Bintang Barat, E.F. Wiggers
dibaca normal 5 menit

BEKERJA di surat kabar pada pertengahan abad ke-19 di Hindia Belanda bukanlah pekerjaan favorit. Apalagi, di surat kabar berbahasa Melayu yang pada periode 1860-an jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Begitu pula dengan Ersnt Frederik Wiggers. Ia tak punya bayangan bakal mengahabiskan hidupnya bekerja di dunia jurnalistik.

Ernst merupakan peranakan Eropa yang lahir dan besar di Ternate, Maluku. Ia lahir pada 10 Maret 1839. Leluhurnya merupakan serdadu VOC berdarah Jerman yang datang ke Nusantara pada 24 Agustus 1720. Selama bertahun-tahun, keluarga Wiggers terus menetap di Ternate.

Sama seperti pemuda Indo lainnya, Ernst muda ingin mencari pengalaman baru di Batavia. Anak laki-laki pertama dari Eugenius Wiggers ini pasti sudah kerap mendengar kemegahan jantung Hindia Timur. Apalagi, ayahnya adalah seorang pedagang cengkih. Tentu nama Batavia selalu disinggung ayahnya dan terngiang di kepala Ernst muda.

Menginjak umur 20-an, Ernst pun memberanikan diri keluar dari Ternate. Tujuannya adalah Batavia. Biasanya, pemuda-pemuda Indo datang ke Batavia untuk mengikuti ujian masuk sebagai pegawai Gubernemen. Termasuk Ernst muda yang mencoba peruntungan di ujian abdi pemerintahan.

Bekerja sebagai pegawai pemerintahan tentu menjanjikan kepastian masa depan. Apalagi, pertengahan abad ke-19, modal asing belum dibuka secara besar-besaran. Liberalisasi ekonomi Hindia baru dibuka pada 1870.

Tahun ketika Ernst masuk ke Batavia, tidak banyak perusahaan perkebunan yang membuka lahan lantaran perkebunan banyak dikuasai Gubernemen. Pekerjaan sebagai controleur, misalnya, menjadi primadona pemuda-pemuda Indo di Hindia. Terlebih, saat itu, Hindia Belanda sedang banyak membutuhkan pegawai Eropa atau Indo untuk mengawasi bupati-bupati yang tersebar di wilayah Hindia Timur. Utamanya untuk mengawasi keberlangsungan cultuurstelsel.

Adik lelaki Ernst, Herman Dirk Wiggers, pun mengikuti pola ini—datang ke Batavia untuk ikut ujian pegawai. Herman dua tahun lebih muda dari Ernst. Ia datang ke Batavia bersama Frits Bernard Wiggers—adik lelaki Ernst lainnya—pada 29 Juni 1861 dengan kapal uap Prins van Oranje. Empat tahun kemudian, Herman berhasil menjadi pegawai pemerintah kolonial. Ia bekerja sebagai notulen di Pati, Jawa Tengah, pada 25 Oktober 1865.

Bagaimana dengan Ernst? Kedatangan Ernst di Batavia tidak diketahui secara pasti. Berdasarkan The 1864 Regeerings-Almanak, E.F. Wiggers tercatat berada di Batavia pada 1864. Kemungkinan besar Ernst datang lebih awal dari 1864, bahkan lebih awal dari adiknya, Herman. Namun, sepertinya ia tak seberuntung Herman yang berhasil menjadai pegawai pemerintahan. Ernst gagal masuk sebagai pegawai Gubernemen.

Peruntungan di Dunia Jurnalistik

Setelah gagal sebagai di ujian masuk pegawai Gubernemen, Ernst mengambil peruntungan di dunia jurnalistik. Saat itu, surat kabar sudah bermunculan. Namun, umumnya berbahasa Belanda. Misalnya saja, Javasche Courant, Bataviaasch Advertentieblad yang mulai terbit pada 1825 dan Nederlandsch Indisch Handelsblad pada 1829 (Ahmat Adam, 2003).  Sayangnya, kebanyakan koran-koran itu hanya mempekerjakan kaum Eropa totok atau pensiunan pegawai negeri.

