nehan, hati, lagu
(Credit: APLST).
dibaca normal 4 menit

Sambungan Nasi Goreng Instan dan Makaroni Panggang.

“Aku sangat mencintaimu, tapi ini juga sangat menyakitkan.” Kata-kata itu terus terbaca jelas di kepala Nehan. “Jika kamu benar-benar mencintaiku,” tulis Jani, istrinya, di surelnya, “lepaskan aku.

Semua terjadi begitu cepat. Ia terus mencoba menerjemahkan kata demi kata dalam surel Jani.  Selama ini Jani sangat terluka dan ia tak pernah menyadarinya.

Nehan bangkit dari kursi. Ia menyingkirkan wajan yang berisi makaroni dari kompor dan menggantinya dengan cerek. Ia menjarang air dan menyeduh kopi. Suara klik dari kompos gas terdengar nyata. Ia terdiam di depan kompor hingga suara air mendidih mengembalikan kesadarannya.

Ia mengambil mug yang biasa ia gunakan untuk minum kopi. Mugnya berada di sebelah mug milik Jani—mug krem bergambar kucing kecil. Napasnya berat.  Semua benda-benda yang ada di rumahnya punya ikatan kuat dengan Jani. Nehan berusaha mengatur detak jantungnya, napasnya, dan mengendalikan kelu yang tiba-tiba muncul.

Nehan masih menganggap bahwa semua ini—telepon, surel, dan sebagainya—hanya mimpi buruk. Ia berharap bisa bangun secepatnya dan melihat Jani tertidur di sampingnya. Ia akan memeluk erat istrinya saat bangun dari mimpi buruk ini. Ia akan mencium keningnya dan takkan membiarkan istrinya pergi.

Namun, ini bukan mimpi. Kenyataannya, ia sendirian malam ini. Tak ada Jani. Tak ada bayangan Jani. Tak ada aroma Jani. Nehan tak bisa menyangkal bahwa istrinya telah meninggalkannya.

Ia terduduk sepanjang malam di ruang makan. Membaca ulang surel dari Jani, berkali-kali. Sesekali ia menyesap kopi. Ia mengambil batang rokok saat ia sampai di akhir surel—ini pertama kali Nehan merokok di dalam rumah—dan mulai membaca lagi dari awal. Berulang-ulang. Meja makan dipenuhi paparan abu rokok yang gagal jatuh di asbak. Nehan tak menghitung sudah berapa batang ia merokok. Pelan, asbak dipenuhi batang rokok. Beberapa masih panjang, beberapa tinggal busa filter. Ia bahkan tak menyadari salah membakar filter.

Malam itu tak ada suara apa pun muncul, kecuali suara serangga dari kebun belakang. Rumahnya seperti mengecil seluas meja makan. Ia tak bisa berpikir apa pun, tak bisa berkata apa pun. Jani pasti sangat terluka, pikirnya.

Baca Juga:  Bulan Kuning di Stasiun

Nehan tak bisa tidur. Ia terdiam, tapi pikirannya berkelana dari masa ke masa. Ia mencari tahu sumber luka yang selama ini diderita istrinya. Luka itu pasti sangat menganga.

***

Pukul lima pagi, Nehan mulai membersihkan meja dan asbak. Ia membuang makaroni panggang yang belum selesai dimasak dan mencuci alat masak dan mug bekas kopinya. Ia merapikan dapurnya seperti semula. Pintu dapur yang terhubung halaman belakang dibuka lebar-lebar agar bau apak asap rokok yang terkurung semalaman bisa keluar.

Nehan meregangkan otot-ototnya di halaman belakang. Ia berjalan mondar-mandir sambil menatap langit yang mulai kembali terang. Planet Venus cukup kelihatan terang berada di dekat bulan setengah yang menggantung di langit. Beberapa burung sudah mulai membangunkan manusia. Begitu juga beberapa ayam.

Ia kembali ke dalam, menyeret salah satu kursi yang ada di ruang keluarga ke halaman belakang, dan duduk. Hampir satu jam ia duduk tak tenang di situ. Beberapa kali ia memainkan dua ibu jarinya, lalu memegang erat di kedua pegangan kursi. Nehan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak karuan.

Ia tahu harus segera bereaksi dengan kondisi tersebut. Nehan tak bisa hanya duduk-duduk. Ia harus melakukan sesuatu sebelum kepalanya meledak. Namun, semakin ia mencari cara untuk mengatasi situasi ini, ia semakin bertemu jalan buntu. Ia kembali terpeleset ke dalam sumur.

Nehan mengambil ponsel dari meja makan. Ia membuka kembali surel Jani. Membaca lagi dan lagi. Setelah napasnya sedikit normal, Nehan memutuskan membalas surel Jani.

