Gabriel Garcia Marquez
dibaca normal 8 menit

HAMPIR SATU SETENGAH TAHUN setelah kudeta Chili, Ernesto Gonzalez Bermejo dari majalah Revista Crisis bertemu dengan Gabriel Garcia Marquez dan istrinya di Stockholm, Swedia. Tepatnya 1975 atau tujuh tahun sebelum pengarang Kolombia tersebut kembali ke Swedia untuk menerima penghargaan Nobel Sastra atas namanya.

Swedia, kata Marquez sambil menyusuri jalanan Stockholm bersama istrinya dan Ernesto, seperti kereta kelas pertama dan orang-orangnya tumbuh, meski mereka sangat kecil. Gabo, demikian penulis Kolombia tersebut kerap dipanggil, akhirnya memutuskan untuk berhenti di Restoran Michelangelo, di Gamla Stan yang merupakan kawasan kota tua di Ibu Kota Swedia. Ia ingin menyantap spaghetti. Di sanalah, percakapan Gabo dan Ernesto dimulai.

“Mari kita bicara soal sastra,” ujar Gabo setengah memohon, “aku sudah cukup lama tak membicarakannya.” Setelah sedikit membicarakan novel The Autumn of the Patriarch, film, dan ratusan cerita yang ia tulis di waktu senggangnya, ia pun kembali ke perbincangan tentang Amerika Latin, tentang perjuangan baru, tentang imajinasi, dan juga Chili,

Chili begitu berharga bagi Gabo, selain Kolombia tentunya. Ia punya alasan tertentu kenapa Chili begitu berarti. Bagi Gabo, Chili di pertengahan 1970-an mempunyai syarat mutlak untuk terjadi revolusi. “Mereka punya organisasi sayap kiri yang terorganisasi, gerakan buruh, dukungan dan simpati dari dunia internasional, serta persatuan kelompok sayap kiri. Negara mana di Amerika Latin yang punya itu semua?” ujarnya.

Tentu yang tak kalah heroik dari peraih Nobel 1982 ini tentang negeri yang melahirkan Pablo Neruda adalah saat ia mengirim telegram “untuk Jenderal Pinochet” selepas ia mendengar kabar bahwa Salvador Allende dibunuh oleh junta militer pimpinan Pinochet. Setelah itu, amarahnya terhadap rezim militer Pinochet tak pernah luntur.

Tak berlebihan bila sosok Gabriel Garcia Marquez ini menjadi salah satu tokoh penting abad ke-20, terutama bagi Amerika Latin. Lewat One Hundred Years of Solitude (1967/1970), Gabo mengajak masyarakat Amerika Latin untuk sadar terhadap identitas mereka sebagai warga kota imajinatif Macondo.

Untuk merayakan penerbitan (kembali) edisi bahasa Indonesia Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez, September kemarin—seperti diketahui, novel tersebut jadi buruan utama pecinta buku, harga buku bekasnya sampai tembus Rp350 ribu!!!—Books and Groove menerjemahkan salah satu wawancara Gabo. Berikut nukilan wawancara Ernesto Gonzales Bermejo dengan Gabo yang berasal dari buku Gabriel Garcia Marquez: The Last Interview and Other Conversations.

The Autumn of the Patriarch sebentar lagi terbit?

Naskah novel itu kini sudah di tangan editor. Akan diluncurkan pada April (1975). 450 halaman ketikan, lebih pendek dari One Hundred Years of Solitude yang lebih dari 700 halaman.

Kita cukup lama menunggu buku itu. (Juan Carlos) Onetti bilang beberapa waktu lalu—dan dia bukan satu-satunya yang berpikiran demikian—bahwa One Hundred Years of Solitude membebani Anda saat menulis The Patriarch.

Tiap pengarang harus menulis buku yang bisa mereka tulis. The Patriarch lebih sulit bagiku ketimbang One Hundred Years of Solitude karena aku menyadari tiap buku (baru) lebih sulit dibandingkan buku sebelumnya; proses kreatif makin rumit setiap waktu.

Kenapa?

Karena tiap buku (baru) merupakan langkah maju.

Tepatnya, setelah tujuh langkah One Hundred Years, buku berikutnya tidak mungkin mudah.

