Ferdinand wiggers
dibaca normal 14 menit

Layaknya redaktur koran pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Ferdinand Wiggers juga seorang penulis. Ferdinand Wiggers meneruskan tradisi kepenulisan ayahnya, E.F. Wiggers. Ferdinand Wiggers meneruskan terjemahan dari ayahnya Barang Rahasia dari Astana Konstatinopel dan Graaf de Monte-Cristo. Ia juga masih berhubungan baik dengan Lie Kim Hok yang membantu ayahnya mengerjakan terjemahan Lawah-lawah Merah (1875). Bersama Lie Kim Hok, Wiggers menerjemahkan Graaf de Monte-Cristo.

Sekurang-kurangnya, terdapat 14 judul karya sastra dari Ferdinand Wiggers yang berhasil dikumpulkan atau terlacak, baik terjemahan maupun asli, baik novel, drama, maupun puisi. Angka tersebut dapat saja bertambah jika terdapat temuan-temuan baru.

Catatan mengenai jumlah karya sastra yang ditulis oleh Ferdinand Wiggers sejauh ini telah berhasil dikumpulkan oleh C.W. Watson (1971), Pramoedya Ananta Toer (1982), Ibnu Wahyudi (1988), Doris Jedamski (2010), dan W.V. Sykorsky (1980). Karya-karya tersebut antara lain Barang Rahasia dari astana Konstatinopel; Riwayat waktoe sekarang (1892-1899, meneruskan terjemahan ayahnya, E.F. Wiggers), Graaf de Monte-Cristo; Karangannja Alexander Dumas: Tjeritaken dalam bah. Melajoe rendah dengan menoeroet djalan jang gampang, (1894-99, meneruskan terjemahan ayahnya, E.F. Wiggers), Hikajat 1001 malam ja-itoe tjeritera-tjeritera Arab (1897-1902), dan Dari Boedak sampe Djadi Radja; menoeroet karanganja Melati van Java; tersalin dalem bahasa Melajoe renda 2 Jilid (1898).

Selain itu, novel Djembatan Berdjiwa Jilid 1 dan 2 (1900 dan 1901), Boekoe Lelakon Ondercollecteur Raden Beij Soerio Retno (1901), Tjerita Dokter Legendre atau Mereboet harta (1902), Nona Glatik (1902), Tjerita Njai Isah (1903-05). 5 jilid, Tjerita Doktor Maugers (1904-1905), Boekoe Peringatan: Mentjeritain dari halnja seorang Prampoean Islam Tjeng Kao bernama Fatima (1908), Raden Adjeng Aidali : soeatoe tjerita jang kedjadian di tanah Djawa (1910), Tereosir (1910), serta Sair Java-Bank dirampok tanggal 22 November 1902 (1922).

Wiggers juga aktif menulis karya-karya nonfiksi yang jumlahnya lebih banyak ketimbang sastra. Setidaknya, ada 22 buku nonfiksi yang kebanyakan merupakan undang-undang dan kitab hukum.

Buku-buku tersebut antara lain Peratoeran boewat Instituut Pasteur di Weltevreden dan hal penjakit andjing gila / tersalin oleh F. Wiggers (1895); Boekoe pengoendjoek djalan dalem perkara harta banda (ke hwe) pada wees dan boedelkamer, hal overschrijving, hal failliet, dengan bebrapa katerangan, tjonto tjonto dan rekest dalem perkara begitoe (1901); Sepoeloe oendang-oendang jang perloe boewat orang berdagang dan prijai-prijai terpetik dari boekoe pengadilan (1902).

Tiga vonnis perkara assurantie kebakaran boeat orang-orang dagang jang masoek assurantie perloe ia mengatahoewi boeninja ini vonnis-vonnis soepaja bole berpajoeng seblonnja katimpah oedjan (1902); Residentie-gerecht : tjara sebagimana misti kasi masoek penagian di hadepan residentie gerecht? di terangin boewat orang2 dagang, toekang2 dan laen2 (1902); Wetboek taon 1903: Jang mengandung a.l. Grondwet voor het Koningrijk der Nederlanden (Ned. Stbl. 1887 No. 210) dengan salinan (1903).

Kitab Reglement Burgerlijke Rechtsvordering : Soerat peratoeran Hal menoentoet hoekoem siviel di hadepan Raad Joestisie di tanah Djawa dan di hadepan Raad Besar di Betawi Hof (1904); Boekoe inlandsch-reglement Blanda-Melajoe dengan bebrapa prentah-prentah jang perloe boeat pemarentah anak negri pake tjonto-tjonto (1904); Reglement op de rechterlijke organisatie en het beleid der justitie in Nederlandsch-Indië / Hollandsch – Maleisch door: Algemeene bepalingen van wetgeving en burgerlijk wetboek Koempoelan wet-wet Hindia-Nederland (1906).

