senandika, es kopi susu gula aren,
(https://dreamchoosers.com/)
dibaca normal 6 menit

Sambungan Di Dalam Hatinya, Sebuah Lagu Tak Sengaja Berputar.

JAKARTA masih terasa menyengat untuk bulan Oktober. Belum ada tanda-tanda hujan akan turun. Matahari masih menggantung cerah tanpa ada awan yang menghalangi. Semua orang mengeluhkan panas di bulan yang seharusnya turun hujan. Tak ada hujan dan sekarang suhu hampir menyentuh 37 derajat.

Istirahat makan siang pun terasa tak menyenangkan. Dengan panas yang mendekati angka 40 derajat, kamu harus merelakan kulitmu terpanggang beberapa menit untuk menuju tempat makan. Bila enggan keluar, bisa juga memesan melalui aplikasi ponsel. Hidup begitu memudahkan saat ini. Tapi, tentu tidak untuk Jani.

Layar komputernya masih menampilkan beberapa pekerjaan yang membosankan tiap hari. Ia beberapa kali membenarkan kacamata hanya untuk menelusuri kata-kata salah yang di layar komputer. Jani harus membaca berkali-kali satu paragraf. Ia tak ingin sesuatu luput dari matanya. Kata-kata salah maupun kalimat rumpang akan membuat pekerjaannya berantakan. Hari itu, ia harus membaca sepuluh kali lebih banyak dari biasanya.

Mendekati jam makan siang, ia terus melirik jam dinding maupun jam tangan. Beberapa orang di dalam ruangan sudah bersiap-siap untuk keluar mencari makan siang. Televisi kantor menyala dan mengabarkan berita-berita paling hangat, seperti pelantikan presiden baru dan rumor susunan kabinet. Jani tidak tertarik dengan omong kosong politik hari ini. Ia mulai melirik televisi ketika pembawa berita melaporkan soal suhu panas Jakarta.

“37 derajat. Gila,” kata Jani dalam hati selepas mendengar berita.  “Jakarta benar-benar gila.” Ia mengulangi dalam hati.

Kebetulan kubikel Jani berada di pinggir dengan jendela besar. Ia bisa merasakan panas yang tempias dari jendela kantor, meski saat itu AC kantor sudah diset di 16 derajat. Jendela kaca besar justru mengurung panas matahari lebih lama dan kerja AC pun seakan sia-sia.

Ia mengambil ponselnya, mengetik beberapa pesan untuk temannya. “Aku akan turun sebentar lagi. Kita ketemu di tempat biasa ya.”

“Oke. Kalau aku belum sampai, tunggu ya,” balas temannya tidak berapa lama.

Jani melepas kacamata dan merapikan meja kantornya. Pekerjaannya disimpan dan komputer dimatikan. Jam makan siang hampir tiba dan beberapa orang sudah meninggalkan kubikel masing-masing.

***

Sudah hampir sebulan mereka berdua kerap menghabiskan jam makan siang di tempat itu. Tempat biasa bagi mereka dan tidak banyak orang-orang kantor yang makan di sana. Jani juga baru mengetahui tempat itu dari temannya. Selama ia bekerja lebih dari setahun, ia tidak menyadari keberadaan kedai kecil yang saat ini menjadi favoritnya.

Sebenarnya, lokasinya tidak jauh-jauh amat dari kantornya. Hanya lima atau delapan menit berjalan kaki dari kubikel tempat ia biasa menghabiskan 8 jam waktunya tiap Senin-Jumat. Ia hanya harus menyusuri jalanan kecil di samping kantor. Lalu, di ujung jalanan itu terdapat pertigaan dengan jalan yang hanya muat satu mobil. Dari arah kantor, di pertigaan, mengambil arah ke kanan. Lokasi kedai itu hanya beberapa blok saja. Kecil, tidak banyak orang, tidak berisik, dan musik yang diputar menenangkan. AC-nya pun cukup dingin.