Orang Indo seperti Ernst yang tak pernah bekerja di pemerintahan akan susah masuk. Apalagi, warna kulitnya tidak terlalu Eropa dan lebih dekat ke inlander (pribumi)Hal tersebut menyusahkan Ernst untuk masuk di koran-koran Belanda.

Baca Juga:  Soal ‘Rasa’ di Buku Cetak yang Tak Pernah Ada di Buku Digital

Surat kabar berbahasa Melayu juga masih belum banyak. Di Batavia, periode 1860-an hanya sedikit koran Melayu. Itu pun kebanyakan diampu oleh kelompok misionaris.

Adapun, koran Melayu sebelum 1860 umumnya hanya berumur pendek. Soerat Chabar Betawi yang terbit di Batavia pada 3 April 1858 tak genap setahun. Justru, soal surat kabar Melayu, Batavia malah ketinggalan dengan Surabaya dan Semarang. Dua kota perdagangan itu lebih dulu mempunyai surat kabar Melayu berhaluan komersial: Selompret Melajoe (Semarang, 1862) dan Bintang Timor (Surabaya, 1862).

Batavia, menurut Ahmat Adam (2003), baru kembali punya surat kabar Melayu pada 1867, yakni Biangla-La. Surat kabar ini tidak sama dengan Selompret Melajoe dan Bintang Timor. Biangla-La yang diasuh John Muhleisen Arnold dan diterbitkan oleh Ogilvie & Co. ini berhaluan misionaris.

Selang beberapa bulan, Batavia kembali memiliki koran berbahasa Melayu, yakni Mataharie. Koran yang diampu Henry Tolson ini berbeda dengan Biangla-La. Matahari memilih berorientasi ke komersial ketimbang misionaris.

Kedua surat kabar ini bersaing ketat untuk memperebutkan pasar di Batavia. Mataharie lebih dulu tutup, sementara Biangla-La tetap bertahan.

Dalam perkembangan Biangla-La, redaktur J.M. Arnold berselisih dengan Ogilvie & Co. Perselisihan ini menyebabkan Biangla-La tak lagi mencetak korannya di Ogilvie & Co.

Berpisah dengan Biangla-La tidak membuat Oglivie & Co. menyerah di dunia surat kabar berbahasa Melayu. Schreutelkamp, bos Ogilvie & Co., melihat kue bisnis surat kabar Melayu di Batavia masih besar. Dengan kematian Mataharie plus Biangla-La yang bersifat agamais, Schreutelkamp berencana membuat koran Melayu sendiri yang berhaluan komersial. Ia pun meminta J. Kieffer, pensiunan pegawai pemerintahan, untuk mengepalai surat kabarnya itu.

Nah, lewat J. Kieffer ini, Ernst akhirnya memulai karier di dunia jurnalistik. Tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali Ernst berkenalan dengan Kieffer. Yang pasti, sosok Kieffer inilah yang akhirnya mendorong Ernst terjun di dunia surat kabar. J. Kieffer mengajak Ernst untuk bergabung membangun surat kabar komersial baru berbahasa Melayu milik Oglivie & Co. Surat kabar itu bernama Bintang Barat.

Pelan tapi pasti, di bawah J. Kieffer dan E.F. Wiggers, Bintang Barat berhasil menjadi koran berbahasa Melayu ternama di Batavia. Di Jawa, Bintang Barat hanya kalah dengan Selompret Melajoe dan Bintang Timor yang terbit di Surabaya.

Di Bintang Barat inilah, Ernst mengasah kemampuan menulisnya. Namanya ikut besar bersamaan semakin sohornya koran Bintang Barat.