Sekalian wet jang paling perloe jang terpake di Hindia-Nederland (1906); Keterangan dari pada boekoe-boekoe keadilan hoekoem di Hindia Nederland (bersama C.W. Margedant, W. de Gelder, W.A.P.F.L. Winckel/1907); Wet-wet Hindia-Nederland. I,1. – II, 1 (1908-1910); Boekoe Boschwezen: Olanda Melajoe: moewat staatsblad-staatsblad jang membitjaraken perkara oetan (1909).

Reglement pertja Timoer dengen lain-lain prentah jang perloe goena residentie itoe (1910); Reglement Borneo Selatan dan Timoer dengen lain-lain prentah jang perloe goena residentie itoe (1910); Agrarische-aangelegenheden: Ja-itoe hal tanah di Hindia Nederland (1910); Wetboek van koophandel: Kitab perniaga’an (1911); Boekoe strafwetboek voor inlander: kitab keadilan hoekoem boewat orang-orang bangsa anak negri (1911).

Boekoe inlandsch reglement dengan segala perobahan sampe jang pengabisan di taon 1911 staatsblad no. 121: bersama daftar hoekoem hoekoeman dari boekoe strafwetboek voor inlanders dan politiereglement voor inlanders dan bebrapa bijblad hal kepolisian (1911); Toerki dan Joenani (Griekenland) (1897); Boekoe almanak prijai dari taon … / karangannja F. Wiggers; djil. Ka-2 (1897); serta Padoman prija dan anak negri (1908-1909).

Jika ditotal, jumlah karya baik sastra maupun nonsastra yang dihasilkan oleh Ferdinand Wiggers sebanyak 36 karya. Angka tersebut tergolong banyak untuk ukuran akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Apalagi, masa kepengarangannya juga tergolong pendek, yakni dari 1898 hingga 1912, atau hanya 14 tahun. Produktivitas F. Wiggers pun lebih tinggi dibandingkan ayahnya, E.F. Wiggers. Padahal, ayahnya punya karier yang lebih panjang di dunia pers, selama 25 tahun.

Selain itu, pandangan Ferdinand Wiggers dalam tulisan-tulisannya juga cukup luas. Karya sastra yang ia tulis tidak hanya karya terjemahan, ia juga menulis karya asli. Karangan asli Ferdinand Wiggers juga tidak sebatas novel saja, ia pun menulis karya drama dan syair.

Pandangan politik Ferdinand Wiggers juga tidak sebatas permasalahan kaum Indo-Eropa saja. Ia juga ikut menyoroti permasalahan kaum peranakan Tionghoa dan pribumi. Bahkan, Ferdinand Wiggers cenderung lebih dekat dengan kaum peranakan Tionghoa dan pribumi.

Karya-karya Ferdinand Wiggers tersimpan di beberapa perpustakaan seperti di perpustakaan KITLV dan Universitas Leiden di Belanda, Perpustakaan Rusia, PDS H.B. Jassin, dan beberapa lagi hilang tak berbekas.

Hikajat 1001 malam ja-itoe tjeritera-tjeritera Arab, Barang Rahasia dari astana Konstatinopel , Graaf de Monte-Cristo, Dari Boedak Sampe Djadi Radja, Tjerita Dokter Legendre atau Mereboet harta, Lelakon Raden Bei Soerio Retno, Raden Adjeng Aidali dan Tjerita Njai Isah tersimpan di Perpustakaan KITLV Belanda (Watson, 1971).

Perpustakaan Rusia menyimpan karya Dari Boedak Sampe Djadi Radja dan Barang Rahasia dari astana Konstatinopel (Sykorsky, 1980). Di PDS H.B. Jassin tersimpan karya Njai Isah (Wahyudi, 1988). Karya Sair Java-Bank Di rampok tersimpan di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Djembatan Berdjiwa Jilid 1 dan 2 (1900 dan 1901), Nona Glatik (1902), Boekoe Peringatan: Mentjeritain dari halnja seorang Prampoean Islam Tjeng Kao bernama Fatima (1908), dan Tereosir (1910) kemungkinan besar disimpan di perpustakaan pribadi Pramoedya Ananta Toer. Salah satu pendapat yang menguatkan bahwa karya-karya tersebut tersimpan di perpustakaan pribadi Pram adalah dalam pengantar buku Tempo Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia, Pramoedya akan menerbitkan tulisan Ferdinand Wiggers lainnya untuk jilid berikutnya (1982: 32). Sayangnya, jilid-jilid berikutnya tidak jadi atau belum juga diterbitkan.

Karya-karya yang dapat dibaca di Indonesia adalah karya yang telah dicetak ulang di dalam bunga rampai seperti Boekoe Lelakon Raden Bei Soerio Retno dalam Antologi Drama Indonesia 1895-1930, Dari Boedak Sampe Djadi Radja dalam Tempo Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia, dan Tjerita Njai Isah dalam bunga rampai De Njai Moeder van alle Volken; De Roos uit Tjikembang’ en andere verhalen. Untuk Tjerita Njai Isah di dalam buku tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Belanda. Tjerita Njai Isah, menurut penelitian Ibnu Wahyudi (1988), masih dapat ditemukan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Jakarta.

