Duniazat
dibaca normal 15 menit

HANYA SEDIKIT YANG DIKETAHUI, meski banyak yang sudah ditulis, tentang kebenaran asal-muasal jin, makhluk yang diciptakan dari api tanpa asap. Apakah mereka baik atau jahat, kejam atau jinak? Pertanyaan itu selalu menjadi perdebatan. Beberapa yang sudah diterima secara umum, seperti mereka dapat bergerak dengan cepat, mampu berubah bentuk dan ukuran, atau menjanjikan keinginan duniawi laki-laki dan perempuan hingga mereka harus memilih atau bisa juga mereka akan dipaksa untuk melakukan keinginan itu. Dan, jin hidup dalam ruang waktu yang berbeda sama sekali dengan manusia.

Manusia tidak akan kebingungan membedakannya dengan malaikat. Ya, meskipun beberapa dongeng lama keliru mengisahkan bahwa iblis sendiri merupakan malaikat yang dikutuk, yakni Lucifer, putra sang fajar, dan dia adalah jin yang paling berkuasa. Untuk waktu yang lama, tempat tinggal mereka juga masih diperdebatkan. Beberapa dongeng lama bercerita, lebih tepat dongeng itu memfitnah, bahwa jin tinggal di bumi, yang kerap disebut sebagai “dunia terendah”, misalnya di reruntuhan gedung dan beberapa tempat yang tidak sehat, seperti tempat sampah, kuburan, kakus di luar ruangan, got, dan beberapa tempat yang mungkin seperti tempat kotoran hewan.

Menurut dongeng fitnahan itu pula kita harus membersihkan diri setelah bersentuhan dengan jin. Mereka berbau busuk dan membawa penyakit. Bagaimanapun, penjelasan yang terbaik sebatas yang kita tahu sebagai kebenaran adalah jin hidup di dunia mereka sendiri, terpisah dari dunia kita dengan selubung tipis, dan dunia kayangan ini terkadang disebut sebagai Peristan atau alam gaib, dunia yang sangat luas dan juga tersembunyi dari kita.

Tentang jin yang tidak berbentuk seperti manusia tampaknya sudah menjadi kebenaran. Sebenarnya, manusia juga berbagi beberapa karakteristik jin, setidaknya kesamaaan sifat ketidakmasukakalan. Misalkan dalam hal keimanan. Ada jin yang percaya dengan setiap sistem kepercayaan di bumi dan ada pula jin yang tidak percaya. Bagi beberapa orang, gagasan Tuhan dan malaikat begitu asing. Ini sama halnya dengan soal jin itu sendiri, sangat asing bagi manusia. Dan, meski banyak jin yang tak bermoral, ada jin yang mempunyai kemampuan lebih dan bisa mengetahui perbedaan antara baik dan jahat, antara sisi kanan dan sisi kiri jalan yang ditempuh.

Beberapa jin bisa terbang, tapi beberapa lainnya merayap di tanah dalam bentuk ular, atau menggonggong dan membuka taring mereka seperti anjing besar. Di lautan, terkadang di udara, mereka menganggap jin dalam bentuk naga. Beberapa jin yang lemah tidak bisa, ketika di bumi, mempertahankan bentuknya dalam waktu lama. Makhluk yang tak berbentuk ini terkadang masuk ke dalam manusia melalui telinga, hidung, atau mata, dan mengambil alih tubuh manusia untuk sementara, lalu meninggalkan tubuh itu ketika mereka sudah kelelahan di dalamnya. Manusia yang dirasuki, sayangnya, tidak selamat.

Jin perempuan, jinnias atau jinniri, bahkan lebih misterius, dan bahkan lebih halus serta susah dimengerti. Mereka menjadi menyerupai perempuan, tapi terbuat dari api tanpa asap. Ada jinniri buas, dan ada pula jinniri yang penuh cinta. Meski kedua jinniri ini berbeda, mereka sebenarnya satu dan sama karakternya. Roh yang jahat bisa saja dijinakkan dengan cinta atau jinniri yang penuh cinta bisa jadi buas dengan penganiayaan biadab melebihi pengetahuan manusia.

INI ADALAH CERITA JINNIA, putri jin yang termasyhur dan sering dikenal sebagai Putri Cahaya, putri yang menguasai petir dan jatuh cinta pada manusia bertahun-tahun lalu sejak abad ke-12, seperti yang kita akan ceritakan. Dan, putri itu mempunyai banyak keturunan dan ia akan kembali ke dunia, setelah sekian lama menghilang, untuk jatuh cinta lagi, setidaknya untuk sesaat, dan setelah itu akan pergi berperang. Ini juga kisah tentang jin lain, laki-laki dan perempuan, terbang dan merayap, baik buruk, dan tidak tertarik pada moralitas. Jin yang hidup pada masa-masa kritis, waktu yang tak berkesinambungan, yang kita sebut sebagai waktu yang tak dikenal, yang berlangsung selama dua tahun delapan bulan dan dua puluh delapan malam. Bisa juga disebut sebagai Seribu Satu Malam. Dan, ya, kita sedang hidup di seribu malam yang lain sejak hari itu, namun kita semua sudah berubah oleh waktu. Bisa lebih baik atau lebih buruk, dan itu semua untuk masa depan yang harus kita putuskan.

