Yiyun Li
dibaca normal 15 menit

BEBERAPA kali dalam setahun, sekitar hari libur Cina, Min menerima surel dari seorang lelaki yang ia temui dua kali dalam hidupnya. Tiap November—selepas perayaan ulang tahunnya, tepatnya pada 3 November, lelaki itu tak pernah gagal mengingat-ingat Min—lelaki itu juga mengirimkan foto dirinya dan memohon Min mengirimkan foto. Dua belas tahun yang lalu, jumlah cucunya bertambah pesat. Cucu laki-laki tertua sudah lulus kuliah dan bekerja di New York. Dua cucu lainnya sedang kuliah. Masih ada beberapa lagi, kebanyakan tinggal di West Coast. Yang termuda, lelaki yang terlahir dengan wajah sempurna, biasa dipanggil J.C. (singkatan untuk Julius Caesar).

Pada 2012, istrinya meninggal, namun dirinya justru sehat-sehat saja, hanya minus tekanan darah tinggi dan pikun, kondisi yang umum ditemui seorang kakek-kakek. Ada pula cerita detail dalam surel dari lelaki itu, semisal liburan seminggu di Hawaii, pengantin baru yang bekerja sebagai guru sekolah dasar dan menjual buah beri biru tiap akhir pekan di pasar, serta restoran favorit yang tutup lantaran harga sewa melonjak drastis. Kebanyakan orang akan memberi tahu pengirimnya untuk berhenti serta memblokir orang tersebut bila masih terus mengirimi surel.

“Aku baru saja berumur 84 minggu kemarin,” begitulah surel barunya diawali. “Aku lahir di tahun Monyet. Aku juga melampirkan foto keluarga di hari ulang tahunku. Bila ingatanku masih bagus, kamu dilahirkan di tahun Tikus, jadi kamu sekarang berumur 44. Bisakah kamu mengirimkan foto jadi aku bisa melihat seperti apa kamu sekarang?”

Sudah pukul tiga pagi, ketika lelaki itu—yang tinggal di pinggiran Seattle, di rumah pensiunan yang berjarak 5 menit dari rumah anak lelaki tertuanya—menulis untuk Min yang tinggal di selatan San Francisco. Min menderita insomnia kronik. Ia mengecek ponselnya ketika ia tak bisa tidur—dan ini akan memperparah kondisinya. Insomnianya bertambah buruk ketika lelaki itu tiba-tiba menebak umur Min. Surel lelaki itu menyergapnya ketika ia sedang terjaga. Min mulai kepikiran untuk menegur lelaki tua itu agar membiarkannya sendiri. Anda sungguh mengganggu, demikian ia mengeja dalam hati, seharusnya Anda mengasihani diri Anda.

Namun di pagi hari, ketika Min mengantarkan anak kembarnya ke sekolah, ia justru senang tak jadi merespons surel itu. Barangkali lelaki itu akan meninggal bulan ini dan bulan depan atau di antara tahun ini dan tahun berikutnya. Min menantikan hari ketika surel-surel dari lelaki tua itu berhenti bermunculan. Dan untuk sekali saja, ia akan memenangkan pergolakan dengan berdiam diri.

“Mama, bilang ke Emmie dia salah,” kata Deanna.

“Mama, bilang ke Deanna dia salah.”

Kemarin, kedua anak kembarnya menceritakan ada dua anak ayam baru di taman sekolahan, Pancake dan Waffle. Nama itu diberikan lantaran guru berkebun mereka tak bisa membedakan kedua ayam itu. Emmie kukuh dia bisa membedakan keduanya setelah membersihkan kandang ayam. Deanna yakin ayam yang dianggap Pancake oleh Emmie sebenarnya adalah Waffle.

Min menyampaikan bahwa mereka berdua benar dengan menambahkan kata “setidaknya”—kata yang kerap ia gunakan ketika kedua anaknya sedang berselisih. Kedua gadisnya justru membantah Min secara bersama-sama.

“Haruskah kita ganti topik?” kata Min.

“Amelia bilang ia dulu mengira semprotan merica adalah bumbu,” celetuk Deanna.

“Nama tengah Amelia itu nama sebuah pasta,” Emmie menambahkan.

“Bukan, nama keju,” Deanne menimpali.

“Mungkin dua-duanya,” ujar Min menengahi. Setidaknya, pikir Min, apa pun bisa menjadi sesuatu.

“Kevin itu Republikan,” ujar Emmie.

Min pasti melewatkan sesuatu. “Bagaimana kamu tahu?”

“Dia menulis surat untuk Trump,” jawab Emmie.

“Dan bilang, ‘Dear Mr. Trump, saya pendukung Anda, tapi bisakah Anda menjadi orang yang lebih baik sehingga orang-orang akan menyukai Anda?” ujar Deanne menambahkan. “Semua orang menulis untuk Hillary.”

