Daerah Cahaya, Yuko Tsushima
dibaca normal 11 menit

Apartemen itu punya banyak jendela di tiap sisi.

Aku tinggal di sana selama setahun bersama putri kecilku di lantai teratas bangunan empat lantai bekas kantor itu. Kami mendapatkan seluruh lantai empat, plus teras rooftop di atas lantai tersebut. Di lantai dasar, terdapat toko kamera; lantai dua dan tiga dibagi dua dan disewakan untuk kantor. Pasangan suami istri yang menjalankan bisnis kecil kustomisasi perhiasan untuk lambang keluarga—yang dibingkai maupun dipahat dalam perisai—menempati setengah lantai itu. Begitu juga dengan seorang akuntan dan cabang sekolah merajut, tetapi ruangan di lantai tiga yang menghadap jalanan besar tetap kosong selama aku tinggal di atasnya. Aku biasanya menyelinap di sana setelah putriku tertidur. Aku akan membuka jendela dan menikmati pemandangan yang berbeda atau hanya sekadar berjalan-jalan di ruangan kosong. Aku merasa seperti berada di ruang rahasia, tidak diketahui oleh siapa pun.

Aku juga diberi tahu saat hendak menyewa apartemen itu bahwa pemilik sebelumnya tinggal di lantai empat, dan di sana memang terdapat fasilitas istimewa, seperti akses tunggal ke rooftop dan kamar mandi luas yang dibangun di atas. Meski begitu, itu berarti aku otomatis juga punya tanggung jawab atas bak penampungan air dan antena TV di atap gedung. Aku juga harus turun tengah malam untuk menutup pintu rolling di tangga setelah para penyewa kantor pulang. Sebab, itu semua merupakan pekerjaan sang pemilik gedung sebelumnya.

Seluruh gedung tersebut sudah dijual dan dibeli oleh pengusaha lokal—seorang perempuan lokal terkenal bernama Fujino. Aku menjadi penghuni pertama bangunan yang baru saja diberi nama Gedung Fujino No. 3. Pemiliknya sendiri sebenarnya baru berbisnis dalam persewaan apartemen—biasanya ia bergerak di properti komersial—dan ia tidak yakin dengan apartemen dengan tata letak tidak biasa di gedung bekas kantor. Pemilik itu pun dengan ragu-ragu menawarkan harga sewa rendah untuk melihat apakah gedungnya itu punya peminat. Ya, tawaran murah itu menjadi keberuntungan bagiku. Anehnya lagi, secara kebetulan, lelaki yang saat itu masih menjadi suamiku memiliki nama yang sama dengan gedung yang kami sewa. Akibatnya, aku terus-menerus dianggap sebagai pemilik gedung.

Di ujung tangga yang curam, sempit, dan lurus, terdapat pintu aluminium dan di seberangnya lagi terdapat pintu darurat untuk keluar bila ada kebakaran. Tempat berdiri di ujung tangga itu sebenarnya sangat kecil. Anda harus turun ke bawah lewat tangga atau berdiri di ambang pintu darurat sebelum membuka pintu apartemen. Jalur darurat kebakaran itu sebenarnya berupa tangga besi yang tegak lurus dengan tanah. Jika dalam keadaan darurat, sepertinya kami punya peluang selamat lebih besar bila aku turun lewat tangga darurat dengan menggendong putriku di tangan.

Namun, begitu Anda membuka pintu, apartemen itu dipenuhi cahaya sepanjang hari. Dapur dan ruang makan berlantai merah sehingga membawa aura lebih cerah. Karena masuk dari tangga yang gelap, Anda pun harus mengernyitkan mata.

“Sangat hangat! Sangat indah!” putriku yang akan berusia tiga tahun berteriak saat pertama kali ia memasuki kamar cahaya.

“Nyaman kan? Sinar mataharinya bagus kan?”

Putriku berlarian mengitari dapur sambil menjawab dengan rasa senang, “Ya! Mommy juga merasakannya?”

Aku seperti memberikan seluruh tubuhku untuk melindungi kepala putriku agar terlindung dari paparan cahaya di sekelilingnya.