Nah, untuk lebih mengenal lebih dekat karya-karya F. Wiggers, berikut ini ulasan pendek tentang buku-buku sastra yang dikerjakan F. Wiggers. Baik dari karya terjemahan maupun karya asli, baik roman, syair, maupun naskah drama.

Barang Rahasia dari astana Konstatinopel

Berdasarkan penelusuran W.V. Sykorsky (1980), buku Barang Rahasia dari astana Konstatinopel adalah buku terjemahan dari cerita petualangan yang berjudul The Secrets of the Courts of Constantinople. Buku cerita tersebut diterbitkan menjadi buku pada 1892 dan 1898.

Baca Juga:  Social Media Wellness: Berbahayakah Media Sosial bagi Perkembangan Anak?

Henk Maier (2010: 15) berpendapat lain mengenai cerita Barang Rahasia dari astana Konstatinopel. Berdasarkan penelusuran Maier, cerita tersebut dimuat pertama kali di koran Bintang Barat pada 1880 dan diterbitkan pertama kali oleh Karsseboom & Co. Terjemahan ini merupakan karya dari ayah Wiggers, E.F. Wiggers,

Ferdinand Wiggers meneruskan kerja terjemahan tersebut. Cerita berjilid dari Barang Rahasia dari astana Konstatinopel (25 jilid) diterbitkan pada 1899 oleh penerbit Albrecht & Co. dan tidak sampai selesai. Dari terjemahan tersebut, menurut Sykorsky (1980), istilah Komedie Stamboel muncul dan dipakai sebagai nama untuk seni pertunjukan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Buku tersebut sekarang tersimpan di Perpustakaan Uni Soviet/Rusia.

Graaf de Monte-Cristo

Graaf de Monte-Cristo, menurut Henk Maier, dikerjakan oleh Ferdinand Wiggers dan Lie Kim Hok dan diterbitkan menjadi buku pada 1894. Sebenarnya, hasil terjemahannya itu tidak dibubuhi nama penerjemah. Buku itu diberi judul Graaf de Monte-Cristo; Karangannja Alexander Dumas: Tjeritaken dalam bah. Melajoe renda dengan menoeroet djalan jang gampang. Masih menurut Henk Maier, dari segi bahasa ia menilai bahwa terjemahan itu merupakan hasil kerja F. Wiggers dan Lie Kim Hok.

Namun, dilihat dari catatan karier F. Wiggers, pada tahun-tahun itu, ia masih bekerja sebagai controleur di Sulawesi. Kemungkinan besar, pengerjaan Graaf de Monte-Cristo ini mula-mula dikerjakan oleh E.F. Wiggers. Ferdinand sendiri meneruskan terjemahan itu di bagian akhir saja. Barangkali sekitar 1897-1898.

Adapun, Graaf de Monte-Cristo diterjemahkan dari cerita yang dikarang oleh Alexander Dumas yang berjudul Le Comte de Monte Cristo yang terbit di Paris pada 1844-1845 (Watson, 1971, 419; Jedamski, 2008: 39; Toer, 1982: 30; Maier, 2010: 15). Le Comte de Monte Cristo populer di Eropa ketika suasana zaman pada masa itu dikuasai oleh kelas menengah atau kelas borjuis dalam memperebutkan kekuasaan politik dan pembentukan identitas budaya (Jedamski, 2005: 38).

Boleh jadi, berkaitan dengan kesamaan situasi zaman, E.F. Wiggers dan Lie Kim Hok memilih karya Le Comte de Monte Cristo untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu Rendah. Pada 1894, buku terjemahan E.F. Wiggers dan Lie Kim Hok mulai diterbitkan dan diselesaikan oleh anaknya Ferdinand Wiggers pada 1899 dengan jumlah halaman keseluruhan adalah 2.300 halaman.

Struktur cerita dari versi asli dan versi terjemahan Wiggers dan Lie Kim Hok sama. Dengan demikian, Wiggers dan Lie Kim Hok tidak terlalu menggubah cerita aslinya. Hal ini dapat dilihat dari jumlah halaman maupun jilid yang dihasilkan oleh mereka yaitu sebanyak 2.300 halaman.

Graaf de Monte-Cristo bercerita tentang ketidakadilan dan pembalasan dendam. Tokoh utama, Dantes, dijebak dan dimasukkan ke dalam penjara oleh penguasa yaitu Hakim, teman dekat, dan Bangkir. Dantes sendiri adalah perwujudan dari kelas menengah yang hak-haknya direbut oleh pemegang kekuasaan.