Min melirik kedua gadis kembarnya di kaca spion. Mereka mengangguk, meyakinkan. Ketika ia menanyakan lebih detail, mereka menjawab itu terjadi kemarin. Saat itu, selama kegiatan “Memahami Hasil Pemilu”, murid-murid kelas tiga menulis surat untuk Mrs. Clinton atau Mr. Trump.

SANDRA, ibu Kevin, sedang menangis ketika Min bertemu dengannya di parkiran sekolahan. Kamu dengar tentang Kevin menjadi seorang Republikan, tanya Sandra, dan Min mengiyakan. “Aku sudah sampaikan ke guru agar surat itu dicopot dari pameran,” ujar Sandra. “Seharusnya, guru memeriksa denganku lebih dulu. Kevin tidak tahu apa itu Republikan.”

“Tidak ada bahaya nyata yang terjadi,” kata Min.

“Semua anak akan menceritakan ke orang tua mereka, meski mereka kini belum menceritakannya” jawab Sandra, lalu sebelum sekumpulan orang tua mendekati mereka, “Yuk, kita ngopi.”

Sandra dan Min tergabung dalam komite sekolah semenjak dua tahun belakangan dan sebelumnya di tim pembersih kutu anak-anak. Mereka bisa akrab karena Sandra bisa membuat pertemuan serba-kebetulan menjadi sebuah cerita dengan awalan, klimaks, dan akhir. Min suka mendengarkan. Sandra mengingatkan Min dengan ibunya yang, meski janda muda, tidak pernah kehilangan kegemarannya dalam mendongeng dan selalu cepat membuat tertawa.

Min tidak mewarisi kemampuan mendongeng ibunya. Ketika gadis kembarnya duduk di bangku TK, guru mereka mengkritik. “Mereka pembaca yang bagus,” kritik guru itu, “tapi, di negeri ini, kami punya tradisi mendongengkan anak, bahkan bila mereka sudah bisa membaca sendiri. Untuk membentuk ikatan.”

Kata “di negeri ini” sungguh tidak terdengar seperti kata yang bakal diucapkan seorang guru sekolah unggulan di Kalifornia dan Min memilih tidak mendengarkan komentar guru itu. Ketika gadis kembarnya membaca bersama, mereka menirukan apa yang ada di tiap halaman jauh lebih hidup dari apa yang pernah Min contohkan. Bila guru itu berbicara dengannya lagi, ia akan bilang ia sedang mengembangkan kreativitas gadis kembarnya. “Kreativitas” merupakan kata sandi serbaguna.

Sekarang, sambil menyesap kopi, Sandra menceritakan saat penghitungan suara. “Bahkan, sebelum mereka mulai menghitung, aku sudah khawatir dan waswas. Aku ke atas dan memperbaiki kostum Halloween untuk Kevin. Ada yang rusak dengan kostum itu. Salah satu telinga Pikachu terlihat bengkok. Kevin bilang, ‘Mama, Halloween sudah lewat’, dan aku jawab aku ingin memperbaikinya agar bisa disumbangkan. Tapi, semakin lama aku perbaiki, malah terlihat makin buruk. Lalu, Chuck masuk dan aku dengar dia berteriak. ‘Dia menang!’ katanya. ‘Dia menang! Kenapa TV tidak nyala? Kevin turun ketika Chuck terus mencerocos: ‘Sudahkah aku bilang dia menang? Aku sudah bilang kan? Kau tidak memercayaiku kan?’ Aku tahu bila aku tidak turun, dia akan terus mencerocos seperti itu sepanjang malam. Jadi, aku turun dan bilang ke Kevin sudah waktunya tidur. Dia bilang, masih terlalu dini dan dia ingin menonton TV dengan ayahnya. Dan Chuck bilang, ‘Demi Tuhan, apa denganmu? Biarkan dia di sini dan merayakan denganku’.”

Sebaliknya, tidak ada suara muncul di rumah Min. Baik ia maupun Rich, suaminya, telah mendiskusikan hasil pemilu dan mereka juga tidak kehilangan ketenangan satu sama lain. Min tidak pernah mengungkapkan ke Sandra bahwa Rich juga pendukung Trump. Chuck memiliki perusahaan yang bergerak di peralatan kebersihan, perusahaan keluarga yang telah diturunkan hingga tiga generasi. Rich, yang besar di perkampungan kumuh di Beijing dan sudah lama melepaskan nama Tionghoanya, bekerja di perusahaan rintisan teknologi. Tiap lelaki bakal berpikir bahwa lelaki lain berhak mendapatkan sedikit rasa hormat. Bergunakah bila ia menceritakan bahwa kedua suami mereka sebetulnya bagian dari 20 persen suara di kota mereka yang memilih Trump? Aib takkan membuat manusia lebih dekat satu sama lain.