“Jani, aku menghormati keputusanmu,” Nehan mulai mengetik sambil menahan napas. “Kamu pasti sangat terluka selama bersamaku, aku minta maaf.” Ia menghentikan jari-jarinya sebentar dan kembali menghirup udara yang ia tahan. “Sangat minta maaf.”

“Hari ini aku akan meninggalkan rumah, kamu tak perlu menyewa tempat tinggal baru. Kamu bisa tinggal di sini. Kunci kutinggal di laci meja beranda. Terima kasih sudah menemaniku selama ini.”

Setelah mengetik balasan, Nehan tidak langsung mengirim. Ia membaca ulang. “Kabari aku jika akan mengirimkan berkas perceraian. Aku akan memberi tahu alamat baruku nanti.” Nehan menambahkan pesannya dan mengirimkan surel tersebut.

Baca Juga:  Akar Wangi

Sinar matahari pagi pertama muncul. Nehan menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri. Bukan makanan berat, ia hanya membuat sereal dengan susu kedelai, seperti saat ia belum berhenti bekerja.

***

Nehan membersihkan rumah setelah selesai sarapan. Ia membuka seluruh jendela rumah agar udara pagi bisa menyapu sisa-sisa udara malam. Ia menyemprotkan pewangi ruangan di tiap sudut rumah.

Beberapa baju yang selesai dijemur disetrika dan dimasukkan ke dalam almari. Ia memilah baju-baju istrinya untuk dimasukkan ke almari. Bajunya dipisahkan dan diletakkan di kasur.

Nehan mulai mengepak barang-barangnya. Ia hanya membawa baju untuk tujuh hari, peralatan mandi, handuk, tiga buku, dan laptop. Barang-barang itu dimasukkan ke dalam tas ransel ukuran 25L. Tas itu lalu diletakkan di ruang tamu.

Ia membereskan seluruh sampah yang ada di rumahnya. Ia memasukkan segala benda miliknya yang dirasa tidak pernah dipakai dan tidak penting ke dalam kantong plastik. Bersama seluruh sampah, benda-benda itu diletakkan di bak penampungan sampah di depan rumah.

Pukul 10.15, semua pekerjaan rumah selesai. Ia kembali menutup seluruh jendela rumah dan mengunci pintu belakang. Nehan mengecek kembali dapur, memastikan tidak ada gas yang mendesis keluar dari selang.

Ia kembali ke kamarnya, melihat lebih dekat kembali tempat ia biasa menghabiskan malam-malam bersama istrinya, melihat kembali foto-foto mereka yang ada di kamar itu. Ia tak ingin menangis, tapi saluran air mata tak bisa menahan lebih lama. Air mata pertama menetes dan segera diseka.

Nehan lalu mengecek stopkontak di seluruh rumah, melepaskan beberapa sambungan listrik yang tidak terpakai. Hanya sambungan ke kulkas yang tidak dicopot. Selebihnya, TV, charger, rice cooker, kipas angin, lampu belajar semua dilepas.

Rumahnya saat itu begitu sunyi. Pun juga dengan kompleks perumahan. Sesekali ada motor maupun mobil lewat dan setelah itu kesunyian kembali melingkupi. Perumahan itu memang kebanyakan dihuni oleh para pekerja. Tiap hari kerja, dari pukul 9 hingga 4, tak ada keramaian berarti di kompleks itu. Apalagi, Nehan dan Jani memilih rumah yang berada di ujung jalan kompleks. Selain mobil atau motor dari tetangga depan maupun samping, praktis tidak ada suara yang bakal kedengaran dari dalam rumah.

Baca Juga:  Syair 3: Syahrazad

Ia kembali ke ruang tamu—membongkar kembali isi tas ranselnya. Ia mengambil peralatan mandi dan handuk dan menuju kamar mandi. Saat air shower kamar mandi bercucuran di badannya, air mata Nehan seketika lumer bercampur dengan air shower. Di dalam hatinya, sebuah lagu tak sengaja berputar. Dan ia benci kenapa di saat-saat seperti ini lagu itu yang tiba-tiba muncul.

Ia mulai menangis dan menangis. Isi kepalanya berputar menampilkan adegan demi adegan pertemuan pertamanya dan istrinya; perbincangan-perbincangan hingga larut; raut muka istrinya: sedih, tertawa, diam, menangis, serius; pernikahan; pindahan ke rumah ini pertama kali; perdebatan; pertengkaran; pelukan; dan sarapan untuk terakhir kali. Semua berhamburan.

“Jani pasti sangat terluka,” bisik Nehan dalam hati. “Itu kenapa dia pergi.

Bersambung ke Es Kopi Susu Gula Aren Senandika.

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here