Kupikir, sepanjang proses kreatifku, One Hundred Years of Solitude bukanlah lompatan terjauh yang kulakukan dibandingkan yang lain. No One Writes to the Colonel butuh kerja yang sama kerasnya dengan One Hundred Years of Solitude. Bertahun-tahun setelah The Colonel, aku dengar bahwa aku takkan bisa menulis yang lebih bagus dari buku itu. Aku tidak berpikir bahwa satu buku bisa lebih baik atau buruk dari buku terakhir. Aku hanya ingin melangkah.

Onetti juga bilang Anda tidak perlu khawatir memberi The Patriarch perlakuan berbeda ketimbang One Hundred Years.

Tapi, isu novel tersebut membutuhkan perlakuan lebih.

Lalu, soal isu The Patriarch seperti apa?

Banyak orang beranggapan bahwa One Hundred Years of Solitude merupakan rangkuman simbolik dari sejarah Amerika Latin. Bila demikian, itu jadi sejarah yang tak lengkap, sebab novel itu tak banyak bicara soal problem kekuasaan. Inilah isu utama The Patriarch. Sekarang, kita bisa mengubah topik pembicaraan; jangan bicara soal novel itu lagi, sebab kau akan segera membacanya.

Terakhir, apa yang Anda temukan tentang kekuasaan ketika menulis buku itu?

Banyak sekali. Misalnya saja, ketika kau menulis buku, kau menghabiskan hari demi hari memikirkan itu semua. Dan aku menulis buku-buku sehingga aku bisa membacanya.

Baca Juga:  Jorge Luis Borges: Ada Kemujuran Menjadi Seseorang yang Tidak Bisa Melihat

Diktator dalam bukuku bilang kekuasaan adalah “hari Sabtu yang bergelora”; dia tidak pernah mengetahui jenis kekuasaan seperti apa yang ia punya; dia bertarung demi itu setiap hari; dan di ujung, dia bilang, “Sialan: masalah utama negeri ini adalah tak ada orang yang benar-benar memperhatikan diriku.”

“Banyak orang beranggapan bahwa One Hundred Years of Solitude merupakan rangkuman simbolik dari sejarah Amerika Latin. Bila demikian, itu jadi sejarah yang tak lengkap, sebab novel itu tak banyak bicara soal problem kekuasaan.”

Berapa usia tokoh diktator itu?

Tak ada yang tahu; dia selalu tampak sangat-sangat tua sekali.

Beri gambaran sedikit tentang novel itu?

Yang bisa kuberi tahu, tak ada alur landai, cerita berjalan dari momen krusial ke momen berikutnya. Sangat padat sampai-sampai aku pernah melupakan sesuatu dan kesulitan memasukkannya ke dalam alur cerita.

Apa yang Anda harapkan dari The Patriarch untuk pembaca?

One Hundred Years of Solitude bercerita tentang kehidupan sehari hari. Aku pikir ini kenapa orang-orang sangat tertarik. Aku tidak tahu siapa yang bilang bahwa One Hundred Years of Solitude adalah novel pertama yang menggambarkan kehidupan intim Amerika Latin, (semacam) “kamar tidur dari orang-orang Amerika Latin”. Ya, tapi itulah yang menarik perhatian pembaca. The Autumn of the Patriarch mungkin akan sedikit dibaca, karena persoalan kekuasaan, sejauh yang saya ketahui, tidak banyak menarik minat banyak orang. Walaupun, kita tidak tahu nanti jadinya seperti apa. Sebab, masalah kekuasaan kerap muncul di rumah, tempat kerja, di taksi, di mana pun.

Apa ide utama tentang kekuasaan dalam buku itu?

Bencana dari kekuasaan individu. Bila kekuasaan individu tidak bekerja, sebaliknya satu-satunya yang tersisa adalah kekuasaan kolektif. Tapi, biarkan pembaca yang menilai. Kau membuatku terlalu banyak berbicara soal itu.

Dan setelah The Patriarch?

Aku katakan sejujurnya, aku sudah tak punya apa-apa lagi untuk dituliskan dalam sebuah novel. Aku menempatkan diriku di sebuah sudut ruangan. Jadi, aku ketakutan bila suatu hari aku terbangun dan tidak tahu harus melakukan apa. Asal kau tahu, aku sebenarnya sedang mencari pekerjaan.

Saya juga.

Sambil menunggu, aku bekerja dengan Rui Guerra, sutradara asal Brazil, di sebuah film adaptasi “Blacaman the Good, Vendor of Miracles”. Bisa dibilang, cerita itu memungkinkan kami untuk memberikan gambaran utuh tentang kolonialisme di Karibia, dari penjajahan Spanyol hingga imperialisme Amerika Utara.