Sandra bilang, ia pernah memanggil suaminya seorang fanatik dan suaminya memanggilnya dengan sebutan yang sama buruknya. Min tidak pernah merendahkan Rich. Rich menikahinya karena Min bukanlah tipe perempuan yang bakal menggunakan kata-kata kasar. Mereka hanya sekali membicarakan soal pemilu—hari ini misalnya, percakapan mereka jarang keluar dari hal-hal yang membahayakan anak-anak, daftar belanjaan, dan rencana liburan. Rich pernah dengan semangat berbicara panjang lebar menyanjung-nyanjung Trump dan, ketika Min dengan pendek menjawab bahwa dia akan memilih Clinton, Rich menyebutnya telah tercuci otak. “Semakin panjang rambut perempuan, semakin pendek pikirannya,” ujarnya, mencatut peribahasa Tiongkok yang ia suka dan juga favorit ayahnya serta kakeknya.

Baca Juga:  Kisah tentang Seorang Pelukis - Ludmilla Petrushevskaya

“Kamu pernah sangat menginginkan seseorang meninggal dan kamu percaya dia bisa saja meninggal karena permohonanmu?” kali ini Min berkata.

“Aku yakin kamu bukan satu-satunya yang berpikiran begitu.”

“Oh….” balas Min. Ia tidak memikirkan soal Trump, akunya.

“Siapa yang kamu bicarakan? Kuharap bukan Rich.”

“Oh, bukan.”

“Lalu siapa?”

Ia merasa berdosa telah memohon agar lelaki tua itu cepat meninggal. Min cepat-cepat membelokkan perbincangan dengan menyebut sebuah novel yang ia baca dan ia ingin sekali bisa mencekik salah satu tokohnya. Sebuah kebohongan yang buruk. Sandra akan makin tertekan meski bukan karena kesalahannya sendiri. Buruknya lagi, tak ada anak lainnya yang terang-terangan menjadi sekutu Kevin. Min telah mengingatkan gadis kembarnya agar jangan pernah menyebut ayahnya seorang pendukung Trump dan mereka menjawab tentu saja mereka tidak akan sebodoh itu.

LELAKI YANG TAKKAN pernah berhenti mengirimi surel untuk Min, setidak-tidaknya, ikut andil dalam pernikahannya, tapi kapan pun pikiran itu muncul di kepalanya, Min akan mengingatkan dirinya bahwa tak ada satu pun orang yang memaksanya menikahi Rich.

Min baru berumur 19 tahun ketika kali pertama bertemu dengan lelaki yang telah memperkenalkan dirinya sebagai calon ayah mertua. Dia adalah profesor linguistik di universitas terkenal di Beijing dan telah mempunyai tiga putra di Amerika. Yang tertua, berdasarkan biro jodoh, bekerja di Microsoft dan dia merupakan seseorang yang bakal dijodohkan dengan Min, tapi bila tidak berjalan dengan baik, masih ada dua putra lainnya.

Min tidak banyak menunjukkan bakat di dunia akademik. Ia memilih sekolah vokasi yang mendidik perempuan-perempuan muda menjadi sekretaris. Selepas lulus, ia bekerja di department store. “Kenapa mereka mencari seorang istri di Cina saat mereka sudah di Amerika?” tanya Min pada ibunya. “Kamu menanyakan arah pada orang buta,” jawab ibunya, “tapi, aku yakin mereka tidak bisa menemukan seseorang sebaik kamu di Amerika.”

Amerika, Min bisa merasakan, telah menyihir ibunya. Ayah Min meninggal ketika ia duduk di kelas dua sekolah menengah karena kecelakaan di pabrik baja, tempat ayahnya bekerja sejak berusia 18 tahun. Setelah kematiannya, Min dan ibunya hidup dengan sangat menghemat dari penghasilan kios koran milik ibunya. Uang kompensasi dari kecelakaan ayahnya telah ditabung ibunya sebagai bekal Min menikah.

Min pernah sekali punya cinta monyet, namun ia tak pernah sekalipun pacaran. Ia lumayan cantik—bukan tipe yang mencolok, tapi ia punya tipe muka klasik, seperti gambar di lukisan era Dinasti Ming atau film kolosal; bahunya sempit; lehernya jenjang; kulit mukanya bersih; mata, hidung, dan mulut tersusun dengan pas.

Min tumbuh dewasa dengan pikiran bahwa ia telah terlahir sebagai anak perempuan sempurna dan kelak ia akan menjadi menantu, istri, dan ibu yang tanpa cela. Nyatanya, ia tak menjadi salah satu dari itu semua. Ia bahkan belum menemukan di mana sebenarnya kesalahannya. Tak ada manusia sempurna, ia tahu, tapi perempuan di buku dan film selalu terlihat tak sempurna dengan cara elegan maupun atraktif. Ibu-ibu lainnya di sekolahan, ketika mereka tidak bahagia, selalu karena alasan masuk akal: perselingkuhan suami, diagnosis anak, atau pergantian pengurus komite sekolah.