Salah satu jendela yang memendarkan cahaya matahari pagi berada di ruang sempit di sebelah pintu masuk, semacam gudang kecil seluas dua-tatami. Aku memutuskan mengubah gudang kecil itu menjadi kamar tidur kami. Jendela sebelah timur menangkap pemandangan tali jemuran dengan cucian dari perumahan padat dan atap perkantoran yang lebih rendah dari Fujino No. 3. Karena kami berada di distrik perbelanjaan di sekitar stasiun jalur kereta utama, tak satu pun rumah di kawasan itu mempunyai taman. Sebagai gantinya, mereka meletakkan pot-pot tanaman berjejeran di atap rumah. Bahkan, mereka membawa kursi santai sehingga pemandangan dari atas ini sangat nyaman sekali dan aku pun kerap melihat orang tua mengenakan yukata mandi.

Terdapat jendela yang menghadap selatan di tiap ruangan yang berjejer—kamar seluas dua-tatami, dapur, dan kamar seluas enam-tatami. Dari jendela ini, terlihat deretan atap rumah tua yang rendah serta deretan bar dan restoran. Dari jalanan sempit, tampak kemacetan dengan klakson yang terus-menerus meraung.

Di sisi barat, di ujung lorong apartemen yang panjang dan sempit, terdapat jendela besar yang memberi pemandangan jalanan utama. Dari ini, sinar matahari dan raungan kebisingan jalanan mengalir tanpa ampun. Tepat di bawah, bisa terlihat kepala-kepala hitam pejalan kali yang mengalir sepanjang trotoar yang menuju stasiun di pagi hari dan sebaliknya di sore hari. Di seberang trotoar, di depan toko bunga, orang-orang berdiri di halte bus. Tiap kali bus atau truk lewat, seluruh isi ruangan lantai empat bergetar serta piring dan gelas berdentingan. Apartemen tempat aku tinggal bersama putriku terletak di pertigaan jalan utama—perempatan bila jalur kecil di selatan dihitung. Meski begitu, beberapa kali dalam sehari, kepadatan lalu lintas dan lampu merah akan menciptakan 10 detik kebisuan. Aku menyadarinya beberapa detik sebelum lampu merah berganti dan mobil-mobil yang menunggu berebutan berbelok secara bersamaan.

Bagian kiri dari jendela sisi barat hanya terlihat pepohonan menjulang dari taman tradisional yang luas yang merupakan milik bekas daimyo. Sekelumit pemandangan hijau itu sangat berharga bagiku. Itu adalah inti dari pemandangan dari jendela.

“Itu? Kenapa? Itu Bois de Boulogne,” jawabku kapan pun bila ada seseorang tamu bertanya. Nama pohon di pinggiran Paris telah melekat lama di pikiranku, seperti Bremen atau Flanders, beberapa nama tempat yang ada di dongeng, dan itu sangat menyenangkan membiarkan nama-nama itu meluncur dari lidahku.

Baca Juga:  Yesterday - Haruki Murakami (Bagian 1)

Di sepanjang dinding sebelah utara dapur terdapat lemari, toilet, dan tangga ke rooftop. Toilet juga mempunyai jendela sendiri dengan pemandangan stasiun dan kereta. Jendela putih itu merupakan kesukaan putri kecilku.

“Kami bisa melihat stasiun dan kereta! Lalu, rumah bergetar!” dengan bangga putriku bercerita kepada guru dan teman di penitipan anak sejak pertama tinggal. Namun, ia dengan cepat tumbang karena demam semenjak pindahan dan harus beristirahat selama seminggu di kasur. Ketika aku bekerja, aku titipkan putriku kepada ibuku, yang tinggal sendirian tidak jauh dari tempatku tinggal. Pekerjaanku, di perpustakaan sebuah stasiun radio, mengarsipkan dokumen dan rekaman siaran radio dan mengeluarkan bila ada yang meminjam. Di ujung hari, aku mampir ke tempat ibuku dan menemani putriku hingga pukul sembilan malam, lalu kembali ke apartemen, sendirian. Suamiku pasti membantu bila aku menghubunginya, tapi aku tidak ingin bergantung kepadanya, bahkan bila itu berarti aku menambah beban ibuku. Sebenarnya, aku tidak ingin dia menginjakkan kaki di kehidupan baruku. Aku takut bertemu dengannya, dan ketakutan itu mengejutkanku. Yang paling menakutkan, aku bisa terbiasa dengan keberadaannya.