Saya dengar Anda juga mengerjakan sesuatu bersama Franscesco Rosi (sutradara terkenal asal Italia pada medio 1960 dan 1970. Dia menyutradarai film Christ Stopped at Eboli dan Chronicle of a Death Foretold).

Betul, kami sedang mengerjakan sesuatu dalam beberapa tahun ini. Aku dan Rosi adalah kawan lama dan di sela-sela pembuatan film, dia datang ke Barcelona atau aku ke Italia untuk menemuinya. Aku rasa, kami hampir menyelesaikannya sekarang. Yang bisa kusampaikan, film itu akan menjadi film politik, sebuah wacana tentang kolonialisme—atau setidaknya, kami merasa begitu.

Kerja visual lainnya?

Untuk televisi. Aku kurang sreg saat mengerjakan soal La Violencia (perang sipil di Kolombia, 1948-1958, antara Partai Konservatif Kolombia dan Partai Liberal yang menyebabkan 200.000 orang lebih meninggal, Red.) di In Evil Hour. Dan sekarang, aku diberikan kesempatan—sebuah kesempatan langka untuk seorang penulis—untuk kembali menulis tentang itu. Sekarang, aku punya waktu untuk menggali beberapa perspektif dan aku rasa, dengan bertambah kedewasaan, aku akan mengerjakan adaptasi novel untuk televisi Kolombia, dalam 20 episode. Para perempuan tua yang sedang merajut pada pukul tiga sore akan menonton sesuatu tentang La Violencia di Kolombia, dan orang lain juga.

Cerpen?

Aku punya ratusan ide, satu ide muncul tiap waktu luang yang kupunya setelah aktivisme untuk Chili.

Saya terkesan dengan beberapa pernyataan Anda di Roma, tentang perlunya kelompok revolusioner Amerika Latin memasuki periode perenungan; Anda meminta mereka untuk lebih banyak menggunakan imajinasi ketimbang heroisme.

Kita perlu menggunakan imajinasi kita di Amerika Latin setelah bertahun-tahun tenggelam kebuntuan ideologi dengan menelan mentah-mentah semua hal. Kubu sayap kanan sudah tahu semua taktik kita.

Peran penulis dalam hal ini?

Segala sesuatu yang berkaitan dengan pendefinisian hal-hal yang terjadi hari ini. Semua definisi ternyata bertentangan dan tidak berhubungan dengan kenyataan. Aku rasa peran politik penulis harus mengikuti perubahan tiap peristiwa. Ketika mereka terjun ke dunia politik, penulis ingin diberi tugas yang konkret. Aku telah melakukan tugas sempurna saat Revolusi Kuba untuk Prensa Latina (kantor berita yang bermarkas di Kuba) karena setelah itu, orang bilang, “Anda akan bekerja di sini, di barisan depan.” Kurasa, aku telah memberikan yang terbaik saat mendukung Revolusi Kuba dan sekarang dengan perlawanan masyarakat Chili. Warga Chili memberikan kehormatan dan keistimewaan untuk diriku dengan memperbolehkan aku bekerja untuk mereka. Dan aku hanya menggunakan pengaruh politikku yang besar berkat reputasi sebagai penulis untuk membantu perlawanan masyarakat Chili.

Baca Juga:  "Aku Sangat Beruntung Bisa Bekerja Sambil Membaca Buku-Buku Bagus" - Laila Lalami

Hasilnya sejauh ini?

Junta militer Chili seharusnya tidak diberi ruang untuk bernapas dan itu belum dilakukan. Kami telah menyebarkan gambaran buruk tentang mereka ke seluruh dunia. Mereka-lah (Rezim Pinochet) yang sebenarnya menciptakan gambaran buruk lewat segala tindakan mereka sendiri. Yang kami telah lakukan adalah memastikan citra buruk itu diketahui.

Hasilnya? Kurasa, kami pastikan pemerintahan Chili punya citra terburuk dibandingkan pemerintahan lain di bumi ini. Bahkan, pemerintah yang bekerja sama dan membantu rezim militer Chili kini harus menyembunyikan diri sebisa mereka. Pinochet telah tersinggung dengan “pandangan dunia internasional”. Kami tahu apa yang kami kerjakan tidak bisa menjadi penentu utama dalam memperbaiki masalah di Chili. Tapi, hal itu merupakan sumbangan efektif bagi perlawanan di dalam negeri, dan pada akhirnya bisa memberikan efek perubahan.