Pada 1195, filsuf besar Ibnu Rushd, yang waktu itu menjadi kadi atau hakim di Sevilla dan juga sebagai dokter pribadi Khalifah Abu Yusuf Yaqub di kampung halamannya, Cordoba, baru saja secara resmi dihina dan dipermalukan karena gagasan-gagasan liberalnya. Ide-ide itu tak diterima olah kelompok fanatik suku Barber yang semakin membesar dan kuat serta juga semakin menyebar ke Iberia seperti wabah penyakit. Dia lantas diasingkan ke desa kecil Lucena, di luar kampung halamannya. Lucena adalah desa yang penuh dengan orang Yahudi—saat ini mereka tak bisa disebut Yahudi karena pemimpin Andalusia sebelumnya, Dinasti Almoravides, memaksa mereka untuk pindah ke agama Islam.

Ibnu Rushd, yang tidak lagi diizinkan untuk menyebarkan filsafatnya dan semua tulisannya dilarang dan buku-bukunya dibakar, cepat sekali merasa seperti di rumahnya sendiri, meski berada di sekitar kaum Yahudi yang sebenarnya tidak bisa disebut lagi Yahudi. Dia menjadi pemikir yang disukai Khalifah Kesultanan Dinasti Almohad, namun seorang kesayangan istana biasanya memang akan disingkirkan, dan Abu Yusuf Yaqub mengizinkan para fanatik untuk menekan pengagum Aristoteles itu keluar dari kota.

Filsuf yang kini tak bisa lagi menyebarkan gagasannya itu tinggal di dekat jalanan bergelombang di rumah sederhana dengan jendela kecil dan sangat terpukul karena tiadanya penerangan. Dia membuka praktik dokter di Lucena dan statusnya sebagai bekas dokter Khalifah membuat banyak pasien datang padanya. Sebagai tambahan penghasilan, dia menggunakan sisa-sisa barangnya dan secara sederhana masuk di bisnis jual-beli kuda. Dia juga membiayai pembuatan gerabah besar, Tinajas, yang dipakai oleh kaum Yahudi yang bukan lagi Yahudi untuk membuat anggur dan minyak zaitun. Tinajas itu kemudian mereka jual.

SUATU HARI, tidak lama setelah permulaan masa pengasingannya, seorang perempuan yang mungkin telah melewati 16 musim semi muncul di luar pintu, tersenyum lembut, tidak mengetuk pintu atau mengganggu kegiatan Ibnu Rushd dalam cara apa pun. Ia hanya menunggu dengan sabar hingga Ibnu Rushd menyadari kehadirannya dan menyuruh masuk. Perempuan itu mengatakan padanya, ia baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Ia tak lagi punya penghasilan dan tidak ingin bekerja di pelacuran.

Namanya Dunia. Nama yang tak terdengar seperti nama seorang Yahudi karena ia tak diizinkan menggunakan nama Yahudi. Lantaran tidak bisa membaca menulis, ia pun tak bisa menuliskan namanya. Ia bilang padanya, seorang pengelana mengusulkan sebuah nama dan nama itu berasal dari bahasa Yunani yang berarti “dunia” dan ia suka dengan ide itu. Ibnu Rushd, seorang penerjemah Aristoteles, tidak ingin berdebat dengan Dunia hanya untuk menonjolkan pengetahuannya yang tak begitu penting bagi orang dengan lidah kebanyakan dan cukup tahu arti sederhana “dunia”.

“Kenapa kamu menamakan dirimu ‘Dunia’?” Ibnu Rushd bertanya pada Dunia.

Dan, ia menjawab seraya melihat matanya, “Karena dunia akan mengalir dari diriku dan yang mengalir dari diriku akan menyebar ke seluruh dunia.”

Sebagai seorang yang mengutamakan logika, dia tidak menyangka sama sekali bahwa Dunia adalah makhluk supranatural, jinnia, dan berasal dari bangsa jin perempuan, jiniri. Ia adalah putri agung bangsa jin yang sedang berkelana. Biasanyam jinnia mengejar cinta dengan seorang laki-laki dan khususnya seorang laki-laki yang jenius.

Ibnu Rushd mempekerjakan Dunia sebagai pembantu rumah dan juga kekasih. Dan, pada malam yang sunyi, Dunia membisikkan nama Yahudi yang “sebenarnya”—ini merupakan cara Dunia bercerita: benar berarti salah—di telinga Ibnu Rushd dan menjadi rahasia mereka berdua.