Sebelum dia pergi, dia mendesakku untuk kembali ke rumah ibuku. “Ibu pasti kesepian dan lagi pula bagaimana kamu mengatur dengan si kecil seorang diri? Bila kamu dan si kecil di rumah Ibu, aku bisa pergi tanpa khawatir.”

Dia sudah memilih apartemen untuk dirinya sendiri di kota pinggiran yang dilalui kereta komuter. Dia akan pindah dalam sebulan, saat tempat itu sudah kosong.

Saat itu, aku belum bisa berpikir jernih bakal ke mana akan tinggal. Keputusannya belum bisa kuterima. Mungkinkah besok aku mendengar suamiku tertawa karena semua itu hanya lelucon belaka? Lalu, kenapa aku harus mengkhawatirkan tempat aku akan tinggal kelak?

Kukatakan kepadanya, aku tidak ingin kembali ke tempat ibuku. “Apa pun selain itu. Itu hanya menutup-nutupi kenyataan sebenarnya kamu meninggalkan kami.”

Dia lalu mengajakku untuk melihat-lihat apartemen. “Kalau sendirian, kamu pasti ditipu. Aku tak akan bisa tidur bila mengetahui kamu tidur di tempat sampah. Ayolah, sekarang, serahkan padaku.”

Saat itu akhir Januari dan tiap hari langit terang dan cerah. Aku mulai mendatangi agen-agen properti dengan suamiku. Yang kulakukan hanya mengekor tanpa bicara sepatah kata pun.  Aku bertemu dengannya saat istirahat makan siang di kafe dekat kantorku dan kami pergi ke agen lokal, satu demi satu.

Dia putuskan mencari apartemen 2DK (dua kamar dengan dapur), terang, dan dilengkapi kamar mandi seharga sekitar 30-40 ribu yen sebulan. Hari pertama kami mencari, dia ditertawakan agen properti. “Sekarang ini, Anda tidak akan menemukan apartemen seperti itu di bawah 60-70 ribu yen.”

“Sebenarnya buat dia dan putri kami,” kata suamiku sembari menatapku. “Bangunan tua juga tidak masalah, tapi aku ingin yang sebaik mungkin… Anda yakin Anda tidak punya?”

Hari berikutnya, percakapan yang sama persis terjadi di agen properti lain. Tak bisa menahan diri, aku pun berbisik, ‘Kamar mandi bukan masalah, aku sudah senang dengan satu kamar.’ Lalu, aku memberanikan diri berbicara kepada agen, “Kamar studio sekitar 30-40 ribu yen ada?”

“Studio? Ya…” agen properti mengambil dan membuka buku katalog.

Saat itu pula, suamiku langsung memotong dengan cepat, seperti sedang memarahi anak kecil, “Kamu cepat menyerah. Kamu akan menyesal. Saat sudah menetap, kamu akan sadar kamu tidak bisa membayar uang sewa, meski sekarang kelihatannya kamu bisa. Kamu tidak bisa menyewa apartemen dengan uang simpanan, pemilik tidak mengizinkan perubahan… Jadi, Anda punya sesuatu di kisaran 50-60 ribu?”