Sebagai redaktur, ia juga kerap mengkritik pemerintahan. Ernst pernah mengkritik kepolisian Hindia karena tidak bekerja dengan baik dalam menyelidiki kasus penggelapan uang.

Berkat kritikan-kritikannya di Bintang Barat, Ernst pernah berhadapan dengan pengadilan lantaran delik pers. Pada 17 November 1883, seperti dikutip dari Java Bode—koran kenamaan berbahasa Belanda, E.F. Wiggers sebagai redaktur Bintang Barat harus datang ke pengadilan bersama Schreutelkamp, pemilik perusahaan Oglivie & Co. Pengadilan tersebut mendakwa E.F. Wiggers dan Schreutelkamp lantaran memuat artikel yang merugikan pihak lain. Pengadilan akhirnya memutuskan mendenda Bintang Barat itu sebesar f250 atau kurungan selama 14 hari.

Baca Juga:  Cerpen-Cerpen Dunia di BOOKSANDGROOVE.com yang Bisa Dibaca Selama Physical Distancing

Menjamah Dunia Sastra

Posisi sebagai redaktur Bintang Barat secara tidak langsung juga terkait dengan dunia sastra. Koran-koran di pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 tidak sama dengan koran zaman sekarang.

Koran masa itu umumnya terdiri dari 4 halaman. Isinya selain berita dan iklan adalah karya sastra atau terjemahan sastra dari luar negeri.  Ernst ikut mengisi rubrik sastra di Bintang Barat dengan menerjemahkan beberapa karya sastra.

Ernst, menurut peneliti Henk Maier (2006), menerjemahkan karya The Secrets of the Courts of Constantinople ke dalam bahasa Melayu rendah dengan judul Barang Rahasia dari Astana Konstatinopel. Ia juga bekerja sama dengan Lie Kim Hok—Bapak Sastra Melayu Tionghoa—dalam usaha menerjemahkan karya Pont Jest yang berjudul L;Araignee Rougee (1874) ke dalam bahasa Melayu dengan judul Lawah-Lawah Merah (1875).

Ernst ikut berjasa dalam menampung karya sastra penulis-penulis Indo-Eropa dan peranakan Tionghoa dalam bahasa Melayu. Karya monumental Gijsbert Francis, Njai Dasima, pertama kali dimuat dalam cerita bersambung di Bintang Barat. Njai Dasima akhirnya diterbitkan sebagai buku cerita pada 1896.

Untuk penulis peranakan Tionghoa, dari catatan Claudine Salmon—Indonesianis asal Prancis, Sair Satoe Kidang yang ditulis oleh Tan Giok Laij dari Bogor pernah dimuat di Bintang Barat pada edisi 5 November 1872. Syair-syair Tan Kit Tjoan (peranakan Tionghoa asal Pekojan), seperti Saier Mengimpie dan Saier Boeroeng, juga pernah diterbitkan di Bintang Barat pada 1871-1872 (Salmon, 2010).

Selain itu, Ernst juga menampung kisah perjalanan dari saudagar peranakan Tionghoa ke dalam surat kabarnya. Salah satunya adalah kisah perjalanan Tan Hoe Loe yang dimuat di Bintang Barat pada 1889.

Di Bintang-Barat, Ernst juga dikenal sebagai kritikus sastra. Tentu model kritik sastranya bukan seperti kritik sastra saat ini. Ia menulis secara berseri tentang pertunjukan dari grup teater Komedie Stamboel milik A. Mahieu. Matthew Issac Cohen (2006)—seorang peneliti drama Indonesia—menyebut bahwa tulisan Ernst di Bintang Barat tentang Komedie Stamboel cukup positif dan informatif. Bintang Barat kerap menulis tentang ringkasan cerita pertunjukan tersebut, kemudian respons penonton dalam pertunjukan. Lantaran kerap datang di pertunjukan Komedie Stamboel, beberapa orang salah mengartikan bahwa pemilik grup pertunjukan tersebut adalah E.F. Wiggers.