Di penjara, Dantes bertemu dengan lelaki tua bernama Abbe Faria. Bersama Abbe Faria, Dantes belajar ilmu dan beladiri. Abbe Faria juga memberi tahu rahasia harta karun kekayaan Spada. Setelah berhasil meloloskan diri dari penjara, Dantes berpetualang untuk mencari harta tersebut. Dantes pun mendapatkan harta karun Spada dan melakukan balas dendam dengan mengganti namanya dengan nama Count of Monte Cristo. Setelah berhasil membersihkan nama baiknya, ia menghilang (Jedamski, 2005: 40).

Setelah buku Graaf de Monte-Cristo, terdapat cerita lanjutan dari buku tersebut yaitu buku Tjerita dari tangannja mait, sambungan Graaf de Monte-Cristo, karangannja Alexander Dumas; Di tjeritakan dalam Bahasa Melajoe Rendah dengan menoeroet djalan njang gampang. Nama penerjemah buku tersebut juga lagi-lagi tidak dibubuhkan di dalamnya—sama seperti di dalam buku Graaf de Monte-Cristo. Jedamski sendiri beranggapan bahwa cerita lanjutan tersebut merupakan karangan Ferdinand Wiggers dan Lie Kim Hok yang terbit pada 1900.

Pengaruh Graaf de Monte-Cristo cukup besar dalam tradisi literal pada awal abad ke-20. Beberapa buku terjemahan lainnya bermunculan setelah usaha Wiggers dan Lie Kim Hok mengenalkan Le Comte de Monte Cristo ke dalam masyarakat pembaca Melayu, bahkan novel Juvenile Kuo, Harta yang Terpendam (1928) boleh dikatakan sebagai saduran bebas dari Graaf de Monte-Cristo.

Novel-novel lainnya (baik terjemahan maupun saduran bebas) yang muncul setelah terjemahan Wiggers dan Lie Kim Hok adalah Graaf de Monte Cristo dengan estrinja atawa ketoeloesan achirnya menangkan segala kedjahatan (1918) gubahan Tjan Kiem Bie, The Count of Monte Cristo terjemahan Balai Pustaka (1925), Tangan Majat Graaf de Monte Cristo karangan Pouw Kio En dan dimuat dalam harian Liberty pada September 1930 hingga Januari 1931, Hikajat jang betoel dari Graaf de Monte Cristo (1930) terjemahan Ong Khing Hang, dan Maen Komedie (1933) karya Kwee Teng Hin.

Hikajat 1001 malam ja-itoe tjeritera-tjeritera Arab

Buku Hikajat 1001 malam ja-itoe tjeritera-tjeritera Arab merupakan buku terjemahan dari cerita Persia yang melegenda, yaitu cerita petualangan Abu Nawas, Seribu Satu Malam. Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Albrecht & Co. pada 1886 di Batavia. Akan tetapi, buku tersebut juga pernah dikerjakan oleh Gijsbert Francis dengan judul yang sama dan diterbitkan oleh penerbit yang sama, namun pada tahun yang berbeda, yaitu pada tahun 1891-1894 (Maier, 2006:16).

Terjemahan yang dikerjakan oleh Gijsbert Francis (penulis novel Njai Dasima) diberi subjudul yang menjelaskan sumber cerita yang ia terjemahkan yaitu Disalin kepada behasa Melajoe, dengan menoeroet karangan toean Gerard Keller di dalam behasa Olanda. Ada kemungkinan bahwa buku tersebut dikerjakan oleh dua penerjemah sekaligus atau dikerjakan secara bergantian, mengingat buku tersebut diterbitkan berjilid-jilid.

Tio Ie Soei (dalam Salmon, 2010: 150) mencatat bahwa Ferdinand Wiggers-lah yang menerjemahkan pertama kali cerita Seribu Satu Malam terutama pada bagian malam ke-41 hingga malam ke-91 dan diterbitkan pada 1886. Akan tetapi, jika anggapan Tio Le Soei benar, berarti Wiggers sudah aktif dalam dunia sastra pada usia ke-17. Kemungkinan besar bahwa Wiggers yang dimaksud Tio Ie Soei adalah E.F. Wiggers, ayah Ferdinand Wiggers.

Ferdinand Wiggers meneruskan pekerjaan ayahnya itu dan terjemahannya sendiri terbit pada tahun 1897-1902 dengan penerbit yang sama. Baik buku terjemahan Ferdinand Wiggers maupun G. Francis kini masih tersimpan di Perpustakaan KITLV Leiden, Belanda.

Dari Boedak sampe Djadi Radja

Selain Graaf de Monte Cristo, salah satu hasil terjemahan yang fenomenal dari Ferdinand Wiggers adalah Novel Dari Boedak sampe Djadi Radja yang diterbitkan dalam dua jilid oleh penerbit Albrecht & Co. pada 1898 di Batavia. Bagian keenam jilid kedua novel tersebut masih dapat ditemui di dalam buku Antologi Sastra Pra-Indonesia susunan Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan oleh Hastra Mitra pada 1982.