Agen properti itu meyakinkan kami. Dia dapat menunjukkan beberapa apartemen seharga 50-an ribu atau yang lebih baik sedikit, 60-an ribu. “Kami ingin melihatnya,” kata suamiku.  Lantaran dia sangat kesusahan hingga dia harus meminjam uang untuk bayar sewa dan uang jaminan apartemennya, aku pun tidak berharap banyak dia bisa membantu keuangan setelah berpisah. Tapi, dia kukuh berpisah adalah satu-satunya jalan melewati kebuntuan. Jadi, dia bisa menemukan dirinya kembali—mengosongkan semua dan memulai awal baru sendiri. Aku pun ingin membayar dengan uangku sendiri dan tak ingin meminta ibuku. Batas maksimal yang bisa kubayar, 50 ribu yen, jumlah yang sama saat kami hidup bersama. Kuhitung-hitung, tanpa biaya hidup suamiku, seharusnya aku bisa membayar tanpa meminjam sana-sini. Tapi, perhitungan itu dibuat dengan tergesa-gesa. Lima puluh ribu yen sebenarnya separuh lebih gaji bulananku.

Hari itu, kami diperlihatkan apartemen seharga 60-an ribu. Tidak ada yang buruk dan lokasinya dekat dengan kantor, tapi aku tidak mengambilnya.

Hampir tiap hari kami berkeliling ke beberapa apartemen kosong. Kami melihat apartemen dengan taman seharga 70-an ribu. Sayang, ada aturan tanpa anak. Suamiku membujuk pemilik apartemen bahwa hanya satu anak, perempuan, dan dia akan pergi sepanjang hari di penitipan anak, tapi aku bisa saja mengatakan pada suamiku itu tak ada gunanya.

Dilihat sepintas saja sudah kelihatan itu untuk kelas atas. Aku tidak ingin mendengar harga sewa yang menghabiskan seluruh gajiku. Aku merasa tidak nyaman dan sedikit absurd. Kami antusias melihat apartemen yang sebenarnya tidak bisa aku sewa dan kami kelihatan serius sekali. Namun, baik aku maupun suamiku tidak melihat diri kami sebagai pihak yang akan menyewa. Dia menemaniku, dan aku menemaninya.

“Kita akan pergi lagi hari ini?”

Pertanyaan itu menjadi bagian dari rutinitas pagi kami. Jika cuaca memungkinkan, sebagian besar waktu istirahat siangku digunakan untuk berkeliling. Dan, sejak Januari hingga awal Februari, tiap hari selalu cerah.

Baca Juga:  Teka-teki Puisi - Jorge Luis Borges

Ada sebuah rumah dengan pohon cemara Jepang di sebelah pintu masuk depan. Di ujung lima anak tangga batu, sebuah pintu biru muda menyambut. Pintu itu hanya berjarak tiga kaki dari tangga; pohon punya cukup ruang untuk tumbuh. Namun, dahan-dahan pohon menutupi seluruh jendela yang bingkainya dicat warna sama dengan pintu depan.

“Ini lumayan bagus,” kata suamiku dengan semangat.

“Tapi, aku tidak ingin merawat pohon itu. Aku lebih suka magnolia atau ceri….”

“Cemara menunjukkan kelas atas.”

Rumah itu berlantai dua. Di lantai bawah, ada ruangan dengan lantai kayu dan jendela, kamar tipe 6-tatami yang tidak mendapatkan banyak cahaya, serta dapur. Lantai atas, ada dua kamar kecil dan tempat menjemur pakaian. Saat kami mengecek tempat menjemur pakaian, aku dan suamiku sangat senang. Sadar agen properti berada di jarak yang bisa mendengar percakapan, kami pun saling berseloroh sambil tersenyum:

“Aku yakin teman-temanmu akan senang berkunjung.”

“Dan banyak kamar bagi mereka untuk menginap….”

“Tempat yang bagus untuk membesarkan anak. Gampang diakses juga…. Aku mulai iri denganmu, aku ingin menyewanya sendiri. Aku bisa punya meja yang menghadap jendela….”

“Rak buku bisa dipasang di seluruh tembok itu.”

“Betul… Begini saja, biarkan aku tinggal, aku akan bayar kamar dan makanan di muka.”

“Tentu. Tapi, kamu tidak akan mendapatkan diskon.”

Kami pun tertawa lepas di kamar-kamar kosong. Itu membuat senyum tipis agen properti mengembang.