Baca Juga:  Sang Ratu - Pablo Neruda

Dunia, seorang jinnia, sungguh sangat “subur”. Kesuburannya itu seperti sebuah nubuat yang telah disematkan padanya. Setelah dua tahun, delapan bulan, dan dua puluh delapan hari dan malam, Dunia telah hamil tiga kali dan dalam tiap kali kehamilan, ia melahirkan banyak anak. Setidaknya dalam tiap kehamilan ia melahirkan tujuh anak. Bahkan suatu kali ia melahirkan sebelas atau kemungkinan bisa sembilan belas, meski catatannya tak pernah jelas dan pasti. Semua anak-anaknya mempunyai keunikan yang membedakan dengan anak-anak lainnya: mereka tidak mempunyai telinga.

Jika Ibnu Rushd sudah mahir dalam ilmu gaib, dia akan menyadari bahwa anak-anaknya adalah keturunan dari ibu yang bukan manusia. Namun, dia terlalu sibuk bekerja di luar. (Kita terkadang berpikir, ketidaktahuan Ibnu Rushd merupakan keberuntungannya dan juga bagi seluruh sejarah kita. Dunia sangat mencintai Ibnu Rushd karena kejeniusan pikirannya, namun sifat alaminya barangkali terlalu egois untuk menumbuhkan cinta bagi dirinya sendiri). Seorang filsuf yang tak bisa berfilosofi lagi ini takut kelak anak-anaknya mewarisi sesuatu dari dirinya, warisan kesedihan yang bisa saja menjadi harta karun dan kutukannya.

“Untuk menjadi seorang yang ‘kritis’, ‘berpandangan jauh’, dan ‘berbicara apa adanya’,” ujarnya, “harus bisa berpikir sangat tajam, melihat sangat jelas, dan berbicara dengan sangat bebas. Semua itu akan sangat rentan bagi dunia saat dunia sendiri percaya bahwa dunia kebal, memahami dunia berubah-ubah ketika dunia sendiri tetap, merasakan apa yang belum dirasakan orang lain, mengetahui bahwa masa depan orang-orang barbar adalah menjatuhkan gerbang masa kini ketika yang lain berpegang teguh pada kemerosotan dari masa lalu yang hampa. Jika anak kita beruntung, mereka hanya akan menurunkan telingamu, namun sayangnya, tak dapat disangkal mereka juga keturunanku. Mereka mungkin akan berpikir terlalu banyak, terlalu cepat, dan mendengar terlalu banyak, terlalu lebih awal, termasuk beberapa yang tak izinkan untuk diajarkan atau didengar.”

“Dongengkan sebuah kisah,” Dunia selalu memintanya, di kasur pada awal-awal mereka bersama. Ibnu Rushd dengan cepat menyadari, meski Dunia terlihat muda, Dunia bisa saja jadi seorang yang penuntut dan dogmatis di tempat tidur dan di luar juga. Ibnu Rushd adalah seorang yang besar dan Dunia seperti burung kecil atau seekor serangga yang menempel, namun Ibnu Rushd selalu menganggap Dunia sebagai seorang yang kuat. Ya, Dunia merupakan wujud kebahagiaan bagi orang seumurannya, tapi juga meminta energi yang lebih besar, yang baginya akan sulit untuk dipertahankan. Pada umurnya yang sekarang, kadang semua yang diinginkan saat di tempat tidur hanyalah tidur nyenyak. Namun, Dunia melihat gelengan kepala Ibnu Rushd merupakan tanda bermusuhan.

“Jika kamu bercinta sepanjang malam,” ia berkata, “kamu akan benar-benar merasa beristirahat dibandingkan jika kamu mendengkur sepanjang waktu seperti lembu. Ini pengetahuan.”

Di umurnya sekarang, tidak mudah mempunyai kondisi prima untuk bercinta, terutama berturut-turut setiap malam, namun Dunia melihat kesulitannya bercinta bukan karena usia melainkan nafsunya. Ini menjadi bukti bahwa dia tidak mencintainya.

“Jika kamu menemukan perempuan yang atraktif, takkan pernah jadi masalah,” Dunia berkata padanya. “Tidak peduli berapa malam berturut-turut. Aku, aku selalu bernafsu. Aku bisa bercinta selamanya. Aku tidak bisa berhenti.”