Barangkali saja, mereka semua hidup di rumah boneka yang besar. Beberapa, seperti boneka-boneka milik Emmie dan Deanna, punya kehidupan yang rumit, dengan banyak alur dan drama serta kegembiraan. Lainnya seperti boneka satu-satunya milik Min ketika masih muda—boneka kecil terbuat dari bahan plastik keras, dengan tangan dan kaki kaku yang terhubung dengan tubuh melalui sendi berbentuk bola. Min membawa boneka seperti kebanyakan anak perempuan, tapi dia tak pernah membuat cerita untuk bonekanya. Satu-satunya bencana yang menimpa bonekanya terjadi di malam musim dingin. Min meletakkan di jendela dan pemadaman listrik menyebabkan suhu di apartemen turun. Baik ia dan ibunya tak tahu mengapa salah satu kaki boneka terlepas dari sendi dan tak bisa dipasang kembali.

Boneka berkaki satu itu tetap seperti itu. Min tidak ingat pernah sedih lantaran kaki boneka terlepas. Boneka tetaplah boneka. Ia bukan anak yang sentimentil.

Min setuju dengan ibunya, tak ada salahnya menemui profesor itu. Di usianya yang kesembilan belas, Min merupakan tipe perempuan yang diidam-idamkan para orang tua untuk anak lelaki mereka: cantik, lembut, cukup berpengalaman dengan kesulitan sehingga tak banyak berpikiran naif, maupun melamun, bahkan selepas kehilangan ayahnya.

Min dan ibunya bertemu lelaki itu di apartemen milik “mak comblang” pada hari minggu. Mereka minum teh bersama hingga mak comblang mengajak ibu Min berjalan-jalan di taman terdekat. Sendirian dengan lelaki itu, Min tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan persetujuannya. Lelaki itu seperti seorang profesor di film-film, dengan kacamata berangka kawat dan rambut perak tanpa cela. Ketika lelaki itu menanyakan sesuatu, dia menggunakan kata-kata yang takkan pernah diucapkan ayah Min. Apa pendapatmu tentang dunia? Apa yang bakal kamu lakukan untuk memaksimalkan potensimu? Ketika Min bingung menjawab, lelaki itu bilang, proses pencerahan dan penyempurnaan diri itu seperti mendayung perahu di sungai. Dia lalu mengeluarkan satu buku pelajaran yang berjudul News Concept English dan menanyakan di level mana kemampuannya. Min tak pernah mendengar buku itu dan lelaki itu, menatap melalui kacamata, bilang padanya bila Min ingin pindah ke Amerika, ia harus segera memulai belajar bahasa Inggris.

Min berpikir ia telah gagal. Ia tidak begitu peduli.

Lelaki itu bergeser di sampingnya duduk di sofa dan membuka buku kedua yang serupa, yang berjudul A Private Conversation. Dia meminta Min untuk mengulangi kata-katanya sebagai pelajaran pertama. Tubuh Min tegang saat pundak dan paha mereka saling berdekatan sewaktu membungkuk membaca buku.

Barangkali, lelaki itu begitu karena bertindak sebagai sosok ayah, Min mencoba meyakinkan dirinya. Lelaki itu meninggalkan buku-bukunya untuk Min dan meminta Min untuk meneleponnya di minggu berikutnya. Lelaki itu akan mengatur jadwal sehingga dia bisa mengajari Min, katanya. Ini adalah rencana yang tidak dibicarakan dengan si mak comblang dan ibu Min. Sebagai gantinya, lelaki itu menyampaikan bahwa putranya akan pulang ke rumah di musim panas sehingga kedua muda-mudi ini bisa benar-benar bertemu.

Min tidak pernah menelepon. Mereka tidak punya pesawat telepon di rumah dan ia benci menggunakan telepon umum. Bahkan, saat profesor mendesak si mak comblang agar bisa berbicara dengan Min, ia tetap diam. Buku-buku yang dipinjamkan profesor, ia simpan di bawah tumpukan koran. Setelah beberapa minggu, ia bisa saja berpura-pura tidak bertemu dengan lelaki itu, yang jemarinya melekat di tangan Min sangat lama ketika lelaki itu berpamitan.

Suatu hari, ibunya menyampaikan padanya bahwa profesor telah memutuskan bahwa Min bukanlah pilihan bagus. Tidak terlalu rajin atau cukup pintar untuk keluarga cendekiawan seperti keluarganya. keputusan ini disampaikan oleh mak comblang kepada ibunya.

“Kamu sudah melihat foto yang dia tunjukkan ke kita?” tanya ibu Min. “Putranya belum genap 30 tahun dan sudah mulai botak. Bila profesor itu khawatir kamu tidak memberi cucu pintar, aku malah khawatir putranya yang bekerja di Microsoft memberiku cucu yang buruk.”

Dikenal sebagai anak yatim dan janda di teman-teman dan tetangga, Min dan ibunya mempertahankan perilaku yang lekat dengan julukan itu. Namun, ketika tak ada seorang pun di sekitar mereka, mereka punya banyak hal untuk ditertawakan bersama-sama.