Aku masih belum bisa membayangkan, sekali lagi, bahwa aku bakal hidup sendirian dengan putriku. Jika aku bisa hidup dengan suamiku, aku tidak akan khawatir di mana aku bakal tinggal. Dan, tanpa dia, semua tempat jadi sama-sama menakutkan.

Kembali ke perpustakaan hari itu, sebentaran aku mulai membayangkan tinggal di rumah dua lantai tadi. Suamiku semangat, “Ambil, jangan khawatir dengan uang sewa, cukup minta bantuan ke keluargamu,” lalu menghilang. Aku akan pasang stereo di ruangan yang berjendela besar dan menggunakan ruangan itu untuk makan dan relaksasi. Aku buat kamar 6-tatami di lantai bawah sebagai kamar tidur kami dan kamar atas untuk tamu hingga putri kami dewasa. Tunggu, tunggu… lantai atas yang cerah sepertinya lebih nyaman. Aku penasaran siapa yang bakal berkunjung selain suamiku. Karena dekat dengan kantor, apakah teman kantorku bakal datang bila kuundang?

Ketika aku tenggelam dalam lamunan, seorang guru SMA dari luar kota ingin meminjam beberapa rekaman pembacaan puisi untuk digunakan di kelas. Pikiranku masih di awang-awang, aku memasukkan satu persatu kaset rekaman ke tape recorder. Kami selalu meminta para peminjam untuk mendengarkan sebagian isi kaset untuk memastikan tidak salah.

Entah kenapa, kata-kata dalam rekaman itu tiba-tiba terkait dengan diriku.

“Cepat, berhenti menimbang-nimbang!
Dan, mari pergi ke dunia yang sangat luas!
Kukatakan padamu: orang bodoh yang kerap berspekulasi banyak hal seperti binatang yang kehausan,
Diperdayai iblis jahat di labirin tanpa ujung,
Sementara padang hijau berada di tiap sisi.”

Terkejut, aku pun bertanya kepada guru yang sedang berdiri, “Itu apa?” Bisakah itu disebut puisi, aku bertanya-tanya. Dia melirik ke jendela, dan berpikir bahwa aku mendengar sesuatu dari luar, lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum bingung.

Suamiku tidak datang ke rumah malam itu dan malam berikutnya. Dia mungkin sudah yakin bahwa tempat tinggal baruku sudah diputuskan.

Aku mulai pergi ke agen properti sendirian. Itu pertama kali kau menginjakkan kaki ke agen properti seorang diri.

Suara di kaset rekaman mengingatkanku tentang keputusanku empat tahun silam. Ingatan itu tiba-tiba mengejutkanku.

Suamiku masih kuliah S-2 dan aku belum begitu lama bekerja di perpustakaan. Meski masing-masing punya apartemen, separuh waktunya ia habiskan di tempatku. Lalu, aku mendapatkan telepon darinya di perpustakaan. “Kita dapat apartemen. Baru, tenang, dan cerah. Sangat bagus sekali. Aku bilang, kita akan pindah hari Minggu. Oke?”

Ya, itu terjadi hanya semalam setelah kami berbicara tentang kebutuhan mencari tempat baru untuk kami berdua.

“Buru-buru sekali. Kamu bilang kita akan ambil?” Meski kaget, sebenarnya aku juga senang dengan keputusan tanpa pikir panjang itu. Aku tidak kesal karena tidak diberi kesempatan untuk memilih tempat baru kami. Aku menikmati perasaan jatuh cinta pada seorang pria. Aku meninggalkan rumah agar bisa bebas bersama dengannya dan dia menemukan tempat tinggal untukku saat itu juga. Satu kamar di asrama yang digunakan temannya. Namun, perlu beberapa waktu baginya untuk memutuskan bahwa akulah orang yang tepat untuk dirinya.

Yang harus kulakukan hanya mengikuti semua instruksinya. Aku berkemas-kemas pada Sabtu malam dan sudah siap esok pagi ketika mobil van datang setelah lebih dulu berhenti di apartemennya. Aku hanya bawa barang sedikit untuk dimuat, jadi hanya sebentar saja mengangkut barang. Aku ikut dengannya naik di bak belakang dan kami berangkat. Aku dengan beberapa piringan hitam di pangkuanku, dia dengan tas belanjaan penuh pakaian kotor di tangannya.