Ibnu Rushd menemukan cara untuk meredam hasrat Dunia, yakni dengan cerita. Ini tentu saja membantunya. “Ceritakan sesuatu,” katanya, seraya meringkuk di tangan Ibnu Rushd sehingga tangannya bertumpu pada kepala Dunia. Dan Ibnu Rushd pun berpikir, ‘bagus, malam ini aku terlepas dari tugas bercinta.’ Dan sedikit demi sedikit, dia akan bercerita padanya. Dia menggunakan kata-kata yang mengejutkan bagi orang sezamannya. Kata-kata seperti, “akal”, “logika”, dan “ilmu pengetahuan,” yang merupakan tiga pilar bagi kekuatan magisnya, ide-ide yang membuat buku-bukunya harus dibakar. Dunia takut dengan kata-kata itu, tapi ketakutan itu membuatnya tertarik dan ia meringkuk lebih dekat dan berkata, “Usap kepalaku ketika kamu menambahkan kebohonganmu di dalamnya.”

ADA sebuah luka yang dalam, kesedihan di dalam dirinya karena dia telah dikalahkan oleh seorang laki-laki. Ya, Ibnu Rusdh telah kalah dalam pertempuran besar dalam hidupnya dengan seorang Persia yang sudah meninggal, Ghazali dari Tus, lawan yang sudah meninggal 85 tahun yang lalu. Seratus tahun yang lalu, Ghazali menulis sebuah buku, Tahafut al-Falasifah. Di dalamnya, Ghazali menyerang filsuf Yunani, seperti Aristoteles, penganut Neoplatonis, dan pengikut-pengikutnya, para pendahulu Ibnu Rushd, Ibnu Sina dan al-Farabi.

Pada poin tertentu, Ghazali menderita krisis keimanan, tapi dia kembali untuk menjadi momok paling menakutkan bagi filsafat dalam sejarah dunia. “Filsafat,” ujar Ghazali mengejek, “tidak mampu membuktikan keberadaan Tuhan, atau bahkan membuktikan kemustahilan adanya dua Tuhan.” Filsafat percaya pada keniscayaan sebab dan akibat, yang merupakan turunan dari kekuasaan Tuhan. Tentu Tuhan bisa dengan mudah mengintervensi untuk mengubah akibat sehingga membuat sebab tak lagi efektif jika dia menghendaki.

“Apa yang terjadi,” Ibnu Rushd bertanya kepada Dunia ketika malam menyelubungi mereka dalam kesunyian dan mereka pun bisa berbicara tentang sesuatu yang dilarang, “ketika obor bersentuhan dengan bola kapas?”

“Tentu saja kapas terbakar,” jawab Dunia.

“Dan mengapa kapas itu terbakar?”

“Karena memang seharusnya begitu,” ujarnya, “api menjalar ke kapas dan kapas menjadi bagian dari api, itulah yang terjadi.”

“Hukum alam,” jawab Ibnu Rushd, “yang menyebabkannya,” dan kepala Dunia mengangguk di bawah tangan Ibnu Rushd yang membelainya.

“Dia tidak setuju,” Ibnu Rushd berkata. Dan Dunia tahu “dia” yang dimaksud adalah musuh Ibnu Rushd, Ghazali, seseorang yang telah mengalahkannya. “Dia berkata kapas terbakar karena Tuhanlah yang menyebabkan itu terbakar karena di alam semesta ini, hanya ada satu hukum, yakni kehendak Tuhan.”

“Jadi, jika Tuhan menginginkan kapas itu memadamkan api, jika Tuhan menginginkan api jadi bagian kapas, Tuhan bisa melakukannya?”

“Ya,” jawab Ibnu Rushd. “Menurut buku Ghazali, Tuhan bisa melakukannya.”

Dunia berpikir untuk sesaat. “Itu bodoh,” ia akhirnya menyela. Bahkan di kegelapan, Dunia bisa merasakan senyum kepasrahan—senyum dengan rasa sinis di dalamnya yang bisa diartikan pula kepedihan—keluar dari wajahnya yang berjanggut itu.

“Dia akan bilang, itulah keimanan sebenarnya,” Ibnu Rushd menjawab, “dan ketika tidak setuju dengannya, itulah inkoherensi yang dia maksud.”

“Jadi, apa pun bisa terjadi jika Tuhan menentukan, itu aku setuju,” ia berseloroh. “Kaki manusia mungkin sebentar lagi takkan menyentuh tanah, misalnya—dia bisa mulai berjalan di udara.”

“Keajaiban,” kata Ibnu Rushd, “hanya akan terjadi jika Tuhan mengubah aturan yang Ia pilih, dan jika kita tidak memahaminya, itu karena Tuhan tak bisa dilukiskan, bisa dikatakan, melampaui pemahaman kita.”

Ia terdiam lagi. “Misalkan, aku mengira-ngira,” Dunia berkata panjang lebar, “bahwa Tuhan mungkin tidak ada. Misalkan, kamu membuat aku percaya pada ‘akal’, ‘logika’, dan ‘ilmu pengetahuan’, serta mempunyai daya magis untuk membuat Tuhan tak lagi penting, bisakah seseorang bahkan mengira-ngira bahwa itu mungkin saja terjadi untuk memisalkan hal semacam itu?” Dunia merasakan tubuhnya kaku. Sekarang, dia takut pada kata-katanya, pikir Dunia, dan itu membuatnya senang dengan cara yang unik.