Ada tiga alasan terjemahan tersebut dianggap fenomenal, yaitu (1) Ferdinand Wiggers tidak memilih karya yang populer baik dari sisi pengarang maupun dari sisi modus cerita untuk diterjemahkan, (2) isi dari cerita tersebut cenderung lebih dekat pada pribumi daripada pihak penguasa kolonial maupun kelas menengah di bumi Hindia Belanda, dan (3) pengarang cerita asli, N. C. M. Sloot, hidup sezaman dengan Ferdinand Wiggers.

Van Slaaf tot Vorst tentu bukanlah seperti Le Comte de Monte Cristo dan Melati van Java juga bukan seperti Alexander Dumas. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Alexander Dumas dengan Le Comte de Monte Cristo memiliki corak yang memungkinkan sebagai pengarang dan karya yang diterima oleh kaum kelas menengah di Eropa maupun tanah jajahan seperti Hindia Belanda. Sementara, Melati van Java dengan Van Slaaf tot Vorst hanyalah karya dari perempuan penulis Belanda yang lebih condong pada perjuangan pribumi di tanah Hindia Belanda.

Baca Juga:  Yang Ajaib dan Didaktis dari Cerpen Religius Hamsad

Ferdinand Wiggers memilih Van Slaaf tot Vorst sebagai bahan kerja terjemahannya merupakan pilihan yang tidak konvensional pada masa itu. Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, penerjemahan karya sastra asing ke dalam bahasa Melayu Rendah lebih ditentukan oleh karya-karya yang memang di negeri asalnya populer. Hal ini berkaitan dengan permasalahan keuntungan yang diraih. Ferdinand Wiggers pun pada awal kerja penerjemahannya mengambil posisi tersebut dengan menerjemahkan Le Comte de Monte Cristo yang memang sudah populer di Eropa.

Dari segi pengarangnya, Melati van Java bukanlah seorang pengarang yang cemerlang seperti Multatuli yang dapat memengaruhi kehidupan kolonial. Gayanya sesuai dengan nama samarannya, laksana sekuntum bunga melati yang kecil, sederhana, namun harum semerbak. Walaupun kecil dan sederhana, cita-citanya cukup progresif yaitu ingin membantu memperjuangkan wanita Jawa (Hartoko, 1979: 143).

Nama asli dari Melati van Java adalah Nicolina Maria Christina Sloot. Sloot hidup pada 1853-1927. Dalam sejarah sastra Hindia Belanda, Sloot hanya dianggap sebagai pemanis saja, bahkan karyanya dianggap dingin oleh kritikus sezamannya (Jedamski, 2010). Boleh jadi anggapan tersebut didasarkan pada permasalahan gender. Pada akhir abad ke-19, perempuan yang menulis dianggap mempunyai kelainan jiwa sekalipun Sloot adalah Belanda totok (Hartoko, 1979: 142).

Van Slaaf tot Vorst berisi kisah perjuangan Untung Surapati melawan kekuasaan VOC pada akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18. Cerita tersebut diselubungi oleh intrik-intrik, hubungan percintaan, serta hubungan Barat dan Timur (Watson, 1971: 419; Sykorsky, 1980: 502; Toer, 1982; 29).

Cerita perlawanan Untung Surapati sebenarnya sudah dituturkan di dalam Babad Tanah Jawi sehingga cerita Untung Surapati paling tidak merupakan cerita yang sudah dikenal di kalangan bangsawan maupun keraton Jawa. Kisah perjuangan Untung Surapati, dari budak sampai menjadi raja, menjadi inspirasi bagi pribumi di Hindia Belanda.

Pramoedya Ananta Toer (1982: 32) memberikan bukti kelegendaan dari Untung Surapati di dalam bumi Hindia Belanda. Di Kalimantan, Maluku, maupun di Sunda terdapat penggunaan nama Surapati sebagai simbol perlawanan terhadap penguasa kolonial. Perjalanan hidup tersebutlah yang kemudian ditulis ulang oleh Melati van Java dalam Van Slaaf tot Vorst yang sesuai cita-cita luhurnya yaitu memperjuangkan pribumi dalam bumi Hindia Belanda sekalipun ia sendiri hanyalah perempuan Belanda totok.

Perjuangan tersebut juga sampai di tangan Ferdinand Wiggers dan pada akhirnya ia menerjemahkan karya Melati van Java ke dalam bahasa Melayu Rendah dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Raja.

Cerita Untung Surapati juga muncul setelah masa Melati van Java dan Ferdinand Wiggers. Abdoel Moeis menggunakan kisah Untung Surapati di dalam novelnya yaitu Surapati dan Robert, Anak Surapati keduanya diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1950 dan 1959. Untuk novel Surapati pernah dimuat terlebih dulu di dalam koran Kaoem Moeda di Bandung pada tahun 1914-1940 (Toer, 1982: 33).