Kurang lebih 30 menit kami tiba. Lokasi tempat tinggal baru kami berada di ujung jalan buntu perumahan.

“Ini?” kataku dengan hati bungah saat pertama kali melihat apartemenku. Kami tinggal di sana selama setahun setengah hingga aku hamil.

Aku berkeliling sendirian mencari dengan teliti di sekitar tempat penitipan anakku. Tanpa sadar, kami sudah memasuki Maret. Tak bisa dimungkiri, apartemen murah yang aku kunjungi sangat jauh dari tempat-tempat yang aku dan suamiku kunjungi beberapa waktu lalu, serta aku selalu dihantui perasaan cemas dan ingin pergi. Anehnya, semakin banyak apartemen suram dan sempit yang aku lihat, semakin pudar pula sosok suamiku dalam benakku. Aku mulai merasakan sorot sinar di kegelapan seperti mata binatang. Ada sesuatu yang menatapku tajam. Meski aku takut, aku justru ingin mendekat.

Baca Juga:  Pohon Dedalu Buta dan Putri Tidur – Haruki Murakami

Suatu kali, aku mendapatkan tawaran menarik, unit 2DK yang sangat bagus di apartemen dan hanya 30 ribu yen. Aku sempat ragu-ragu untuk melihat. Segala sesuatu yang ada di sana terlihat normal, setidaknya dalam penglihatanku.

“Tapi, ini tidak masuk akal. Kenapa sangat murah?”

Agen itu sempat enggan memberi tahu kebenaran saat aku bertanya-tanya. “Ada satu keluarga bunuh diri. Gas, jadi tidak begitu meninggalkan jejak. Katanya kasus pembunuhan/bunuh diri usai cekcok perceraian. Pernah diberitakan di koran-koran. Seolah itu belum cukup, ketika penghuni baru—pasangan suami istri—pindah ke sini, sang istri meninggal gantung diri…. Ya, gantung diri. Itu menjadi pukulan telak bagiku, sungguh. Tempat itu kosong sejak itu. Sekarang sudah setahun.”

“Aku paham… Lalu ada semacam kutukan? Dia pasti mengira dia tak tersentuh oleh kematian,” kataku, menahan diri untuk tidak cepat-cepat keluar.

“Aku harap kamu benar. Mereka mengganti tatami dan mengecat ulang tembok, tapi tentu saja gas tetap berada di posisi yang sama. Di sana.” Agen properti itu menunjuk sudut di ruangan sempit. Tumpukan mayat seakan tertangkap mataku di tatami, tergeletak di sekitar jalan keluar.

“Dia bisa melihat mayat-mayat itu, kurasa….”

“Dia sepertinya punya gangguan jiwa. Dia baru saja datang dari kampung halamannya…”

Aku bilang akan memikirkannya dan bergegas keluar. “Tak perlu terburu-buru, apartemen itu tidak akan cepat laku,” kata agen properti menasihati. Meski tidak percaya takhayul, aku juga tidak yakin bakal tidak terpengaruh.

Beberapa sore kemudian, agen properti lain menemaniku menengok gedung tinggi dan sempit. Dari bawah, reaksi pertamaku hanya menelan ludah saat pertama kali melihat tangga yang menjulang, tapi ketika ia membuka pintu dan aku melangkah ke dalam, aku berbisik dalam diriku, ya, inilah apartemen untukku. Lantai merah menyala terpapar sinar matahari terbenam dan kamar-kamar kosong berdetak dengan cahaya.

Bunga Sakura pertama kali mekar saat putri kecilku, yang sakit karena pindahan, sudah membaik dan siap kembali ke penitipan anak. Aku mengajarinya lagu “Sakura, Sakura” dan “The Little Bleating Goat” dan lagu tentang burung gagak. Suara kami pecah di dalam kamar mandi, tapi agak lebih baik bila dinyanyikan di rooftop. Aku terkejut ternyata suaraku cukup bagus. Aku membeli buku lagu anak-anak dan menyanyikannya di sela-sela tepuk tangan meriah putri kecilku. Jauh di lubuk hati, aku mendengarkan kata-kata yang aku dengar dari kaset rekaman: berhenti menimbang-nimbang.

