dipanggil untuk mencintai, de mello
dibaca normal 3 menit

ANTHONY de Mello adalah seorang Yesuit yang banyak menulis buku soal spiritualitas. Dari sini, kita pasti bisa menebak apa yang ia bahas dalam buku yang akan saya ulas. Yup, buku ini menjelaskan bagaimana cinta menjadi bagian penting dalam spiritualitas seseorang. Cinta yang ia maksud bukanlah “cinta” yang egois dan mengekang. Cinta ini bersifat universal, sudah ada di dalam diri kita, dan untuk menemukannya, yang perlu kita lakukan hanyalah menanggalkan program-program yang ada di kepala kita.

Program-program? Apa itu?

Yang saya tangkap, program-program itu ialah segala hal yang membuat kita terpenjara dalam ilusi—bisa jadi buku yang kita baca, perkataan dan ekspektasi orang-orang, media yang kita konsumsi. Singkatnya, apa pun yang mengonstruksi pemikiran kita, bahwa seharusnya kehidupan ini dijalani dengan begini dan begitu. Semacam manual yang kita pun tak tahu sesuai untuk kita atau tidak. Hal-hal yang membuat kita terkurung dan tak bisa merasakan kebebasan.

Program-program itu membuat kita melihat segala sesuatu sebagai kelekatan. Apa pun. Termasuk keluarga, pasangan, teman, kekuasaan, jabatan, penampilan, pakaian yang kita gunakan, makanan yang kita konsumsi, artis kesukaan, bahkan agama. Apa yang terjadi saat kita melekatkan diri pada itu semua? Kita akan mudah marah saat kelekatan-kelekatan itu “terganggu” atau tak bisa kita miliki lagi. Kita menjadi lebih tamak, tak pernah puas, selalu dihantui rasa takut kehilangan hal-hal itu, gelisah, dan jauh dari rasa damai. Maka dari itu, de Mello berpandangan, kita tak akan pernah bisa benar-benar mencintai saat kita masih mempertahankan, bahkan memelihara, program-program itu.

“Anda ingin menjadi istimewa bagi seseorang, bukan? Nah, Anda harus membayarnya dengan kehilangan kebebasan. Anda harus menari sesuai dengan irama orang lain, persis seperti yang Anda tuntut dari orang lain bila mereka ingin menjadi istimewa bagi Anda. (Dipanggil untuk Mencintai, hal. 29)”

Apakah de Mello meminta kita untuk meninggalkan orang-orang atau benda-benda yang kita sayangi? Sama sekali tidak. Ia menekankan pentingnya detachment (sikap tak terpengaruh) dalam kehidupan. Lewat detachment, kita bisa melihat orang-orang atau benda-benda itu sebagai “pemandangan”, layaknya matahari atau bintang-bintang yang kita kagumi keindahannya, namun kita sadar kita tak pernah memilikinya. Lewat detachment, kita bisa peduli dan mengasihi, tanpa terpengaruh secara emosional oleh sikap-sikap orang lain. Lewat detachment, kita bisa melihat manusia apa adanya; bukan fantasi yang ada di kepala kita, bukan pula diri yang kita bentuk sesuai dengan apa yang kita inginkan. Lewat detachment, kita pun bisa lebih mengurangi egosentrisme.

Baca Juga:  Kesetiaan Sersan H. von de Wall pada Bahasa Melayu

“Ingatlah bagaimana perasaan Anda ketika Anda dipuji, diakui, diterima, dan disanjung. Bandingkan itu dengan perasaan yang muncul ketika menyaksikan terbenamnya matahari dan indahnya alam raya, atau ketika Anda membaca buku yang bagus atau menonton film yang mengesankan. Cecapilah perasaan ini dan bandingkanlah dengan perasaan yang pertama tadi. Pahamilah bahwa perasaan pertama tadi merupakan perasaan duniawi yang berasal dari pengagungan diri, promosi diri. Perasaan kedua merupakan perasaan jiwa yang berasal dari kepenuhan diri. (Dipanggil untuk Mencintai, hal. 11)”

Pemikiran de Mello memang lebih terdengar seperti ajaran Buddhisme, dan ini indikator ia telah melampaui kungkungan segregasi (agama) yang diciptakan manusia. Saya pernah baca pula, pemikirannya memang amat terpengaruh oleh ajaran Ajahn Chah, seorang rahib Buddha asal Thailand, yang disebut-sebut sebagai gurunya.