“Tidak,” Ibnu Rushd menimpali, dengan nada terlalu keras. “Itu akan menjadi anggapan yang bodoh.”

Ibnu Rushd telah menulis sebuah buku, Tahafut al-Tahafut, untuk membalas Ghazali yang telah melewati ratusan tahun dan ribuan mil. Sayangnya, terlepas dari judul yang tajam, pengaruh orang Persia itu tak berkurang dan akhirnya membuat Ibnu Rushd dipermalukan. Bukunya pun dibakar. Api melahap halaman demi halaman karena Tuhan telah memutuskan, waktu itu, api untuk membakar halaman-halaman bukunya.

Baca Juga:  Yesterday - Haruki Murakami (Bagian 1)

Semua yang ada di dalam bukunya, sebenarnya, ingin mendamaikan kata-kata “akal”, “logika”, dan “ilmu pengetahuan” dengan kata-kata “Tuhan”, “keimanan”, dan “Quran”. Ibu Rushd tidak berhasil, meskipun dia telah menghaluskan argumen-argumennya dengan mengutip ayat Alquran. Tuhan harus ada karena taman duniawi ini disediakan untuk umat manusia, dan tidakkah Kami turunkan dari langit hujan, air yang turun ke bumi berlimpah-limpah sehingga kamu bisa menanam jagung, rempah-rempah, dan kebun yang penuh pohonan?”

Dia adalah tukang kebun amatir dan argumen yang sedikit lembut itu, menurutnya, untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan juga sikap liberalnya. Namun, pemuja Tuhan garis keras malah memukulinya. Sekarang Ibnu Rushd bersandar dengan seorang Yahudi yang bukan Yahudi lagi dan dia selamatkan dari pelacuran. Bersama Dunia, ia bisa berbagi mimpi. Sebuah mimpi yang di dalamnya dia bisa berdebat sengit dengan Ghazali menggunakan bahasa kasar yang bisa membuatnya diseret oleh eksekutor ke tiang gantungan bila ia ucapkan di kehidupan nyata.

SEMENJAK Dunia dipenuhi anak-anak dan kemudian mengosongkan anak-anak itu dari rahimnya ke dalam rumah kecil, tak ada lagi ruang tersisa bagi “kebohongan” perbincangan Ibnu Rushd. Keintiman mereka berkurang dan uang menjadi permasalahan.

“Seorang laki-laki sejati harus siap menghadapi konsekuensi dari apa yang dilakukannya,” ujar Dunia padanya, “terutama laki-laku yang percaya pada sebab-akibat.”

Namun, mencari uang tidak pernah menjadi keahliannya. Bisnis jual-beli kuda sangat berbahaya dan penuh tukang tipu sehingga keuntungan yang dia dapat kecil. Dia punya saingan banyak di pasar Tinaja hingga harganya pun jatuh.

“Mintalah sedikit pada pasienmu,” Dunia menyarankan dengan nada jengkel. “Kamu harus menghasilkan uang dari status mantan seorang yang pernah dihormati, ternodalah sedikit. Apalagi yang kamu dapat? Ini semua tidak cukup bagi seorang monster pembuat bayi. Kamu membuat anak, anak lahir, dan anak harus diberi makan. Itulah ‘logika’. Itulah ‘rasional’.” Dunia tahu kata-katanya bisa berbalik menyerangnya. “Jangan seperti ini,” ia menangis penuh kemenangan, “ini inkoherensi.”

(Jin gemar pada benda-benda berkilauan, emas dan perhiasan, serta lain sebagainya, dan mereka selalu menyembunyikan harta itu di gua-gua bawah tanah. Mengapa putri jinnia memilih menangis ketimbang membuka pintu gua harta karun, dengan begitu ia bisa memecahkan masalah keuangan pada saat genting? Sebab Dunia telah memilih kehidupan manusia, teman hidup manusia, sebagai seorang istri “manusia”. Dan, dia sudah terikat pada pilihannya. Mengungkapkan jati diri sebenarnya kepada kekasihnya pada masa ini akan menjadi sebuah pengkhianatan, atau kebohongan, bagi hubungan mereka. Jadi, ia tetap diam, barangkali takut Ibnu Rushd akan meninggalkannya. Namun, pada akhirnya, Ibnu Rusdh pun meninggalkan Dunia dengan alasan manusianya sendiri.)