Meski tidak memiliki karya asli, Ernst Frederik Wiggers bisa dikatakan berjasa dalam perkembangan awal sastra modern berbahasa Melayu. Ernst memiliki kedekatan dengan penulis-penulis Melayu-Tionghoa, seperti Lim Kiem Hok dkk., dan memberi ruang cukup besar bagi karya-karya mereka. Lewat tangan E.F. Wiggers pula, roman Njai Dasima milik G. Francis bisa terkenal di masanya, bahkan sampai sekarang.

Masa Tua E.F. Wiggers

Di masa tuanya, Ernst sempat ikut mendirikan surat kabar lain, juga bersama J. Kieffer. Surat kabar tersebut bernama Bintang Betawie.  Edisi pertama, menurut laporan Java Bode, terbit pada 3 Oktober 1893. Pada tanggal itu pula, Java Bode menulis, “Telah hadir koran berbahasa Melayu, Bintang Betawi, yang diampu oleh J. Kieffer dan E.F. Wiggers. Pembaca akan disuguhi berita-berita penting dari dalam maupun luar negeri. Termasuk juga laporan berseri dan eksklusif dari koresponden.”

Baca Juga:  Ferdinand Wiggers; Pesakitan Ambtenaar yang Jadi Redaktur Ternama

Namun, keberadaan E.F. Wiggers tak bertahan lama di Bintang Betawi. Pun juga di Bintang Barat. Di penghujung 1893, E.F. Wiggers mulai sakit-sakitan. Usianya saat itu sudah mencapai separuh abad. Ia mengaku menderita rematik selama bertahun-tahun.

Desember 1893, lantaran penyakit itu, E.F. Wiggers memutuskan pensiun dari dunia jurnalistik. Keputusan itu menandai berakhirnya karier panjang Ernst di dunia jurnalistik, yakni selama 25 tahun.

Surat kabar berbahasa Belanda, De Locomotief, di edisi 30 Desember 1893 menulis tentang perpisahan itu. Jurnalis tertua dalam bahasa Melayu, E.F. Wiggers, tulis De Locomotief, selama 25 tahun telah mengampu surat kabar Bintang Barat. Karya-karyanya telah menginspirasi banyak pembaca. Ia kemudian menyerahkan surat kabarnya kepada perusahaan Ogilvie & co. “Kini, ia mengucapkan selamat tinggal kepada dunia jurnalisme,” tulis De Locomotief.

Selepas pensiun dari dunia jurnalistik, Ernst mencoba segala pengobatan untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Salah satunya berobat ke singseh. Ia sempat mengumumkan bila penyakitnya itu sudah membaik. Tepatnya, 21 Agustus 1894, Ernst memasang iklan yang berisi ucapan terima kasih kepada singseh Tjiong Tjoekoen di surat kabar Bataviaasch Handelblaad.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada singseh Tjiong Tjoekoen, Djembatan Boesoek, karena telah menyembuhkan penyakit rematik yang saya derita bertahun-tahun,” tulis Ernst dalam iklannya itu.

Tujuh bulan berselang, tepatnya 24 Maret 1895, E.F. Wiggers tak kuasa menahan penyakitnya itu. Ia meninggal dunia lantaran penyakit rematik yang telah diderita selama bertahun-tahun. Ia kemudian dimakamkan di Tanah Abang, Weltevreden.

Ernst memiliki 9 anak dari pernikahan dengan nyainya yang bernama Helen. Ernst menikahi Helen secara resmi pada 18 Maret 1881. Namun pada 24 Agustus 1881, Helen meninggal dunia. Salah satu anaknya yang mengikuti jejaknya di dunia jurnalistik dan sastra adalah Ferdinand Wiggers. Bahkan, Wiggers junior ini punya prestasi yang lebih hebat dari Ernst.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here