BEBERAPA hari kemudian, saat makan malam, Emmie menceritakan reputasi Kevin sebagai Republikan telah melekat di antara teman-teman sekelasnya. “Semua orang kasihan padanya,” kata Emmie.

“Aku tidak,” kata Deanna. “Kamu kasihan ke dia karena kamu menyukainya.”

Baca Juga:  Pemilu – Chinua Achebe

“Aku rasa kalian belum cukup umur bicara tentang laki-laki atau politik,” kata Rich.

“Kamu sangat ageis.”

Min bisa merasakan ketidaksabaran Rich, tapi suaminya hanya menatap dingin ke Emmie sebelum beralih ke Deanna dan menanyakan tentang harinya. Suaminya lebih lembut beberapa tahun belakangan. Anak tertua mereka, Max, tumbuh dengan sosok ayah pemarah dan kerap berubah-ubah. Setelah lulus kuliah, Max memutuskan pindah ke Singapura. Min merasa biasa-biasa saja dengan ketidakhadiran anaknya, meski ia berpikir sebagai seorang ibu, seharusnya ia lebih merindukan anaknya. Min melahirkan Max saat berumur 21 tahun dan masa-masa berperan sebagai ibu muda telah luntur seiring berjalannya waktu. Ia menyayangi anaknya, masih menyayanginya. Ia yakin tentang itu, meski ia tidak yakin apakah ia menyukai Max. Bisakah kamu menyayangi seseorang tanpa menyukainya? Max dan Rich punya hubungan buruk, tapi mereka punya kesamaan dalam melihat dunia. Bagi keduanya, gagal mengalkulasi harga tiap langkah yang diambil merupakan ciri karakter yang buruk; tidak memanfaatkan orang lain adalah dosa.

Kadang, Min merasa kasihan dengan calon menantunya nanti, siapa pun dia, dan berharap gadis itu memutuskan dengan bijaksana.

Memiliki anak lagi merupakan solusi Rich untuk pernikahan mereka yang terancam retak sepuluh tahun lalu. Perceraian akan menjadi bencana bagi setiap orang, ujarnya dengan tenang: Max akan mengalami masa remaja dengan guncangan yang tidak perlu; Rich akan menghadapi masalah ekonomi; dan Min juga. Tentu saja, Max akan melakukan apa pun untuk meminimalisasi kerugiannya dan mengambil semaksimal mungkin milik Min. Min tahu semua maksud Rich. Semua aset akan dipindahkan ke Cina untuk menghindari hak gono-gini; hak asuh Max akan diperebutkan. Tapi, Rich tidak tahu bahwa Min juga menginginkan hal serupa, baik uang maupun putranya. Sesaat, Min merasa lega. Ia bisa mengatur hidup sederhana dengan gaji bekerja paruh waktu yang ia terima sebagai akuntan di Paud tempat Max sekolah dulu.

Tapi, ibu seperti apa yang menyerah begitu saja melepaskan anaknya? Bila ia tidak cinta suaminya, setidaknya ia harus mencoba lebih mencintai anaknya. Mungkin bukan ide buruk untuk memiliki anak lagi. Peran ibu ibarat kontrak yang akan otomatis diperpanjang. Sepanjang kamu tidak melakukan apa pun, tagihan akan tetap muncul di kartu kreditmu. Apa salahnya dengan membiarkan mesin otomatis mengambil satu kehidupan?

“COBA jelaskan bahaya bila Clinton terpilih,” kata Rich ke anak-anak. Min sebenarnya tidak keberatan makan tanpa bersuara, tapi Rich percaya pada perbincangan saat makan malam. Sebuah persiapan bagi anak-anak agar lebih unggul di dunia nyata. “Bila kalian tidak bisa membayangkan, kalian tidak berhak berbicara politik di meja ini.”

Emmie menjulurkan lidah. Deanna, putri kesukaan Rich—Deanna mengetahuinya karena ayahnya pernah bilang ia lebih pintar dari saudaranya dan juga ibunya—melipat tangannya di bawah dagu. “Apa bahayanya, ayah?”

“Misalnya, anak laki-laki bisa menggunakan toilet perempuan di sekolah semaunya,” jawab Rich. “Bagaimana bisa kamu menyukainya?”

“Aku rasa kita sudah setuju tidak bicara soal politik,” ujar Min.

“Kecuali saat aku ingin memberitahu anak-anakku,” Rich menimpali.