Ada sebuah buku Persia yang berjudul Hazar Afsaneh, atau Seribu Satu Malam, dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dalam versi Arab, cerita yang ada di dalamnya lebih sedikit, tidak lagi seribu cerita, namun kisah-kisah itu diceritakan lebih dari seribu malam. Karena angka bulat itu tidak bagus, mereka lebih senang menamakan dongeng itu Seribu Satu Malam. Dia tidak pernah melihat buku itu, tapi beberapa kisahnya pernah diceritakan padanya di istana. Cerita seorang nelayan dan jinni menarik baginya. Bukan lantaran elemen fantasi yang ada di dalamnya, misalnya jinni yang keluar dari lampu, ikan ajaib yang bisa berbicara, pangeran penyihir yang setengah manusia dan setengah bukan manusia, melainkan keindahan teknik ceritanya. Cerita di dalam cerita lain, terlipat di dalamya dengan cerita lainnya juga, hingga cerita itu menjadi cermin sebenarnya kehidupan.

Ibnu Rushd berpikir, seluruh cerita kita terjalin dari cerita-cerita dari orang lain dan terus-menerus terjalin dalam cerita yang lebih besar, narasi besar, sejarah keluarga kita atau tanah air kita, atau kepercayaan. Lebih indah bahkan dibandingkan dengan cerita di dalam cerita dari seorang pendongeng, dari seorang putri bernama Shahrazad atau Scheherazadem yang mendongengkan kisahnya kepada suaminya untuk menghindarkan dirinya dari hukuman mati.

Cerita dikisahkan untuk menunda kematian dan juga untuk mengadabkan masyarakat barbar. Dan, di sebuah kaki ranjang perkawinan, duduklah adik perempuan Shahrazad, pendengar setianya, yang terus meminta diceritakan satu kisah lagi, dan kemudian satu kisah lagi, dan satu kisah lainnya. Dari nama adik Shahrazad, Ibnu Rushd mendapatkan nama bagi anak-anaknya yang lahir dari rahim istrinya tercinta Dunia. Adik perempuan sang putri itu, seperti yang diketahui, bernama Dunyazad.

“Dan apa yang membuat rumah tanpa cahaya kita penuh dan juga memaksaku meminta bayaran lebih pada pasienku, orang sakit dan miskin Lucena, adalah kehadiran Duniazat, bangsa Dunia, ras Dunia, orang-orang Dunia, yang bisa juga diterjemahkan sebagai ‘penduduk dunia’.”

Dunia merasa diserang sangat dalam. “Maksudmu,” ujarnya, “hanya karena kita tidak menikah, anak-anak kita tidak bisa memakai nama ayahnya.” Dia tersenyum, tersenyum penuh kegetiran.

“Lebih baik mereka menjadi Duniazat,” katanya, “nama yang berisi dunia dan belum terhakimi dengan itu. Menjadi seorang Rushidi akan mengirim mereka ke dalam pusara sejarah dan menandai dahi mereka.” Dunia mulai berbicara layaknya adik perempuan Shahrazad, selalu meminta sebuah dongeng. Sayangnya, kali ini Shahrazad-nya adalah seorang laki-laki dan itu adalah kekasihnya bukan saudaranya. Beberapa ceritanya bisa membuat mereka terbunuh jika kata-kata mereka tak sengaja kabur dari kamar yang gelap ini.

Kini Ibnu Rushd telah menjadi kebalikan Shahrazad, kata Dunia padanya, kebalikan dari kisah pendongeng Seribu Satu Malam yang ceritanya menyelamatkan hidupnya, sedangkan cerita Ibnu Rushd menempatkan dirinya dalam bahaya.

NAMUN kemudian, Khalifah Abu Yusuf Yaqub memperoleh kemenangan dalam peperangan, kemenangan terbesar militernya atas raja Kristen, Raja Kastila, Alfonso VIII, di Alarcos, di Sungai Guadiana. Setelah Peperangan Alarcos, yang pasukannya berhasil membunuh 150.000 tentara Kastila, atau hampir setengah pasukan Kristen, sang Khalifah menyebut dirinya Al-Mansur, orang yang menang. Dan dengan kepercayaan diri setelah kemenangannya, dia menjanjikan akan mengakhiri kekuasaan orang barbar yang fanatik dan memanggil Ibnu Rushd kembali ke istana.

Tanda memalukan yang tertulis di dahi filsuf tua kini dihapuskan, masa pengasingannya berakhir. Namanya telah direhabilitasi, kehormatannya dikembalikan, rasa malunya telah dihapus, dan dia kembali di posisi kehormatannya sebagai dokter istana di Cordoba, dua tahun delapan bulan dan dua puluh delapan hari setelah masa pengasingannya dimulai. Yang bisa saja disebut, seribu satu malam.