Senandika. Begitu pemilik kedai itu menamainya tempatnya. Pemiliknya sendiri seorang yang ramah. Ia akan dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan pelanggan—meski sebenarnya tidak banyak pelanggan yang hadir tiap hari, ya, karena Senandika berada di tempat yang sebenarnya bakal susah dicari dan si pemilik juga tidak membuat papan nama di pertigaan yang bakal membuat orang penasaran. Ia tidak masalah dengan sepinya pelanggan. Menurut si pemilik, bila seseorang tiba-tiba menemukan dan suka berada di Senandika berarti mereka memiliki “hubungan” dengan kedainya. Itulah kenapa ia menamakan kedainya Senandika. Kedai untuk orang-orang yang ingin berbicara dengan hatinya.

Baca Juga:  Panggilan Telepon Pagi Hari

Luasnya kira-kira 24 meter persegi atau empat kali enam meter. Di dalamnya, hanya ada tiga meja kecil untuk dua orang. Jika ada rombongan pengunjung lebih dari dua orang, meja dan kursi bisa digeser.  Namun anehnya, pengunjung Senandika biasanya paling banter berdua. Biasanya pengunjung datang sendirian.

Selain tiga meja, ada meja konter dengan tiga kursi tinggi. Di meja itu, pemilik memajang lima toples berisi kopi-kopi lokal Indonesia, mesin kopi, dan dua pot kecil kaktus. Setiap bulan, kopi yang disajikan berbeda-beda, kecuali satu yang tetap ada: Arabika Temanggung. Kopi Temanggung jadi favorit pemilik kedai—dan anehnya juga menjadi favorit beberapa pelanggannya.

Menu minumannya hampir sama dengan kedai-kedai lainnya: kopi lokal dengan beragam variasi penyajian, kopi susu, kopi gula aren, Americano, macchiato, cappuccino, teh dengan beragam variasi, dan cokelat. Pilihan untuk makanan berat sangat sedikit: nasi goreng dan ayam goreng saja—memang tempat ini tidak ditujukan untuk makan besar. Makanan kecil, seperti kebanyakan kedai: kentang goreng, singkong goreng, dan otak-otak goreng.

Senandika tak punya pegawai. Pemiliknya merangkap sebagai barista, koki, kasir, dan juga pelayan. Meski begitu, si pemilik cukup cekatan dan tidak banyak membuang waktu. Lagi pula, Senandika masih sepi, si pemilik berpikir belum saatnya membuka lowongan pekerjaan.

Jani sampai di Senandika pukul 12.13 dan temannya saat itu belum sampai. Saat ia datang, Senandika memutar “My Foolish Heart” milik Bill Evans. Ia pun langsung menuju meja konter untuk memesan.

“Seperti biasa?” kata pemilik Senandika.

“Iya biasa. Es kopi susu gula aren. Temanggung ya.”

“Oke. Ada tambahan?”

“Hmmm,” jawab Jani sambil melihat-lihat menu yang tertulis di papan tulis di belakang si pemilik Senandika.

“Kebetulan hari ini kami bikin menu baru. Makaroni panggang dengan saus keju, mau coba?”

“Kelihatannya enak. Boleh deh,” kata Jani. “Oh ya, aku boleh menitipkan buku untuk kedai ini? Kebetulan ada buku yang baru terbit.”

“Oh ya-ya. Dengan senang hati. Taruh saja di rak buku di sana,” kata pemilik Senandika.

Pemilik Senandika kira-kira berusia menjelang 40 tahun atau 40 tahun awal. Perawakannya cukup tegap dengan tinggi mendekati 180 cm—cukup tinggi untuk laki-laki Indonesia yang rata-rata hanya 160-175 cm. Ia tinggal seorang diri di atas Senandika. Ya, di atas kedai ini terdapat satu ruangan berukuran sama dengan Senandika. Di situlah, si pemilik tinggal.