Djembatan Berdjiwa

Novel Djembatan Berdjiwa ditulis oleh Ferdinand Wiggers dan diterbitkan dalam dua jilid pada 1900 dan 1901. Informasi tentang novel tersebut tidak begitu jelas. Catatan tentang keberadaan novel tersebut terdapat dalam buku Pramoedya Ananta Toer (1982) dan penelitian Ibnu Wahyudi (1988) yang merujuk pada buku Pramoedya juga.

Boekoe Lelakon Ondercollecteur Raden Beij Soerio Retno

Boekoe Lelakon Ondercollecteur Raden Beij Soerio Retno merupakan naskah drama asli yang dibuat oleh Ferdinand Wiggers dan diterbitkan pertama kali oleh penerbit Oeij Tjaij Hin pada 1901 di Batavia. Naskah drama ini diterbitkan ulang oleh Yayasan Amanah Lontar pada 2006 ke dalam buku Antologi Drama Indonesia 1895-1930.

Drama Wiggers muncul ketika situasi seni pertunjukan di Hindia Belanda pada awal abad ke-20 sudah ramai oleh sandiwara, tonil, komedie stamboel, teater, dan drama. Jadi, tidak begitu mengherankan jika pada 1901 karya drama sudah dicetak ke dalam bentuk buku.

Secara garis besar drama tersebut menceritakan kehidupan keluarga Priyayi Raden Bei Soerio Retno di Jawa. Raden Bei Soerio Retno adalah abdi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ia menjabat sebagai collecteur (pengumpul pajak) di sebuah kabupaten (regent) di Jawa. Raden Bei mempunyai istri dan dua orang anak, yaitu Raden Ongko yang bersekolah di sekolah kedokteran di Batavia dan anak perempuan bernama Kartani.

Konflik di dalam drama tersebut muncul ketika Raden Ongko kedapatan mencuri uang pajak yang disimpan oleh ayahnya. Raden Ongko mencuri uang tersebut karena ia kehabisan uang dan ayahnya sudah tidak mau lagi memberikan uang lantaran sifatnya yang suka menghamburkan uang.

Raden Ongko memohon kepada ibunya untuk membantu mendapatkan uang tersebut. Ibu Raden Ongko tidak tega melihat anaknya menderita, ia pun membantu anaknya untuk mengambil uang pajak. Ketika mengambil, Raden Bei Soerio Retno melihat. Raden Bei akhirnya memutuskan untuk mengambil uang pajak agar istri dan anaknya tidak terkena kasus. Setelah itu, ia masuk ke kamar dan bunuh diri karena malu.

Tentang drama Ferdinand Wiggers, C.W. Watson dan Sapardi Djoko Damono memberikan catatan menarik. Watson (1971) mengindikasikan bahwa drama Ferdinand Wiggers memiliki kemiripan dengan drama Eropa. Watson menganggap bahwa drama tersebut merupakan gubahan bebas terhadap drama Eropa. Sayangnya, Watson tidak menyebutkan judul drama dan pengarangnya.

Lain halnya dengan Watson, Sapardi Djoko Damono (2005) membandingkan sifat realis yang terdapat di dalam drama Ibsen dan drama Wiggers. Perbedaan mencolok antara realisme drama Ibsen dan drama Wiggers, menurut Sapardi, terlihat pada penunjuk pemanggungan: Ibsen lebih detail dalam menuliskan setting, sedangkan Wiggers tidak terlalu detail.

Meski demikian, Sapardi tetap menggolongkan drama Wiggers sebagai drama realis dengan melihat tokoh-tokohnya yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari pada waktu itu. Ciri lain yang terdapat dalam karya drama Lelakon ondercollecteur Raden Bei Soerio Retno adalah masih adanya pesan didaktik secara eksplisit pada akhir karya drama tersebut.

Tjerita Dokter Legendre atau Mereboet harta

Tidak banyak yang membahas tentang buku Tjerita Dokter Legendre atau Mereboet harta. Novel tersebut diterbitkan oleh Albercht & Co. pada 1902. Novel tersebut kini masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda dan di perpustakaan KITLV Leiden, Belanda.

Nona Glatik

Novel Nona Glatik diterbitkan pada 1902. Informasi tentang novel tersebut samar-samar. Jika dilihat dari judulnya, kemungkinan besar novel tersebut adalah novel asli karangan Ferdinand Wiggers karena menggunakan judul nama seseorang perempuan yang memang lazim digunakan oleh pengarang pada masa itu.

Pada 1921, penerbit Than Thian Soe mengeluarkan buku syair karangan Dali-dali yang berjudul Sair Tjerita Nona Glatik. Kaitan antara novel Nona Glatik dan Sair Tjerita Nona Glatik belum pernah diteliti. Boleh jadi, Sair Tjerita Nona Glatik mengambil inti cerita dari novel Ferdinand Wiggers seperti kasus pada Sair Tjerita Njai Dasima yang mengambil inti cerita dari novel Tjerita Njai Dasima.