Dan, Dunia pun hamil lagi dan tentu saja Ibnu Rusdh tidak menikahinya. Tentu saja dia tidak memberikan namanya bagi anak-anaknya, tentu saja dia tidak membawa Dunia ke istana Almohad, tentu saja keberadaan Dunia tak tercatat dalam sejarah. Apa yang dia bawa ketika dia pergi hanya jubah, tabung kimia, manuskrip—beberapa dalam ikatan beberapa dalam gulungan—karya orang lain. Manuskrip buku-buku karangannya sendiri sudah dibakar, meski begitu ada beberapa salinan yang terselamatkan—dia pernah mengatakan pada Dunia—di kota-kota lain, di perpustakaan teman-temannya, dan di tempat persembunyiannya sehingga orang-orang yang membencinya tak akan menemukan. Bagi orang-orang bijak, mereka akan mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan datang, namun jika dia benar-benar seorang yang sederhana, keberuntungan akan bersamanya dengan cara yang tak terduga.

Ibnu Rushd pergi tanpa menyelesaikan sarapannya atau mengucapkan selamat tinggal, dan Dunia tidak mengancamnya sama sekali, juga tidak mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya atau kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya. Tidak mengatakan sama sekali. Dunia juga tidak mengatakan, “Aku tahu apa yang kamu ucapkan keras-keras di mimpimu, ketika kamu kira sesuatu hal akan menjadi pemikiran bodoh, ketika kamu berhenti mendamaikan sesuatu yang tak terdamaikan dan membicarakan sesuatu yang mengerikan, sebuah kebenaran fatal.”

Baca Juga:  Kisah tentang Seorang Pelukis - Ludmilla Petrushevskaya

Dunia membiarkan sejarah meninggalkannya tanpa sekalipun mencoba meraihnya kembali seperti cara anak-anak membiarkan karnaval besar lewat. Ia mengabadikan dalam ingatan, membuat semuanya menjadi sesuatu yang takkan terlupakan, membuat itu semua menjadi miliknya, dan ia tetap mencintainya, meski Ibnu Rushd begitu tanpa beban meninggalkannya.

“Kamu adalah segalanya bagiku,” ia ingin ucapkan itu pada kekasihnya, “Kamu adalah matahari dan bulanku, dan siapa yang akan membelai kepalaku sekarang, siapa yang akan mencium bibirku, siapa yang akan menjadi ayah bagi anak-anak kita?” Tapi, Ibnu Rushd adalah seorang yang ditakdirkan mengisi ruang-ruang keabadian dan jeritan anak-anak tak lebih bagaikan debu di belakang ketika dia pergi.

Suatu hari, ia bergumam untuk filsuf yang telah pergi. “Suatu hari setelah kematianmu, kamu ingin mengakui keluargamu dan pada saat itu, aku, istri jiwamu, akan mengabulkan keinginanmu, meskipun kamu telah menghancurkan hatiku.”

Dunia yakin dirinya akan tetap dalam bentuk manusia untuk beberapa waktu. Barangkali berharap bisa menghentikan keinginannya agar Ibnu Rushd kembali, dan dia tetap mengirimi uang terus-menerus. Mungkin dia akan mengunjunginya dari waktu ke waktu dan ketika dia menyerah dengan bisnis kuda, dia tetap bertahan di bisnis Tinaja. Namun sekarang, matahari dan bulan dari sejarah telah tenggelam selamanya di rumahnya. Ceritanya menjadi bayangan dan misteri.

MUNGKIN benar, seperti orang-orang bilang, setelah Ibnu Rushd meninggal, rohnya akan kembali padanya dan menjadi ayah bagi anak-anaknya. Orang-orang juga bilang Ibnu Rushd akan membawa lampu yang ada jinni di dalamnya dan jinni menjadi ayah bagi anak yang baru lahir setelah dia pergi darinya. Jadi, kita lihat bagaimana gosip itu mudah menyebar! Dan mereka juga bilang, dengan sedikit keramahan, perempuan yang ditinggalkan itu akan mengambil laki-laki apa pun yang bisa membayar sewa rumahnya dan setiap laki-laki yang ia pilih akan meninggalkannya dengan anak-anak baru, Duniazat, anak-anak Dunia, yang bukan lagi keturunan Rushidi bangsat, atau beberapa dari mereka bukan, atau kebanyakan dari mereka bukan, atau bahkan semuanya.

Bagi kebanyakan orang, cerita hidup Dunia telah menjadi puisi yang gagap. Kata-kata yang sudah tua dan takkan berarti, tak bisa menerangkan berapa lama ia akan hidup atau bagaimana, atau di mana, atau dengan siapa, atau kapan, dan bagaimana—atau jika—ia mati.

Tak ada seorang pun yang menyadari atau peduli jika suatu hari ia akan kembali ke seberang dan masuk melalui lubang kecil di dunia dan kembali ke Peristan, realitas yang lain, dunia mimpi, tempat jin secara berkala membuat masalah dan memberkati manusia. Bagi penduduk desa Lucena, Dunia terlihat sudah melebur, barangkali telah menjadi api tak berasap. Setelah Dunia meninggalkan dunia kita, perjalanan dari dunia jin menuju dunia kita semakin berkurang dan kemudian mereka tidak datang sama sekali untuk waktu yang cukup lama. Dan lubang yang menghubungkan dunia jin dengan dunia kita telah ditumbuhi rumput-rumput yang tak bisa diimajinasikan dan semak-semak berduri yang tumbuh ke atas. Pada akhirnya, lubang itu tertutupi sempurna dan nenek moyang kita hanya bisa melakukan sesuatu yang terbaik yang mereka bisa tanpa mengandalkan keuntungan sihir.