Sekonyong-konyong Min berdiri dan melaju ke dapur, mencari-cari sesuatu di kulkas seperti kelupaan sesuatu. Di dalamnya, ada botol anggur yang dibawa Rich saat pulang lebih awal. Saat itu, sambil membawa botol, Rich membacakan label dan menyebutkan harganya ke Min. Rich ingin sesuatu yang spesial, katanya saat itu, untuk merayakan pemilu bersama teman-temannya di rumah. Ia ingin menyenggol botol itu dari kulkas hingga pecah. Rich akan menyuruh kedua gadis kembarnya ke kamar bila dia hendak memaki Min. Ia akan mengatakan itu sebuah kecelakaan dan Rich akan bilang takkan ada yang percaya dan bila memang itu kecelakaan itu sungguh tak termaafkan. Itu hanyalah sebotol anggur, Min akan menjawab demikian, dan ia tidak butuh ampunan dari hal-hal sepele seperti itu. Rich akan mengatakan sesuatu, tapi mereka akan segera disela Emmie, yang tak seperti Deanna yang bakal menunggu badai mereda. ‘Kenapa kalian bertengkar?’ Emmie akan berkata dan Rich akan melembutkan suaranya dan berkata bahwa mereka sedang membicarakan masalah orang dewasa. ‘Tentang apa?’ kata Emmie selanjutnya. ‘Tentang perbedaan mendasar di antara kami,’ Min bakal menjawab. ‘Apa kalian akan bercerai?’ tanya Emmie. ‘Tidak, tentu saja tidak,’ mereka akan menjawab bersamaan.

Tentu saja skenario ini, yang pernah dilihat Min di film-film, tidak akan pernah terjadi di keluarganya. Min dan Rich menikah tanpa fantasi tentang hal-hal lain. Bisakah cinta bisa hadir dalam pernikahan bila tidak diawali dengan fantasi? Mereka adalah orang-orang realistis dan menganggap pernikahan layaknya cuaca. Mereka tinggal di dalamnya tanpa keinginan untuk mengontrol atau mengubahnya. Mereka saling mengenal satu sama lain sehingga bisa memprediksi cuaca yang bakal hadir.

BEBERAPA minggu setelah Min bertemu profesor, ibunya bilang bahwa ada pemuda—yang bekerja di Amerika dan sedang pulang kampung—tertarik ingin bertemu dengan Min. “Dan kali ini,” ujar ibunya, “kutanyakan tentang orang tuanya. Mereka seperti kita, bukan cendekiawan.”

Perjodohan, pikir Min dalam hati di kemudian hari, meski ia dan Rich berhubungan jarak jauh melalui surat dan telepon selama delapan bulan. Ia tidak membencinya, walau ia tidak pernah membaca ulang surat-surat Rich, yang selalu disisipi daftar perintah. “Dirimu adalah pakaian yang kamu kenakan,” tulis Rich di salah satu suratnya, lalu diikuti penjelasan tentang pentingnya mengenakan baju dan sepatu dengan merek terkenal “untuk meningkatkan status dan rasa percaya diri”. “Siapa pun yang tak ingin kaya, ia harus malu pada dirinya sendiri,” tulis Rich di surat lainnya. “Terutama di Amerika.” Di telepon, Rich meminta Min belajar bahasa Inggris dan menyegarkan kembali kemampuan matematikanya. Sebab, Rich berencana mendaftarkan Min ke jurusan akuntansi di universitas terbuka. Dari situ, Min bisa bekerja sebagai pegawai pemerintahan dengan pensiunan yang layak. Bila Min ambisius dan pintar, ia bisa bergabung di perusahaan atau firma dengan bayaran yang bagus.

Rich berasal dari kalangan yang sama dengan Min. Ayahnya bekerja di pemandian umum dan ibunya di kantin sekolah menengah. Rich bisa saja seperti teman masa kecilnya, magang di sebuah pabrik setelah lulus sekolah menengah. Yang menghentikannya dari jalan hidup itu adalah gurunya di kelas lima. Rich pertama kali menceritakan kisah tersebut di sambungan telepon saat mereka berhubungan jarak jauh dan dia senang mengulang-ulang cerita itu ke Min dan anak-anak mereka.

Dalam ceritanya, Rich dan beberapa temannya bolos sekolah. Keesokan hari, gurunya tidak memberi hukuman seperti bisa dengan pekerjaan tambahan, malah meminta anak laki-laki yang membolos berdiri di depan kelas dan meminta murid lainnya membayangkan nasib mereka yang membolos di masa depan.

Ketika tidak ada yang berbicara, guru beralih ke anak laki-laki. “Kalian semua akan berakhir seperti orang-orang yang duduk-duduk di gang-gang pada malam musim panas,” ujar gurunya, “telanjang, perut berlipat menutupi ikat pinggang, bir dan rokok di tangan kalian, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berteriak ke istri dan anak kalian sehingga kalian merasa lebih baik. Jika orang tua kalian tidak malu dengan diri kalian, aku yakin anak kalian akan malu.”