Sama halnya dengan novel Djembatan Berdjiwa, informasi novel Nona Glatik terdapat dalam buku Pramoedya Ananta Toer (1982) dan penelitian Ibnu Wahyudi (1988) yang merujuk juga pada buku Pramoedya.

Tjerita Njai Isah

 Roman Tjerita Njai Isah merupakan karya asli Ferdinand Wiggers yang cukup diperhitungkan pada masa awal abad ke-20. Roman tersebut disejajarkan dengan roman-roman pada masa awal abad ke-20 yang bercerita tentang dunia pernyaian, seperti Tjerita Njai Dasima (1896) karangan G. Francis, Nji Paina (1900) karangan H. Kommer, Seitang Koening (1902) karangan Tirto Adhi Soerjo, Hikajat Raden Adjeng Badaroesmi (1903) karya Johannus Everadus Tehupeiory, dan Boenga Roos dari Tjikembang (1927) karangan Kwee Tek Hoay.

Tjerita Njai Isah pertama kali muncul di surat kabar Pembrita Betawi pada 1901 sebagai cerita bersambung. Pada 1903, Tjerita Njai Isah dimuat kembali di surat kabar Taman Sari hingga selesai pada 1905.

Baca Juga:  Mengubah Kebiasaan Merubah

Pada 24 Juni 1905, pembaca surat kabar Taman Sari mengirimkan surat kepada redaktur yang menanyakan kelanjutan Tjerita Njai Isah. Dari surat pembaca tersebut, bisa dilihat bahwa Njai Isah populer dan diminati pembaca pada awal abad ke-20.

Sukses dalam bentuk cerita bersambung di dua surat kabar, Tjerita Njai Isah diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Taman Sari pada 1903 dan Batavia NV pada 1904 di Batavia. Penerbitan dua kali selama satu tahun dengan penerbit yang berbeda menunjukkan kepopuleran Tjerita Njai Isah pada masanya. Roman Njai Isah ini pun sangat tebal untuk ukuran roman awal abad ke-20. Total ada lima jilid dan kurang lebih sekitar 1.500 halaman.

Model cerita dalam Tjerita Njai Isah hampir sama dengan cerita pernyaian lainnya, yaitu menceritakan kehidupan seorang nyai dengan tuannya. Tokoh utama novel tersebut adalah Nyai Isah dan suaminya, Paul Verkerk. Nyai Isah dalam novel tersebut diceritakan sebagai sosok perempuan yang rajin, ulet, dan setia pada kekasihnya. Saat Verkerk, tuannya, kehilangan pekerjaan di perkebunan, Isah rela membantu keuangan keluarga dengan berjualan keliling (Sutedja-Liem, 2008: 281).

Menurut Watson (1971), model cerita novel tersebut masih sama dengan novel-novel sezamannya, yakni cerita berdasarkan kejadian nyata. Selain itu, Watson menambahkan, di Njai Isah juga sering muncul peristiwa-peristiwa yang tidak terduga dan serba-kebetulan, kisah percintaan, serta jampi-jampi. Secara keseluruhan, novel tersebut mencoba mengangkat harkat nyai dalam kehidupan kolonial (Sutedja-Liem, 2008: 280-281).

Karya tersebut masih disimpan dan dapat ditemukan di perpustakaan KITLV di Belanda dan Pusat Dokumentasi H.B. Jassin di Indonesia.

Tjerita Doktor Maugers

Tjerita Doktor Maugers dimuat pertama kali di surat kabar Taman Sari pada 7 Oktober 1904 dan berakhir pada 24 Juni 1904. Judul lengkap cerita tersebut adalah Tjerita Doktor Maugers; di tjeritaken oleh F. Wiggers. Novel tersebut merupakan terjemahan dari karya Emile Richebourg yang berjudul Les Millions de M. Joramie (1886). Meski begitu, tak ada informasi soal judul asli dalam terjemahan yang dimuat dalam surat kabar Taman Sari.

Selain isi cerita, ada alasan yang menguatkan Tjerita Doktor Maugers merupakan novel terjemahan, yakni konvensi penulisan pada masa itu. Kata “di tjeritaken” di dalam subjudul cerita tersebut menerangkan bahwa novel Dokter Maugers bukanlah novel karangan asli Wiggers. Kata “di tjeritaken”, “tersalin”, “di melajoeken” dalam subjudul merupakan konvensi untuk mengungkapkan cerita-cerita terjemahan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 (Jedamski, 2010: 175).

Tjerita Doktor Maugers berkisah tentang kehidupan seorang bankir kaya raya yang bernama Joramie. Setelah meninggal, harta kekayaannya tersebut diperebutkan oleh saudara-saudaranya karena Joramie tidak mempunyai keluarga.

Ternyata, Joramie mempunyai hubungan percintaan ketika masih muda. Bersama Clara, Joramie mendapatkan anak. Anak itulah yang menjadi ahli waris dari kekayaan Joramie.