Namun, anak-anak Dunia tumbuh sehat. Itulah yang bisa dikatakan. Dan hampir 300 tahun kemudian, ketika orang-orang Yahudi diusir dari Spanyol, bahkan seorang Yahudi yang tidak tahu bahwa dirinya Yahudi, anak-anak Dunia naik kapal di Cadiz dan Palos de Moguer, atau berjalan melintasi Pyrenees, atau terbang dengan karpet ajaib, atau di atas jin yang keluar dari kendi besar seperti keluarga jinni mereka. Mereka melintasi benua dan berlayar ke-7 samudra, mendaki gunung tinggi dan berenang di sungai yang kuat dan meluncur di lembah dan menemukan tempat tetirahan dan aman di mana pun mereka bisa.

Mereka pun cepat sekali lupa satu sama lain, atau mengingat selama mereka bisa dan lupa, atau takkan pernah lupa. Mereka menjadi keluarga yang tidak benar-benar seperti keluarga, menjadi bangsa yang tak benar-benar seperti bangsa. Mereka memeluk setiap agama dan tidak beragama. Kebanyakan dari mereka, setelah berabad-abad mengalami konversi yang dipaksakan, mengabaikan kekuatan asli supranatural, melupakan peristiwa konversi bagi orang Yahudi dengan penuh siksaan. Beberapa di antara mereka jadi gila dan taat, sementara beberapa yang lain menghina kafir; keluarga tanpa tempat tinggal, tapi keluarga di setiap tempat, desa tanpa sebuah lokasi, namun berkelok-kelok masuk dan keluar di setiap lokasi di bumi, seperti tumbuhan tanpa akar, seperti lumut atau sejenisnya, atau seperti anggrek yang harus bergantung dengan yang lain, tidak mampu berdiri sendiri.

SEJARAH tidak ramah bagi orang-orang yang terbuang dan sama tidak ramahnya bagi orang-orang yang menyebabkannya. Ibnu Rushd meninggal (secara alami karena usia, atau seperti itulah yang kita percaya) ketika melakukan perjalanan ke Marrakesh, setahun setelah dibersihkan nama baiknya dan tak pernah melihat ketenarannya sendiri, tak pernah melihat kemahsyurannya menyebar melampui batas-batas dunianya sendiri ke dunia orang-orang kafir yang telaah-telaahnya tentang Aristoteles dijadikan fondasi yang kokoh bagi popularitasnya. Batu pilar filsafat bagi orang-orang kafir tak bertuhan yang sering disebut saecularis, yang berarti idea yang datang sekali pada masa saeculum, sebuah zaman di dunia, atau mungkin sebuah ide-ide yang hanya diucapkan di mimpi.

Barangkali, sebagai orang saleh, dia takkan senang dengan sejarah yang telah menempatkannya begitu tinggi. Sangat aneh sekali bagi seorang yang beriman menjadi inspirasi ide-ide yang tak perlu lagi adanya sebuah keimanan, dan susah dimengerti pula bagi seorang filsuf menjadi pemenang melampui zamannya, namun kalah pada zamannya sendiri. Karena di dunia yang ia tahu, anak-anak dari musuhnya, Ghazali, bertambah berkali lipat dan menyatu dengan kerajaan, sementara anak-anak malangnya justru menyebar, bahkan dilarang menggunakan nama belakangnya, dan mengisi populasi bumi. Sebagian besar orang-orang yang selamat mengakhiri perjalanan panjang di benua Amerika Utara, dan sebagian lainnya di anak benua Asia Selatan.

Dan, sebagian dari mereka kemudian menyebar ke barat dan selatan melintasi Amerika, dan ke utara dan ke barat dari tanah berbentuk berlian besar di kaki Asia, masuk ke seluruh negara di dunia. Kaum Duniazat ini bisa dikatakan selain memiliki telinga aneh, kaki mereka semua juga gatal.

Dan Ibnu Rushd telah meninggal, namun, seperti yang telah diketahui, dia dan rivalnya terus berdebat di luar kubur, ya, karena gagasan dari pemikir besar tidak akan pernah mati. Gagasan argumen itu sendiri pada akhirnya menjadi alat untuk meningkatkan pikiran, senjata tertajam, lahir dari cinta pada ilmu pengetahuan, yang bisa disebut filsafat.

Diterjemahkan dari bab 1 novel Two Years Eight Months and Twenty-Eight Nights karya Salman Rusdhi oleh Agung DE.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here