Kendati inti dari buku ini hampir serupa dengan buku-buku spiritualitas (terutama Buddhisme) lainnya, saya tetap merasa buku ini memiliki keunggulan. De Mello bisa mengaitkan isi Alkitab dengan ajaran soal detachment, dan karena itulah ia menyisipkan kutipan-kutipan dari Alkitab di setiap renungannya. Saya rasa, ini merupakan upaya untuk menyadarkan kita bahwa esensi terpenting dalam agama bukanlah sekat-sekat, melainkan hal yang kerap kita daraskan dalam bahasa berbeda: cinta kasih.

Lewat tulisannya, de Mello tak hanya sekadar menjelaskan; ia juga punya kemampuan yang menurut saya hebat dalam mendorong pembaca agar bisa menemukan dirinya. Narasi-narasi yang ia bangun membuat pembaca mau berbesar hati untuk berkaca, kemudian berpikir apakah sebenarnya kita hanya hidup dalam ilusi semata.

“Ada sebuah perumpamaan yang dapat Anda renungkan. Sekelompok turis duduk dalam bus. Bus itu berjalan menyusuri daerah yang sangat indah—danau-danau, gunung-gunung, lembah-lembah hijau, dan sungai-sungai—tetapi tirai bus itu tertutup. Mereka tidak tahu apa yang ada di balik jendela bus. Selama perjalanan, mereka meributkan siapa yang akan menduduki kursi kehormatan dalam bus itu, siapa yang patut diberi penghargaan. Demikian, mereka ribut belaka sampai akhir perjalanan. (Dipanggil untuk Mencintai, hal. 12)”

Saya suka dengan gaya bahasanya yang blakblakan namun persuasif, juga analogi-analogi yang ia gunakan dalam menjelaskan sesuatu. Misalnya saja, saat ia menganalogikan hidup yang ideal sebagai pohon yang memberikan keteduhan tanpa berharap apa-apa. Atau, saat ia ingin kita membayangkan diri sedang mendengarkan suatu orkes simfoni, lalu suara genderang terdengar begitu keras hingga kita tak bisa mendengarkan instrumen yang lain. Padahal, kita semestinya peka terhadap setiap instrumen dalam orkes itu.

Baca Juga:  Nobel Sastra; Diperdebatkan Sekaligus Dinanti

Nah, lewat analogi ini, ia ingin menyampaikan pesan: agar bisa mencintai dengan sungguh-sungguh, kita harus peka terhadap keunikan dan keindahan setiap hal, termasuk orang-orang di sekitar kita. Menurut de Mello, cinta tak mengecualikan satu orang pun dan mencakup seluruh kehidupan. Mencintai adalah membebaskan mereka menjadi diri mereka, apa adanya.

Sejauh ini, saya tidak menemukan kekurangan yang berarti—paling hanya soal salah ejaan dan typo. Setiap kali saya merasa butuh siraman rohani, buku ini adalah buku pertama yang saya ambil. Asyiknya lagi, kita tak perlu membaca secara runtut. Tinggal pilih saja renungan yang ingin kita baca dan paling sesuai dengan kondisi kita. Jumlah halamannya pun tidak terlalu banyak, cukup ringan untuk dibawa ke mana-mana.

Bagi yang penasaran dengan pemikiran de Mello, yang memang cenderung berbau mistisisme, buku ini bisa menjadi pengenal pertama. Dan, saya bisa simpulkan buku ini worth a read. Selamat membaca, ya.

Judul Dipanggil untuk Mencintai
Pengarang : Anthony de Mello
Penerbit : Kanisius, 1995
Tebal : 122 halaman
Harga :  –

 

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here