Saudara Joramie tidak tinggal diam. Sambil menunggu ditemukannya anak Joramie, mereka berencana untuk merebut seluruh kekayaan Joramie. Usaha tersebut gagal, anak Joramie berhasil ditemukan dan ia mewarisi seluruh kekayaan Joramie.

Boekoe Peringatan: Mentjeritain dari halnja seorang Prampoean Islam Tjeng Kao bernama Fatima

 Novel Boekoe Peringatan: Mentjeritain dari halnja seorang Prampoean Islam Tjeng Kao bernama Fatima diterbitkan pada 1908 di Batavia. Kemungkinan besar novel ini adalah karya asli dari Ferdinand Wiggers karena menggunakan subjudul yang menerangkan cerita tersebut. Informasi tentang buku tersebut hanya disebutkan sepintas saja dalam buku Pramoedya Ananta Toer (1982) dan penelitian Ibnu Wahyudi (1988).

Raden Adjeng Aidali: soeatu tjerita jang kedjadian di tanah Djawa

Novel Raden Adjeng Aidali: soeatu tjerita jang kedjadian di tanah Djawa diterbitkan pada 1910 oleh penerbit Taman Sari. Dilihat sepintas dari judulnya, buku tersebut bercerita tentang perempuan priyayi di Jawa. Menurut Henk Maier (2004), novel ini menceritakan tentang percintaan antar-ras, perselingkuhan, posisi perempuan pribumi, pendidikan, emansipasi perempuan, korupsi pejabat pemerintahan, hingga prasangka terhadap pekerjaan partikelir. Isu-isu ini, Maier menulis, juga terdapat dalam karya-karya Tirto Adhi Soeryo dan Mas Marco. Novel tersebut tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dan KITLV, Belanda.

Teroesir

Novel Teroesir diterbitkan pada 1910. Novel tersebut boleh jadi merupakan novel terakhir dari Ferdinand Wiggers karena ia meninggal pada 1912. Informasi tentang novel tersebut diperoleh dalam penelitian Ibnu Wahyudi (1988) dan hanya disebut secara sepintas saja, yaitu bahwa tema besar novel tersebut bukanlah berdasarkan kenyataan.

Sair Java-Bank di rampok

Satu-satunya puisi atau syair yang ditulis dan terdeteksi adalah Sair Java-Bank di rampok. Syair tersebut ditulis oleh Ferdinand Wiggers pada kisaran 1902-1903 dan diterbitkan ke dalam buku pada 1922 oleh penerbit Kho Tjeng Bie & Co.

Selain Ferdinand Wiggers, Sair Java-Bank di rampok juga disalin ke dalam aksara Jawi oleh Ahmad Beramka. Menurut Henri Chambert-Loir, filolog asal Prancis, (1999), selain aksara, perbedaan yang menonjol antara versi Beramka dan Wiggers adalah jumlah bait, urutan cerita, dan bahasa.

Versi Wiggers memiliki 470 baris, sedangkan versi Ahmed Beramka, Sair Tuan Gentis di Betawi, berjumlah 236 baris. Penggunaan bahasa dari kedua versi tersebut berbeda: versi Ferdinand Wiggers ditulis menggunakan bahasa Melayu Rendah dan beraksara Latin, sementara versi Ahmed Beramka menggunakan bahasa Melayu yang lebih halus dan menggunakan aksara Jawi (Chamber-Loir, 1999: 336).

Syair tersebut berisi tentang kisah rencana perampokan Java-Bank di Batavia pada 22 November 1902. Perampokan Java-Bank dipaparkan lengkap dari penangkapan, pengadilan, hingga pemenjaraan para pelakunya.

Model syair yang bersumber pada kejadian nyata seperti pada Sair Java-Bank Di rampok merupakan model penulisan syair yang lazim ditemukan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Contoh lain adalah syair yang ditulis oleh Tan Teng Kie yang berjudul Sja’ir djalanan krèta api ja’itoe Bataviasche oosterspoorweg dengan personeelnja bij gelegenheid van de opening der lijn Tjikarang-Kedoeng-Gedé bezongen (1891) dan Sair dari hal datengnja Poetra Mahkoeta Keradjaan Roes di Betawi (1887); Lie Kim Hok menulis syair dengan judul, Sjair tjerita di tempo tahoen 1813 soeda kadjadian di Betawi, terpoengoet dari boekoe Njai Dasima, terkarang oleh Lie Kim Hok; dan O.S. Tjiang juga menulis Sair tjerita di tempo tahoen 1813 soeda kadjadian di Betawi, terpoengoet tjeritanja dari Boekoe “Njai Dasima” (1897).

Nah menariknya lagi, meski terbit pertama kali pada 1922, di dalam Taman Sari nomor 14 tahun 1904, Ferdinand Wiggers mengumumkan bahwa buku Sair Java-Bank di rampok hendak terbit. Kemungkinan, penerbit Kho Tjeng Bie & Co. merupakan penerbit kedua yang menerjemahkan syair Wiggers ini.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here