Rich selalu mengakhiri ceritanya dengan mengutip kata-kata gurunya, tapi Min tahu lebih banyak. Ayah Rich merupakan salah satu dari orang-orang itu. Ayah Min juga hampir mirip. Ia mungkin saja akan menikahi lelaki seperti itu bila tetap tinggal di Beijing. Barangkali ia salah bila menganggap tak ada fantasi di pernikahannya. Rich telah menawarkan padanya perubahan nasib. Dia juga telah menawarkan kemungkinan anak cucu yang akan mengagumi dan memujanya.

KETIKA Min dan Rich sepakat di telepon untuk menikah, ibunya kembali menanyakan apakah ia benar-benar yakin.

Min berbohong dan berkata yakin. Apa yang membuat ia yakin, bahkan sebelum Rich membicarakan pernikahan, adalah kunjungan profesor. Ibunya sedang di kios koran dan ketika Min membuka pintu, profesor datang ke apartemennya seolah-seolah Min mengharapkan kedatangannya. Profesor itu mengamati perabotan tua dan televisi hitam putih 20 inci sebelum berbalik ke arah Min. “Aku menunggu teleponmu,” katanya. “Kamu tidak menepati janji.”

Baca Juga:  Teka-teki Puisi - Jorge Luis Borges

Ia akan merasa kekanak-kanakan bila berpura-pura tidak pernah bertemu dengan lelaki itu. kekanak-kanakan pula berpikir dia bakal lupa bahwa Min masih membawa buku-bukunya. Min mengambil buku-buku itu dari tumpukan koran dan berusaha meminta maaf, tapi lelaki itu memotongnya. “Aku datang untuk mengatur jadwal tetap agar kamu bisa belajar bahasa Inggris denganmu.”

Min mengucapkan terima kasih dan berkata tidak perlu.

“Kenapa tidak? Kamu tidak perlu merendahkan diri seperti itu.”

“Saya pikir Anda sudah memutuskan bahwa saya tidak cocok untuk anak Anda,” kata Min.

“Tapi, aku sudah berubah pikiran. Kamu seperti batu giok. Orang yang kurang simpati akan menganggap kamu seperti batu biasa, tapi kamu tidak. Seseorang seperti aku, seseorang yang mengerti potensimu, harus menjadikan dirimu sebuah karya agung.

Min mundur, tapi profesor itu mendekat, tangannya memegang pundaknya, ibu jarinya menyentuh tulang selangkanya. “Kamu mengerti?” ujarnya. “Aku bisa melakukan banyak hal untukmu.”

“Aku minta maaf, tapi aku tidak butuh bantuan Anda.”

“Kenapa? Bahkan, mahasiswa-mahasiswa pascasarjanaku tidak mendapatkan perhatian seperti ini diriku.”

Min menggelengkan kepala. Jari-jarinya mencengkram bahu Min lebih erat. “Tapi, saya sedang bersama seseorang sekarang,” ujar Min.

“Apa maksudmu sedang bersama seseorang? Dua bulan lalu kamu setuju menikahi putraku.”

“Tidak.”

“Kenapa kamu tidak menemuiku? Siapa lelaki yang bersamamu? Ingat, aku bisa membantumu pergi ke Amerika.”

“Aku bersama seseorang yang tinggal di Amerika,” jawab Min. “Aku akan menikahinya.”

Kemarahan di matanya bukanlah kemarahan seorang ayah—bahkan, di usianya ke-19, Min bisa mengetahuinya. Sakit hati lantaran dikhianati oleh seorang kekasih. “Jadi, kamu hanya memanfaatkanku, lalu sekarang kamu menemukan seseorang lebih baik yang bisa kamu manfaatkan,” ujar profesor itu. “Aku seharusnya tahu kalau perempuan sepertimu tidak pantas dibicarakan.”

Perempuan lainnya akan tertawa di depan mukanya dan menyebutnya orang gila. Perempuan lain akan menyingkirkan tangannya dan menunjukkan pintu keluar. “Saya minta maaf jika saya mengecewakan Anda,” kata Min. “Saya tidak bisa.”

“Tentu saja kamu bisa. Aku masih bisa mengajarimu bahasa Inggris. Kamu tidak perlu menikahi putraku. Hanya datang dan kunjungi aku. Mau kan?”

Ada sebuah ketakberdayaan dalam permintaannya yang membuat Min ngeri dengan rasa belas kasihan. Min tidak mau kekuatan yang dia tawarkan. Bukan kekuatan sesungguhnya, melainkan kewajiban atau lebih buruknya lagi, sebuah utang. Momen ketika dia menatap mata Min, ia seperti berutang sesuatu. Tetap saja Min tidak bisa berpikiran jelek terhadap lelaki itu. ‘Anda membodohi diri Anda sendiri,’ Min ingin mengatakannya. ‘Saya hanyalah gadis biasa, tanpa status atau kepentingan. Kenapa Anda mempermalukan diri Anda seperti ini?’