Dengan berlinang air mata bahagia, putri kecilku menghujaniku dengan kata-kata “lagi-lagi” dan “bravo” yang ia ambil dari buku bergambar.

Aku tidak tahu alamat baru suamiku. Aku hanya diberi nomor telepon tempat dia bekerja paruh waktu. Seseorang memberitahu bahwa pacar barunya adalah pemilik restoran tersebut dan perempuan itu lebih cocok menjadi ibunya. Ya, perempuan itu mungkin yang dia butuhkan, pikirku, setelah ia gagal mendirikan perusahaan teater kecil hingga terlilit utang.

Dia tidak senang saat aku memilih sendiri tempat tinggal baruku, dan aku bisa pindah sebelum aku dirundung kesedihan. Aku tak lagi punya keinginan dia masuk ke apartemenku.

Tentu dia akan datang kelak. Meski takut dengan momen itu, aku menyadari aku tidak akan bisa mengubah keputusannya. Pikiran itu begitu saja muncul, padahal sedari awal aku tidak ingin berpisah. Aku juga bingung sendiri kenapa aku bisa berubah. Namun, aku tidak akan kembali.

Cepat, berhenti menimbang-nimbang. Dan biarkan berlalu!

Ya, itulah yang kukatakan pada diriku. Putriku belum menyadari ayahnya menghilang.

“…. Musim panas nanti, kita buat kolam renang di rooftop. Ada ruangan besar di sana,” kataku saat aku menemani putriku di kamar tidur. “Dan kita harus punya sepasang kursi berjemur juga. Bir juga boleh. Haruskah kita menghiasi dengan lampu-lampu kecil seperti yang ada di rooftop beer gardens? Pasti sangat indah kan? Dan kita tanam banyak bunga-bunga. Bunga matahari, dahlia, dan canna. Haruskah kita pelihara kelinci? Hamster mungkin akan lebih lucu. Tapi, sebenarnya kita bisa pelihara hewan yang lebih besar. Kambing—kenapa tidak? Lalu, bagaimana dengan ayam? Yap benar, kita akan punya peternakan. Tetangga akan terkejut ketika mendengar sapi menge-moo…”

Putri kecilku memandangi mulutku dengan mata terbuka. Kubelai rambutnya.

Kamar tidur dua-tatami itu sekecil lemari baju, tapi aku benar-benar merasa berada di rumah.

Diterjemahkan dari Territory of Light karya Yuko Tsushima (terj. Geraldine Harcourt)

DUKUNG BOOKSANDGROOVE.com

BOOKSANDGROOVE.com tidak memasang adsense demi kenyamanan membaca di situs kami. Namun, kamu tetap bisa mendukung kami untuk menghasilkan artikel-artikel menarik seputar dunia buku.

Kamu bisa memberi dukungan BOOKSANDGROOVE.com dengan membeli buku-buku digital dari kami di Google Books. Pembayarannya bisa menggunakan Gopay, kartu kredit, maupun pulsa.

Sila klik tautan di judul-judul buku kami berikut ini.

  1. Diam yang Sempurna (Kumpulan Cerpen Dunia) - Yiyun Li, Haruki Murakami, Laila Lalami, Salman Rushdie, Ludmilla Petrushevskaya, Gabriel Garcia Marquez, dan Jhumpa Lahiri.
  2. Batavia 1619 - Njoo Cheong Seng
  3. Demam Moskou: Antologi Roman Awal Abad ke-20 - Kwee Tek Hoaij, Liem King Hoo, Piow Kioe An
  4. Njai Isah dan Cerita Lainnya - Ferdinand Wiggers (Versi paperback bisa dibeli di sini)
  5. Student Hijdo - Mas Marco Kartodikromo
  6. Kemujuran Seorang Pengarang - Kumpulan Interviu Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan Laila Lalami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here