Beberapa waktu lalu, aku melihat seorang jurnalis bertanya kepada Anda tentang negara Amerika Latin yang Anda anggap bisa meletuskan revolusi di masa depan dan aku bisa bayangkan keterkejutan jurnalis tersebut ketika Anda menjawab Chili.

Tentu. Setelah semua yang terjadi, mereka (Chili) punya organisasi sayap kiri yang terorganisasi, gerakan buruh, dukungan dan simpati dari dunia internasional, serta persatuan kelompok sayap kiri. Negara mana di Amerika Latin yang punya itu semua?

Hampir satu setengah tahun junta militer merebut kekuasaan lewat kudeta di Chili. Apa yang telah dilakukan junta?

Merebut kekuasaan dan merepresi kelompok oposisi. Itu saja, selain meningkatkan inflasi hingga 2.000 persen dan menghabiskan US$500 juta untuk membeli senjata.

Sangat jelas terlihat mereka kini semakin terisolasi sepanjang waktu.

Makin sendirian sepanjang waktu. Sesuatu hal yang mendasar telah terjadi, yang sebenarnya telah aku sebutkan dalam telegram yang kukirimkan kepada militer Chili di hari kudeta. “Masyarakat Chili tidak akan membiarkan mereka diperintah oleh gerombolan bandit yang digaji para imperialisme dari Amerika Utara.”

Bisa ceritakan soal telegram itu.

Ketika aku menulis telegram, di Bogota, pada pukul 8 malam, setelah saya mendengar kematian Allende, beberapa teman mengatakan padaku, telegram itu terbaca seperti sesuatu yang berasal dari buku anak-anak. Itu bukan kesalahanku bila situasinya seperti di dalam buku anak-anak. Dan, saya menulisnya sebelum kemarahanku luntur. Kau bisa melihat, setahun setelah kudeta itu, kemarahanku belum juga surut.

Regis Debray (filsuf Perancis) berbicara kepada wartawan Meksiko belum lama ini. Ia bilang dia mungkin saja tidak tahu apa yang harus diselesaikan di Amerika Latin, tapi ia tahu apa yang tidak boleh diselesaikan di medan perang. Apa Anda berpikiran sama? Apa hal-hal yang tidak boleh selesaikan?

Salah satu penyebab perpecahan kelompok sayap kiri Amerika Latin adalah debat kusir soal cara berjuang. Sebagian kelompok kiri menyamakan diri mereka dengan Uni Soviet dan sebagian lainnya dengan China. Lantaran ini adalah sumber perpecahan, kita pun harus hati-hati dengan mereka.

Memilih cara berjuang tidak bisa diselesaikan secara otomatis atau dilakukan di awal. Apa yang terjadi sebelumnya merupakan gerakan revolusi yang muncul di setiap negara sebagai entitas budaya maupun politik untuk memperoleh kekuatan politik.

Kondisi masing-masing negara akan dengan sendirinya menentukan bentuk perjuangan terbaik dan tak ada alasan mereka harus punya bentuk sama di setiap negara. Aku tarik kembali di masa ketika kegagalan Che (Guevara) di Bolivia. Kegagalannya tidak bisa diartikan sebagai kegagalan fundamental perjuangan bersenjata. Dan, kegagalan Unidad Popular di Chili juga tidak bisa disebut kegagalan melalui jalan pemilu.

Bagaimana dengan penyebab perpecahan lainnya?

Jawabannya, aku pikir seharusnya mereka tidak mempersoalkan tentang gerakan revolusioner mana yang mendukung siapa, dan siapa yang mendukung lainnya. Mereka seharusnya tidak perlu menyibukkan diri dengan negara lain yang tidak setuju dengan mereka. Itu sisa-sisa mentalitas kolonial lama; salah satunya menyebut bahwa kita bukan siapa-siapa kecuali kita memiliki tanah air. Dan cara berpikir itu tidak bisa disamakan dengan sikap melawan solidaritas internasional; tidak sama sekali. Itu hanya menyingkirkan ketakutan akan ajaran agama.

Baca Juga:  Orhan Pamuk: Turki Seharusnya Tidak Perlu Khawatir Punya Dua Jiwa

Di wawancara lain, Anda memberi kisi-kisi soal revolusi dan bagaimana memulainya.