Beberapa tahun kemudian, Min berkeras tidak ingin memikirkan kembali peristiwa itu. Namun, ketika surel lelaki itu berdatangan, Min kerap bertengkar dengan dirinya di masa muda, “bukan dia yang membodohi diri sendiri, melainkan kamu. Kamu yang buru-buru menikah karena kamu berpikir lebih baik menikahi lelaki yang tidak akan bertindak sebodoh itu. Kamu pikir seorang lelaki tanpa sorot mata gila bakal menjadi suami yang tepat, tapi pernikahan memang seharusnya seperti penyakit yang diterima oleh masing-masing pasangan sehingga mereka bisa pulih bersama. Beberapa berhasil, beberapa lainnya gagal, meski dua manusia tidak bisa bertahan dalam perpisahan yang pahit dan berharap itu yang terbaik.

“DENGAR, aku tidak ingin kamu berbicara politik dengan anak-anak,” ujar Rich ke Min selepas anak kembar mereka tidur di malam hari.

Min tidak menjawab.

“Aku tidak ingin anak-anakku tercemari dengan sampah politik sayap kiri.”

Percakapan serupa juga mungkin terjadi di rumah Sandra, dengan perdebatan yang lebih panas, dengan lemparan kata-kata pedas seperti granat. Meski demikian, Sandra akan tetap hidup bersama Chuck selayaknya Min bakal tetap bersama Rich.

“Dan, ingat,” Rich melanjutkan, “bila mereka menanyakan soal pilihanmu, kamu harus menjawab memilih Trump atau, bila tidak ingin mengatakan, bilang saja kamu tidak memilih.”

Untuk sesaat, Min merasakan puasnya balas dendam, sebab kedua gadisnya sudah paham bagaimana menjaga rahasia dari dunia. Dalam beberapa tahun, mereka akan tumbuh remaja. Emmie akan menjadi gadis sentimental dan susah menutupi perasaannya. Deanna akan menjadi gadis ceria, tapi ketika ia sudah siap meruntuhkan kekuasaan ayahnya, ia akan melakukan dengan bijaksana dan juga dengan penghancuran sempurna. Min hanya butuh bersabar dan menunggu gadis kembarnya tumbuh. Ibunya mungkin memiliki perasaan yang sama setelah kematian ayahnya: anak-anak tumbuh dan mereka akan memecahkan masalah yang tak bisa kami selesaikan untuk mereka.

Mereka akan bertemu dengan masalah-masalah baru yang juga tak bisa mereka selesaikan. Yang bisa kamu lakukan hanya menunggu lelaki yang makin tak berdaya meninggal. Tapi, lelaki itu takkan dengan mudah melepaskan cengkeramannya, seolah-olah kamu adalah bagian dari hidupnya.

Kali pertama profesor mengirim surel untuk Min, saat itu Max masih duduk di bangku sekolah dasar. “Untuk berhubungan kembali,” tulisnya. Musim panas sebelumnya, profesor itu bilang, ia berkunjung ke Beijing untuk pertama kali sejak pindah ke Amerika, lebih dari satu dekade yang lalu dan hendak mampir di apartemen lama Min. Anehnya, dia melanjutkan, apartemen itu belum dihancurkan dan ibu Min masih tinggal di sana. “Semua isyarat ini meyakinkanku agar aku harus menghubungimu lagi,” tulis profesor. “Sebagai seorang teman yang hilang.”

‘Dia menulis tentang kesepian atau nostalgia,’ ujar Min pada dirinya sendiri, mencoba bersikap baik terhadap penolakannya. Yang harus ia lakukan hanya tetap diam. Namun, mempertahankan sikap diam dan tenang—ia kini paham—ternyata tidak memberinya kehormatan apa pun. Dua bulan berikutnya, lelaki tua itu akan kembali mengirim surel lain, mengingatkan Min bahwa ia tak pernah berubah dari seorang gadis muda yang dia ingat. Dalam imajinasinya, Min tetap muda, cantik, dan lembut. Sikap diam Min takkan bisa menghentikan imajinasi liar lelaki tua itu.

Malam itu, ketika Min tidak bisa tidur, ia membuka surel dari lelaki yang masuk kemarin malam. Dengan huruf ukuran besar, Min berharap lelaki itu mudah membaca, ia mengetik, “Tolong berhenti menghubungi saya.”

Lalu, setelah berpikir dua kali, ia menghapus ketikannya dan menulis, “Pergi jauh-jauh dari saya.”

Yiyun Li adalah pengarang Cina-Amerika yang menulis dalam bahasa Inggris. Cerita pendek dan novelnya disambut baik dan mendapatkan beberapa penghargaan. Cerpen-cerpennya tersebar di majalah ternama, seperti The Newyorker, The Paris Review, dan lain sebagainya. Novel pertamanya, A Thousand Years of Good Prayers, langsung didapuk sebagai novel terbaik versi PEN/Hemingway Award pada 2006. Ia kini menjadi editor di majalah sastra A Public Space. Cerpen “Diam yang Sempurna” ini diambil dari The New Yorker, 23 April 2018.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here