Senandika baru buka enam bulan. Dulu, tempat ini merupakan kamar kos, sama seperti lantai atas Senandika. Di sebelah kiri Senandika, dari arah pintu masuk, ada taman milik si pemilik rumah. Tidak besar, kira-kira seluas Senandika dengan pohon mangga cukup besar di tengah-tengah taman. Tiap bulan Oktober, seharusnya pohon mangga sudah berbunga dan rontokan bunga itu memenuhi taman. Cuaca berubah akhir-akhir ini. Kemarau panjang dan udara panas menahan pohon mangga untuk berbunga.

Pemilik rumah itu masih bersaudara dengan laki-laki pemilik Senandika. Karena tinggal sendirian dan sudah tidak tertarik menyewakan kamar kosongnya, si pemilik rumah meminta kemenakannya untuk tinggal di sini. Kemenakannya bersedia. Kebetulan pula ia sudah memutuskan berhenti bekerja dan sudah lama ingin memiliki kedai kecil. Laki-laki itu akhirnya membuat kedai kecil bernama Senandika.

Baca Juga:  Cassini

Jani bergeser ke ujung meja konter sebelah kanan tempatnya berdiri. Kira-kira berjarak dua meter dari kasir, satu rak buku kecil empat susun berdiri. Beberapa buku yang ada di sana pernah dibaca Jani, beberapa ia pernah tahu, tapi belum sempat membaca, dan sisanya ia belum tahu sama sekali. Ia meletakkan buku yang ia bawa di deretan buku fiksi dan kembali ke meja kasir.

“Besok-besok aku akan titip buku lagi,” kata Jani sambil membayar pesanannya.

“Sangat terima kasih sekali,” kata pemilik Senandika sambil menyerahkan beberapa kembalian.

“Aku suka tempat ini…. tenang dan…. nyaman,” kata Jani, “musiknya juga.”

“Terima kasih banyak. Senang sekali mendengarnya,” jawabnya. Ia pun menyiapkan minuman pesanan Jani. Jani melihat kecekatan tangan pemilik Senandika menakar kopi, susu, dan gula aren dalam meracik. Entah kenapa, ia suka melihat seseorang menyiapkan minuman atau makanan untuknya. Pemilik Senandika mengingatkan Jani pada suaminya.

Tak berapa lama, minuman Jani sudah jadi. Senandika tak menyediakan gelas plastik atau kertas sekali pakai. Mereka menggunakan gelas kaca ukuran sedang untuk minuman dingin dan cangkir atau mug untuk minuman panas. “Makaroninya nanti saya antar,” kata pemilik Senandika yang mengembalikan kesadaran Jani.

“Oh, terima kasih,” katanya sambil mengambil es kopi susu gula aren. Ia pun bergeser ke meja yang biasa ia tempati bersama temannya. Satu meja yang berada di ujung jauh Senandika dengan jendela yang menghadap pohon mangga.

***

Selama menunggu temannya datang, Jani terus menatap jendela dengan pemandangan pohon mangga. Cabang-cabang pohon mangga hampir menutupi seluruh taman. Dan, mungkin itu membuat nyaman kucing-kucing yang ada di sana, apalagi cuaca akhir-akhir ini sangat panas. Beberapa kucing sedang tidur siang di bawah pohon mangga.

Jani memainkan jari-jarinya di gelas kopinya. Mungkin akan terasa menyenangkan menjadi kucing, pikirnya dalam hati. Beberapa anak kucing di taman itu mengganggu kucing dewasa yang sedang tidur. Jani tersenyum saat melihat kucing dewasa jengkel karena tidur siangnya diusik.

Almost Blue” milik Chet Baker diputar. Matanya, entah kenapa, otomatis terpejam saat Chet Baker mulai memainkan trompet. Alunan trompet membuat jiwanya goyah. Semua kesedihan yang selama ini ia pendam keluar satu persatu, berbarengan dengan suara trompet Chet Baker yang menyayat. Ketika musik itu masuk di bagian solo piano, seperti ada tangan tak kasatmata yang menenangkan Jani. Bagaimanapun juga, Jani sudah memutuskan sikap—keputusan yang berat dan membuat jiwanya dan jiwa suaminya sangat kesakitan. Cuma jalan itu satu-satunya yang bisa menyembuhkan dirinya dan diri suaminya dari luka berulang.