Aku tidak tahu siapa yang membodohi kami—orang-orang yang ingin memulai revolusi—dengan mengiyakan pemikiran bahwa sebuah revolusi itu merusak, menimbulkan penderitaan, dan berdarah-darah. Kita harus paham betul bahwa sesungguhnya kontrarevolusi-lah yang merusak, menimbulkan penderitaan, dan berdarah-darah. Kau sudah tahu berapa jumlah korbannya: lebih dari 30.000 orang meninggal, ribuan dipenjara, ribuan disiksa oleh rezim militer Chili.

Ide revolusiku adalah pencarian kebahagiaan individu melalui kebahagiaan kolektif, yang merupakan satu-satunya bentuk kebahagiaan.

Kita perlu mengakhiri praktik martir yang tumbuh di Amerika Latin. Aku menginginkan revolusi untuk kehidupan bukan untuk kematian sehingga seluruh dunia bisa hidup lebih baik, minum anggur yang lebih enak, mengendarai mobil yang lebih baik… Barang-barang material itu tidak selamanya menggambarkan kehidupan borjuasi. Barang-barang itu merupakan warisan kemanusiaan yang dicuri kaum borjuis. Kita akan mengambilnya kembali dan menyalurkannya kepada semua orang.

“Kematian bukanlah sesuatu yang dibutuhkan untuk revolusi. Revolusi tidak harus terus-terusan menjadi bencana.”

Tapi kucuran darah mungkin tak bisa dihindari.

Mungkin saja. Tapi, bila revolusi itu berdarah-darah, itu lantaran kelompok kontra-revolusi yang mengondisikan seperti itu. Artinya, itu akan sama parahnya dengan kelompok kontra-revolusi yang membuatnya. Masalahnya adalah memastikan bahwa tidak ada kebingungan tentang siapa yang bertanggung jawab, sebab kesalahpahaman tersebutlah yang menakuti-nakuti ibu kita. Ibuku tidak paham bagaimana aku bisa menjadi revolusioner jika aku tidak bisa membunuh seekor lalat. Dan, aku bilang padanya, itulah kenapa aku merupakan seorang revolusioner. Selama tidak ada revolusi, aku akan terus-menerus hidup dalam ketakutan. Aku akan terus berada dalam situasi yang mengharuskan untuk membunuh seekor lalat.

Anda sekarang telah menjadi orang dengan pengaruh politik kuat. Anda bahkan mendapatkan perhatian (Henry Alfred) Kissinger (diplomat AS dari kalangan Republikan). Dia pernah bilang di forum para diplomat tentang sebuah buku yang nilai kemanusiaannya telah menampar dirinya, meskipun dia tidak setuju dengan pandangan politik si penulis. Dan dia berharap Amerika Latin tidak terjebak dalam seratus kesunyian lagi. Apa pendapat Anda?

Aku rasa aku harus berterima kasih padanya, sebab tanpa klarifikasi yang ia buat, orang mungkin berpikiran kami berbagi pandangan politik yang sama.

Tapi, aku harus mengatakan sesuatu padamu: seorang temanku bertanya kepada pejabat yang sangat dekat dengan Kissinger, apakah itu terdengar aneh baginya karena penulis yang ia kutip dalam pidato ternyata tidak diizinkan masuk ke Amerika Serikat. Aku tidak diperbolehkan masuk ke Amerika Serikat. Aku tidak memperoleh visa selama 12 tahun dan aku rasa alasannya lantaran tulisanku untuk Prensa Latina di New York. Lalu mereka memberiku (visa) selama dua tahun, dan sekarang mereka menolakku lagi. Aku pikir kau tidak perlu jauh-jauh mencari alasannya. Apalagi kalau bukan kerja aktivisku dalam mendukung Chili.

Mereka pasti khawatir tentang apa yang bakal Anda lakukan. Terakhir, Anda menyumbangkan US$10.000 yang Anda dapatkan dari University of Oklahoma’s Books Abroad untuk membayar pembelaan bagi tahanan politik Kolombia. Ngomong-ngomong, siapa yang bakal menerima donasi bila Anda menerima hadiah Nobel?

Istriku sangat mendukung donasi dari hadiah yang kuterima, tapi ia bilang padaku untuk memperhatikan dirinya dan anak-anakku di lain waktu. Jadi, aku akan berikan yang berikutnya untuknya. Dan kau tahu kenapa aku memberikan kepadanya? Karena aku yakin ia akan mendonasikan untuk tujuan politik yang baik.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here