnya sudah tak lagi aktif.

“Ia menitipkan sesuatu untukmu.” Ibu kepala yayasan mengambil satu buku. Tipis, cetakan lama, dengan sampul yang sudah hampir pudar.

Aku pernah melihat buku itu di kamarnya. Di antara tumpukan tiga buku tebal yang ia sukai. Ia pun pernah berseloroh tentang buku ini.

“Saat aku mencari buku Hikayat Amir Hamzah di kios buku bekas, aku malah menemukan buku ini. Cetakan kedua, 1946. Tahun yang sama ketika sang pengarangnya dikabarkan menghilang dan ditemukan meninggal dua tahun berikutnya. Dan, anehnya lagi, aku membeli buku ini tepat satu abad lebih satu tahun usia sang pengarang. Kebetulan yang aneh,” katanya suatu kali.

“Biasanya, kebetulan yang aneh adalah sebuah pertanda,” katanya lagi. “Kesunyian dalam puisi-puisi ini sangat mewakili diriku.”

SAMPAI SEKARANG, aku tidak mengetahui di mana Hamza berada. Dan, aku tidak tahu kenapa ia memberikan buku itu kepadaku.

Secara kebetulan pula, buku itu pun kutemukan kembali di tumpukan-tumpukan gudang ketika aku hendak membereskan. Masih bagus, meski berdebu, pudar, dan beraroma lembab.

“Biasanya, kebetulan yang aneh adalah sebuah pertanda,” kuulangi kata-katanya, sama persis seperti saat dia katakan sambil memegang buku itu.

Depok, 21-22 Agustus 2018

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here