Makaroni panggang saus keju diantarkan pemilik Senandika dan bertepatan dengan “Almost Blue” selesai. Makaroni itu membebaskannya dari pikiran-pikirannya dan ia pun bisa kembali ke waktu-kini di Senandika.

“Silakan,” kata pemilik Senandika. “Jika ada kekurangan, boleh kok dikritik.”

“Iya. Terima kasih,” jawab Jani. Pemilik Senandika kembali ke mejanya.

Jani mulai menyantap satu sendok makaroni panggang saus keju. Ia pejamkan mata saat merasakan kelembutan makaroni. Ia sama sekali tak merasakan tekstur keras dalam makaroni. Semua dimasak dalam komposisi pas, tidak berlebihan apa pun. Rasa saus kejunya pun enggan hilang dari lidahnya, seperti terus menempel dan meminta sesuap lagi. Bumbu rempah juga terasa dan bisa menyatu dengan makaroni dan keju.

Baca Juga:  Beberapa Detik Lalu

Saat makaroni panggang saus keju tinggal setengah, temannya baru datang. Jani bisa melihat dari tempatnya duduk saat temannya itu melambaikan tangan dari luar Senandika.

Dia membuka pintu Senandika dan langsung menuju meja Jani. “Maaf, agak lama, tadi ada sesuatu yang harus diselesaikan,” kata temannya itu.

“Tidak apa-apa kok,” kata Jani. Kehadiran temannya itu membuat pikiran Jani lebih tenang. Dia selalu menemani Jani di saat-saat terburuk. Meski baru berkenalan satu bulan, Jani merasa nyaman dan bisa membagikan kesedihannya. Dari dialah, ia bisa menemukan Senandika ini.

“Mau pesan lagi?” kata temannya itu.

“Enggak. Ini masih belum habis.”

“Oke, aku pesan dulu ya,” kata temannya.

Kali ini, Senandika memutar “Blue in Green” milik Miles Davis. AC di Senandika berhasil membuat Jani lupa dengan udara Jakarta yang menyentuh 37 derajat dan permainan trompet Miles Davis begitu menenangkan perasaannya.

Temannya itu memesan minuman yang sama dengan Jani. Ia menggeser kursi di depan Jani dan duduk. Mata Jani tak bisa terlepas dari gerak-gerik laki-laki di depannya. Seperti gerak-gerik anak kucing yang selalu membuat tertawa dan itu yang dibutuhkan Jani untuk melepaskan otot-otot tegang karena pekerjaan—dan juga soal rumah tangganya. Mereka saling menatap untuk beberapa detik.

“Bagaimana hari ini?” tanya temannya.

“Seperti biasa,” jawab Jani, “pekerjaan tidak pernah habis. Belum selesai satu buku, buku baru datang. Stressful.

It’s okey,” kata temannya menenangkan. “Kamu akan menyelesaikannya, seperti biasa.” Kini tangan temannya itu menggenggam tangan Jani. Dia mulai menghibur Jani dengan cerita-cerita lucu yang terjadi barusan dan membuatnya datang terlambat ke Senandika. Jani tertawa mendengarnya. Ia sudah lama tidak tertawa seperti ini. Mungkin selama ini ia sudah lupa bagaimana rasanya tertawa lepas dan entah kenapa, lawakan temannya itu bisa begitu nyambung, meski mereka baru berkenalan.

“Aku akan menceraikan suamiku,” kata Jani selepas mereka tertawa. Sempat ada momen hening beberapa detik. “Tapi, aku tidak tahu butuh berapa lama untuk sembuh dari luka ini,” katanya lagi.

Peace Piece” milik Bill Evans mengisi ruangan Senandika. Ada perasaan tenang, tapi juga menyakitkan, berkumpul di dada Jani.

 

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here